cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)" : 10 Documents clear
PENGARUH HORMON ECDYSON TERHADAP SINTASAN DAN PERIODE MOULTING PADA LARVA KEPITING BAKAU Scylla olivacea Sutia Budi; M. Yusri Karim; Dody D. Trijuno; M. Natsir Nessa; Herlinah Herlinah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.831 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.335-339

Abstract

Kepiting Bakau Scylla olivacea merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Kendala yang dihadapi dalam kegiatan perbenihan kepiting bakau adalah masih tingginya tingkat mortalitas. Tujuan penelitan untuk mengevaluasi pengaruh hormon ecdyson terhadap sintasan dan periode moulting pada larva kepiting bakau Scylla olivacea. Penelitian dilakukan di Unit Stasiun Pembenihan Kepiting Maranak Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Hewan uji berupa larva kepiting bakau Scylla spp. stadia zoea. Pakan uji dalam penelitian berupa rotifer dan Artemia yang dilakukan pengkayaan dengan hormon ecdyson. Wadah penelitian berupa akuarium 110 L berjumlah 12 buah yang diisi dengan air sebanyak 100 L, air bersalinitas 28-30 ppt dengan kepadatan larva sebanyak 50 ekor/L. Perlakuan yang diuji adalah berbagai dosis hormon ecdyson dalam pakan, yakni A= 0 mg/L; B= 0,5 mg/L; C= 1 mg/L; dan D= 1,5 mg/L; dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diukur adalah sintasan dan periode moulting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis hormon ecdyson memberikan pengaruh yang baik terhadap sintasan dan periode moulting larva kepiting bakau.Mud crab, Scylla olivacea is one of highly valued and sought-after fishery commodities. Despite its high economic value, mud crab culture still faces a problem in producing high-quality seed which is high mortality rate post-spawning. The study aim was to evaluate the effect of the Ecdyson hormone on the survival rate and molting period of the mud crab larvae. The study was conducted at the Maranak Crab Seedling, BRPBAP3 Maros, South Sulawesi Province. The trial used mud crabs larvae that were in zoea stage. The trial feed was given in the form of Rotifer and Artemia enriched with the Ecdyson hormone. Twelve 110-liter aquaria were filled with 100 L of 28-30 ppt of seawater. The stocking density of mud crab seed was 50 larvae/L. The treatments consisted different doses of Ecdyson hormone in the feed, i.e. A= 0 mg/L, B= 0.5 mg/L, C= 1 mg/L, and D= 1.5 mg/L, with three replications for each treatment. The parameters measured were survival rate and molting period. The results showed that the treatment of Ecdyson hormone doses gave a good effect on the survival rate and molting period of mud crab larvae.
DISTRIBUSI NITROGEN DAN FOSFOR PADA BUDIDAYA IKAN GABUS (Channa striata) DENGAN APLIKASI ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) DAN PROBIOTIK Adang Saputra; Lies Setijaningsih; Yosmaniar Yosmaniar; Tri Heru Prihadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.489 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.379-388

Abstract

Permasalahan yang dihadapi pembudidaya ikan dengan sistem intensif adalah meningkatnya limbah yang terakumulasi pada air dan sedimen. Limbah budidaya ikan pada umumnya berupa padatan dan nutrien terlarut pada air terutama nitrogen dan fosfor. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji distribusi nitrogen total dan fosfor total pada budidaya ikan gabus secara intensif yang diberi eceng gondok Eichhornia crassipes dan probiotik (Pseudomonas aeruginosa dan Achromobacter insuavis). Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan pemberian kombinasi eceng gondok dan probiotik (A), pemberian eceng gondok (B), dan pemberian probiotik (C), masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Benih ikan gabus yang digunakan berukuran panjang 14,74 ± 0,01 cm dan bobot 25,53 ± 0,09 g dengan padat tebar 175 ekor/kolam (50 ekor/m3). Selama 90 hari masa pemeliharaan, ikan gabus diberi pakan berupa pelet dengan kandungan protein sekitar 30%. Jumlah pemberian pakan 5% dari biomassa dengan frekuensi pemberian empat kali dalam sehari (pagi, siang, sore, dan malam). Hasil penelitian menunjukkan nitrogen dan fosfor pada budidaya ikan gabus terdistribusi pada eceng gondok, sedimen, air, dan ikan. Eceng gondok menyerap nitrogen dan fosfor paling tinggi (P<0,05) dibandingkan air, ikan, dan sedimen. Laju pertumbuhan spesifik bobot (4,37 ± 0,01%/hari) dan biomassa (1,88 ± 0,01 g) ikan gabus tertinggi dicapai pada pemberian kombinasi eceng gondok dan probiotik. Hasil ini dapat dijadikan landasan untuk pengelolaan limbah nitrogen dan fosfor pada budidaya ikan gabus secara intensif.One of the problems in intensive aquaculture system is the the accumulation of waste in the water and sediment. Aquaculture wastes are discharged into the water in form of solids and dissolved nutrients which mostly consisted of nitrogen and phosphorus. The purpose of this study was to study the dynamics of total nitrogen and phosphorus in an intensive aquaculture media supplied with water hyacinth and probiotics (Pseudomonas aeruginosa and Achromobacter insuavis). The study was designed using a completely randomized design with treatment combinations of water hyacinth with probiotic (A), water hyacinth (B), and probiotic (C). Each treatment consisted of three replications. The seeds of snakehead used had body length of 14.74 ± 0.01 cm and weight 25.53 ± 0.09 g, stocked in ponds with stocking density of 175 individuals/pond (50 individuals/m3). During 90 days of rearing, the fish were fed with pellet with protein content of 30%. The amount of feeding was 5% of the biomass with feeding frequency of four times a day (morning, afternoon, evening, and night). The results showed that the produced nitrogen and phosphorus in the snakehead cultivation were distributed to water hyacinth, sediment, water, and fish. Water hyacinth absorbed most of the nitrogen and phosphorus compared to water, fish, and sediment. Higher specific growth rate (4.37 ± 0.01%/day) and biomass (1.88 ± 0.01 g) of snakehead were achieved in combination of water hyacinth and probiotic treatment. These results can be used as a basis for the management of nitrogen and phosphorus wastes in an intensive fish farming.
KERAGAMAN GENETIK TIGA GENERASI IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminkii) DALAM PROGRAM DOMESTIKASI Otong Zenal Arifin; Wahyulia Cahyanti; Anang Hari Kristanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.147 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.295-305

Abstract

Suatu penelitian untuk melihat keragaman genetik tiga generasi ikan tambakan dalam program domestikasi telah dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan, Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keragaman genetik generasi tetua/awal (G0), generasi pertama (G1), dan generasi kedua (G2) dalam program domestikasi ikan tambakan. Pengujian keragaman genetik dilakukan dengan metode PCR-RAPD menggunakan tiga primer, yakni OPA-2, OPA-8, dan OPC-2. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan jumlah (7-15) dan ukuran fragmen (200-2.800 bp) yang dihasilkan, dengan frekuensi kemunculan alel berkisar antara 0,00-1,00 dari 31 lokus. Enam fragmen dari OPC-2 (1.400 bp, 1.300 bp, 1.100 bp, 800 bp, 600 bp, 500 bp), lima fragmen dari OPA-2 (1.350 bp, 1.000 bp, 900 bp, 800 bp, 520 bp), dan dua fragmen dari OPA-8 (1.000 bp, 550 bp) merupakan fragmen marka spesifik ikan tambakan pada penelitian ini. Keragaman genetik ikan tambakan antar generasi tergolong rendah, dengan nilai persentase polimorfisme berkisar antara 6,45%-35,48% dan nilai heterozigositas berkisar antara 0,03-0,16. Terjadi penurunan polimorfisme dan heterozigositas dari generasi tetua/awal (G0) ke generasi pertama (G1) dan kembali naik pada generasi kedua (G2). Dalam program domestikasi, nilai efektif induk (Ne) sebaiknya lebih dari 100, dengan nilai laju inbreeding (F) tidak lebih dari 0,005.A study to examine the genetic diversity of three generations of kissing gourami under a domestication program has been conducted at the Research Institute for Freshwater Aquaculture and Fisheries Extension, Bogor. The purpose of this study was to evaluate the genetic diversity of the elder generation (G0), first generation (G1), and second generation (G2) of kissing gourami under the domestication program. The genetic diversity examination was conducted through a PCR-RAPD method using three primers, namely OPA-2, OPA-8, and OPC-2. The obtained results indicated a difference in the number (7-15) and size of the fragments (200-2.800 bp) with the frequency of allele occurrence ranged from 0.00 to 1.00 from 31 loci. Six fragments from OPC-2 (1,400 bp; 1,300 bp; 1,100 bp; 800 bp; 600 bp; 500 bp), five fragments from OPA-2 (1,350 bp; 1,000 bp; 900 bp; 800 bp; 520 bp), and two fragments from OPA-8 (1,000 bp; 550 bp) were considered as species-specific markers of kissing gourami. The genetic diversity among the generations of the kissing gourami was low, with the percentage of polymorphism ranged from 6.45% to 35.48% and the value of heterozygosity ranged from 0.03 to 0.16. There was a decrease in polymorphism and heterozygosity values from the elder generation (G0) to the first generation (G1) and increased again but on the second generation (G2). In addition, the effective breeding value (Ne) in a domestication program should be more than 100, and the average of inbreeding value (F) is less than 0.005.
PENGARUH KEPADATAN TERHADAP SINTASAN, PERTUMBUHAN, DAN GAMBARAN DARAH BENIH IKAN BETUTU Oxyeleotris marmorata Tri Heru Prihadi; Adang Saputra; Gleni Hasan Huwoyon; Brata Pantjara
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.643 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.341-350

Abstract

Ikan betutu Oxyeleotris marmorata merupakan ikan lokal potensial menjadi komoditas budidaya. Performa pertumbuhan dan sintasan dapat ditingkatkan dengan mengoptimalkan padat tebar. Tujuan penelitian adalah menentukan padat tebar yang menghasilkan sintasan dan pertumbuhan tinggi, serta respons fisiologis terbaik. Kolam yang digunakan berukuran 2 m x 1 m x 1 m dan diisi air 1 m3. Perlakuan yang diuji adalah kepadatan 50 ekor/m3, 100 ekor/m3, dan 150 ekor/m3. Ukuran benih yang digunakan 4,24 ± 0,58 cm dengan bobot 2,74 ± 0,45 g. Selama 60 hari masa pemeliharaan, pakan yang diberikan adalah cacing sutra Tubifex sp. secara sekenyangnya. Hasil penelitian menunjukkan sintasan benih ikan betutu yang dipelihara pada berbagai padat tebar tidak berbeda secara nyata, pertumbuhan spesifik panjang (1,50 ± 0,37%/hari) dan bobot total benih ikan betutu (1,95 ± 0,32%/hari) tertinggi, dan perubah respons fisiologis berupa gambaran darah paling stabil dicapai pada padat tebar 50 ekor/m3, serta biomassa tertinggi dicapai pada kepadatan 150/m3. Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi dasar untuk melakukan pendederan ikan betutu secara terkontrol.Sand goby, Oxyeleotris marmorata is a potential fish species for aquaculture in Indonesia. However, the growth performance and survival rate of the fish seed are still low. Such challenges could be solved through the optimization of stocking density of the fish. The research objective was to determine the optimal stocking density to produce high growth and survival rate, as well as the best physiological response. The ponds used in this experiment were 2 m x 1 m x 1 m in size (water volume: 1 m3). The stocking density treatments were 50, 100, and 150 individual/m3. The initial fish length average was 4.24 ± 0.58 cm, with the initial body weight average of 2.74 ± 0.45 g. During 60 days of rearing period, the fish were fed with Tubifex sp. ad libitum. The results showed that the survival rates on different stocking densities were not significantly different. The highest specific growth on length (1.50 ± 0.37%/day) and body weight total (1.95 ± 0.32%/day) and the most stable physiological response related to its hematological parameters were achieved by seed stocked at 50 individuals/m3. The best biomass total was achieved by seed stocked at 150 individuals/m3. The result of this study could be applied as basic information to culture sand goby in a controlled environment.
PERTUMBUHAN DAN VARIASI GENETIK IKAN BANDENG, Chanos chanos DARI PROVINSI ACEH, BALI, DAN GORONTALO, INDONESIA Sari Budi Moria Sembiring; Gigih Setia Wibawa; Tony Setiadharma; Haryanti Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.301 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.307-314

Abstract

Ikan bandeng, Chanos chanos merupakan salah satu ikan ekonomis penting di Asia. Sejak tahun 1995, di Indonesia sebagian besar benih bandeng diproduksi dari hatchery sekitar Dusun Gondol, Bali Utara baik untuk pasar domestik maupun perdagangan internasional. Dalam rangka meningkatkan kualitas benih, perlu dilakukan perbaikan induk secara genetik menggunakan populasi yang unggul. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan data laju pertumbuhan dan variasi genetik induk ikan bandeng yang berasal dari lokasi perairan Aceh, Bali, dan Gorontalo. Pertumbuhan ikan bandeng diamati melalui pengukuran panjang dan bobot benih hingga ukuran 500 g (calon induk), serta variasi genetik diamati menggunakan metode RFLP DNA. Benih dan calon induk masing-masing dianalisis sebanyak 15 ekor. Hasil pengamatan pertumbuhan ikan bandeng mulai dari benih hingga menjadi calon induk, menunjukkan bahwa ikan bandeng dari Aceh dan Bali mempunyai pertumbuhan panjang dan bobot yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan ikan bandeng dari Gorontalo, walaupun secara statistik tidak berbeda nyata (P<0,05). Hasil analisis variasi genetik terdapat lima komposit haplotipe dari empat enzim restriksi yaitu Mbo I, Hae III, Hha I, dan Nla IV pada sekuens cytochrome-b. Jumlah rata-rata restriction site adalah 1-3 haplotipe. Populasi Aceh dan Bali memiliki nilai keragaman genetik yang lebih rendah (0,080 dan 0,000) dibandingkan dengan calon induk dari benih Gorontalo (0,115).Milkfish, Chanos chanos is one of the economically important fish in Asia. Since 1995, milkfish seed mostly produced in Gondol area, Northern part of Bali, and suppleted both domestic and international markets. In order to improve its seed quality the improvement of milkfish broodstock genetic is required through selection of superior population. The aims of this research were to evaluate the growth performance and genetic variation of milkfish populations from Aceh, Bali, and Gorontalo Province. The length and weight of fry up to 500 g was measured as well as the genetic variation was detected using RFLP DNA method. Fry and young broodstock in the DNA analyses were 15 individuals. The results showed that the growth in length and weight milkfish seed from fry to young broodstock (size up to 500 g) from Aceh and Bali was slightly higher than that of Gorontalo, but no significant differences (P>0.05) were observed among the populations. The genetic analysis showed five haplotypes composite from four restriction enzymes i.e., Mbo I, Hae III, Hha I, and Nla IV at on cytochrome-b sequen. The average number of restriction site was 1-3 haplotypes. Aceh and Bali populations have lower genetic variations (0.080 and 0.000) compared to Gorontalo (0.115).
PENGGUNAAN TEPUNG DAUN MURBEI (Morus alba L) DALAM PAKAN PEMBESARAN KEPITING BAKAU, Scylla olivacea Kamaruddin Kamaruddin; Usman Usman; Asda Laining
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.674 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.351-359

Abstract

Salah satu bahan nabati yang perlu dievaluasi sebagai bahan pakan untuk kepiting bakau adalah daun murbei yang mengandung protein cukup tinggi dan hormone ecdisterone yang penting untuk proses molting krustase. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis optimum penggunaan tepung daun murbei dalam pakan pembesaran kepiting bakau, Scylla olivacea. Juvenil kepiting bakau yang digunakan terdiri atas 3 kelompok ukuran bobot yaitu (i) 36±1,9 g; (ii) 45±1,5 g; dan (iii) 63±3,9 g. Perlakuan yang dicobakan adalah enam pakan dengan kandungan tepung daun murbei yang berbeda yaitu: 0%(DM0); 10% (DM10); 12,5% (DM12,5); 15% (DM15); 17,5% (DM17,5); dan 20% (DM20). Wadah penelitian yang digunakan berupa kotak kepiting (crab box) sebanyak 90 buah, diisi sebanyak 1 ekor/boks, dan didisain dengan rancangan acak kelompok. Pemberian pakan uji dilakukan dua kali sehari pukul 08.00 dan pukul 17.00 sebanyak 3-4% dari biomassa per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik (bobot, lebar karapas, dan panjang karapas), serta sintasan kepiting, rasio konversi pakan, dan efisiensi protein pakan, tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan. Namun kandungan tepung daun murbei dalam pakan di atas 15% menurunkan nilai koefisien kecernaan total pakan, dan kandungan tepung murbei di atas 17,5% menurunkan nilai kecernaan protein pakan. Berdasarkan respon pertumbuhan dan nilai kecernaan pakan, tepung daun murbei dapat dimanfaatkan hingga 15% dalam pakan pembesaran kepiting bakau.One of plant ingredients suitable to be evaluated as a feed ingredient for mud crab is mulberry leaves which contains protein and ecdisteron. The purpose of this study is to obtain the optimum dose of mulberry leaf meal in grow-out diet for mud crab Scylla olivacea. Juvenile mud crabs were used consisting of 3 groups of weight size ie. (i)36±1.9 g; (ii) 45±1.5 g; and (iii) 63±3.9 g. The treatments were six diets containing different levels of mulberry leaf at 0% (DM0); 10% (DM10); 12,5% (DM12,5); 15% (DM15); 17,5% (DM17,5); and 20% (DM20). The experiment was conducted using 90 crab boxes with a density of 1 individual/box. Feeding was applied twice a day at 08.00 and 17.00 with the rate of 3-4% of biomass per day. The results showed that the specific growth rates (weight, carapace width, and carapace length) and survival rate of crab, feed conversion ratio, and feed protein efficiency were not significantly different (P>0.05) among the treatments. However, mulberry leaf meal content above 15% in the diet decreased the apparent digestibility coefficient of dry matter (total) diet, and mulberry leaf meal content above of 17.5% decreased the apparent digestibility coefficient of protein diets. Based on the growth response and the apparent digestibility coefficient of the test diets, mulberry leaf meal can be utilized up to 15% in diet for mud crab grow-out.
HIBRIDISASI INTRASPESIFIK ANTAR DUA POPULASI IKAN GURAMI GALUNGGUNG (Osphronemus goramy, Lacepede, 1801) Otong Zenal Arifin; Imron Imron; Asependi Asependi; Ade Hendri; Nandang Muslim; Akhmad Yani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.198 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.315-323

Abstract

Ikan gurami (Osphronemus goramy) populasi Galunggung Hitam (GH) dan Galunggung Putih (GP) telah dibudidayakan secara luas di wilayah Priangan. Dalam upaya mendapatkan strain unggul ikan gurami untuk budidaya, hibridisasi intraspesifik, yaitu persilangan antar strain berbeda dalam spesies yang sama, merupakan pendekatan sederhana yang menarik untuk dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai keragaan hasil pemijahan dua populasi ikan gurami. Penelitian dilaksanakan di Balai Pengembangan Budidaya Ikan Gurami dan Nilem, Singaparna. Empat populasi ikan diperoleh dari hasil pemijahan dua arah antara ikan gurami yang berwarna putih dan berwarna hitam. Hasil yang diperoleh menunjukkan, hibridisasi antara induk betina gurami Galunggung Hitam dengan induk jantan Galunggung Putih (GH><GP), menghasilkan rerata panjang standar akhir 17,76 ± 1,129 cm; laju pertumbuhan mutlak 10,98 ± 1,240 cm; dan laju pertumbuhan spesifik 0,32 ± 0,017% per hari. Pada karakter lebar akhir, ikan gurami hibrida memiliki nilai 8,98 ± 0,485 cm; pertumbuhan mutlak lebar 5,68 ± 1,014 cm; dan laju pertumbuhan spesifik 0,33 ± 0,030% per hari. Bobot akhir ikan gurami hibrida sebesar 301,9 ± 6,63 g; laju pertumbuhan mutlak 295,6 ± 17,42 g; laju pertumbuhan spesifik 1,29 ± 0,017% per hari; dan sintasan sebesar 77,6 ± 5,26%; serta produktivitas sebesar 8,8 ± 0,70 kg/m2. Nilai heterosis ikan gurami hibrida (GH><GP) untuk seluruh karakter adalah positif. Nilai heterosis karakter bobot akhir adalah 14,1%; pertumbuhan mutlak 14,6%; laju pertumbuhan spesifik 5,38%; sintasan 31,75%; dan produktivitas sebesar 51,72%.The black Galunggung and white Galunggung strains of the giant gourami (Osphronemus goramy) have been widely cultured in Priangan areas, Indonesia. Intraspecific hybridization, a crossing between different strains of the same species, is a simple and commonly used approach to produce a superior strain for aquaculture purposes. This study was aimed to obtain information on the performance of gourami spawned from two different populations. The experiment was conducted at the Aquaculture Development Center of Giant Gourami and Nilem Carp, Singaparna. Four populations of giant gourami were obtained from spawning between white and black giant gourami. The results obtained showed that the hybrid resulted from the female of Black Galunggung and male of White Galunggung (GH><GP) produced the final average standard length of 17.76 ± 1.129 cm, standard length gain of 10.98 ± 1.240 cm, and specific growth rate in standard length of 0.32 ± 0.017% per day. On height character, the hybrid gourami had the final height of 8.98 ± 0.485 cm, a height gain of 5.68 ± 1.014 cm, and specific growth rate in height of 0.33 ± 0.030% per day. The final weight of the hybrid gourami of 301.9 ± 6.63 g, weight gain of 295.6 ± 17.42 g, the specific growth rate in weight of 1.29 ± 0.017% per day, and survival rate of 77.6 ± 5.26%, as well as the productivity of 8.8 ± 0.70 kg/m2. Heterosis value of the hybrid gourami (GH><GP) for the whole character was positive, with the heterosis value on the final weight of 14.1%, growth of 14.6%, the specific growth rate of 5.38%, the survival rate of 31.75%, and productivity of 51.72%.
Insidensi dan Prevalensi Infeksi WHITE SPOT SYNDROME VIRUS Pada PLANKTON DI TAMBAK Budidaya Udang Bunga Rante Tampangallo; Herlinah Herlinah; Muhammad Chaidir Undu
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.283 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.361-367

Abstract

Plankton di tambak super-intensif dalam berbagai bentuk seperti mikroalga, rotifer, dan kopepoda seringkali merupakan agen pembawa virus bintik putih atau white spot syndrome virus (WSSV) yang sangat potensial. Penelitian bertujuan untuk mengetahui insidensi dan prevalensi infeksi WSSV pada plankton di tambak budidaya udang vaname, Litopenaeus vannamei, super-intensif di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai dengan Desember 2015. Sampel plankton dikoleksi dari sumber pemasukan air tambak superintensif (inlet), outlet, instalasi pengolahan air limbah tambak yang sedang melakukan kegiatan budidaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa insidensi infeksi WSSV terjadi di bulan Januari, Oktober, dan November. Pada bulan Januari, plankton yang terdeteksi mengalami infeksi WSSV adalah dari petakan tambak P1, outlet-1, outlet dan inlet tambak-3, serta inlet hatchery. Selanjutnya pada bulan Oktober, plankton yang terinfeksi WSSV adalah dari petakan tambak P2, P7, P8, dan IPAL. Pada bulan November, WSSV hanya terdeteksi pada plankton di inlet petakan tambak P3 dan inlet hatchery. Prevalensi WSSV tertinggi diperoleh pada plankton di bulan November (66,67%); bulan Januari (62,5%); dan Oktober (40,00%). Plankton dalam petakan tambak cenderung lebih sensitif terhadap infeksi WSSV sehingga berpotensi sebagai vektor dalam tambak pembesaran udang.Plankton, found as microalgae, rotifer, and copepods, in super intensive ponds are potential disease agents of white spot syndrome virus (WSSV). This study aims to evaluate the incidence and prevalence of WSSV on plankton in super intensive Litopenaeus vannamei shrimp ponds in Barru Regency, South Sulawesi. The study was conducted for one year from January to December 2015. Plankton were collected from the inlets, outlets, and waste water management plant of the super intensive ponds which were running of culturing shrimps. The results showed that the incidences of WSSV infection on plankton were occurred in January, October, and November of 2015. The detected plankton with WSSV infection occurred in January and were collected from pond PI, outlet-I, outlets and inlets of pond-3 as well as the inlets of the hatchery. In October, the identified plankton infected with WSSV were collected from ponds P2, P7, P8, and their waste water management plant. In November, WSSV was only detected on plankton found in the inlets of pond-3 and the inlets of the hatchery. The highest WSSV prevalence was obtained on plankton isolated in November (66.67%) followed by plankton isolated in January (62.5%), and in October (40%). The study found that plankton in pond tend to be more sensitive to WSSV infection which could potentially serve as WWSV vectors in shrimp culture.
PENGARUH RANGSANGAN HORMON AROMATASE INHIBITOR DAN OODEV TERHADAP PERUBAHAN KELAMIN DAN PERKEMBANGAN GONAD IKAN KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus Hirmawan Tirta Yudha; Agus Oman Sudrajat; Haryanti Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.652 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.325-333

Abstract

Permasalahan utama yang dihadapi dalam penyediaan calon induk ikan kerapu sunu Plectropomus leopardus hasil budidaya yang bersifat hermaprodit sekuensial adalah keterlambatan dalam perkembangan gonad dan perubahan gonad dari betina menjadi jantan. Manipulasi hormonal merupakan cara yang paling efektif dan efisien dalam memacu perkembangan reproduksi dan pematangan gonad. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis hormon aromatase inhibitor dan oodev yang tepat untuk memacu perubahan kelamin dan perkembangan gonad ikan kerapu sunu. Ikan uji yang digunakan sebanyak 35 ekor F-1 dengan bobot rerata 2,3 ± 0,28 kg. Penelitian dilakukan selama dua bulan. Induksi hormon dilakukan melalui penyuntikan setiap dua minggu sekali dengan empat dosis aromatase inhibitor dan oodev yang berbeda; A (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 ikan), O (oodev 1 mL kg-1 ikan), AO1 (aromatase inhibitor 0,1 mg kg-1 ikan + oodev 1 mL kg-1 ikan), AO2 (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 ikan + oodev 1 mL kg-1 ikan), dan K (plasebo). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi aromatase inhibitor 1 mg kg-1 ikan dan oodev 1 mL kg-1 ikan efektif untuk merangsang perubahan kelamin. Perlakuan tersebut dapat meningkatkan konsentrasi testosteron dalam darah (2,819 ng/mL) setelah delapan minggu pemeliharaan. Berdasarkan hasil histologi gonad dan observasi terhadap ekspresi gen terkait reproduksi menggunakan gen target DMRT1 dan SOX3 menunjukkan bahwa perlakuan hormon AO2 (Aromatase inhibitor 1 mg kg-1 ikan + oodev 1 mL kg-1 ikan) terbukti dapat memacu perubahan kelamin dari betina menjadi jantan dan kematangan gonad pada ikan kerapu sunu Plectropomus leopardus.The main problems faced in providing prospective broodstock of protogynous hermaphrodite coral trout grouper Plectropomus leopardus are lateness of gonadal development and gonadal sex reversal from female to male. Hormonal manipulation is the most effective way to induce reproductive development and gonadal maturation. The present study aimed to determine an effective dose of aromatase inhibitor and oodev on sex reversal and gonadal development of coral trout grouper. There were 35 F-1 fish with an average weight of 2.3 ± 0.28 kg. This research was conducted for two months. The fish were injected with four different dosages of aromatase inhibitor and oodev every two weeks: A (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 fish), O (1 mL oodev), AO1 (aromatase inhibitor 0.1 mg kg-1 fish + oodev 1 mL kg-1 fish), AO2 (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 fish + oodev 1 mL kg-1 fish), and K (placebo). The results showed that the combination of aromatase inhibitor 1 mg kg-1 fish and oodev 1 mL kg-1 fish was effective to induce the sex change. It could increase the concentration of testosterone in the blood (2.819 ng/mL) after eight weeks of culture. Based on the results of gonadal histology and reproductive-related genes expression observations using DMRT1 and SOX3 target genes, the hormonal treatment of AO2 (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 fish + oodev 1 mL kg-1 fish) was able to accelerate sex reversal from female to male and gonadal maturation in coral trout grouper Plectropomus leopardus.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI NITRIFIKASI DAN DENITRIFIKASI SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK Yosmaniar Yosmaniar; Hessy Novita; Eri Setiadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.001 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.369-378

Abstract

Senyawa nitrogen yang tinggi pada limbah budidaya perikanan intensif dapat memperburuk kualitas air, sehingga perlu diatasi dengan penambahan probiotik untuk proses bioremediasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi yang berpotensi sebagai kandidat probiotik pengendali senyawa nitrogen pada budidaya ikan air tawar. Tahap penelitian terdiri atas: 1) koleksi sampel air dan sedimen dari kolam budidaya ikan patin di kawasan minapolitan Desa Pudak Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi dan Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar Provinsi Riau; 2) pengujian sampel secara in vitro yang meliputi: a) Isolasi dan seleksi bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi; b) Karakterisasi morfologis bakteri terpilih; c) Karakterisasi fisiologi/biokimia isolat bakteri terpilih; d) Karakterisasi genetika isolat bakteri terpilih dengan sekuensing 16S-rRNA. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh empat isolat bakteri nitrifikasi dan empat isolate bakteri denitrifikasi. Isolat bakteri nitrifikasi Pandoraea pnomenusa strain 1318 (NP1); Pseudomonas aeruginosa strain PSE12 (NP2); Pseudomonas aeruginosa strain PSE12 (NP3); Burkholderia vietnamiensis strain NE 7 (NP4); dan denitrifikasi Achromobacter xylosoxidans strain TPL14 (DP1); Stenotrophomonas acidaminiphila strain BTY (DP2); Stenotrophomonas maltophilia strain BHWSL2 (DP3); Ochrobactrum intermedium strain: SQ 20 (DP4) Achromobacter xylosoxidans strain TPL14 (DP1); Stenotrophomonas acidaminiphila strain BTY (DP2); Stenotrophomonas maltophilia strain BHWSL2 (DP3); Ochrobactrum intermedium strain: SQ 20 (DP4); yang berpotensi digunakan sebagai kandidat probiotik pengendali senyawa nitrogen pada budidaya ikan air tawar. Wastes from an intensive aquaculture contain nitrogen compounds which, if untreated, could rapidly reduce water quality condition within the system. The addition of probiotics as bioremediation to aquaculture system has been used to improve water quality with promising results. The aim of this study was to obtain potential nitrifying and denitrifying bacteria that could be used as probiotic candidates to control excessive nitrogen compounds in freshwater culture. This study consisted of two steps, 1) the collection of water samples and sediments from catfish ponds at ‘Minapolitan Area” in Pudak Village, Jambi Province and Koto Mesjid Village, Riau Province; 2) in vitro tests consisting of isolation and selection of nitrifying and denitrifying bacteria; morphological characterization of the selected nitrifying and denitrifying bacteria; characterization of physiological/biochemical selected nitrifying and denitrifying bacteria; genetic characterization of the selected nitrifying and denitrifying bacteria with 16SrRNA sequencing. All data were analyzed descriptively. The study had found four nitrifying bacteria isolates: Pandoraea pnomenusa strain 1318 (NP1); Pseudomonas aeruginosa strain PSE 12 (NP2); Pseudomonas aeruginosa strain PSE12 (NP3); Burkholderia vietnamiensis strain NE 7 (NP4). The study also found four isolates of denitrifying bacteria isolates: Achromobacter xylosoxidans strain TPL14 (DP1); Stenotrophomonas acidaminiphila strain BTY (DP2); Stenotrophomonas maltophilia strain BHWSL2 (DP3); Ochrobactrum intermedium strain: SQ 20 (DP4). All the identified nitrifying and denitrifying bacteria isolates have the potential to be used as probiotic candidates to control nitrogen compound in freshwater aquaculture.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2017 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue