cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
ISSN : 2620617X     EISSN : 25795805     DOI : -
Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK (JPKF) adalah publikasi ilmiah hasil penelitian bidang kehutanan dengan No. ISSN 2579-5805. Jurnal ini merupakan konsorsium yang dibentuk oleh tiga institusi yaitu Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang dan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manokwari. Semula pencantuman nama penerbit oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu, namun mulai volume 2 tahun 2018 pencantuman nama penerbit oleh tiga institusi yang berkolaborasi. JPKF diterbitkan dua kali setahun (April dan Oktober). Sejak awal pendirian pada tahun 2017 pengelolaannya dirancang mengikuti sistem jurnal elektronik. Publikasi ilmiah pada jurnal ini meliputi bidang Silvikultur, Jasa Lingkungan, Biometrik, Pemanenan dan Pengolahan Hasil Hutan Kayu dan Bukan Kayu, Perlindungan, Konservasi Sumberdaya, Sosial Ekonomi dan Kebijakan, Ekologi Tumbuhan, Mikrobiologi dan Bioteknologi, Sifat Dasar Kayu dan Tumbuhan, Hidrologi dan Konservasi Tanah.
Arjuna Subject : -
Articles 55 Documents
Faktor Kunci Dalam Pengembangan Hutan Rakyat di Kabupaten Lombok Barat Amiruddin Amiruddin; Sukardi Sukardi; Addinul Yakin; Halimatus Sa'diyah; MRT Mudhofir
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2020.4.2.129-140

Abstract

AbstrakHutan rakyat menjadi salah satu potensi bagi penyediaan bahan baku kayu serta optimalisasi pemanfaatan lahan kering. Kabupaten Lombok barat merupakan salah satu dari dua kabupaten dengan luas hutan rakyat terbesar di Pulau Lombok dengan luas potensi hutan rakyat mencapai 4.415 ha atau sekitar 10,7% dari luas wilayah adminstrasi Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan pengelolaan hutan rakyat seringkali melibatkan berbagai pihak mulai dari kegiatan pembibitan, penanaman hingga pemanenan kayu. Aspek produksi dan kelembagaan menjadi beberapa aspek penting dalam pengembangan hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor kunci dalam pengembangan kelembagaan hutan rakyat terutama pada aspek kendala produksi dan peran aktor di Kabupaten Lombok Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala aspek produksi pada pengelolaan hutan rakyat terletak pada minimnya modal usaha dan kendala dalam pengadaan bibit. Petani dan Ketua Kelompok Tani merupakan aktor yang berperan penting dalam pengelolaan hutan rakyat saat ini. Keterlibatan BPDAS Dodokan Mayosari dalam bantuan pengadaan bibit serta pengadaan program kemitraan dengan industri pengolahan bahan baku hutan rakyat berpotensi dalam mengatasi kendala produksi saat ini.
KEANEKARAGAMAN HERPETOFAUNA DIURNAL DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU (Diversity of Diurnal Herpetofauna in Gunung Merbabu National Park) Rio Christy Handziko; Yusuf Prabowo; Muhammad Insan Fathin; Ahmad Iftachil Falach; Ridho Mahesa
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2021.5.1.1-15

Abstract

AbstractThe diversity of diurnal herpetofauna has an essential role in the ecosystem and is used as an indicator of environmental quality. This study aimed to determine the diversity of herpetofauna species in the southeast slope of the Gunung Merbabu National Park (GMbNP), which is in Ampel Sub-District, Boyolali District, Central Java. The method used in this study was Visual Encounter Survey (VES) in the transect determined purposively around the river, which can become a herpetofauna habitat. Data were collected in the morning session (08.00-14.00 WIB) for six times. This research found 16 species of herpetofauna, as follows: Ahaetulla prasina, Bronchocela jubata, Chalcorana chalconota, Cyrtodactylus marmoratus, Dendrelaphis pictus, Eutropis multifasciata, Gekko gecko, Gonocephalus chamaeleontinus, Leptobrachium hasselti, Megophrys montana, Odorrana hosii, Polypedates leucomystax, Pseudocalotes tympanistriga, Ptyas korros, Python reticulatus, dan Trimeresurus albolabris. The calculation of the level of diversity with the Shannon-Weiner Index showed a value of 2.772 which can be interpreted to have a moderate level of diversity. It implies that the environmental condition of GMbNP is good enough to support herpetofauna species sustainability.AbstrakKeanekaragaman herpetofauna mempunyai peranan dalam ekosistem dan digunakan sebagai salah satu parameter kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies herpetofauna di lereng tenggara kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb), yang secara administratif termasuk Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Visual Encounter Survey (VES) pada transek yang ditentukan secara purposive di sekitar sungai dan berpotensi menjadi habitat herpetofauna. Pengambilan data dilakukan pada siang hari (pukul 08.00-14.00 WIB) sebanyak enam kali. Hasil penelitian didapatkan 16 spesies herpetofauna, yaitu: Ahaetulla prasina, Bronchocela jubata, Chalcorana chalconota, Cyrtodactylus marmoratus, Dendrelaphis pictus, Eutropis multifasciata, Gekko gecko, Gonocephalus chamaeleontinus, Leptobrachium hasselti, Megophrys montana, Odorrana hosii, Polypedates leucomystax, Pseudocalotes tympanistriga, Ptyas korros, Python reticulatus, dan Trimeresurus albolabris. Hasil analisis keanekaragaman indeks keanekaragaman Shannon-Weiner menunjukkan nilai 2,772 yang dapat ditafsirkan memiliki tingkat keanekaragaman sedang. Hal ini mengimplikasikan bahwa kondisi lingkungan TNGMb masih cukup baik dalam mendukung kelestarian herpetofauna.
UJI IN VITRO AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus costaricensis) (IN VITRO ANTIOXIDANT ACTIVITY TEST FROM RED DRAGON FRUIT PEEL EXTRACT (Hylocereus costaricensis) Anastasia Wheni Indrianingsih; Dwi Ratih; Nurina Indirayati
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2020.4.2.71-80

Abstract

ABSTRACTRecently plant extracts are naturally needed as additives. Many biological activities from plant extracts is important in the field of food and health. Red dragon fruit (Hylocereus costaricensis) is one of the most popular fruits in Indonesia. However, it is unfortunate that the peel of the fruit is often only discarded and has not been utilized. In this study, the antioxidant activity of red dragon fruit peels with a DPPH radical scavenging activity was carried out. Dragon fruit peel extract was obtained by maceration method with three variations of solvents i.e. hexane, ethyl acetate and ethanol. Scavenging radical activity assay was conducted in the concentration range of 100 to 800 ppm, with a good activity is the ethanol extract with 55.92 % inhibition at 800 ppm concentration, followed by ethyl acetate extract as of 55.52 % and hexane extract as of 35.39 %. Characterization of dragon fruit peel extract was also carried out by infrared spectroscopy (FTIR) at wavelengths of 500-4000 cm-1 to determine the functional groups present in dragon fruit peel extract. The results obtained indicate that dragon fruit peels have the potential to be applied in the field of food and health because they have quite good antioxidant activity. ABSTRAKAkhir-akhir ini, ekstrak tanaman merupakan zat tambahan alami yang sangat diperlukan. Banyak aktivitas biologi dari ekstrak tanaman dalam bidang pangan dan kesehatan. Buah naga merah (Hylocereus costaricensis) merupakan salah satu buah yang sangat diminati di Indonesia. Akan tetapi, sayang sekali bahwa kulit buahnya sering kali hanya dibuang dan belum termanfaatkan. Dalam penelitian ini, aktivitas antioksidan kulit buah naga merah dengan uji radikal DPPH telah dilakukan. Ekstrak kulit buah naga diperoleh dengan metode maserasi dengan tiga variasi pelarut yakni heksan, etil asetat dan etanol. Persen inhibisi radikal bebas dilakukan pada range konsentrasi 100 sampai 800 ppm, dengan hasil yang baling bagus dimiliki oleh ekstrak etanol dengan persen inhibisi sebesar 55,92 % pada konsentrasi 800 ppm, diikuti oleh ekstrak etil asetat sebesar 55,52 % dan ekstrak heksan sebesar 35,39 %. Karakterisasi ekstrak kulit buah naga juga dilakukan dengan spetroskopi infra merah (FTIR) pada panjang gelombang 500-4000 cm-1 untuk mengetahui gugus-gugus fungsional yang ada di dalam ekstrak kulit buah naga. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kulit buah naga berpotensi diaplikasikan dalam bidang pangan dan kesehatan karena memiliki aktivitas antioksidan yang cukup bagus.
STUDI ETNOBOTANI JENIS-JENIS TUMBUHAN BERACUN PADA SUKU DAWAN KECAMATAN FATULEU TENGAH, KABUPATEN KUPANG (Ethnobotany study of poisonous plants in Dawan Tribe Fatuleu Tengah Subdistrict, Kupang District) Arnold christian hendrik; Anriyani Ivanita Pinat; Apriliana Ballo
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2021.5.1.31-46

Abstract

AbstractPoisonous plants are plants containing a poison that can cause pain or death. The people of the Dawan Fatuleu Tengah tribe have used poisonous plants in their daily lives.  However, these types of poisonous plants have not been well documented. The purpose of the present study was to determine the types of poisonous plants and their utilization by the Dawan Fatuleu Tengah tribe. The data collection was conducted by interviewing the respondents for the use of poisonous plants. The obtained results showed that eight types of poisonous plants from six families used by the Dawan Fatuleu Tengah tribe, namely arbila nuts (Phaseolus lonatus L.), tubaroot (Deris elliptica L.), cassava (Manihot esculent), sengon (Paraserianthes faltacataria L.), ginje (Thevetia peruvianan), kecubung (Datura metel L.), ceremai (Phyllanthus acidus L.), and biduri (Calotropis gigantean L.). The Dawan Fatuleu Tengah tribe community uses these poisonous plants to poison fish in the river for consumption, as a natural pesticide, to kill insect disease vectors, and for attacking the enemy. AbstrakTumbuhan beracun merupakan tumbuhan yang mengandung racun dan dapat menyebabkan rasa sakit atau kematian. Masyarakat suku Dawan Fatuleu Tengah telah lama memanfaatkan tumbuhan beracun dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sampai saat ini jenis-jenis tumbuhan beracun tersebut belum terinventarisasi dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan beracun dan pemanfaatannya oleh suku Dawan Fatuleu Tengah. Teknik pengambilan data berupa pengambilan sampel responden dapat dilakukan dengan menghimpun keterangan melalui wawancara tentang pemanfataan tumbuhan beracun. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat 8 jenis tumbuhan beracun dari 5 famili yang dimanfaatkan suku Dawan Fatuleu Tengah yaitu kacang arbila (Phaseolus lonatus L.), akar tuba (Deris elliptica L.), ubi kayu (Manihot esculenta), sengon (Paraserianthes faltacataria L), ginje (Thevetia peruviana), kecubung (Datura metel L), ceremai (Phyllanthus acidus L), biduri (Calotropis gigantean L). Masyarakat suku Dawan Fatuleu Tengah memanfaatkan tumbuhan beracun tersebut untuk meracuni ikan di sungai untuk dikonsumsi, sebagai pestisida alami, untuk membunuh serangga vektor penyakit, dan juga untuk menyerang musuh
ANALISIS ASPEK SOSIAL EKONOMI UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN DAS MOYO, KABUPATEN SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT Nur Ainun jariyah
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2020.4.2.95-114

Abstract

DAS Moyo merupakan salah satu dari DAS prioritas dalam rangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010-2014. Permasalahan DAS Moyo yang menjadi isu pokok adalah  ketergantungan penduduk terhadap lahan yang cukup tinggi sehingga berdampak pada tingginya alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, luasnya degradasi lahan dengan luasnya  sebaran lahan kritis, pencemaran air sungai, kerusakan daerah tangkapan air dan perambahan lahan serta ketidakjelasan kewenangan dan tanggung jawab pengelolaannya. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui kinerja pengelolaan DAS di DAS Moyo berdasarkan aspek sosial ekonomi kelembagaan. Penelitian ini dilaksanakan di DAS Moyo, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Metoda yang digunakan adalah Pedoman Monev DAS P04 tahun 2009  dan Permenhut No. P.61 Tahun 2014. Hasil dari penelitian ini adalah (1) berdasarkan P 04 tahun 2009, DAS Moyo secara keseluruhan memberikan hasil sedang (skor 2,9). Aspek sosial kriteria sedang (skor 3,2), ekonomi  masuk kriteria agak baik (skor 2,5) dan kelembagaan masuk kriteria sedang (skor 2,9) yang perlu mendapat perhatian khusus adalah tekanan penduduk yang memberikan kriteria jelek (skor 5), (2) berdasarkan P 61 tahun 2014, yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Indeks Ketersediaan Lahan sangat tinggi, ini menunjukkan bahwa masih banyak tersedia lahan untuk lahan pertanian dan tingkat kesejahteraan penduduk buruk dilihat dari jumlah Kepala Keluarga miskin dan Kepala Keluarga total.
PENGARUH SUHU DAN KONSENTRASI ASAM FOSFAT (H3PO4) TERHADAP KUALITAS ARANG AKTIF CABANG BAMBU DURI (Bambusa blumeana BI. Ex. Schult. F.) (Effect of Temperature and Concentration of Phosphoric Acid (H3PO4) on the Quality of Activated Charcoal of Bambusa blumeana Branch) Turmiya Fathal Adawi; Irwan Mahakam Lesmono Aji; Dwi Sukma Rini
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2021.5.1.62-73

Abstract

AbstractBambusa blumeana BI. Ex. Schult. F. is a non-timber forest product used as building material by the people of Lombok. The utilization of bamboos leaves their branches as a waste that has not fully utilized. One way to take advantage of this waste is to use it as a raw material to make activated charcoal. The purpose of this study was to determine the effect of variations activation temperature, the concentration of phosphoric acid (H3PO4), as well as interactions between variations of the activation temperature and the concentration of phosphoric acid (H3PO4) on the quality of activated charcoal of B. blumeana branch. This study employed a factorial completely randomized design (RAL) with two (2) factors. The first factor (A) was activation temperature i.e. 600oC (A1), 700oC (A2), and 800oC (A3), meanwhile the second factor (B) used the concentration of phosphoric acid (H3PO4), namely 10% (B1) and 20% (B2). The results showed variations in the activation temperature significantly affected the yield and iodine adsorption. Based on the results, the best treatment was obtained at a temperature of 700oC with an H3PO4 concentration of 10% (A2B1) with the yield value of 76.04%, moisture content of 2.12%, volatile matter content of 32.70%, ash content of 8.15%, fixed carbon content of 59.15%, and sodium adsorption of 599.63 mg/g.AbstrakBambu duri (Bambusa blumeana BI. Ex. Schult. F.) merupakan hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan oleh masyarakat Lombok. Pemanfaatan bambu tersebut meninggalkan limbah cabang yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu pemanfaatannya adalah menjadi arang aktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi suhu aktivasi, konsentrasi asam fosfat (H3PO4), serta interaksi antara variasi suhu aktivasi dan konsentrasi asam fosfat (H3PO4) terhadap karakteristik arang aktif cabang bambu duri (B. blumeana). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor, faktor pertama (A) menggunakan suhu aktivasi yaitu 600oC (A1), 700oC (A2), dan 800oC (A3), sedangkan faktor kedua (B) menggunakan konsentrasi asam fosfat (H3PO4) yaitu 10% (B1) dan 20% (B2). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi suhu aktivasi berpengaruh nyata terhadap nilai rendemen dan daya serap iod. Berdasarkan hasil pengujian, perlakuan terbaik diperoleh pada suhu  700oC dengan konsentrasi H3PO4 10% (A2B1) yang menghasilkan nilai rendemen sebesar 76,04%; kadar air 2,12%; kadar zat terbang 32,70%; kadar abu 8,15%; kadar karbon terikat 59,15%; dan daya serap iod 599,63 mg/g.
KERAGAMAN DAN POTENSI JAMUR DI HUTAN KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH (Diversity and Potency of Macrofungi at City Forest Of Semarang, Central Java) Ivan Permana Putra; Ferry Augustinus
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2021.5.2.74-89

Abstract

AbstractMacrofungi are the organism which often overlooked in the recording effort of biodiversity in Indonesia. Until nowdays, the data on mushroom diversity in Indonesia is still limited. In fact, they have various benefits and are easily found in various ecological niches in Indonesia. However, the forest ecosystem around urban residential areas is a place that rarely records the mushroom diversity and its potential uses. This study aimed to provide preliminary information regarding some macrofungi's diversity and potential use in the urban forest, Gunungpati Subdistrict, Semarang City, Central Java. A total of ten fungi were identified and described in this study. All these fungi are part of the phylum of Basidiomycota, which is divided into six orders and nine families. They are: Auricularia cf. nigricans, Tremella cf. fuciformis, Gymnopus sp., Coprinellus sect. domestici, Macrocybe sp., Lycoperdon cf. curtisii, Ganoderma sp., Lentinus cf. sajor-caju, Mutinus cf. elegans, and Geastrum sp. Some mushrooms are known to have potential as food (Auricularia cf. nigricans, Coprinellus sect. Domestici, Macrocybe sp., Lycoperdon cf. curtisii, and Lentinus cf. sajor-caju) and medicine (Auricularia cf. nigricans, Ganoderma sp. and Tremella cf. fuciformis). This study is the first to document the diversity of fungus in the research area. It is expected to be used to disseminate mycology by a variety of interested parties.AbstrakJamur merupakan organisme yang sering terabaikan pada saat pencatatan keragaman hayati di Indonesia. Hingga saat ini, data mengenai diversitas jamur di Indonesia masih sangat rendah. Padahal, organisme ini memilki berbagai manfaat dan mudah ditemukan pada berbagai relung ekologi di Indonesia. Kawasan hutan di sekitar pemukiman perkotaan merupakan tempat yang jarang memiliki catatan keragaman dan potensi pemanfaatan jamur. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi awal mengenai keragaman jamur di di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sebanyak10 jamur berhasil diidentifikasi dan dipertelakan pada penelitian ini. Seluruh jamur tersebut merupakan bagian dari filum Basidiomycota yang terbagi ke dalam 6 ordo dan 9 famili. Jamur-jamur tersebut adalah: Auricularia cf. nigricans, Tremella cf. fuciformis, Gymnopus sp., Coprinellus sect. Domestici, Macrocybe sp., Lycoperdon cf. curtisii, Ganoderma sp., Lentinus cf. sajor-caju, Mutinus cf. elegans,dan Geastrum sp. Beberapa jamur diketahui memiliki potensi sebagai bahan pangan (Auricularia cf. nigricans, Coprinellus sect. Domestici, Macrocybe sp., Lycoperdon cf. curtisii, dan Lentinus cf. sajor-caju) dan obat (Auricularia cf. nigricans, Ganoderma sp. dan Tremella cf. fuciformis). Tulisan ini merupakan catatan pertama mengenai keragaman jamur di lokasi penelitian dan diharapkan mampu untuk dijadikan sebagai bahan diseminasi ilmu mikologi oleh berbagai pihak terkait.
PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK DAN HIDROGEL UNTUK MENDUKUNG PERTUMBUHAN MIMBA DI SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT (Hydrogel and organic fertilizer utilization to support Neem growth in Sumbawa, West Nusa Tenggara Province) Krisnawati Krisnawati; Anita Apriliani Dwi Rahayu; Ogi Setiawan
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2021.5.2.103-117

Abstract

AbstractNeem (Azadirachta indica A. Juss.) is one of alternative species for critical land rehabilitation in dry regions such as Sumbawa, West Nusa Tenggara. Low soil nutrients and water resources are the limiting factors of critical land in dry regions. Enhancement of critical land carrying capacity to support neem growth through the use of organic fertilizer and hydrogel is needed. The research aims to determine the influence of organic fertilizer and hydrogel utilization on neem growth. The study design used a randomized block design with three replications. Research treatments used in the study were organic fertilizer + hydrogel (PH), organic fertilizer (P), hydrogel (H) and control, without organic fertilizer and hydrogel (K). Utilizations of organic fertilizer and hydrogel was able to increase neem growth and survival rate. Compared to control, the diameter and height growth of neem increased up to 1,2 and 1,3 times, respectively.  Live percentage of neem as the impact of organic fertilizer and hydrogel utilization was more than 70%. Growth and live percentage enhancement were supported by improvements of soil nutrients (N, P and K), C-organic, CEC, bacterial richness and soil moisture as the impact of organic fertilizer and hydrology treatments.AbstrakMimba (Azadirachta indica A. Juss.) merupakan salah satu jenis yang dapat dikembangkan dalam rangka rehabilitasi lahan kritis di daerah kering. Lahan kritis di daerah kering pada umumnya mempunyai faktor pembatas rendahnya unsur hara dan sumberdaya air. Oleh sebab itu diperlukan upaya peningkatan daya dukung lahan untuk pertumbuhan mimba, yaitu dengan pemanfaatan pupuk organik dan hidrogel. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemanfaatan pupuk organik dan hidrogel dalam mendukung pertumbuhan mimba. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah pupuk organik+hidrogel (PH), pupuk organik (P), hidrogel (H) dan kontrol/tanpa pupuk organik dan hidrogel (K). Pemanfaatan pupuk organik atau dikombinasikan dengan hidrogel mampu meningkatkan pertumbuhan dan kemampuan hidup mimba. Pertumbuhan diameter dan tinggi mampu ditingkatkan berturut-turut sampai dengan 1,2 kali dan 1,3 kali perlakuan kontrol, sedangkan kemampuan hidup mencapai lebih dari 70%. Peningkatan pertumbuhan dan kemampuan hidup ini didukung oleh peningkatan kualitas tanah sebagai dampak pemanfaatan pupuk organik dan hidrogel yaitu berupa peningkatan unsur hara makro (N, P dan K), C-organik, KTK, mikroorganisme dan kadar lengas tanah.
KARAKTERISTIK DAN POTENSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BUKIT DATUK DALAM PENGELOLAAN HUTAN PATRA SEROJA PT. PERTAMINA RU II DUMAI PROVINSI RIAU (Characteristics and Empowerment Potential of Bukit Datuk Community in Patra Seroja Forest Management PT. Pertamina RU II Dumai, Riau Province) Denni Susanto; Heni Puji Astuti; Muhammad Ali Imron; Arizal Arizal
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2021.5.2.90-102

Abstract

AbstractThis study aimed to determine the characteristics and empowerment potential program for the Bukit Datuk community in maintaining biodiversity in the Patra Seroja forest PT. Pertamina RU II Dumai. The study used qualitative approach through literature study, field observations, and interviews. Interviews were conducted with 10 key informants and 30 respondents who were determined using purposive sampling. The results showed that the majority of the Bukit Datuk community had a high education level (32.03%) and the type of livelihood was self-employed (12.67%) as the potential supporter of empowerment. Empowerment programs for the Bukit Datuk community included strengthening community groups, the formation of community groups that have interaction with forest area, developing natural resources on private/village land, participatory mapping and conflict resolution on oil palm estate problems, and enhancing public awareness and developing supporting infrastructure for waste management around the Patra Seroja Forest.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan potensi pemberdayaan masyarakat Bukit Datuk dalam menjaga keanekaragaman hayati di Hutan Patra Seroja PT. Pertamina RU II Dumai. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara. Wawancara dilakukan terhadap 10 informan kunci dan 30 masyarakat yang ditentukan dengan menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Bukit Datuk memiliki tingkat pendidikan SLTA (32,03%) dan jenis pekerjaan wiraswasta (12,67%) sebagai potensi pendukung pemberdayaan. Program pemberdayaan masyarakat Bukit Datuk di antaranya adalah pembentukan kelompok masyarakat yang memiliki interaksi terhadap kawasan hutan, penguatan kelompok masyarakat, pengembangan sumber daya alam di lahan milik/desa, pemetaan partisipatif serta penerapan solusi jalan tengah permasalahan lahan sawit dan peningkatan kesadaran masyarakat serta pengembangan sarana prasarana pendukung pengelolaan sampah sekitar Hutan Patra Seroja.
DAYA SAING MADU KELULUT LOMBOK, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (The Competitiveness of Honey Kelulut Lombok, West Nusa Tenggara Province) yumantoko Yumantoko; Ramdiawan Ramdiawan
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpkf.2021.5.2.118-131

Abstract

AbstractKelulut honey is one of the prioritized NTFPs in West Nusa Tenggara Province regarding its economic potential for the communities. In addition, related stakeholders have provided supports such as training, incentives, forest area management, industrialization and marketing. However, these supporst do not effectively encourage many community members to pay serious attention in cultivating kelulut bees. It can be seen from the many abandoned stup (bee box) from aid and the apathy due to the doubts about the economic potential of this business. This study aims to describe the advantages of kelulut honey cultivation in Lombok from a financial perspective. The study was conducted in two districts, West Lombok and North Lombok. Primary data was collected through interviews using a questionnaire with a purposive technique. The data was analyzed using the Policy Analysis Matrix (PAM). The results showed that kelulut honey from Lombok has competitive and comparative advantages. However, government policies remain less affected by the increasing income of bee farmers. So, efforts from stakeholders are still required to intervene in the business to attract more people in cultivating kelulut bees.AbstrakMadu kelulut merupakan salah satu HHBK unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat karena memberi banyak manfaat untuk masyarakat. Para pihak telah memberi intervensi antara lain dengan pelatihan, insentif modal, penataan kawasan, industrialisasi, pemasaran, dan lain sebagainya. Namun hal itu kurang mendorong masyarakat untuk mengusahakan, terlihat dari stup (kotak lebah) bantuan banyak terbengkalai dan sikap apatis karena ragu dengan potensi ekonomi madu kelulut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keunggulan pengusahaan madu kelulut di Lombok dilihat dari sisi finansial. Penelitian dilakukan di dua kabupaten yaitu Lombok Barat dan Lombok Utara. Data primer diperoleh lewat wawancara menggunakan kuesioner dengan teknik purposive sampling. Data selanjutnya diolah menggunakan Policy Analisis Matrix (PAM). Hasilnya menunjukkan bahwa madu kelulut dari Lombok  memiliki  keunggulan  kompetitif  dan  komparatif. Namun kebijakan pemerintah belum cukup banyak memengaruhi peningkatan pendapatan petani sehingga masih diperlukan usaha dari para pihak dalam mengintervensi pengusahaan agar menarik lebih banyak lagi masyarakat dalam membudidayakan lebah kelulut.