cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
Strategi dan Aspek Bauran Pemasaran Untuk Meningkatkan Cakupan Pelayanan Inspeksi Visual Asam Asetat (Studi Kasus Di Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang) Ulya, Siti Afuzal; Suryoputro, Antono; Nandini, Nurhasmadiar
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 6 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.6.412-418

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Beberapa Puskesmas di Kota Semarang sudah memiliki pelayanan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) sebagai suatu upaya deteksi dini kanker serviks bagi wanita usia subur namun pemanfaatan pelayanan IVA masih belum mencapai target. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu menganalisis strategi dan aspek bauran pemasaran untuk meningkatkan cakupan pelayanan IVA (Studi Kasus di Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang.Metode: Penelitian kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu indepth interview dengan purposive sampling. Variabel yang diteliti adalah produk, harga, tempat, promosi, faktor internal, eksternal dan cakupan pelayanan.Hasil: Cakupan pelayanan IVA di Puskesmas Kedungmundu mengalami peningkatan namun belum masih belum mencapai target. Pada aspek produk, masih ada pasien yang merasa takut dan proses informasi konseling belum lengkap. Aspek harga menunjukkan bahwa tidak ada masalah dalam hal biaya, waktu dan kenyamanan pasien. Aspek tempat menunjukkan bahwa lokasi dan durasi pelayanan sesuai kebutuhan pasien. Aspek promosi, belum rutin melakukan sosialisasi dan penggunaan media promosi tentang IVA belum optimal. Hal ini didukung dengan faktor internal yang menunjukkan kurangnya jumlah petugas terlatih IVA serta faktor eksternal menunjukkan bahwa sarana prasarana sudah mencukupi namun kualitas standar operasional prosedur belum diperhatikan.Simpulan: Oleh karena itu, Puskesmas Kedungmundu perlu memberikan informasi konseling yang lengkap, berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang tentang kualitas supervisi, meningkatkan jumlah petugas yang menerima pelatihan IVA dan meningkatkan promosi.Kata kunci: Analisis, pelayanan IVA, bauran pemasaran ABSTRACT Title: Strategy and Marketing Mix Aspect to Increase Acetic Acid Visual Inspection Service Covergae (Case Study at Kedungmundu Public Health Center, Semarang City)Background: Several Public Health Center in Semarang City already have VIA (Visual Inspection with Acetic Acid) services as an effort to detect cervical cancer for women of reproductive age however, the utilization of VIA services have not reached the target. This study aimed to analyze the marketing mix strategy to increase the coverage of VIA services (Case Study at Kedungmundu Public Health Center, Semarang City).Method: Qualitative research uses a descriptive approach. The data technique is in-depth interviews with purposive sampling. The variables studied were product, price, place, promotion, internal factors, external service coverage.Result: The coverage of IVA services at the Kedungmundu Health Center has increased but has not yet reached the target.  In the product aspect, there are still patients who feel afraid and the counseling information process is incomplete. The price aspect shows that there is no problem in terms of cost, time and patient comfort. The place aspect shows that the location and duration of service match the patient's needs. Promotion aspect, socialization is not routine yet and the use of promotional media about IVA is not optimal. This is supported by internal factors which indicate a lack of VIA trained personnel and external factors, it shows that the facilities and infrastructure are sufficient however the quality of procedur operational standard have not been attention.Conclusion: Thus, Kedungmundu Public Health Center need to give complete counseling information, coordination with the Semarang City Health Office about supervision quality, increasing the number of officers receiving VIA training and increasing promotion.Keywords: Analysis, VIA service, marketing mix
Binge Eating Hubungannya Dengan Gaya Makan, BMI dan Food Addiction Kusbiantari, Dyah; Fitriana, Efi; Hinduan, Zahrotur Rusyda; Srisayekti, Wilis
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 4 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.4.267-271

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Binge eating semakin meningkat populasinya dan banyak studi telah dilakukan di berbagai negara, namun di Indonesia penelitian binge eating belum banyak ditemukan. Binge eating juga berkaitan dengan gangguan lainnya, oleh karenanya perlu dilakukan penelitian mengenai prevalensi dan faktor resiko di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui secara deskriptif prevalensi binge eating di Indonesia dan hubungannya dengan BMI, gaya makan dan food addiction.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian crossectional dengan jumlah sampel sebanyak 553 orang mahasiswa dengan rentang usia 17-19 tahun (perempuan 67% dan 33 % laki-laki) di 4 Universitas di Kota Semarang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, variable yang dikaji binge eating hubungannya dengan BMI, gaya makan dan food addiction, dalam studi ini dilakukan uji statistik deskriptif dan korelasi menggunakan Spearman.Hasil: Perilaku binge eating moderate dan severe diketahui sebanyak 11,03% (P =7,78%, L= 4,16%) dengan berat badan kurus (1%) dan normal (7%). Gaya makan uncontrolled eating (UE) prevalensinya paling tinggi binge eating dibandingkan emotional eating (EE) dan cognitive restraint (CG). Non food addiction dilaporkan pada individu dengan binge eating moderate (2,5%) dan severe (0,4%). Food addiction terbanyak dilaporkan pada sampel dengan binge eating non/mild. Penemuan menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan antara skor total BES dan TFEQ (ρ = 0,116), BES dan YFAS (ρ = 0,504), TFEQ dan YFAS (ρ = 0,161), p < 0.001.Simpulan: Hubungan yang kuat antara binge eating, gaya makan dan food addiction, Binge eating dengan tingkat keparahan non/mild dan moderate banyak terlihat pada BMI katagori normal. Gaya makan UE dilaporkan memberikan kontribusi terbanyak pada terjadinya binge eating. Kata kunci: binge eating, bmi, food addiction, eating style.ABSTRACTTitle: Binge eating in Relationship With Eating Style, BMI and Food addiction  Background: Binge eating is increasing in population and many studies have been conducted in various countries, but in Indonesia there have not been many studies on binge eating. Binge eating is also related to other disorders, therefore it is necessary to conduct research on the prevalence and risk factors in Indonesia. This study aims to describe descriptively the prevalence of binge eating in Indonesia and its relationship with BMI, eating style and food addiction.Method: This research is a cross-sectional study with a total sample of 553 students (67% women and 33% men), age range from 17-19 years at 4 universities in Semarang city. Data were collected using a questionnaire, the variables studied binge eating related to BMI, eating style and food addiction, statistical test in this study were using descriptive and Spearman’s correlation.Result: Moderate and severe binge eating behaviors were found to be 11.03% (P = 7.78%, L = 4.16%) with underweight (1%) and normal (7%). Uncontrolled eating (UE) style has the highest prevalence of binge eating compared to emotional eating (EE) and cognitive restraint (CG). Non food addiction was reported in individuals with moderate binge eating (2.5%) and severe (0.4%). Most food addiction was reported in samples with binge eating non / mild. The findings show a significant correlation between the total BES and TFEQ scores (ρ = 0.116), BES and YFAS (ρ = 0.504), TFEQ and YFAS (ρ = 0.161), p < 0.001.Conclusion: A strong relationship between binge eating, eating style and food addiction, Binge eating with non / mild and moderate severity is mostly seen in normal BMI categories. EU eating style is reported to contribute the most to the occurrence of binge eating. Keywords: binge eating, bmi, food addiction, eating style
Kajian Literatur Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Metode Kualitatif pada Proyek Konstruksi di Indonesia: sebuah review Friyandary, Berliana; Ihsan, Taufiq; Lestari, Resti Ayu
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 5 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.5.331-344

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Proyek konstruksi penyumbang terbesar dalam hal angka kecelakaan kerja di Indonesia. Bahkan, merujuk data Badan Penyelenggara Jasa Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, konstruksi tercatat sebagai jawara nasional kecelakaan kerja dari tahun ke tahun. Di Indonesia angka kecelakaan kerja cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Sektor konstruksi menempati urutan tertinggi kecelakaan kerja yaitu 30%. Tingginya risiko kecelakaan pada sektor konstruksi di Indonesia dapat mengakibatkan bahaya bagi para pekerja di sektor tersebut. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya hal tersebut maka perlu dilakukan analisis risiko. Pada kajian ini dikumpulan 10 jurnal nasional tentang analisis risiko proyek konstruksi di seluruh Indonesia dan diharapkan dapat mengetahui tingkatan risiko pada suatu potensi bahaya, sehingga dapat dilakukan pengendalian untuk melindungi tenaga kerja dari kecelakaan.Metode: Penelitian metode analisis risiko kualitatif ini menggunakan identifikasi bahaya JSA, What if dan Checklist.Hasil: Hasil kajian literatur menunjukkan teridentfikasi 10 jenis proyek konstruksi dengan 328 bahaya risiko, terdiri dari 19 risiko sangat tinggi, 68 risiko tinggi, 196 risiko sedang dan 45 risiko rendah. Identifikasi bahaya risiko dilakukan dengan menjabarkan bahaya setiap pekerjaan yang dilakukan pada proyek tersebut. Perbedaan identfikasi risiko dibedakan berdasarkan proses pengumpulan data dengan teknik brainstorming, checklist dan wawancara langsung. Identifikasi bahaya dilakukan agar dapat dilakukan pengendalian risiko lebih lanjut dari pekerjaan tersebut.Simpulan: Dalam melakukan analisis risiko perlu adanya identifikasi risiko dalam menentukan tigkatan risiko dari pekerjaan tersebut, sehingga dapat dilakukan pengendalian risiko.Kata kunci: Analisis risiko, identifikasi bahaya, pengendalian risiko, konstruksi Indonesia ABSTRACTTitle: . Literature Review of Occupational Safety Risk Analysis in Indonesian Construction Projects with Qualitative Methods: a reviewBackground: Construction projects are the biggest contributor to the number of work accidents in Indonesia. Infact, referring to data from the Social Service Administration for Employment (BPJS), construction is listed as the national champion for work accidents from year to year. In Indonesia, the number of work accidents tends to increase from year to year. The construction sector ranks the highest for work accidents, namely 30%. The high risk of accidents in the construction sector in Indonesia can pose a danger to workers in that sector. Therefore, to avoid this, it is necessary to carry out a risk analysis. In this study, 10 national journals on risk analysis of construction projects throughout Indonesia were collected and it is hoped that the risk level of a potential hazard can be identified, so that controls can be carried out to protect workers from accidents.Method: This qualitative risk analysis research uses hazard identification method JSA, What if and Checklist Result:The results of the literature review showed that 10 types of construction projects were identified with 328 risk hazards, consisting of 19 very high risks, 68 high risks, 196 medium risks and 45 low risks. Hazard identification is carried out by describing the hazards of each work carried out on the project. The difference in risk identification is differentiated based on the data collection process with brainstorming techniques, checklists and direct interviews. Hazard identification is carried out so that further risk control can be carried out from the workConclusion: In carrying out risk analysis, it is necessary to identify risks in determining the risk level of the work, so that risk control can be carried out.Keywords: Risk analysis, hazard identification, risk control, Indonesian construction
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktik ASI Eksklusif di Daerah Pertanian Kabupaten Semarang (Studi pada Ibu yang Memiliki Bayi Usia 0−6 Bulan) Pusporini, Anggraeni Dyah; Pangestuti, Dina Rahayuning; Rahfiludin, M. Zen
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 2 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.2.83-90

Abstract

Latar belakang: Praktik pemberian ASI eksklusif wajib dilakukan pada bayi usia 0−6 bulan. Persentase capaian pemberian ASI secara eksklusif di Kabupaten Semarang masih lebih rendah dari target nasional. Penyebabnya karena masih rendahnya pelaksanaan inisiasi menyusu dini dan pemberian makanan prelakteal masih banyak dilakukan karena kebiasaan setempat menganggap bayi tidak cukup hanya diberi ASI. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik ASI eksklusif di daerah pertanian Kabupaten Semarang.Metode: Penelitian cross-sectional dengan pengambilan sampel secara purposive di Desa Banyukuning, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Sampel sebanyak 27 ibu menyusui yang memiliki bayi usia 0-6 bulan.Hasil: Proporsi praktik ASI eksklusif di daerah pertanian Kabupaten Semarang sebesar 37%. Ibu menyusui pada penelitian ini 81,5% berusia 20-35 tahun, 85,2% IRT, 70,4% menyelesaikan pendidikan dasar, 51,9% multipara, 74,1% IMT tidak normal, 88,9% kadar Hb normal, 92,6% menerima dukungan tenaga kesehatan berupa kunjungan postpartum, 85,2% melahirkan di praktik bidan, 96,3% persalinan normal, 85,2% tidak melaksanakan IMD, 63,0% bayi menerima makanan prelakteal, dan 51,9% tidak terpapar promosi susu formula. Variabel yang berhubungan dengan praktik ASI eksklusif yaitu status gizi ibu berdasar IMT, pelaksanaan IMD, bayi menerima makanan prelakteal, dan terpapar promosi susu formula. Variabel yang tidak berhubungan yaitu usia ibu, status pekerjaan ibu, tingkat pendidikan ibu, paritas, kadar Hb ibu, dukungan tenaga kesehatan, tempat persalinan, dan cara persalinan.Simpulan: Status gizi ibu berdasar IMT, pelaksanaan IMD, bayi menerima makanan prelakteal, dan terpapar promosi susu formula merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan praktik ASI eksklusif di daerah pertanian Kabupaten Semarang.Kata kunci: ASI eksklusif, pertanian, prelakteal, inisiasi menyusu dini (IMD), Kabupaten Semarang ABSTRACT Title: The Factors Related to Exclusive Breastfeeding Practice in Agricultural Area of Semarang Regency (Studies in Mothers of Infants Aged 0−6 Months)Background: Exclusive breastfeeding practice is mandatory for infants aged 0−6 months. The percentage achievement of exclusive breastfeeding in Semarang Regency is still lower than the national target. The reason is the implementation of early initiation was still low and prelacteal feeding was still widely practiced because local customs consider that’s not enough for infants to be breastfed. This study aims to analyze the factors related to exclusive breastfeeding practice in agricultural area of Semarang Regency.Method: Cross-sectional study with purposive sampling in Banyukuning Village, Bandungan District, Semarang Regency. Samples were 27 breastfeeding mothers who had infants aged 0-6 months.Result: Proportion of exclusive breastfeeding practice in agricultural area of Semarang Regency is 37%. Breastfeeding mothers were 81.5% aged 20-35 years, 85.2% housewives, 70.4% completed basic education, 51.9% multiparous, 74.1% overweight, 88.9% normal Hb levels, 92.6% received postpartum visits, 85.2% gave birth at a midwife, 96.3% normal deliveries, 85.2% weren’t implemented early initiation, 63.0% infants received prelacteal food, and 51.9% weren’t exposured of formula milk promotion. Variables related were maternal nutritional status based on BMI, implementation of early initiation, infants received prelacteal food, and exposured of formula milk promotion. Variables weren’t related were maternal age, mother’s employment status, mother's education level, parity, maternal Hb levels, support from health workers, place and mode of delivery.Conclusion: Maternal nutritional status based on BMI, implementation of early initiation, infants received prelacteal food, and exposured of formula milk promotion are factors related to the success of excluisve breastfeeding practice in agricultural area of Semarang Regency.Keywords: Exclusive breastfeeding, agricultural, prelacteal, early initiation, Semarang Regency
Keinginan Berhenti Merokok pada Pelajar Perokok di Smk Swasta Kota Semarang Evani Ida Napitupulu; Bagoes Widjanarko; Besar Tirto Husodo
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.184-188

Abstract

Latar Belakang: Merokok masih menjadi salah satu masalah terbesar kesehatan yang dapat menyebabkan kematian. Usia remaja adalah usia inisiasi para perokok. Berhenti merokok merupakan suatu bentuk proses, yang dimulai dengan pembentukan niat dalam diri individu. Kunci utama keberhasilan program berhenti merokok adalah adanya niat yang kuat dari perokok untuk berhenti merokok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi intensi berhenti merokok pada remaja khususnya pada siswa SMK.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dipilih menggunakan total populasi yang didapat melalui angket dengan kriteria inklusi adalah siswa laki-laki perokok aktif di SMK X Kota Semarang yang berjumlah 72 siswa. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Sebagian besar responden memiliki niat untuk berhenti merokok sebesar 60,0%. Variabel yang berhubungan dengan intensi berhenti merokok antara lain : sikap responden (p-value 0,002), norma Subjektif (p-value 0,000), persepsi kontrol perilaku (p-value 0,000)Simpulan dan Saran: Pemberian edukasi atau layanan berhenti merokok bagi siswa perokok diperlukan untuk membantu siswa dalam berhenti merokok.Title: Smoking Cessation Intention among Vocational Student Smoker Teenagers in Semarang City  Background: Smoking is a bad habit that is always inherent among teenagers. Teenagers is the age of initiation of smokers. Stop smoking is a form of process, which starts with the formation of an intention in an individual. The main key to the success of the smoking cessation program is the intention of smokers to stop smoking. The purpose of this study to determine the factors that can affect the intention to stop smoking in adolescents, especially in vocational students.Method: This research is a quantitative research with cross sectional approach. The sample was selected using the total population obtained through questionnaires with inclusion criteria were male active smokers in Vocational High School X Semarang, amounting to 72 students. The analytical data was conducted univariate and bivariate analysis using Chi Square test.Result: Most respondents had the intention to stop smoking by 60.0%. The variables related to smoking cessation intention are : Behavioral Belief (p-value 0,002), Subjective norms (p-value 0,000), perceived of behavioral control (p-value 0,000).Conclusion:. Provision of smoking cessation education or services for students who smoke is needed to help students stop smoking. Keywords: intention, smoking, adolescent, smoking cessation
Hubungan Kualitas Udara Dalam Ruang dengan Kejadian Sick Building Syndrome (SBS) pada Karyawan PT PLN (Persero) Unit Distribusi Jawa Tengah Dan DI Yogyakarta Chintya Paramitha Anisa Putri; Mursid Rahardjo; Nur Endah Wahyuningsih
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.219-225

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Penggunaan Air Conditioner (AC) digunakan sebagai alternatif pengganti ventilasi alami bagi bangunan perkantoran yang jarang dibersihkan akan menjadi tempat bagi mikroorganisme untuk berkembang biak. Kondisi tersebut mengakibatkan kualitas udara dalam ruangan menurun dan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan yang disebut sebagai Sick Building Syndrome (SBS). Berdasarkan hasil observasi awal 40% karyawan mengalami gejala SBS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis hubungan kualitas udara dalam ruang (suhu, kelembaban, kadar debu dan jumlah kuman) dengan kejadian SBS.Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 34 orang dengan menggunakan kuesioner dan pengukuran. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan PT PLN (Persero) Unit Distribusi Jawa Tengah Dan DI Yogyakarta yang mengalami gejala SBS sebanyak 44,1% (15 pegawai) dan yang tidak mengalami SBS sebanyak 55,9% (19 pegawai). Tidak terdapat hubungan antara suhu udara dengan kejadian SBS dengan p value 0,281. Tidak terdapat hubungan antara kelembaban udara dengan kejadian SBS dengan p value 0,437. Gejala yang paling banyak dirasakan adalah pegal-pegal, rasa kaku pada otot, batuk-batuk, dan hidung berair.Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara kualitas udara dalam ruangan dengan kejadian SBS pada karyawan PT PLN (Persero) Unit Distribusi Jawa Tengah Dan DI Yogyakarta. Kata kunci: sick building syndrome, kualitas udara dalam ruang ABSTRACTTitle: Relationship between Indoor Air Quality and Sick Building Syndrome (SBS) Incidence in Employees of PT PLN (Persero) in Central Java and Yogyakarta Special Region Distribution Unit  Backgorund: The use of Air Conditioner (AC) used as an alternative to natural ventilation for office buildings that are rarely cleaned will be a place for microorganisms to multiply. These conditions result in decreased indoor air quality and can cause various health problems known as Sick Building Syndrome (SBS). Based on initial observations, 40% of employees experience SBS symptoms. The purpose of this study is to describe and analyze the relationship between air quality in space (temperature, humidity, dust content and the number of germs) with the occurrence of SBS.Method: This research uses analytic observational research with cross sectional approach. The number of samples in this study were 34 people using questionnaires and measurements. Data analysis was performed using a chi-square statistical test.Results: The results showed that the employees of PT PLN (Persero) Distribution Unit of Central Java and DI Yogyakarta who experienced symptoms of SBS were 44.1% (15 employees) and those without SBS experienced 55.9% (19 employees). The most felt symptoms are aches, stiffness in muscles, coughing, and runny nose. There is no relationship between air temperature and the incidence of SBS with p value 0,281. There is no relationship between air humidity with the incidence of SBS with p value 0,437. The most felt symptoms are aches, stiffness in muscles, coughing, and runny nose. Conclusion: The conclusion of this study is that there is no relationship between indoor air quality with the occurrence of SBS on the employees of PT PLN (Persero) Distribution Unit of Central Java and DI Yogyakarta Keywords : sick building syndrome, indoor air quality
Praktik Menyusui yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia: Telaah Literatur Chairunnisa, Syifa Al Janna; Nugraheni, Sri Achadi; Kartini, Apoina
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 5 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.5.353-362

Abstract

Latar belakang: Masih rendahnya tingkat menyusui di Indonesia bersamaan dengan cukup tingginya kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variabel faktor praktik menyusui yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia.Metode: Strategi pencarian literatur dalam database daring dilakukan menggunakan mesin pencarian Portal Garuda, SpringerLink, EBSCOhost, dan Google Scholar dengan kata kunci: stunting, indonesia, breastfeeding. Pembatasan ditetapkan pada artikel: artikel asli dari sumber utama dengan teks penuh, diterbitkan sepuluh tahun terakhir, berbahasa Indonesia dan/atau Inggris. Faktor praktik menyusui yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia diidentifikasi. Dari 808 artikel didapatkan 37 artikel memenuhi kriteria, diidentifikasi dan menghasilkan tiga variabel besar yaitu pelaksanaan IMD, pemberian ASI eksklusif, serta durasi menyusui (lamanya pemberian ASI dalam lingkup waktu luas).Hasil: Variabel yang berhubungan positif dengan kejadian stunting di Indonesia yaitu pelaksanaan IMD serta pemberian ASI eksklusif. Penundaan inisiasi menyusu atau tidak melaksanakan IMD serta tidak memberikan ASI eksklusif menjadi faktor risiko stunting pada balita di Indonesia dengan OR tertinggi masing-masing sebesar 3,69 dan 19,50. Variabel durasi menyusui terhadap kejadian stunting di Indonesia masih inkonklusif dimana durasi menyusui yang lebih lama ditemukan berhubungan positif dan negatif dengan menjadi faktor protektif dan faktor risiko kejadian stunting pada balita di Indonesia.Simpulan: Praktik menyusui yang ditemukan berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia meliputi pelaksanaan IMD, pemberian ASI eksklusif, serta durasi menyusui, menggambarkan bagaimana pentingnya praktik menyusui berinteraksi terhadap status gizi.Kata kunci: stunting; Indonesia; praktik menyusui; balitaABSTRACTTitle: Breastfeeding Practice Factors Associated with Stunting among Under-five Children in Indonesia: A Literature ReviewBackground: Low rates of breastfeeding practices in Indonesia coincide with the high incidence of childhood stunting. This review aimed to identify breastfeeding factor variables associated with stunting among under-five children in Indonesia.Method: Online literature search strategy was conducted using Portal Garuda, SpringerLink, EBSCOhost, and Google Scholar with the following keywords: stunting, Indonesia, breastfeeding. Search limits included: original and full article from primary sources, published in the last ten years, Indonesian and/or English language. Breastfeeding practice factors associated with stunting were identified. From 808 articles, 37 were obtained fulfilling the criteria. They were identified and produced three major variables, including breastfeeding initiation, exclusive breastfeeding, and breastfeeding duration.Result: Variables reported to be positively associated with stunting among under-five in Indonesia were breastfeeding initiation and exclusive breastfeeding. Delayed breastfeeding initiation and non-exclusive breastfeeding were reported to be the risk factors of stunting among under-five in Indonesia with the highest OR of 3,69 and 19,50. The breastfeeding duration variable is still inconclusive, where prolonged breastfeeding was found positively and negatively associated by becoming the protective and risk factors of stunting among under-five children in Indonesia.Conclusion: Breastfeeding practice factors found to be significantly associated with stunting in Indonesia are exclusive breastfeeding, breastfeeding initiation and breastfeeding duration, demonstrating the importance of how breastfeeding practices interact with nutritional status. Keywords: Stunting; Indonesia; breastfeeding practices; under-five children
Literature Review : Hubungan Aktivitas Fisik dan Kebiasaan Konsumsi Fast Food dengan Kejadian Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar Ferdianti, Lia
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 2 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.2.139-143

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Data RISKESDAS 2018 menunjukan bahwa prevalensi obesitas pada anak Indonesia umur 5-12 tahun adalah 9,2%, untuk anak laki-laki 10,7% dan untuk anak perempuan 7,7%. Obesitas pada anak disebabkan oleh beberapa faktor yakni faktor keturunan atau genetik, pola makan, sosial ekonomi dan aktivitas fisik, dimana aktivitas fisik dan pola makan sangat berpengaruh terhadap kejadian obesitas pada anak karena seiringnya perkembangan zaman permainan anak anak yang lebih banyak menggeluarkan aktivitas fisik telah tergantikan dengan permainan game online sehingga kurangnya aktivitas fisik pada anak selain itu perkembangan zaman pula menyebabkan meningkatnya pola konsumsi makanan cepat saji yang bisa didapatkan dengan cepat dan mudah. Tujuan penelitian studi literature review ini adalah untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar dan mengetahui hubungan kebiasaan konsumsi makana cepat saji dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar.Metode: Penelitian ini menggunakan desain literature review dengan mengumpulkan artikel artikel yang dipilih menggunakan mesin pencarian google scholar dan indeks sains dan teknologi. Pada pencarian awal dengan kata kunci (anak obesitas dan faktor risiko obesitas), ditemukan 5 artikel dari rentang tahun 2016 sampai 2020 yang masuk dalam kriteria inklusi dan eksklusi.Hasil: Studi literature ini didapatkan 5 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi.Simpulan : Berdasarkan hasil analisis literature review ditemukan ada hubungan yang signifikan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar dan ditemukan pula hubungan yang signifikan pada kebiasan konsumsi fast food dengan kejadian obesitas pada anak sekolah dasar. Kata Kunci : anak obesitas, aktivitas fisik, makanan cepat saji ABSTRACTitle: Relationship between Physical Activity and Fast Food Consumption Habits with  Incidence of Obesity in Elementary School Children Background: RISKESDAS 2018 data shows prevalence of obesity in Indonesian children aged 5-12 years is 9,2%, 10,7% for boys and 7,7% for girls. Obesity in children is caused by several factor, heredity or genetic factors, diet, social economic and physical activity, where physical activityand diet are very influential on the incidence of obesity in children because over time children’s play which is more physical activity has been replaced with online games so that the the lack of physical activity in children in addition to the times have also led to an increase in fast food consumption patterns that can be obtained quickly and easly. The research objectives of this literature review study were to determine the relationship between physical activity and incidence of obesity in elementary school children and to determine relationship between fast food consumption habits and incidence of obesity in elementary school children.Methods : This study used a literature review design of article selected using several search engines google scholar and the science and technology index. At the beginning of the search with the keyword (child obesity and risk factors for obesity), the result 5 articles were found from the range of 2016 to 2020 included to the inclusion and exclusion criteria.Result : This literature study found 5 articles that match the inclusion criteria Conclusion : Based on the analysis of the literature review, it was found that there was a significant relationship between physical activity and the incidence and found a significant relationship between fast food comsumption habits and the incidence of obesity in elementary school children.Keyword : child obesity, physical activity, fast food
Hubungan Status Akreditasi dengan Kepatuhan Pegawai dalam Pelaksanaan Standar Keselamatan Pasien Sofie Astri Risanty; Antono Suryoputro; Nurhasmadiar Nandini
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.195-200

Abstract

Latar Belakang: Puskesmas melakukan kegiatan pelayanan kesehatan yang beragam yang melibatkan berbagai tenaga profesi dan non profesi, serta melibatkan berbagai obat, tes dan prosedur dengan teknologi dan peralatan kedokteran yang memiliki risiko terjadinya kesalahan dan kecelakaan. Standar keselamatan pasien dalam Permenkes 11 tahun 2017 merupakan acuan bagi fasilitas kesehatan yang wajib diterapkan dalam melaksanakan kegiatannya. Dengan penerapan tujuh standar keselamatan pasen ini, diharapkan Puskesmas dapat menyelenggaraan asuhan pasien lebih aman dan bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan. Penilaian pelaksanaan standar keselamatan pasien dilakukan menggunakan instrumen akreditasi yang wajib dilaksanakan secara berkala paling sedikit tiga tahun sekali. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertaarik untuk mengetahui hubungan status akreditasi dengan kepatuhan pegawai puskesmas dalam pelaksanaan standar keselamatan pasien.Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, rancangan cross sectional. Analisis dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square Test. Populasi pada penelitian ini adalah pegawai puskesmas se-kota Semarang dengan teknik pengambilan Stratified and Proirtional Random Sampling sebanyak 87 pegawai. Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 47,1% responden memiliki kepatuhan yang tidak baik. Hasil analisis statistik dengan menggunakan Chi-Square menunjukkan bahwaa status akreditasi (p=0,257), tidak berhubungan dengan kepatuhan pegawai dalam pelaksanaan standar keselamatan pasien. Simpulan: Status akreditasi yang diperoleh puskesmas tidak mempunyai hubungan signifikan terhadap kepatuhan pegawai dalam pelaksanaan standar keselamatan pasien. Tingginya status akreditasi tidak berarti bahwa pegawai mempunyai tingkat kepatuhan yang tinggi dan bukan berarti status akreditasi rendah lalu kepatuhannya juga rendah. ABSTRACTTitle: Relationship between Puskesmas Accreditation Status and Employee Compliance in the Implementation of Patient Safety Standards  Background: Puskesmas conducts diverse health service activities, which involve a variety of drugs, tests and procedures with medical technology and equipment that are at risk of errors and accidents. Minister of Health Regulation 11 of 2017 concerning patient safety consists of seven patient safety standards are a mandatory reference for health facilities in carrying out their activities.  With the application of these seven pasent safety standards, it is hoped that Puskesmas can safeguard patient care and can be used as a benchmark for success. Assessment of the implementation of patient safety standards is carried out using accreditation instruments which must be carried out regularly at least once every three years. Based on this, the researcher was interested in finding out the relationship between accreditation status and compliance of puskesmas staff in implementing patient safety standards.Method: This was quantitative research with cross sectional design. Data Analyzed with Chi-Square Test. The population in this study were employees of health centers throughout the city of Semarang and sample was chosen by Stratified and Proirtional Random Sampling, with sample size 87 employees.Result: The results of this study showed that 47.1% of respondents had poor compliance. The results of statistical analysis using Chi-Square showed that there was no relation between accreditation status and employee compliance in implementing patient safety standards (p = 0.257).Conclusion:. The accreditation status obtained by the puskesmas does not have a significant relationship to employee compliance in implementing patient safety standards. High accreditation status does not mean that employees have a high level of compliance and does not mean low accreditation status and therefore low compliance.   Keywords: patient safety standards, puskesmas, accreditation status
Gambaran Kepatuhan Minum Obat dalam Pengobatan Massal Pencegahan Filariasis Limfatik di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Mailana, Alfiko Aditya; Saraswati, Lintang Dian; Kusariana, Nissa; Ginandjar, Praba
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 5 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.5.345-352

Abstract

Latar belakang: Indonesia merupakan negara endemis filariasis di Asia Tenggara dengan 236 kabupaten/ kota (46%) termasuk dalam daerah endemis. Kabupaten Semarang menjadi salah satu daerah endemis yang menjalankan POPM filariasis sejak tahun 2017. Pada tahun 2018 terjadi penurunan angka cakupan minum obat dan peningkatan jumlah kasus filariasis di Kabupaten Semarang. Hal tersebut dapat memengaruhi keberhasilan pelaksanaan POPM filariasis di Kabupaten Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kepatuhan minum obat masyarakat dalam POPM filariasis di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif menggunakan desain studi cross sectional dengan metode rapid survey. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang pada bulan September-Oktober 2019. Penelitian ini menggunakan cluster sampling dua tahap dengan unit sampling adalah rukun warga (RW). Jumlah cluster dalam penelitian ini adalah 30 cluster dengan besar sampel sebanyak 210 responden berusia ≥ 18 tahun. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang patuh meminum obat pencegahan filariasis (79,5%) lebih banyak terdapat pada responden dewasa berumur 18-44 tahun (84,6%), berjenis kelamin perempuan (82,8%), tamat SMP/ sederajat (85,7%), tidak bekerja (84,9%), berpengetahuan baik (90,9%), mendapat dukungan kader baik (94,7%), mendapat dukungan sosial baik (84,7%), dan tidak mengalami efek samping obat pencegahan filariasis pada periode pertama (92,7%). Sedangkan, alasan responden tidak meminum obat pencegahan filariasis paling banyak adalah karena takut terhadap efek samping obat (27,9%).Simpulan: Responden dewasa (18-44 tahun), perempuan, tamat SMP/ sederajat, tidak bekerja, berpengetahuan baik, mendapatkan dukungan kader dan sosial baik, serta tidak mengalami efek samping obat pada POPM periode pertama lebih patuh dalam meminum obat pencegahan filariasis.Kata kunci: Filariasis, kepatuhan minum obat, POPM ABSTRACTTitle: Compliance of Taking Drugs in the Filariasis Mass Drug Administration at Banyubiru Sub-district Semarang RegencyBackground: Indonesia is a filariasis endemic country in Southeast Asia with 236 endemic districts (46%). Semarang Regency has become one of the endemic districts that have been running filariasis MDA since 2017. There has been a decreasing of MDA coverage and increasing the number of filariasis cases in 2018. Those problems could affect the success of filariasis elimination. This study aims to describe the community's filariasis MDA compliance in Banyubiru Sub-district.Method: This research is an observational descriptive study. Research was done using a cross-sectional design with a rapid survey method that was conducted in September-October 2019. This study used two-stage cluster sampling with rukun warga (RW) as sample unit, 30 clusters were selected with sample number was 210 of ≥18 years old respondents.Result: Compliant respondents who took filariasis prevention drugs (79.5%) were mostly found in adult respondents aged 18-44 years (84.6%), female (82.8%), completed junior high school/ equivalent (85.7%), jobless (84.9%), have good knowledge (90.9%), have good cadre support (94.7%), have good social support (84.7%), and not experiencing filariasis prevention drugs side effect (92.7%). Meanwhile, respondents mostly did not take filariasis prevention drugs was because they were afraid with side effects of the drug (27.9%).Conclusion: Respondents who adult (18-44 years old), female, graduated from junior high school/ equivalent, jobless, have good knowledge, have good cadre and social support, and not experiencing drugs side effects in the MDA first period are more compliant in taking filariasis prevention drugs. Keywords: Filariasis, drug compliance, filariasis MDA

Page 11 of 29 | Total Record : 283