cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
KARAKTERISTIK SEKUEN cDNA PENGKODE GEN ANTI VIRUS DARI UDANG WINDU, Penaeus monodon Andi Parenrengi; Alimuddin Alimuddin; Sukenda Sukenda; Komar Sumantadinata; Andi Tenriulo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.829 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.1-13

Abstract

Transgenesis pada ikan merupakan sebuah teknik modern yang berpotensi besar dalam menghasilkan organisme yang memiliki karakter lebih baik melalui rekombinan DNA gen target termasuk gen anti virus dalam peningkatan resistensi pada udang. Gen anti virus PmAV (Penaeus monodon Anti Viral gene) merupakan salah satu gen pengkode anti virus yang berasal dari spesies krustase. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik gen anti virus yang diisolasi dari udang windu, Penaeus monodon. Isolasi gen anti virus menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan selanjutnya dipurifikasi untuk sekuensing. Data yang dihasilkan dianalisis dengan program Genetyx Versi 7 dan basic local alignment search tool (BLAST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen anti virus PmAV yang berhasil diisolasi dari cDNA udang windu dengan panjang sekuen 520 bp yang mengkodekan 170 asam amino. BLAST-N menunjukkan tingkat similaritas yang sangat tinggi (100%) dengan gen anti virus yang ada di GeneBank. Komposisi asam amino penyusun gen anti virus yang paling besar adalah serin (10,00%), sedangkan yang terkecil adalah asam amino prolin dan lisin masing-masing 1,76%. Analisis sekuen gen dan deduksi asam amino (BLAST-P) memperlihatkan adanya C-type lectin-like domain (CTLD) yang memiliki kemiripan dengan gen C-type lectin yang diisolasi dari beberapa spesies krustase.Transgenic fish technology is a potential modern technique in producing better character organism through DNA recombinant of target genes including anti viral gene for improvement of shrimp immunity. PmAV (Penaeus monodon Anti Viral) gene is one of anti viral genes isolated from crustacean species. The research was conducted to analyze the characteristics anti viral gene isolated from tiger prawn, Penaeus monodon. Anti viral gene was isolated using Polymerase Chain Reaction (PCR) technique and then purified for sequencing. Data obtained were analyzed using Genetyx Version 7 software and basic local alignment search tool (BLAST). The results showed that the PmAV antiviral gene has been isolated from cDNA of tiger prawn at the position of approximately 520 bp consisting of 170 amino acids. BLAST-N showed high similarity (100%) compared to the other anti viral genes deposited at the GeneBank. The highest percentage of amino acid encoding anti viral gene is serine (10.00%), while the lowest is proline and lysine (1.76%). Sequence analysis and amino acid deduction (BLAST-P) revealed a C-type lectin-like domain (CTLD) that is similar with the C-type lectin gene isolated from several crustacean species.
ESTIMASI BEBAN LIMBAH NUTRIEN PAKAN DAN DAYA DUKUNG KAWASAN PESISIR UNTUK TAMBAK UDANG VANAME SUPERINTENSIF Rachman Syah; Makmur Makmur; Muhammad Chaidir Undu
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1285.251 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.439-448

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menduga beban limbah tambak udang vaname superintensif dengan padat penebaran berbeda. Wadah percobaan berupa tambak beton seluas 1.000 m2 dengan kedalaman air antara 175-180 cm yang dilengkapi dengan kincir dan blower sebagai sumber oksigen. Padat penebaran benur vaname PL-10 adalah 500 ekor/m2 (Petak A) dan 600 ekor/m2 (Petak B). Pendugaan beban limbah didasarkan atas data hasil analisis proksimat pakan dan karkas udang, retensi nutrien, jumlah pakan, rasio konversi pakan, dan produki biomassa udang. Beban nutrien yang bersumber dari pakan akan terbuang ke lingkungan perairan, untuk petak A masing-masing mencapai 50,12 gTN/kg udang; 15,73 gTP/kg udang dan 126,85 gC/kg udang; sedangkan petak B masing-masing 43,09 gTN/kg udang; 14,21 gTP/kg udang dan 112,85 gC/kg udang. Berdasarkan beban limbah tambak dan volume badan air menerima limbah budidaya, maka tambak superintensif yang dapat dioperasionalkan masing-masing adalah enam petak pada tingkat produktivitas 6 ton udang/1.000 m2 atau lima petak pada tingkat produktivitas 8 ton udang/1.000 m2, agar tidak mengalami degradasi kualitas lingkungan perairan. Penerapan Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) dalam sistem tambak superintensif dapat menurunkan konsentrasi beban limbah tambak yang terbuang ke lingkungan perairan sehingga dapat meningkatkan daya dukung perairan bagi pengembangan tambak superintensif yang berkelanjutan.
MANAJEMEN PAKAN INDUK KERAPU MACAN, Epinephelus fuscoguttatus UNTUK PENINGKATAN PEMIJAHAN DAN KUALITAS TELUR Tony Setiadharma; Agus Prijono; Nyoman Adiasmara Giri; Tridjoko Tridjoko
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.083 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.13-18

Abstract

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui kesinambungan pemijahan dan peningkatan kualitas telur melalui perbaikan manajemen pemeliharaan induk ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Induk kerapu macan berukuran panjang 50,20—82,50 cm dan bobot 3,50—12,00 kg yang dipelihara dalam 2 tangki volume 30 ton, masingmasing diisi 12 ekor induk terdiri atas 4 ekor jantan dan 8 ekor betina. Sebagai perlakuan dalam penelitian adalah komposisi pakan yang berbeda yaitu A. Pakan + (vitamin E,C, dan vitamin mix), dan B. Pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah dan cumi segar sebanyak 3% bobot total/hari. Percobaan ini dilakukan selama 8 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pemberian pakan segar berpengaruh terhadap frekuensi pemijahan dan kualitas telur yang dihasilkan. Pada perlakuan A memperlihatkan proses reproduksi yang lebih baik dan terjadi pemijahan sebanyak 11 kali dengan jumlah total telur 18.492.000 butir dengan hatching rate 75,0%— 92,0% dan Indek Aktivitas Kehidupan Larva (SAI) 3,80—5,68. Perlakuan B terjadi pemijahan sebanyak 7 kali pada periode bulan Maret sampai November dengan jumlah total telur yang dibuahi sebanyak 10.390.000 butir dengan hatching rate 50,0%— 75,0% dan SAI larva 0,28—4,90. Hasil pengamatan perkembangan gonad selama penelitian untuk kedua perlakuan sangat bervariasi antara 110—520 µm.The purpose of the present study was to know the effect of different management in rearing spawning and eggs quality of grouper broodstock, Epinephelus fuscoguttatus. Twelve fish total length 50.20—82.50 cm and 3.50—12.00 kg in body weight consisted, eight females and four males were reared in three 30 m³ concrete tanks and fed with experimental diet. Two treatments were (A) Fed+ (Vitamin E,C, and vitamin mix) and (B) Feed. The result of the experiment showed that fish in treatment A gave better results in terms of eggs quality, stage of reproduction, and spawning of 11 times in April to November with fecundity of 18,492,000; hatching rate of 75.00%—92.00% and SAI of larvae 3.80—5.68; composed to 7 times of spawn with fecundity of 10,390,000; hatching rate of 50.00%—75.00% and Survival Activity Index of larvae (SAI) 0.28—4.90 for treatment B. Gonad of development during the experiment showed egg diameter of 110—520 mm.
BUDIDAYA KERANG HIJAU (Perna viridis L.) DENGAN METODE DAN KEPADATAN BERBEDA DI PERAIRAN PESISIR KUALA LANGSA, ACEH Andi Sagita; Rahmat Kurnia; Sulistiono Sulistiono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.718 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.57-68

Abstract

Kerang hijau merupakan komoditas budidaya laut yang sangat prospektif untuk dikembangkan pada suatu sistem budidaya, karena dapat dilakukan dengan biaya produksi yang rendah namun menghasilkan profitabilitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode dan kepadatan yang paling optimal untuk budidaya kerang hijau di perairan pesisir Kuala Langsa, Aceh. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri atas faktor metode (long line dan stick) dan faktor kepadatan (20, 30, dan 40 individu/kantong 5,30 L), masing-masing diulang sebanyak empat kali. Berdasarkan sidik ragam data Specific Growth Rate (SGR) dari panjang (SGL L) dan bobot (SGR W) menunjukkan semua perlakuan metode, kepadatan dan interaksi berbeda signifikan pada taraf uji 5% (P<0,05), di mana perlakuan yang paling optimal yaitu perlakuan metode long line dengan kepadatan 20 individu/kantong 5,30 L diperoleh rata-rata nilai SGR (L) sebesar 0,86 ± 0,01%/hari dan SGR (W) sebesar 1,18 ± 0,04%/hari dengan sintasan mencapai 92,50 ± 2,89%. Parameter kualitas perairan selama periode budidaya masih sesuai untuk mendukung kehidupan kerang hijau di mana suhu berkisar 27,5-34,0°C; salinitas 28,5-33,0 ppt; pH 7,8-8,6; dan oksigen terlarut 4,5-6,5 mg/L; serta kecepatan arus 0,1-0,3 m/s. Budidaya kerang hijau dengan metode long line pada kepadatan 20 individu/kantong 5,30 L merupakan pola budidaya yang paling optimal untuk diterapkan di perairan pesisir Kuala Langsa, Aceh.Green mussel is a very prospective marine aquaculture commodity due to its low cost production but with high profitability. This research aimed to determine the most optimal method and densities for green mussel culture in coastal waters of Kuala Langsa, Aceh. The research used a completely randomized factorial design consisting of methods factor (long line and stick) and densities factor (20, 30, and 40 individuals/basket 5.30 L), each repeated four times. Based on the variance analysis of specific growth rate (SGR) data of the length (SGR L) and weight (SGR W), all treatments of different methods and densities as well as their interactions were significant different (P<0.05). This study suggested that long line method with a densities of 20 individuals/basket 5.30 L was found to be the most optimal treatment for green mussel culture in coastal waters of Kuala Langsa. With this long line method an average SGR (L) value of 0.86 ± 0.01%/day, SGR (W) value of 1.18 ± 0.04%/day, and survival rate of 92.50 ± 2.89% were obtained. Water quality parameters during the culture period are still within the suitable range for green mussel culture, with the range of temperature 27.5-34.0°C, salinity 28.5-33.0 ppt, pH 7.8-8.6, dissolved oxygen 4.5-6.5 mg/L, and current velocity 0.1-0.3 m/s.
SELEKSI BENIH TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DARI HASIL PEMIJAHAN INDUK ALAM DENGAN KARAKTER NACRE PUTIH Ida Komang Wardana; Sudewi Sudewi; Apri Imam Supii; Sari Budi Moria Sembiring
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1679.328 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.1.2014.1-13

Abstract

Kualitas induk secara fenotip dan genotif berpengaruh terhadap kualitas benih tiram mutiara yang akan dihasilkan. Penggunaan induk yang berasal dari habitat yang berbeda dalam kegiatan pembenihan diharapkan dapat menghasilkan benih tiram mutiara dengan kualitas fenotip dan genotif yang baik. Salah satu sifat yang menarik untuk dijadikan target dalam program pemuliaan tiram mutiara adalah warna mutiara yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas benih tiram mutiaram(Pinctada maxima) hasil pemijahan induk alam dengan karakter nacre putih dari tiga habitat yang berbeda dan mengetahui keragaan genetik induk (F0) dan turunannya (F1). Induk yang digunakan dalam penelitian ini adalah tiram dengan karakter nacre putih dari tiga lokasi perairan (Bali, Karawang, dan Dobo) serta dilakukan pemijahan dari masing-masing populasi tersebut. Keragaan genetik dari semua populasi dianalisa dengan menggunakan PCR RFLP. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa masa inkubasi telur hasil pemijahan induk alam dengan karakter nacre putih terlihat lebih lama dibandingkan dengan tiram mutiara pada umumnya. Benih yang dihasilkan pertumbuhannya bervariasi, didominasi dengan benih berukuran sedang dengan sintasan berkisar 0,4-9%. Keragaan genetik F0 dan F1 berdasarkan nilai heterozigositas, tiram dari perairan Bali menunjukkan nilai keragaman yang paling baik (0,2726). Sementara karakter nacre dari benih yang diperoleh menunjukkan bahwa 48% memiliki nacre putih, 24% kuning dan warna lain sebanyak 28%.
EFIKASI VAKSIN IN-AKTIF BAKTERI Aeromonas hydrophila-AHL0905-2 (HYDROVAC) dan Streptococcus agalactiae-N14G (STREPTOVAC) UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT BAKTERIAL PADA IKAN BUDIDAYA AIR TAWAR Taukhid Taukhid; Uni Purwaningsih; Desy Sugiani; Tuti Sumiati; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.754 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.541-551

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan vaksin hydrovac dan streptovac untuk pencegahan penyakit bakterial, motile aeromonad septicaemia (MAS) dan streptococcosis pada beberapa jenis ikan budidaya air tawar. Pengujian dilakukan pada skala laboratorium dan lapang. Jenis ikan uji yang digunakan adalah ikan lele, nila, dan gurami. Vaksinasi ikan dilakukan melalui teknik perendaman dengan dosis dan periode sesuai instruksi penggunaan yang tertera pada label produk kedua jenis vaksin tersebut. Efektivitas vaksin dievaluasi berdasarkan pendekatan nilai persen sintasan dan selanjutnya dihitung nilai relative percentage survival (RPS). Hasil penelitian diketahui bahwa nilai RPS vaksin hydrovac pada skala laboratorium pada ikan lele, nila, dan gurami masing-masing sebesar 85,45%; 65,78%; dan 52,28%. Nilai RPS yang dicapai oleh vaksin streptovac terhadap ikan nila sebesar 54,53%. Sementara, nilai RPS vaksin hydrovac pada skala lapang untuk jenis ikan lele, nila, dan gurami masing-masing 70,15%; 52,43%; dan 42,43%; sedangkan nilai RPS yang dicapai oleh vaksin streptovac adalah 40,41%.
POTENSI MAGGOT UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN STATUS KESEHATAN IKAN Melta Rini Fahmi; Saurin Hem; I Wayan Subamia
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.926 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.221-232

Abstract

Penggunaan maggot sebagai pakan alternatif ikan telah dikaji di Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT), Depok. Maggot merupakan larva serangga black soldier (Hermetia illusence) yang dapat mengkonversi material organik menjadi biomassanya. Salah satu keunggulan maggot adalah dapat diproduksi dalam berbagai ukuran, sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan maggot pada suhu rendah dapat menghambat pertumbuhan dan mempertahankan kehidupannya. Produksi maggot pada ukuran kecil dimulai dari penyediaan telur, penetasan, dan pembesaran dalam media PKM (Palm Kernel Meal) atau bungkil kelapa sawit, pemanenan dan penyimpanan dalam suhu rendah. Nilai nutrisi maggot pada umur 6-7 hari adalah protein: 60,2%; lemak: 13,3%; abu: 7,7%; karbohidrat: 18,8%. Percobaan pemanfaatan maggot sebagai suplemen pakan diujikan terhadap ikan Balashark (Balantiocheilus melanopterus Bleeker) ukuran 2,0 ± 0,2 g. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pemberian maggot memberikan pertumbuhan dan sintasan yang lebih baik. Dampak penambahan maggot pada ikan terlihat signifikan terhadap gambaran darah ikan yang menunjukkan daya tahan tubuh ikan yang lebih baik.Maggot utilization as fish feed alternative has been studied at Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT), Depok. Maggot is an insect larvae of black soldier (Hermetia illusence) that can convert organic material to its body biomass. One of the advantages in maggot culture is that it can be produced in different sizes according to fish requirement. Keeping maggot at low temperature can delay its growth while keeping it alive. Production of small size maggot starts from eggs preparation, hatching, and rearing in media of PKM (Palm Kernel Meal) or coconut oil cake of palm, cropping and then keeping it in low temperature. Nutritional value of maggot at the age of 6-7 days is as follows: protein, 60.2%, fat; 13.3%, ash; 7.7%, carbohydrate; 18.8%. Trial feeding using maggot as feed supplement was done on Balashark (Balantiocheilus melanopterus Bleeker) sized 2.0 ± 0.2 g. The result showed that maggot gave significant growth and survival rate to fish specimen. Blood configuration analysis showed that the maggot supplement has also contributed to a significant increase of body immunity of fish specimen.
Front Matter dan Back Matter Suyatno Suyatno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.085 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.i-v

Abstract

DISTRIBUSI SPASIAL KARAKTERISTIK TANAH TAMBAK DI KABUPATEN PANGKEP PROVINSI SULAWESI SELATAN Rachmansyah Rachmansyah; Akhmad Mustafa
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2484.599 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.3.2011.479-493

Abstract

Identifikasi distribusi spasial karakteristik tanah memiliki peran penting dalam sistem bio-lingkungan termasuk lingkungan tambak, sehingga dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial karakteristik tanah tambak di Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. Penentuan titik pengukuran dan pengambilan contoh tanah secara acak sederhana pada 110 titik dan masing-masing pada dua kedalaman tanah yang berbeda yaitu 0-0,2 dan 0,2-0,4 m. Sebanyak 21 karakteristik tanah diukur di lapangan dan dianalisis di laboratorium. Geostatistik dengan metode Kriging dalam Program ArcGIS 9.3 digunakan dalam interpolasi terhadap data tanah yang ada. Distribusi spasial karakteristik tanah ditampilkan dengan memanfaatkan citra ALOS AVNIR-2 akusisi 21 Juli 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum  karakteristik tanah tambak di Kabupaten Pangkep tergolong memiliki variabilitas tinggi atau relatif heterogen dengan nilai koefisien variasi yang melebihi 36%. Karakteristik tanah yang menunjukkan kemasaman tanah memiliki pola distribusi spasial yang relatif sama dan demikian juga halnya dengan karakteristik tanah yang menunjukkan kandungan unsur hara tanah juga memiliki pola distribusi spasial yang relatif sama. Derajat kemasaman tanah yang tinggi serta kandungan bahan organik dan N-Total tanah yang tinggi dan sebaliknya kandungan PO4 dan fraksi liat yang rendah secara umum dijumpai di Kecamatan Minasa Te’ne, Pangkajene, Bungoro, Labakkang, dan Ma’rang. Disarankan agar pengelolaan tanah yang dilakukan di tambak Kabupaten Pangkep disesuaikan dengan karakteristik tanahnya yang tergambar secara jelas pada pola distribusi spasial dari masing-masing karakteristik tanah.
PATOGENESIS KO-INFEKSI PENYAKIT FISH TUBERCULOSIS DAN MOTILE AEROMONAS SEPTICEMIA PADA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) Uni Purwaningsih; Agustin Indrawati; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.496 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.99-107

Abstract

Penyakit fish tuberculosis dan Motile Aeromonas Septicemia (MAS) merupakan penyakit potensial pada budidaya ikan gurame. Infeksi kedua penyakit tersebut dimungkinkan terjadi dalam waktu yang bersamaan walaupun etiologi kedua jenis penyakit tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan kedua penyakit tersebut dalam waktu yang bersamaan ketika menginfeksi gurame uji dengan melihat perubahan parameter hematologi, pola kematian, dan histopatologi. Gurame uji yangdigunakan berukuran 25-30 g dengan dosis infeksi berdasarkan dosis LD50 bakteri A. hydrophila 108 cfu dan LD50 M. fortuitum 107 cfu. Gejala klinis akibat infeksi M. fortuitum mulai terlihat pada hari ke-14 ditandai dengan penurunan nafsu makan dan hari ke-18 mulai terlihat nodul dalam ukuran 0,1-0,2 mm pada permukaan tubuh. Sedangkan infeksi A. hydrophila menunjukkan gejala klinis luka pada bekas injeksi dan terlihat pembengkakan pada rongga perut mulai 24-48 jam pascainfeksi. Respons fisiologis tubuh ikan gurame terhadap adanya ko-infeksi ditunjukkan dengan nilai hemoglobin, hematokrit, persentase komponen sel darah putih yang berbeda (P<0,05) dengan kontrol. Perubahan histopatologi pada perlakuan koinfeksi menunjukkan adanya kongesti, peradangan, nekrosis, melano macrofag center, dan gramuloma yangbersifat multifocal pada organ hati, ginjal, dan limpa.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue