cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Analisis Karakteristik Sampah Puntung Rokok dan Penilaian Indeks Cigarette Butt Pollution Index (CBPI) Di Pesisir Kabupaten Malang Selatan, Jawa Timur Wirdana, Nurmalisa; Iranawati, Feni; Sari, Syarifah Hikmah Julinda; Yanuar, Adi Tiya; Anggara, Arik; Yona, Defri
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.73437

Abstract

Latar belakang: Sampah puntung rokok termasuk sampah laut yang menjadi perhatian khusus karena masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk membuang di tempat semestinya. Kandungan kimia pada puntung rokok berpotensi mencemari lingkungan yang berdampak pada perkembangan biota, bahkan dapat menyebabkan kematian. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis karakteristik puntung rokok (ukuran, tipe dan merek) serta tingkat polusinya berdasarkan Cigarette Butt Pollution Index (CBPI). Lima pantai wisata di Kabupaten Malang Selatan dipilih sebagai area kajian karena tingginya aktivitas wisata yang berkontribusi terhadap peningkatan sampah puntung rokok di wilayah pesisir.Metode: Pengambilan sampel puntung rokok dilakukan pada bulan Juli hingga Agustus 2024 di Pantai Balekambang, Kondang Merak, Sendang Biru, Gatra, dan Clungup. Pengambilan sampel puntung rokok menggunakan metode transek garis berukuran 5 x 5 m yang diletakkan sejajar garis pantai di zona supratidal dan intertidal. Variabel dalam penelitian ini yaitu jumlah, kepadatan, dan tingkat pencemaran puntung rokok. Alat yang digunakan berupa roll meter, tali, pasak, plastik zip, timbangan analitik, dan marine debris identifier. Analisis data menggunakan Uji Mann-Whitney untuk membandingkan kepadatan puntung rokok di supratidal dan intertidal, serta Uji Kruskal-Wallis untuk membandingkan kepadatan puntung rokok di kelima pantai.Hasil: Sebanyak 1,877 sampah puntung rokok ditemukan dan paling banyak di zona supratidal yang didominasi ukuran 2.5–5 cm. Jumlah puntung rokok dalam penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya, namun kepadatannya sangat tinggi berkisar antara 0.06 hingga 1.67 item/m2. Puntung rokok didominasi oleh ukuran  2.5–5 cm bertipe utuh, kecuali Pantai Clungup didominasi oleh ukuran 0.5–2.5 cm bertipe rusak. Gudang Garam menjadi merek yang mendominasi di tiap pantai selain Pantai Clungup. Nilai kepadatan tertinggi ditemukan di Pantai Sendang Biru dan nilai terendah ditemukan di Pantai Clungup, nilai ini berbanding lurus dengan tingkat polusi berdasarkan CBPI.Simpulan: Variasi karakteristik sampah puntung rokok di kelima pantai dipengaruhi adanya perbedaan aktivitas antropogenik dan faktor hidrooseanografi. ABSTRACTTitle: Analysis of Characteristics of Cigarette Butts and Assessment of the Cigarette Butt Pollution Index (CBPI) on the Coast of South Malang Regency, East Java Background: Cigarette butts are a type of marine debris that require special attention due to the low public awareness of proper disposal. The chemical contents in cigarette butts have the potential to pollute the environment, affecting the development of marine biota and even causing death. This study was conducted to analyze the characteristics of cigarette butts (size, type, and brand) and their pollution level based on the Cigarette Butt Pollution Index (CBPI). Five tourist beaches in South Malang Regency were selected as study sites due to the high tourist activity that contributes to the increase in cigarette butt litter along the coastal area.Method: Cigarette butt samples were collected from July to August 2024 at Balekambang, Kondang Merak, Sendang Biru, Gatra, and Clungup Beaches. The sampling was conducted using 5 × 5 m line transect method placed parallel to the shoreline in both the supratidal and intertidal zones. Variables in this study included the number, density, and pollution level of cigarette butts. The tools used were a roll meter, rope, stakes, ziplock plastic bags, an analytical scale, and a marine debris identifier. Data were analyzed using the Mann-Whitney Test to compare cigarette butt densities between supratidal and intertidal zones and the Kruskal-Wallis Test to compare densities across the five beaches.Result: A total of 1,877 cigarette butts were found, mostly in the supratidal zone, dominated by butts sized 2.5–5 cm. The number found is similar to previous studies, but the density was very high (0.06 to 1.67 items/m²). Most butts were intact, except in Clungup where damaged butts sized 0.5–2.5 cm dominated. Gudang Garam was the dominant brand, except in Clungup. The highest density was in Sendang Biru, the lowest in Clungup, matching CBPI values.Conclusion: Variations were influenced by anthropogenic activity and hydro-oceanographic factors.
Air Quality Improvement Strategy in One of Jakarta’s Transit-Oriented Development Areas Ginting, Grace Gardenia; Hasibuan, Hayati Sari; Zulys, Agustino
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.74608

