cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 743 Documents
Pemodelan Pola Arus dan Sebaran Konsentrasi Tembaga (Cu) Terlarut di Teluk Jakarta Harpasis S Sanusi; Alan F Koropitan; Haeruddin Haeruddin; Andis K Nugraha
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.522 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.3.165-168

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pola arus dan sebaran konsentrasi logam berat tembaga (Cu) terlarut di Teluk Jakarta, DKI Jakarta, dengan menggunakan model gabungan hidrodinamika-transpor konsentrasi Cu terlarut. Solusi numerik yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan numerik beda hingga eksplisit Upstream. Hasil verifikasi menunjukkan kemiripan antara hasil model dengan data lapangan. Secara umum, saat pasang arus pasut masuk ke dalam teluk dari mulut teluk bagian timur menuju daerah pantai teluk Jakartadan akhirnya keluar melalui mulut teluk bagian barat. Demikian sebaliknya saat surut arus pasut masuk ke dalam teluk dari mulut teluk bagian barat dan keluar melalui mulut teluk bagian timur. Simulasi dengan pengaruh angin menunjukkan pola yang sama dengan arus pasut saja. Pola sebaran konsentrasi Cu terlarut umumnya mengikuti pola arus yang ada, dengan degradasi penurunan konsentrasi terlihat tinggi pada dekat sumber (muara-muara sungai) kemudian menurun dengan semakin jauhnya dari sumber. Hal ini menunjukkan bahwa peranan adveksi sangat dominan dalam menyebarkan suatu material di suatu perairan.Kata kunci: Teluk Jakarta, model gabungan hidrodinamika-transpor konsentrasi Cu terlarutThis research was done to study flow pattern and heavy metal distribution of dissolved Cu concentration in Jakarta Bay, DKI Jakarta, by using a coupled hydrodynamic-dissolved Cu concentration transport model. Thecoupled model has been solved numerically, which is explicit finite difference of Upstream. Model verification showed a good agreement between model results and field observation. Generally, tidal current inflows from eastern part of mouth-bay and outflows to western part of mouth-bay during flood tide. Reversely, the tidal current inflows from western part of mouth-bay and outflows to eastern part of mouth-bay during ebb tide. The water current still has a similar pattern for wind influence in the simulation. Distribution pattern of dissolved Cu concentration mainly follows the flow pattern, with concentration degradation showed high near source area (mouth of rivers) and decrease as far from the sources. Therefore, the role of advection is more dominant in material distribution in the waters.Key words: Jakarta Bay, coupled hydrodynamic-dissolved Cu concentration transport model
Uji Pemanfaatan Rumput Laut Halimeda sp. Sebagai Sumber Makanan Fungsional untuk Memodulasi Sistem Pertahanan Non Spesifik pada Udang Putih (Litopenaeus vannamei) Subagiyo Subagiyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.192 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.3.142-149

Abstract

Makanan fungsional bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit melalui target fungsional tertentu didalam proses fisiologi dan metabolisme tubuh, diantaranya adalah melalui proses immunomodulasi. Pada penelitian ini dilakukan percobaan aplikasi ekstrak dan serbuk simplisia rumput laut Halimeda sebagai makanan fungsional untuk memodulasi sistem pertahanan non spesifik pada udang vannamei. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental laboratoris menggunakan rancangan acak lengkap. Halimeda ditambahkan dalam pakan sebanyak 1%. Pakan diberikan sebanyak 5% berat badan per hari yang diberikan dalam tiga kali (pagi, sore dan malam). Parameter sistem pertahanan non spesifik udang diamati melalui penghitungan jumlah total hemosit dan aktivitas fagositosis hemosit. Selama penelitian juga dilakukan pengukuran kualitas air (salinitas, pH dan suhu) secara harian. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak Halimeda memberikan pengaruh dengan meningkatkan jumlah total hemosit 22,43% (hari ke-8) dan 96,24% (hari ke-12). Tetapi pemberian serbuk simplisia memberikan pengaruh lebih baik dengan meningkatkan jumlah total hemosit sebesar 76,18% (hari ke-8) dan 170,11 % (hari ke12). Hasil pengamatan aktivitas fagositosis menunjukan bahwa pemberian ekstrak dan serbuk simplisia Halimeda memberikan pengaruh meningkatkan aktivitas fagositosis pada pengamatan hari ke-12 yaitu berturut turut sebesar 35,75% dan 48,38% sehingga dapat disimpulkan bahwa Halimena mampu memodulasi sistem pertahanan non spesifik pada L. vannamei. Kata kunci : Halimeda, makanan fungsional, sistem pertahanan non spesifik, L. vannamei Functional foods should benefically affect one or more target functions in the body, among others is through immunomodulation process. This research was conducted to determine the effect of hot-water extract and powder simplicia of Halimeda sp. as functional foods to modulate non-specific defense system in vannamei shrimp. Research was carried out by laboratory experimental methods using a complete randomized design. Halimeda was incoorporated in the feed at concentrations of 1%. The feed was given as much as 5% of body weight per day given in three times (morning, afternoon and evening). Parameters of non-specific defense system of shrimp were observed by counting the total number of hemosit and hemosit phagocytosis activity. During the study also measured water quality (salinity, pH and temperature) daily. The results showed that administration of Halimeda extract increased total hemocyte count of 22.43% (at day 8) and 96.24% (at day 12). While administration of powder simplicia increased total hemocyt count  of 76.18% (at day 8) and 170,11% (at day 12). Phagocytosis activity parameter indicate that administration of extracts and powders simplicia Halimeda increased phagocytosis activity on the observation of 12 days consecutive for 35.75% and 48.38% and could be concluded that Halimeda sp. was able to enhance non-specific defence of  L. vannamei Key words : Halimeda, functional food,  non-spesific defence system, L. vannamei
Growth, Agar Yield and Water Quality Variables Affecting Mass Propagation of Tissue Cultured Seaweed Gracilaria verrucosa in Pond Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum; Hidayat Suryanto Suwoyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.338 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.23.1.55-62

Abstract

Mass propagation of tissue culture produced seaweed seedling was conducted in the pond. The present study aims to evaluate the growth of tissue culture produced seaweed seedling of Gracilaria verrucosa, its agar yield and related water quality variables during propagation in pond. The seedling propagation was conducted in pond using long line method for 9 cycles (30 days per cycle). The daily growth rate was calculated by weighing 30% of the total amount of seaweed at ropes line every 15 days. Agar yield was analyzed every 30 days in hot water extraction method. Water quality monitoring was conducted every 15 days. The data of daily growth rate and agar yield were analyzed descriptively. A simple linear regression analysis was conducted in order to analyze the relationship between growth and agar yield as well relationship between water quality variables, growth and agar yield. The result showed that the average daily growth rate of nine cycles was 3.38±1.49%. The highest agar yield was yielded from cycle II (27.84±1.60%) and the lowest was in cycle I (10.30%±2.15). There is no relationship between daily growth rate and agar yield (R2=0.055). Daily growth rate was mostly influenced by phosphate (P<0.05), nitrate (P<0.05), salinity (P<0.05) and light penetration (P<0.05). Meanwhile, agar yield was mostly influenced by temperature (P<0.05) and light penetration (P<0.05). Present study promising for seaweed G. verrucosa mass cultivation of tissue culture product which is a feasible alternative method to supply seaweed seedlings in seaweed farming development.  Keywords: growth, agar yield, G. verrucosa, tissue culture, water quality
Karakteristik Upwelling di Sepanjang Perairan Selatan NTT Hingga Barat Sumatera Kunarso Kunarso; Nining Sari Ningsih; Agus Supangat
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.813 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.1.17-23

Abstract

Kejadian upwelling di sepanjang perairan Selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Barat Sumateramerupakan bentuk evolusi upwelling yang setiap tahun berulang. Fenomena upwelling ini dipengaruhioleh musim dan iklim. Adanya perubahan fenomena iklim (Normal, El Niño, dan La Niña) diduga akanmenyebabkan perubahan karakteristik upwelling, baik temporal (periode upwelling), spasial (distribusihorisontal), maupun intensitasnya. Berdasarkan hasil analisa dari data pola angin, model pola arus, sebaran suhu baik dari model maupun dari WOD ( Word Ocean Data ), serta data satelit yang berupa SST ( Sea Surface Temperature ) dan chlorofil-a, ditemukan bahwa pada variasi fenomena iklim (Normal, El Niño dan La Niña) tahunan , menunjukkan karakteristik upwelling yang berbeda. Upwelling pada tipe periode El Niño mempunyai karakteristik lebih lama, lebih luas distribusi spasialnya dan lebih kuat intensitasnya dibanding pada periode Normal dan La Niña. Upwelling pada tipe periode La Niña mempunyai karakteristik paling singkat kejadiannya, paling sempit distribusi spasialnya dan paling kecil intensitasnya dibanding periode El Niño dan Normal.Kata kunci: Upwelling, Normal, El Niño, La NiñaUpwelling evolution on the Southern Coast of NTT to the Western Coast of Sumatera occurs periodicallyevery year. This upwelling phenomena is affected by weather and climate. The climate variability (Normal,El Niño, dan La Niña) are supposed to couses the upwelling characteristic changes, both temporally(upwelling periodic) and spacially (horizontal distribution) and also upwelling intensity. Based on wind data analysis, current patern model, temperature distribution carried out from model data, Word OceanData and Sea Surface Temperature and chlorophyl-a obtained from satelite image, it is found thatinterannual variability of climate (Normal, El Niño, and La Niña events) couses different upwellingcharacteristics. Upwelling during the El Niño event has longer period, wider spacial distibution andstronger intensity than that during the Normal and La Niña ones. Upwelling during the La Niña eventshas shorter period, narrower spacial distribution, and weaker intensity than that during the El Niño andNormal event.Key words : Upwelling, Normal, El Niño, La Niña
Bioekologi Ikan Kerapu di Kepulauan Karimunjawa (Bioecology of Groupers in Karimunjawa Waters) Mujiyanto Mujiyanto; Yayuk Sugianti
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.943 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.88-96

Abstract

Kelompok ikan yang menjadi target penangkapan di perairan Kepulauan Karimunjawa antara lain adalah ikan yang berasosiasi dengan ekosistem karang, seperti Kerapu (Epinephelus sp. dan Plectropomus sp.). Kerapu tergolong ikan demersal yang menyukai hidup di antara celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi bioekologi ikan Kerapu di Kepulauan Karimunjawa. Penelitian dilakukan pada tahun 2011-2013. Komunitas ikan Kerapu diamati dengan menggunakan metode transek garis pada kedalaman 5-6 dan 10-11 meter. Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan Kerapu mempunyai keanekaragaman yang rendah dengan sebaran jenis yang merata di seluruh perairan. Terdapat dominasi jenis di Pulau Cendikian. Kesamaan jenis terdekat pada nilai  >95 % di kedalaman 5-6 meter dan 10-11 meter yang membentuk empat kelompok terdekat. Determinasi jenis ikan Kerapu dengan hasil tingkat kesamaan jenis terdekat dengan nilai >95 % di Pulau Kumbang (sisi utara), Pulau Kembar dan Batu Lawang. Perbedaan indeks ekologi dan kesamaan jenis Kerapu diduga dikarenakan faktor fisik-kimia perairan dan ketersediaan nutrisi serta oleh aktivitas nelayan dan kegiatan masyarakat. Kata kunci: ikan; Kerapu; indeks ekologi; Karimunjawa  Fish target groups in Karimunjawa waters consist of associated coral reef fish species such as grouper (Epinephelus sp. and Plectropomus sp.). This study aims to determine bioecology the condition of grouper in Karimunjawa waters. The study was conducted during 2011-2013. Data collection was performed using line transect method at 5-6 and 10-11 meters depth. The ecological value of grouper in waters Karimunjawa showed low diversity and the species of groupers is evenly distributed across the waters. There is species dominance in Cendikian Island. The species also showed closest similarity (> 95 %) in both the depth and formed 4 groups. The closest similarity (​​> 95 %) happened among the waters of north side of Kembang Islands Beetles (north side),  Kembar Island and Batu Lawang. The condition of groupers in Karimunjawa waters is affected by physical-chemical factors, the availability of nutrients, fishing activities and community activity.   Keywords: fish; grouper; ecological index; Karimunjawa
Pengaruh Pengurangan Konsentrasi Nutrien Fosfat dan Nitrat Terhadap Kandungan Lipid Total Nannochloropsis oculata Widianingsih Widianingsih; Retno Hartati; H. Endrawati; Ervia Yudiati; Valentina R. Iriani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1649.513 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.24-29

Abstract

Fosfat dan nitrat mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan dan kandungan nutrisi Nannochloropsis oculata. Kandungan lipid total dalam Nannochloropsis oculata sangat dipengaruhi oleh nutrien yang terkandung dalam media kultur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh  perbedaan komposisi nutrien fosfat dan nitrat  terhadap kandungan lipid total  mikroalga Nannochloropsis oculata. Anova satu arah dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan diterapkan pada penelitian ini.  Pelakuan perbedaan komposisi fosfat dan nitrat yaitu Kontrol (K, fosfat dalam NaH2PO4 20 g dan nitrat dalam NaNO3 100 g),  fosfat dan nitrat 75 % dari kontrol (A), fosfat dan nitrat 50 % dari kontrol (B), serta fosfat dan nitrat 25 % dari kontrol (C).  Pemanenan mikroalga untuk analisa  total  lipid  dilakukan  pada  fase  eksponensial  dan  stasioner.  Duaratus  limapuluh  mililiter  media bersalinitas 35 ‰ digunakan dalam penelitian ini dengan sistem aerasi dan pencahayaan 3000 lux yang kontinyu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan komposisi nutrien (fosfat dan nitrat) pada media pemeliharaan  berpengaruh  terhadap  kandungan  lipid  total  pada  fase  stasioner  namun tidak pada  fase eksponensial. Kandungan total lipid terbesar 67,7 % dw ditemukan pada N. oculata yang dikultur pada media dengan fosfat dan nitrat 25 % dari kontrol dan yang terkecil 39,3 %-dw pada N. oculata yang dikultur pada nutrien Kontrol.  Pembatasan nutrien pada media pemeliharaan dapat meningkatkan kandungan lipid total pada kultur  N. oculata Kata kunci: Nannochloropsis oculata, Total Lipid, fosfat, nitrat Phosphate and nitrate play  important role on growth and nutrition value of Nannochloropsis oculata.  Total lipid content of microalgae Nannochloropsis oculata is influenced by nutrient content in the culture medium. This research was aimed to examine the effect of different depletion phosphate and nitrate composition on the total lipid of  Nannochloropsis oculata.  Anova One Way with 4 treatments and 3 replicates has been applied in this research. The treatment of differences phosphate and Nitrate composition as follows Nutrient control (Conway medium having  Phospate in NaH2PO4 20 g and Nitrate in NaNO3 100 g), Nutrient A (phosphate and nitrate 75 % nutrient control); Nutrient B (phosphate and nitrate 50 % nutrient control), Nutrient C (phosphate and nitrate 25% nutrient control) The volume of culture medium was 250 mL with salinity 35‰, continuous aeration and illumination 3000 lux. The present work revealed that the nutrient composition on culture medium affected the total lipid content of N. oculata  at the stationary and but not in exponential phase. The highest total lipid content (67,7%-dw)  was found in N. oculata cultured in media with the lowest phosphate and nitrate concentration, in the contrary the lowest total lipid content (39,3%-dw) was happened in Control medium.  Nutrient limitation in medium culture was able to increase total lipid content in the culture of  N. oculata. Key words: Nannochloropsis oculata; Total  Lipid, phosphate, nitrate
Respon Bakteri Nitrifikasi Terhadap Penggunaan Jerami Dan Katul Sebagai Priming Agent Untuk Meningkatkan Laju Respirasi Tanah Tambak Udang Subagiyo Subagiyo; Wilis Ari Setyati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.89 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.147-151

Abstract

Penelitian tentang respon bakteri nitrifikasi terhadap penggunaan jerami dan katul sebagai priming agent untuk meningkatkan laju respirasi tanah tambak udang telah dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap. Ada 2 perlakuan yang dibandingkan yaitu pemberian jerami dan pemberian katul, masing-masing dengan 4 sub perlakuan yaitu pemberian jerami atau katul dengan dosis masing-masing 0 kg/m2, 0,2 kg/m2, 0,3 kg/m2, dan 0,4 kg/m2. Penelitian dilakukan menggunakan bejana respirasi yang diisi dengan tanah dasar tambak udang pasca panen. Jumlah bakteri nitrifikasi dihitung dengan metode MPN menggunakan medium mineral untuk bakteri nitrifikasi. Hasil penelitian menunjukan adanya respon peningkatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi tanah tambak udang akibat perlakuan penggunaan jerami dan katul sebagai agensia priming agent untuk meningkatkan laju respirasi tanah tambak udang. Respon ini ditunjukan dengan adanya kecenderungan jumlah bakteri nitrifikasi pada perlakuan pemberiaan jerami dan katul yang lebih tinggi dibandingkan tanah yang tidak mendapat perlakuan pemberian jerami dan katul. Pada kondisi penelitian ini respon bakteri nitrifikasi tertinggi terjadl pada perlakuan pemberian jerami atau katul pada dosis 0,2 kg/m2. Hal ini ditunjukan dengan kecenderungan jumlah bekteri nitritikasi yang paling tinggi pada perlakuan pemberian jerami atau katul.Kata kunci: bakteri nitrifikasi; tanah tambak; priming agent; katul; jerami  An experiment was done to assay nitrifier responses on straw and bran application as priming agent to increase pond soil respiration rate. The experiment was done by using complete randomized design. Straw and bran as treatment was applied on sample soil at 0,1 kg/m2, 0,2 kg/m2, 0,3 kg/m2. Soil were placed in respiration chambers (500 ml becker glass) was respended above soil surface, and 50 ml of 1.00 N NaOH was pipetted into the backer glass. Respiration chambers were sealed. Nitrifier enumeration was done by MPN method. The experiment showed that increased of number of nitrifier as responds on application of straw and bran. In experiment condition the highest number of nitrifier along time of experiment was happened in application of straw or bran on 0,2 kg/m2 in dosage.Keywords: Nitrifier; straw; bran; pond soil; priming agent
Genetik Uniformity of Widely Separated Population of Coral Acropora aspera from Karimunjawa and Panjang Island Waters Revealed by Partial Sequence of Internal Transcribed Spacer-4 Regions Diah P Wijayanti; Chrisna A Suryono; Agus Sabdono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.635 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.125-129

Abstract

Telah kita ketahui dengan baik bahwa kaarang hidup tersebar dari daerah tropis sampai subtropis di Indo Pasifik. Namun malangnya informasi tentang hubungan secara genetic antar populasi terumbu karang yang dipisahkan oleh jarak tersebut sangat kurang. Variasi genetic karang Acropora aspera telah dianalisa dengan internal transcribed spancer-4 (ITS-4). Analisa dilakukan terhadap dua pupulasi karang yang berasal dari Karimunjawa dan Jepara. Hasil sequencing dengan ITS-4 menunjukan bahwa diantara meraka terdapat hubungan yang dekat baik yang ada di Karimunjawa dan Jepara. Dari hubungan tersebut dapat diasumsikan bahwa populasi A. aspera yang ada di Jepara berasal dari Karimunjawa bila dillihat sebaran genetis.Kata kunci: Acropora aspera, sebaran genetis, ITS-4 It is well known that coral species are broadly dispersed across the tropical and subtropical Indo Pacific. Unfortunately, there is little information about the genetic connectivity between coral populations separatedby large distance. Variability in the nucleotide sequence of the internal transcribed spacer-4 (ITS-4) of the nuclear ribosomal gene in coral Acropora aspera was analyzed. Two populations of corals from Karimunjawaand Jepara were investigated. Sequencing analysis of ITS region of rDNA gene showed that there is closely related between parental of A. aspera Karimunjawa and Jepara. This relation suggest that presumably A.aspera population in Jepara was originated from Karimunjawa through genetic flow.Key words: Acropora aspera, gene flow, ITS-4 
Produktivitas Biomassa Copepoda di Perairan Demak Muhammad Zaenuri; Hadi Endrawati; Widianingsih Widianingsih; Irwani Irwani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.869 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.19-24

Abstract

Copepoda sebagai konsumer primer, merupakan biomassa yang dapat dikuantifikasi dengan pendekatan morfometri, dengan output volume tubuh copepoda sebagai landasan penghitungan transfer energi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas biomassa copepoda di perairan Demak. Penelitian ini dilaksanakan dari Mei hingga Oktober 2005 pada 6 stasiun di perairan Demak. Sampling dilakukan sebulan sekali dengan menggunakan planktonnet. Sampel copepoda yang diperoleh diklasifikasi berdasarkan ukuran tubuh untuk analisis morfometri sehingga didapatkan biomassa volumetrik. Pengukuran parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, arus, dan kecerahan) dilakukan secara bersamaan dengan sampling copepoda. Hasil pengamatan menunjukkan kelimpahan copepoda total pada 6 stasiun di perairan Demak 741-2094 ind./l. Hasil analisis morfometri ordo Calanoida Genus Acartia sp. berkisar 400-950 μm3; Calanus sp. 400-1900 μm3; Eucalanus sp. 400-925 μrn3; Pseudocalanus sp. 400-1200 μm3; Paracalanus sp. 400-1200 μm3 dan Centmpages sp. 400-1900 μm3. Ordo Cyclopoida, Genus Oithona sp. berkisar 450-1100 μm3 dan Ordo Harpacticoida, Genus Euterpinasp. berkisar 500-1050 μm3Kata kunci: Copepoda, Morfometri, Biomassa, Demak
Characteristics of Mixed Layer Depth and Its Effect on Concentration of Chlorophyll-a (Karakteristik Mixed Layer Depth dan Pengaruhnya Terhadap Konsentrasi Klorofil-a) Novita Ayu Ryandhini; Muhammad Zainuri; Anastasia Rita Tisiana D. K.
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.879 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.4.219-225

Abstract

Perairan Selat Badung memiliki karakteristik yang sebagian besar dipengaruhi oleh aktivitas Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Pencampuran massa air akibat pergerakan massa air vertikal menjadikan kondisi lapisan yang homogen, dimana nilai suhu, salinitas dan densitas berada pada nilai yang hampir sama di lapisan tertentu akan membentuk Mixed Layer Depth (MLD). Penelitian dilakukan untuk mengetahui karakteristik MLD dan pengaruhnya terhadap konsentrasi klorofil-a di Perairan Selat Badung, Bali. Metode pengukuran klorofil-a menggunakan spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan salinitas sebagai parameter MLD, membentuk lapisan yang homogen pada kedalaman yang bervariasi. Sebaran kandungan klorofil-a pada kedalaman MLD 12-23 m, menunjukkan nilai klorofil-a yang cenderung lebih tinggi pada permukaan perairan dibandingkan di perairan yang lebih dalam. Pada MLD kedalaman 12-60 m, menunjukkan bahwa kecenderungan kandungan klorofil-a lebih tinggi pada lapisan di kedalaman tersebut. Namun pada beberapa stasiun menunjukkan bahwa meskipun terdapat lapisan homogen yang cukup dalam, kandungan klorofil-a lebih tinggi di lapisan permukaan dibandingkan pada perairan yang lebih dalam. Kata Kunci: mixed layer depth, klorofil-a, perairan selat Badung Badung Strait characteristics is largely influenced by the ARLINDO (Indonesian Throughflow) current activity. The mixing of water masses due to the vertical movement of water masses, homogenized some range of layer (Mixed Layer Depth), whereas the value of temperature, salinity and density were about on the same range. The study was conducted to determine the characteristics of MLD and its influence on the concentration of chlorophyll-a of Badung Strait, Bali. Chlorophyll-a content was measured by using spectrophotometry method. The results showed that temperature and salinity as the MLD parameters, formed homogeneous layer (MLD) at varying depths. Distribution of MLD at depth of 12-23 m, indicating that chlorophyll-a consentration tends to be higher on the surface than at depth. In conditions at depth of 12-60 m, showed that chlorophyll-a higher on the depth, where a lot of MLD formed on the layer. However, in some stations showed that although there were quite a lot of homogeneous layer, chlorophyll-a consentration was higher on the surface than in the depth. Keywords: Mixed Layer Depth, Chlorophyll-a, Badung Strait

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 3 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 2 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 1 (2025): Ilmu Kelautan Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 3 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 2 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 1 (2024): Ilmu Kelautan Vol 28, No 4 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 2 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 1 (2023): Ilmu Kelautan Vol 27, No 4 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 3 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 2 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue