cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
J@TI (TEKNIK INDUSTRI)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25021516     DOI : -
Core Subject : Engineering,
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri [e-ISSN 2502-1516] merupakan jurnal nasional yang mengangkat tulisan-tulisan penelitian dalam disiplin ilmu teknik industri. Pertama kali terbit sejak tahun 2006 hingga saat ini dengan frekuensi terbit tiga (3) kali dalam setahun. Setiap edisi terbitan berisi 8 artikel jurnal. Terbit setiap Januari, Mei, dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 465 Documents
ANALISIS TURN AROUND TIME (TAT) PADA PROSES POOLING KOMPONEN PESAWAT: STUDI KASUS KETERLAMBATAN PENGEMBALIAN KOMPONEN PESAWAT CRJ 1000 NEXTGEN DI PT. GAA Susanto, Novie; Azis, Damar
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 11, No. 1, Januari 2016
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.616 KB) | DOI: 10.12777/jati.11.1.21-26

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai proses kontrol turn around time (TAT) pada proses pooling komponen pesawat regional. TAT adalah batasan waktu yang diberikan oleh vendor untuk melakukan pengembalian komponen pesawat yang dipinjam atau disewa. TAT yang diberikan oleh vendor selama 10 hari. Pada kenyataannya banyak sekali keterlambatan yang terjadi dalam pengembalian komponen, keterlambatan ini akan menimbulkan charge yang berdampak pada penambahan cost yang perlu dibayarkan ke vendor. Untuk itu dilakukan analisis penyebab terlewatinya TAT dengan studi kasus pesawat CRJ 1000 NextGen. Metode yang digunakan dalam analisis adalah diagram sebab akibat (cause and effect diagram) dan metode 5 why. Berdasarkan analisis dengan menggunakan diagram sebab akibat didapat penyebab masalah TAT pengembalian yang melewati batas ditemukan 4 penyebab utama yaitu: (1) kesalahan operator dalam menangani komponen, (2) penanganan komponen di bagian import-eksport, (3) kelengkapan berkas komponen dan jarak ke OSA dan (4) Alat bantu angkut masih terbatas. Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah perbaikan manajemen pengecekan dan pemberkasan dalam sistem, menghindari penundaan pengembalian komponen ke vendor, menambah alat angkut dan penerapan alur proses komponen pooling optimal 10 atau 14 hari.   Abstract [Analysis of Turn Around Time (TAT) on the Pooling Process of Aircraft Components: A Case Study of Component Returning Delay in CRJ 1000 NextGen Aircraft in PT. GAA]. This study discusses the control process of turn around time (TAT) in the pooling process of regional aircraft components. TAT is the time limit given by the vendor to refund the aircraft components borrowed or rented. TAT provided by vendors is 10 days. In fact, there are a lot of delays in returning the items that cause a delay charge. This charge affects an additional cost that needs to be paid to the vendor. Therefore, analysis of TAT is conducted with a case study in 1000 CRJ NextGen aircraft. The method used in the analysis are the cause and effect diagram and 5 why method. Based on the analysis using causal diagram, it is obtained the four main causes of problems are: (1) The operator error in the handling of components, (2) the handling of components in the import-export, (3) the completeness of the file components and distance to OSA and (4) The tool carrier is still limited. Advice can be given based on the results of the study are improvement of checking and filling management system, avoiding delays the return of the components to the vendor, adding conveyance and application of optimal process flow pooling component within 10 or 14 days..
PEMILIHAN PEMASOK COOPER ROD MENGGUNAKAN METODE ANP (Studi Kasus : PT. Olex Cables Indonesia (OLEXINDO)) Dewayana, Triwulandari
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 3, September 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.37 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.3.189-194

Abstract

AbstrakPemilihan pemasok merupakan kegiatan strategis, terutama apabila pemasok tersebut akanmemasok item yang kritis dan/atau akan digunakan dalam jangka panjang. Banyak faktor yang perludipertimbangkan dalam pemilihan pemasok. PT. Olex Cables Indonesia (Olexindo) adalah salah satuperusahaan dari Olex Group yang merupakan bagian dari Pacific Dunlop Limited Australia,memproduksi berbagai jenis kabel copper. Terdapat kelemahan dalam pemilihan pemasok yangdilakukan oleh PT. Olexindo yaitu pengambil keputusan menilai hanya berdasarkan pada harga yangditawarkan dan kualitas yang dimiliki bahan baku secara subyektif. Oleh karena itu, kajian ini bertujuanuntuk melakukan pemilihan pemasok dengan pertimbangan yang lebih komprehensif dan obyektif sesuaidengan kebutuhan. Tahap pertama yang dilakukan agar dapat merepresentasikan keadaaan yangsebenarnya yaitu dengan mengidentifikasi kriteria, subkriteria, dan alternatif yang akan digunakan dalampemilihan pemasok. Terdapat 5 kriteria, 11 sub kriteria, dan 4 alternatif yang digunakan pada pemilihanpemasok untuk bahan baku Copper Rod. Tahap kedua, yaitu tahap menentukan metode untuk pemilihanpemasok. Berdasarkan identifikasi terdapat ketergantungan antar sub kriteria. Oleh karena itu, metodeyang tepat digunakan untuk menentukan prioritas pemasok yang akan dipilih adalah metode AnalyticNetwork Process (ANP). Dengan menggunakan metode ANP, prioritas pemasok yang dipilih untuk bahanbaku utama Copper Rod adalah PT. Tembaga Mulia Semanan dengan bobot 0.098725 sebagai prioritasutama. Diikuti oleh PT Sumi Indo Kabel dengan bobot 0.057509, prioritas ketiga adalah DaewodInternasional dengan bobot 0.041970, dan yang terakhir adalah Hyundai Corporation dengan bobot0.034577.Kata Kunci : Pemilihan pemasok, ketergantungan sub kriteria, Analytic Network Process AbstractSupplier selection is a strategic activity, especially if this supplier will provide the critical itemand/or will be used in long time period. A lot of factors need to be considered in supplier selection. PT.Olex Cables Indonesia (Olexindo) is one of companies within Olex Group which part of Pacific DunlopLimited Australia, producing many kinds of copper cable. For supplier selection, PT. Olexindo has aweakness in decision making because only using price offered and quality of raw material subjectively.Therefore, this study aims to do supplier selection more objectively with more comprehensiveconsideration. First step, in order to represent the real condition we start with identifying criteria, subcriteria, and alternatives for determining the supplier. There are 5 criteria, 11 sub criteria, and 4alternatives that will be used in supplier selection for Copper Rod raw material. The second step isdetermining the method for supplier selection. From identification, there is interdependency between subcriteria. Therefore, the right method to be used for determining supplier selection priority is AnalyticNetwork Process (ANP method). With ANP method, supplier priority choosen for main raw materialCopper Rod is PT. Tembaga Mulia Semanan having weight 0.098725 as the main priority. Secondly, PTSumi Indo Kabel having weight 0.057509. The third is Daewoo Internasional having weight 0.041970,and the last one is Hyundai Corporation having weightt 0.034577.Keywords : Supplier selection, interdependency sub criteria, Analytic Network Process
PEMODELAN STRATEGI PEMASARAN PRODUK BARANG JADI TEKSTIL BERDASARKAN PENDEKATAN SIMULASI SISTEM DINAMIK PADA INDUSTRI KECIL MENENGAH DI KOTA BOGOR Nurhasanah, Nunung; Fadlilah A, Siti Nur
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 7, No.1, Januari 2012
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.416 KB) | DOI: 10.12777/jati.7.1.27-36

Abstract

Pertumbuhan Industri Kecil Menengah (IKM) hingga saat ini terus meningkat, berdasarkan data dari Departemen Perindustrian (2004) dinyatakan jumlah IKM pada tahun 2002 adalah 2,55 juta unit usaha dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 3 juta unit usaha. Berarti telah terjadi laju pertumbuhan IKM sebesar 15% pertahun. Sehingga hal ini menunjukkan tingginya persaingan yang terjadi di antara IKM. Kemampuan IKM dalam persaingan di dunia industri tidak terlepas dari  kemampuan penerapan strategi pemasaran yang digunakan. Strategi pemasaran  merupakan salah satu kunci keberhasilan IKM dalam meningkatkan jumlah penjualan produknya. Berdasarkan data dari Departemen Perindustrian (2004) diketahui bahwa IKM produk  barang jadi tekstil memiliki laju pertumbuhan  ekspor tertinggi, yaitu sebesar 23,49% pertahun. Hal ini menunjukkan bahwa IKM  produk barang jadi tekstil merupakan suatu industri yang potensial untuk terus dijaga keberlangsungan hidupnya. Akan tetapi yang menjadi permasalahan IKM produk  barang jadi tekstil adalah lemahnya kekontinyuan keberadaan industri tersebut.  Beberapa industri yang muncul tidak mempunyai siklus hidup bisnis yang lama, salah satu faktor penyebabnya adalah ketidak mampuan IKM dalam meningkatkan  penjualan karena lemahnya strategi pemasaran. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka penelitian tentang pemodelan strategi pemasaran untuk IKM sangat penting untuk dilakukan. Penelitian  ini bertujuan untuk  menentukan kebijakan  strategi  pemasaran produk barang jadi tekstil Industri Kecil Menengah di Kota Bogor  berdasarkan  pendekatan simulasi sistem dinamik yang dibantu oleh perangkat lunak Power Simulation. Pengolahan data dilakukan dengan memetakan posisi IKM  dengan menggunakan pendekatan Matriks BCG (Boston Consulting Group) dimana posisi IKM sebagai obyek penelitian tersebut akan terpetakan kedalam posisi   Bintang (Star), Sapi Perah (Cash  Cow), Tanda tanya (Question Mark) dan Anjing  (Dogs). Sebelumnya, perusahaan IKM akan ditentukan prioritasnya sebagai perusahaan yang akan dijadikan obyek penelitian dengan menggunakan pendekatan Fuzzy Analytical Hierarchy Process (AHP) Kemudian dilakukan formulasi strategi  pemasaran yang sesuai dengan posisi industri dapat ditentukan dengan  menggunakan strategi Bauran Pemasaran  yang dikembangkan oleh Phillip Kotler. Setelah ditetapkan masing-masing formulasi strategi bauran pemasarannya, maka langkah selanjutnya adalah memodelkan strategi pemasarannya dengan menggunakan simulasi sistem dinamis yang dikembangkan oleh Forrester, dan beberapa referensi yang diambil dari business dynamic oleh John  F. Sterman, dan membuat beberapa alternatif kebijakan strategi pemasaran. Kemudian pemilihan kebijakan strategi pemasaran terbaik, dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kata kunci : IKM, produk jadi tekstil, fuzzy AHP, strategi  pemasaran, scenario kebijakan, simulasi   Abstract   Growth of Small and Medium Industries (SMI) to this day continues to increase, according to data from the Ministry of Industry (2004) stated the number of SMEs in 2002 was 2.55 million units in 2003 and increased to 3 million units. Means there has been growth of SMEs by 15% per year. So this shows the high competition occurring among SMEs. The ability of SMEs in the competition in the industry is inseparable from the applicability of the marketing strategies used. The marketing strategy is one key to the success of SMEs in increasing product sales. Based on data from the Ministry of Industry (2004) note that SMEs finished textile products have the highest export growth rate, that is equal to 23.49% per year. This indicates that the SME textile products finished goods was an industry with the potential to be maintained survival. However, the problems of SME textile products finished goods is weak kekontinyuan existence of the industry. Some industries do not appear to have a long business life cycle, one factor is the inability of SMEs to increase sales because of poor marketing strategies. Based on the above, the research on modeling the marketing strategy for SMEs is very important to do. This study aimed to determine the policy of the marketing strategy finished textile products Small and Medium Industries in Bogor based approach to dynamic system simulation, aided by Power Simulation software. Data processing is done by mapping the position of SMEs by using a Matrix BCG (Boston Consulting Group) in which the position of SMEs as an object of study will be mapped into the position of Stars (Star), Dairy Cattle (Cash Cow), question marks (Question Mark) and Dog (Dogs ). Previously, the company will set priorities SME as a company that will be the object of research by using a Fuzzy Analytical Hierarchy Process (AHP) is then performed formulation of marketing strategies according to industry positions can be determined by using the marketing mix strategy developed by Phillip Kotler. Once set each marketing mix strategy formulation, the next step is to model its marketing strategy by using the dynamic simulation system developed by Forrester, and several references were taken from the business dynamic by John F. Sterman, and make some policy alternatives marketing strategies. Then the selection policies of the best marketing strategies, with the established criteria. Keywords: SMEs, finished textile products, fuzzy AHP, marketing strategy, policy scenario, the simulation
ANALISIS IDENTIFIKASI MASALAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) DAN RISK PRIORITY NUMBER (RPN) PADA SUB ASSEMBLY LINE (Studi Kasus : PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia) Budi Puspitasari, Nia; Padma Arianie, Ganesstri; Adi Wicaksono, Purnawan
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 12, No. 2, Mei 2017
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (812.551 KB) | DOI: 10.14710/jati.12.2.77-84

Abstract

Tingkat kegagalan (defect) merupakan suatu permasalahan yang selalui diupayakan untuk diminimasi oleh suatu perusahaan guna meningkatkan kualitas dari produk yang dihasilkan, begitu pula yang dilakukan oleh Toyota Motor Manufacturing Indonesia (PT. TMMIN) yang berkonsisten dalam menghasilkan produk berkualitas. Mengetahui bahwa pada Tahun 2016 terdapat defect GAP sebesar 50 ppm, maka perusahaan perlu melakukan identifikasi terhadap  kegagalan yang terjadi di perusahaan. FMEA merupakan salah satu metode yang secara terperinci melakukan identifikasi dan analisis terhadap moda kegagalan hingga dapat diketahui penyebab dan dampak dari tiap kegagalan yang ada, sehingga didapatkan usulan perbaikan yang tepat. Studi kasus menggunaan FMEA pada PT. TMMIN menunjukkan adanya berbagai moda kegagalan pada assembly-line hingga diketahui alternatif perbaikan untuk setiap kegagalan yang menjadi prioritas perbaikan. Kegagalan yang menjadi prioritas tersebut dapat terlihat dalam bentuk Risk Priority Number (RPN). Berdasarkan RPN yang dihasilkan, didapatkan kegagalan prioritas untuk assemblyiline pada PT. TMMIN adalah adanya kesalahan pemasangan part, kegagalan akibat adanya benda asing pada part, dan kegagalan pada kesalahan perakitan piston.  AbstractThe failure rate is a problem that has always attempted to be minimized by a company in order to improve the quality of products, and also were conducted by oleh Toyota Motor Manufacturing Indonesia (PT. TMMIN) which is consistent in producting a quality product.  Knowing that in 2016 there is a defect GAP at 50 ppm, PT. TMMIN needs to identify the failures that occur in their company. FMEA is a method to identify and analyze the failure modes in detail that can able to know the cause and impact of each failures, so we get the proper repairment. FMEA that is used in PT. TMMIN case study indicate various modes of failure in assembly-line, then known the alternatives to repair for any prioritize failures. The priorities failures can be seen in the Risk Priority Number (RPN). Based on the RPN resulting, we can obtain the priority failures in  assembly-line of PT. TMMIN that are about the part installation errors, failures due to foreign objects in the part, and the failure of the piston assembly errors.
ANALISA MODA DAN EFEK KEGAGALAN (FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS / FMEA) PADA PRODUK KURSI LIPAT CHITOSE YAMATO HAA Nurkertamanda, Denny; Wulandari, Fauziyati Tri
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 1, Januari 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.127 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.1.49-64

Abstract

Chitose Indonesia Manufacturing merupakan perusahaan yang memproduksi dan menjual furniture dari logam dengan kerjasama negara Jepang. Berdasarkan data penjualan Chitose Indonesia Manufacturing pada tahun 2003, kursi lipat Chitose Yamato merupakan jenis kursi lipat yang memiliki angka penjualan sebesar 59% dari keseluruhan jenis produk yang diproduksi. Kursi lipat Chitose Yamato HAA merupakan salah satu sarana untuk duduk yang dilengkapi dengan sandaran sesuai dengan bentuk punggung manusia dan dapat dilipat untuk memudahkan penyimpanannya. Selain itu juga rangka kakinya yang berbentuk H sehingga dapat digunakan pada permukaan yang datar atau bergelombang. Material yang digunakan pada rangka kursi lipat Chitose Yamato HAA adalah berupa elemen struktur rangka yang bersifat isotropik, yakni memiliki keseragaman sifat dan bahan suatu elemen (regangan, tegangan, mekanis, dsb). Pada analisa moda kegagalan dilakukan identifikasi moda kegagalan yang potensial, keparahan yang ditimbulkan, dan frekuensi kejadian moda kegagalan. Dengan menggunakan analisa moda kegagalan, maka diharapkan kualitas produk akan meningkat dan dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. RPN adalah indikator kekritisan untuk menentukan tindakan koreksi yang sesuai dengan moda kegagalan. RPN digunakan oleh banyak prosedur FMEA untuk menaksir resiko menggunakan tiga kriteria yaitu Keparahan efek (Severity) S, Kejadian penyebab (Occurrence) O, Deteksi penyebab (Detection) D. Angka prioritas RPN merupakan hasil kali rating keparahan, kejadian, dan deteksi. Angka ini hanyalah menunjukkan rangking atau urutan defisiensi desain sistem. Kata kunci : Moda Kegagalan, Efek Kegagalan, Penyebab Kegagalan, Deteksi, Kejadian, Keparahan, RPN (Risk Priority Number).     Chitose Manufacturing Indonesia is a company that produce and sells furniture made from alloy in cooperation with Japan. Based on Sales data by Chitose Indonesia Manufacturing in 2003, Chitose Yamato foldable chair has a sales number up tp 59% from all of the products manufactured. CHitose Yamato HAA foldable chair is one of the tools to sit down included with a back seat according to the vertebra of the human body and its is foldable to simplify its storage.  Furthermore, the H form of its feet structure allows it to be used in flat or hilly surface. The material used on the structure of Chitose Yamato HAA foldable chair is isotropic structure element, which has similar characteristic and material (stress,strain, mechanic, etc.) On Failure Mode Analysis we identify potensial failure modes, severity that occurs, and the frequency of failure mode. With the failure mode analysis, the goal is to increase product quality and can be used according to its function. RPN is the critical indicator to determine the correction actions according to Failure modes. RPN is used in many FMEA procedures to approximate risks using three criterias that consists o:LSeverity(S), Occurrence(O), Detection(D). RPN priority number is the multiplying results from severity rating, occurrence, and detection. This number only shows ranks or sequence of the system design deficiency. Keywords: Failure mode, Failure effects, Failure causes, Detection, Severity, RPN (Risk Priority Number)
PERBAIKAN SISTEM PRODUKSI MINYAK ANGIN AROMATHERAPY MELALUI LEAN MANUFACTURING DI PT. US, JAWA BARAT Purnama, Rudy Indra; Ikatrinasari, Zulfa Fitri
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 8, No.2, Mei 2013
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.691 KB) | DOI: 10.12777/jati.8.2.99-106

Abstract

Industri farmasi sedang menghadapi persaingan yang meningkat, tekanan biaya dan kebutuhan untuk meningkatkan kinerja operasi manufakturnya. Lean manufacuring menawarkan metode, alat dan program heuristik untuk peningkatan produktivitas di bidang manufaktur. PT. US di Jawa Barat dapat meningkatkan kinerja perusahaannya melalui Lean manufacuring. Penelitian ini bertujuan meningkatkan produktivitas dengan mengidentifikasi dan menyeimbangkan proses kerja dan  meneliti penyebab lamanya cycle time melalui value stream mapping. Penelitian ini menghasilkan penurunan cycle time dari 538,96 detik menjadi 445,68 detik, penurunan personel 14 orang, penurunan biaya operasional man power Rp.18,2 juta per bulan, dan menurunkan lead time dari 14,5 hari menjadi 11,5 hari. Kata kunci: lean manufacturing, keseimbangan lini, peningkatan kapasitas, tact time, value stream mapping Abstract The pharmaceutical industry is facing increased competition, cost pressures and the need to improve the performance of its manufacturing operations. Lean manufacturing offer methods, tools and heuristic program for increasing productivity in manufacturing. PT. US in West Java, Indonesia can improve company performance with implementing Lean manufacturing. This study aims to improve productivity by identifying and balancing work and researching the causes of long cycle time with value stream mapping. This research resulted in a decrease cycle time of 538.96 seconds to 445.68 seconds, a decrease of 14 personnel, operating expenses decreased man power Rp.18, 2 million per month, and reduce the lead time of 14.5 days to 11.5 days . Key words: lean manufacturing, line balancing, capacity building, tact time,  value stream mapping
PERENCANAAN MITIGASI RISIKO AKTIVITAS PENGADAAN BAHAN BAKU PADA CV. DINASTI SEMARANG Sari, Diana Puspita; Zahra, Lutfia; Pratiwi, Icha Putri; Renaldi, Stellya V.; Rinawati, Dyah Ika; Wicaksono, Purnawan Adi
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Vol 13, No 3 (2018): September 2018
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.791 KB) | DOI: 10.14710/jati.13.3.177-186

Abstract

CV. Dinasti merupakan sebuah industri menengah yang bergerak dalam bidang pengolahan bandeng.  Saat ini CV. Dinasti memproduksi kurang lebih 120 kg/ hari. Proses produksi yang diterapkan dalam CV. Dinasti menggunakan sistem make to order. Penelitian ini difokuskan pada supply chain bahan baku ikan bandeng CV. Dinasti. Permasalahan yang dihadapi oleh CV. Dinasti adalah fluktuasi permintaan dari pelanggan yang tidak pasti dan CV. Dinasti  tidak ingin memiliki persediaan bahan baku ikan bandeng yang berlebih. Tujuan penelitian ini yang adalah dengan menggunakan konsep manajemen risiko dan House of Risk (HOR), risiko yang berpotensi mengganggu dalam rantai pasok dapat diidentifikasi serta merancang aksi mitigasi risiko untuk meminimalisir kerugian. Berdasarkan hasil analisis HOR fase 1, diperoleh 2 agen risiko yang menjadi prioritas penanggulangan karena memiliki nilai indeks prioritas resiko/Aggregate Risk Potential (ARP) terbesar yaitu 420 dan 360 dan berdasarkan prinsip Pareto menyumbangkan persentase kumulatif mencapai 20,09%, yaitu agen risiko tidak adanya kontrak yang terbentuk dengan pemasok dan faktor musiman. Aksi mitigasi yang direkomendasikan untuk menanggulangi agen – agen risiko prioritas adalah perancanaan pembuatan prosedur dalam aktivitas pengadaan bahan baku, mencari karakteristik pemasok yang berbeda, evaluasi kinerja pemasok dan diferensiasi spesifikasi produk.
ANALISIS KUALITAS PELAYANAN DENGAN MENGGUNAKAN INTEGRASI IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS (IPA) DAN MODEL KANO (Studi Kasus di PT. Perusahaan Air Minum Lyonnaise Jaya Jakarta) Puspitasari, Nia Budi; Suliantoro, Hery; Kusumawardhani, Laila
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 5, No.3, September 2010
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.429 KB) | DOI: 10.12777/jati.5.3.185-198

Abstract

Dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari, air merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena seiring dengan pertambahan penduduk maka kebutuhan air tidak dapat dipungkiri akan semakin meningkat. Maka dalam menyikapi hal tersebut PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) hadir di Jakarta untuk meningkatkan penyediaan dan pelayanan air bersih. Dari 306 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ada di Indonesia, hanya 10 % yang dalam keadaan sehat. Dengan melihat kondisi tersebut maka Palyja perlu untuk mengarah pada inovasi-inovasi. Di dalam penelitian ini dilakukan studi kualitas layanan dengan integrasi Importance Performance Analysis (IPA) dan Model Kano. Pendekatan ini bertujuan untuk membantu Palyja dalam mengevaluasi kepuasan pelanggan mereka, bukan hanya untuk mengidentifikasi apakah harapan konsumen telah terpenuhi atau belum tetapi juga mengidentifikasi atribut-atribut layanan yang fungsional dan disfungsional. Sehingga dari integrasi tersebut dapat diketahui atribut layanan apa yang perlu mendapat prioritas untuk ditingkatkan. Selanjutnya dari model ini, dapat diidentifikasi rekomendasi perbaikan yang dapat dilakukan Palyja. Dari hasil integrasi tersebut dapat diketahui bahwa atribut yang perlu mendapat prioritas untuk ditingkatkan adalah penerapan fasilitas air Palyja yang dapat langsung diminum oleh konsumen. Tentunya dengan memperhatikan kualitas air yang bersih dan aman untuk diminum. Kata Kunci : Kualitas Pelayanan, Importance Performance Analysis (IPA), Model Kano, Palyja    In order to meet daily needs, water is important to note because along with the increase of population, the water demand will inevitably increase. So in addressing these PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) present in Jakarta to improve the provision and water services. Of the 306 Regional Water Company (PDAM) that exist in Indonesia, only 10% are in good health. By looking at current economic conditions, Palyja need to lead to innovations. Within this study, quality of service with the integration ofImportance Performance Analysis (IPA) and the Kano Model. This approach aims to help Palyja in evaluating their customers' satisfaction, not only to identify whether consumer expectations are met or not, but also identify the service attributes, functional and dysfunctional. So, from the integration of service attributes can know what needs to be given priority for improvement. Furthermore, from this model, can be identified recommendations for improvements that can be done Palyja. From the results of such integration can be seen that the attributes that should be given priority to improved water facilities Palyja is the application that can be drunk directly by consumers. Of course, with due regard to the quality of clean and safe water to drink. Keywords: Quality of Service, Importance Performance Analysis (IPA), Kano Model, Palyja
FAKTOR-FAKTOR PERILAKU PRO-LINGKUNGAN DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN IMPLEMENTASI CAMPUS SUSTAINABILITY Rachmawati, Asri; Handayani, Naniek Utami
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 9, No.3, September 2014
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.241 KB) | DOI: 10.12777/jati.9.3.151-156

Abstract

Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam melindungi lingkungan di masa depan. Untuk mengembangkan Program keberlanjutan kampus memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor penentu yang mempengaruhi perilaku pro-lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik perilaku pro-lingkungan. Penelitian menggunakan analisis faktor ini untuk mengurangi faktor penentu dan dilakukan survei untuk pengumpulan data. Alat survei menggunakan theory of planned behaviour (TPB) di seluruh kuesioner yang telah dibagikan kepada 400 mahasiswa. Hasil penelitian ini menyimpulkan perilaku pro-lingkungan dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, persepsi kendali perilaku, persepsi konsekuensi, faktor-faktor situasional, dan niat perilaku.   Kata Kunci : analisis faktor, campus sustainability, perilaku pro-lingkungan Abstract Universitieshave an important role in protecting the environment in the future. To develop campus sustainability programrequire an understanding about the determinant factors that influence pro-environmental behaviours. The purpose of this paper is identify characteristic pro-environmental behaviours. This study use factor analysis to reduce factor determinant and survei to collect the data. The survey tool used the theory of planned behaviour (TPB) throughout the questionnaire which had shared to 400 college students.Result of this study conclude pro-environmental behaviours is influenced by attitudes, subjective norms, perceived control, perceived consequences, and situational factors, behaviour intention.   Keyword: pro-environmental behaviours; campus sustainability; factor analysis
LINE BALANCING LINI PERAKITAN PRODUK TORCH LIGHT (STUDI KASUS PT ARISAMANDIRI PRATAMA) Purwaningsih, Ratna; Hazairin, Prima
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 1, No.2, Mei 2006
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.698 KB) | DOI: 10.12777/jati.1.2.29-42

Abstract

Line balancing yang baik akan meningkatkan efisiensi proses produksi. Pada lini perakitan produk torch light (lampu senter) tipe FL-R20NU2A PT. Arisamandiri Pratama waktu idle karena waktu proses di stasiun kerja yang belum seimbang kadang menyebabkan line stop. Dari perhitungan diketahui bahwa aktual output tiap shift adalah 4259 unit, sehingga diperoleh  waktu siklus sebesar 5,55 detik dan angka tersebut belum sesuai tac time yang diharapkan perusahaan untuk memenuhi permintaan terhadap produk..Untuk itu perlu dilakukan penyeimbangan lini dengan menata kembali pembagian elemen kerja pada tiap stasiun agar diperoleh assembly line performance ALP yang baik. Dari Line balancing yang dilakukan terjadi reduksi dari 26 stasiun kerja menjadi 19 stasiun, meski tetap ada4 stasiun tambahan sebagai duplikasi sel karena waktu stasiun yang jauh diatas tac time. Hasil perbandingan Assembly Line Performance actual dengan Assembly Line Performance standar didapatkan peningkatan efisiensi, dari 72,52% menjadi 81,98% dan penurunan ratio loss rate dari 27,48% menjadi 18,02%.

Filter by Year

2006 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 1 (2026): Januari 2026 Vol 20, No 3 (2025): September 2025 Vol 20, No 2 (2025): Mei 2025 Vol 20, No 1 (2025): Januari 2025 Vol 19, No 3 (2024): September 2024 Vol 19, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 19, No 1 (2024): Januari 2024 Vol 19, No 2 (2024): Article In-Press Vol 18, No 3 (2023): September 2023 Vol 18, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 18, No 1 (2023): Januari 2023 Vol 17, No 3 (2022): September 2022 Vol 17, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 17, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 16, No 4 (2021): Edisi Khusus ACISE 2021 Vol 16, No 3 (2021): September 2021 Vol 16, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 16, No 1 (2021): Januari 2021 Vol 15, No 3 (2020): September 2020 Vol 15, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 15, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 14, No 3 (2019): September 2019 Vol 14, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 14, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 13, No 3 (2018): September 2018 Volume 13, No. 2, Mei 2018 Volume 13, No. 1, Januari 2018 Volume 12, No. 3, September 2017 Volume 12, No. 2, Mei 2017 Volume 12, No. 1, Januari 2017 Volume 11, No. 3, September 2016 Volume 11, No. 2, Mei 2016 Volume 11, No. 1, Januari 2016 Volume 10, No. 3, September 2015 Volume 10, No. 2, Mei 2015 Volume 10, No. 1, Januari 2015 Volume 9, No.3, September 2014 Volume 9, No.2, Mei 2014 Volume 9, No.1, Januari 2014 Volume 8, No.3, September 2013 Volume 8, No.2, Mei 2013 Volume 8, No.1, Januari 2013 Volume 7, No.3, September 2012 Volume 7, No.2, Mei 2012 Volume 7, No.1, Januari 2012 Volume 6, No.3, September 2011 Volume 6, No.2, Mei 2011 Volume 6, No.1, Januari 2011 Volume 5, No.3, September 2010 Volume 5, No.2, Mei 2010 Volume 5, No.1, Januari 2010 Volume 4, No. 3, September 2009 Volume 4, No. 2, Mei 2009 Volume 4, No. 1, Januari 2009 Volume 3, No.3, September 2008 Volume 3, No.2, Tahun 2008 Volume 3, No.1, Januari 2008 Volume 2, No.2, Mei 2007 Volume 2, No.1, Januari 2007 Volume 1, No.3, September 2006 Volume 1, No.2, Mei 2006 Volume 1, No.1, Januari 2006 More Issue