cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 769 Documents
HUBUNGAN KELIMPAHAN MIKROPLASTIK DENGAN KERUSAKAN HISTOPATOLOGIS PADA INSANG DAN USUS UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) YANG DIBUDIDAYAKAN DI TAMBAK DI PROBOLINGGO, JAWA TIMUR, INDONESIA Putra, Andhika Farras Rahardian; Hertika, Asus Maizar Suryanto; Maimunah, Yunita
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.1.2025.63-77

Abstract

Peningkatan kontaminasi mikroplastik di lingkungan tambak menjadi ancaman serius bagi kesehatan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kelimpahan mikroplastik pada insang dan usus dengan tingkat kerusakan histopatologis udang vaname yang dibudidayakan di tambak yang berlokasi di Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia. Penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan analisis korelasi Spearman. Sampel udang diambil dari tiga lokasi tambak dan dianalisis secara histologis untuk menilai skor kerusakan jaringan. Hasil menunjukkan korelasi sangat kuat dan signifikan antara kelimpahan mikroplastik dengan skor kerusakan insang (r = 0,815; p-value = 0,007), degenerasi usus (r = 0,885; p-value = 0,002), nekrosis (r = 0,804; p-value = 0,009), dan inflamasi (r = 0,688; p-value = 0,041). Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik berkontribusi besar terhadap kerusakan struktural organ respirasi dan pencernaan udang. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan pencemaran mikroplastik dalam sistem budidaya berkelanjutan. The increasing presence of microplastic contamination in shrimp ponds poses a serious threat to the health of whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei). This study aimed to analyze the relationship between microplastic abundance in gills and intestines with the level of histopathological damage in whiteleg shrimp cultivated in ponds located in Probolinggo, East Java, Indonesia. A quantitative descriptive method was used with Spearman correlation analysis. Shrimp samples were collected from three pond locations and histologically examined to assess tissue damage scores. The results showed a very strong and significant correlation between microplastics abundance and gill damage (r = 0.815; p-value = 0.007), intestinal degeneration (r = 0.885; p-value = 0.002), necrosis (r = 0.804; p-value = 0.009), and inflammation (r = 0.688; p-value = 0.041). These findings indicated that microplastics significantly contribute to structural damage in the respiratory and digestive organs of shrimp. This study highlighted the importance of effectively managing microplastic pollution in sustainable aquaculture systems.
EFFECT OF DIFFERENT FEEDING RATES OF CORN COB FLOUR SUPPLEMENTED-FEED ON THE GROWTH OF FARMED Osphronemus gouramy Yulfiperius, Yulfiperius; Firman, Firman; Hartini, Sri
Jurnal Riset Akuakultur Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.19.4.2024.315-329

Abstract

The rapid growth of the aquaculture industry and the limited availability of conventional fish feed have driven the need for alternative feed sources, particularly in intensive fish farming systems. This study, conducted from May 15 to July 5, 2017, in Bengkulu, aimed to determine the optimal feeding rate for gourami (Osphronemus goramy) using artificial fish pellets. A completely randomized design was applied, testing four feeding rates based on fish biomass: D1 (2%), D2 (3%), D3 (4%), and D4 (5%) per day. Gouramis (3.2–3.3 g, 1.1–1.3 cm) were reared in 24 plastic containers (50×30×27 cm3) under controlled water quality conditions. The results showed that a 5% feeding rate (D4) yielded the best outcomes in absolute length (1.97 ± 0.13 cm), specific growth rate (2.78 ± 0.17% day⁻¹), feed conversion ratio (3.72 ± 0.11), feed efficiency (26.85 ± 0.30%), and survival rate (88.89%). Statistical analysis revealed that different feeding rates significantly influenced absolute length, specific growth rate, and feed conversion ratio, while feed efficiency and survival rate remained unaffected. Despite the promising growth performance at higher feeding rates, the high feed conversion ratio and low feed efficiency highlight the need for improved feed formulations. Future research should focus on optimizing corn cobs as a complementary ingredient to enhance feed efficiency, minimize waste, and contribute to sustainable aquaculture. Incorporating corn cob-based feeds could improve waste management and provide economic benefits to fish farmers.Pesatnya pertumbuhan industri akuakultur dan keterbatasan ketersediaan pakan ikan konvensional mendorong perlunya sumber pakan alternatif, terutama dalam sistem budidaya ikan intensif. Penelitian ini, yang dilaksanakan pada tanggal 15 Mei hingga 5 Juli 2017 di Bengkulu, bertujuan untuk menentukan tingkat pemberian pakan optimal bagi ikan gurami (Osphronemus gouramy) menggunakan pakan buatan ikan. Rancangan acak lengkap diterapkan dengan menguji empat tingkat pemberian pakan berdasarkan biomassa ikan: D1 (2%), D2 (3%), D3 (4%), dan D4 (5%) per hari. Ikan gurami (3,2–3,3 g, 1,1–1,3 cm) dipelihara dalam 24 wadah plastik (50×30×27 cm³) dengan kualitas air yang terkontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemberian pakan 5% (D4) memberikan hasil terbaik dalam hal panjang mutlak (1,97 ± 0,13 cm), laju pertumbuhan spesifik (2,78 ± 0,17% hari⁻¹), rasio konversi pakan (3,72 ± 0,11), efisiensi pakan (26,85 ± 0,30%), dan tingkat kelangsungan hidup (88,89%). Analisis statistik menunjukkan bahwa tingkat pemberian pakan yang berbeda berpengaruh signifikan terhadap panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik, dan rasio konversi pakan, sedangkan efisiensi pakan dan tingkat kelangsungan hidup tidak terpengaruh. Meskipun tingkat pemberian pakan yang lebih tinggi menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik, tingginya rasio konversi pakan dan rendahnya efisiensi pakan menunjukkan perlunya perbaikan formulasi pakan. Penelitian lebih lanjut perlu difokuskan pada optimalisasi tongkol jagung sebagai bahan tambahan pakan untuk meningkatkan efisiensi pakan, mengurangi limbah, dan mendukung kegiatan akuakultur berkelanjutan. Penggunaan pakan berbasis tongkol jagung juga dapat membantu pengelolaan limbah serta memberikan manfaat ekonomi bagi pembudidaya ikan.
GROWTH PERFORMANCE, SURVIVAL RATE, AND RESISTANCE AGAINST AHPND OF Litopenaeus vannamei JUVENILES FED WITH SYNBIOTIC BIO-ENCAPSULATED ARTEMIA Yudiati, Ervia; Azhar, Nuril
Jurnal Riset Akuakultur Vol 19, No 3 (2024): September (2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.19.3.2024.191-201

Abstract

The whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) is a highly valued aquaculture species globally, yet its production faces challenges due to disease outbreaks, notably acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND). This study aimed to evaluate the growth and survival of L. vannamei juveniles fed with synbiotic bio-encapsulated Artemia and their resilience against AHPND-causing Vibrio parahaemolyticus and salinity stress. The experiment employed a completely randomized design with two treatments: one with synbiotic-enriched Artemia (600 ppm alginate and Lactobacillus bulgaricus) and a control without synbiotic. Each treatment was replicated five times, using 600 juveniles at a density of 30 post-larvae per L over a 14-day rearing period. Growth and survival metrics were recorded, followed by challenge tests for AHPND and salinity shock. The juveniles' survival rate was recorded 54 hours post-infection with VpAHPND and every 10 minutes for 230 minutes after salinity exposure until 100% mortality. Results indicated higher survival (92.0 ± 9%), length gain (243.33 ± 18.80 mm), specific growth rate (18.44±2.01%), and stress tolerance in juveniles fed synbiotic encapsulated Artemia compared to the control. The survival rates for the challenge test with AHPND and salinity shock were similarly improved under synbiotic treatment, suggesting that synbiotics significantly benefit nursery production of L. vannamei. This study highlights the potential of synbiotic application in enhancing the resilience and growth of L. vannamei against common stressors in aquaculture, indicating its potential to support more sustainable shrimp farming practices.Udang vaname (Litopenaeus vannamei) adalah komoditas budidaya bernilai tinggi di seluruh dunia, namun produksinya menghadapi tantangan akibat wabah penyakit, terutama serangan acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih L. vannamei yang diberi pakan Artemia yang dibioenkapsulasi dengan sinbiotik serta ketahanannya terhadap Vibrio parahaemolyticus penyebab AHPND dan stres salinitas. Eksperimen ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua perlakuan: satu dengan Artemia diperkaya sinbiotik (600 ppm alginat dan Lactobacillus bulgaricus) dan kontrol tanpa sinbiotik. Setiap perlakuan diulang lima kali, dengan menggunakan 600 ekor benih udang pada kepadatan 30 ekor pascalarva per L selama 14 hari periode pemeliharaan. Parameter pertumbuhan dan kelangsungan hidup dicatat, diikuti dengan uji tantang terhadap AHPND dan kejutan salinitas. Tingkat kelangsungan hidup benih dicatat 54 jam pasca-infeksi dengan VpAHPND dan setiap 10 menit selama 230 menit setelah paparan salinitas hingga mortalitas mencapai 100%. Hasil menunjukkan kelangsungan hidup yang lebih tinggi (92,0 ± 9%), peningkatan panjang (243,33 ± 18,80 mm), laju pertumbuhan spesifik (18,44 ± 2,01%), dan toleransi stres yang lebih baik pada benih udang yang diberi pakan Artemia berenkapsulasi sinbiotik dibanding kontrol. Tingkat kelangsungan hidup pada uji tantang dengan AHPND dan kejutan salinitas juga meningkat dengan perlakuan sinbiotik, menunjukkan bahwa sinbiotik memberikan manfaat signifikan pada produksi L. vannamei fase pendederan. Penelitian ini menunjukkan adanya potensi aplikasi sinbiotik dalam meningkatkan ketahanan dan pertumbuhan L. vannamei terhadap stresor umum dalam akuakultur, serta potensinya untuk mendukung kegiatan budidaya udang yang lebih berkelanjutan. 
EFFICACY OF DIETARY SUPPLEMENTATION OF AMBON BANANA MIDRIB SIMPLICIA TO ENHANCE GROWTH PERFORMANCE, HEMATOLOGICAL PROFILE, IMMUNITY, AND SURVIVAL OF CATFISH CHALLENGED WITH Edwardsiella tarda Wahjuningrum, Dinamella; Nugroho, Riyanto; Yuhana, Munti; Citarasu, Thavasimuthu; Abdullah, Taufiq
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 3 (2025): September (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.3.2025.229-244

Abstract

Catfish (Clarias sp.) is a significant aquaculture species, but its production is often limited by Edwardsiella tarda infections, which cause substantial losses. Plant-derived alternatives such as banana midrib simplicia offer promising solutions to enhance fish health and reduce antibiotic dependence. This study investigated the effects of Ambon banana (Musa paradisiaca var. sapientum) midrib simplicia on growth performance, hematological parameters, immune responses, and resistance to E. tarda infection in catfish. A completely randomized design was used with five treatments and three replications, consisting of a positive control, a negative control, and commercial feed supplemented with 2% (B2), 3% (B3), and 4% (B4) banana midrib simplicia. The feeding trial lasted 30 days, after which fish were intramuscularly injected with E. tarda (10⁷ CFU mL⁻¹). Growth performance, hematological indicators (red blood cell count, hemoglobin concentration, hematocrit, and white blood cell count), immune responses (phagocytic and respiratory burst activities), and survival rate were evaluated. Dietary supplementation with banana midrib simplicia significantly improved growth performance, hematological parameters, immune responses, and survival in catfish challenged with E. tarda compared to the control groups. The optimal supplementation dose was 3%, providing the most significant improvement in growth, immunity, and survival. These findings highlight the potential of banana midrib as a functional feed additive derived from agricultural by-products to promote fish health and aquaculture productivity. Ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu komoditas penting dalam akuakultur, namun produksinya sering terkendala oleh infeksi Edwardsiella tarda yang menyebabkan kerugian signifikan. Alternatif berbasis tanaman seperti simplisia pelepah pisang menawarkan solusi potensial untuk meningkatkan kesehatan ikan dan mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh simplisia pelepah pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum) terhadap kinerja pertumbuhan, parameter hematologis, respons imun, dan ketahanan terhadap infeksi E. tarda pada ikan lele. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, terdiri atas kontrol positif, kontrol negatif, serta pakan komersial yang disuplementasi simplisia pelepah pisang pada dosis 2% (B2), 3% (B3), dan 4% (B4). Uji pemberian pakan dilakukan selama 30 hari, kemudian ikan diinjeksi intramuskular dengan E. tarda (10⁷ CFU mL⁻¹). Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan, indikator hematologis (jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, hematokrit, dan jumlah leukosit), respons imun (aktivitas fagositosis dan respiratory burst), serta tingkat kelangsungan hidup. Suplementasi pakan dengan simplisia pelepah pisang secara signifikan meningkatkan performa pertumbuhan, parameter hematologis, respons imun, dan kelangsungan hidup ikan lele yang diinfeksi E. tarda dibanding kelompok kontrol. Dosis optimal diperoleh pada suplementasi 3%, yang memberikan peningkatan terbesar pada pertumbuhan, imunitas, dan kelangsungan hidup. Temuan ini menunjukkan bahwa simplisia pelepah pisang memiliki potensi sebagai aditif pakan fungsional berbasis limbah pertanian untuk meningkatkan kesehatan ikan dan produktivitas akuakultur.
GROWTH AND SURVIVAL RATE OF DOMESTICATED JIELABU FISH (Betta dennisyongi Tan, 2013) REARED WITH DIFFERENT STOCKING DENSITIES Saputra, Fazril; Zulfadhli, Zulfadhli; Nasution, Muhammad Arif; Syarif, Ahmad Fahrul; Maftuch, Maftuch; Abdan, Mu'amar; Utami, Diah Ayu Satyari; Sofian, Sofian
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 3 (2025): September (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.3.2025.307-317

Abstract

Betta dennisyongi, locally known as Jielabu fish, is an endemic ornamental species originating from southwest Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. The fish currently faces increasing exploitation and habitat degradation which raise conservation concerns and emphasize the need for domestication efforts. This study aimed to determine an appropriate stocking density for the early culture of B. dennisyongi. The research was conducted from October to December 2023 using a completely randomized design with four stocking densities (1, 2, 3, and 4 fish L⁻¹) with three replications. Juvenile fish collected from the wild were acclimated and reared for 60 days in 10-L aquaria. Biological parameters measured included survival, specific growth rate, length gain, weight gain, feed conversion ratio, and feed efficiency, while water quality was monitored periodically. Stocking density significantly affected survival rate and growth (p < 0.05) of B. dennisyongi, with the lowest density (1 fish L⁻¹) producing the most favorable performance, while densities of 3–4 fish L⁻¹ resulted in reduced outcomes. Feed conversion ratio and feed efficiency did not differ significantly among treatments (p > 0.05). All measured water quality parameters remained within acceptable ranges for Betta fish culture. Overall, the study indicates that lower stocking densities support better biological responses, and that 1 fish L⁻¹ is the most suitable for cultivation, while 2 fish L⁻¹ may serve as an acceptable alternative for practical application. These findings provide a foundation for developing effective domestication protocols and support conservation-oriented aquaculture of this vulnerable endemic species. Betta dennisyongi, yang dikenal secara lokal sebagai ikan Jielabu, merupakan spesies ikan hias endemik dari wilayah barat daya Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Peningkatan pemanfaatan dan degradasi habitatnya telah menimbulkan kekhawatiran dalam kegiatan konservasi dan menekankan perlunya upaya domestikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan padat tebar yang sesuai untuk pemeliharaan awal B. dennisyongi. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober hingga Desember 2023 menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat padat tebar (1, 2, 3, dan 4 ekor L⁻¹) masing-masing dengan tiga ulangan. Benih ikan yang dikumpulkan dari alam diaklimatisasi dan dipelihara selama 60 hari dalam akuarium berkapasitas 10 L. Parameter biologis yang diukur meliputi kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, pertambahan panjang, pertambahan bobot, rasio konversi pakan, dan efisiensi pakan, sedangkan kualitas air dipantau secara berkala. Padat tebar berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan (p < 0.05) B. dennisyongi, di mana padat tebar terendah (1 ekor L⁻¹) memberikan performa terbaik, sedangkan padat tebar 3–4 ekor L⁻¹ menghasilkan performa yang lebih rendah. Rasio konversi pakan dan efisiensi pakan tidak berbeda nyata antarperlakuan (p > 0.05). Seluruh parameter kualitas air berada dalam kisaran yang sesuai untuk budidaya Betta fish. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa padat tebar rendah mendukung respons biologis yang lebih baik, dan 1 ekor L⁻¹ merupakan padat tebar yang paling sesuai, sementara 2 ekor L⁻¹ masih dapat diaplikasikan. Temuan ini menjadi dasar bagi pengembangan protokol domestikasi yang efektif dan mendukung budidaya yang berorientasi pada konservasi bagi spesies endemik rentan ini.
PHYTOCHEMICAL SCREENING AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF TENGKAWANG BUKIT (Shorea beccariana) STEM EXTRACT AGAINST Vibrio parahaemolyticus Anisa, Hosia; Mukti, Akhmad Taufiq; Mahasri, Gunanti; Amin, Muhamad; Aminah, Nanik Siti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 3 (2025): September (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.3.2025.245-255

Abstract

Vibrio parahaemolyticus infection poses a significant challenge in intensive shrimp culture, leading to substantial economic losses. Its common treatments using synthetic antibiotics have been linked to increased risks of antibiotic resistance and residual effects. Therefore, finding environmentally safe and effective natural alternatives is deemed essential. Tengkawang Bukit (Shorea beccariana) stem extract contains antibacterial compounds, including asiatic acid, oleanolic acid, and lupanone, all classified as terpenoids. This study aims to evaluate the antibacterial potential of S. beccariana stem extract through phytochemical screening and a disc diffusion test against V. parahaemolyticus. The screening results confirmed the presence of bioactive compounds, including alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, and steroids. The disc diffusion test showed an increase in the inhibition zone with increasing extract concentration, with inhibition diameters ranging from 9.04 ± 0.48 mm to 10.75 ± 0.26 mm. The 17% extract yield indicates a high availability of active compounds. These findings suggest that tengkawang bukit stem extract has potential as a natural antibacterial alternative for controlling V. parahaemolyticus in shrimp culture. This approach could help reduce reliance on synthetic antibiotics and promote sustainable fisheries. Infeksi Vibrio parahaemolyticus merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya udang yang menyebabkan kerugian ekonomi signifikan. Penggunaan antibiotik sintetis sebagai pengobatan telah menimbulkan kekhawatiran terkait resistensi dan residu, sehingga diperlukan alternatif alami yang aman dan efektif. Batang tengkawang bukit (Shorea beccariana) diketahui mengandung senyawa antibakteri seperti asam asiatik, asam oleanolik, dan lupanon yang tergolong ke dalam senyawa terpenoid. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi antibakteri ekstrak batang S. beccariana melalui skrining fitokimia dan uji difusi cakram terhadap V. parahaemolyticus. Hasil skrining menunjukkan adanya kandungan senyawa bioaktif berupa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid. Uji difusi cakram memperlihatkan zona hambat yang meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, dengan diameter hambatan berkisar 9,04 ± 0,48 mm hingga 10,75 ± 0,26 mm. Rendemen ekstrak sebesar 17% menunjukkan ketersediaan senyawa aktif yang melimpah. Hasil riset ini mengindikasikan bahwa ekstrak batang tengkawang bukit berpotensi sebagai alternatif antibakteri alami dalam pengendalian V. parahaemolyticus pada budidaya udang, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik sintetis dan mendukung keberlanjutan perikanan.
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN EKSPRESI PROTEIN TOTAL ENZIM SELULASE REKOMBINAN SERTA POTENSI APLIKASINYA PADA PAKAN IKAN Agniny, Siswi Fililmi; Mahasri, Gunanti; Mukti, Akhmad Taufiq; Amin, Muhamad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 3 (2025): September (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.3.2025.257-267

Abstract

Meskipun enzim selulase rekombinan banyak dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi pemecahan serat, informasi mengenai bagaimana modifikasi seperti mutasi dan penambahan tag SKIK (Ser-Lys-Ile-Lys) dapat memengaruhi aktivitas enzim dan produksi protein total masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh mutasi dan penambahan tag SKIK terhadap aktivitas dan protein total enzim selulase rekombinan yang diproduksi oleh Escherichia coli BL21 (DE3). Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu P1= wild type (WT), P2 = WT + SKIK, P3 = mutan, dan P4 = mutan + SKIK, masing-masing dengan empat ulangan. Produksi enzim dilakukan melalui kultur E. coli rekombinan yang membawa plasmid pET-22b-CellE dengan induksi laktosa monohidrat, kemudian dianalisis menggunakan uji aktivitas selulase metode 3,5-dinitrosalisilat (DNS) dan pengukuran protein total dengan metode Bradford. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dan uji lanjut Duncan pada tingkat signifikansi 5% (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mutan + SKIK menghasilkan nilai tertinggi baik pada aktivitas enzim (10,66 U mL-1) maupun protein total (0,85 mg mL-1). Penambahan SKIK meningkatkan ekspresi dan kelarutan protein, sedangkan mutasi memperbaiki efisiensi katalitik enzim. Kombinasi keduanya memberikan efek sinergis dalam meningkatkan perfoma enzim selulase rekombinan. Penelitian ini merupakan yang pertama mengombinasikan penambahan tag SKIK dengan mutagenesis untuk meningkatkan ekspresi dan aktivitas katalitik enzim selulase pada E. coli. Temuan ini tidak hanya relevan untuk peningkatan produksi enzim pada industri bioteknologi, tetapi juga berpotensi diaplikasikan dalam formulasi pakan ikan. Although recombinant cellulase enzymes have been widely developed to enhance fiber-degradation efficiency, information regarding how modifications such as mutagenesis and the addition of the SKIK (Ser-Lys-Ile-Lys) tag influence enzymatic activity and total protein production remains limited. Therefore, this study aimed to evaluate the effects of mutagenesis and SKIK tagging on the activity and total protein yield of recombinant cellulase expressed in Escherichia coli BL21 (DE3). The research was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD) with four treatments: P1 = wild type (WT), P2 = WT + SKIK, P3 = mutant, and P4 = mutant + SKIK, each consisting of four replications. Enzyme production was carried out using recombinant E. coli harboring the pET-22b-CellE plasmid induced with lactose monohydrate, and the resulting enzyme was analyzed for cellulase activity using the 3,5-dinitrosalicylic acid (DNS) method and total protein concentration using the Bradford assay. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by Duncan’s post-hoc test at a 5% significance level (p < 0.05). The results showed that the mutant + SKIK treatment produced the highest values for both enzymatic activity (10.66 U mL-1) and total protein (0.85 mg mL-1). The addition of the SKIK tag enhanced protein expression and solubility, whereas mutagenesis improved catalytic efficiency. The combination of both modifications produced a synergistic effect, resulting in superior performance of the recombinant cellulase enzyme. This study is the first to combine SKIK tagging with mutagenesis to enhance the expression and catalytic activity of cellulase in E. coli. These findings are not only relevant for improving enzyme production in biotechnology industries but also hold potential applications in fish feed formulation.
DISEASE DYNAMICS AND CROSS-TRANSMISSION RISKS IN CULTURED AND WILD BARRAMUNDI (Lates calcarifer) IN INNER AMBON BAY, INDONESIA Borut, Ruku Ratu; Sahetapy, Jacqueline Sahetapy Marleen Francischa; Rijoly, Stefanno Markus Anthony; Tawari, Ruslan Husen Saban; Tuhumury, Julian
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 3 (2025): September (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.3.2025.269-286

Abstract

This study aimed to evaluate the potential infection of bacteria Vibrio spp. and parasites in farmed barramundi (Lates calcarifer) and wild fish inhabiting Inner Ambon Bay. The research was conducted over a five-month period (August–December 2024) using a purposive sampling, to monthly collect and analyse two barramundi populations. Bacteria were isolated from liver and kidney tissues of the collected fish using sea water complate (SWC) agar and tiosulfate citrate bile-salt sucrose (TCBS) agar and identified with the Analytical Profile Index (API) 20 Non-Enteric (NE) kit. Parasitic identification was performed microscopically on gills, skin, and intestinal samples. The results revealed that Vibrio spp. were detected at relatively high abundance, dominated by V. harveyi, V. alginolyticus, and V. vulnificus. Identified parasites included Trichodina sp., Cryptocaryon irritans, Benedenia sp., and nematodes. Parasite infection prevalence in cultured barramundi ranged from 40% to 70%, whereas in wild fish it reached 60%. These findings strongly indicate the potential for cross-transmission of diseases between cultured and wild fish populations in Inner Ambon Bay.Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi infeksi bakteri Vibrio spp. dan parasit pada ikan kakap putih (Lates calcarifer) budidaya dan ikan liar di perairan Teluk Ambon Dalam. Penelitian dilaksanakan selama lima bulan (Agustus–Desember 2024) dengan metode purposive sampling, masing-masing lima ekor ikan kakap putih budidaya dan lima ekor ikan liar setiap bulan. Isolasi bakteri dilakukan dari organ hati dan ginjal menggunakan media SWC agar dan TCBS agar, sedangkan identifikasi bakteri menggunakan kit API 20 NE. Identifikasi parasit dilakukan melalui pemeriksaan mikroskopis pada organ target, yaitu insang, kulit, dan usus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Vibrio spp. ditemukan dengan kelimpahan relatif tinggi, didominasi oleh V. harveyi, V. alginolyticus, dan V. vulnificus. Jenis Parasit yang teridentifikasi meliputi Trichodina sp., Cryptocaryon irritans, Benedenia sp., dan nematoda. Prevalensi infeksi parasit pada ikan budidaya berkisar 40–70%, sedangkan pada ikan liar mencapai 60%. Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya potensi penularan silang penyakit antara ikan budidaya dan ikan liar di Teluk Ambon Dalam.
PENGAYAAN PAKAN DENGAN KOMBINASI MINYAK LIMBAH IKAN PATIN DAN MINYAK CUMI-CUMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Ramadhan, Zulfahmy; Aryani, Netti; Nuraini, Nuraini
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 3 (2025): September (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.3.2025.287-305

Abstract

Pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan baung (Hemibagrus nemurus) pada stadia larva tidak menentu yang disebabkan oleh rendahnya kualitas pakan yang tersedia. Salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pakan larva adalah melalui pengayaan pakan fermentasi dengan minyak yang berasal dari ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi terbaik antara minyak limbah ikan patin dan minyak cumi-cumi dalam pakan fermentasi guna meningkatkan performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan baung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: P1 (Tubifex sp.), P2 (pakan fermentasi + 12% minyak limbah ikan patin), P3 (pakan fermentasi + 12% minyak cumi-cumi), P4 (Pakan fermentasi + minyak limbah ikan patin +  minyak cumi-cumi 1:1 (10 g minyak limbah ikan patin + 10 g minyak cumi-cumi) dosis 12%), P5 (Pakan fermentasi + minyak limbah ikan patin + minyak cumi-cumi 1:2 (10 g minyak limbah ikan patin + 20 g minyak cumi-cumi) dosis 12%), dan P6 (Pakan fermentasi  + minyak limbah ikan patin + minyak cumi-cumi 1:3 (10 g minyak limbah ikan patin + 30 g minyak cumi-cumi) dosis 12%). Larva dipelihara selama 40 hari dengan kepadatan 5 ekor L-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengayaan pakan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap bobot mutlak, panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik (LPS), dan tingkat kelangsungan hidup. Performa terbaik diperoleh pada kombinasi 1:3, yang menghasilkan bobot mutlak sebesar 0,80 g, panjang mutlak 3,45 cm, LPS sebesar 14,07%/hari, dan tingkat kelangsungan hidup sebesar 75,11%. Larva menunjukkan perilaku makan yang aktif dengan sisa pakan yang minimal.The growth and survival rate of the Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) during larval stage are inconsistent due to low quality of available diets. One of the options to improve the larval diets is through enriching fermented fish with fish-derived oils. This study aimed to determine the optimal combination of pangasius waste oil and squid oil in fermented feed to improve larval growth performance and survival. A Completely Randomized Design (CRD) with six treatments and three replications was applied: P1 (Tubifex sp.), P2 (fermented feed + 12% pangasius waste oil), P3 (fermented feed + 12% squid oil), P4 (Fermented feed + pangasius waste oil + squid oil at a ratio of 1:1 [10 g pangasius waste oil + 10 g squid oil] with a dosage of 12%), P5 (Fermented feed + pangasius waste oil + squid oil at a ratio of 1:2 [10 g pangasius waste oil + 20 g squid oil] with a dosage of 12%), and P6 (Fermented feed + pangasius waste oil + squid oil at a ratio of 1:3 [10 g pangasius waste oil + 30 g squid oil] with a dosage of 12%). Larvae were reared for 40 days at a stocking density of 5 individuals L-1. Results demonstrated that feed enrichment significantly affected (p<0.05) absolute weight, absolute length, specific growth rate (SGR), and survival rate. The best performance was obtained with the 1:3 combination, yielding an absolute weight of 0.80 g, an absolute length of 3.45 cm, an SGR of 14.07%/day, and a survival rate of 75.11%. Larvae exhibited active feeding behavior with minimal feed residues.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue