cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
Kemampuan Lysol dan Sodium Hipoklorit dalam Menurunkan Bakteri Pseudomonas aeruginosa dari Limbah Jarum Suntik di RS X Rosa Faradila; Nur Endah Wahyuningsih; Budiyono Budiyono
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.100-107

Abstract

Latar belakang: Masa simpan limbah B3 di RS X cenderung lebih dari 2 hari, proses penyimpanan tidak melalui pendinginan pada suhu 0oC dan seharusnya dilakukan desinfeksi. Limbah jarum suntik yang disimpan positif ditemukan bakteri Psedomonas aeruginosa. Lysol dan sodium hipoklorit merupakan desinfektan yang umum digunakan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penurunan jumlah koloni bakteri Pseudomonas aeruginosa dari limbah jarum suntik sebelum dan sesudah desinfeksi menggunakan lysol dan sodium hipoklorit pada berbagai konsentrasi dan durasi kontak.Metode: Jenis penelitian ini adalah quasi experiment. Limbah jarum suntik diambil dan dibilas dengan NaCl 0,85%. Suspensi bakteri dari bilasan limbah jarum suntik digunakan untuk menilai kemampuan lysol dan sodium hipoklorit dalam mengurangi populasi bakteri Pseudomonas aeruginosa setelah desinfeksi. Kepadatan populasi bakteri dihitung dengan menggunakan metode hitung cawan.Hasil: Persentase rata-rata efisiensi penurunan jumlah koloni bakteri pada lysol berkonsentrasi 1,5% dengan durasi kontak 1 menit, 5 menit dan 10 menit masing-masing yaitu 32,7%; 38,0% dan 64,1%. Laju daya bunuh lysol dengan konsentrasi 2,5% telah mencapai 100% sejak durasi kontak 1 menit. Pada sodium hipoklorit, laju daya bunuh mencapai 98,3%. Secara statistik tidak terdapat perbedaan rata-rata jumlah koloni bakteri Pseudomonas aeruginosa antara sebelum desinfeksi, setelah desinfeksi selama 1 menit, 5 menit dan 10 menit dengan lysol 1,5% dan sodium hipoklorit 0,0025.Simpulan: Lysol dan sodium hipoklorit mampu menurunkan bakteri P. aeruginosa dari limbah jarum suntik dengan efektivitas masing-masing 73,5% dan 98,3%. Kata kunci: Pseudomonas aeruginosa, limbah jarum suntik, lysol, sodium hipoklorit ABSTRACT Title: Efficacy of Lysol and Sodium Hypochlorite Against Pseudomonas aeruginosa Bacteria in Needles Waste at X Hospital Background: Storage time of hazardous wastes at X Hospital tent to more than two days, and the process going without cooling at 00C because of it the wastes should be disinfected. Needle waste that storage was positively found Psedomonas aeruginosa bacteria. Lysol and sodium hypochlorite are disinfectants that commonly used at hospital. This study aims to analyze the decrease number of colonies Pseudomonas aeruginosa bacteria from needle waste before and after disinfection using lysol and sodium hypochlorite in various concentration and duration contact.Method: The type of this study is quasi experiment. Needles waste is taken and rinsed with sterile normal saline. The bacterial suspension used to assess microbiological activities of lysol and sodium hypochlorite in reducing the population of Pseudomonas aeruginosa after disinfection. Bacterial population density was calculated using total plate countResult: The average percentage of efficiency decreased number bacterial colonies in lysol concentration 1.5% with duration contact 1 minute, 5 minutes and 10 minutes respectively 32.7%; 38,0% and 64.1%. Killing rate lysol 2.5% has reached 100% since 1 minute duration contact. Sodium hypochlorite’s killing rate reached 98.3%. Statistically there was no difference in the average number of colonies Pseudomonas aeruginosa bacteria before disinfection, after disinfection for 1 minute, 5 minutes and 10 minutes with lysol 1.5% and sodium hypochlorite 0.0025%.Conclusion: Lysol and sodium hypochlorite were effectively against P. aeruginosa bacteria in needles waste with effectiveness 73.5% and 98.3% respectively. Keywords: Pseudomonas aeruginosa, needle waste, lysol, sodium hypochlorite
Upaya Tanggap Darurat Kebakaran di Instalasi Gizi Sebuah Rumah Sakit Swasta Kota Semarang Bernadus Oktavian Widyantara; Hanifa Maher Denny; Bina Kurniawan
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.746 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.90-93

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Bangunan rumah sakit adalah bangunan yang memiliki risiko kebakaran tinggi. Hal ini berdasarkan hasil identifikasi ditemukan sumber utama penyebab kebakaran. Seperti penggunaan peralatan listrik, korsleting arus listrik, menggunakan tabung gas bertekanan, menggunakan berbagai bahan kimia cair dan padat yang mudah terbakar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mendalam tentang upaya tanggap darurat kebakaran di instalasi nutrisi rumah sakit swasta di kota Semarang.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. 4 informasi utama dan triangulasi 2 instrumen orang. Dalam penelitian ini menggunakan pedoman wawancara mendalam dan lembar observasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Pedoman Teknologi untuk Manajemen Perlindungan Kebakaran di Wilayah Perkotaan.   Hasil: Hasil wawancara yang dilakukan terhadap informan utama mengenai organisasi tanggap darurat diperoleh hasil bahwa seluruh informan menyatakan bahwa rumah sakit membentuk tim penanggulangan kebakaran (TPK), manajemen kebakaran terkait unit bangunan rumah sakit memiliki tim penanggulangan kebakaran dan penanggung jawab rumah sakit. Sarana proteksi aktif kebakaran di sebuah rumah sakit swasta kota Semarang khususnya instalasi gizi belum terdapat system proteksi aktif alarm, detektor dan sprinkler. Sarana penyelamatan jiwa di sebuah rumah sakit swasta kota Semarang belum terdapat pintu darurat dan tangga daruratSimpulan: Sistem manajemen kebakaran secara umum sesuai. Sistem proteksi kebakaran aktif dan sarana menyelamatkan nyawa di rumah sakit swasta di kota Semarang khususnya dalam instalasi nutrisi belum sepenuhnya terpenuhi. Kata kunci: upaya tanggap darurat kebakaran, instalasi gizi, rumah sakit.ABSTRACT Title: Fire Emergency Response Efforts At The Nutrition Installation Of A Private Hospital In Semarang City Background: Hospital buildings are buildings that have a high risk of fire. It is based on the results of identification found the main source of the cause of the fire. Such as the use of electrical equipments, short circuit of electric current, using pressurized gas cylinders, using various of liquid and solid chemicals that are flammable. The purpose of the research is to get deep information about fire emergency response efforts at the nutrition installation of a private hospital in Semarang city.Method: This research is a descriptive study with a qualitative approach. 4 main informations and triangulation of 2 instruments people. In this study using in depth interview guidelines and observation sheets. Based on the Ministerial Regulation of Public Works on Technological Guidelines for Fire Protection Management in Urban AreasResult: The results of interviews conducted with key informants regarding emergency response organizations obtained the results that all informants stated that the hospital formed a fire prevention team (TPK), fire management related to hospital building units has a fire prevention team and the person in charge of the hospital. Active fire protection facilities in a private hospital in the city of Semarang, especially the nutritional installation, there is no active protection system for alarms, detectors and sprinklers. Means of saving lives in a private hospital in the city of Semarang do not yet have an emergency exit and emergency stairs 
Hubungan Asupan Gizi dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi (Skor z IMT/U) Anak Usia 7-12 Tahun Penyandang Disabilitas Intelektual di Kota Semarang Annisa Fadillah; Laksmi Widajanti; Sri Achadi Nugraheni
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.108-115

Abstract

Latar belakang: Malnutrisi dan disabilitas merupakan masalah utama kesehatan global. Prevalensi anak disabilitas intelektual di Indonesia meningkat dari 0,92 % menjadi 2,45 %. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada hubungan asupan gizi dan aktivitas fisik dengan status gizi anak disabilitas intelektual di Kota Semarang.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan total sampling dan dilakukan di SLB Negeri Kota Semarang. Sampel terdiri dari siswa SDLB kelas 1-6 yang berumur 7-12 tahun. Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 46 orang.Hasil: Berdasarkan hasil penelitian diketahui status gizi anak disabilitas intelektual tergolong normal (56,5 %). Anak disabilitas intelektual mengalami defisit energi, karbohidrat, lemak, besi, seng, kalsium, iodium, dan vitamin C. Dan memiliki asupan gizi kategori baik untuk asupan protein dan vitamin A. Hasil uji statistik Rank Spearman menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara asupan karbohidrat, besi, seng, kalsium, iodium, vitamin A, vitamin C dan aktivitas fisik dengan status gizi (skor z IMT/U) (p>0,05). Ada hubungan asupan energi dan protein dengan status gizi (skor z IMT/U) (p=0,005, r=0,40;  p=0,001, r=0,53) dengan korelasi sedang dan arah positif. Ada hubungan asupan lemak dengan status gizi (skor z IMT/U) (p=0,001, r=-0,4) dengan korelasi sedang dan arah negatif.Simpulan: Ada hubungan antara tingkat kecukupan energi, protein dan lemak dengan status gizi anak penyandang disabilitas intelektual dan tidak terdapat hubungan antara tingkat kecukupan karbohidrat, besi, seng, iodium, kalsium, vitamin A, vitamin C dan aktivitas fisik dengan status gizi anak disabilitas intelektual di Kota Semarang. Kata kunci: Asupan Gizi, Aktivitas Fisik, Status Gizi, Disabilitas Intelektual. ABSTRACT Title: Relationship of nutritional intake and physical activities with nutritional status (score z imt/u ) children age 7-12 years of intellectual disability in semarang city Background: Malnutrition and disability are the main problems of global health. The prevalence of children with intellectual disabilities in Indonesia increased from 0.92% to 2.45%. This study aimed to determine the relationship between nutritional intake and physical activity with the nutritional status of children with intellectual disabilities in the city of Semarang.Method: This was cross sectional research and conducted in Semarang State SLB. The sample consisted of SDLB students in grades 1-6 who were 7-12 years old. The number of samples used was 46 people. Result: Based on the results of the study, it was found that the nutritional status of children with intellectual disabilities was classified as normal (56.5%). Intellectual disability children have deficits in energy, carbohydrate, fat, iron, zinc, calcium, iodine, and vitamin C and have good nutrition for the intake of protein and vitamin A. The results of the Spearman Rank statistical test sowed that there was no relationship between carbohydrate intake, iron, zinc, calcium, iodine, vitamin A, vitamin C and physical activity with nutritional status (BMI/U z score) (p> 0.05). There was correlation between energy and protein intake with nutritional status (IMT / U z score) (p = 0.005, r = 0.40; p = 0.001, r = 0.53) with moderate correlation and positive direction. There was a correlation between fat intake and nutritional status (IMT / U z score) (p = 0.001, r = -0.4) with moderate correlation and negative direction.Conclusion: There is a relationship between the level of adequacy of energy, protein and fat with the nutritional status of children with intellectual disabilities and there is no relationship between the level of adequacy of carbohydrates, iron, zinc, iodine, calcium, vitamin A, vitamin C and physical activity with the nutritional status of children with intellectual disabilities in the City Semarang. Keywords: nutritional intake, physical activity, nutritional status, intellectual disability
Hubungan Ritme Circadian dan Kebisingan terhadap Fatigue pada Pekerja PT APAC Inti Corpora (Studi kasus dilaksanakan pada Unit Spinning 1 Bagian Ring Frame Sub.Bagian Doving) Vonty Sulistyo Indah Sari; Yuliani Setyaningsih; Suroto Suroto
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.334 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.116-120

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Kelelahan kerja merupakan respons tubuh tiap individu terhadap stress psikososial yang dialami dalam satu waktu tertentu. Kelelahan kerja tidak hanya berupa kelelahan fisik dan psikis, namun berkaitan dengan penurunan kinerja fisik perasaan lelah, penurunan motivasi, dan penurunan produktivitas kerja. Kelelahan dapat disebabkan karena faktor circadian rhythm, lingkungan, intensitas dan lama kerja fisik dan mental, problem fisik, kenyerian dan kondisi kesehatan, dan nutrisi. Pekerja pada unit spinning 1 bagian ring frame sub bagian doving PT. APAC INTI CORPORA memiliki risiko mengalami kelelahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara ritme circadian dan kebisingan dengan fatigue (kelelahan) kerja pada pekerja.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan studi cross-sectional. Sampel adalah seluruh populasi yang berjumlah 45 pekerja pada unit spinning 1 bagian ring frame sub bagian doving dengan pekerjaan yaitu memanen hasil pemintalan benang. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner baku kualitas tidur untuk variabel ritme circadian dan kesioner baku IFRC untuk variabel terikat kelelahan serta lembar observasi untuk pengukuran kebisingan dengan alat sound level meter.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang mengalami fatigue (kelelahan) tingkat sedang sebanyak 64.4%. Responden dengan gangguan ritme circadian sebanyak  91.1% dan hasil pengukuran kebisingan tertinggi ialah 94 Db. Hasil analisis chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara ritme circadian (p = 0.009 ) dan kebisingan (p = 0.025) dengan fatigue. Tidak terdapat hubungan antara usia (p = 0.544) dan riwayat penyakit (p = 0.577) dan masa kerja (0.399%).Simpulan: Terdapat hubungan antara  ritme circadian dan kebisingan terhadap Fatigue (kelelahan) pada pekerja, dan tidak terdapat hubungan antara usia, riwayat penyakit dan masa kerja terhadap Fatigue (kelelahan) pada pekerja di Unit Spinning 1 Bagian Ring Frame Sub.Bagian Doving, PT. APAC INTI CORPORA Kata kunci: Kelelahan , ritme circadian, kebisingan.ABSTRACT Title: Relationship of Circadian Rhythm and Noise to Fatigue in PT APAC INTI CORPORA Workers (Case study carried out in Spinning Unit 1 Ring Frame Sub Part Doving Section) Background: Work fatigue is the response of the body of each individual to psychosocial stress experienced in a certain time. Work exhaustion is not only physical and psychological fatigue, but is related to a decrease in physical performance feeling tired, decreased motivation, and decreased work productivity. Fatigue can be caused by circadian rhythm factors, environment, intensity and duration of physical and mental work, physical problems, health and health conditions, and nutrition. Workers on spinning unit 1 part of ring frame sub section doving PT. APAC INTI CORPORA has the risk of experiencing fatigue. This study aims to analyze the relationship between circadian rhythm and noise with work fatigue inworkers. Method: The type of research used is quantitative by using a cross-sectional study. The sample is the entire population of 45 workers in the spinning unit 1 part of the frame of the doving sub-section with the work of harvesting the spinning yarn. The instruments in this study were the sleep quality standard questionnaire sheet for the circadian rhythm variable and the IFRC standard questionnaire for the fatigue-dependent variable and the observation sheet for noise measurement with a sound level meter. The instruments in this study were the sleep quality standard questionnaire sheet for the circadian rhythm variable and the IFRC standard questionnaire for the fatigue-dependent variable and the observation sheet for noise measurement with a sound level meter.Result: The results of the chi-square analysis showed that there was a relationship between circadian rhythm (p = 0.009) and noise (p = 0.025) with fatigue. There was no relationship between age (p = 0.544) and history of sickness (p = 0.577) and working hours (0.399). Based on the results of the study, the company is advised to pay attention to the noise level in the work environment and conduct noise control both in noise sources, administratively and directly to workers through the use of personal protective equipment (PPE).Conclusion: There is a relationship between circadian rhythm and noise on Fatigue (fatigue) of workers, and there is no relationship between age, history of illness and working period of Fatigue (fatigue) of workers in Spinning Unit 1 Ring Frame Sub Section. Doving Section, PT. APAC INTI CORPORA Keywords: Fatigue, circadian rhythm, noise
Studi Prevalensi Kejadian Hipertensi pada Petani di Dusun Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang Aqmariza Wisnu Wijayanti; Suhartono Suhartono; Tri Joko
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.94-99

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Penggunaan pestisida yang cukup tinggi di Indonesia dalam rangka melindungi tanaman dan meningkatkan hasil panen, meningkatkan peluang masuknya pestisida ke dalam tubuh petani. Pestisida dapat menghambat kerja enzim kolinesterase dalam menguraikan asetilkolin dan menumpuk di pembuluh darah yang akan menghasilkan tekanan darah tinggi maupun rendah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui prevalensi kejadian hipertensi pada petani di Dusun Candi akibat dari penggunaan pestisida.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif- analitik dengan desain study cross- sectional. Sampel yang diteliti sebanyak 62 responden yang diambil dengan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti diantaranya lama penyemprotan, frekuensi penyemprotan, IMT, keterlibatan dalam pertanian, umur, status merokok dan kelengkapan dalam penggunaan APD. Analisis data menggunakan uji Chi- square.   Hasil: : Hasil pengukuran tekanan darah pada petani di Dusun Candi diperoleh sebanyak 74,2% hipertensi, yang berumur ≥ 40 tahun sebanyak 58,1%, responden merokok sebanyak 79,0%, dan responden dengan IMT di atas normal sebanyak 22,6%. Hasil uji bivariate diperoleh variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian hipertensi adalah lama penyemprotan (p = 0,010), status merokok (p = 0,028), IMT (p = 0,013), APD (p = 0,025).Simpulan: Lama penyemprotan, status merokok, kelengkapan APD dan IMT pada petani memiliki hubungan dengan hipertensi pada petani. Kata kunci: Hipertensi, tekanan darah, pestisida. ABSTRACT  Title: Prevalence Study of Hypertension Incident among Farmer in Candi Hamlet, Bandungan District, Semarang Regency Background: The use of pesticides that are quite high in Indonesia in order to protect crops and increase crop yields increases the chances of pesticides entering the farmer's body. Pesticides can inhibit the action of cholinesterase enzymes in breaking down acetylcholine and accumulating in blood vessels that will produce high and low blood pressure. The purpose of this study was to determine the prevalence of hypertension in farmers in Candi Hamlet due to the use of pesticides.Method: This study was a descriptive-analytic study with a cross-sectional study design. The samples studied were 62 respondents taken by purposive sampling technique. Variables studied included length of spraying, frequency of spraying, BMI, involvement in agriculture, age, smoking status and completeness in the use of PPE. Data analysis using Chi-square test.Result: The results of blood pressure measurements on farmers in Candi Hamlet were 74.2% of hypertension, those aged ≥ 40 years were 58.1%, smoking respondents were 79.0%, and respondents with BMI above normal were 22.6% . The bivariate test results obtained variables that had a significant relationship with the incidence of hypertension were the duration of spraying (p = 0.010), smoking status (p = 0.028), BMI (p = 0.013), PPE (p = 0.025).Conclusion: The duration of spraying, smoking status, completeness of PPE and BMI on farmers has a relationship with hypertension in farmers. Keywords: Hypertension, blood pressure, pesticides 
Analisis Efektivitas Insinerator terhadap Pengolahan Limbah Padat Medis Rumah Sakit Tipe A dan Tipe B di Jakarta Andika Rizki Khabibimuna; Nur Endah Wahyuningsih; Mursid Rahardjo
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.177-183

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan jumlah rumah sakit tidak diimbangi dengan peningkatan fasilitas pengolahan limbah yang dihasilkannya. Masalah pada pengolahan limbah menggunakan alat insinerator yaitu tidak sesuai dengan spesifikasi berdasarkan regulasi yang tidak memiliki izin pengelolaan limbah B3, belum semua abu sisa pembakaran limbah B3 menggunakan alat insinerator dikelola dengan benar, belum melakukan Uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) pada abu sisa pembakaran, dan memperhatikan emisi udara insinerator agar tidak menimbulkan emisi udara.Metode: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa dan mengetahui efektivitas kinerja insinerator terhadap pengolahan limbah padat medis rumah sakit tipe A dan tipe B di Jakarta. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini diambil menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari informan utama yaitu kepala bagian sanitasi dan operator insinerator, sedangkan informan triangulasi yaitu staf bagian sanitasi dan cleaning service.Hasil: Hasil penelitian menunjukan variabel input yaitu karakteristtik limbah sudah sesuai dengan pedoman sedangkan terdapat hambatan yang ditemukan pada tahapan proses pengoperasian yaitu bagian persiapan limbah medis, pengumpan limbah medis, dan operator insinerator. Sedangkan tahapan output terdapat hambatan pada efisiensi penghancuran dan penghilangan yang belum sesuai dengan baku mutu. Dengan adanya hambatan pada suhu pembakaran yang belum sesuai dapat mempengaruhi keefektivitasan insinerator.Kesimpulan : Pengolahan limbah padat medis dengan insinerator pada Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso dengan nilai akhir keefektivitasan insinerator yaitu 83,6% sedangkan Rumah Sakit TNI AL Dr. Mintohardjo dengan nilai akhir keefektivitasan insinerator yaitu 75,4%.Kata Kunci : Efektivitas, Pengolahan Limbah Padat Medis, Rumah Sakit, Insinerator ABSTRACT Title: Analysis of the effectiveness of incinerators on the treatment of Type A and Type B Hospital Medical Solid Waste in Jakarta Background: The increasing number of hospitals is not balanced by the increase in the waste processing facilities it produces. Problems in the treatment of waste using incinerator is not in accordance with the specifications based on regulations that do not have B3 waste management permits, not all remaining Ashes B3 waste combustion using incinerator tools managed with Correct, have not carried out the Characteristic Leaching Procedure (TCLP) Toxicity test on the remaining ash of combustion, and pay attention to the air emission incinerator in order not to cause air emissions. Method: The purpose of this research is to analyse and determine the effectiveness of incinerator performance towards the medical solid treatment of type A hospital and type B hospitals in Jakarta. This type of research is a qualitative descriptive observational research. The subject of this study was taken using purposive sampling technique consisting of main informant that is head of sanitation and incinerator operator, while the triangulation informant is the staff of sanitation and cleaning service. Results: The results of the study showed that the input variable of waste is in accordance with the guidelines while there are obstacles found in the stage of the operation process namely medical waste preparation, medical waste feeder, and operator Incinerators. While the stage of output there are barriers to the efficiency of destruction and removal that has not conform to quality standards. Due to barriers to unsuitable combustion temperatures can affect the effectiveness of incinerators.Conclusion: Treatment of solid medical waste with incinerator at hospital infectious Diseases Prof. Dr. Sulianti Saroso with the end value of the effectiveness of incinerator is 83.6% while TNI AL hospital Dr. Mintohardjo with final value Effectiveness of the incinerator is 75.4%.Keywords: Effectiveness, Medical Solid Waste Treatment, Hospital, Incinerator
Efek Kafein Dosis Bertingkat terhadap Epitelisasi dan Densitas Mikrovaskuler pada Penyembuhan Luka Full Thickness Skin Graft AutologusTikus Sprague Dawley Aditya Purnama; Neni Susilaningsih; Awal Prasetyo
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.121-126

Abstract

Latar belakang : Skin graft saat ini menjadi salah satu terapi pilihan pada proses penyembuhan luka yang selalu berkembang. Proses epitelisasi dan pembentukan pembuluh darah baru memiliki peran penting dalam penyembuhan luka skin graft. Kandungan kafein (1,3,7 trimethylxanthine) sebagai antioksidan memiliki peran yang penting dalam penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini adalah membuktikan efek kafein dalam berbagai dosis dalam meningkatkan densitas mikrovaskuler dan epitelisasi pada luka skin graft.Metode : Penelitan ini adalah studi eksperimental dengan “Blinded randomized post test only controlled group design” terhadap 24 ekor tikus Sprague Dawley dilakukan skin graft autologous pada waktu yang bersamaan. Sampel dibagi secara acak menjadi 4 grup (K = tanpa pemberian kafein), (P1= Kafein 3 mg), (P2 = Kafein 6 mg), (P3 = Kafein 9 mg).Penilaian prosentase epitelisasi dan jumlah densitas mikrovaskuler jaringan dilakukan dengan pengecatan hematoxylin & eosin setelah hari ke 7 pasca skin graft.Hasil : Analisis statistik perbandingan prosentase epitelisasi jaringan didapatkan didapatkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kelompok K vs PI ( p = 0,003 ), K vs P2 (p = 0,001), K vsP3 (p = 0,001), P1 vs P2 (p = 0,001), P1 vs P3 (p = 0,001). Perbedaan yang tidak bermakna didapatkan antara kelompok P2 vs P3 (p = 0,669) dan pada jumlah densitas mikrovaskuler, didapatkan perbedaan yang bermakna antara kelompok K vs P2 (p = 0,010), K vs P3 (p = 0,008), P1 vs P2 (p = 0,009), P1 vs P3 (p = 0,007), P2 vs P3 (p = 0,008). Perbedaan yang tidak bermakna didapatkan antara kelompok K vs P1 (p = 0,343).Kesimpulan :Kafeindapat meningkatkanprosentase epitelisasi dan jumlah densitas mikrovaskuler jaringan pada proses penyembuhan luka skin graft autologus tikus Sprague Dawley.Kata Kunci : Kafein, skin graft autologus, epitelisasi, densitas mikrovaskuler ABSTRACTTitle: Effects of Increased Dose Caffeine on Epithelialization and Microvascular Density in the Healing of Full Thickness Skin Graft Autologous Sprague Dawley Mouse Background: Skin graft is currently one of the therapies of choice in the healing process of wounds that always develops. The process of epithelialization and formation of new blood vessels has an important role in healing skin graft wounds. Caffeine content (1,3,7 trimethylxanthine) as an antioxidant has an important role in wound healing. The aim of this study is to prove the effects of caffeine in various doses in increasing microvascular density and epithelialization in skin graft injuries.Method: This research is an experimental study with a "Blinded randomized post test only controlled group design" of 24 Sprague Dawley rats by autologous skin graft at the same time. Samples were randomly divided into 4 groups (K = no caffeine), (P1 = Caffeine 3 mg), (P2 = Caffeine 6 mg), (P3 = Caffeine 9 mg). The assessment of the percentage of epithelialization and the amount of tissue microvascular density was done by painting hematoxylin & eosin after 7 days after skin graft.Results: Statistical analysis of the comparison of tissue epithelialization percentage found significant differences between groups K vs PI (p = 0.003), K vs P2 (p = 0.001), K vsP3 (p = 0.001), P1 vs P2 (p = 0.001) , P1 vs P3 (p = 0.001). No significant difference was found between the P2 vs P3 group (p = 0.669) and in the total microvascular density, a significant difference was found between the K vs P2 group (p = 0.010), K vs P3 (p = 0.008), P1 vs P2 (p = 0.009), P1 vs P3 (p = 0.007), P2 vs P3 (p = 0.008). No significant difference was found between the K vs P1 groups (p = 0.343).Conclusion: Caffeine can increase the percentage of epithelialization and the amount of tissue microvascular density in the healing process of autologous skin grafts of Sprague Dawley rats.Keywords: Caffeine, autologous skin graft, epithelialization, microvascular density
Perbedaan Kelelahan Kerja pada Penanganan Prasarana dan Sarana Umum dengan Karakteristik Lingkungan yang Berbeda Agatha Medeline; Ari Suwondo; Siswi Jayanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.152-157

Abstract

Latar Belakang: Kelelahan kerja pada pekerja dapat berpengaruh terhadap penurunan produktivitas kerja, masalah kesehatan, dan kejadian kecelakaan kerja. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mempunyai risiko kelelahan kerja akibat pekerjaan yang padat. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa tingkat kelelahan berasal dari karakteristik lingkungan yang berbeda, berdasarkan wilayah, kepadatan penduduk, dan volume sampah tiap harinya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbedaan kelelahan kerja ditinjau berdasarkan karakteristik wilayah pada PPSU.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah PPSU di Pinangsia (padat) dengan 98 orang dan Krukut (tidak padat) dengan 48 orang. Sampel penelitian ini dipilih dari simple random sampling dari 50 PPSU di Pinangsia dan 32 PPSU di Krukut. Pengukuran yang dilakukan pada pekerja adalah kelelahan kerja dengan timer reaksi, beban kerja fisik dengan pulse oxymeter, status gizi dengan indeks massa tubuh (BMI), beban kerja mental dengan NASA-TLX, asupan energi menggunakan recall 24 jam dan kebisingan dengan sound level meter.Hasil: Berdasarkan hasil uji Mann Whitney disimpulkan bahwa ada perbedaan kelelahan kerja di PPSU dengan karakteristik lingkungan yang berbeda (p-value = 0,008). Sementara berdasarkan hasil uji rank spearman disimpulkan bahwa ada hubungan antara beban kerja fisik di PPSU di Pinangsia (sig = 0,005), PPSU di Krukut sig = 0,002) dan asupan energi di PPSU di Pinangsia (sig = 0,000) , PPSU di Krukut (sig = 0,008) dengan kelelahan kerja, bahwa tidak ada hubungan antara beban mental pada PPSU di Pinangsia (sig = 0,199) dan PPSU di Krukut (sig = 0,660), status gizi di PPSU di Pinangsia (sig = 0,734 ) dan PPSU di Krukut (sig = 0.647) dengan kelelahan kerja.Simpulan: Karakteristik lingkungan berhubungan dengan kelelahan kerjaKata kunci: kelelahan kerja, Pinangsia, Krukut, beban kerja fisik, asupan energi ABSTRACT Title: Differences in Work Fatigue in Handling Public Infrastructure and Facilities with Different Environmental Characteristics Background: Work fatigue experienced by workers can result in a decrease in work productivity, health problems, and the incidence of workplace accidents. In Handling Public Infrastructure and Facilities (PPSU) there are risk factors for work fatigue that come from the workload. A research that the level of fatigue comes from different environmental characteristics based on area, population density and volume of waste per day. This research aimed to determine differences in work fatigue based on environmental characteristics in PPSU. Method: This research was an observational analitic study with cross sectional study approach. The population from this research were PPSU in the Pinangsia (dense) with 98 people and Krukut (not dense) with 48 people. The sample of this research was chosen from simple random sampling from of 50 PPSU in Pinangsia and 32 PPSU in Krukut. The Measurements carried out on workers are work fatigue with a reaction timer, physical workload with pulse oxymeter, nutritional status with body mass index (BMI), mental workload withn NASA-TLX, energy intake using 24-hour recall and noise with sound level meters. Result: Based on the results of the Mann Whitney test it was concluded that there were differences in work fatigue in PPSU with different environmental characteristics (p-value = 0.008).  While based on the results of the rank spearman test it was concluded that there was a relationship between physical workload at PPSU in Pinangsia (sig = 0.005), PPSU in Krukut sig = 0.002) and energy intake in PPSU in Pinangsia (sig = 0.000), PPSU in Krukut (sig = 0.008) with work fatigue, that there is no relationship between mental burden on PPSU in Pinangsia (sig = 0.199) and PPSU in Krukut (sig = 0.660), nutritional status in PPSU in Pinangsia (sig = 0.734) and PPSU in Krukut (sig = 0.647) with work fatigue.Conclusion: Environmental characteristic related to work fatigue.Keywords: work fatigue, Pinangsia, Krukut, physical workload, energy intake
Pengetahuan Ibu Hamil Dapat Meningkatkan Perilaku Pemeriksaan Antenatal Care Terintegrasi Tri Sunarsih; Indah Permatasari; Mita Meilani
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.127-133

Abstract

Latar belakang :Pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care) penting diketahui oleh ibu hamil karena dapat membantu mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Kematian dan kesakitan ibu masih merupakan masalah kesehatan yang serius di negara berkembang. Angka Kematian Ibu di Indonesia yaitu 190 per 100.000 kelahiran hidup. Ibu hamil di anjurkan untuk melakukan pengawasan antenatal sedikitnya sebanyak 4 kali, yaitu satu kali pada trimester 1, satu kali pada trimester II , dan dua kali pada trimester III. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang pelayanan antenatal care terintegrasi Di Puskesmas Mlati II Sleman Yogyakarta.Metode: Metode penelitian yang digunakan penelitian kuantitatif jenis explanatory study. Pelaksanaan penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan ibu hamil TM II dan TM III yang berjumlah 80 ibu hamil. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji statistik Kendall's tau.Hasil: Hasil penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang pelayanan antenatal care terintegrasi Nilai signifikansi sebesar 0.457 > α (0.05) dan nilai korelasi menunjukkan -0, 075. Sebagian besar responden merupakan ibu dengan tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pelayanan Antenatal Care Terintegrasi kategori cukup .Hendaknya ibu hamil lebih rutin memeriksakan kehamilannya sesuai dengan konsep pelayanan antenatal care yang berkualitas sesuai standar 10T serta tenaga kesehatan lebih meningkatkan kualitas dalam memberikan pelayanan antenatal care terintegrasi dan lebih memberi motifasi ibu untuk lebih sering membaca buku KIA sehingga ibu dapat memahami informasi yang di dalam buku KIA.Kata kunci : Pengetahuan, Perilaku, Ibu Hamil, Pelayanan Antenatal Care Terintegrasi ABSTRACTTitle : Knowledge of Pregnant Women Can Improve Behavior Integrated Antenatal Care Examination Background: Pregnancy checks (Antenatal Care) are important for pregnant women to know because they can help reduce maternal and infant mortality. Maternal mortality and illness is still a serious health problem in developing countries. The maternal mortality rate in Indonesia is 190 per 100,000 live births. Pregnant women are advised to carry out antenatal supervision at least 4 times, namely once in the first trimester, once in the second trimester, and twice in the third trimester. The objective of the study was to investigate the correlation between knowledge and behavior of pregnant woman about integrated antenatal care checks in Health Centre Mlati II Sleman Yogyakarta. Mathod: Quantitative research type explanatory study. The study uses a survey method with a cross sectional approach..Sample taking used purposive sampling with 80 pregnant women as the respondents. Kendall’s tau test was used to analyze the data. Result: The result of the study showed that is no significant relationship between knowledge and behavior of pregnant women about integrated antenatal care services. The significance value is 0.457> α (0.05) and the correlation value shows -0, 075. Most of the respondents were pregnant mothers with knowledge about integrated antenatal care services. Enough categories of pregnancy. Pregnant women should check their pregnancies more regularly in accordance with the concept of quality antenatal care services in accordance with the 10T standard and improve quality in providing integrated antenatal care services. motivate mothers to read MCH books more often so that mothers can understand the information in the KIA book.Keywords : Knowledge, Behavior, Pregnant Women, Integrated Antenatal Care 
Studi Prevalensi Kejadian Keracunan Pestisida Pada Petani Penyemprot Bawang Merah Desa Karang Tengah Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk Fitriana Fitriana; Suhartono Suhartono; Yusniar Hanani Darundiati
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.158-164

Abstract

Latar belakang: Desa Karang Tengah, Bagor, Nganjuk merupakan salah satu penghasil bawang merah yang menggunakan pestisida masih tinggi terutama pestisida anorganik. Hasil studi pendahuluan, 65% petani tidak menggunakan peralatan pelindung penuh saat menyemprot dan rata-rata petani melakukan penyemprotan 3-4x dalam seminggu padahal frekuensi penyemprotan yang dianjurkan maximal 2x seminggu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi keracunan pestisida  petani penyemprotan bawang merah di Desa Karang Tengah Kecamatan Bagor kabupaten Nganjuk.Metode: Populasi penelitian ini adalah petani penyemprot bawang merah Desa Karang Tengah. Sampel penelitian dengan teknik purposive sampling berjumlah 35 responden.Hasil: Hasil pemeriksaan kadar cholinesterase menunjukkan 20% responden tidak normal. Hasil penelitian dari tiga variabel independen, frekuensi penyemprotan, kelengkapan alat pelindung diri , anemia tidak ada hubungan bermakna dengan kadar cholinesterase yang lebih rendah dalam darah petani, tetapi berdasarkan nilai signifikansi dan RP (Prevalence Ratio ) tingkat pengetahuan (α=0,012,PR = 11,5; 95% CI = 1,7 - 77,2), dan lama paparan (α=0,033,PR = 7,5; 95% CI = 1.2–47,7), jumlah jenis  pestisida (α=0,021,PR = 9,2; 95% CI = 1,4-59,6), dosis pestisida (α=0,033, PR = 8,0; 95% CI = 1,3 - 50,0), waktu terakhir menyemprot (α=0,001, korelasi koefisien 0,546(kuat)) terdapat hubungan dengan rendahnya tingkat cholinesterase.Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat pengetahuan, lama paparan, jumlah jenis pestisida, dosis pestisida, waktu terakhir menyemprot berhubungan terhadap kejadian keracunan pestisida dengan penurunan kadar cholinesterase darah petani di Desa Karang Tengah, kecamatan Bagor, kabupaten Nganjuk.Kata kunci: paparan pestisida, kadar kholinesterase, Nganjuk ABSTRACT Title: Prevalence Study of Pesticide Poisoning in Onion Spraying Farmers Karang Tengah Village Bagor District Nganjuk RegencyBackground: Karang Tengah village, Bagor, Nganjuk is one of the producers of onions which uses high pesticides, especially inorganic pesticides. The results of the preliminary study showed that 65% of farmers did not use full protective equipment while spraying and the average farmer sprayed 3-4 times a week even though the recommended frequency of spraying was 2x a week. The purpose of this study was to determine the prevalence of pesticide poisoning by farmers spraying onions in Karang Tengah Village, Bagor Subdistrict, Nganjuk District.Method: The population of the study was farmers spraying onions in Karang Tengah village. Samples of this study with purposive sampling were 35 respondents . Result: The results of examination of cholinesterase levels showed that 20% of respondents were lower. And the result of three independent variables, frequency of spraying, completeness of personal protective equipment used, anemia had no significant association with lower cholinesterase levels in the blood of farmers, but based on the value of significance value and RP (Prevalence Ratio) level of knowledge (α=0,012, PR = 11.5; 95% CI = 1.7 - 77.2), and length of exposure (α=0,033, PR = 7.5; 95% CI = 1.2–47.7), number of types of pesticides (α=0,021, PR = 9.2; 95% CI = 1.4- 59.6), pesticide dosage (α=0,033 PR = 8.0; 95% CI = 1.3 - 50.0), last time spraying α = 0.001, correlation coefficient 0.546 (strong) had significant realtionship  for low levels of cholinesterase. Conclusion: The conclusion of this research is the level of knowledge, length of exposure, number of pesticides, the dose of pesticides, last time spraying are related to the incidence of pesticide poisoning with a decrease in blood cholinesterase levels of farmers in Karang Tengah village, Bagor subdistricts, Nganjuk districts. Keywords: pesticides exposure, level of cholinesterase, Nganjuk

Page 8 of 29 | Total Record : 283