cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
RESISTENSI KULTURAL PEREMPUAN DALAM NOVEL HIKAYAT PUTI LIMAU MANIH: SINGA BETINA RIMBO HULU (Women Cultural Resistance In The Novel Hikayat Puti Limau Manih: Singa Betina Rimbo Hulu) Syahril, Muhamad; Rahayu, Mundi
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.5835

Abstract

Women resistance has become an important issue because the oppressive and hierarchical patriarchal culture has harmed women’s rights. This study aims to discuss women's cultural resistance represented in a literary work. This study uses a literary criticism approach to reach the goal by applying Naomi Wolf's feminist theory and James C. Scott's resistance theory. The data source for this research is a novel written by a female writer, Aprilia Wahyuni, entitled "Hikayat Puti Limau Manih: Singa Betina Rimbo Hulu." The research results show that the female character in this novel, namely Puti and her friends, is carrying out resistance against patriarchal culture. The resistance is classified into open and closed resistance. An example of open resistance can be seen in Puti's attitude in negotiating her rights as a woman, fighting for their rights to choose partners, teaching women, and against sexual harassment, as well as resisting against the colonial Japan. Closed resistance, for example, was shown by Puti’s resistance to bow, a symbol of respect, to Japanese army. Resistensi perempuan merupakan isu penting dalam riset karena budaya patriarki yang menindas dan hirarkis telah banyak merugikan dan merampas hak perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas resistensi kultural perempuan yang dinarasikan dalam novel. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan kritik sastra dengan menerapkan teori feminisme Naomi Wolf dan teori resistensi James C. Scott. Sumber data penelitian ini adalah novel yang ditulis oleh penulis perempuan, Aprilia Wahyuni, yang berjudul “Hikayat Puti Limau Manih: Singa Betina Rimbo Hulu.” Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan dalam novel ini, yaitu Puti bersama teman-temannya melakukan resistensi terhadap budaya yang patriarki. Resistensi tersebut diklasifikasikan menjadi resistensi terbuka dan tertutup. Resistensi terbuka misalnya, dapat dilihat pada sikap Puti yang menegosiasikan hak sebagai perempuan, memperjuangkan haknya dalam memilih pasangan, mengajar para perempuan, dan melawan pelecehan seksual, serta perlawanan yang dilakukan oleh perempuan bersama para pemuda terhadap penjajah Jepang. Resistensi tertutup misalnya, ditunjukkan oleh sikap Puti yang menolak untuk menunduk memberi penghormatan terhadap tentara Jepang.
NARASI SEJARAH KAUM EKSIL 1965 DALAM NOVEL PULANG (2012) KARYA LEILA S. CHUDORI: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA (Narrative History of Exiled 1965 in Pulang (2012) by Leila S. Chudori: A Study of Literature Sosiology) Susanto, Dwi
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.5145

Abstract

The novel Pulang (2012) by Leila S. Chudori presents the narrative of the victims of the 1965 tragedy. The historical facts presented the mentality of the author who presents the struggles of the exiles as a result of the 1965 tragedy. This paper aims to trace the historical narrative of the victims of the 1965 tragedy, as exiles. political. This paper used a sociological point of view, as expressed by Georg Lukacs. The object of this research is the text Pulang (2012) by Leila S. Chudori and the historical narrative in the text. The kind of data used by researcher are subjective historical narratives, the background of the spirit of the times, and descriptions of historical events. Data interpretation is carried out to find historical authenticity, historical fidelity, and local color. The results obtained are as follows (1) historical narrative from the psychological and traumatic side of the victims of the 1965 tragedy who did not receive justice, (2) historical events in the form of the spirit of the times that accompanied the change of power in Indonesia, and (3) efforts to defend and demand justice for the victims of the 1965 tragedy who were removed and not written in Indonesian conventional history. Novel Pulang (2012) karya Leila S. Chudori ini menampilkan narasi korban tragedi 1965. Fakta sejarah yang ditampilkan merupakan gagasan mentalitas dari pengarang yang menghadirkan perjuangan kaum eksil akibat tragedi 1965. Tulisan ini bertujuan untuk melacak narasi historis para korban tragedi 1965, sebagai kaum eksil politik. Tulisan ini menggunakan sudut pandang sosiologis, seperti ynag diungkapkan oleh Geogry Lukacs. Objek penelitian ini adalah teks Pulang (2012) karya Leila S. Chudori dan narasi sejarah dalam teks tersebut. Data penelitian adalah narasi historis subjektif, latar semangat zaman, dan pendeskripsian peristiwa sejarah. Interpretasi data dilakukan untuk menemukan keaslian sejarah, kesetiaan sejarah, dan warna lokal. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut (1) narasi sejarah dari sisi psikologis dan traumatis para korban tragedi 1965 yang tidak memperoleh keadilan, (2) peristiwa sejarah yang berupa semangat zaman yang menyertai perubahan kekuasaan di Indonesia, dan (3) upaya pembelaan dan menuntut keadilan bagi korban tragedi 1965 yang disingkirkan dan tidak ditulis dalam sejarah konvensional Indonesia.
REPRESENTASI JEJAK HISTORIS RELASI RUSIA DAN HINDIA BELANDA DALAM SYAIR TAN TENG KIE (Historical Traces of Relations between Russia and the Dutch East Indies in Tan Teng Kie’s poetry) Sushina, Polina; Liliani, Else
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.6797

Abstract

This research aims to explain the historical events, background and facts of relations between Russia and the Dutch East Indies which are described in Tan Teng Kie's poetry Sair dari hal datengnja poetra makoeta Keradjaan Roes di Betawi, dan pegihnja and in Esper Ukhtomsky's diary entitled Eastern journey of His Imperial Majesty Tsarevich in 1890—1891. Researcher analyzed the poetry using the New Historicism approach. This research is an interpretive qualitative research with a parallel reading approach. The results of the research show that the poetry by Tan Teng Kie is generally consistent with Ukhtomsky's diary in telling the story of the arrival of the Russian crown prince to the Dutch East Indies in 1891. In the poetry the places that the Russian crown prince visited were (1) Batavia, (2) Bogor, (3) Garut, (4) Bekasi. The main aim of visiting was traveling and increasing knowledge. In the Dutch East Indies, the Russian crown prince and his entourage met with people from the Dutch East Indies government and army, such as the Governor General, generals, Dutch Indies ministers, and other nobles. In the poetry text, there are many short descriptions with general details that the poet witnessed. On the other hand, Ukhtomsky explains the historical events, background and facts supporting relations between Russia and the Dutch East Indies in more detail in his book entitled Eastern journey of His Imperial Majesty Tsarevich in 1890-1891.Penelitian ini bertujuan menjelaskan peristiwa sejarah, latar belakang, dan fakta pendukung relasi Rusia dan Hindia Belanda yang digambarkan dalam Sair dari hal datengnja poetra makoeta Keradjaan Roes di Betawi, dan pegihnja karya Tan Teng Kie dan dalam buku catatan harian Esper Ukhtomsky yang berjudul Eastern journey of His Imperial Majesty Tsarevich in 1890—1891. Untuk mencapai tujuan itu, peneliti menganalisis syair tersebut dengan menggunakan pendekatan New Historicism. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif interpretif dengan pendekatan pembacaan paralel antara teks syair dan teks nonsastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syair karya Tan Teng Kie itu secara umum berpadanan dengan buku catatan harian Ukhtomsky dalam menceritakan peristiwa kedatangan putra mahkota Rusia ke Hindia Belanda pada tahun 1891. Dalam syair digambarkan peristiwa sejarah kedatangan putra mahkota Rusia ke beberapa tempat di Hindia Belanda, seperti (1) Batavia, (2) Bogor, (3) Garut, (4) Bekasi dengan tujuan utama berwisata dan menambah pengetahuan. Saat berada di Hindia Belanda, putra mahkota Rusia dan rombongannya bertemu dengan orang-orang dari pemerintah dan tentara Hindia Belanda, seperti Gubernur Jenderal, para jenderal, para menteri Hindia Belanda, dan bangsawan lain. Dalam teks syair, ditampilkan banyak deskripsi singkat dengan detail umum yang penyair saksikan. Sebaliknya, Ukhtomsky menjelaskan peristiwa sejarah, latar belakang, dan fakta pendukung relasi Rusia dan Hindia Belanda secara lebih rinci dalam bukunya yang berjudul Eastern journey of His Imperial Majesty Tsarevich in 1890—1891.
MASKULINITAS PEREMPUAN DI BAWAH BAYANG-BAYANG FEMININ DALAM CERITA RAKYAT I MARABINTANG (Women Masculinity of the Feminine Shadow in the I Marabintang Folklore) Putri, Rahmin Meilani; Ikomah, Rinda Widya
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.5921

Abstract

Female Masculinity under the Shadow of Femininity in the Folktale of I Marabintang. The problem in this study is how is the nature of female masculinity under the shadow of femininity in the folklore of I Marabintang? This research aims to describe the masculinity of women in the folklore of I Marabintang. This research is a qualitative research with descriptive analysis method. The approach used in this research is a feminist approach using the concept of masculine and feminine theory. The data in this research is the folklore of I Marabintang which was booked by the Center for Language Development and Development of the Ministry of Education and Culture Jakarta in 1999. The result of this research is that the forms of masculinity in women are illustrated physically, psychologically, behaviorally, and in action. The conclusion of this research is that masculinity and femininity in women can be said to always go hand in hand. Masculine women are always overshadowed by the feminine side, and feminine women can also bring out the masculine side dominantly because of a demand. This condition makes the three female characters in the folklore I Marabintang as androgynous. Maskulinitas Perempuan di Bawah Bayang-Bayang Feminin dalam Cerita rakyat I Marabintang. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana sifat maskulinitas perempuan yang berada di bawah bayang-bayang feminitas dalam cerita rakyat I Marabintang? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan maskulinitas perempuan dalam cerita rakyat I Marabintang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan feminisme menggunakan konsep teori maskulin dan feminin. Data dalam penelitian ini adalah cerita rakyat I Marabintang yang dibukukan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta pada tahun 1999. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa bentuk-bentuk maskulinitas pada perempuan diilustrasikan secara fisik, psikis, prilaku, dan tindakan. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa maskulinitas dan feminitas pada perempuan dapat dikatakan selalu beriringan. Perempuan maskulin selalu dibayangi sisi feminin dan perempuan feminin dapat memunculkan sisi maskulin pula secara dominan karena adanya sebuah tuntutan. Kondisi tersebut menjadikan ketiga tokoh perempuan dalam cerita rakyat I Marabintang sebagai androgini.
INDONESIAN LITERATURE’S DEPICTIONS OF PANDEMICS: FROM THE CLASSIC TO THE CONTEMPORARY (Gambaran Pandemi dalam Sastra Indonesia: Klasik dan Kontemporer) Rauf, Ramis; Rachman, Azhariah; Sapan, Yulius Tandi; Ulya, Afriani
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.5340

Abstract

Dunia saat ini sedang menghadapi epidemi besar-besaran. Wabah ini dikenal dengan COVID-19. COVID-19 telah berdampak signifikan pada semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. COVID-19, tidak seperti pandemi lainnya, disebabkan oleh virus SARS-Cov-2, yang membatasi semua aktivitas masyarakat. Segalanya dilakukan dari rumah. Makalah ini berfokus pada isu pandemik yang dinarasikan dalam karya sastra mulai dari masa lampau hingga masa kini (kontemporer). Oleh karena itu, permasalahan dalam makalah ini dirumuskan ke dalam bentuk pertanyaan: “Bagaimana pandemi digambarkan dalam sastra Indonesia klasik dan sastra Indonesia kontemporer? Kajian ini menggunakan pendekatan kritik sastra M.H. Abrams “The Mirror and the Lamps”. Kritik sastra Abrams mengejawantahkan tiga fungsi karya sastra: sastra sebagai cermin, sastra sebagai lampu, dan sastra sebagai medium. Hasil temuan menunjukkan bahwa pandemi telah menjadi subjek karya sastra Indonesia, baik zaman klasik maupun zaman kontemporer. The world is currently facing a massive epidemic. This outbreak is known as COVID-19. COVID-19 has had a significant impact on all aspects of people’s lives, including education, health and the economy. COVID-19, unlike other pandemics, is caused by the SARS-Cov-2 virus, which limits all community activities. Everything is done from home. This paper focuses on pandemic issues that are narrated in literary works from the past to the present. Therefore, the problem in this paper is formulated in the form of a question: “How is the pandemic described in classical Indonesian literature and contemporary Indonesian literature? This study uses the literary criticism approach of M.H. Abrams “The Mirror and the Lamps”. Abrams’ literary criticism manifests three functions of literature: literature as a mirror, literature as a lamp, and literature as a medium. The findings show that the pandemic has become the subject of Indonesian literary works, both in classical and contemporary times.