Abstract

Latar belakang: Polusi udara masih menjadi tantangan yang terus berlanjut di Jakarta, meskipun berbagai intervensi dan kebijakan telah dilakukan oleh pemerintah, termasuk penerapan kawasan Transit Oriented Development (TOD). Secara ideal, kawasan TOD seharusnya memberikan dampak positif terhadap lingkungan, khususnya melalui peningkatan kualitas udara dengan cara mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, yang merupakan salah satu sumber utama polusi udara di kota ini. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi peningkatan kualitas udara di kawasan TOD Dukuh Atas.Metode: Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung serta wawancara dengan para ahli yang memiliki pemahaman mendalam mengenai kebijakan peningkatan kualitas udara. Metodologi penelitian mencakup penyebaran kuesioner kepada masyarakat, wawancara dengan informan kunci, dan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).Hasil: Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa strategi diversifikasi—dengan memanfaatkan kekuatan untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh ancaman—merupakan pendekatan yang paling efektif untuk peningkatan kualitas udara. Dari empat alternatif strategi yang dirumuskan, pendekatan S-T (Strength-Threat) diidentifikasi sebagai prioritas utama, diikuti oleh strategi W-O (Weakness-Opportunity), S-O (Strength-Opportunity), dan W-T (Weakness-Threat).Simpulan: Strategi yang direkomendasikan meliputi perluasan area dengan akses terbatas untuk kendaraan bermotor di zona transit serta penetapannya sebagai Kawasan Emisi Rendah (Low Emission Zone/LEZ), peningkatan kapasitas dan jumlah moda transportasi umum, pengembangan stasiun pemantauan kualitas udara di kawasan TOD, serta penerapan solusi ruang hijau vertikal.ABSTRACT Background: Air pollution remains a persistent challenge in Jakarta, despite various government interventions and policies, including the implementation of Transit Oriented Development (TOD) areas. Ideally, Transit Oriented Development areas should positively impact the environment, particularly by improving air quality through reducing private vehicle usage, which is a primary source of air pollution in the city. This study aims to formulate strategies for enhancing air quality within the Dukuh Atas Transit Oriented Development area.Method: Data were collected through direct observation, interviews with experts possessing in-depth knowledge of air quality improvement policies. The research methodology involved community questionnaires, key informant interviews, and a SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) analysis.Result: The results of the SWOT analysis indicate that a diversification strategy-leveraging strengths to mitigate risks posed by threats-is most effective for air quality improvement. Among the four alternative strategies formulated, the S-T (Strength-Threat) approach was identified as the top priority, followed by W-O (Weakness-Opportunity), S-O (Strength-Opportunity), and W-T (Weakness-Threat) strategies.Conclusion: The recommended strategies include expanding the area of restricted access for motorized vehicles within the transit zone and designating it as a Low Emission Zone (LEZ), increasing the capacity and number of public transportation options, developing air quality monitoring stations in the Transit Oriented Development area, and implementing vertical green space solutions.
Analisis Cemaran Mikroba E. Coli dan Total Koliform Pada Depot Air Minum Isi Ulang: Studi Kasus di Pulo Gadung, Jakarta Timur Wulandari, Puri; Pristiyaningrum, Anggun
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.73503

Abstract

Latar Belakang: Depot air minum isi ulang (DAMIU) merupakan salah satu sumber utama penyediaan air minum bagi masyarakat karena harganya terjangkau dan mudah diakses. Namun, keberadaan cemaran mikrobiologis seperti Escherichia coli dan total koliform menunjukkan potensi risiko terhadap kesehatan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan cemaran mikroba Escherichia coli dan total koliform pada DAMIU di Kecamatan Pulo Gadung Jakarta Timur, serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keberadaan cemaran tersebut. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 61 DAMIU sebagai sampel. Data karakteristik operator, sumber air baku, dan lama penyimpanan dikumpulkan melalui kuesioner, sedangkan data sanitasi tempat, sanitasi peralatan, dan higiene operator diperoleh melalui observasi menggunakan lembar checklist. Sampel air siap konsumsi sebanyak 1.000 ml diambil secara aseptis dari keran pengisian menggunakan botol steril dan dianalisis di laboratorium terakreditasi menggunakan metode Most Probable Number (MPN) untuk mendeteksi keberadaan Escherichia coli dan total koliform. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dan regresi logistik ganda pada tingkat kemaknaan p<0,05.Hasil: Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa sanitasi peralatan (p=0,005; AOR=30,494; 95% CI: 2,750–338,140), higiene operator (p=0,045; AOR=14,954; 95% CI: 1,065–209,878), dan lama penyimpanan (p=0,039; AOR=18,511; 95% CI: 1,162–294,835) memiliki hubungan yang signifikan dengan cemaran mikroba. Sebaliknya, sanitasi tempat dan sumber air baku tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (p>0,05).Simpulan: Cemaran mikroba pada DAMIU secara signifikan dipengaruhi oleh kondisi sanitasi peralatan, higiene operator, dan lama penyimpanan. Upaya peningkatan kontrol sanitasi dan edukasi higiene sangat diperlukan guna menjamin kualitas air minum yang aman bagi masyarakat. ABSTRACTTitle:  Analysis of E. Coli And Total Coliform Microbial Contamination At Refill Drinking Water Depots: Case Study In Pulo Gadung, East Jakarta.Background: Refill Drinking Water Depots (RDWDs) serve as a primary source of drinking water for the community due to their affordability and accessibility. However, the presence of microbiological contaminants such as Escherichia coli and total coliforms poses a potential health risk to consumers. This study aimed to detect the presence of E. coli and total coliform contamination in RDWDs in Pulo Gadung District, East Jakarta, and to analyze associated risk factors.Methods: This cross-sectional study involved 61 RDWDs. Operator characteristics, water source, and storage duration were collected via questionnaires, while facility sanitation, equipment sanitation, and operator hygiene were assessed through checklist-based observations. A 1,000 ml sample of ready-to-consume water was aseptically collected from the filling tap using a sterile bottle and analyzed in an accredited laboratory using the Most Probable Number (MPN) method to detect E. coli and total coliforms. Data were analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression with a significance level of p<0.05.Results: Multivariate analysis revealed significant associations between microbial contamination and equipment sanitation (p=0.005; AOR=30.494; 95% CI: 2.750–338.140), operator hygiene (p=0.045; AOR=14.954; 95% CI: 1.065–209.878), and storage duration (p=0.039; AOR=18.511; 95% CI: 1.162–294.835). In contrast, facility sanitation and water source were not statistically significant (p>0.05).Conclusion: Microbial contamination in RDWDs is significantly influenced by equipment sanitation, operator hygiene, and storage duration. Strengthening sanitation practices and hygiene education is crucial to ensure the safety of refill drinking water.
Hubungan Penerapan Personal hygiene dan Kondisi Lingkungan dengan Potensi Penularan Skabies Sukesi, Tri Wahyuni; Nisa, Khairun; Fitri, Rika Yulianti
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.72728

Abstract

Latar belakang: Salah satu penyakit tropis terabaikan yang cukup umum, terutama di tempat-tempat dengan sanitasi yang buruk, adalah kudis atau scabies. Kontak langsung kulit ke kulit dan pertukaran pakaian dan handuk yang terinfeksi adalah dua cara penyakit ini dapat menyebar dengan cepat. Anak-anak di sekolah sangat rentan terhadap kudis, yang dapat berdampak pada prestasi akademik dan kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Kebersihan pribadi yang tidak memadai dan lingkungan yang tidak sehat pada siswa sekolah dasar dapat menimbulkan  potensi tinggi terhadap penularan scabies. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana hubungan antara personal hygiene dan kondisi lingkungan terhadap potensi penularan skabies..Metode : Penelitian ini menggunakan metodologi cross-sectional dan desain analitik observasional. Sebanyak 54 siswa di kelas tiga hingga enam yang dipilih melalui total sampling menjadi sampel. Kuesioner yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas digunakan untuk mengumpulkan data. Dalam analisis bivariat, digunakan uji Chi-Square, dan dalam analisis multivariat, digunakan teknik regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebersihan badan (p=0,014; PR=4,571), kebersihan tangan (p=0,025; PR=3,837), kebersihan handuk (p=0,006; PR=4.792) dan kontak fisik (p=0,025; PR=3,837) memiliki hubungan dengan kejadian skabies. Sedangkan kebersihan pakaian (p=0.206) dan kebersihan air (p=0.416) tidak memiliki hubungan dengan kejadian skabies. Faktor paling berhubungan adalah kebersihan handuk (Exp(B)=9.587; p=0,038).Simpulan: Personal hygiene yang buruk berkontribusi terhadap penularan skabies. Edukasi kebersihan diri, peningkatan fasilitas sanitasi, dan perbaikan lingkungan sekolah diperlukan untuk menurunkan angka kejadian skabies. ABSTRACT Title: The Relationship Between Personal hygiene Practices and Environmental Conditions with the Potential for Scabies TransmissionBackground: This neglected tropical disease was widespread, particularly in areas with inadequate sanitation. The illness spread rapidly through direct skin-to-skin contact and the sharing of contaminated clothing and towels. School-age children were especially susceptible to scabies, which affected both their academic performance and overall well-being. The potential for scabies transmission can be caused by inadequate personal hygiene and an unhealthy environment in elementary school students.. This study aimed to examine the relationship between environmental factors, personal hygiene, with the likelihood of scabies transmission.Method: An observational analytical design and a cross-sectional approach were employed in this study. A total of 54 pupils in grades three through six were selected as samples using total sampling. Data was collected using a questionnaire that had passed validity and reliability assessments. The Chi-Square test was used for the bivariate analysis, while the logistic regression approach was applied in the multivariate analysis.Result: The findings showed that the incidence of scabies was associated with body hygiene (p=0.014; PR=4.571), hand hygiene (p=0.025; PR=3.8367), towel hygiene (p=0.006; PR=4.792), and physical contact (p=0.025; PR=3.8367). However, no significant correlation was found between the incidence of scabies and water hygiene (p=0.416) or garment hygiene (p=0.206). Towel hygiene was identified as the most relevant factor (Exp(B)=9.587; p=0.038).Conclusion: Poor personal hygiene contributed to scabies transmission. Personal hygiene education, improved sanitation facilities, and school environmental improvements were necessary to reduce the incidence of scabies.  
Policy Evaluation Of The Community-Based Water And Sanitation Program (Pamsimas) In Tana Tidung, North Kalimantan: A Qualitative Study Junaeny, Fitriah; Darmanto, Darmanto
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.74125

Abstract

Judul: Evaluasi Kebijakan Program Air dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Tana Tidung, Kalimantan Utara: Sebuah Studi Kualitatif  Latar belakang:  Akses terhadap air bersih dan sanitasi terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang krusial di pedesaan Indonesia, terutama di daerah-daerah miskin seperti Kabupaten Tana Tidung. Studi ini menilai pelaksanaan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Kecamatan Muruk Rian, Kalimantan Utara, dan meneliti dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.Metode:  Data dikumpulkan menggunakan metodologi deskriptif-analitis kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan, observasi langsung, dan analisis dokumen. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara menyeluruh dengan 15 narasumber penting, yang terdiri dari enam kepala desa di Kecamatan Muruk Rian, dua pejabat dari Dinas Kesehatan yang bertanggung jawab atas sanitasi, tiga kader kesehatan masyarakat, tiga fasilitator/KKM PAMSIMAS desa, dan satu pejabat dari Bappeda Kabupaten Tana Tidung. Dengan demikian, informasi yang dikumpulkan mencakup pandangan umum tentang kebijakan, teknis lapangan, dan keterlibatan masyarakat. Penilaian menggunakan enam kriteria William N. Dunn: efektivitas, efisiensi, kecukupan, kesetaraan, responsivitas, dan kesesuaian. Hasil:  Penelitian menunjukkan bahwa PAMSIMAS telah secara signifikan meningkatkan akses ke air minum, meningkatkan kesadaran kebersihan masyarakat, dan membantu mengurangi penyakit yang ditularkan melalui air. Namun demikian, kesulitan yang terus-menerus mencakup kemampuan teknis yang tidak memadai untuk pemeliharaan infrastruktur, kolaborasi pemangku kepentingan yang tidak cukup, dan keterlibatan komunitas yang tidak konsisten. Perbedaan dalam akses layanan air antar desa tetap ada, menyoroti perlunya langkah-langkah implementasi yang berfokus pada keadilan. Studi ini menunjukkan bahwa meskipun PAMSIMAS telah berpengaruh positif terhadap kesehatan masyarakat di Muruk Rian, keberlanjutan jangka panjang terhambat oleh keterbatasan institusional dan sosial. Meningkatkan tata kelola lokal, memperluas inisiatif pendidikan kesehatan, dan memperkuat jaringan dukungan infrastruktur sangat penting untuk mempertahankan hasil programSimpulan: Temuan-temuan ini memberikan informasi kepada pembuat kebijakan dan memberikan wawasan yang dapat diterapkan untuk program-program berbasis komunitas lainnya di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa Program PAMSIMAS di Kecamatan Muruk Rian berhasil meningkatkan akses air minum layak, meningkatkan kesadaran tentang perilaku hidup bersih dan sehat, dan menurunkan penyakit berbasis air. Namun, program ini menghadapi kendala seperti keterbatasan kemampuan teknis untuk memelihara infrastruktur, kurangnya kolaborasi antar pemangku kepentingan, dan rendahnya partisipasi masyarakat yang konsisten. Hasil ini memberikan pelajaran berharga bagi pembuat kebijakan. ABSTRACT  Background:  Access to potable water and sanitation continues to be a critical public health issue in rural Indonesia, particularly in impoverished areas such as Tana Tidung Regency. This study assesses the execution of the Community-Based Drinking Water and Sanitation Program (PAMSIMAS) in the Muruk Rian Subdistrict of North Kalimantan and examines its effects on public health.  Method:  Data were collected utilizing a qualitative descriptive-analytical methodology through comprehensive interviews with important stakeholders, direct observations, and document analyses.  Research data was collected through in-depth interviews with 15 key informants, consisting of six village heads in Muruk Rian District, two officials from the Health Department responsible for sanitation, three community health cadres, three PAMSIMAS village facilitators/KKM, and one official from the Tana Tidung District Development Planning Agency (Bappeda). Thus, the information collected includes general views on policy, field techniques, and community engagement. The assessment utilized William N. Dunn’s six criteria: effectiveness, efficiency, adequacy, equity, responsiveness, and appropriateness.Result:  Research demonstrates that PAMSIMAS has markedly increased access to potable water, elevated community hygiene consciousness, and aided in the diminishment of waterborne illnesses. Nevertheless, persistent difficulties encompass inadequate technical capability for infrastructure upkeep, insufficient stakeholder collaboration, and inconsistent community engagement. Disparities in access to water services among villages persist, highlighting the necessity of equity-focused implementation measures. The study suggests that although PAMSIMAS has positively influenced public health in Muruk Rian, long-term sustainability is obstructed by institutional and societal limitations. Enhancing local governance, broadening health education initiatives, and bolstering infrastructural support networks are crucial for maintaining program outcomes.Conclusion:  These findings inform policymakers and provide transferable insights for other community-based programs in distant regions of Indonesia. This research indicates that the PAMSIMAS program in Muruk Rian District successfully increased access to safe drinking water, raised awareness about clean and healthy living behaviors, and reduced waterborne diseases. However, the program faced constraints such as limited technical capacity to maintain infrastructure, lack of collaboration among stakeholders, and low consistent community participation. This result provides valuable lessons for policymakers.
Analisis Spasial Faktor Sosial, Pelayanan Kesehatan, dan Lingkungan terhadap Kasus COVID-19 di Jawa Tengah Ardiansyah, Iqbal; Maulana, Muhammad Rifqi; Susiyanti, Susiyanti; Abdullah, Sugeng; Subagiyo, Agus; Widyanto, Arif; Nova, Rusyda Ihwani Tantia
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.76257

Abstract

Latar belakang: Tahun 2022, tingkat positif di Jawa Tengah 40,9% melampaui ambang batas WHO (< 5%). COVID-19 menunjukkan pola yang kompleks oleh berbagai variabel seperti, sosial pelayanan kesehatan, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara faktor sosial, pelayanan kesehatan, dan lingkungan terhadap distribusi spasial tingkat kerentanan kasus COVID-19 di Provinsi Jawa Tengah.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain ekologi eksploratori. Unit analisis 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Data agregat tahun 2022 dengan variabel dependen jumlah kumulatif kasus COVID-19. Variabel independen faktor sosial (jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, tingkat pengangguran, tingkat pendidikan penduduk usia >15 tahun, indeks pembangunan manusia (IPM), jumlah turis domestik, Jumlah turis mancanegara), faktor pelayanan kesehatan (jumlah tenaga kesehatan, jumlah tenaga sanitasi lingkungan, akses terhadap sanitasi layak, dan akses terhadap air minum layak). faktor lingkungan (curah hujan rata-rata, kelembapan udara, suhu rata-rata, serta kecepatan angin luas wilayah, serta elevasi rata-rata wilayah). Data diperoleh dari instansi nasional (BPS dan Dinkes Provinsi Jawa Tengah) dan internasional (NASA). Dianalisis menggunakan pemodelan regresi Ordinary Least Squares dengan teknik stepwise backward elimination serta validasi uji asumsi klasik dan autokorelasi spasial. Hasil Pemodelan visualisasikan dengan bentuk peta distribusi tingkat kerentanan berbasis kuartil.Hasil: Variabel yang berasosiasi dengan kasus COVID-19 adalah jumlah penduduk (B = 0,0164), jumlah penduduk miskin (B = -0,0951), jumlah wisatawan domestik (B = 0,0047), jumlah tenaga kesehatan (B = 3,3453), dan suhu rata-rata (B = -2638,61) dengan kekuatan prediktif model (R² = 0,9266), Distribusi spasial menunjukan wilayah dengan tingkat kerentanan sangat tinggi seperti Kota dan Kabupaten Semarang, Kota Surakarta, Kabupaten Magelang, Kabupaten Klaten, Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Banjarnegara.Simpulan: Faktor sosial (jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, wisatawan domestik), Faktor Pelayanan Kesehatan (jumlah tenaga kesehatan), dan Lingkungan (suhu rata-rata) merupakan determinan signifikan dengan kasus COVID-19 Jawa Tengah. Distribusi spasial menunjukan 6 wilayah di jawa tengah memiliki tingkat kerentanan Sangat tinggi. ABSTRACT Title: Spatial Analysis of Social, Health Service, and Environmental Factors Associated with COVID-19 Cases in Central JavaBackground: In 2022, the positivity rate in Central Java reached 40.9%, surpassing the WHO threshold (<5%). COVID-19 displays a complex pattern driven by various variables, including social conditions, healthcare services, and environmental factors. This study aims to analyze the association of social conditions, healthcare services, and environmental factors with the spatial distribution of COVID-19 vulnerability in Central Java Province.Method: This quantitative study employed an exploratory ecological design. The analytical units comprised the 35 regencies and cities of Central Java. The study used aggregated 2022 data and set the cumulative number of COVID-19 cases as the dependent variable. Independent variables included social factors (total population, number of people in poverty, unemployment rate, education level of the population aged over 15 years, Human Development Index (HDI), number of domestic tourists, and number of international tourists); healthcare service factors (number of healthcare workers, number of environmental sanitation personnel, access to adequate sanitation, and access to safe drinking water); and environmental factors (mean rainfall, humidity, average temperature, wind speed, territorial area, and mean elevation). The study obtained data from national agencies (Statistics Indonesia (BPS) and Provincial Health Office of Central Java ) and international sources (NASA). The study analyzed the data using Ordinary Least Squares (OLS) regression with backward stepwise elimination and validated the classical OLS assumptions and spatial autocorrelation. The study visualized the modeling results as quartile-based maps showing the spatial distribution of vulnerability.Result: Variables associated with COVID-19 cases were total population (B = 0.0164), number of people living in poverty (B = -0.0951), number of domestic tourists (B = 0.0047), number of healthcare workers (B = 3.3453), and mean temperature (B = -2638.61). The model exhibited strong predictive power (R² = 0.9266). Spatial distribution showed areas with very high vulnerability, including Semarang City and Semarang Regency, Surakarta City, Magelang Regency, Klaten Regency, Banyumas Regency, and Banjarnegara Regency.Conclusion: Social factors (total population, number of people living in poverty, and number of domestic tourists), the healthcare service factor (number of healthcare workers), and the environmental factor (mean temperature) were significant determinants of COVID-19 cases in Central Java. Spatial analysis identified six areas in Central Java with very high vulnerability.
Potensi Kulit Lidah Buaya (Aloe vera) sebagai Alternatif Bioinsektisida untuk Mengurangi Populasi Lalat di Tempat-Tempat Umum Rahmadani, Nadiva Putri; Rusmiati, Rusmiati; Sari, Ernita; Suprijandani, Suprijandani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.74883

Abstract

Latar belakang: Lalat rumah (Musca domestica) merupakan salah satu vektor utama penyebaran penyakit di tempat umum, sehingga perlu dilakukan pengendalian. Upaya penggunaan insektisida kimia yang digunakan untuk pengendalian lalat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, kesehatan manusia, serta resistensi pada serangga, untuk itu diperlukan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan yaitu menggunakan kulit lidah buaya, kulit ini dipilih karena mengandung senyawa bioaktif seperti tanin, saponin, fenol, dan flavonoid yang diketahui memiliki aktivitas insektisida. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan potensi kulit lidah buaya (Aloe vera) sebagai bioinsektisida.Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan desain post-test only control group design. Filtrat kulit lidah buaya dibuat dalam tiga variasi konsentrasi, yaitu 55% w/v, 60% w/v, 65% w/v, dan satu kelompok kontrol tanpa perlakuan, pengamatan dilakukan selama 24 jam setelah perlakuan. Data mortalitas lalat setelah 24 jam perlakuan dianalisis menggunakan uji one way ANOVA untuk mengetahui perbedaan mortalitas antar konsentrasi, dilanjutkan dengan analisis Probit untuk menentukan nilai LC50.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa filtrat kulit lidah buaya mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, triterpenoid dan fenolik yang berpotensi sebagai bioinsektisida. Mortalitas lalat meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi filtrat, dengan persentase mortalitas tertinggi sebesar 25,83% pada konsentrasi 65% w/v. Hasil analisis probit menunjukkan nilai LC50 sebesar 73,772% w/v. Simpulan: Penelitian ini menyimpulkan filtrat kulit lidah buaya berpotensi sebagai bioinsektisida. ABSTRACT Title: Potential of Aloe Vera Skin as an Alternative Bioinsecticide to Reduce Fly Populations in Public Places Background: Houseflies (Musca domestica) are one of the primary vectors of disease transmission in public areas, thus requiring proper control measures. The use of chemical insecticides for fly control can have negative impacts on the environment, human health, and may lead to insect resistance. Therefore, an alternative, eco-friendly control method is needed, such as utilizing Aloe vera skin. These peels are chosen because they contain bioactive compounds such as tannins, saponins, phenols, and flavonoids, which are known to possess insecticidal activity. This study aims to examine the potential of Aloe vera skin as a bioinsecticide.Method: This research employed a laboratory experimental method with a post-test only control group design. Aloe vera skin filtrates were prepared in three concentration variations: 55% w/v, 60% w/v, and 65% w/v, along with a control group without treatment. Observations were conducted 24 hours after treatment. Data on fly mortality after 24 hours of exposure were analyzed using one-way ANOVA to determine the differences in mortality rates between concentrations, followed by probit analysis to determine the LC50 value.Result: The results of the study showed that the Aloe vera skin filtrate contained alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, steroids, triterpenoids, and phenolics, all of which have potential as bioinsecticides. Fly mortality increased with higher filtrate concentrations, with the highest mortality percentage recorded at 25.83% at a concentration of 65% w/v. Probit analysis indicated an LC50 value of 73,772% w/v.Conclusion: This study concludes that Aloe vera peel filtrate has potential as a bioinsecticide.
Evaluasi Pengelolaan Linen dengan Pendekatan POAC di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surabaya Ekawati, Fifi Afidah; Rusmiati, Rusmiati; Sari, Ernita; Rokhmalia, Fitri
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.74900

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan Kementrian Kesehatan RI tahun 2022 penyebaran infeksi nosokomial di Indonesia memperoleh prevalensi mencapai 15,74% lebih tinggi dari negara maju yang berkisar 4,8% - 15,5%. Penyebaran infeksi nosokomial dapat disebabkan oleh pengelolaan linen yang tidak sesuai standar PMK No. 7 Tahun 2019. Hasil observasi awal di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surabaya menunjukkan bahwa dalam proses pengelolaan linen petugas tidak menggunakan APD lengkap yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit, proses pencucian linen tidak dipisahkan antara linen infeksius dan non infeksius, sarana pengangkutan linen kotor tidak dilengkapi penutup, serta hasil pemeriksaan swab linen menunjukkan bahwa linen jenis perlak positif mengandung angka kuman. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya risiko penularan infeksi melalui linen sehingga diperlukan evaluasi menyuluruh terhadap pengelolaannya. Pendekatan manajemen POAC digunakan dalam penelitian ini untuk memberikan gambaran menyeluruh terhadap kinerja pengelolaan linen. Tujuan dari penelitian ini ialah mengevaluasi pengelolaan linen dengan pendekatan POAC di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surabaya.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan desain cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan bulan Januari – Mei 2025. Variabel dalam penelitian ini meliputi kegiatan pengelolaan linen dan kualitas linen bersih. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan hasil uji laboratorium. Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan melakukan penerapan fungsi manajemen yakni POAC.Hasil: Hasil evaluasi terhadap pengelolaan linen di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surabaya dengan menggunakan pendekatan POAC secara keseluruhan menunjukkan kategori kurang. Kualitas linen bersih di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surabaya termasuk kategori “memenuhi syarat”. Tahap pengelolaan linen memperoleh skor 190 dengan presentase 27% (kurang). Penilaian pengelolaan linen pada aspek planning memperoleh skor 110 presentase 16% (kurang), organizing skor 0 presentase 0% (kurang), actuating dengan skor 225 presentase 32% (kurang) dan controlling memperoleh skor 275 presentase 39% (cukup).Simpulan: Proses pengelolaan linen di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surabaya dengan menggunakan pendekatan POAC secara keseluruhan memperoleh skor 610 dengan presentase 22% (kurang). ABSTRACT Title: Evaluation of Linen Management Using the POAC Approach at PKU Muhammadiyah Hospital SurabayaBackground: According to the Indonesian Ministry of Health (2022), the prevalence of nosocomial infections in Indonesia reached 15.74%, which is higher than in developed countries ranging from 4.8% to 15.5%. The spread of nosocomial infections may be caused by linen management that does not comply with the standards set by Ministry of Health Regulation No. 7 of 2019. Preliminary observations at PKU Muhammadiyah Hospital Surabaya showed that staff did not use complete PPE provided by the hospital, infectious and non-infectious linen were not separated during the washing process, dirty linen transport facilities were not equipped with covers, and swab examinations of perlak linen indicated bacterial contamination. These conditions indicate a risk of infection transmission through linen, thus requiring a comprehensive evaluation of its management. This study applies the POAC management approach to provide an overall description of linen management performance. The purpose of this study is to evaluate linen management using the POAC approach at PKU Muhammadiyah Hospital Surabaya.Method: This research was a descriptive study with a quantitative approach and a cross-sectional design. The study was conducted from January to May 2025. The variables included linen management activities and the quality of clean linen. Data were collected through observation, interviews, documentation, and laboratory tests. Data were analyzed descriptively by applying the POAC management functions.Result: The evaluation of linen management at PKU Muhammadiyah Hospital Surabaya using the POAC approach overall showed a poor category. The quality of clean linen was classified as "meeting the requirements." Linen management obtained a score of 190 with a percentage of 27% (poor). The planning aspect scored 110 with a percentage of 16% (poor), organizing scored 0 with a percentage of 0% (poor), actuating scored 225 with a percentage of 32% (poor), and controlling scored 275 with a percentage of 39% (fair).Conclusion: The linen management process at PKU Muhammadiyah Hospital Surabaya using the POAC approach is classified as poor, with a total score of 610 and a percentage of 22%.
Paparan Pestisida Sebagai Faktor Risiko Gangguan Kesehatan pada Petani Hortikultura di Desa Waimital Kabupaten Seram Bagian Barat Ibrahim, Ilyas; Lating, Zulfikar; Makayaino, Hafis; Rumaolat, Wiwi; Sely, Mohammad Dahlan; Sillehu, Sahrir
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.77473

Abstract

Latar belakang: Keracunan pestisida masi menjadi masalah kesehatan pada petani, paparan pestisida menimbulkan risiko gangguan kesehatan seperti gangguan sistem syaraf perifer dan sistem syaraf pusat bahkan berakibat kematian, tujuan penelitian ini menganalisis faktor risiko paparan pestisida dengan gangguan kesehatan pada petani hortikultura.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain Cross-sectional study, pelaksanaan penelitian pada bulan Juli 2025. Populasi penelitian berjumlah 416 orang yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi kemudian penentuan sampel dengan rumus Lemeshow. Sampel penelitian yaitu 200 petani hortikultura yang aktif menggunakan pestisida. Variabel yang diukur yaitu 17 faktor risiko paparan pestisida yang berhubungan dengan gangguan kesehatan petani. Kuesioner dan lembar observasi digunakan sebagai instrumen penelitian dengan analisis data menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik untuk melihat dominan kekuatan hubungan.Hasil: Hasil penelitian menemukan dari 17 faktor risiko terdapat 11 faktor yang berhubungan dengan gangguan kesehatan yaitu masa kerja p-0,024, pengetahuan p-0,007, sikap p-0,040, APD p-0,031, lama penyemprotan p-0,050, frekuensi p-0,002, cara campur pestisida p-0,034, arah penyemprotan p-0,047, Dosis pestisida p-0,020, merokok sambil kerja p-0,016, personal higyene p-0,039 sementara hasil uji regresi ditemukan 7 faktor yang dominan memiliki kekuatan hubungan yaitu masa kerja p-0,042, frekuensi p-0,027, cara campur p-0,016, isap rokok p-0,026, personal higyene p-0,004, pengetahuan p-0,019, sikap p-0,030.Simpulan: Faktor risiko paparan pestisida yang dominan berhubungan dengan gangguan kesehatan pada petani hortikultura adalah masa kerja, frekuensi penyemprotan, cara mencampur pestisida, kebiasaan merokok saat bekerja, personal hygiene, pengetahuan, dan sikap ABSTRACT Title: Pesticide Exposure as a Risk Factor for Health Problems in Horticultural Farmers in Waimital Village, West Seram RegencyBackground: Pesticide poisoning remains a health problem for farmers. Pesticide exposure poses a risk of health problems, including peripheral and central nervous system disorders, and even death. The purpose of this study was to analyze the risk factors for pesticide exposure and health problems in horticultural farmers. Methods: This study used an observational analytical approach with a cross-sectional study design. The study was conducted in July 2025. The study population consisted of 416 people, selected based on inclusion and exclusion criteria, and then using the Lemeshow formula for sampling. The sample consisted of 200 horticultural farmers who actively use pesticides. The variables measured were 17 risk factors for pesticide exposure associated with farmer health problems. Questionnaires and observation sheets were used as research instruments, with data analysis using the chi-square test and logistic regression to determine the strength of the dominant relationship. Results: The results of the study found that out of 17 risk factors, there were 11 factors related to health problems, namely work period p-0.024, knowledge p-0.007, attitude p-0.040, PPE p-0.031, spraying duration p-0.050, frequency p-0.002, pesticide mixing method p-0.034, spraying direction p-0.047, pesticide dose p-0.020, smoking while working p-0.016, personal hygiene p-0.039 while the results of the regression test found 7 dominant factors that had a strong relationship, namely work period p-0.042, frequency p-0.027, mixing method p-0.016, smoking p-0.026, personal hygiene p-0.004, knowledge p-0.019, attitude p-0.030. Conclusion: The dominant risk factors for pesticide exposure related to health problems in horticultural farmers are length of service, frequency of spraying, method of mixing pesticides, smoking habits while working, personal hygiene, knowledge, and attitude.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue