cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Konflik Sosial dan Pengendalian Malaria Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Tahun 2021 Shinta Shinta; Helper Sahat P Manalu
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.0.0.274-284

Abstract

Latar Belakang: Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah mempunyai sejarah panjang malaria.  Tahun 2004 Purworejo berhasil menekan kasus malaria, meskipun terkadang masih timbul fluktuasi.  Tahun 2019 malaria Purworejo sudah sangat menurun, sehingga dapat mempersiapkan diri untuk proses penilaian bebas malaria.  Tahun 2020 sudah tidak ditemukan lagi kasus indigenous, kecuali kasus impor.  Tahun 2021 terjadi pandemi Covid-19, mengakibatkan banyak angka kesakitan dan kematian.  Tujuan penelitian untuk mengetahui situasi malaria di Kab. Purworejo, dalam upaya mencapai eliminasi malaria tahun 2021.Metode: Penelitian ini merupakan qualitative study yang dilakukan dengan metode wawancara mendalam dengan narasumber Kepala Dinas dan Penanggung Jawab Program Malaria dari Dinkes Kab. Purworejo, Kepala Puskesmas dan Penanggung Jawab Program Malaria dan Juru Malaria Desa/JMD dari Puskesmas Bener dan Puskesmas Loano (n=10).   Data diperoleh dari rekaman hasil wawancara dan komunikasi WA serta telefon, kemudian dilakukan transkrip hasil wawancara untuk selanjutnya dilakukan analisis.    Untuk memperkaya analisis digunakan paparan hasil round table discussion dengan narasumber stake holder Dinkes Kab. dan Puskesmas tersebut (n=6).Hasil: Pada masa Pandemi Covid-19, Program Pengendalian Malaria Kab. Purworejo dapat beradaptasi dengan Program Pengendalian  Covid-19.   Munculnya kembali kasus malaria diduga bermula dari adanya kasus impor yang  tidak terdeteksi oleh petugas surveilan migrasi setempat.  Penularan dipicu karena adanya konflik sosial internal di desa Wadas, terjadi aktivitas masyarakat berkumpul/tidur di luar rumah untuk menjaga lahan pada malam hari. Kondisi desa tertutup terhadap kedatangan orang luar desa sehingga akses petugas kesehatan untuk surveilans tidak bisa berjalan.Simpulan: Kabupaten Purworejo gagal meraih sertifikat eliminasi malaria pada tahun 2021 disebabkan adanya konflik sosial di masyarakat.ABSTRACTTittle: COVID-19, Social Conflict and Malaria Control in Purworejo Regency, Central Java in 2021Background: Purworejo Regency, Central Java Province has a long history of malaria. In 2004 Purworejo succeeded in suppressing malaria cases, although sometimes fluctuations still occur. In 2019, Purworejo's malaria has decreased greatly, so that Purworejo can prepare for the malaria-free assessment process. In 2020, there are no more indigenous cases, except for imported cases. In 2021, the Covid-19 pandemic will occur, resulting in a lot of morbidity and mortality. The aim of the study was to determine the situation of malaria in Purworejo, in an effort to achieve malaria elimination in 2021.Methods: This research is a qualitative study which was conducted using in-depth interviews with the head and manager of the malaria program from DKK Purworejo, from Puskesmas Bener and Puskesmas Loano (n=6). Data was obtained from recorded interview,  WA and telephone communications, a transcript of the interview results was carried out for further analysis. To enrich the analysis, the results of round table discussions with the same informants were also used.Results: During the Covid-19 Pandemic, the Malaria Control Program. Purworejo can adapt to the Covid-19 Control Program. The re-emergence of malaria cases allegedly stems from imported cases that were not detected by local migration surveillance officers. The transmission was triggered by an internal social conflict in Wadas village, there was community activity gathering/sleeping outside the house to guard the land at night, the village was closed to the arrival of people outside the village so that access to health workers for surveillance could not work.Conclusion: Purworejo Regency failed to achieve a malaria elimination certificate in 2021 due to social conflicts in the community.
Analisis Ketersediaan Sarana Sanitasi dengan Tingkat Kenyamanan Pengunjung di Tempat Wisata Maria Goretti Catur Yuantari; Yudia Ardi Andrean
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.3.329-334

Abstract

Latar belakang: Ketersediaan sarana dan prasarana pariwisata yang layak akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung lokal maupun mancanegara di tempat wisata. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara ketersediaan sarana sanitasi terhadap tingkat kenyamanan pengunjung di tempat wisata.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah pengunjung Kota Lama Semarang, yang diambil dengan teknik sampling kuota didapat sebanyak 100 Jumlah responden. Penelitian ini dilaksanakan di tempat wisata Kota Lama Semarang pada bulan Februari-April 2020. Analisis statistik bivariat menggunakan uji Rank Spearman.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara ketersediaan sarana sanitasi dengan tingkat kenyamanan pengunjung dengan kekuatan hubungan kuat (nilai p-Value<0,022 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,742).Simpulan: Semakin baik ketersediaan sarana sanitasi maka semakin meningkat pula kenyamanan pengunjung. Fasilitas sanitasi seperti tempat sampah, lampu penerangan, rambu petunjuk, toilet dan tempat parkir sudah tersedia. Namun, ketersediaan tempat parkir di Kota Lama perlu ditata kembali dengan tidak menggunakan tempat pejalan kaki sebagai tempat parkir. ABSTRACT Background: Proper tourism facilities and infrastructure will be the main attraction for local and foreign visitors at tourist attractions. This study aimed to analyze the relationship between the availability of sanitation facilities and visitors' comfort level at tourist attractions.Method: This type of research is analytic observational with a cross-sectional design. The population in this study were visitors to the Kota Lama Semarang, which were taken using a quota sampling technique of 100 respondents. This research was carried out at the Kota Lama Semarang tourist spot in February-April 2020. Bivariate statistical analysis used the Spearman Rank test.Result: The results showed a relationship between the availability of sanitation facilities and comfort level, and the strength of the relationship was strong (p-Value <0.022 and correlation coefficient value of 0.742).Conclusion: The better the availability of sanitation facilities, the more comfortable the visitors will be. Sanitation facilities such as trash cans, lighting, signposts, toilets, and parking lots are available. However, the availability of parking spaces in Kota Lama needs to be reorganized by not using pedestrian areas as parking spaces.
Kondisi Fisik Air Sungai Dan Kandungan Logam Kromium Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) (Studi Di Sungai Kreongan Sekitar Industri Batik X, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember) Leily Rusul Islami Denia Putri; Anita Dewi Moelyaningrum; Prehatin Tri Rahayu Ningrum
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.3.293-300

Abstract

Latar belakang: Industri batik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila limbahnya dibuang ke sungai tanpa proses pengolahan. Limbah cair batik yang dihasilkan dari proses pewarnaan mengandung kromium. Kromium memiliki sifat karsinogenik dan nonbiodegradabel yang berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi fisik air Sungai Kreongan dan ikan nila, serta mengetahui kandungan Cr dalam daging ikan nila.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Tempat penelitian berada di Sungai Kreongan. Sampel ikan nila diambil dari 4 titik sebanyak 8 ekor dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel responden 89 orang dengan teknik random sampling. Data yang diperoleh diolah dengan SPSS kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel yang dinarasikanHasil: Berdasarkan hasil observasi kondisi fisik air sungai kreongan titik 1 dan 4 tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Titik 2 berwarna merah, memiliki rasa asin dan tidak berbau. Titik 3 berwarna kuning, tidak berasa dan tidak berbau. Kandungan kromium ikan sampel 1 yakni 1,6 ppm, sampel 2 yakni 2,9 ppm, sampel 3 yakni 1,9 ppm dan sampel 4 yakni 2,7 ppm. Kondisi fisik ikan sampel 2 memiliki ukuran tubuh tidak proporsional, filament insang berwarna merah pucat dan kondisinya geripis, sirip ekor geripis, mata cekung serta tubuh berwarna pucat. Ikan sampel 1, 3, dan 4 memiliki kondisi fisik sama yakni ukuran tubuh proporsional, filament insang berwarna merah, sirip ekor geripis, mata jernih dan tubuh berwarna hitamSimpulan: Dampak pembuangan limbah batik x pada titik 2 menyebabkan kondisi fisik air sungai berubah, menyebabkan akumulasi kromium tertinggi pada ikan nila dan merusak kondisi fisik ikannya.  ABSTRACTTitle: Physical Conditions of River Water and The Assessment of Contained Chromium Metal in Tilapia (O. niloticus) (Study at Kreongan River around Batik X Industry, Patrang District, Jember Regency.Background: Batik industry can cause environmental pollution, if the waste discharged into the river without processing. Batik liquid waste resulting from coloring process contains of chromium. Chromium have a carcinogenic and non-biodegradable characteristic that have a negative impact to environment and health. The aims are to describe the physical condition of river water and tilapia organs, and measure chromium value on tilapia’s body.Method: This research use a descriptive method, located on the Kreongan River. 8 Tilapia samples were taken from 4 sampling points using purposive sampling technique. This research have 89 respondents with random sampling technique. The data processed with SPSS then analyzed descriptively in the form of narrative table.Results: Based on the observation results at sampling point 1 and 4 the water have colorless, un-smell and didn’t have a taste. At point 2, the water have red color, salty and un-smell. At point 3, the water have light yellow color, un-taste and un-smell. The chromium content at fish sample 1 is 1.6 ppm, sample 2 is 2.9 ppm, sample 3 is 1.9 ppm and sample 4 is 2.7 ppm. Physical conditions of fish sample 2 are have disproportional body, the gill filaments was pale red and sparsed, one of the fins were flaky, sunken eyes and pale body. While the fish sample 1,3 and 4 have proportional body, red gill filament, one of the fins were flaky, clear eyes and black body.Conclusion: The impact of batik x waste at point 2 are cause the physical condition of the river, causing the highest chromium accumulation in tilapia and damaging the physical condition of the fish. 
Analisis Perbandingan Faktor Lingkungan Terkait Dengan Prevalensi Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Pada Daerah Sporadis Dan Daerah Endemis Abdul Hamid; Ana Lestari; Iga Maliga
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.13-20

Abstract

Latar belakang: Kabupaten Sumbawa terus berjuang dengan masalah kesehatan masyarakat yang serius yang disebabkan oleh Demam Berdarah Dengue (DBD). Karena mobilitas dan kepadatan penduduk yang meningkat, baik jumlah korban maupun jangkauan geografis penyebarannya terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan faktor risiko lingkungan DBD di wilayah endemik dan sporadis Kabupaten Sumbawa.Metode: Penelitian ini menggunakan strategi kuantitatif berdasarkan desain survei analitik dengan pendekatan mundur. Delapan puluh rumah tangga di Kecamatan Moyo Hilir dan Sumbawa di Kabupaten Sumbawa diikutsertakan dalam penelitian karena pernah mengalami atau berisiko terkena DBD. Secara khusus data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan pendekatan univariat yang bertujuan untuk mendeskripsikan sifat-sifat dari masing-masing variabel bebas. Analisis bivariat (chi-square) untuk menggambarkan hubungan lingkungan (fisik, kimia, sosial, dan pelayanan kesehatan), dengan kejadian DBD sebagai variabel dependen; tabel distribusi frekuensi variabel; dan DBD sendiri sebagai variabel bebas. Tes Mann-Whitney digunakan untuk membandingkan area yang dimaksud.Hasil: berdasarkan hasil uji Chi square diketahui bahwa faktor lingkungan yang berhubungan dengan kejadian DBD adalah dukungan pelayanan kesehatan, pengetahuan tentang DBD dan kondisi lingkungan (nilai sig. < 0,05). Hasil uji Mann Whitney untuk daerah sporadis faktor yang berkaitan dengan  kejadian DBD adalah  dukungan pelayanan kesehatan, pengetahuan tentang DBD dan kondisi lingkungan (nilai sig. < 0,05), sedangkan untuk daerah endemis adalah dukungan pelayanan kesehatan, pengetahuan tentang DBD, aspek sosial DBD dan PHBS serta kondisi lingkungan (nilai signifikansi < 0.05).Simpulan: terdapat perbedaan faktor lingkungan yang berpengaruh terkait dengan kejadian DBD pada wilayah endemis dan sporadis di Kabupaten Sumbawa. ABSTRACTTitle: Comparative Analysis of Environmental Factors Related to the Prevalence of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) In Sporadic and Endemic AreasBackground: Sumbawa Regency continues to struggle with a serious public health problem caused by Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Due to increased mobility and population density, both the number of victims and the geographic range of their spread have continued to increase. This study aims to determine differences in environmental risk factors for DHF in endemic and sporadic areas of Sumbawa Regenc.Methods: The study employed a quantitative strategy based on an analytical survey design with a backwards approach. Eighty households in the Moyo Hilir and Sumbawa Districts of the Sumbawa Regency were included in the study because they had either experienced or were at risk for DHF. Specifically, this study's data were analyzed using a univariate approach, which aimed to describe the properties of each independent variable. Bivariate analysis (chi-square) to describe environmental relationships (physical, chemical, social, and health services), with the incidence of DHF serving as the dependent variable; frequency distribution tables of the variables; and DHF itself serving as the independent variable. The Mann–Whitney test was utilized to compare the areas in question.Results: Based on the results of the chi square test, it is known that the environmental factors that influence the incidence of DHF are health care support, knowledge about DHF and environmental conditions (sig. < 0.05). The results of the Mann Whitney test for sporadic areas, factors related to the incidence of DHF are support for health services, knowledge about DHF and environmental conditions (sig. < 0.05), while for endemic areas are support for health services, knowledge about DHF, social aspects of DHF. and PHBS and environmental conditions (significance value < 0.05).Conclusion: differences in environmental factors that influence the incidence of DHF in endemic and sporadic areas in Sumbawa Regency.
Hubungan Kualitas Lingkungan dengan Kejadian Malaria (Wilayah Endemis Malaria, Lingkup Kerja Puskesmas Kaligesing, Kabupaten Purworejo Tahun 2022) Fitni Hidayati; Mursid Raharjo; Martini Martini; Nur Endah Wahyuningsih; Onny Setiani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.21-27

Abstract

Latar Belakang: Malaria merupakan masalah prioritas dalam kesehatan sejak 100 juta tahun lalu. Kaligesing termasuk salah satu kecamatan di kabupaten Purworejo dengan tingkat endemisitas malaria tinggi, mempunyai perbukitan yang disebut dengan bukit menoreh. Nyamuk Anopheles sp sangat senang berada di wilayah perbukitan, karena mempunyai suhu yang sejuk dan kelembapan yang sesuai dengan perkembangbiakan vektor. Sungai yang menggenang dan sumber mata air sangat jarang digunakan dan menjadi salah satu tempat perkembangbiakan nyamuk Anopheles sp. Kondisi rumah yang mendukung, akan mempercepat penularan malaria dari gigitan vektor Anopheles yang terdapat Plasmodium dalam tubuhnya, seperti tidak terpasangnya kawat, tidak memiliki plafon rumah, ditemukan celah pada dinding, terdapatnya kandang ternak, genangan dan semak-semak yang menjadikan tempat istirahat bagi nyamuk. Hal ini sangat disukai oleh nyamuk, sehingga angka penularan semakin tinggi.  wilayah Kaligesing mempunyai angka tertinggi malaria bulan januari hingga Juli dengan total 97 kasus. Tingginya penularan malaria sangat layak dilakukan penelitian di wilayah Kaligesing.Metode: Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan kualitas lingkungan dengan kejadian malaria. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain Case control .Penelitian ini memiliki sampel 80 responden, dimana 40 sebagai kasus dan 40 sebagai kontrol.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kualitas lingkungan yang signifikan terhadap kejadian malaria ialah kawat kasa (p-value 0,000), plafon (p-value 0,000), kandang ternak (p-value 0,002), adanya semak-semak (p-value 0,000), dan Breeding places (p-value 0,001). Adapun kualitas lingkungan yang paling berpengaruh terhadap kejadian malaria yaitu kawat kasa (p-value 0,001) dan kendang ternak (p-value 0,040). ABSTRACT Title: The Relationship between Environmental Quality and Malaria Incidence (Malaria Endemic Area, Scope of Work of Kaligesing Health Center, Purworejo Regency in 2022) Background: Malaria is a priority problem in health that has existed since 100 million years ago. Kaligesing is one of the sub-districts in Purworejo regency with a high level of malaria endemism and has hills called menoreh hills. Anopheles sp mosquitoes are very happy to be in hilly areas; because they have cool temperatures and humidity that are suitable for vector breeding. The stagnant river and spring are very rarely used and become one of the breeding sites for anopheles sp. mosquito. Supporting home conditions will accelerate the transmission of malaria from the bites of Anopheles vector mosquitoes that have Plasmodium in their bodies, such as not attaching gauze wire to ventilation, not having a ceiling of the house, there are gaps in the walls, there are livestock pens, puddles, and bushes that make resting places for mosquitoes. This is very much liked by mosquitoes, so the transmission rate is getting higher.  The Kaligesing region had the highest malaria rate from January to July with a total of 97 cases. The high transmission of malaria is very feasible to conduct research in the Kaligesing region. Methods: This research is quantitative using a case-control design. This study has a sample of 80 respondents, of which 40 a case and 40 are controlled. Result: The results showed environmental quality related to malaria incidence, namely the presence of gauze wire (p-value 0.000), ceiling (p-value 0.000), livestock sheds (p-value 0.002), the presence of bushes (p-value 0.000), and breeding places (p-value 0.001). The environmental quality that most affects the incidence of malaria is the presence of gauze wire (p-value 0.001) and livestock sheds (p-value 0,040).
Analisis Kesiapsiagaan Bencana Teknologi dari Pabrik X pada Aspek Proyeksi Zona Bahaya Novrikasari Novrikasari; Fatma Lestari; Dewi Rahayu Sudiman; Sudjianto Kamso; Yulianto S. Nugroho; Bambang Teguh Prasetyo; Bambang Wispriyono; Fachrurozi Abdullah Gunawan; Desheila Andarini
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.38-45

Abstract

Latar belakang: Kegagalan teknologi dalam industri X tidak dapat dihindari terutama karena keadaan pabrik X dengan teknologi tua dan bahan kimia sebagai bahan baku produksi yang dapat menimbulkan berbagai bahaya seperti polusi industri hingga kebakaran sehingga diperlukan manajemen bencana teknologi yang strategis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kesiapsiagaan bencana teknologi dari pabrik X pada aspek proyeksi zona bahaya.Metode: Penelitian survei dengan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian adalah 548 masyarakat yang termasuk dalam area risiko 0-2600 meter dari tangki penyimpanan amonia di sekitar pabrik X yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Data sekunder dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II untuk data meteorologi periode Januari – Desember  digunakan untuk proyeksi zona bahaya. Analisis data menggunakan  ALOHA (Areal Locations of Hazardous Atmospheres) yang di plot ke Google Earth dan Peta Administrasi Kota Palembang.Hasil: Hasil penelitian disajikan dalam distribusi frekuensi dan proyeksi zona bahaya disajikan dalam gambar yang sudah dipetakan dengan Google Earth. Analisis konsekuensi dari 4 skenario kasus terburuk ketika terjadi rupture tangki amonia, menjelaskan bahwa area risiko rupture di bawah tangki (skenario 2) 3 kali lebih luas dibanding rupture di atas tangki (skenario 1) untuk ukuran lubang diameter 1 cm. Area risiko heavy gas (skenario 4) 2 kali lebih luas dibanding dengan hasil prediksi model gaussian (skenario 3).Simpulan: Penyusunan manajemen evakuasi berdasarkan hasil proyeksi zona bahaya dan upaya pelatihan tanggap darurat yang lebih luas akan meningkatkan tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan manajemen bencana. ABSTRACT Title: Analysis of Technological Disaster Preparedness from Fertilizer Factory on Hazard Zone Projection AspectBackground: Technological failure in the fertilizer industry is unavoidable mainly because of the state of the fertilizer factory with old technology and hazardous chemicals as production raw materials, so strategic technological disaster management is needed. This study aims to describe public knowledge regarding the dangers of ammonia gas dispersion and the preparation of hazard zone projections as an important input in disaster management of the technology.Method: Survey research with cross-sectional design. The research sample was 548 people who had met the inclusion and exclusion criteria of the study. Secondary data from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency of the Sultan Mahmud Badaruddin II Meteorological Station for meteorological data for the January – December period is used for hazard zone projections.Result: Research results are presented in frequency distribution and hazard zone projections are presented in images that have been mapped with Google Earth. Consequence analysis of the 4 worst case scenarios when an ammonia tank ruptures, explains that the risk area for rupture under the tank (scenario 2) is 3 times larger than that of rupture above the tank (scenario 1) for a hole size of 1 cm diameter. The risk area for heavy gas (scenario 4) is 2 times wider than the predicted result of the gaussian model (scenario 3).Conclusion: Preparation of evacuation management based on the results of hazard zone projections and wider emergency response training efforts will increase the level of community preparedness and disaster management
Penerapan Integrated Vector Management (IVM) Dalam Upaya Eliminasi Malaria Di Daerah Endemis Kabupaten Purworejo Dwi Fitriani; Mursid Raharjo; Martini Martini; Onny Setiani; Nur Endah Wahyuningsih
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.112-121

Abstract

Latar belakang: Satu-satunya kabupaten yang belum mencapai eliminasi di pulau jawa bali adalah Purworejo. Re-emerging disease malaria yang terjadi pada bulan Juli 2021 menyebabkan Purworejo gagal mendapatkan sertifikat bebas malaria. Integrated Vector Management (IVM) ditujukan untuk memudahkan para pemangku kebijakan dalam menerapkan program pengendalian vektor agar lebih efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini menganalisis penerapan IVM di kabupaten Purworejo dalam mencapai target eliminasi malaria tahun 2023Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Informan dipilih langsung oleh peneliti (purposive sampling).  Data diolah menggunakan aplikasi Nvivo 12 Plus. Nilai koding menunjukkan seringnya variabel tersebut dibahas informan selama penelitian.Hasil: Berdasarkan analisis referensi pengkodean Nvivo 12 Plus menunjukkan variabel pendekatan terintegrasi (110 koding), kapasitas sumber daya (30 koding), kerjasama lintas sektor (97 koding), Advokasi, Mobilisasi dan Regulasi (28 koding), dan pengambilan keputusan berdasarkan bukti (51 koding). Sumber Daya Manusia dalam pengendalian malaria di Puskesmas Kaligesing merangkap tugas dan kompetensi belum sesuai. JMD dinilai masih kurang apalagi ketika terjadi outbreak. Analisis situasi hanya berfokus pada kasus dan kondisi masyarakat, belum maksimal pada kajian epidemiologis maupun entomologis. Pencegahan dan pengendalian malaria terfokus setelah terjadi kasus. Kerjasama lintas sektor masih sebatas koordinasi belum maksimal dalam implementasi. Persepsi terkait masalah kesehatan menjadi tanggung jawab sektor kesehatan sedangkan sektor lain hanya mendukung. Penanganan malaria masih menjadi kegiatan mandiri dan belum kolaboratif. Belum ada program lintas institusi dalam penanganan malaria.Simpulan: Penerapan IVM Malaria di Kabupaten Purworejo belum maksimal. ABSTRACTTitle: Application of Integrated Vector Management (IVM) in Efforts to Eliminate Malaria in Endemic Areas, Purworejo RegencyBackground: The only district that has not achieved elimination on the island of Java Bali is Purworejo. The re-emerging malaria disease that occurred in July 2021 caused Purworejo to fail to get a malaria-free certificate. Integrated Vector Management (IVM) is intended to make it easier for policymakers to implement vector control programs to be more effective and efficient. The purpose of this study is to analyze the application of IVM in Purworejo district in achieving the malaria elimination target in 2023Method: This research uses descriptive qualitative methods. Data collection was carried out with in-depth interviews. Informants are selected directly by the researcher (purposive sampling).  Data is processed using the Nvivo 12 Plus application. The coding value indicates the frequent discussion of these variables by informants during the study.Result: Based on the Nvivo 12 Plus coding reference analysis, it shows the variables of integrated approach (110 coding), resource capacity (30 coding), cross-sectoral cooperation (97 coding), Advocacy, Mobilization and Regulation (28 coding), and evidence-based decision making (51 coding). Human Resources in malaria control at the Kaligesing Health Center concurrently have tasks and competencies that are not yet appropriate. JMD is considered to be lacking, especially when there is an outbreak. Situation analysis only focuses on cases and community conditions, not yet optimally in epidemiological and entomological studies. Malaria prevention and control is focused after a case occurs. Cross-sectoral cooperation is still limited to coordination has not been maximized in implementation. Perceptions related to health problems are the responsibility of the health sector while other sectors are only supportive. Malaria management is still an independent and not yet collaborative activity. There is no cross-institutional program in malaria management.Conclusion: The application of IVM Malaria in Purworejo Regency has not been maximized
Hubungan Kualitas Air Konsumsi, Higiene, dan Sanitasi Rumah Tangga dengan Kejadian Stunting (Studi Case Control Pada Balita Stunting di Kabupaten Lumajang) Avita Amalina; Leersia Yusi Ratnawati; Candra Bumi
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.28-37

Abstract

Latar Belakang: Data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia sebesar 24,4%. Kabupaten Lumajang urutan ke-4 prevalensi tertinggi stunting sebesar 30,1% di Jawa Timur. Kasus diare juga meningkat dalam 4 tahun terakhir dan merupakan penyebab mortalitas terbanyak pada bayi. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis hubungan kualitas air konsumsi, higiene, dan sanitasi rumah tangga dengan kejadian stunting di Kabupaten Lumajang.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus-kontrol. Populasi seluruh rumah tangga Balita stunting dan non stunting usia 25-59 bulan di Kabupaten Lumajang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2022 di Puskesmas Rogotrunan, Tekung, Sumbersari, Gucialit, Padang, Bades, Kedungjajang, Klakah. Pengambilan sampel dengan proportional stratified random sampling menghasilkan 82 responden (masing-masing 41 pada kelompok kasus dan kontrol). Analisis dengan uji  bivariat chi-square.Hasil: Balita stunting dengan berat badan kurang memiliki riwayat diare berulang lebih banyak daripada Balita non stunting. Kualitas air konsumsi pada kelompok kasus dan kontrol tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa. Praktik BABdi sungai pada kelompok kasus (19,5%) lebih banyak dari kelompok kontrol (4,9%). Analisis bivariat berat badan balita berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p-value 0,001, contingency coefficient 0,508) sedangkan kualitas air konsumsi (p-value 1,000), higiene (p-value 0,286), dan sanitasi rumah tangga (p-value 0,196) tidak berhubungan dengan kejadian stunting. Praktik BAB dalam indikator higiene rumah tangga berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p value 0,043, contingency coefficient 0,218).Simpulan: Indikator berat badan dan praktik BAB menjadi faktor risiko penyebab diare pada balita stunting usia 25-59 bulan di Kabupaten Lumajang. ABSTRACT Title: Relationship of Consumable Water Quality, Hygiene, and Household Sanitation with Stunting Incidence (Case Control Study on Stunting Toddlers in Lumajang District)Background: : Data  from the 2021 Indonesia Nutrition Status Study (SSGI) shows that the prevalence of stunting among children under five in Indonesia is 24.4%. Lumajang Regency ranks 4th with the highest prevalence of stunting at 30.1% in East Java. Cases of diarrhea have also increased in the last 4 years and are the most common cause of infant mortality.  The aim of this study was to analyze the relationship between the the quality of drinking water, hygiene, and household sanitation and the incidence of stunting  in  Lumajang Regency.Method: Quantitative study with a case-control study design. The population of all stunted and non-stunted toddler households aged 25–59 months in Lumajang Regency. The research was carried out from July to August 2022 at the Rogotrunan Health Center in Tekung, Sumbersari, Gucialit, Padang, Bades, Kedungjajang, and Klakah. Sampling by proportional stratified random sampling yielded 82 respondents (41 each in the case and control groups). Analysis with a chi-square bivariate test.Result: Stunted toddlers with low body weight have a higher history of recurrent diarrhea than non-stunted toddlers. The quality of the drinking water in the case and control groups was odorless, colorless, and tasteless. The practice of defecating in the river in the case group (19.5%) was more common than in the control group (4.9%). Bivariate analysis of under-five weight was significantly related to the incidence of stunting (p-value 0.001, contingency coefficient 0.508), while the quality of drinking water (p-value 1.000), hygiene (p-value 0.286), and household sanitation (p-value 0.196) were not related to stunting. The practice of defecation in household hygiene indicators is significantly related to the incidence of stunting (p-value 0.043, contingency coefficient 0.218).Conclusion: Weight indicators and bowel habits are risk factors for causing diarrhea in stunted toddlers aged 25–59 months in Lumajang Regency.
Kajian Mutu Air Sungai Beringin Yang Tercemar Limbah Laundry Ansori Ikbal; Sudarno Sudarno; Ika Bagus Priyambada
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.69-75

Abstract

Latar belakang: Sungai Beringin berbatasan langsung dengan pemukiman yang dapat berpotensi menyediakan berbagai sumber pencemar yang bersumber dari limbah laundry, limbah industri dan limbah domestik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pencemar dan dibandingkan dengan baku mutu limbah laundry dan untuk mengetahui status mutu air dengan metode indeks pencemaran  air Sungai Beringin.Metode: Pengambilan sampel dilakukan pada tiga lokasi sampling di Sungai Beringin yaitu Jembatan Tambakaji, Perumahan griya beringin, dan kelurahan Wonosari. Metode pengambilan sampel mengacu pada SNI 6989.59:2008. Pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan jerigen dan ember sebanyak 1 liter. Sampel air diambil pada waktu pagi dan siang hari. Adapun parameter – parameter yang diamati adalah MBAS, DO, COD, BOD, dan TSS. Pengujian parameter dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan UNDIP. Hasil pengujian kualitas air dibandingkan dengan PP No. 22 Tahun 2021 mengenai baku mutu air sungai dan ditentukan status mutu kualitas air dengan metode indeks pencemar.Hasil: Debit minimum Sungai Beringin yaitu sebesar 0,18 m3/detik, dan debit maksimum adalah 2,60 m3/detik. Kandungan MBAS tertinggi terdapat pada lokasi sampling drainase yaitu 30,081mg/L. Kandungan kadar terbesar COD adalah 416,67 mg/L dan BOD adalah 129,17 mg/L. Berdasarkan perbandingan hasil analisis dengan baku mutu yaitu kandungan MBAS, COD, dan BOD melebihi nilai baku mutu yang ditentukan. Nilai baku mutu MBAS adalah 5 mg/L, COD adalah 100 mg/L, dan BOD adalah 6 mg/L.Simpulan: Kualitas sungai beringin berstatus tercemar ringan ditunjukkan dengan nilai indeks pencemaran > 1. ABSTRACT Title : Quality Study of Beringin River Water Polluted by Laundry WasteBackground: The Beringin River is directly adjacent to settlements which can potentially provide various sources of pollution from laundry waste, industrial waste and domestic waste. This study aims to determine the concentration of pollutants and compare it with the quality standard of laundry waste and to determine the status of water quality using the Beringin River water pollution index method.Methods: Sampling was carried out at three sampling locations on the Beringin River, namely Tambakaji Bridge, Griya Beringin Housing, and Wonosari Village. The sampling method refers to SNI 6989.59:2008. Water sampling was carried out using a 1 liter botol and bucket. Water samples were taken in the morning and afternoon. The parameters observed were MBAS, DO, COD, BOD, and TSS. Parameter testing was carried out at the UNDIP Environmental Engineering Laboratory. The results of water quality testing are compared with PP No. 22 of 2021 concerning river water quality standards and determining the status of water quality using the pollutant index method.Result: The minimum discharge of the Beringin River is 0.18 m3/second, and the maximum discharge is 2.60 m3/second. The highest MBAS content was found at the drainage sampling location, which was 30,081mg/L. The highest content of COD is 416.67 mg/L and BOD is 129.17 mg/L. Based on the comparison of the results of the analysis with quality standards, namely the content of MBAS, COD, and BOD exceeding the specified quality standard values. The standard value for MBAS is 5 mg/L, COD is 100 mg/L, and BOD is 6 mg/L.Conclusion: The quality of the Beringin river is lightly polluted as indicated by the pollution index value > 1
Hubungan antara Kesehatan Lingkungan dengan Gangguan Emosional Tri Wahyuni Sukesi; Sulistyawati Sulistyawati; Ummul Khair; Surahma Asti Mulasari; Fatwa Tentama; Fanani Arief Ghazali; Herman Yuliansyah; Lu’lu’ Nafiyati; Bambang Sudarsono
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.2.128-133

Abstract

Latar Belakang : Gangguan kesehatan jiwa saat ini semakin meningkat di Indonesia khususnya di Yogyakarta. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, prevalensi rumah tangga di DIY yang melaporkan anggota rumah tangganya mengalami gangguan jiwa berat atau psikosis adalah 10,65 per 1000 rumah tangga. Data ini meningkat signifikan dibandingkan data Riskesdas tahun 2013 yang hanya 2,3 per 1000 rumah tangga. Jumlah kasus gangguan jiwa di DIY cukup jauh di atas angka nasional yaitu 7 dari 1000 rumah tangga. Kesehatan lingkungan dan sosial ekonomi merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya gangguan jiwa. Kondisi lingkungan yang tidak sehat, kondisi sosial dan ekonomi yang rendah dapat memicu terjadinya gangguan kesehatan jiwa. Metode: Cross sectional merupakan metode yang digunakan, dengan teknik purposive sampling dan menggunakan uji chi-square. Kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada mitra kemudian dilanjutkan dengan penelitian yang dilakukan pada tanggal 30 September hingga 17 Oktober 2022 dengan jumlah sampel sebanyak 45 responden. Hasil: Distribusi frekuensi responden pada variabel gangguan emosi sebanyak 48,9%. Variabel pemenuhan kebutuhan dasar 68,9%, komponen rumah yang tidak terpenuhi 80%, fasilitas sanitasi sanitasi yang tidak terpenuhi 64,4%, perilaku penghuni yang tidak baik 46,7% dan rumah sehat tidak terpenuhi 53,3%. paling banyak, yaitu komponen. Hasil uji bivariat tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi lingkungan dengan gangguan emosi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai P lebih dari 0,05.Simpulan: Tidak ada hubungan antara gangguan emosi dengan kondisi lingkungan dan ekonomi ABSTRACT  Title : Relationship Between Environmental Health and Emotional DisordersBackground : Mental health disorders are currently increasing in Indonesia, especially in Yogyakarta. Based on the results of Riskesdas 2018, the prevalence of households in DIY that reported their household members with severe mental disorders or psychosis was 10.65 per 1000 households. This data increased significantly compared to the data from Riskesdas in 2013 which was only 2.3 per 1000 households. The number of mental health cases in DIY is quite far above the national figure of 7 out of 1000 households. Environmental health and socioeconomic are one of the triggering factors for mental disorders. Unhealthy environmental conditions, low social and economic conditions can trigger mental health disorders. Methods: The method used is cross sectional with purposive sampling technique and using chi-square test. The activity began with outreach to partners and then continued with research conducted from September 30 to October 17, 2022 with a total sample of 45 respondents. Result: The frequency distribution of respondents to the emotional disturbance variable was 48.9%. Variable fulfillment of basic needs was 68.9%, housing components were not fulfilled 80%, sanitation facilities was not fulfilled 64.4%, occupant behavior was not good 46.7% and healthy homes was not fulfilled 53.3%. The bivariate test showed that there was no significant relationship between environmental conditions and emotional disturbances. This is indicated by a P value of more than 0.05.Conclusion: There was no relationship between emotional disorders with environmental and economic conditions

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue