cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Medika Muda
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 75 Documents
HUBUNGAN PERILAKU CARING PERAWAT DENGAN KEYAKINAN DAN HARAPAN PASIEN KANKER DI RUMAH SAKIT Madya Sulisno; Rida Pratika Sari
Media Medika Muda Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.641 KB)

Abstract

Latar belakang: Penderita penyakit kronis seperti kanker dapat mengalami berbagai masalah biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang dapat menurunkan keyakinan dan harapan sehingga pasien perlu mendapat dukungan sosial. Selama pasien menjalani perawatan di rumah sakit, maka dukungan sosial dapat diberikan oleh perawat dengan mengaplikasikan perilaku caring. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku caring perawat dengan keyakinan dan harapan pasien.Metode: Metode yang digunakan adalah desain deksriptif korelatif dengan metode cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 39 responden.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 64,1% responden mempersepsikan perilaku caring perawat baik, 51,3% responden mempunyai keyakinan baik, dan 61,5% responden mempunyai harapan baik. Hasil uji statistik Chi-Square dengan nilai alpha 0,005 diperoleh p-value : 0,034 untuk hubungan perilaku caring perawat dengan keyakinan dan p-value : 0,013 untuk hubungan perilaku caring perawat dengan harapan.Simpulan: Disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara perilaku caring perawat dengan keyakinan dan harapan pasien.Kata kunci: Perilaku caring, Keyakinan, Harapan
HUBUNGAN FERITIN DAN JUMLAH LEUKOSIT DENGAN KADAR TSH PADA PASIEN TALASEMIA DENGAN TRANSFUSI Veronica Prawira; Meita Hendrianingtyas
Media Medika Muda Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.027 KB)

Abstract

Latar belakang: Talasemia merupakan penyakit genetik dimana terjadi kelainan pembentukan rantai globin. Penderita talasemia dapat terjadi gangguan sistem endokrin, salah satunya disfungsi tiroid. Prevalensi dan derajat keparahan pada disfungsi tiroid ini belum banyak diteliti. Kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH) menggambarkan keadaan hipotalamus–hipofisis–tiroid dan digunakan untuk menentukan fungsi tiroid. Pasien talasemia dengan transfusi terjadi inflamasi. Feritin, salah satu parameter cadangan besi juga merupakan protein fase akut yang meningkat pada keadaan inflamasi. Kadar feritin pada penderita talasemia menunjukkan inflamasi dan jumlah cadangan besi pada penderita tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan feritin dan jumlah leukosit sebagai petanda inflamasi dengan kadar TSH pada pasien talasemia dengan transfusi.Metode: Penelitian belah lintang terhadap 40 pasien talasemia dengan transfusi rutin di PMI Kota Semarang selama periode Juni–Juli2016. Uji normalitas data menggunakan Shapiro–Wilk dan analisa hubungan menggunakan uji Spearman. Pemeriksaan leukosit dengan menggunakan metode flow cytometri pada alat hematologi analyzer, sedangkan untuk pemeriksaan kadar TSH dan kadar Feritin menggunakan metode Enzyme–linked immunosorbent assay (ELISA).Hasil: Analisis korelasi terdapat hubungan positif lemah bermakna antara jumlah leukosit dengan kadar TSH (r=0,326; p=0,004) dan tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar feritin dengan kadar TSH (r=0,084; p=0,605)Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara jumlah leukosit dengan kadar TSH dan tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar feritin dengan kadar TSH. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh pada disfungsi tiroid dan diperlukan pemeriksaan tambahan untuk fungsi tiroid lain, yaitu free thyroxine (FT4). Pemeriksaan ulang fungsi tiroid dalam jangka waktu tertentu diperlukan pada nilai TSH dengan batas atas tinggi dari nilai normal.
PERBEDAAN RESPON NYERI PADA PASIEN YANG DILAKUKAN PUNKSI SUMSUM TULANG DENGAN PREMEDIKASI MIDAZOLAM DAN TANPA PREMEDIKASI Ariosta Ariosta; Imam Budiwiyono; Herniah Asti Wulanjani
Media Medika Muda Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.411 KB)

Abstract

Latar belakang: Tindakan punksi sumsum tulang (PST/bone marrow puncture/BMP) memerlukan indikasi dalam menunjang diagnosis penyakit. Prosedur punksi sumsum tulang sering menggunakan premedikasi midazolam dalam mencegah sebagian nyeri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa perbedaan respon nyeri pada pasien BMP dengan premedikasi midazolam dan tanpa premedikasi.Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dengan consecutive sampling pada 26 pasien yang membutuhkan tindakan punksi sumsum tulang. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Kariadi dan RS Telogorejo Semarang. Observasi dilakukan dengan membandingkan kelompok PST dengan premedikasi dan tanpa premedikasi midazolam. Intensitas nyeri diukur dengan Wong Baker faces pain (WBFP); respon nyeri diukur dengan mean arterial pressure (MAP), laju nadi, kadar kortisol dan kadar glukosa. Uji beda menggunakan independent t test untuk laju nadi dan kadar kortisol; dan Mann Whitney test untuk MAP dan kadar glukosa.Hasil: Terdapat perbedaan bermakna MAP (p=0,002) dan kadar kortisol (p=0,035) antara kelompok premedikasi dan tanpa premedikasi midazolam. Tidak terdapat perbedaan bermakna WBFP (p=0,468) dan laju nadi (p=0,719) antara kelompok premedikasi dan tanpa premedikasi midazolam.Simpulan: Premedikasi midazolam dalam tindakan PST dapat menurunkan respon nyeri ditandai dengan penurunan MAP kadar kortisol. Kata Kunci : respon nyeri, punksi sumsum tulang, premedikasi midazolam
KORELASI ANTARA KADAR VITAMIN A DAN IL–12 SERUM PADA ANAK DENGAN MALARIA ASIMTOMATIK DI DAERAH ENDEMIS MALARIA Nakhwa Arkhaesi
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.521 KB)

Abstract

Latar belakang: Vitamin A memiliki peran sentral dalam kekebalan tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan adanya interaksi antara kadar vitamin A dengan malaria. IL-12 merupakan sitokin yang dapat menginduksi respon imun. IL-12 dapat  menghambat dan efek sitotoksik terhadap parasit intrasel termasuk malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar Vitamin A dan IL-12 serum pada anak dengan malaria asimtomatih di daerah endemis malaria.Metode: Penelitian belah lintang dilakukan di 2 desa dengan HCI malaria tertinggi di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Subyek penelitian adalah 77 anak usia 6–14 tahun yang dipilih secara acak. Anak dengan demam (>37,2°C) dan ada gejala malaria tidak digunakan sebagai sebyek penelitian. Diagnosis malaria dilakukan dengan Rapid diagnostic test (RDT), preparat hapus darah tepi tipis dan tebal. Kadar vitamin A dan IL-12 diukur dari sampel darah vena dengan metode ELISA.Hasil: Pemeriksaan RDT menunjukkan 5 anak negative, 70 anak terinfeksi P, falciparum dan 2 anak dengan P. vivax. Kadar vitamin A serum 28,97 ± 8,009 μg/L dan kadar IL-12 serum 3,36 ± 3,327 pg/mL. Uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi positif yang bermakna antara kadar vitamin dan IL-12 serum ((r=0,32;p=0,005).Simpulan: Kadar vitamin A berkorelasi dengan IL-12 serum pada anak dengan malaria asimtomatik di daerah endemis malaria Kata kunci: malaria asimtomatik, vitamin A, IL-12.
GAMBARAN RADIOLOGI NECROTIZING ENTEROCOLITIS DENGAN FOTO POLOS ABDOMEN PADA ASFIKSIA NEONATORUM DENGAN BERBAGAI USIA KEHAMILAN Yurida Binta Meutia; Eddy Sudijanto1; Muhammad Sholeh Kosim
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.214 KB)

Abstract

Latar belakang: Asfiksia neonatorum akan menyebabkan hipoksia dan iskemia yang dapat mengakibatkan kelainan gastrointestinal berupa Necrotizing enterocolitis (NEC) atau enterokolitis nekrotikans (EKN) yang merupakan manifestasi yang paling sering  dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Meskipun lebih sering terjadi pada bayi prematur, akan tetapi juga didapatkan pada bayi aterm dan prematur lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan usia kehamilan dengan NEC pada asfiksia berdasarkan pemeriksaan foto polos abdomenMetode: Desain penelitian ini adalah cross sectional retrospektip. Penelitian di RSUP Dr. Kariadi. Data diambil dari Catatan medis dan dokumentasi gambar radiologi. Subjek adalah neonatus aterm dan prematur yang memenuhi kriteria inklusi yang dirawat pada periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2012. Diteliti tentang gambaran klinis dan radiologis. Diagnosis gambaran radiologik ditentukan berdasarkan kesepakatan dua observer (dengan KAPPA test hasil nya: 93,80%).Usia gestasi dan gejala klinis berdasarkan yang tertulis di dalam catatan medis. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis deskriptip dan X2 test.Hasil: Subjek 78 neonatus terdiri aterm : 39 (50%), prematur : 39(50%).Gambaran radiologis yang menggambarkan adanya NEC pada ke dua kelompok ternyata tidak berbeda secara bermakna (p >0,05), kecuali gambaran pneumotosis intestinalis (p=0,016). Gambaran radiologi berturut turut paling banyak adalah meteorismus, normal, pneumatosis intestinalis dan pneumoperitonium. Gambaran klinis tidak berhubungan dengan gambaran radiologi pada ke dua kelompok (p>0,05)  Simpulan: Bayi aterm dan prematur yang mengalami asfiksia mepunyai gambaran radiologis NEC yang sama berdasarkan pemeriksaan radiologis  foto polos abdomen. Tidak terdapat hubungan bermakna antara hubungan gambaran klinis dan gambaran radiologiNEC
HUBUNGAN MASA SIMPAN PACKED RED CELL DENGAN KEJADIAN FEBRILE NON HAEMOLYTIC TRANSFUSION REACTION (FNHTRs) Alamsyah Alamsyah; Dian Widyaningrum; Edward KSL
Media Medika Muda Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.678 KB)

Abstract

Latar belakang: Salah satu komponen sel darah yang sering digunakan untuk transfusi adalah Packed Red Cell (PRC). Pemberian transfusi komponen darah dapat disertai dengan reaksi transfusi baik reaksi transfusi cepat atau lambat. Reaksi transfusi sebagian besar (55%) berupa demam atau reaksi panas non hemolitik atau febrile non haemolytic transfusion reaction (FNHTRs). Penyebab dari kejadian tersebut dikaitkan dengan adanya allogenic leucocytes dan pelepasan sitokin proinflamasi seperti IL-1, IL-6, IL-8, TNFα, Cell-free DNA (cfDNA), histone serta dipengaruhi oleh lama masa simpan darah.Metode: Studi cross-sectional, pasien yang mendapat transfusi PRC di Bank Darah Rumah Sakit dr. Kariadi Semarang, selama 1 januari 2015 hingga 30 Agustus 2017. Analisis hubungan menggunakan uji Chi-quare.Hasil: Sejumlah 90 pasien yang mendapat transfusi PRC diikutkan dalam penelitian. Reaksi transfusi terjadi pada usia ≥ 45 tahun sebanyak 30 pasien (51,7%), jenis kelamin perempuan 37 pasien (63,8%), durasi transfusi 60-120 menit 41 pasien (70,7%) dan volume transfusi >50 cc47 pasien (81%). Analisa hubungan menunjukkan hubungan yang signifikan antara masa simpan PRC > 14 hari dengan kejadian reaksi transfusi (p=< 0,001) dan dengan kejadian demam (p=<0,001). Reaksi lainnya masa simpan > 14 hari 11 pasien (34,4%) dan masa simpan < 14 hari 21 pasien (65,6%).Simpulan: Terdapat hubungan yang positif antara masa simpan darah lebih dari 14 hari dengan kejadian reaksi transfusi febril non hemolitik.
HUBUNGAN KADAR THYROID STIMULATING HORMONE DENGAN PARAMETER ERITROSIT Emi Setianingsih; Meita Hendrianingtyas; Dwi Retnoningrum
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.706 KB)

Abstract

Latar belakang: Anemia merupakan manifestasi klinis yang sering dijumpai pada pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dengan hemodialisis. Penyebab utama anemia pada PGK adalah defisiensi dari eritropoetin (EPO) yang diproduksi di ginjal. Penurunan kadar EPO menyebabkan gangguan eritropoiesis, sehingga produksi eritrosit menurun. Kondisi kronis pada PGK sering dihubungkan dengan penyakit komorbid pada beberapa organ, diantaranya disfungsi tiroid. Disfungsi hormon tiroid juga dapat mempengaruhi parameter eritrosit yang meliputi MCV, MCH, MCHC, dan RDW. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan TSH dan parameter eritrosit pada penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis.Metode: Penelitian belah lintang pada 30 pasien PGK dengan hemodialisis di RSUP Dr. Kariadi Semarang selama Agustus – September 2017. Pemeriksaan Parameter eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC dan RDW) dengan hematology analyzer. TSH diperiksa dengan metoda ELISA. Uji analisis dengan Korelasi Spearman.Hasil: Terdapat peningkatan kadar TSH pada 6 (20%) pasien PGK dengan hemodialisis. Tidak terdapat hubungan antara TSH dengan MCV (p=0,927), MCH (p=0,958), MCHC (p=0,990) dan RDW (p=0,645). Variasi pada penelitian ini mungkin disebabkan oleh terapi, diet pasien sebelum pemeriksaan.Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara TSH dengan parameter Eritrosit dan RDW pada penelitian ini. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan diet dan terapi pasien.
HUBUNGAN ANTARA NEUTROPHIL/LYMPHOCYTE RATIO (NLR) DANHIGH DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) PADA SINDROM KORONER AKUT Dwi Retnoningrum; Nyoman Suci Widyastiti; Ardhea Jaludamascena
Media Medika Muda Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.555 KB)

Abstract

Latar belakang: Sindrom koroner akut (SKA) merupakan 80 % penyebab kematian akibat penyakit jantung. SKA disebabkan penurunan aliran darah ke jantung sehingga terjadi iskemik dari miokard. Neutrophil/lymphocyte ratio (NLR) merupakan pemeriksaan laboratorium yang akhir-akhir ini terbukti sebagai petanda untuk inflamasi sistemik. High density lipoprotein (HDL) merupakan lipoprotein yang berfungsi sebagai anti aterogenik dan  kardio proteksi. Studi sebelumnya menunjukkan terdapat hubungan NLR dengan keparahan SKA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubunganNLR dan HDL pada sindrom koroner akut.Metode: Penelitian belah lintang pada penderita sindrom koroner akut di RS Dr. Kariadi Semarang periode Januari-Desember 2014. NLR diperoleh dengan membagi jumlah netrofil dengan jumlah limfosit. Kadar HDL serum ditetapkan dengan alat kimia klinik otomatik. Analisis statistik dengan Spearman Rank Correlation Test.Hasil: Lima puluh enam pasien dengan sindrom koroner akut (41 laki-laki dan15 perempuan) dengan usia antara 32-83 tahun. Nilai tengah NLR 3,55 (1,1-17,6) dan HDL 34 (16-71) mg/dL. Analisisstatistikmenunjukkanterdapathubungan yang bermaknaantaraNLR dan HDL (p = 0,001;  r =-0,44).Simpulan: Terdapat hubungan negatif sedang yang bermakna antara NLR dan HDL pada sindrom koroner akut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai NLR perlu diperhatikan pada pasien dengan HDL yang rendah. Kata kunci: Sindrom koroner akut, NLR, HDL
KORELASI ANTARA KADAR TNF-α PLASMA DENGAN NILAI KETEBALAN INTIMA MEDIA (KIM) ARTERI KAROTIS PADA PASIEN LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) Hesti Triwahyu Hutami; Rahmayanti Hellmi; Bantar Suntoko; Suyanto Hadi; Charles Limantoro
Media Medika Muda Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.452 KB)

Abstract

Latar belakang: Komplikasi dan mortalitas jangka panjang Lupus Eritematosus Sistemik (LES) berkaitan dengan penyakit vaskular dan aterosklerosis. Aterosklerosis secara klinis didahului dengan perubahan dinding arteri, yang disebut sebagai ketebalan intima media (KIM) dan pembentukan plak. KIM dapat diukur dengan menggunakan B-mode ultrasonography arteri karotis. Aterosklerosis merupakan prosen inflamasi yang dipengaruhi oleh sitokin inflamasi diantaranya TNF-α. Peran TNF-α cukup penting dalam penyakit LES, sehingga perlu dicari korelasi antara kadar TNF-α plasma dengan KIM arteri karotis pasien LES. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya korelasi antara kadar TNF-α plasma dengan KIM arteri karotis pasien LES di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Subyek penelitian sebesar 32 orang, terdiri dari perempuan usia ≥18 tahun.Uji statistik dengan menggunakan uji beda t-test tidak berpasangan dan uji korelasi Rank Spearman. Selanjutnya ditentukan cut-of point kadar TNF-α plasma terhadap nilai KIM arteri karotis pasien LES.Hasil: Dari semua subyek penelitian, didapatkan 20 orang (62,50%) mempunyai nilai KIM tebal. Tidak terdapat perbedaan kadar TNF- α plasma pada subjek pasien LES dengan nilai KIM tebal dan tidak tebal (p=0,405, 95%CI -2,34 s.d. .5,64). Tidak didapatkan korelasi bermakna antara kadar TNF-α plasma dengan nilai KIM arteri karotis pasien LES (p=0,075 ; r = -0,319). Subjek dengan kadar TNF-α plasma tinggi, didapatkan nilai KIM yang tebal sebanding dengan subjek dengan kadar TNF-α yang tidak tinggi (31,25% vs 31,25%). Tidak didapatkan nilai cut-of point kadar TNF-α plasma terhadap nilai KIM arteri karotis pasien LES.Simpulan: Tidak terdapat perbedaan kadar TNF-α plasma pada subjek pasien LES dengan nilai KIM tebal dan tidak tebal Tidak didapatkan korelasi bermakna antara kadar TNF-α plasma dengan KIM arteri karotis pasien LES. Tidak didapatkan nilai cut-of point kadar TNF-α plasma terhadap nilai KIM arteri karotis pasien LES.
HUBUNGAN ANTARA JUMLAH CD4 DAN KADAR HEMOGLOBIN PASIEN HIV Benyamin Massang; Edward KSL; Purwanto AP
Media Medika Muda Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.222 KB)

Abstract

Latar belakang: Molekul CD4 merupakan penanda utama limfosit T helper. Pemeriksaan kadar CD4 rutin dilakukan pada pasien HIV untuk evaluasi perkembangan penyakit. HIV menurunkan jumlah CD4 menyebabkan penurunan kadar hemoglobin melalui aktivasi gen pro–apoptosis (karena penurunan jumlah CD4 dan peningkatan jumlah monosit) dan pemberian anti retroviral (zidovudin).Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross–sectional. Hasil pemeriksaan laboratorium pasien HIV di poli HIV dan rawat inap RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Juni–September 2017 dicatat. Kriteria eksklusi yaitu riwayat transfusi, perdarahan, keganasan, defisiensi (Fe, asam folat dan B12), penyakit metabolik dan autoimun. Kriteria inklusi yaitu pasien positif HIV usia 18 sampai 60 tahun. Dilakukan telaah dokumen rekam medis responden sebanyak 34 pasien yang belum mendapat terapi ARV, 34 pasien yang sudah mendapat terapi ARV. Pemeriksaan CD4 menggunakan BD FACS Count (metode flowcytometry), kadar hemoglobin menggunakan Sapphire (metode fotometry). Analisis data menggunakan uji Spearman. Signifikansi dicapai jika p<0,05.Hasil: Analisis menunjukkan hubungan lemah positif signifikan antara jumlah CD4 dan kadar hemoglobin pada pasien HIV yang belum mendapat terapi ARV (r= 0,349; p = 0,043), yang sudah mendapat terapi ARV menunjukkan hubungan sedang positif signifikan (r = 0,452; p = 0,007). Keseluruhan kelompok menunjukkan hubungan sedang positif signifikan (r = 0,581; p = <0,001).Simpulan: Terdapat hubungan sedang positif signifikan antara jumlah CD4 dan kadar Hb pada pasien HIV.