cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
METANA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2021): Desember 2021" : 7 Documents clear
Analisis Pertumbuhan Tanaman Cabai Keriting dalam Polybag menggunakan Pupuk Fermentasi Urin Sapi Juhariah, Jujuk; Aulia, Margaretha Praba
METANA Vol 17, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/metana.v17i2.42565

Abstract

Tahun 2020 merupakan tahun yang cukup sulit bagi masyarakat Indonesia. Adanya virus corona jenis baru memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi adalah dengan adanya kebijakan lockdown  yang menyebabkan sulitnya distribusi bahan pangan. Oleh sebab itu edukasi masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan secara organik dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada disekitar pekarangan rumah perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon tanaman cabai keriting dengan menggunakan pupuk fermentasi urin sapi. Penelitian dilakukan dengan cara memberikan perlakuan variasi pemupukan dengan mencampur urin sapi dan EM4 (perlakuan A); urin sapi, EM4, dan batang pohon pisang (perlakuan B); urin sapi, EM4, dan sabut kelapa (perlakuan C); dan urin sapi, EM4, dan akar kacang tanah (perlakuan D). Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan bobot biomassa kering tanaman.  Perlakuan penambahan sabut kelapa pada fermentasi urin sapi memberikan pengaruh yang nyata pada parameter tinggi tanaman. Sedangkan penambahan akar kacang tanah pada fermentasi pupuk urin sapi meningkatkan bobot biomassa kering tanaman secara signifikan. Penambahan batang pohon pisang pada fermentasi urin sapi secara nyata memberikan pengaruh terhadap diameter batang tanaman cabai keriting. Akan tetapi, jumlah daun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dari semua jenis pemupukan. The year 2020 is quite a difficult year for the people of Indonesia. The existence of a new coronavirus type forces people to adapt to new habits. One of the biggest problems faced is the lockdown policy which makes it difficult for food distribution. Therefore, it is necessary to educate the public to utilize the yard organically by optimizing the existing resources around the yard of the house. This study aimed to determine the response of curly chili plants using cow urine fermentation fertilizer. The research was conducted by giving various fertilization treatments by mixing cow urine and EM4 (treatment A); cow urine, EM4, and banana tree trunks (treatment B); cow urine, EM4, and coconut husk (treatment C); and cow urine, EM4, and groundnut root (treatment D). Parameters observed in this study were plant height, number of leaves, stem diameter, and dry biomass weight of the plant. The addition of coconut fiber in cow urine fermentation has a significant effect on plant height parameters. Meanwhile, the addition of groundnut roots to fermented cow urine fertilizer increased the dry biomass weight of the plant significantly. The addition of banana tree trunks to cow urine fermentation significantly affected the stem diameter of curly chili plants. However, the number of leaves did not show a significant difference between all types of fertilization.
Jenis dan Teknik Pengemasan Terhadap Kualitas Bakso Aci dengan Penyimpanan Suhu Dingin Silvia, Deli; Dewi, Adinda Prila; Zulkarnain, Zulkarnain
METANA Vol 17, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/metana.v17i2.40677

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh jenis material kemasan vakum dan non-vakum terhadap kualitas kadar air, dan organoleptik bakso aci pada penyimpanan suhu dingin. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kemasan bakso aci dengan penggunaan plastik Polietilen (PE) dan plastik nilon yang dikemas melalui teknik pengemasan vakum dan non-vakum pada penyimpanan suhu dingin. Serta untuk mendapatkan jenis kemasan yang tepat dalam penggunaannya terhadap kualitas bakso aci. Pengujian yang dilakukan meliputi uji kadar air dan uji organoleptik. Metode analisa statistik yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan tidak terjadi kesalahan yang signifikan. Penelitian yang dilakukan menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 2 kali pengulangan. Pengolahan data yang dilakukan dengan software SPSS (Statistical Product and Service Solutions) menggunakan metode ANOVA ( Analysis of Variance) dan uji lanjut Duncan untuk Uji kadar air dan menggunakan Kruskall Walls dan uji lanjut dengan Mann- Whitney untuk uji organoleptik terhadap kenampakan, aroma dan tekstur. Pengujian organoleptik mengikuti standar SNI untuk Bakso dengan 10 orang panelis tak terlatih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa kadar air terendah yaitu dengan penggunaan kemasan  polietilen (PE) teknik pengemasan Vakum dengan nilai 2,35. Hasil untuk pengujian Organoleptik, yang dapat disimpulkan dari segi kenampakan, aroma dan tekstur perlakuan yang terbaik adalah dengan penggunaan jenis kemasan polietilen, dengan teknik pengemasan vakum dan jenis kemasan nilon dengan teknik pengemasan vakum yang mampu meyimpan dengan baik hingga hari ke-8. Research has been carried out on the effect of vacuum and non-vacuum packaging materials on the quality of water content and organoleptic properties of tapioca meatballs in cold storage. The purpose of this study was to determine the effect of meatball tapioca packaging with the use of polyethylene (PE) plastic and Nilon plastic packaged through vacuum and non-vacuum packaging in cold storage. As well as to get the right type of packaging in its use on the quality of tapioca meatballs. The tests carried out included water content tests and organoleptic tests. The statistical analysis method used was a completely randomized design (CRD) to get better results and there were no significant errors. The study was conducted using RAL with 4 treatments and 2 treatments. Data processing was carried out using SPSS (Statistical Product and Service Solutions) software using the ANOVA (Analysis of Variance) method and Duncan's further test for moisture content testing and using Kruskall Walls and further testing with Mann-Whitney for organoleptic tests on appearance, aroma and texture. The organoleptic followed the SNI standard for Meatballs with 10 panelists not being tested. Based on the research conducted, it was found that the lowest water content was the use of polyethylene (PE) packaging with a vacuum packaging technique with a value of 2.35. The results for organoleptic testing, which can be guaranteed in terms of appearance, smell and treatment are the best by using polyethylene packaging, with packaging techniques and Nilon packaging types with vacuum packaging techniques which are able to store well until the 8th day. 
Pembuatan Karbon Aktif dari Limbah Plastik PET (Polyethylene terephthalate) Menggunakan Aktivator KOH Oko, Syarifuddin; Mustafa, Mustafa; Kurniawan, Andri; Norfitria, Lintang
METANA Vol 17, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/metana.v17i2.40204

Abstract

 Pengunaan plastik setiap hari mengakibatkan terjadinya penumpukan sampah plastik yang dapat mencemari lingkungan dan menjadi salah satu masalah serius yang harus ditangani karena plastik tidak dapat terdegradasi. Plastik merupakan senyawa yang unsur penyusun utamanya adalah karbon dan hidrogen. Sehingga limbah plastik berpotensi sebagai pembuatan karbon aktif dan akan membuat limbah plastik menjadi lebih bermanfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi aktivator dan waktu aktivasi terhadap proses aktivasi fisika kimia sehingga menghasilkan produk karbon aktif yang sesuai dengan SNI 06-3730-1995. Plastik PET terlebih dahulu dikarbonasi pada temperatur 480oC selama 2 jam menggunakan furnace hingga membentuk arang. Lalu, direndam dalam aseton selama 24 jam. Setelah itu disaring dan dikeringkan menggunakan oven pada temperatur 110oC selama 3 jam dan dilanjutkan dengan proses aktivasi fisika pada temperatur 750oC selama 2 jam. Karbon yang telah teraktivasi fisika selanjutnya diaktivasi secara kimia dengan menggunakan KOH konsentrasi 1 M, 2 M, 3 M, dan 4M dengan variasi waktu  2 jam dan 4 jam. Diperoleh hasil terbaik yaitu pada karbon aktif dengan konsentrasi KOH 4 M dan waktu aktivasi 2 jam dengan nilai daya serap iod sebesar 980,17 mg/g, kadar abu 0,28%, kadar air 7,55%, dan kadar volatile matter 3,47%. Karbon aktif yang diperoleh telah memenuhi SNI 06-3730-1995.The use of plastic every day results in the accumulation of plastic waste that can pollute the environment and was a serious problem that must be addressed because plastic cannot be degraded. Plastic was a compound whose main constituent elements were carbon and hydrogen. So that plastic waste has the potential to produce activated carbon and will make plastic waste more useful. This study aims to determine the effect of activator concentration and activation time on the physical-chemical activation process so as to produce activated carbon products in accordance with SNI 06-3730-1995. PET plastik was first carbonated at a temperature of 480oC for 2 hours using a furnace to form charcoal. Then, soaked in acetone for 24 hours. After that it was filtered and dried using an oven at a temperature of 110oC for 3 hours and continued with the physical activation process at a temperature of 750oC for 2 hours. The physically activated carbon was then chemically activated using KOH concentrations of 1 M, 2 M, 3 M, and 4 M with time variations of 2 hours and 4 hours. The best results were obtained on activated carbon with a concentration of KOH 4 M and an activation time of 2 hours with an iodine absorption value of 980.17 mg/g, 0.28% ash content, 7.55% water content, and volatile matter levels 3,47%. Activated carbon obtained has complied with SNI 06-3730-1995.
Konsentrasi Polyfenol pada Teh Hitam Celup Komersial Produksi Perkebunan Teh di Jawa Tengah Supriyo, Edy; Pudjihastuti, Isti
METANA Vol 17, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/metana.v17i2.41776

Abstract

Teh merupakan minuman yang dihasilkan dari pucuk daun tanaman Camellia sinensis  yang tumbuh di pegunungan pada ketinggian 600–2500 m dpl. Teh hitam merupakan jenis teh yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Teh ini diproduksi dengan cara fermentasi melalui proses oksidasi enzimatis katekin oleh polifenol oksidase. Teh hitam yang dikemas dalam bentuk the celup banyak digemari konsumen.  Tujuan dari penelitian ini mengetahui konsentrasi polyfenol dalam teh hitam celup komersial. Sampel teh hitam celup komersial dengan merk dagang TP, TDT, TB, TL,  TD, dan TM diproduksi oleh enam perkebunan teh di Jawa Tengah yang diperoleh secara acak dari swalayan di Kota Semarang.   Kandungan polyfenol pada sampel teh hitam celup dianalisa dengan menggunakan spetrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 725nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh hitam celup komersial yang beredar di Kota Semarang telah memenuhi  standard SNI 3753–2014, dengan rata-rata konsentrasi polyfenol 8,83-43,63 %b/b. Analisa Zscore  menunjukkan tidak ada perbedaan yang sangat nyata antar konsentrasi polyfenol di enam sampel teh hitam celup komersial, hal ini dimungkinkan dengan adanya standarisasi proses produksi teh hitam di berbagai industri teh di Indonesia. Dan teh hitam celup komersial TDT mempunyai konsentrasi polyfenol diatas rata-rata yaitu 43,63 % b/b.    Tea is a drink produced from the leaves of the Camellia sinensis plant that thrives in the mountains at an altitude of 600–2500 m above sea level. Black tea is a type of tea that is widely consumed by Indonesian people. Black tea is produced by fermentation, namely the process of enzymatic oxidation of catechins by polyphenol oxidase. Black tea is produced in several packages, including as black tea bags. The purpose of this study was to determine the concentration of polyphenols in commercial black tea bags. Samples of commercial black tea bags with the trademarks TP, TDT, TB, TL, TD, and TM were produced by six tea plantations in Central Java which were obtained randomly from supermarkets/stores in Semarang City. The polyphenol content in black teabag samples was analyzed using a UV-Vis spectrophotometer at a wavelength of 725nm. The results showed that the commercial black tea bags marketed in the Semarang City had met the standards of SNI 3753–2014, with an average polyphenol concentration of 8.83-43.63% w/w. The Zscore analysis showed that there was no significant difference between the concentrations of polyphenols in the six samples of commercial black tea bags, this may cause by the standardization of black tea production processes in various tea industries in Indonesia, but commercial black tea bags with the trademark TDT had polyphenol concentrations above the average is 43.63% w/w.
Pemanfaatan Jerami Padi Sebagai Bioplastik Dengan Menggunakan Metode Perlakuan Pelarut Organik Setiawan, Adhi; Anggraini, Febby Dwi Melanny; Ramadani, Tarikh Azis; Cahyono, Luqman; Rizal, Mochammad Choirul
METANA Vol 17, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/metana.v17i2.42254

Abstract

Jerami padi memilki kandungan selulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis bioplastik dari bahan baku jerami padi menggunakan perlakuan pelarut organik serta menganalisis pengaruh rasio massa pati dengan selulosa karakteristik produk bioplastik. Proses delignifikasi jerami menggunakan larutan etanol 5% dan 35% pada suhu 80oC selama dua jam. Bioplastik dibuat dengan rasio massa pati dengan selulosa sebesar 1:0,5; 1:1; dan 1:1,5. Karakterisasi menggunakan metode SEM, XRD, TG-DTA, uji tarik, uji transmisi uap, serta uji degradasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses delignifikasi menggunakan etanol menyebabkan peningkatan kadar selulosa serta kristalinitas jerami. Morfologi bioplastik menunjukkan permukaan yang tidak rata serta terdapat bagian matriks yang terpisah dengan fiber. Hasil TG-DTA menunjukkan pengurangan massa bioplastik sebesar 81,01% pada suhu 550oC. Hasil kuat tarik terbaik pada bioplastik yang dibuat dengan rasio massa pati dengan selulosa 1:0,5 pada konsentrasi delignifikasi etanol 35%. Nilai kuat tarik yang diperoleh sebesar 8,773 Mpa. Pengujian degradasi bioplastik dilakukan selama 10 hari diperoleh nilai % degradasi terbesar bioplastik adalah sebesar 99,9%. Rice straw contains cellulose which can be used as raw material for making bioplastics. This study aims to synthesize bioplastics from rice straw using organic solvent treatment and analyze the effect of the mass ratio of starch to cellulose on the characteristics of bioplastic products. The straw delignification process used 5% and 35% ethanol solution at 80oC for two hours. Bioplastics are made with a mass ratio of starch to cellulose of 1:0.5; 1:1; and 1:1.5. Characterization using SEM, XRD, TG-DTA methods, tensile test, vapour transmission test, and degradation test. The results showed that the delignification process using ethanol caused an increase in cellulose content and straw crystallinity. The morphology of the bioplastic shows an uneven surface and there are parts of the matrix that are separated from the fiber. The results of TG-DTA showed a reduction the mass of bioplastic by 81.01% at a temperature of 550oC. The best tensile strength results in bioplastics made with a mass ratio of starch to cellulose 1:0.5 at a delignification concentration of 35% ethanol. The tensile strength value obtained was 8,773 Mpa. The bioplastic degradation test was carried out for 10 days and the largest percentage of bioplastic degradation was 99.9%.
Proses Fermentasi pada Produksi Bioetanol Dedak Padi dengan Hidrolisis Enzimatis Falaah, Miftakhu; Kusumayanti, Heny
METANA Vol 17, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/metana.v17i2.43335

Abstract

Meningkatnya harga bahan bakar dan menurunnya cadangan bahan bakar fosil memaksa untuk mencari sumber-sumber energi yang murah sebagai biofuel, seperti bioetanol dapat mengurangi efek negatif dari penggunaan bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Bioetanol dapat terbuat dari biomassa yang mengandung gula, pati dan selulosa. Dedak padi merupakan hasil samping dari penggilingan padi dan menyumbang ±11% dari berat padi. Dalam hal ini dedak padi karbohidrat yang cukup tinggi untuk diolah menjadi bioetanol. Sementara untuk meningkatkan kadar etanol, proses terpenting dalam produksi bioetanol adalah proses fermentasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu pengoptimalan proses fermentasi meliputi pH dan waktu pada pembuatan bioetanol dari ekstrak dedak padi dengan penambahan urea dan NPK sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhan saccharomycess cerevisiae. Penelitian ini menggunakan dedak padi yang dihidrolisis, kemudian difermentasi menggunakan saccharomycess cerevisiae dengan penambahan nutrisi urea dan NPK, dan di distilasi untuk dimurnikan. Pengoptimalan pH dan waktu pada proses fermentasi serta penambahan nutrisi urea dan NPK diharapkan mampu meningkatkan kadar bioetanol yang dihasilkan. Hasil data dihitung dengan menggunakan metode perhitungan faktorial desain untuk mengetahui variabel paling berpengaruh.  Rising fuel prices and declining fossil fuel reserves force to find cheap energy sources as biofuels, such as bioethanol can reduce the negative impact of using non-renewable fossil fuels. Bioethanol can be produced from biomass containing sugar, starch and cellulose. Rice bran is a by product of rice milling and accounts for ±11% of the weight of rice. In this case the carbohydrate rice bran is high enough so that it can be processed into bioethanol. Meanwhile, to increase ethanol content the most important process in manufacture of bioethanol is fermentation process. The purpose of this study is to optimize the fermentation process including pH and time in manufacture of bioethanol from rice bran extract with addition of urea and NPK as a source of nutrients for growth saccharomycess cerevisiae. This study used rice bran which was hydrolyzed, then fermented using saccharomycess cerevisiae with addition of urea and NPK nutrients, and then distilled to be purified. Optimizing pH and time in the fermentation process as well as adding urea and NPK nutrients are expected to increase levels of bioethanol produced. The results of the data are calculated using the design factorial calculation method to determine the most influential variable.
Karakteristik Poli Asam Laktat Glikolat (Kajian Rasio Asam Laktat Limbah Aren-Asam Glikolat) Purnavita, Sari; Hermawati, Lucia; Rinihapsari, Elisa
METANA Vol 17, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/metana.v17i2.36698

Abstract

Polimer Poli Asam Laktat Glikolat (PLGA) merupakan salah satu jenis polimer yang telah disetujui FDA dan EMA untuk penggunaan biomedik. Kelebihan PLGA yaitu biokompatibilitas, biodegradabilitas, fleksibilitas, dan efek samping yang minimal. PLGA telah dikembangkan untuk penggunaan medis namun pemenuhannya masih berupa impor. Oleh karena itu, pada penelitian ini monomer asam laktat dari limbah pati aren dan asam glikolat dengan rasio LA:GA = 75%:25%; 90%:10%; 95%:5%; direaksikan secara Ring Opening Polymerization (ROP) dengan bantuan katalis Sn(II) Oktoat membentuk PLGA. PLGA hasil kemudian ditambahkan PVA, dengan rasio PLGA:PVA 3:2; 3:3; 3:4; dan 3:5 dengan metode solution casting membentuk film. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Hasil penelitian menunjukkan adanya kombinasi rasio LA:GA dan rasio penambahan PVA mempengaruhi karakteristik film PLGA.  Hasil kekakuan dan Modulus Young film PLGA tertinggi pada kombinasi penambahan rasio LA:GA = 75%:25% dan penambahan rasio PLGA:PVA =3:4. Biodegrabilitas film PLGA terbaik pada kombinasi penambahan rasio LA:GA 90%:10% dan penambahan rasio PLGA:PVA 3:4. Film PLGA memiliki biokompatibilitas yang baik pada semua rasio LA:GA, dengan penambahan rasio PLGA:PVA lebih dari 3:2. Hasil film PLGA memiliki morfologi permukaan paling halus pada rasio penambahan PLGA : PVA 3:2, dan memiliki struktur semi kristalin.Lactic Glycolic Acid Polymer (PLGA) is a type of polymer that has been approved by the FDA and EMA for biomedical use. The advantages of PLGA are biocompatibility, biodegradability, flexibility, and minimal side effects. PLGA has been developed for medical use but fulfillment is still imported. Therefore, in this study, the lactic acid monomer from waste palm starch and glycolic acid with a ratio of LA: GA = 75%: 25%; 90%: 10%; 95%: 5%; reacted with Ring Opening Polymerization (ROP) with the help of a catalyst Sn (II) Octoate to form PLGA. The resulting PLGA was then added with PVA, with a ratio of PLGA: PVA 3: 2; 3: 3; 3: 4; and 3: 5 with the solution casting method forming the film. This research was conducted experimentally with a factorial completely randomized design (CRD). The results showed that the combination of LA: GA ratio and PVA addition ratio affected the PLGA film characteristics. The results of stiffness and Young's Modulus of PLGA film were highest in the combination of addition of the ratio of LA: GA = 75%: 25% and the addition of the ratio of PLGA: PVA = 3: 4. The best PLGA film biodegradability was combined with the addition of the ratio of LA: GA 90%: 10% and the addition of the PLGA: PVA ratio 3: 4. PLGA film has good biocompatibility in all LA: GA ratios, with the addition of a PLGA: PVA ratio of more than 3: 2. The results of the PLGA film had the smoothest surface morphology at the ratio of addition of PLGA: PVA 3: 2, and had a semi-crystalline structure.

Page 1 of 1 | Total Record : 7