cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 743 Documents
Penentuan Sumber Sedimen Dasar Perairan : II. Berdasarkan Kesamaan Arus dan Sifat Fisika Sedimen Hariadi Hariadi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2261.417 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.44-49

Abstract

Sedimentasi di perairan Pantai Rebon dipengaruhi  oleh faktor oseanografi setempat dan sedimen dari sungai yang bermuara di perairan tersebut. Sifat fisik sedimen yang diteliti yang meliputi   ukuran butir, berat jenis, kandungan karbonat, kandungan bahan organik dan mineral  magnetik.  Dalam kajian ini sifat fisik sedimen dan arus di kelompokan menjadi 3 (tiga) grup lokasi keberadaannya yaitu Perairan Pantai Rebon, Sungai Boyo dan Sungai Urang. Penelitian lapangan dilakukan bulan Juni sampai Agustus 2003. Materi utama dalam penelitian ini adalah sedimen dan kecepatan arus. Sedangkan metode  penelitian menggunakan metode diskriptif dengan analisis didasarkna pada kesamaan sudut antar ruang vektor yang dibangun oleh parameter fisik sedimen dan kecepatan arus, sehingga dalam kajian ini digunakan program stastistik Sudut Minimum Antar Sub Ruang Vektor. Hasil penelitian dan perhitungan stastistik sudut minimum antar sub ruang vektot menunjukan bahwa perairan Pantai Rebon, Sungai Urang  dan Sungai Boyo masing-masing mempunyai sudut 27,37º ; 28,15º; dan 47,94º. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sedimentasi di perairan Pantai Rebon sangat dipengaruhi oleh sedimen dari Sungai Urang. Kata kunci : Sedimen, sudut minimum antar ruang vektor, kemiripan  Sedimentation in the Rebon Coastal Waters was influenced by the oceanography factor and sediment input from river which flowing to the waters. Index properties of sediment which was researched include grain sise, specific gravity, the carbonate content, obstetrical of organic substance and magnetic mineral. In this research index properties of sediment dan current have divided into 3 grup territorial, that is coastal territorial water of the Rebon, territorial water of the Boyo River and territorial water of the Urang River.Field Research was conducted on June month until August 2003. Especial items used was  sediment and current. Discriptive method was adopted in this research, the data was analysed by the Minimum Corner Usher The Sub of Space Vektor part of the statistical program. The research showed that minimum corner the sediment of each Rebon Waters, Urang River, Boyo River are  27,37º ; 28,15º ; dan 47,94º. By this value can be concluded that the territorial Rebon water’s  very influenced influx sediment from the Urang River. Key words: Sediment, Minimum angle of Sub Space Vektor, Similarity
Indeks Mitotik Simbion Alga Zooxanthellae pada Anemon Laut Stichodactyla gigantean Hasil Reproduksi Aseksual (Mitotic Index of Algal Symbion Zooxanthellae on Giant Carpet Anemone (Stichodactyla gigantea) Resulted from Asexual Reproduction) M. Ahsin Rifa’i
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.079 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.7-13

Abstract

Zooxanthella adalah alga simbiotik yang hidup berasosiasi secara mutualisme pada jaringan endodermis anemon laut. Dinamika alga zooxanthellae telah banyak diketahui pada anemon hasil reproduksi seksual namun sebaliknya pada anemon hasil reproduksi aseksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan pembelahan sel-sel zooxanthellae yang bersimbiosis dengan anemon laut Stichodactyla gigantea (Forskal 1775) hasil reproduksi aseksual dengan teknik fragmentasi. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober 2010 sampai Juli 2011 di kawasan terumbu karang Teluk Tamiang, Provinsi Kalimantan Selatan. Paremater yang diuji adalah indeks mitotik zooxanthellae yang bersimbiosis dengan anemon laut. Zooxanthellae bersumber dari anemon alam hasil reproduksi seksual dan anemon hasil reproduksi aseksual yang dipelihara secara bersama selama sepuluh bulan pada perairan alami. Hasil penelitian menunjukkan kecepatan pembelahan sel zooxanthellae (indeks mitotik) memiliki perbedaan secara signifikan antara anemon hasil reproduksi aseksual dan anemon alami. Indeks mitotik zooxanthellae tertinggi ditemukan pada anemon alam dibandingkan anemon hasil reproduksi aseksual.  Indeks mitotik relatif sama ditemukan antar lokasi pemeliharaan. Kata kunci: Anemon, indeks mitotik, zooxanthellae, aseksual, reproduksi Zooxanthellae are symbiotic algal that form mutualism relation in endodermis tissue of sea anemone. The dynamics of zooxanthellae algae are well known in the anemone sexual reproduction, but otherwise the asexual reproduction. The aims of the research was to determine the rate of zooxanthellae cells bisection that have the symbiosis with The giant carpet anemone (Stichodactyla gigantea, Forskal 1775) which is resulted from asexual reproduction with the technique of fragmentation. Research was conducted from October 2010 to July 2011 in area of coral reef, Teluk Tamiang, South Kalimantan Province. The examination variable was mitotic index of zooxanthellae symbiont of sea anemone. Zooxanthellae from sea anemone that was resulted from asexual reproduction and sea anemone from the nature were cultured for ten months in the natural waters. The result showed that the rate of zooxanthellae cells division (mitotic index) have a significant difference between anemone which were resulted from asexual reproduction and sea anemone from the nature. The higher mitotic index was found at the sea anemone from the nature compared with those from asexual reproduction. The mitotic index was relatively similar between locations of culture. Keywords: anemone, mitotic index, zooxanthellae, asexual, reproduction
Effect of Reducing the Conventional Feeding Rate on Water Quality and Shrimp Production Variables in Penaeus monodon Shrimp Culture with Zero Water Exchange Model Using Molasses as Carbon Source Pohan Panjaitan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.759 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.2.77-84

Abstract

In aquacultureparticularly for fishes culture it was shown that the application of carbon had brought about good benefits in terms of water quality, fishes production variables and increase in bacterial biomass. Moreover,  bacterial biomass used to replace part of the feed requirement of fishes  resulting  a considerable cost  saving and the boasting profit for the farmer. Therefore, the aim of  this study was  to evaluate the  effects of  reducing  conventional feeding rate on water quality and shrimp production variables within Penaeus monodon shrimp culture with zero water exchange model using molasses. Study shows that using molasses with the level of C: N ratio = 20.0:1 at 75 % of conventional feeding rate is the most promising features of zero water exchange culture system because it offers  increased biosecurity, reduced feed costs, waste and water use. Keywords : Feeding rate, water quality, zero water exchange model, molasses Dibudidaya perairan terutama untuk budidaya ikan telah diperlihatkan bahwa penggunaaan karbon membawa manfaat dari sisi kualitas air, produksi ikan dan peningkatan dalam biomassa bakteri. Biomassa bakteri digunakan untuk mengantikan sebagian kebutuhan makanan ikan sehingga dapat menghemat biaya dan menguntungkan bagi petani. Tujuan studi ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh pengurangan jumlah pakan konvensional terhadap variable kualitas air dan produksi udang dalam budidaya udang Penaeus monodon dengan sistem tanpa pergantian air menggunakan molasses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan molasses dengan level ratio C:N = 20.0:1 dan pemberian pakan 75 % dari jumlah pakan konvensional merupakan pola yang sangat menjanjikan bagi system budidaya tanpa pergantian air sebab perlakuan tersebut dapat meningkatkan biosecurity, mengurangi biaya pakan, limbah dan penggunaan air. Kata kunci: Jumlah pakan,kualitas air,model tanpa pergantian air, molasses
Ekologi Perairan Delta Wulan Demak Jawa Tengah: Korelasi Sebaran Gastropoda dan Bahan Organik Dasar di Kawasan Mangrove Ibnu Pratikto; Baskoro Rochaddi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.878 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.4.216-220

Abstract

Perairan Delta Wulan merupakan salah satu kawasan bermangrove yang memili kesuburan tinggi karenakandungan bahan organiknya. Banyak organisme yang berasosiasi dengan mangrove salah satunya adalahgastropoda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran gastropoda di kawasan mangroveperairan delta. Pengambilan sampel gastropoda dilakukan di kawasan mangrove dengan luasan 5x5 m pada4 stasiun yang berbeda. Hasil pengamatan ditemukan 7 famili dan 9 genus gastropoda. Kesembilan genusgastropoda hampir tersebar di keseluruhan stasiun, jumlah individu terbanyak di temukan pada stasiun I yanglokasinya dekat laut sedangkan yang terkecil pada stasiun IV yang lokasinya jauh dari laut. Pola sebarangstropoda pada masing masing stasiun adalah mengelompok dan indek kesamaan komunitas hampir setiapstasiun sama.Kata kunci : Delta Wulan, gastropoda, organic dasarDelta Wulan waters is one of the mangrove areas which has highest fertile condition due to high organicmatter conteint. Many of animals including gastropod were associated with mangrove vegetation to makesymbiotics between them. The aim of the research was to understand the dispersion of gastropod on mangroveforest of Delta Wulan areas. The samples were collected by using 5x5 square meter in 4 different stations.The research found 7 families and 9 genera of gastropod. Most of the gastropod was distributed on 4 stationsand the highest number of individual was found in station I which locoted closer with sea water and thelowest number was found at station IV which futher away from the sea. The dispersal pattern of gatropod intheir location was clumped and community similarity indices were also similar.Key words: Delta Wulan, gastropod, benthic organic mater
Aplikasi Isochrysis galbana dan Chaetoceros amami serta Kombinasinya Terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Veliger-Spat Tiram Mutiara (Pinctada maxima) Nur Taufiq; Diana Rachmawati; Justin Cullen; Yuwono Yuwono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.77 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.119-125

Abstract

Salah satu penyebab rendahnya pertumbuhan dan kelulushidupan pada  perkembangan awal larva sampai spat tiram mutiara (Pinctada maxima) adalah pemberian pakan alami yang kurang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pemberian pakan alami Isochrysis galbana dan Chaetoceros amami dan kombinasinya terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan veliger-spat Pinctada maxima.  Penelitian ini dilaksanakan di PT. Autore Pearl Culture, Sumbawa, NTB. Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan diterapkan pada penelitian ini, yaitu pemberian pakan alami 100% I. galbana); kombinasi 75% I. galbana dan 25% C. amami, kombinasi 50% I. galbana dan 50% C. amami, kombinasi 25% I. galbana dan 75% C. amami, dan 100% C. amami, dengan kepadatan 7 x 106 sel/mL. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama pemeliharaan veliger-spat dengan pakan  I. galbana, C. amami dan kombinasinya berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan panjang mutlak cangkang dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan. Pertumbuhan panjang mutlak dorsal-ventral dan anterior-posterior cangkang tertinggi dicapai pada perlakuan kombinasi 25% I. galbana dan 75% C. amami, yaitu 1.623,7µm dan 2.217,11 µm. Kelulushidupan tertinggi dicapai oleh pemberian 100% I. galbana sebesar 6,85%. Kata kunci: Pinctada maxima, Veliger, Spat, Isochrysis galbana, Chaetoceros amami, pertumbuhan  The low growth and survival rates of pearl oyster (Pinctada maxima) at early development from larvae to spat is commonly due to inappropriate natural food given. The aims of the present study was to determine the effect of natural food Isochrysis galbana, Chaetoceros amami and its combination on the growth and survival rates of pearl oyster (P. maxima) larvae. This study was conducted at PT. Autore Pearl Culture, Sumbawa, West Nusa Tenggara province. Completely Randomized Design was applied with 5 treatments and 3 replications. The treatments were 100 % I. galbana, combination of 75% I. galbana and  25% C. amami, 50% I. galbana and 50% C. amami, 25% I. galbana and 75% C. amami, and 100% C. amami, with density of 7 x 106 sel/mL. The data of length growth and survival were analyzed by Analysis of Variants followed by Duncan’s Test. The result showed that the treatments gave highly significant difference (P< 0.01) on the  shell growth and significantly different (P< 0.05) on survival rate. The highest dorsal-ventral and anterior-posterior shell growth (1,623.7 µm and 2,217.11 µm) reached by spat fed on combination of 25% I. galbana and 75% C. amami. The highest survival rate (6.85%) was reached by spat fed by 100 % I. galbana . Key words: Pinctada maxima, Veliger, Spat, Isochrysis galbana, Chaetoceros amami, growth
Bioturbation and Its Impact on the Sediments Agus Indarjo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.732 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.1.23-26

Abstract

Abstrak Aktifitas membuat lubang dari makrofauna dasar dipengaruhi oleh kondisi fisik dan komposisi kimia sedimen. Hal ini akan sangat penting untuk pertumbuhan mikroorganisme dan meioorganisme dan juga untuk mengaduk keseluruhan bahan organik. Di dalam sedimen bioturbasi akan dipengaruhi oleh kekuatan mengaduk air dalam sedimen, kekasaran dasar. erosi velositas dan organisme lainnya Kata kunci: Bioturbasi. makrofauna, meiofauna, mikrofauna dan bahan organic Abstract Activities of burrowing benthic macrofauna are influenced by both the physical structure and the chemical composition of sediment. These factor are very important for the growth of microorganisms and meioorganisms as well as the overall turnover of organic matter. Bioturbation within the sediment will influence the shear strength, water content, bed roughness, erosion velocity and other organisms. Keywords: Bioturbation, macrofauna, meiofauna, mikrofauna dan organic matter
Struktur Komunitas Copepoda di Perairan Jepara Hadi Endrawati; Muhammad Zainuri; Endang Kusdiyantini; Hermin P Kusumaningrum
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.132 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.4.193-198

Abstract

Copepoda merupakan komponen terbesar dari zooplankton di laut dan berperan sebagai produser sekunder serta konsumer. Berdasarkan perannya dalam jaring-jaring makanan, maka komunitas copepoda pada suatu perairan dapat digunakan untuk menilai produktivitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas copepoda di perairan Jepara. Penelitian ini dilaksanakan dari April hingga Desember 2005 di perairan Jepara dan identifikasi dilakukan di Laboratorium Biologi Oseanografi UNDIP. Enam stasiun untuk pengambilan sampel yang dilakukan sebulan sekali. Pengambilan sampel copepoda dilakukan dengan planktonnet 100 mm, dengan menyaring air sebanyak 1 m3 secara vertikal dari dasar perairan. Sampel yang diperoleh diawetkan dengan formalin 4% untuk diidentifikasi di laboratorium. Keanekaragam, keseragaman dan dominansi dianalisa untuk mengetahui struktur komunitas copepoda. Pengukuran parameter kualitas air yang meliputi suhu, salinitas pH, arus dan kecerahan dilakukan secara bersamaan dengan pengambilan sampel. HasiI penelitian di perairan Jepara terdapat3 ordodan 18 genus copepoda, yaitu Ordo Calanoida (13 genus), Cyclopoida (2 genus) dan Harpacticoida (3 genus). Kelimpahan copepoda di perairan Jepara sebesar 5 - 546 ind/l, dengan rata-rata 316 ± 85, keanekaragaman 2,3259-2,3594, keseragaman 0,80 - 0,81 dan terdapat dominansi Acartia sp dan Calanus sp. Kata kuncl: Copepoda, Struktur Populasi, Jepara The dominantion ofcopepod in the zooplankton community, play an important role as secondary producer and primary consumer in the sea food web. Due to this function, the copepod population can be use as the sea water productivity. The aim of the research is to know and copepod community structure at Jepara Waters. The research was conducted from April to December 2005 at the Jepara Wafers and the samples were identified at Laboratory of Biological Oceanography, UNDIP. There were six stations established as the research site area. Monthly sampling was done. Copepod were collected using the 100 mm plankton net, by filtering a total of 1 m3 sea water taken vertically. The samples were preserved by the addition of formaldehyde 4% and identified in the laboratory. The diversity, evenness and dominance index were calculated to describe the copepod community structure. The water quality such as temperature, salinity, pH, current and transparency, were observed in the same time. There were 18 genus of copepods determined at the Jepara waters, belong to 3 ordo i.e Calanoid (13 genus), Cydopoid (2 genus) and Harpacticoid (3 genus). Copepod density at Jepara water was 5-546 ind./l, (average 316 ± 85), diversity 2,3259-2,3594, eveness 0,8047-0,8163 and dominancy 0,1837-0,1953. Acartia sp and Calanus sp. were dominant in Jepara waters identified. Key words : Copepods, Population Structure, Jepara
Substrat Dasar dan Parameter Oseanografi Sebagai Penentu Keberadaan Gastropoda dan Bivalvia di Pantai Sluke Kabupaten Rembang Ita Riniatsih; Edy Wibowo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.757 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.1.50-59

Abstract

Gastropoda dan bivalvia memiliki distribusi yang luas dalam ruang dan waktu, kebanyakan melimpah sebagai individu. Gastropoda dan bivalvia umumnya berada di laut, hidup di sepanjang pantai atau diperairan dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tekstur substrat dasar dan kandungan bahan organik sebagai penentu keberadaan gastropoda dan bivalvia di Pantai Sluke, Kabupaten Rembang di bagi menjadi 5 lokasi dengan jarak masing-masing lokasi 100 m sepanjanggaris pantai. Tiap lokasi dibagi menjadi 5 stasiun dengan jarakmasing-masingstasiun 100 m ke arah laut. Pengambilan sampel dilakukan dalam transek kuadran 1x1 m, selanjutnya sampel dibersihkan dan diawetkan untuk kemudian dilakukan identifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gastropoda dan bivalvia paling banyak ditemukan pada stasiun B pada jarak 200 m dari pantai, sedangkan pada stasiun A3,A5,C3,D3, dan E2 tidak ditemukan adanya gastropoda dan bivalvia. Spesies yang paling banyak ditemukan adalah Nassarius siquijorensis dari kelas gastropoda dengan jumlah 62 spesies. Untuk Trachycardium rugosum dari kelas bivalvia adalah spesies yang paling sedikit ditemukan. Kandungan bahan organik pada pantai Sluke memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Kandungan bahan organik tertinggi yaitu 22,38 % tergolong dalam kandungan bahan organik tinggi yang terdapat pada stasiun C5, sedangkan kandungan bahan organik terendah yaitu 2,65 % tergolong dalam kandungan bahan organik sangat rendah yang terdapat pada stasiun El. Untuk tekstur substrat dasar rata-rata dari stasiun 1 pada semua lokasi mempunyai substrat dasar pasir. Sedangkan stasiun 2 pada semua lokasi didominasi oleh substrat dasar pasir berlumpur. Untuk stasiun 3, 4, dan 5 pada semua lokasi, substrat dasar yang mendominasi adalah lumpur berpasir.
Bacillus NP5 Improves Growth Performance and Resistance Against Infectious Myonecrosis Virus in White Shrimp (Litopenaeus vannamei) (Bacillus NP5 Meningkatkan Pertumbuhan dan Ketahanan Terhadap Infeksi Virus Myonecrosis pada Udang Putih (L. vannamei) Widanarni Widanarni; Munti Yuhana; Arief Muhammad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.519 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.4.211-218

Abstract

Infectious Myonecrosis (IMN) merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang udang vaname. Probiotik banyak digunakan pada budidaya udang karena terbukti mampu mengurangi serangan penyakit pada udang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian probiotik Bacillus NP5 melalui pakan terhadap kinerja pertumbuhan, respons imun, dan resistensi udang vaname terhadap infeksi Infectious Myonecrosis Virus (IMNV). Udang vaname Litopenaeus vannamei (2.41±0.07 g ekor-1) diberi pakan yang disuplementasi probiotik Bacillus NP5 dengan dosis yang berbeda, 102 CFU.g-1 (A), 104 CFU.g-1 (B), 106 CFU.g-1 (C), dan kontrol tanpa suplementasi probiotik (kontrol negatif, KN; kontrol positif, KP) selama 30 hari dan dengan tiga ulangan untuk masing-masing dosis, kemudian KP, perlakuan A, B, dan C diuji tantang secara intramuskular dengan IMNV (100 µl.ekor-1). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa udang vaname yang diberi pakan dengan suplementasi probiotik mempunyai laju pertumbuhan harian (LPH), rasio konversi pakan (RKP), dan respons imun yang lebih tinggi. Udang tersebut juga mempunyai total hemocyte count (THC) dan resistensi terhadap IMNV yang lebih tinggi dibandingkan kontrol positif. Konsentrasi probiotik 106 CFU.g-1 memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan, respon imun, dan resistensi udang vaname terhadap infeksi IMNV. Kata kunci: probiotik, Bacillus NP5, Litopenaeus vannamei, pertumbuhan, IMNV Infectious Myonecrosis (IMN) is one of the most prevalent white shrimp diseases. Probiotics are widely used in shrimp cultivation because they have been proven to reduce shrimp disease outbreak. This study aimed to observe the effect of oraly administered probiotic Bacillus NP5 on the white shrimp's growth performance, immune response, and resistance to Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) infection. White shrimp Litopenaeus vannamei (2.41±0.07 g individual-1) were fed with a feed supplemented with different doses of the probiotic Bacillus NP5, i.e. 102 CFU.g-1 (A), 104 CFU.g-1 (B), 106 CFU.g-1 (C), and control without any probiotic (negative control, KN; positive control, KP) for 30 days and with three replications for each dose, then KP, treatment A, B, and C were challenged intramuscularly with IMNV (100 µl.shrimp-1). The results of the study showed that white shrimp fed with the supplemented probiotic had higher Daily Growth Rate (DGR), Feed Conversion Ratio (FCR), and immune response. They also had the higher Total Hemocyte Count (THC) and resistance to IMNV than the positive control. Probiotic with concentration of 106 CFU.g-1 gave the highest value on enhancing growth, immunity, and resistance of white shrimp towards IMNV infection. Key words: probiotic, Bacillus NP5, Litopenaeus vannamei, growth, IMNV
Kajian Zat Hara Fosfat, Nitrit, Nitrat dan Silikat di Perairan Kepulauan Matasiri, Kalimantan Selatan Fonny J.L Risamasu; Hanif Budi Prayitno
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.317 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.135-142

Abstract

Penelitian zat hara fosfat, nitrit, nitrat dan silikat telah dilakukan di perairan Kepulauan Matasiri, Kalimantan Selatan pada 12 stasiun pengamatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan berdasarkan ketersediaan dan distribusi spasial zat hara di perairan tersebut. Pengambilan sampel air menggunakan botol Niskin pada lapisan permukaan dan dekat dasar perairan, sedangkan pengukuran konsentrasi zat hara menggunakan Spektrofometer Shimadzu UV-1201V. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Kepulauan Matasiri termasuk perairan yang subur. Rata-rata konsentrasi fosfat di permukaan dan di dekat dasar perairan relatif sama, sedangkan konsentrasi nitrit, nitrat dan silikat lebih tinggi di dekat dasar perairan dari pada di permukaan.  Kata kunci:  Fosfat, Nitrit, Nitrat, Silikat, Kepulauan Matasiri. A research on marine nutrients including phosphate, nitrite, nitrate and silicate was conducted in the Matasiri Islands waters, South Kalimantan, on 12 observation stations. The aim of the research is to understand and assess the waters condition based on the availability and the spatial distribution of nutrients in these waters. Water sampling used Niskin bottles in the surface and near bottom layers, whereas the measurement of nutrients concentration used spectrophotometer Shimadzu UV-1201V. The results showed that Matasiri Islands waters is categorized as fertile waters. The average concentration of phosphate in surface and near bottom layers were relatively similar, whereas the average concentration of nitrite, nitrate and silicate were higher in near bottom layer than in the surface.  Key words: phosphate, nitrite, nitrate, silicate, Matasiri Islands.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 3 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 2 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 1 (2025): Ilmu Kelautan Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 3 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 2 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 1 (2024): Ilmu Kelautan Vol 28, No 4 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 2 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 1 (2023): Ilmu Kelautan Vol 27, No 4 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 3 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 2 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue