cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
Kesiapan Perubahan Puskesmas Rawat Jalan menjadi Puskesmas Rawat Inap dan Potensi Kebijakan Diskresi di Puskesmas Sawangan II Kabupaten Magelang Yunita Arisanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.134-140

Abstract

Latar belakang: Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 menargetkan untuk menambah 9 puskesmas rawat inap baru sampai dengan tahun 2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor perubahan dari lingkungan internal dan eksternal organisasi Puskesmas Sawangan II dalam proses menjadi rawat inap, mengidentifikasi manfaat perubahan bagi individu dan organisasi, dan mengidentifikasi kesiapan puskesmas untuk berubah status menjadi rawat inap dari level individu dan organisasi.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi variabel yang berhubungan dengan masalah penelitian dan kerangka konsep dari puskesmas rawat jalan yang akan berubah status menjadi rawat inap. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini mengambil tempat di Puskesmas Sawangan II yang dalam tahap persiapan menuju status ”Rawat Inap” di Kabupaten Magelang, waktu penelitian dilaksanakan selama satu bulan di bulan Januari 2019. Subyek penelitian ini berasal dari lingkungan internal dan eksternal Puskesmas Sawangan II.Hasil : Faktor perubahan di lingkungan eksternal dan internal yang dapat menjadi Kelemahan dan ancaman yang paling vital dalam perubahan organisasi di Puskesmas Sawangan II yaitu jumlah SDM, pendapatan Puskesmas Sawangan II yang rendah, kebutuhan sarana dan prasarana yang masih minimalis, pengembangan kapasitas SDM yang kurang pelatihan karena anggaran BLUD yang terbatas, terhambatnya regulasi berupa peraturan bupati untuk pemenuhan SDM, Anggaran dari APBD Kabupaten Magelang yang terbatas untuk pemenuhan sarana, prasarana dan alat kesehatan puskesmas rawat inap. Individu di Puskesmas Sawangan II tidak dapat langsung menerima dan siap dengan perubahan, namun tidak dapat pula menentang adanya perubahan secara langsung karena menganggap perubahan tersebut adalah kewajiban sebagai ASN yang harus dilaksanakan dengan segala konsekuensinya.Simpulan : Kelemahan dan ancaman di lingkungan internal dan eksternal Puskesmas Sawangan II menyebabkan ketidaksiapan individu dan organisasi dalam menjalankan perubahan menjadi rawat inap.Kata Kunci : Kesiapan Perubahan (readiness to change), manfaat perubahan, lingkungan internal dan eksternal, street level bureaucracyABSTRACTTitle : Readiness to Change Outpatient Health Center to Inpatient Health Center and Potential Discretion Policy at Sawangan II Health Center in Magelang District Background: Magelang District Regulation No. 7 of 2014 concerning the Medium-Term Development Plan of the Magelang Regency in 2014-2019 targets to add 9 new inpatient puskesmas up to 2019. The purpose of this study is to identify the factors of change in the internal and external environment of the Sawangan II Puskesmas organization in the process of becoming an inpatient, identify the benefits of change for individuals and organizations, and identify the readiness of the puskesmas to change status to inpatient from the individual and organizational level.Method: This research is a qualitative research with a case study approach to explore variables related to research problems and the conceptual framework of outpatient health centers that will change to inpatient status. This type of research is a case study descriptive study with a qualitative approach. This research takes place at the Sawangan II Health Center which is in the preparation stage towards the status of "Inpatient" in Magelang District, when the research was conducted for one month in January 2019. The research subjects were from the internal and external environment of the Sawangan II Health Center.Results: Factors of change in the external and internal environment that can be the most vital weaknesses and threats in organizational change in the Sawangan II Health Center, namely the number of human resources, low income Health Center Sawangan II, the need for facilities and infrastructure that is still minimal, the development of human resource capacity that lacks training because the BLUD budget is limited, regulations are hampered in the form of a regent regulation for the fulfillment of human resources, the budget from the Magelang Regency APBD is limited for the fulfillment of inpatient puskesmas facilities, infrastructure and medical equipment. Individuals in Sawangan II Health Center cannot directly accept and be ready for change, but cannot also directly oppose changes because they consider these changes as an obligation as ASN that must be implemented with all the consequencesConclusions: Weaknesses and threats in the internal and external environment of Sawangan II Health Center cause the unpreparedness of individuals and organizations in carrying out the change into hospitalization.Keywords: Readiness to change, the benefits of change, internal and external environment, street level bureaucracy
Pengaruh Paparan Media Video Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) Terhadap Kompetensi Gizi Siswa SD di Wilayah Replete GAKI Faqihatin Afifa; Laksmi Widajanti; Sri Achadi Nugraheni
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.165-169

Abstract

Latar Belakang: Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masaIah gizi yang berdampak terhadap tingkat kecerdasan  dan gangguan mentaI yang faktor resikonya pada anak SD. Wilayah yang pernah menjadi endemis GAKI kemudian telah membaik dikatakan sebagai wilayah replete GAKI. Kompetensi seorang anak dinilai dari 3 aspek yaitu kompetensi pengetahuan, sikap serta keterampilan/praktik. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh paparan  media Video GAKI terhadap Kompetensi gizi siswa SD di wilayah Replete.Metode: Jenis penelitian ini merupakan Quashy Eksperimental dengan rancangan pretest-posttest one group design dan pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling . populasi yang diteliti ada 1 sekolah dasar dengan jumlah siswa 141 yang ada di wilayah replete GAKI dan sampel yang diambil adalah 33 siswa kelas IV dan V.Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perubahan skor pengetahuan dan sikap sebesar 15,38, perubahan skor untuk praktik konsumsi iodium sebesar 23,03 sedangkan perubahan skor untuk kompetensi gizi yang meliputi pengetahuan sikap dan praktik konsumsi iodium sebesar 17,81. Perbedaan antara pengetahuan, sikap, praktik konsumsi iodium serta kompetensi gizi siswa sebelum dan sesudah intervensi (p<0,05) menunjukkan terdapat perbedaan. Analisis data menggunakan paired t-test dan Wilcoxon signed rank test. Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendidikan kesehatan melalui video berpengaruh pada pengetahuan, sikap, praktik konsumsi iodium serta kompetensi gizi siswa.Kata kunci: GAKI, Video, Kompetensi gizi, Siswa SD ABSTRACT Title: The Effect Of Video Disturbances Due To Iodine Deficiency To The Nutritional Competency Of Students To The Replete Area Of The District Magelang  (Study of Students of Bumiharjo Elementary School in Magelang District in 2019) Background: Iodine Deficiency Disorders (IDD) is a nutritional period that has an impact on the level of intelligence and mental disorders which are risk factors for elementary school children. Regions that were once endemic to IDD then have improved as the replete GAKI region. The competency of a child is assessed from 3 aspects, namely competence in knowledge, attitude and skills / practice. The purpose of this study was to analyze the effect of GAKI Video media exposure on the nutrition competency of elementary students in the Replete area. Method: This type of research is an experimental quashy with one group design pretest-posttest design and sampling using stratified random sampling. the population studied was 1 elementary school with 141 students in the replete GAKI region and the samples taken were 33 grade IV and V students.Result: The results of statistical tests showed that there were changes in knowledge and attitude scores of 15.38, changes in scores for iodine consumption practices amounting to 23.03 while changes in scores for nutritional competencies which included knowledge of attitudes and iodine consumption practices were 17.81. The difference between knowledge, attitudes, iodine consumption practices and student nutritional competencies before and after the intervention (p <0.05) showed differences. Data analysis used paired t-test and Wilcoxon signed rank test. Conclusion: The conclusion of this study is that health education through video influences knowledge, attitudes, iodine consumption practices and student nutritional competencies.Keywords: IDD, Video, Competency of Nutrition, Elementary School Students
Hubungan Karakteristik Sosial Individu, Pengetahuan, Sikap, dan Ketersediaan Fasilitas Sanitasi dengan Praktik Buang Air Besar di Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang Dhea Pramesti Regita; Tri Joko; Mursid Rahardjo
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.141-146

Abstract

Latar belakang: Kecamatan Taman adalah kecamatan dengan akses jamban terendah di Kabupaten Pemalang yaitu sebesar 65,80%. Akses jamban yang rendah dan sedikit nya jumlah desa yang terverifikasi ODF, yaitu 7 dari 21 desa menunjukkan bahwa masih kurangnya praktik buang air besar di wilayah Kecamatan Taman. Praktik buang air besar adalah praktik seseorang yang terkait dengan kegiatan pembuangan tinja, termasuk praktik yang mendukung kesehatan sehingga tidak menimbulkan efek buruk pada kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik sosial responden, pengetahuan, sikap, dan ketersediaan fasilitas sanitasi dengan praktik buang air besar di Kabupaten Pemalang.Metode:Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional.sampel sebanyak 96 responden, dan teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Analisis data dengan uji Chi-SquareHasil: Hasil Uji Chi-square menunjukan sebanyak 50 responden atau sebesar 52,1 % responden melakukan praktik buang air besar yang baik. Hasil Uji Hubungan menunjukan bahwa Pendidikan ( P-value = 0,005; RP= 1,917), Pekerjaan (P-value = 0,001 ; RP = 2,031), Pendapatan ( P-value = 0,000, RP= 2,392), Kepemilikan Jamban (P-value = 0,000, RP= 2,737), Pengetahuan (P-value = 0,000 ; RP= 4.259), Sikap (P-value =  0,000 ; RP =5,238) berhubungan dengan praktik buang air besar. Ketersediaan air ( P-value = 0,717; RP= 0,818) tidak berhubungan dengan praktik buang air besar.Simpulan:Karakteristik sosial individu, kepemilikan jamban, pengetahuan, dan sikap buang air besar berhubungan dengan praktik buang air besar di Kecamatan TamanKata kunci: karakteristik sosial individu, ketersediaan fasilitas, pengetahuan, sikap, praktik buang air besar ABSTRACTTitle:The Relationship between Individual Social Characteristics, Knowledge, Attitudes, and Availability of Sanitation Facilities with Practice of Defecation in the District of Taman PemalangBackground : Taman district is the district with the lowest latrine access in Pemalang Regency which is equal to 65.80%. Low latrine access and a small number of  ODF verified villages, which is 7 from 21 villages showed that there was still a lack of defecation practices in the Taman district area. The practice of defecation is the practice of someone who is related to feces disposal activities, including practices that support  health that is not cause adverse effects on health. This study aims to determine the relationship of social characteristics of respondents, knowledge, attitudes, and availability of sanitation facilities with defecation practices in Pemalang DistrictMethod:This study was an observational analytic study with a cross sectional approach. Samples were 96 respondents, and the sampling technique used was proportional random sampling. Data analysis using Chi-Square testResult: Chi-square test results showed that there were 50 respondents or 52.1% of respondents did good defecation practices. Relationship Test Results indicate that Education (P-value = 0.005; RP = 1,917), Employment (P-value = 0.001; RP = 2,031), Income (P-value = 0,000, Rp = 2,392), Latrine Ownership (P-value = 0,000, Rp. 2,737), Knowledge (P-value = 0,000; Rp = 4,259), Attitude (P-value = 0,000; RP = 5,238) is related to the practice of defecation. Water availability (P-value = 0.717; RP = 0.818) is not related to the practice of defecationConclusion:the practice of defecation in Taman district relates to individual social characteristics, latrine ownership, knowledge, and attitude of defecationKeywords: individual social characteristics, availability of facilities, knowledge, attitude, practice of defecation
Gambaran Sanitasi Lingkungan di Puskesmas Tengaran Kabupaten Semarang Tahun 2016-2018 Rahmadani Dara Ayuningtyas; Budiyono Budiyono; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.170-176

Abstract

Latar Belakang: Lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap status kesehatan.  Sanitasi lingkungan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan, terutama pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair rumah tangga, kepemilikan air bersih dan kepemilikan jamban. Sanitasi lingkungan merupakan salah satu factor terkait dalam kejadian diare.Metode: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan kondisi sanitasi lingkungan di Puskesmas Tengaran Kabupaten Semarang tahun 2016-2018. Penelitian ini termasuk penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan analisis deskriptif. Variable dalam penelitian ini adalah cakupan pengelolaan sampah rumah tangga, cakupan pengelolaan limbah cair rumah tangga, cakupan kepemilikan air bersih dan cakupan kepemilikan jamban. Sampel dari penelitian ini adalah data sekunder terkait dengan kejadian diare dan sanitasi lingkungan di Puskesmas Tengaran tahun 2016-2018.Hasil: Hasil dari penelitain ini menunjukan bahwa pada tahun 2016-2018 cakupan pengelolaan sampah rumah tangga tertinggi berada di Desa Tengaran (91,8%), Desa Tegalrejo (87,6%), Desa Tengaran (98,5%). Pada tahun 2016-2018 cakupam pengelolaan limbah cair rumah tangga tertinggi berada di Desa Butuh (88,6%), Desa Bener (81,7%), Desa Tegalrejo (90,3). Pada tahun 2016-2018 cakupan kepemilikan air bersih tertinggi berada di Desa Patemon (100%, 100%, 96%). Pada tahun 2016-2018 cakupan kepemilikan jamban tertinggi berada di Desa Patemon (100%, 100%, 96,5%).Simpulan: Sanitasi lingkungan (pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair, kepemilikan air bersih, kepemilikan jamban) sudah tergolong baik. Sanitasi lingkungan di Puskesmas Tengaran tahun 2016-2018 merupakan salah satu faktor yang terkait dengan kejadian diare di Puskesmas Tengaran Kabupaten Semarang Tahun 2016-2018.Kata kunci: Sanitasi Lingkungan, Puskesmas Tengaran, Deskriptif ABSTRACT Title: Diarrhea And Environmental Sanitation In Tengaran Health Center Semarang District, 2016-2018 Background: The environment has the biggest contribution to health status. Environmental sanitation is an important factor that must be considered, especially management of household waste, management of household wastewater, ownership of clean water and ownership of latrines. Environmental sanitation is one of the factors in the incidence of diarrhea.Method: The purpose of this study was to describe the conditions of environmental sanitation at the Tengaran Health Center Semarang Regency in 2016-2018. This study is an observational study with a cross sectional approach and used descriptive analysis. Variables in this study are coverage of household waste management, coverage of household wastewater management, coverage of ownership of clean water and coverage of latrine ownership. The sample from this study is secondary data related to the incidence of diarrhea and environmental sanitation in Tengaran Health Center in 2016-2018.Result: The results of this study show that in 2016-2018 the highest coverage of household waste management was in Tengaran Village (91.8%), Tegalrejo Village (87.6%), Tengaran Village (98.5%). In 2016-2018, the highest level of household wastewater management was in the Need Village (88.6%), Bener Village (81.7%), Tegalrejo Village (90.3). In 2016-2018 the highest coverage of clean water ownership was in Desa Patemon (100%, 100%, 96%). In 2016-2018 the highest latrine ownership coverage was in Patemon Village (100%, 100%, 96.5%).Conclusion: Environmental sanitation (management of household waste, management of household wastewater, ownership of clean water, ownership of latrines) has been classified as good. Environmental sanitation in Tengaran Puskesmas in 2016-2018 is one of the factors associated with the incidence of diarrhea in the Tengaran Semarang Health Center in 2016-2018.Keywords: Environmental Sanitation, Tengaran Health Center, Descriptive
Hubungan Pajanan Kebisingan dengan Tekanan Darah Pada Pekerja PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta Dyah Ratri Nurjanah; Tri Joko; Suhartono Suhartono
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.147-151

Abstract

Latar belakang : Proses produksi menimbulkan kebisingan yang dapat mengganggu kesehatan. Paparan kebisingan dalam waktu yang lama menyebabkan gangguan psikologis, gangguang kardiovaskuler seperti peningkatan tekanan darah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara intensitas kebisingan dan masa kerja dengan tekan darah pada pekerja departemen weaving PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta.Metode:Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional dengan sampel 60 orang pekerja departemen weaving. Pengumpulan data dengan kuesioner dan analisis data menggunakan Rank- Spearman.Hasil: Hasil pengukuran intensitas kebisingan terdapat 3 departemen weaving yang melebihi 85 dBA. Terdapat hubungan antara intensitas kebisingan dengan tekanan darah sistolik p=0,006 (r = 0,384) dan tekanan darah diastolik p=0,013 (r= 0,319) sementara tidak terdapat hubungan antara masa kerja dengan tekanan darah sistolik  p=0,961 (r = 0,006) dan tekanan darah diastolik p=0,223 (r =- 0,160).Simpulan: Perubahan tekanan darah sistolik dan diastolik karena pengaruh intensitas kebisingan.Kata kunci : intensitas kebisingan, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, pekerja weavingABSTRACTTitle : The Relationship between Noise Exposure and Blood Pressure on PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta Background: The production process causes noise that can interfere with health. Long-term exposure to noise causes psychological disorders, cardiovascular disorders such as increased blood pressure. The purpose of this study is to determine the relationship between noise intensity and working period with blood pressure in the weaving department workers of PT. Iskandar Indah Surakarta Textile Printing.Method: The study design of this study was cross-sectional with a sample of 60 weaving department workers. Data collection with questionnaires and data analysis using Rank-Spearman.Results: There are 3 weaving departments exceeding 85 dBA for the measurement of noise intensity. There is a relationship between noise intensity with systolic blood pressure p = 0.006 (r = 0.384) and diastolic blood pressure p = 0.013 (r = 0.319) while there is no relationship between years of work with systolic blood pressure p = 0.961 (r = 0.006) and pressure diastolic blood p = 0.223 (r = - 0.160).Conclusion: Changes in systolic and diastolic blood pressure due to the influence of noise intensity.Keywords: noise intensity, systolic blood pressure, diastolic blood pressure, weaving workers
Hubungan Asupan Zat Gizi Makro dan Mineral dengan Kejadian Balita Stunting di Indonesia: Kajian Pustaka Nugraheni, Anastasia Natalia Sonia; Nugraheni, Sri Achadi; Lisnawati, Naintina
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 5 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.5.322-330

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2019 sebesar 27,6%, lebih tinggi dibandingkan dengan target penurunan dalam lingkup nasional yaitu 19%. Stunting pada balita mempunyai dampak jangka panjang seperti produktivitas yang kurang, kemampuan kognitif yang rendah, dan kenaikan berat badan yang berlebih. Rendahnya asupan zat gizi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting, sehingga kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan asupan energi, protein, zat besi, dan seng terhadap kejadian stunting pada balita di Indonesia.Metode: Kajian ini menggunakan literature review. Penelusuran artikel dilakukan melalui jurnal, laporan, dan prosiding dalam 10 tahun terakhir. Ditemukan 606 studi dan diseleksi sesuai dengan kriteria inklusi. Berdasarkan 606 studi didapatkan 40 studi yang memenuhi kriteria inklusi untuk dilakukan kajian.Hasil: Berdasarkan  studi yang dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia menunjukkan prevalensi stunting paling tinggi pada tahun 2019 di Nusa Tenggara Timur sebesar 43,82%. Hasil telaah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara asupan energi, protein, zat besi, dan seng yang rendah terhadap kejadian stunting. Studi menjelaskan asupan energi berisiko 16,71 kali, asupan protein berisiko 26,71 kali, asupan zat besi berisiko 4 kali, dan asupan seng berisiko 9,24 kali lebih besar terhadap kejadian stunting.Simpulan: Asupan zat gizi pada daerah di Indonesia masih rendah, pada umumnya disebabkan karena konsumsi sumber karbohidrat, protein hewani, dan pengetahuan ibu mengenai pola pemberian makan yang masih rendah. Sehingga diperlukan pemantauan status gizi secara berkala dan memperkuat program pencegahan stunting seperti edukasi kepada ibu mengenai pola pemberian makan pada balita.ABSTRACT Title: Macronutrient and Mineral Intake Associated with Stunting among Indonesian Toddlers: A Literature ReviewBackground: The prevalence of stunting in Indonesia in 2019 is 27,6%, higher than the target of the national reduction of 19%. Stunting has long-term impacts such as less productivity,  cognitive ability, and the risk of chronic disease. Low nutrient intake is one of the risk factors of stunting. This study aims to identify the relationship of energy, protein, iron, and zinc intake with stunting among Indonesian toddlers.Method: This study uses the literature review method. The article search is conducted through journals, reports, and proceedings in the last 10 years. The search result from the article found 606 studies and selected according to the criteria of inclusion. Based on 606 studies obtained 40 studies that meet the criteria of inclusion for review.Result: Based on the result of the literature review in Indonesia showed the highest prevalence of stunting in 2019 in East Nusa Tenggara is 43.82%. The results showed a significant correlation between low energy, protein, iron, and zinc intake with stunting. The study describes low protein intake to be the nutrient intake most associated with stunting, followed by energy, zinc, and iron intake. Risk factors of nutrient intake were 2,52-16,71 times due to low energy intake, 1,6-26,71  times due to low protein intake, 2,87-4  times due to low iron intake, and 1,29-9,24  times due to low zinc intake.Conclusion: Low intake of energy, protein, iron, and zinc has a significant relationship with stunting among Indonesian toddlers. Low protein intake is the most associated nutrient intake for stunting under five.Keywords: Stunting, nutrient intake, toddler
Determinan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care di Provinsi Indonesia Bagian Timur (Komparasi Data SDKI Tahun 2012 dan 2017) Astuti, Juliana Karni; Herdayati, Milla
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 6 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.6.444-452

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Disparitas dalam Pelayanan Antenatal Care (ANC) masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Data SDKI dan Profil Kesehatan Indonesia mencatat Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara menjadi provinsi yang konsisten berada pada peringkat 10 besar dalam cakupan K4 ANC terendah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan ANC pada wanita usia subur di 4 Provinsi pada tahun 2012 & 2017.Metode: Sampel yang digunakan adalah wanita berusia subur (15-49 tahun) yang tinggal di 4 Provinsi, memiliki anak terakhir dalam 5 tahun terakhir, berstatus menikah/tinggal bersama dan menjadi responden dalam SDKI 2012 & 2017. Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji regresi logistik ganda.Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ibu dan pengetahuan ibu memiliki pengaruh yang konsisten terhadap kepatuhan kunjungan ANC pada responden di tahun 2012 dan 2017. Pada tahun 2012, terdapat faktor lain yang juga mempengaruhi kepatuhan kunjungan ANC pada wanita usia subur yaitu partisipasi dalam pengambilan keputusan dan status ekonomi. Sedangkan di tahun 2017, terdapat faktor lain juga yang berpengaruh terhadap kepatuhan kunjungan ANC pada wanita usia subur yaitu paritas ibu, jaminan kesehatan, dan dukungan dari suami.Simpulan: Perlu adanya peningkatan cakupan KIA melalui pembagian buku KIA & sosialisasi senam hamil oleh kader wilayah setempat. Penguatan sosialisasi pada ibu dengan paritas rendah maupun tinggi juga diperlukan untuk menjarangkan kehamilan oleh para kader dalam program kampung KB yang sudah terselenggara dalam wilayah setempat.Kata kunci: Antenatal care; kepatuhan; wanita usia subur ABSTRACTTitle: Determinants of Obedience for Antenatal Care Visits in Eastern Indonesia (2012 and 2017 IDHS Comparative Data)Background: Disparities in ANC services still occurs in several regions in Indonesia. IDHS data and Indonesia's Health Profile record the provinces of Papua, West Papua, Maluku, and North Maluku as provinces that are consistently ranked in the top 10 in the lowest K4 ANC coverage. This study aims to look at the factors that influence the level of ANC visit adherence in reproductive age women in 4 Provinces in 2012 & 2017.Method: The sample is used in this study are the women in reproductive age in the 2012 & 2017 IDHS that are living in 4 provinces, married or are living together with their partner, and have their in the last 5 years. This study itself use multiple logistic regression.Result: The results showed that maternal education and maternal knowledge had a consistent influence on the adherence of ANC visits for respondents in 2012 and 2017. In 2012, there are other factors that also affected ANC visit adherence in reproductive age women, namely participation in decision making and economic status. Whereas in 2017, there are also other factors that influence ANC visits adherence to reproductive age women, namely health insurance, parity, and husband support. Conclusion: There needs to be an increase in MCH coverage through distribution of MCH books & socialization of pregnancy exercises by local cadres. Strengthening outreach to mothers with low and high parity is also needed to space pregnancies by cadres in the village family planning program that has been implemented in the local area.Key words: Antenatal care, adherence, reproductive age women
Program Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (AIMI DIY) untuk Mendukung Keberhasilan ASI Eksklusif Adawiyah, Fathi Rabiatul; Musthofa, Syamsulhuda Budi; Husodo, Besar Tirto
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 1 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.1.50-56

Abstract

ABSTRAK Latar belakang : Cakupan ASI eksklusif di Provinsi DIY tahun 2018 mengalami penurunan 17,34%. Program promosi kesehatan yang belum efektif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi cakupan ASI eksklusif. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (AIMI DIY) merupakan organisasi nirlaba pendukung program pemerintah yang melakukan kegiatan promosi, edukasi, dan advokasi dengan visi meningkatkan angka ibu menyusui. Penelitian ini bertujuan menggambarkan program AIMI DIY untuk mendukung keberhasilan ASI eksklusif di Provinsi DIY tahun 2019 dengan pendekatan teori sistem.Metode : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subyek penelitian utama yaitu Ketua sekaligus sebagai Kadiv Advokasi, Bendahara, Kadiv Edukasi dan Pelatihan, Kadiv Komunikasi, Kadiv Pengembangan SDM dan Organisasi, Kadiv Riset, dan subyek penelitian triangulasi yaitu Ketua AIMI Pusat dan Kasie Kesga dan Gizi Dinkes Provinsi DIY dengan metode purposive sampling dan teknik pengumpulan data wawancara mendalam secara online karena berlangsung pada masa pandemi Covid-19.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan program AIMI DIY terdiri dari aspek masukan dan aspek proses. Sumber daya manusia AIMI DIY yang merupakan sukarelawan memiliki keterbatasan waktu untuk organisasi. Ketersediaan dana belum mencukupi untuk kegiatan edukasi dengan sasaran masyarakat menengah kebawah. AIMI DIY belum memiliki gedung sebagai prasarana kelas edukasi. Kegiatan AIMI DIY terfokus pada 3 hal yaitu promosi, perlindungan, dan dukungan untuk menyusui yang diatur dalam 6 divisi kerja, namun pembagian tugas kepada anggota divisi belum efektif.Simpulan : Program AIMI DIY untuk mendukung keberhasilan ASI eksklusif selain kelas edukasi belum terpromosikan dan terlaksana dengan baik karena keterbatasan waktu sumber daya manusia dan keterbatasan dana.Kata kunci: ASI eksklusif; AIMI DIY; kelas edukasi ABSTRACT Title: Association of Indonesian Breastfeeding Mothers Special Regions of Yogyakarta (AIMI DIY) programs to support the success of exclusive breastfeedingBackground : Exclusive breastfeeding coverage in DIY Province in 2018 decreased by 17.34%. One of the factors affecting exclusive breastfeeding coverage is the ineffectiveness of health promotion programs. AIMI DIY is a non-profit organization supporting government programs that carries out promotional, educational, and advocacy activities to realize the vision of increasing the number of breastfeeding mothers. This study aims to describe the AIMI DIY program to support the success of exclusive breastfeeding in DIY Province in 2019 with a systems theory approach. Method : This study uses a qualitative method. Main research subjects consisting of the Chairperson at once as the Head of Advocacy Division, Treasurer, Head of Education and Training Division, Head of Communication Division, Head of Human Resources and Organizational Development Division, Head of Research Division, as well as triangulation research subjects consisting of the Chairperson of AIMI Center and the Head of Section for Family Healthy and Nutrition of the Provincial Health Office of Yogyakarta, utilizing purposive sampling method and in-depth interview online data collection as it had taken place during the Covid-19 pandemic.Result : The results showed that the AIMI DIY program consists of input aspects and process aspects. AIM DIY's human resources, made up of volunteers, have limited time to dedicate on working for the organization. The availability of funds remains insufficient for the educational activities targeting those within the middle to lower-earning class. AIMI DIY does not yet have the infrastructure for educational classes. AIMI DIY activities focus on 3 things: promotion, protection, and support for breastfeeding, arranged in 6 work divisions. However, the division of tasks to division members so far has proven to be ineffective. Conclusion : The AIMI DIY program to support exclusive breastfeeding, aside from education classes, has not been promoted and implemented properly due to the limited time available for  human resources as well as limited funds.Keywords : Exclusive breasfeeding; AIMI DIY; education class
Pemasaran Sosial menggunakan Media Sosial dalam Upaya Pencegahan Penularan Covid-19: Tinjauan Literatur Putri, Andhini Aurelia; Prayoga, Diansanto
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 2 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.2.144-149

Abstract

Latar belakang: Jumlah kasus Covid-19 setiap harinya semakin meningkat tak terkecuali di Indonesia. Salah satu dampak yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 yaitu masalah psikologis. Sebagian besar dari mereka melampiaskan ke media sosial sehingga media sosial dapat dijadikan sebagai alternative yang tepat untuk menyebarluaskan informasi terkait pencegahan penularan Covid-19. Masyarakat diharapkan mampu menerima dan menerapkan informasi yang telah disampaikan melalui media sosial. Artikel ini bertujuan utnuk menganalisis peran media sosial dalam upaya promosi kesehatan khususnya pencegahan penularan Covid-19.Metode: Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini yaitu literature review. Referensi didapatkan dari berbagai jurnal ilmiah, buku dan website resmi pemerintah yang berkaitan dengan topik penulisan artikel ini.Hasil: Sebanyak 59% dari total penduduk di Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial. Karakteristik pengguna media sosial sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan usia yang mendominasi yaitu kelompok usia dewasa awal. Media sosial yang paling digemari masyarakat adalah Youtube dan WhatsApp. Pemasaran sosial dapat dilakukan menggunakan media sosial dengan mempertimbangkan konten yang akan diunggah. Media sosial dapat dengan mudah menyebarkan informasi namun dapat menimbulkan infomasi yang berlebih. Pencegahan penularan Covid-19 dapat dilakukan secara cepat dan efektif menggunakan media sosial tanpa adanya tatap muka dengan masyarakat.Simpulan: Pemasaran sosial dapat dilakukan dengan mudah hanya dengan menggunakan media sosial. Media sosial yang paling efektif untuk digunakan sebagai media promosi kesehatan yaitu Youtube karena disukai dan mudah diterima oleh berbagai masyarakat di segala usia. Namun terdapat tantangan yang harus dihadapi sehingga membutuhkan strategi agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. Pemerintah dan rumah sakit di Indonesia juga memanfaatkan media sosial untuk pencegahan penularan Covid-19. Konten yang diunggah antara lain himbauan untuk mematuhi protokol kesehatan.Kata kunci: pemasaran sosial; media sosial; promosi kesehatan; pencegahan Covid-19 ABSTRACTTitle: The Role of Social Media Marketing in Efforts to Prevent Covid-19 Transmission: A Literature ReviewBackground: The number of Covid-19 cases is increasing every day, including in Indonesia. One of the impacts caused by the Covid-19 pandemic is a psychological problem. Most of them take it out on social media so that social media can be used as an appropriate alternative to disseminate information regarding the prevention of Covid-19 transmission. The community is expected to be able to receive and apply the information that has been conveyed through social media. This article aims to analyze the role of social media in health promotion efforts, especially the prevention of Covid-19 transmission.Method: The method used in writing this article is literature review. References are obtained from various scientific journals, books and official government websites related to the topic of writing this article.Result: As many as 59% of the total population in Indonesia are active users of social media. The characteristics of social media users are mostly male. While the age that dominates is the early adult age group. The most popular social media are Youtube and WhatsApp. Social marketing can be done using social media by considering the content to be uploaded. Social media can easily spread information but can lead to information overload. Prevention of Covid-19 transmission can be done quickly and effectively using social media without having to face the public.Conclusion: Social marketing can be done easily by just using social media. The most effective social media to be used as a health promotion media is Youtube because it is liked and easily accepted by various people of all ages. However, there are challenges that must be faced so that a strategy is needed so that the message can be conveyed properly. The government and hospitals in Indonesia also use social media to prevent the transmission of Covid-19. The uploaded content includes an appeal to comply with health protocols.Keywords: social marketing; social media; health promotion; Covid-19 prevention
Evaluasi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat pada Pilar Pertama Stop BABS di Kabupaten Pekalongan A'yunina, Anggun; Joko, Tri; Nurjazuli, Nurjazuli
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 6 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.6.402-411

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: STBM merupakan program untuk mendukung mencapai SDG’s pada poin ke-6, dan STBM ini memiliki 5 pilar dan pada pilar pertama STOP BABS merupakan pintu untuk mencapai kondisi higienis dan saniter. Kotoran manusia/tinja yang dibuang sembarangan merupakan sebuah media percepatan penularan penyakit karena selain dapat mencemari dan mengkontaminasi sumber air kemudian menjadi penyebab waterborne disease, serta terjadinya pencemaran ulang (rekontaminasi) pada sumber air dan makanan baik secara langsung maupun tidak. Capaian ODF Kabupaten pekalongan ini termasuk peringkat 3 terendah se-Jawa Tengah dan belum memenuhi target pemerintah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi program STBM khususnya pilar pertama di kabupaten pekalongan berdasarkan aspek Input, Proses, dan Output.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan metode kualitatif, teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling. Kemudian teknik pengumpulan mengunakan wawancara mendalam (Indeptht Interview) dan observasional kepada Informan utama Kepala Seksi dan 1 staff Seksi Kesling dan Kesjaor di Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, dan Fasilitator Kabupaten Pekalongan, dan Informan Triangulasi Sanitarian di Puskesmas Kesesi 1, Puskesmas Wonopringgo, dan Puskesmas Doro 1.Hasil: Hasil dari penelitian menunjukan pada aspek input kuantitas dan kualitas tenaga masih kurang, kekurangan dana untuk pembangunan fisik, sarana dan prasarana sudah baik dan cukup, tidak adanya kebijakan daerah untuk mendukung penciptaan lingkungan yang kondusif, dan sosialisasi sudah cukup dilakukan. Pada aspek Proses menunjukan belum optimalnya pelaksanaan advokasi, belum terbentuknya fasilitator desa, belum optimalnya kerjasama lintas sektor, tidak dilakukan transect walk yang merupakan tahapan pemicuan, dan juga pelaksanaan monev yang belum maksimal. Kemudian output belum tercapai sesuai target yang ditentukan.Simpulan: Pelaksanaan program STBM pilar pertama di Kabupaten Pekalongan belum optimal dan masih memiliki kendala pada variabel man, money, methode, planning, organizing, dan actuating.Kata kunci: Evaluasi, program STBM, BABS ABSTRACT Title: Evaluation Program Of CLTS In The First Pillars Stop Open Defecation In Pekalongan DistrictBackground: CLTS is a program to support achieving SDGs at point 6. It has 5 pillars and the first pillar is Open Defecation free which is the door to achieve hygienic and sanitary conditions. Human feces that are disposed of carelessly are a medium for accelerating disease transmission because it can contaminate water sources, causes waterborne disease, and recontamination of water and food sources, either directly or indirectly. The ODF achievement of Pekalongan Regency was among the 3rd lowest in Central Java and had not fit the government's target. The purpose of this study was to evaluate the STBM program, especially the first pillar in Pekalongan district based on the aspects of Input, Process, and Output.Method: This research was a descriptive analytic study with qualitative methods, the sampling technique used was purposive sampling. Then the collection techniques used was in-depth interviews and observational interviews. The main informants of this study were the Head of Section and 1 staff of the Kesling and Kesjaor Section at the Pekalongan District Health Office, and Pekalongan District Facilitators. Then the triangulation informants were sanitarian at Puskesmas Kesesi 1, Puskesmas Wonopringgo, and Puskesmas Doro 1.Result: The results of the study showed that in terms of input, the quantity and quality of labor was still lacking, lack of funds for physical development, facilities and infrastructure were good and sufficient, there was no regional policy to support the creation of a conducive environment, and sufficient socialization was carried out. In terms of process, it showed that the implementation of advocacy had not been optimal yet, a village facilitator had not been formed, a cross-sector cooperation had not been optimal yet, a transect walk which was a triggering stage had not been done, and also the implementation of monev had not been maximized yet. Then the output had not been achieved according to the specified target.Conclusion: The implementation of the first pillar CLTS program in Pekalongan Regency has not been optimal and still had constraints on the variables man, money, methods, planning, organizing, and actuating.Keywords: Evaluation, CLTS Program, Open Defecation

Page 9 of 29 | Total Record : 283