cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
Determinan Penyebab Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dalam Pencegahan DBD oleh Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Sendangmulyo Hidayah, Novia Nur; Prabamurti, Priyadi Nugraha; Handayani, Novia
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 4 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.4.229-239

Abstract

Latar belakang: Demam berdarah dengue merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue melalui  gigitan nyamuk Aedes aegypty. Kasus DBD di kelurahan Sendangmulyo terus meningkat sejak tahun 2018 hingga tahun 2020. Meningkatnya kasus DBD disebabkan oleh kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan seperti sampah yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga terhadap kasus DBD oleh ibu rumah tangga di Kelurahan Sendangmulyo.Metode: Jenis penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu rumah tangga berjumlah 12.393 dengan sampel sebanyak 388 responden. Pengambilan sampel menggunakan metode proportional random sampling dan pengambilan data menggunakan googleform dilakukan bulan Desember 2020 hingga Januari 2021. Variabel bebas yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah anggota keluarga dalam 1 KK, riwayat penyakit DBD dalam 1 keluarga, pengetahuan, sikap, sarana prasarana, akses informasi, dukungan keluarga, dukungan di lingkungan rumah, dukungan petugas lingkungan kelurahan, dukungan petugas kesehatan dan variabel terikat yaitu perilaku pengelolaan sampah rumah tangga. Uji statistik yang digunakan pada analisis univariat adalah distribusi frekuensi dan pada analisis bivariat adalah uji Chi square. Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan nomor 306/EA/KEPK-FKM/2020.Hasil: Hasil penelitian menunjukan sebanyak 53,9% responden memiliki perilaku pengelolaan sampah rumah tangga yang buruk. Karakteristik responden mayoritas umur >44 tahun 59,8%, pendidikan tinggi 74,7%, pekerjaan bekerja 80,9%, pendapatan 50,8% <UMR, terdapat 52,1% jumlah anggota keluarga luas dalam 1 KK, 83% tidak memiliki riwayat penyakit DBD dalam 1 keluarga, pengetahuan baik 51,5%, sikap baik 51,8%, sarana – prasarana baik 66,2%, akses informasi buruk 57,2%, mendapat dukungan keluarga 64,9%, mendapat dukungan di lingkungan rumah 59,5%, mendapat dukungan petugas lingkungan kelurahan 78,1%, mendapat dukungan petugas kesehatan 57,5%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan terdapat hubungan umur (p=0,000), pendidikan (p=0,039), pekerjaan (p=0,001), pendapatan (p=0,000), riwayat penyakit DBD dalam 1 keluarga (p=0,000), pengetahuan (p=0,000), sarana prasarana (p=0,042), akses informasi (p=0,000), dukungan keluarga (p=0,001) dan dukungan petugas kesehatan (p=0,025) dengan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga.Simpulan:  perilaku pengelolaan sampah rumah tangga yang buruk memiliki hubungan dengan umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, riwayat penyakit DBD dalam 1 keluarga, pengetahuan, sarana prasarana, akses informasi, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan terhadap kasus DBD di kelurahan Sendangmulyo.Kata kunci: Demam Berdarah Dengue; Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tangga; Ibu Rumah Tangga; Kelurahan Sendangmulyo ABSTRACTTitle: Determinants of the Household Waste Management Behavior in preventing DHF Cases by housewives in Sendangmulyo VillageBackground: Dengue Hemorrhagic Fever is an infectious disease caused by the dengue virus through the bite of the Aedes aegypty mosquito. DHF cases in the Sendangmulyo sub-district continued to increase from 2018 to 2020. The increase in dengue cases was due to a lack of public awareness of environmental hygiene such as garbage which became a breeding ground for mosquitoes. This study aims to analyze the behavioral determinants of household waste management on cases of dengue fever by housewives in Sendangmulyo Village.Method: This type of research is observational with a cross sectional approach. The research population is housewives totaling 12,393 with a sample of 388 respondents. Sampling using proportional random sampling method and data collection using google form. The independent variables are age, education, occupation, income, number of family members in 1 KK, history of dengue fever in 1 family, knowledge, attitudes, infrastructure, access to information, family support, support in the home environment, support from village environment officers, support officers health. The statistical test used in the univariate analysis is the frequency distribution and in the bivariate analysis is the Chi square test. This research has received approval from the Health Research Ethics Commission number 306/EA/KEPK-FKM/2020.Results: The results showed that 53.9% of respondents had poor household waste management behavior. The results of the Chi square statistical test showed that there was a relationship between age (p = 0.000), education (p = 0.039), occupation (p = 0.001), income (p = 0.000), history of DHF in 1 family (p = 0.000), knowledge ( p=0.000), infrastructure (p=0.042), access to information (p=0.000), family support (p=0.001) and support from health workers (p=0.025) with household waste management behavior.Conclusion: Poor household waste management behavior has a relationship with age, education, occupation, income, history of dengue disease in one family, knowledge, infrastructure, access to information, family support and support from health workers for dengue cases in Sendangmulyo village.Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever; Household Waste Management Behavior; Housewives; Sendangmulyo Village
Tingkat Kecemasan (State-Trait Anxiety) Masyarakat dalam Menghadapi Pandemi COVID-19 di Kota Semarang Tri Rosa Setyananda; Ratih Indraswari; Priyadi Nugraha Prabamurti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 4 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.4.251-263

Abstract

Latar belakang: Kota Semarang merupakan wilayah zona merah dan menempati posisi pertama kasus COVID-19 tertinggi di Jawa Tengah. Keadaan tersebut dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental masyarakat, salah satunya yaitu kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan masyarakat terhadap pandemi COVID-19 di Kota Semarang.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 1.303.862 dengan sampel berjumlah 407 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probabillity sampling yaitu consecutive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah State-Trait Anxiety Inventory dari Charles D. Spielberger. Pengumpulan data menggunakan google form yang dibagikan melalui berbagai media sosial. Variabel bebas penelitian yaitu umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status perkawinan, persepsi, dan defence mechanism. Variabel terikat yaitu tingkat kecemasan. Uji statistik yang digunakan untuk analisis univariat adalah distribusi frekuensi serta analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan FKM Undip dengan nomor 260/EA/KEPK-FKM/2020.Hasil: Hasil penelitian ini yaitu pada state anxiety level (66,8%) responden berada pada tingkat sedang, (27,3%) responden berada pada tingkat ringan, serta (5,9%) responden berada pada tingkat berat. Hasil trait anxiety level menunjukkan (67,3%) responden berada pada tingkat sedang, (27,3%) responden pada tingkat ringan, serta (5,4%) responden berada pada tingkat berat. Faktor yang berhubungan dengan state anxiety level pandemi COVID-19 adalah umur (p-value =0,018), jenis kelamin (p-value =0,013), pekerjaan (p-value =0,003), status perkawinan (p-value =0,006), pendapatan (p-value=0,032), persepsi (p=0,021), dan defence mechanism (p-value=0,000). Faktor yang berhubungan dengan trait anxiety level pandemi COVID-19 adalah umur (p-value =0,006), pekerjaan (p-value =0,000), status perkawinan (p-value =0,003), pendapatan (p-value =0,001), dan defence mechanism (p-value =0,000).Simpulan:  State anxiety dan trait anxiety menunjukkan bahwa masyarakat di Kota Semarang mengalami tingkat kecemasan sedang terhadap COVID-19. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan state anxiety adalah umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, pendapatan, persepsi. Tidak ada hubungan antara state anxiety dengan pendidikan. Faktor yang berhubungan dengan trait anxiety adalah umur, pekerjaan, status perkawinan, pendapatan. Tidak ada hubungan antara trait anxiety dengan jenis kelamin, dan pendidikan. Terdapat hubungan antara state-trait anxiety dengan defence mechanism.Kata kunci: Tingkat Kecemasan, State-Trait Anxiety Inventory, Pandemi COVID-19, Kesehatan Mental, Mekanisme Pertahanan ABSTRACT Title: The Anxiety Level (State-Trait Anxiety) towards COVID-19 Pandemic in the Semarang CityBackground: Semarang city is a red zone area and occupies the 1st position as the most amount of COVID-19 case in Central Java. The COVID-19 pandemic has bad impacts on the mental condition to the people, one of those mental condition is anxiety. Anxiety attack all levels of society. This study has purpose to measure the level anxiety of society towards the COVID-19 pandemic in Semarang City.Method: This study using observasional research design with cross sectional approach. The research targets 1.303.862 which is takes sample from 407 respondents. Sampling was carried out using the non probability sampling technique, consecutive sampling technique that using google form and spread it to the random people in social media. The questionnaire used was the State-Trait Anxiety Inventory from Charles D. Spielberger. Independent variable is age, gender, education, occupation, income, marital status, perception, defence mechanism. Dependent variable is anxiety level.  Univariat analysis using frequency distribution. Bivariate analysis using Chi-Square. This research has been approved by Health Research Ethics Committee Faculty of Public Health Diponegoro University which is contained in ethical approval number 260/EA/KEPK-FKM/2020.Result: The results showed that the state anxiety level shows (66.8%) respondents are at the medium level, (27.3%) respondents are at the mild level, (5.9%) the respondents are at the critical level. The results trait anxiety levels indicate that (67.3%) respondents are at medium level, (27.3%) respondents are at mild level, (5.4%) respondents are at critical level. Factors which are related between state anxiety of the COVID-19 pandemic included age (p-value = 0.018), gender (p-value = 0.013) occupation (p-value = 0.003) marital status (p-value = 0.006), income (p-value = 0.032), and defense mechanisms (p-value = 0.000). Factors which are related between trait anxiety level of the COVID-19 pandemic included other age (p-value = 0.006), occupation (p-value = 0.000), marital status (p-value = 0.003), income (p-value = 0.001), and defense mechanisms (p-value = 0.000).Conclusion: The level of state trait anxiety of public in the Semarang city is mostly at the medium level. The result of the chi-square test showed that factors which are related between state anxiety included age, gender, occupation, marital status, income, and perception. There is no relation between the anxiety level and education. Factors which are related between trait anxiety included age, occupation, marital status, and income. There is no relation between the trait anxiety level with gender, education, and perception. There is a relation between state-trait anxiety level and defence mechanism.Keywords: Anxiety Level, State-Trait Anxiety Inventory, COVID-19 Pandemic, Mental Health, Defence Mechanism
Apakah Pelaksanaan Program Jogo Tonggo di Desa Kauman Kabupaten Pekalongan Efektif ? Sholichat, Baqiatus; Suryoputro, Antono; Nandini, Nurhasmadiar
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 4 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.4.212-218

Abstract

Latar belakang: Sehubungan dengan meningkatnya wabah COVID-19 dan penularannya di Desa Kauman, Kabupaten Pekalongan dengan 22 kasus positif COVID-19 per 28 Januari 2021, perlu adanya upaya percepatan penanganan COVID-19 secara sistematis, terstruktur dan menyeluruh melalui pembentukan “Satgas Jogo Tonggo”. Desa Kauman merupakan salah satu desa di Kabupaten Pekalongan yang menerapkan Jogo Tonggo. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis implementasi Program Jogo Tonggo dengan melihat aspek organisasi, interpretasi, dan aplikasi.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan teknik analisis konten. Kegiatan analisis ini meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan data. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan yang dipilih berdasarkan purposive sampling. Subjek penelitian yaitu Ketua Satgas Jogo Tonggo RW 02, RW 05, RW 07, satgas kesehatan, satgas ekonomi, satgas sosial dan keamanan serta satgas hiburan. Sedangkan informan triangulasi yaitu Kepala Desa Kauman, sekretaris desa, fungsional sanitarian, dan Warga Desa Kauman.Hasil: Pelaksanaan Program Jogo Tonggo di Desa Kauman baru mencakup dua bidang, yaitu bidang kesehatan dan ekonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi Program Jogo Tonggo belum berjalan optimal dipengaruhi beberapa faktor yaitu keterlibatan masyarakat yang masih rendah, ketidaksesuaian komunikasi dan koordinasi di tingkat desa dikarenakan Ketua RW belum menerima lampiran susunan Satgas Jogo Tonggo, koordinasi Satgas Jogo Tonggo tidak dilaksanakan secara berjenjang, belum terdapat anggaran khusus untuk kegiatan operasional pelaksanaan program tingkat RW, serta sarana prasarana belum didistribusikan kepada tiap RW dan masih menumpuk di balai desa.Simpulan: Pelaksanaan Program Jogo Tonggo di Desa Kauman belum berjalan optimal dipengaruhi oleh ketidaksesuaian komunikasi dan koordinasi di tingkat desa, belum tersedianya anggaran khusus untuk pelaksanaan Program Jogo Tonggo, serta keterlibatan masyarakat dalam proses pembentukan Satgas Jogo Tonggo masih minim, sehingga masyarakat tidak mengetahui tugas, wewenang dan tanggung jawab dari Program Jogo Tonggo.Kata kunci: COVID-19; Jogo Tonggo; Pemberdayaan Masyarakat ABSTRACTTitle: Is The Jogo Tonggo Program Implementation in Kauman Village, Pekalongan Regency Effective?Background: Due to the increase and transmission of COVID-19 outbreak in Kauman Village, Pekalongan Regency with 22 positive cases of COVID-19 in January 28th 2021, it is necessary to have efforts to accelerate the handling of COVID-19 in a systematic, structured and comprehensive manner through the formation of the "Satgas Jogo Tonggo". Kauman Village is one of the villages in Pekalongan Regency which implements Jogo Tonggo. The purpose of this study is to analyze the implementation of The Jogo Tonggo Program by looking at aspects of the organization, interpretation, and application.Methods: This study was a qualitative descriptive study with a content analysis technique approach. This analysis activity included data collection, data reduction, data presentation, and drawing data conclusions. Data were collected by in-depth interviews with selected informants based on purposive sampling. The research subjects were The Head of Satgas Jogo Tonggo RW 02, RW 05, RW 07, the health satgas, the economic satgas, the social and security satgas and the entertainment satgas. The triangulation informants were The Head of Kauman Village, the village secretary, the sanitarian functional and the kauman village residents.Result: The implementation of The Jogo Tonggo Program in Kauman Village covers only two sectors, such as the health and economic sectors. The results of this study indicated that the implementation of The Jogo Tonggo Program has not been optimal due to several factors, such as low community involvement, inadequacy of communication and coordination at the village level because The Head of the Rukun Warga (RW) has not received a attachment of The Satgas Jogo Tonggo, The Satgas Jogo Tonggo’s coordination was not implemented in stages, there is no specific budgets for operational activities of program implementation at the RW level, and infrastructure have not been distributed to each RW because still piled up in the village hall.Conclusion: The implementation of The Jogo Tonggo Program in Kauman Village has not been running  optimally due to the mismatch of communication and coordination at the village level, the unavailability of a specific budget for the implementation of The Jogo Tonggo Program, and community involvement in the process of establishing The Satgas Jogo Tonggo was still minimal, so that the community does not know the duties, authorities and the responsibility of The Jogo Tonggo program. Keywords: COVID-19; Jogo Tonggo; Community Empowerment 
Stres Pengasuhan Ibu dengan Anak Tunagrahita di SLB Negeri Semarang Selama Pandemi COVID-19 Marliana, Riska Suci; Prabamurti, Priyadi Nugraha; Handayani, Novia
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 4 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.4.219-228

Abstract

Latar belakang: Anak tunagrahita adalah anak yang memiliki intelegensia rendah di bawah rata-rata (IQ≤70) yang diikuti keterbatasan fungsi adaptif dan fungsi intelektual, sehingga anak tunagrahita membutuhkan bantuan pengasuhan ibu lebih banyak daripada anak normal. Peraturan pemerintah mengenai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia menambah beban pengasuhan yang mengakibatkan stres pengasuhan pada ibu. Stres pengasuhan menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan stres pengasuhan ibu dengan anak tunagrahita di SLB Negeri Semarang selama pandemi COVID-19.Metode: Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu dengan anak tunagrahita di SLB Negeri Semarang berjumlah 151 ibu dengan sampel 110 responden yang diambil dengan teknik proportional stratified random sampling. Variabel dalam penelitian ini adalah usia anak, tingkat retardasi mental anak, usia ibu, jumlah anak yang diasuh, dukungan sosial dan stres pengasuhan ibu. Tingkat stres pengasuhan ibu diukur menggunakan Parent Stress Index-Short Form.  Pengumpulan data menggunakan angket google form yang disebarkam lewat pesan singkat Whatsapp orangtua/wali murid SLB Negeri Semarang tingat Sekolah Dasar. Penelitian menggunakan analisis univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat (uji chi-square).Hasil: Mayoritas ibu mengalami stres pengasuhan rendah sebanyak 56,4%, sedangkan yang tinggi sebesar 43,6%. Karakteristik anak meliputi mayoritas usia anak < 10 tahun (72,7%) dengan kategori retardasi mental ringan (58,2%). Karakteristik ibu meliputi mayoritas usia ibu < 38 tahun (61,8%) dengan jumlah anak yang diasuh < 2 anak (66,4%) dan kategori dukungan sosial tinggi (57,3%). Terdapat hubungan antara tingkat retardasi mental anak (p-value = 0,000) dan dukungan sosial (p-value = 0,012) terhadap stres pengasuhan ibu dengan anak tunagrahita.Simpulan: Ada hubungan antara stres pengasuhan ibu dengan tingkat retardasi mental anak dan dukungan sosial. Semakin ringan tingkat retardasi mental anak, maka semakin rendah stres pengasuhan yang dialami ibu. Demikian pula dengan dukungan sosial, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima ibu maka semikin rendah stres pengasuhan yang dialami ibu.Kata kunci: Anak Tunagrahita; Stres Pengasuhan Ibu; Tingkat Retardasi Mental; Dukungan Sosial ABSTRACT Title: Parenting Stress among Mother with Mental Retardation Child during COVID-19 PandemicBackground: Mental retardation child is a child who has below average low intelligence (IQ≤70) followed by limitations of adaptive function and intellectual function so mental retardation child need more parenting care than normal children. Government regulation on Distance Learning due to the COVID-19 pandemic in Indonesia add to the burden of parenting that results parenting stress among mother. Parenting stress is one of the causes of violence against children. The main purpose of this study is to analyze factors related to parenting stress among mother in SLB Negeri Semarang.Method: The research design is analytical observational with a cross-sectional approach. The research population is all mothers with mental retardation child in SLB Negeri Semarang numbered 151 mother with a sample of 110 respondents taken with proportional stratified random sampling techniques. Variables in this study were the age of the child, the child's level of mental retardation, the age of the mother, the number of children, social support, and parenting stress. Parenting stress level are measured by Parents Stress Index-Short Form. Data collection using google form questionnaire disseminated through Whatsapp group of parents / guardians of SLB Negeri Semarang Elementary School. The study used univariate (frequency distribution) and bivariate (chi-square test) analysis. Result: The majority of mothers experienced low parenting stress as much as 56.4% while the high one was 43.6%. Child characteristics include the majority of children < age 10 years (72.7%) with mild mental retardation category (58.2%). Mother characteristics include the majority of mothers aged < 38 years (61.8%) with the number of children < 2 children (66.4%) and high social support categories (57.3%). There is a correlation between a child's level of mental retardation (p-value = 0.000) and social support (p-value = 0.012) to the parenting stress with a mental retardation child. Conclusion: There is a correlation between parenting stress among mother with child mental retardation levels and social support. The lighter the child's mental retardation level, the lower the parenting stress experienced by the mother. Similarly, with social support, the higher the social support that mothers receive, the less stressful parenting the mother experiences.Keywords: Mental Retardation Child; Parenting Stress among Mother; Child’s Level of Mental Retardation; Social Support
Determinan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Usia Remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Genuk Kota Semarang Laila Septia Anindia; Bagoes Widjanarko; Aditya Kusumawati
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 4 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.4.240-250

Abstract

Latar belakang: ASI adalah makanan terbaik bagi bayi usia 0-6 bulan. Ibu usia remaja diketahui memiliki angka cakupan ASI eksklusif yang rendah. Capaian ASI eksklusif di Kecamatan Genuk pada tahun 2018 hanya sebesar 39,61%, sehingga masih di bawah target nasional yaitu 50%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu usia remaja di wilayah kerja Puskesmas Genuk.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu usia remaja (15-21 tahun) yang memiliki bayi usia 6-12 bulan. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Penghitungan sampel menggunakan Rumus Slovin didapatkan sebanyak 60 responden. Pengumpulan data menggunakan google form yang disebarkan melalui pesan singkat Whatsapp ibu usia remaja dan kuesioner dibagikan secara langsung kepada ibu usia remaja.Hasil: Analisis menunjukkan sebanyak 36,7% responden telah memberikan ASI eksklusif. Terdapat hubungan antara keikutsertaan kelas ibu hamil (p-value = 0,010), keikutsertaan kelas ibu balita (p-value = 0,002), persepsi (p-value = 0,000), motivasi (p-value = 0,000), pengetahuan (p-value = 0,002), sikap (p-value = 0,000), dan dukungan suami (p-value= 0,005) terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif pada ibu usia remaja.Simpulan: Hasil uji chi square dan fisher exact menunjukkan bahwa ada hubungan antara keikutsertaan kelas ibu hamil, keikutsertaan kelas ibu balita, persepsi, motivasi, pengetahuan, sikap, dan dukungan suami. Tidak ada hubungan antara usia, pendidikan, status pekerjaan, pendapatan keluarga, paritas, status kehamilan, dukungan keluarga, dukungan petugas kesehatan, dan akses informasi.Kata kunci: Ibu Usia Remaja, Menyusui, ASI Eksklusif ABSTRACTTitle: Determinants of Exclusive Breastfeeding Behavior in Adolescent Mothers in the Work Area of the Genuk Public Health Center, Semarang CityBackground: Breast milk is the best food for babies aged 0-6 months. Adolescent mothers are known to have low rates of exclusive breastfeeding. The achievement of exclusive breastfeeding in Genuk sub-district in 2018 was only 39.61%, so it is still below the national target of 50%. This study aims to determine what factors are associated with exclusive breastfeeding for adolescent mothers in the work area of the Genuk Health Center.Method: This study used a quantitative method with a cross-sectional approach. The population in this study were mothers of adolescence (15-21 years) who had babies aged 6-12 months. The sampling technique used simple random sampling. The sample count using the Slovin formula obtained as many as 60 respondents. Data collection using google form which is distributed via WhatsApp short messages for teenage mothers and questionnaires distributed directly to teenage mothers.Result: The analysis showed that 36.7% of respondents had exclusively breastfed. There is a relationship between class participation of pregnant women (p-value = 0.010), class participation of mothers under five (p-value = 0.002), perception (p-value = 0,000), motivation (p-value = 0,000), knowledge (p-value = 0.002), attitude (p-value = 0.000), and husband's support (p-value = 0.005) on the behavior of exclusive breastfeeding in adolescent mothers.Conclusion: Chi square and fisher exact test results show that there is a relationship between class participation of pregnant women, class participation of mothers under five, perceptions, motivation, knowledge, attitudes, and husband's support. There is no relationship between age, education, employment status, family income, parity, pregnancy status, family support, support from health workers, and access to information.Keywords: Adolescent Mothers, Exclusive Breastfeeding, Breastfeeding 
Determinan Kinerja Penatalaksanaan Tuberkulosis Paru oleh Petugas di Puskesmas Kota Semarang Nirwesti, Wahyu; Sriatmi, Ayun; Kusumawati, Aditya
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 5 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.5.349-354

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit paru menular yang menjadi salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh banyak negara di dunia, terutama negara berkembang. Kota Semarang merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki jumlah penderita TB terbanyak dengan tingkat keberhasilan pengobatan TB yang rendah. Apalagi angka drop out penderita TB dan kasus TB MDR meningkat setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan adanya kegagalan dalam penanganan pasien TB di kota Semarang dan kinerja petugas kesehatan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sumber daya manusia, sarana prasarana, budaya organisasi, kepemimpinan, kompensasi, desain pekerjaan, dan motivasi dengan kinerja petugas kesehatan dalam menangani pasien TB di Puskesmas Kota Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional terhadap 74 sampel pekerja yang merawat pasien TB. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner tertutup. Univariat dan bivariat digunakan dalam menganalisis data.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja petugas dalam menangani pasien TB baik dengan persentase 56,8. Dari uji bivariat, variabel yang berhubungan dengan kinerja dalam merawat pasien TB adalah kepemimpinan (p 0,000), kompensasi (p 0,018), desain pekerjaan (p 0,000), dan motivasi (p 0,000).Simpulan: Disarankan kepada Puskesmas untuk membuat SOP dalam bentuk flow chart dan mensosialisasikannya kepada petugas kesehatan yang menangani TB. Kepada Kepala Puskesmas dan para Wakil Pembina Dinas Kesehatan Kota agar melakukan pengawasan terhadap pengobatan pasien TB fase intensif secara masif.Kata kunci: Tuberkulosis; Kinerja; Kepemimpinan; Kompensasi; Motivasi ABSTRACT Title: Performance Determinants of Pulmonary Tuberculosis Management by Officers at the Semarang City Health CenterBackground: Tuberculosis (TB) is a contagious infectious lung disease which becomes one of the health issues faced by many countries in the world, mostly by developing countries. Semarang City is one the regions in the Province of Central Java which has the highest number of TB patient with lower success rate in treating TB patient. Moreover, the drop out rate of TB patient and TB MDR cases increase every year. It shows that there is a failure in treating TB patient in Semarang city and the health worker’s performance is low. The aim of this research is to find out the relationship of human resources, infrastructure, organizational culture, leadership, compensation, job design, and motivation with the health worker’s performance in treating TB patient in the public health centers in Semarang City. Method: This research is a quantitative research using cross sectional approach to 74 sample of the workers treating TB patients. The data are collected using closed-questionnaire. Univariat and bivariat are used in analyzing the data. Result: The research shows that the worker’s performance in treating TB patients is good with percentage of 56,8. From the bivariat test, the variabels related with performance in treating TB patient are leadership (p 0,000), compentation (p 0,018), job design (p 0,000), and motivation (p 0,000).Conclusion: It is suggested for the public health centers to make SOP in flow chart form and socialize it to the TB treating health workers. For the chief of the Public Health Centers and the vice supervisors of the City Health Departement to supervise the intensive phase treating of TB patients massively.Keywords: Tuberculosis; Performance; Leadership; Compensation; Motivation.
Perilaku Masyarakat dalam Pencegahan Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Manyaran Kota Semarang Amallia, Ardhia; Kusumawati, Aditya; Prabamurti, Priyadi Nugraha
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 5 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.5.317-326

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis merupakan permasalahan kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus yang terus meningkat. Provinsi Jawa Tengah berada pada peringkat ketiga dengan kasus tertinggi tuberkulosis di Indonesia. Pada tahun 2019 tercatat jumlah kasus tuberkulosis di Kota Semarang sebanyak 4307 kasus. Puskesmas Manyaran mengalami peningkatan kasus dalam tiga tahun terakhir, pada tahun 2017 (23 kasus), 2018 (28 kasus), dan 2019 (49 kasus). Puskesmas telah melakukan berbagai program untuk pencegahan tuberkulosis, namun kasus masih terus bertambah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam pencegahan tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Manyaran.Metode: Metode yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah masyarakat usia produktif yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Manyaran berjumlah 28.895 orang dengan sampel sebanyak 96 responden. Pengumpulan data melalui angket menggunakan google form dilakukan pada bulan Oktober-November 2020. Penelitian ini sudah lolos kaji etik dengan nomor 303/EA/KEPK-FKM/2020.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan pada variabel usia (p-value=0,000), pengetahuan (pvalue=0,004), sikap (p-value=0,003), aksesibilitas informasi kesehatan (p-value=0,002), kondisi fisik rumah (pvalue=0,003), ketersediaan sumber daya (p-value=0,002), dukungan keluarga (p-value=0,000), dukungan petugas kesehatan (p-value=0,000), dan dukungan teman (p-value=0,015) dengan perilaku pencegahan tuberkulosis. Sedangkan, variabel yang tidak berhubungan yaitu jenis kelamin (p-value=0,721), pendidikan terakhir (pvalue=1,000), pekerjaan (p-value=0,065), dan pendapatan (p-value=0,210). Uji regresi logistik menunjukkan dukungan petugas kesehatan memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku pencegahan tuberkulosis (pvalue=0,049) (OR=13,472).Simpulan: Penelitian menunjukkan adanya hubungan pada variabel usia, pengetahuan, sikap, aksesbilitas informasi, kondisi fisik rumah, ketersediaan sumber daya, dukungan keluarga, dukungan petugas kesehatan, dan dukungan teman dengan perilaku pencegahan tuberkulosis. Dukungan petugas kesehatan merupakan variabel yang paling berpengaruh, yang berarti masyarakat yang memperoleh dukungan petugas kesehatan memiliki peluang 13,472 kali lebih besar untuk melakukan pencegahan tuberkulosis dengan baik dibanding yang tidak memperoleh.Kata kunci: Tuberkulosis; Perilaku Pencegahan Tuberkulosis; MasyarakatABSTRACTTitle: Community Behavior in the Prevention of Tuberculosis in the Area Puskesmas Manyaran, SemarangBackground: Tuberculosis is a health problem in Indonesia with increasing cases. Central Java became the three highest rates of tuberculosis cases in Indonesia. In 2019 there 4307 tuberculosis cases in Semarang City in 2019. Puskesmas Manyaran has experienced an increase in cases in the last three years, in 2017 (23 cases), 2018 (28 cases), 2019 (49 cases). Puskesmas have carried out various programs for the prevention of tuberculosis, but they have not shown good results. This study aim to determine the behavior of the community in preventing tuberculosis in the area of Puskesmas Manyaran.Method: The method used was observational with a cross sectional approach. The population of this research is people of productive age who live in the area of the Puskesmas Manyaran totaling 28,895 people with sample of 96 respondents. Data collection through questionnaires using google form was carried out in October-November 2020. This research has passed the ethical review number 303 / EA / KEPK-FKM / 2020.Result: The results showed a relationship between age (p-value=0.000), knowledge (p-value=0.004), attitude (p-value=0.003), accessibility of health information (p-value=0.002), physical condition of the house (p-value=0.003), availability of sources power (p-value=0.002), family support (p-value=0.000), support from health workers ( p=0.000), and support from friends (p=0.015). Meanwhile, the unrelated variables were gender (p-value=0.721), latest education (p-value=1,000), occupation (p-value=0.065), and income (p-value=0.210) with tuberculosis prevention behavior. The logistic regression test showed support from health care workers had the greatest influence on tuberculosis prevention behavior (p-value=0.049) (OR=13.472).Conclusion: The study shows a relationship between the variables of age, knowledge, attitudes, accessibility of information, physical condition of the house, availability of resources, family support, support from health workers, and support from friends. Support from health workers is the most influential variable, meaning that people who get support from health workers have a 13,472 times greater chance of taking good prevention than those who did not.Keywords: Tuberculosis; Tuberculosis Prevention Behavior; Community
Strategi Coping Stress Melalui Media Sosial pada Remaja di Kota Semarang Husodo, Besar Tirto; Amelia, Fransiska Devia Tiara; Handayani, Novia
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 5 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.5.327-333

Abstract

Latar belakang: Media sosial menawarkan keadaan memahami dan dipahami bagi pengguna, serta koneksi instan dengan ruang publik yang interaktif dan nyaman. Media sosial sebagai strategi coping dapat membantu individu mendapatkan akses ke sumber informasi dan terhubung serta mendapat dukungan dari orang lain saat menghadapi keadaan yang penuh tekanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana remaja memanfaatkan media sosial sebagai strategi coping stress.Metode: Metode pada penelitian menggunakan pendekatan cross sectional melalui observasional kuantitatif.  Populasi penelitian ini remaja yang berdomisili di Kota Semarang berjumlah 299.768 remaja dengan sampel sebanyak 384 responden menggunakan teknik proportional purposive sampling. Pengumpulan data melalui angket online.Hasil: Responden berjenis kelamin perempuan (72,9%), dan laki-laki (27,1%). Responden yang melakukan praktik pemanfaatan media sosial sebagai strategi coping stress baik sebanyak 57,8% dan pemanfaatan yang buruk sebanyak 42,2%.  Praktik pemanfaatan media sosial sebagai strategi coping stress berhubungan dengan tingkat stres responden (p-value=0,003). Selain itu praktik pemanfaatan media sosial sebagai strategi coping stress berhubungan dengan penggunaan media sosial  (p-value=0,019).Simpulan: Responden memanfaatkan media sosial sebagai strategi coping stress untuk melampiaskan stres yang meraka miliki dengan akivitas media sosial yang dilakukan berupa menonton video. Sehingga dibutuhkan peran instansti kesehatan dalam membuat promosi kesehatan yang menarik mengenai coping stress melalui media sosial agar pengguna media sosial dapat menggunakannya dengan bijak dan efisien.Kata kunci: Koping Stres; Media Sosial; Remaja  ABSTRACTTitle: Copimg Stress Strategy Using Social Media in Adolescents in Semarang CityBackground: Social media offers users a state of understanding and being understood, as well as instant connection with interactive and convenient public spaces. Social media as a coping strategy can help individuals gain access to sources of information and connect and get support from others when dealing with stressful situations. This study aims to determine how adolescents use social media as a strategy coping stress.Method: The research method uses aapproach cross sectional through quantitative observation. The population of this research is adolescents who live in the city of Semarang totaling 299,768 teenagers with a sample of 384 respondents using proportional purposive sampling technique. Data collection through questionnaire online.Result: Respondents were female (72.9%), and male (27.1%). Respondents who had a good practice using social media as a strategy coping stress are 57.8% and 42.2% are not good yet. The practice of using social media as astrategy coping stress related to the respondent's stress level (p-value= 0.003). In addition, the practice of using social media as a strategy coping stress related to the use of social media (p-value= 0.019).Conclusion: Respondents use social media as a strategy coping stress to vent the stress they have with social media activities carried out in the form of watching videos. So that it takes the role of health agencies in making attractive health promotions about coping stress through social media so that social media users can use them wisely and efficiently.Keywords: Coping Stress; Social Media; Adolescents
Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Kepatuhan Masyarakat terhadap Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19 di Desa Banyukuning, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang Yuliyanti, Fitria; Suryoputro, Antono; Fatmasari, Eka Yunila
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 5 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.5.334-341

Abstract

Latar belakang: Pemerintah Indonesia membentuk kebijakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus tersebut di seluruh Indonesia. Desa Banyukuning merupakan desa yang masih aktif dalam membuat sebuah acara pada masa pandemi COVID-19 dan ditemukan permasalahan terkait dengan kepatuhan protokol kesehatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor apa saja yang memiliki hubungan dengan kepatuhan masyarakat serta untuk melihat kondisi masyarakat Desa Banyukuning dalam tanggap pencegahan Covid-19.Metode: Metode penelitian menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden 96 orang yang dipilih dengan teknik quota/proporsional sampling.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, sarana prasarana, pengawasan, dan dukungan tokoh masyarakat memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan masyarakat dengan nilai p di bawah 0,05.Simpulan: Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memaksimalkan program “Jogo Tonggo” yang digalakkan oleh pemerintah daerah untuk menjaga sikap masyarakat yang waspada, peduli, dan informatif terhadap perkembangan Covid-19.Kata kunci: Kepatuhan; Pencegahan; Covid-19  ABSTRACTTitle: Factors Affecting Community Compliance toward Covid-19 Prevention Health Protocol in Banyukuning Village, Bandungan District, Semarang RegencyBackground: As part of an effort to reduce the spread of the virus throughout Indonesia, the Indonesian government established a health protocol policy for Covid-19 prevention. Banyukuning Village is a village that is still active in making events during the COVID-19 pandemic and problems related to compliance with health protocols. The purpose of this study is to discover what factors influence community compliance and to assess the community's readiness to respond to Covid-19 prevention in Banyukuning.Method: A quantitative research design with a cross-sectional approach was used in the research method. The total number of respondents was 96, and they were chosen using a quota / proportional sampling technique.Result: Gender, education level, infrastructure, supervision, and support from community leaders were found to have a significant relationship with community compliance, with a p value less than 0.05.Conclusion: One effort that can be made is to maximize the local government's "Jogo Tonggo" program in order to maintain an alert, caring, and informative attitude toward the development of Covid-19.Keywords: Compliance; Prevention; Covid-19
Hubungan Keragaman Pangan dengan Kecukupan Gizi dan Status Gizi Ibu Menyusui di Daerah Pertanian Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga Rofiana, Annisa Restu; Pradigdo, Siti Fatimah; Pangestuti, Dina Rahayuning
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 5 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.5.300-307

Abstract

Latar belakang: Pola makan beragam dan memenuhi kecukupan gizi akan mempengaruhi status gizi ibu menyusui. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan keragaman pangan dengan kecukupan gizi dan status gizi ibu menyusui di daerah pertanian Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga.Metode: Jenis penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 60 ibu menyusui bayi usia 0-6 bulan dengan pengambilan sampel secara purposive. Keragaman pangan diukur menggunakan MDD-W dari FAO, kecukupan gizi diukur menggunakan food recall 2x24 jam, status gizi menurut IMT dan ukuran LILA, serta persen lemak tubuh dihitung menggunakan rumus prediksi Paul Deurenberg. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dan Rank Spearman.Hasil: Ibu menyusui berusia 20-35 tahun, 61,7% menyelesaikan pendidikan dasar, 88,3% IRT, 86,7% menggunakan kontrasepsi hormonal, 63,3% pendapatan keluarga <UMR, 66,7% jumlah anggota keluarga ≥ 4 orang, rerata skor keragaman pangan 5,57 (beragam), tingkat kecukupan energi, tingkat kecukupan protein, tingkat kecukupan karbohidrat ≤89% AKG (kurang), tingkat kecukupan lemak 90-110% AKG (normal),  tingkat kecukupan vitamin A ≥77% AKG (cukup), 65% persen lemak tubuh normal, 48,3% IMT kategori obesitas, dan 96,7% tidak berisiko KEK. Ada hubungan keragaman pangan dengan tingkat kecukupan vitamin A (p=0,000). Ada hubungan tingkat kecukupan protein dengan LILA (p=0,024). Ada hubungan persen lemak tubuh dengan IMT (p=0,000) dan LILA (p=0,000). Tidak ada hubungan keragaman pangan dengan IMT (p=0,426) dan LILA (p=0,433).Simpulan: Status gizi ibu menyusui tidak dipengaruhi secara langsung oleh keragaman pangan, namun, dipengaruhi oleh tingkat kecukupan protein, vitamin A dan persen lemak tubuh.Kata kunci: Keragaman Pangan; Kecukupan Gizi; Status Gizi; Ibu Menyusui; Daerah Pertanian ABSTRACTTitle: Relationship between Food Diversity with Nutritional Adequacy and Nutritional Status of Breastfeeding Mothers in Agricultural Area of Karangreja, Purbalingga RegencyBackground: The nutritional intake of breastfeeding mothers is still less than the nutrition adequacy rate because this is due to a less diverse diet. Consumption of various foods must be by the nutritional needs to achieve an ideal nutritional status. This study aims to analyze the relationship between food diversity with nutritional adequacy and nutritional status of breastfeeding mothers in agricultural area of Karangreja, Purbalingga Regency.Method:This type of research is analytic observational with a cross sectional design. Sample of 60 breastfeeding mothers infants aged 0-6 months with purposive sampling. Measurement of food diversity variables using Minimum Dietary Diversity for Women (MDD-W) from FAO, nutritional adequacy using food recall 2x24 hours, nutritional status using Body Mass Index (BMI) and Mid Upper Arm Circumference (MUAC) measurements, and percent body fat using Paul Deurenberg's predictive formula. Data analysis used the Pearson correlation test and Rank Spearman.Result: The average food diversity score was 5.57(various); average energy adequacy, protein adequacy, carbohydrate adequacy level ≤89% RDA (lacking); average fat adequacy level 90-110% RDA (normal); average vitamin A adequacy level ≥77% RDA (adequate); as much as 65% percent of body fat is normal, 48,3% of BMI is obese, and 96.7% is not at risk of chronic energy deficiency. There was a relationship between food diversity and the adequacy level of vitamin A (p-value=0.001). There was a relationship between the protein adequacy level with MUAC (p-value=0.024). There was a relationship between percent body fat with BMI (p-value=0.001) and MUAC (p-value=0.001). There was no relationship between food diversity with BMI (p-value=0.426) and MUAC (p-value=0.433).Conclusion: Nutritional status of breastfeeding mothers was not directly affected by food diversity. However, it was influenced by protein adequacy level, vitamin A adequacy level, and percent of body fat.Keywords: Food  Diversity; Nutritional Adequacy; Nutritional Status, Breastfeeding Mothers; Agricultural Area