cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
VERBA KEKUASAAN SBY DALAM SURAT KABAR BERBAHASA INDONESIA M. Abdul Khak
Kandai Vol 11, No 1 (2015): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.439 KB) | DOI: 10.26499/jk.v11i1.215

Abstract

Dalam kehidupan modern saat ini media massa telah menjadi corong atau alat kekuasaan. Bahkan, media massa sendiri juga menjadi bagian dari penguasa itu. Media massa telah menjadi perekam kekuasaan individu atau kelompok dan pada saat yang bersamaan telah menjadi bagian dari kekuasan itu. Dalam konteks di Indonesia pada 2009--2014, kekuasaan yang banyak direkam oleh media massa adalah kekuasaan seorang SBY, baik sebagai presiden maupun sebagai ketua umum partai politik. Masalah yang dibahas dalam tulisan ini adalah apa saja jenis verba yang menggambarkan kekuasaan SBY. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan jenis-jenis verba yang menunjukkan kekuasaan SBY. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua jenis verba yang digunakan SBY, yaitu verba tindak tutur dan verba nontindak tutur. Dalam kaitannya dengan kekuasaan, kedua jenis verba itu dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu (1) verba konfliktif, (2) verba kompetitif, (3) verba kolaboratif, dan (4) verba konvival.
TUKUL ARWANA DALAM BUKAN EMPAT MATA: ANALISIS ALIH KODE CAMPUR KODE Vita Nirmala
Kandai Vol 9, No 2 (2013): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.646 KB) | DOI: 10.26499/jk.v9i2.298

Abstract

Artikel ini mendiskusikan alih kode dan campur kode yang terjadi dalam acara Bukan Empat Mata yang dipandu oleh Tukul Arwana. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif. Teknik tersebut difokuskan pada; (1) alih kode dan campur kode  yang dilakukan oleh Tukul Arwana, (2) penyebab terjadinya alih kode dan campur kode tersebut. Hasil analisis data menunjukkan bahwa campur kode yang dilakukan oleh Tukul Arwana adalah dalam bentuk kata dan frasa. Sementara itu, alih kode dilakukan dalam bentuk kalimat. Alih kode dan campur kode dilakukan dalam bahasa Jawa dan Inggris. Alasan terjadinya alih kode dan campur kode ini adalah untuk menciptakan humor dan situasi santai.
KONFLIK KEJIWAAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KORUPSI KARYA TAHAR BEN JELLEOUN (Psychological Conflict of The Main Character in Tahar Ben Jelleoun’s Novel, Korupsi) nfn rahmawati
Kandai Vol 13, No 1 (2017): Kandai
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v13i1.93

Abstract

This study aims to describe main characters and psychological conflict experienced by the characters in “Korupsi” novel. The method used is qualitative descriptive method. Two issues are: (1) how the character of the character in “Korupsi” novel and (2) what psychological conflict  experienced by the main character will be studied by combining a structural approach and psychological literature. The structural approach is used to understand the characterization aspect as one of the novel structures that discusses character and main figure’s character. The psychological literature is employed to understand psychological conflict and psychological problems experienced by the main characters.  he results show that the main characters are easily tempted, inconsistent, impatient for having all his needs fulfilled. These characters makes him trapped in corruption case. The bribery money makes him in corruption trap in his office causes inevitable psychological conflicts. The main character decision to get involved in corruption case is inseparable from influence and pressure from family and his friends in his office. The action to neglect principle, integrity, and honesty that have been retained for many years causes him trapped in psychological conflicts. Psychological conflicts experienced by the main characters lead to psychological problem in the main characters, such as guilt, shame, negative hallucinations, nightmares, and desire to suicide.
KEDUDUKAN DAN FUNGSI SATUAN LINGUAL /Q/, /N/, /ÈN/, /ÈNG/, DAN /S/ DALAM BAHASA SAMAWA DIALEK TONGO SUBDIALEK LEBANGKAR NFN Kasman
Kandai Vol 12, No 2 (2016): Kandai
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.586 KB) | DOI: 10.26499/jk.v12i2.83

Abstract

Bahasa Samawa varian Lebangkar termasuk salah satu varian subdialek dari dialek Tongo.  Di antara sekian dialek dalam bahasa Samawa belum dijumpai satu dialek pun yang memiliki sufiks/akhiran dalam  pembentukan kata. Bertolak dari fenomena tersebut, peneliti mencoba melakukan pengamatan terhadap Subdialek Lebangkar. Dari pengamatan yang peneliti lakukan, peneliti menyadari bahwa subdialek tersebut ternyata memiliki sufiks/akhiran. Satuan lingual yang berkedudukan sebagai sufiks dalam subdialek ini dicurigai pula memiliki kedudukan lain sehingga peneliti merasa tertarik mengadakan pengkajian lebih jauh terhadap kedudukan dan fungsi beberapa satuan lingual yang dicurigai sebagai akhiran yang dimaksud. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sufiks yang ada dalam bahasa Samawa Subdialek Lebangkar dan kedukan lain yang diemban oleh satuan lingual yang diklasifikasi  sebagai sufiks tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode cakap dengan teknik cakap semuka. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik sisip dan teknik ganti. Hasil analisis data menunjukkan bahwa sufiks dalam bahasa Samawa Subdialek Lebangkar terdiri atas dua macam, yakni {-q} dan {-n}. Pada sisi lain satuan lingual /n/ yang memiliki dua varian berupa /n dan en/ berkedudukan sebagai kata ganti milik yang berbentuk enklitik. Di samping itu, satuan lingual /s/ berkedudukan sebagai kata ganti milik.
CERITA RAKYAT MAS MERAH:KAJIAN RESEPSI SASTRA NFN Sahril
Kandai Vol 14, No 1 (2018): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.218 KB) | DOI: 10.26499/jk.v14i1.570

Abstract

Fokus penelitian yaitu cerita rakyat “Mas Merah” ini adalah ingin mengetahui bagaimana pandangan dan persepsi masyarakat terhadap cerita rakyat tersebut. Melalui teori resepsi sastradengan metode deskriptif kualitatif. Resepsi sastra adalah kajian teks yang bertitik-tolak pada pembaca sebagai pemberi reaksi atau komentar terhadap teks sastra itu.Pembaca yang memberi makna merupakan variabel ruang, waktu, dan kelompok sosial budaya.Hal itu berarti setiap karya sastra tidak sama pembacaan, pemahaman, dan penilaiannya sepanjang waktu atau dalam semua kelompok masyarakat tertentu. Ada 14 informan yang dimintai tanggapan terhadap cerita rakyat “Mas Merah” yang dibagi dalam tiga pengelompokan usia, yang terdiri atas kelompok golongan usia muda, golongan usia menengah, dan golongan usia tua. Berdasarkan tanggapan dan persepsi informan diperoleh temuan bahwa cerita rakyat “Mas Merah” dapat dijadikan monumen dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai dokumen sosio-budaya karena mengandung kearifan lokal. 
CITRA DIRI LAISA DALAM NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA NFN Mulawati
Kandai Vol 9, No 1 (2013): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.965 KB) | DOI: 10.26499/jk.v9i1.285

Abstract

Novel “Bidadari-Bidadari Surga” karya Tere Liye berkisah tentang sebuah keluarga sederhana yang hidup di sebuah lembah bernama Lembah Lahambay. Penulis memfokuskan ceritanya pada salah satu tokoh bernama Laisa. Laisa adalah seorang gadis yang memiliki keterbatasan fisik akibat kecelakaan pada masa kecilnya. Tulisan ini membahas citra diri Laisa dengan menggunakan pendekatan karakterisasi, sebuah pendekatan yang memfokuskan proses telaah watak pada tiga aspek, yaitu tingkah laku, ekspresi wajah, dan motivasi. Dari telaah yang dilakukan, diketahui bahwa penulis novel menggambarkan tokoh Laisa sebagai manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tokoh ini selalu bersedia berkorban demi adik-adiknya, tetapi juga mendidik mereka dengan pukulan dan ekspresi wajah tidak bersahabat.
RESISTENSI DAN MODEL KESETARAAN GENDER DALAM NOVEL PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN KARYA ABIDAL EL KHALIEQ NFN Wildan
Kandai Vol 10, No 2 (2014): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.439 KB) | DOI: 10.26499/jk.v10i2.324

Abstract

Penelitian ini mengangkat masalah resistensi dan model kesetaraan gender dalam novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidal El-Khalieq dengan tujuan mendeskripsikan model diskriminasi dan mengungkapkan model kesetaran gender yang dicita-citakan.. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, yaitu metode yang secara keseluruhan memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan bentuk penyajian dan analisis data yang dilakukan secara deskriptif. Dengan perspektif kritik sastra feminis diperoleh simpulan, bahwa resistensi dan model resistensi perempuan dalam novel Perempuan Berkalung Sorban merupakan peristiwa diskriminasi gender yang bangun dari tiga ranah. Pertama, ranah lingkungan pesantren, rumah, dan perkawinan. Ranah tersebut dikonstruksi dalam tahapan perkembangan usia, yaitu,  ketika Nisa, Wildan dan Risal masih berusia anak-anak, kedua, remaja, dan ketiga ketika dewasa. Pemanfaatan usia sebagai media ekspresi estetik, digunakan untuk mengungkap bahwa pesantren sebagai simbol agama dan tempat pemandaian akal, hanya dijadikan alat untuk berlindung, bagi pemerolehan legalitas diksriminasi dan kemapanan diskriminasi budaya patriarkat terhadap perempuan. Pemerolehan kesetaraan gender yang diidealkan,  akhirnya terjadi pada perkawinan kedua Nisa dengan Lek Khodori.  Pada konteks tersebut perempuan (Nisa) sudah menempatkan dirinya pada posisi memiliki hak yang sama dalam berbagai aktivitas kehidupan, baik dalam berpendapat dan menentukan sikap
Daftar Abstrak Bahasa Indonesia J M
Kandai Vol 13, No 1 (2017): Kandai
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.834 KB) | DOI: 10.26499/jk.v13i1.715

Abstract

PERBANDINGAN KARAKTERISASI NOVEL DAN FILM DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH Naila Nilofar
Kandai Vol 11, No 2 (2015): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.779 KB) | DOI: 10.26499/jk.v11i2.229

Abstract

Novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” karya Hamka merupakan novel yang sangat populer. Kepopuleran novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” menyebabkan banyaknya apresiasi terhadap novel tersebut. Salah satu bentuk apresiasi terhadap novel tersebut adalah alih wahana dari novel ke film. Namun demikian, perubahan media penyampaian cerita dari novel menjadi film mengakibatkan adanya perubahan cerita. Sehingga penulis tertarik untuk menganalisis hal tersebut dengan cara membandingkan novel dan film “Di Bawah Lindungan Ka’bah” melalui karakterisasinya dengan menggunakan pendekatan kelisanan dan keberaksaraan Walter J. Ong. Metode penelitian tersebut adalah metode pustaka, menyimak, dan mencatat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan dalam karakterisasi novel dan film “Di Bawah Lindungan Ka’bah”. Persamaannya terdapat pada nama-nama tokoh ceritanya, sedangkan perbedaannya terdapat dalam penggambaran watak tokoh cerita. Perbedaan tersebut disebabkan media yang digunakan untuk menyampaikan cerita memiliki ciri-ciri yang berbeda sehingga berpengaruh terhadap cerita yang disampaikannya.
NILAI EDUKASI DALAM FABELSENTANI NFN Sri Yono
Kandai Vol 10, No 1 (2014): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.525 KB) | DOI: 10.26499/jk.v10i1.315

Abstract

Keragaman fabel yang terdapat pada suku Sentani dapat dijadikan sebagai sarana membangun karakter anak. Sebagai bagian dari sastra lisan yang dianggap penting oleh masyarakat pendukungnya, nilai-nilai edukasi apa saja yang terdapat dalam fabel Sentani. Permasalahan yang menjadi fokus penelitian ini adalah nilai edukasi yang terdapat di dalam fabel Sentani. Dengan pendekatan deskriptif objektif, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai edukasi yang terdapat dalam fabel Sentani. Dari hasil analisis diketahui bahwa terdapat beberapa karakter universal yang dapat diambil dari fabel Sentani, di antaranya cinta terhadap Tuhan dan cinta makhluk ciptaanNya, kerja keras, kejujuran, dan rendah hati.

Page 3 of 26 | Total Record : 255