cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
KAJIAN PERBEDAAN LAMA PENYINARAN DAN INTENSITAS CAHAYA TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA SINTASAN BENIH IKAN TENGADAK Barbonymus schwanenfeldii Mochamad Nurdin; Kukuh Nirmala; Ani Widiyati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.58 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.371-378

Abstract

Lama penyinaran dan intensitas cahaya merupakan teknik sederhana manipulasi lingkungan untuk meningkatkan pertumbuhan dan sintasan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lama penyinaran dan intensitas cahaya yang terbaik terhadap pertumbuhan, serta sintasan benih ikan tengadak. Ikan uji adalah benih tengadak dengan rata-rata bobot dan panjang badan awal 0,12±0,04 g dan 2,01±0,22 cm. Ikan dipelihara dalam bak plastik 50 L sebanyak 50 ekor/bak dan diberi pakan tiga kali sehari. Intensitas cahaya yang berbeda dan penentuan lama penyinaran dengan automatic timer. Perlakuan terdiri atas (A1B1) lama penyinaran enam jam dan intensitas cahaya 250 lux, (A1B2) lama penyinaran enam jam dan intensitas cahaya 400 lux, (A1B3) lama penyinaran enam jam dan intensitas cahaya 550 lux, (A2B1) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (A2B2) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (A2B3) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 550 lux, (A3B1) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (A3B2) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (A3B3) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 550 lux. Setiap perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan sintasan benih ikan tengadak yang terbaik bila dipelihara pada lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 550 lux.
KARAKTERISTIK, KESESUAIAN, DAN PENGELOLAAN LAHAN TAMBAK DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES PROVINSI JAWA TENGAH Rachmansyah Rachmansyah; Andi Indra Jaya Asaad; Akhmad Mustafa
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1225.056 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.321-335

Abstract

Kabupaten Brebes memiliki lahan tambak yang produktivitasnya masih tergolong relatif rendah. Oleh karena itu, dilakukan survai untuk mengetahui karakteristik lahan dalam upaya menentukan kesesuaian dan pengelolaan lahan untuk budidaya tambak dalam upaya peningkatan produktivitas tambak di Kabupaten Brebes. Faktor yang dipertimbangkan dalam mengetahui karakteristik lahan adalah: tanah, topografi, hidrologi, dan iklim. Analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografis digunakan untuk penentuan kesesuaian lahan budidaya tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah kualitas air Sungai Kluwut dan pesisir Kecamatan Bulakamba kurang mendukung sebagai sumber air primer untuk kegiatan budidaya pada musim kemarau. Kualitas tanah tambak secara umum dapat mendukung usaha tambak yang dikelola secara tradisional sampai madya, di mana pada areal tertentu dijumpai adanya potensi kemasaman walaupun dalam jumlah yang rendah. Dari luas tambak yang ada di Kecamatan Bulakamba, yaitu 1.485,3 ha ternyata tidak ada tambak yang tergolong sangat sesuai (kelas S1), 145,7 ha tergolong cukup sesuai (kelas S2) dan 1.339,6 ha tergolong kurang sesuai (kelas S3). Upaya remediasi perlu dilakukan pada areal yang memiliki kandungan SPOS tanah tinggi dan perlu pula dilakukan pemupukan yang mengandung nitrogen seperti urea untuk menstabilkan rasio C:N tanah serta penambahan pupuk kandang untuk memperbaiki struktur tanah yang didominasi oleh fraksi liat. Perlu adanya upaya input teknologi dan infrastruktur untuk aliran massa air tawar dan penentuan pola dan waktu budidaya dengan memperhatikan faktor kunci salinitas.
ANALISIS SPASIAL POTENSI KAWASAN BUDIDAYA LAUT DI PROVINSI MALUKU UTARA DENGAN APLIKASI DATA PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS I Nyoman Radiarta; Achmad Sudradjat; Endhay Kusnendar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.415 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.143-153

Abstract

Provinsi Maluku Utara merupakan provinsi kepulauan dengan jumlah pulau baik besar maupun kecil mencapai 395 buah. Dengan luas lautan yang dominan (sekitar 76%) menjadikan provinsi ini berpotensi bagi pengembangan budidaya laut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis spasial potensi kawasan budidaya laut dengan menggunakan data penginderaan jauh (inderaja) dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Data utama yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: lingkungan perairan (kedalaman perairan, klorofil-a, dan suhu permukaan laut), infrastruktur (pelabuhan perikanan) dan sebaran penduduk. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa total luasan potensi kawasan budidaya laut di Maluku Utara masing-masing adalah 5.923 km2 untuk budidaya rumput laut, 5.243 km2 untuk budidaya ikan dan 3.512 km2 untuk budidaya kekerangan. Kabupaten Halmahera Selatan merupakan kabupaten yang memiliki potensi kawasan budidaya laut terbesar yaitu: 2.114 km2 untuk budidaya rumput laut, 1.719 km2 untuk budidaya ikan dan 1.441 km2 untuk budidaya kekerangan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi data dasar perencanaan lebih lanjut untuk pengembangan budidaya laut di Provinsi Maluku Utara
REGENERASIRUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii (Doty) MELALUI INDUKSI KALUS DAN EMBRIO DENGAN PENAMBAHAN HORMON PERANGSANG TUMBUH SECARA IN VITRO Emma Suryati; Sri Rejeki Hesti Mulyaningrum
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.452 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.39-45

Abstract

Regenerasi rumput laut Kappaphycus alvarezii dilakukan dalam rangka penyediaan benih yang bermutu dan mempunyai keunggulan melalui induksi kalus dan embrio dengan penambahan hormon pertumbuhan yang diintroduksi ke dalam media kultur yang dapat memacu induksi kalus dan penebalan pigmen rumput laut. Media kultur yang digunakan adalah media Conwy padat dengan penambahan agar 0,8%-1,6%. Hormon perangsang tumbuh yang digunakan untuk memacu pertumbuhan kalus dan filamen embrio yaitu IAA (Indol acetic acid), kinetin, dan auxilin dengan konsentrasi berkisar 0,4-1 mg/L. Embrio yang dihasilkan merupakan anakan yang mempunyai sifat yang sama dengan induknya. Sintasan dan perkembangan embrio yang paling baik yaitu dengan penambahan IAA dengan konsentrasi 0,4 mg/L pada media padat. Pembentukan anakan dilakukan dengan mengiris embrio dan menumbuhkan pada media cair yang diperkaya dengan hormon yang sama. Pemeliharaan anakan pada media kultur dilakukan hingga mencapai ukuran 2-3 cm.Regeneration of seaweed Kappaphycus alvarezii was done to provide high quality seed through callus and embryo induction using plant growth regulator which was introducted to the culture medium. This growth regulator can stimulate the callus induction procces and thickening the seaweed pigment. Applied medium culture was agar medium with 0.8%-1.6% concentration enriched with Conwy and the applied growth regulators were IAA (Indol acetic acid), kinetin dan auxilin with 0.4-1 mg/L concentration range. Resulted embryo has the same characteristics with the stock. The best survival rate and embryo growth was IAA treatment with 0.4 mg/L concentration. Formation of embryo was done by transferring them from solid medium to the liquid one with the same growth regulator treatment. The nursery of the seed in culture medium was carried out until it has reached 2-3 cm in size.
EFEKTIVITAS PROMOTER b-ACTIN IKAN MEDAKA (Oryzias latipes) DENGAN PENANDA GEN hrGFP (HUMANIZED Renilla reniformis GREEN FLUORESCENT PROTEIN) PADA IKAN LELE (Clarias gariepinus) KETURUNAN F0 Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar; Komar Sumantadinata; Alimuddin Alimuddin; Rudhy Gustiano
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.236 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.199-207

Abstract

Promoter merupakan salah satu faktor penentu dalam teknologi transgenesis. Pada penelitian ini efektivitas promoter b-actin ikan medaka diuji pada telur ikan lele fase 1 sel dan 2 sel. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan. Insersi promoter dilakukan dengan cara menginjeksi telur hasil pemijahan buatan dengan plasmid DNA pmb-actin–hrGFP pada fase telur 1 sel dan 2 sel. Konsentrasi DNA yang digunakan adalah 20 µg/mL. Perkembangan embrio diamati pada 8, 12, 16, 20, 24 jam setelah gen disuntikkan serta 4 dan 8 jam setelah telur menetas. Derajat sintasan embrio (DKH), derajat penetasan (DP), dan persentase embrio mengekspresikan transgen (PEMT) dicatat selama pengamatan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa promoter b-actin ikan medaka aktif pada ikan lele, dengan adanya ekspresi gen hrGFP pada embrio setelah 8, 12, 16, 20, 24 jam setelah penyuntikan serta 4 dan 8 jam setelah telur menetas. Nilai DKHkontrol pada jam ke-24 adalah 97,1% dan untuk DKHinjeksi pada jam ke-24 adalah 85,7%. Untuk PEMT pada telur yang disuntik pada fase 1 sel mempunyai persentase yang lebih tinggi (66,7%) dibanding telur yang disuntik pada fase 2 sel (50,0%). Derajat penetasan memperlihatkan bahwa jumlah telur untuk penyuntikan pada fase 1 sel lebih tinggi (93,3%) dibanding dengan yang disuntik pada fase 2 sel (55,0%). Total jumlah telur yang berhasil disuntik adalah 35 butir dan yang terekspresi sebanyak 20 butir (57,1%).Promoter is one of the most important factors in transgenic. In this study, effectiveness of b-actine of medaka (Oryzias latipes) was examined in the eggs of walking catfish at the first cleavage and two cell stage. The experiment was carried out in the Laboratory of Fish Genetic, Fac. of Fisheries, Bogor Agricultural University for three months. Promoter was inserted by injecting artificial fertilization eggs with DNA pmb-actin–hrGFP plasmid. DNA concentration was 20 µg/mL. Eggs development were observed at 8, 12, 16, 20, 24 hours after injection, 4 and 8 hours after hatching. The result showed that b-actin promoter was active on embryo targets indicated by expression of hrGFP gene after 8, 12, 16, 20, 24 hours after injection as well as 4 and 8 hours after hatching. Survival rate within 24 hours were 97.1% for control and 85.7% for injected eggs. Successful of injection was higher on the first cleavage stage (66.7%) than that of on the two stage cell (50.0%). Hatching rate was also higher on the first cleavage (93.3%) than that of on the two cell stage (55.0%). Total number of eggs injected succesfully was 35 eggs with 57.1% of them containing foreign genes.
KETERKAITAN SPASIAL KUALITAS LINGKUNGAN DAN KEBERADAAN FITOPLANKTON BERPOTENSI HABs PADA TAMBAK EKSTENSIF DI KECAMATAN LOSARI KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT Tarunamulia Tarunamulia; Kamariah Kamariah; Akhmad Mustafa
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.662 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.2.2016.181-195

Abstract

Harmful Algal Blooms (HABs) dapat memberikan dampak negatif secara ekologis, ekonomis dan kesehatan.  Kejadian dapat bervariasi menurut faktor lingkungan lokal pemicu serta kemampuan adaptasi spesies.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara karakteristik kualitas lingkungan dengan keberadaan fitoplankton berpotensi HABs pada tambak ekstensif di Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.  Sebanyak masing-masing 45 contoh air dan tanah diambil pada total luas petakan tambak ±2300 ha dengan metode transek yang dimodifikasi. Peubah kualitas air yang diukur meliputi; Total Amonia Nitrogen (TAN), Nitrit (NO2-N), Nitrat (NO3-N), Fosfat (PO4-P), Bahan Organik Total (BOT) dan Plankton.  Sedangkan peubah kualitas tanah tambak meliputi pH, total nitrogen (NTOT), fosfat (PO4-P) dan BOT. Analisis keterkaitan kualitas lingkungan dengan keberadaan fitoplankton berpotensi HABs dilakukan dengan BIO-ENV analysis, Cluster analysis, dan analisis spasial dengan software PRIMER 5.0 dan ArcGIS 10.0.  Dari  23 spesies yang diidentifikasi terdapat 5 spesies (21%) yang potensial sebagai HABs meliputi Prorocentrum sp, Ceratium sp, Gymnodinium sp, Thalassiosira sp dan Nitzchia sp.   Prorocentrum sp ditemukan pada 21 stasiun  dari total 45 stasiun dengan kepadatan tertinggi (508 ind/L). Hasil analisis selanjutnya menunjukkan bahwa distribusi spasial spesies berkaitan erat dengan distribusi nilai TAN dan BOT air serta nilai N-Total tanah. Jika tidak ada upaya pengelolaan dan mitigasi sehubungan keberadaan HABs tersebut maka dikhawatirkan dapat mempengaruhi produktivitas dan keberlanjutan kegiatan budidaya di lokasi penelitian.Harmful Algal Blooms (HABs) can cause serious negative ecological, economical and human health impacts. The occurrence of HABs may vary according to local environmental factors and the adaptability level of the causative species. This study aims to determine the relationship between environmental quality and the presence of causative phytoplankton species of HABs at extensive brackishwater aquaculture ponds located in Losari District, Cirebon Regency, and West Java Province. The sampling method followed a modified transect method by which a total of 45 each water and soil samples were taken from pond units, covering the total area of about 2300 ha. Water quality parameters comprised total ammonia nitrogen (TAN), nitrite, nitrate, phosphate and total organic matter (TOM). Whilst the pond soil quality variables included pH, total nitrogen (NTOT), phosphate and TOM. Spatial relationship between environmental quality and the presence of potentially causative phytoplankton species of HABs conducted through BIO-ENV analysis, cluster analysis and spatial analysis with the help of software PRIMER 5.0 and ArcGIS 10. Of the total 23 identified phytoplankton species, 5 species (21%) were classified as potentially causative sepecies of HABs including Prorocentrum sp, Ceratium sp, Gymnodinium sp, Thalassiosira sp and Nitzchia sp.  Prorocentrum sp was discovered in 21 stations of a total of 45 stations and accounted for the highest density (508 ind. / L). The results further indicated that the spatial distribution of the causative species is closely related to the distribution of values of TAN and TOM (water) and NTOT (soil).  Unless effective management and mitigation efforts are undertaken, the presence of the potentially causative species could affect the sustainability of aquaculture activities at the study sites.
ANALISIS GAMBAR DIGITAL SEBAGAI METODE KARAKTERISASI DAN KUANTIFIKASI WARNA PADA IKAN HIAS Ruby Vidia Kusumah; Eni Kusrini; Siti Murniasih; Anjang Bangun Prasetio; Kamaluddin Mahfudz
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.163 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.3.2011.381-392

Abstract

Analisis gambar (foto) digital digunakan sebagai metode alternatif karakterisasi dan kuantifikasi warna yang obyektif, akurat, serta aplikatif. Software Image membantu mengukur dan mengelompokkan beberapa parameter kualitatif warna secara kuantitatif berdasarkan standar nilai digital RGB (Red Green Blue) yang dimiliki setiap pikselnya. Dengan melakukan konversi ke model HSB (Hue Saturation Brightness), nilai digital warna yang diperoleh semakin mudah dipahami sesuai konsep cara pandang mata manusia. Frekuensi serta distribusi warna yang terukur pun dapat ditampilkan dalam bentuk histogram dua dimensi dan grafik tiga dimensi warna (3D color space). Hasil analisis pada delapan strain warna ikan cupang hias (Betta splendens) menunjukkan variasi warna yang ditampilkan dalam bentuk kisaran (minimum-maksimum), rata-rata (mean), serta standar deviasi (SD) dari setiap nilai RGB dan HSB. Kecerahan setiap individu dalam suatu strain warna diukur berdasarkan nilai kecerahan (brightness) yang dimiliki model warna HSB. Penelitian ini merupakan studi pendahuluan yang bertujuan untuk mempelajari analisis gambar digital sebagai metode karakterisasi dan kuantifikasi warna pada ikan hias.
KONSTRUKSI VEKTOR EKSPRESI GEN HORMON PERTUMBUHAN LELE DUMBO (Clarias sp.) UNTUK PRODUKSI IKAN LELE LOKAL (Clarias batrachus) TRANSGENIK Ibnu Dwi Buwono; Nono Carsono; M. Untung Kurnia
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2972.519 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.11-24

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konstruksi vektor ekspresi (pTarget) rekombinan yang mengandung sisipan gen hormon pertumbuhan ikan lele dumbo (Clarias sp.) dan promoter β-aktin ikan lele lokal (C. batrachus) dalam upaya pembuatan ikan lele lokal transgenik. Promoter β-aktin lele lokal (pCbBA) telah berhasil diisolasi dari hipofisa ikan tersebut dengan ukuran sekitar 1,7 kbp; dan memiliki elemen transkripsi CAAT box, TATA box, GC box, motif CarG, dan TGACG berdasar analisis program TF Bind. Penggantian promoter CMV (cytomegalovirus) yang terkandung dalam vektor ekspresi pTarget menggunakan dua enzim restriksi SgfI dan I-PpoI, menghasilkan fragmen DNA berukuran 6.083 bp (pTarget-GH lele dumbo) sebagai produk digesti. Fragmen pTarget-GH lele dumbo yang diligasi dengan promoter β-aktin lele lokal membentuk konstruksi By: Ibnu Dwi Buwono, Nono Carsono, Yuniar Mulyani, and M. Untung KurniaThis study aims to obtain an expression vector construct (pTarget) containing recombinant growth hormone gene insertion of African catfish (Clarias sp.) and β-actin promoter derived from walking catfish (Clarias batrachus) in order to produce transgenic local catfish. β-actin promoter of walking catfish (pCbBA) have been isolated from the pituitary of the fish with a size of about 1.7 kbp, and has a transcription element: CAAT box, TATA box, GC box, CarG, and TGACG motif based on analysis result of TF Bind program. Replacement of CMV (cytomegalovirus) promoter contained in the expression vector pTarget using restriction enzymes SgfI and I-PpoI, obtained a product of digestion with the fragment size of 6,083 bp (pTarget-GH African catfish). pTarget-GH fragments were ligated with the African catfish β-actin promoter to arrange a construct of pTarget-pCbBA-African catfish GH (7,783 bp) as transgenic walking catfish expression vector.
ANALISIS KERAGAAN PERTUMBUHAN BENIH KERAPU HIBRIDA HASIL HIBRIDISASI KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DENGAN KERAPU KERTANG (Epinephelus lanceolatus) DAN KERAPU BATIK (Epinephelus microdon) Tatam Sutarmat; Hirmawan Tirta Yudha
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1219.432 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.3.2013.363-372

Abstract

Analisis keragaan pertumbuhan benih ikan kerapu terdiri atas panjang, bobot, laju dan koefisien pertumbuhan, sintasan, dan faktor kondisi; merupakan aspek biologi yang penting diketahui dari kandidat ikan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang bobot, pertumbuhan, sintasan, konversi pakan, serta faktor kondisi benih ikan kerapu hibrida hasil hibridisasi kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dengan kerapu kertang dan kerapu batik (Epinephelus microdon). Benih hibrida yang digunakan terdiri atas kerapu hibrida cantang (kerapu macan x kerapu kertang ), kerapu hibrida cantik (kerapu macan x kerapu batik ), serta kerapu macan (kerapu macan x kerapu macan ) sebagai kontrol. Dengan ukuran panjang dan bobot awal masing-masing antara 10-12 cm dan 22-35 g/ekor. Benih dipelihara dalam sembilan buah jaring ukuran 2 m x 2 m x 2 m di keramba jaring apung (KJA) dengan padat penebaran benih uji sebanyak 250 ekor/jaring. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara panjang dengan bobot pada kerapu hibrida cantang, cantik maupun kerapu macan dengan nilai koefisien korelasi masing-masing adalah 0,933; 0,884; dan 0,787. Pertumbuhan dari ketiga benih ikan kerapu bersifat allometri negatif, dengan nilai b 2,533; 2,896; dan 2,546. Pada kerapu hibrida cantang, laju pertumbuhan dan koefisien pertumbuhannya lebih besar dibandingkan dengan benih kerapu yang lainnya. Hasil perkawinan silang juga berpengaruh sangat nyata terhadap konversi pakan, serta sintasan ikan yang dihasilkan. Faktor kondisi ikan kerapu hibrida cantang adalah 2,80; sedangkan pada kerapu hibrid cantik dan kerapu macan masing-masing adalah 2,12 dan 2,10.
KIT ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY UNTUK DETEKSI WSSV PADA UDANG Mun Imah Madeali; Nurhidayah Nurhidayah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.414 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.131-137

Abstract

Komponen dasar yang penting dan menentukan keberhasilan pengendalian suatu penyakit dalam bidang perikanan adalah informasi tentang patogen secara dini, cepat, dan akurat, serta epidemi penyakit di lapangan. Teknik serologi, khususnya ELISA, merupakan salah satu teknik yang menjanjikan untuk keperluan tersebut, karena relatif mudah dan murah, serta berpeluang untuk digunakan secara langsung di lapangan. Telah dilakukan uji lapang terhadap perangkat Kit ELISA yang telah diproduksi oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau. Hasil uji lapang menunjukkan bahwa Kit ELISA dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit WSSV pada udang windu, dengan waktu ± 3 jam untuk setiap kali pengujian mulai persiapan sampai pembacaan hasil uji. Hasil Kit ELISA lebih cepat dibandingkan dengan metode PCR yang memerlukan waktu 24 jam. Biaya yang diperlukan untuk mendeteksi satu sampel juga lebih ekonomis yaitu ± Rp 35.000,- dibandingkan dengan PCR (Rp 150.000,- – Rp 300.000,-) per sampel

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue