cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Analisis Risiko Kesehatan Karyawan Terhadap Pajanan Kadmium (Cd) dan Eschericia coli di Industri Sri Slamet Mulyati; Fenni Maulani; Farah Ayu Aristawati; Muhamad Iqbal; Redi Yudha Irianto
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.2.202-207

Abstract

Latar Belakang: Karyawan berhak mendapatkan pelayanan yang menjamin kesehatan dan keselamatannya ketika mereka bekerja. Ketika menggunakan air bersih untuk higiene dan sanitasinya, pastikan air tersebut tidak berdampak secara lagsung maupun tidak langsung terhadap kesehatannya. Risiko kesehatan terhadap karyawan apabila mengkonsumsi air tersebut bisa diprediksi melalui analisis risiko kesehatan lingkungan. Tujuan: Mengetahui risiko non karsinogenik dan mikroba akibat pajanan Kadmium (Cd) dan E. coli dalam air bersih.Metode: Penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan analisis risiko kesehatan lingkungan. Sampel manusia adalah orang dewasa dengan menggunakan nilai default berat badan orang dewasa 55 Kg. Sampel lingkungan adalah air bersih di industri tekstil PT.X Kota Cimahi.Hasil: Intake Kadmium (Cd) belum menunjukkan adanya bukti kanker dalam pajanan oral sehingga tidak dihitung dalam studi ini. Pajanan Cd dalam air bersih secara oral belum berisiko non karsinogenik (RQ = 0,20756). Peluang terinfeksi akibat pajanan E.coli dalam air bersih ( P = 4,34 x 10-5), dan peluang sakit (P = 1,572 x 10-2).Simpulan: Keberadaan Cd dalam air bersih belum berisiko non karsinogenik (RQ < 1). Keberadaan E. coli dalam air bersih berpeluang menginfeksi > 1 per 100.000 karyawan, dan berpeluang menimbulkan sakit  > 1 per 100 karyawan industri PT.X Kota Cimahi dalam setahun. ABSTRACT:Title: Employee Health Risk Analysis of Cadmium (Cd) and Eschericia coli Exposure in IndustryBackground: Employees have the right to get services that ensure their health and safety when they work. When using clean water for hygiene and sanitation,  ensure that the water does not  directly or indirectly impact on their health. The health risks to workers if they consume water can be predicted through an environmental health risk analysis. Objective: Knowing the carcinogenic, non-carcinogenic, and microbial risks due to exposure to Cadmium and E.coli in clean water. Methods: This research was descriptive with environmental health risk analysis approach. Human samples were adults using the default value of the adult weight of 55 Kg. Environmental samples were clean water in the textile industry PT.X Cimahi City. Result: Exposure to Cd in clean water orally did not pose a carcinogenic risk. Exposure to Cd in clean water orally had a non-carcinogenic risk (RQ = 0.20756). The probability of becoming infected due to exposure to E.coli in clean water (P = 4.34 x 10-5), and the probability of illness (P = 1.572 x 10-2) Conclusion: The presence of Cd in clean water had no non-carcinogenic risk (RQ < 1). The presence of E.coli in clean water had the opportunity to infect > 1 per 100,000 employees, and has the opportunity to cause illness > 1 per 100 industrial employees of PT. X Cimahi City in a year.
Ergonomic Risk Factors and Their Effects on Musculoskeletal Disorders (MSDs) among Karo’s Uis Weavers Risnawati Tanjung; Eka Lestari Mahyuni; Jernita Sinaga; Deli Syaputri; Samuel Marganda Halomoan Manalu; Theodorus Teddy Bambang Soedjadi
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.2.195-201

Abstract

Latar belakang: Penerapan ergonomi yang tidak tepat akan menimbulkan masalah kesehatan seperti cedera dan gangguan muskuloskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala muskuloskeletal dan mengetahui tingkat risiko ergonomis pada pengrajin tradisional Karo di Desa Samura Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Sebagai sampel diambil 14 pengrajin kain tradisional Karo. Data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner peta tubuh Nordik dan Rapid Upper Lower Assessment (RULA).Hasil: Hasil penelitian menemukan bahwa perubahan postur merupakan risiko ergonomi. Berdasarkan analisis risiko ergonomi pada tahapan menenun kain tradisional Karo didapatkan data bahwa pengrajin harus menyelidiki dan menerapkan perubahan posisi kerja, pengrajin perlu segera melakukan perubahan posisi kerja lebih lanjut. Keluhan muskuloskeletal tertinggi yang dirasakan pada bagian bokong, lainnya pada betis kiri dan kanan serta bahu, kemudian pada punggung, pinggang, leher bagian atas, leher bagian bawah, dan bokong.Simpulan: Disimpulkan bahwa proses menenun masih menimbulkan risiko ergonomis bagi pengrajin dengan keluhan subjektif muskuloskeletal. Upaya untuk memperbaiki keadaan saat ini adalah dengan melakukan relaksasi di waktu istirahat yang singkat dan bantuan poster atau promosi pendidikan untuk mengingatkan perajin saat bekerja. ABSTRACT Background: The implementation of improper ergonomic will lead to health problems like injuries and musculoskeletal disorders. This study aims to recognize the musculoskeletal symptoms and determine the ergonomic risk level at traditional craftsmen of Karo in Samura village, Kabanjahe District, Karo Regency.Method: This research was a descriptive study with a cross-sectional design. As the sample, it was collected, 14 Karonese traditional cloth craftsmen. Data collected used the Nordic body map questionnaire dan Rapid Upper Lower Assessment (RULA).Result: The result found that the risk of ergonomic need to apply the changing of posture. Trough the analysis of ergonomics risk at the weaving stage of Karo traditional cloth, the following data were found that the craftsmen must investigate and apply changes in the work position, the craftsmen need to conduct further changes in work position immediately. The highest musculoskeletal complaints felt were in the buttocks, other in the left and right calves and shoulder, then in the back, waist, upper neck, lower neck, and buttocks.Conclusion: It concluded that the weaving process still posed ergonomic risks for the craftsmen with musculoskeletal subjective complaints. Efforts to improve the present situation are the doing relaxation in short break time and help by poster or promotion education to reminding the craftsman while they work.
Pengendalian Nyamuk Aedes Sp Oleh Keluarga Terhadap Risiko Keruangan Aidil Onasis; Abdul Razak; Eri Barlian; Indang Dewata; Evino Sugriarta; Lindawati Lindawati; Rahmi Hidayanti
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.3.237-244

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dan”disebarkan oleh vektor. Virusnya dikenal dengan nama Dengue. Kasus pertama DBD terjadi tahun 1968 di Surabaya. Peningkatan jumlah kasus terjadi setiap tahun. Kasus DBD belum hilang sepenuhnya di Indonesia, hampir setengah abad lebih kasus DBD masih ada. Keadaan iklim, vektor nyamuk, populasi hingga kekebalan masyarakat mempengaruhi kebedaaannya.  Adapun tujuan penelitian ini untuk“mengetahui distribusi”karakteristik penampungan air”, distribusi keberadaan sarang nyamuk dan distribusi intervensi pengendalian sarang nyamuk oleh keluarga.Methods: Desain penelitian ini adalah jenis deskriptif analitik melalui observasi dan survei larva.Hasil: Hasil penelitian karakteristik penampungan air yang potensial menjadi sarang nyamuk terbanyak adalah jenis Non Penampungan (Non TPA) pada kelurahan Surau Gadang dan Kurao Pagang sebesar 58 %. Keberadaaan sarang nyamuk potensial di kedua kelurahan TPA terbanyak adalah pada Kurao Pagang sebesar 57,1 %  pada Non TPA. Pelaksanaan intervensi pengendalian sarang nyamuk adalah Non Penampungan dengan menutup pada TPA sebesar 63,1 % di Kelurahan Kurao Pagang. Upaya pengendalian yang seimbang penampungan air (TPA/Non TPA dan TPA alamiah potensial guna mendorong penduduk dengan petugas kesehatan aktif untuk memonitor jentik pada TPA dan pemantauan jentik berkala (PJB) secara mandiri dan berkualitas sehingga dapat memelihara kondisi sekitar lingkungan rumah sebagai tempat berkembangbiak nyamuk.Simpulan: Pengendalian nyamuk Aedes sp oleh keluarga dapat digunakan sebagai kewaspadaan dini dalam menurunkan risiko keruangan potensi sarang nyamuk. ABSTRACTTitle: Control of Aedes sp mosquitoes by the family against spatial risksBackground: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)”is*caused by a virus and*is spread by vectors. The virus is known as Dengue. The first DHF case in Indonesia was reported in Surabaya in 1968. Every year, the number of cases increases. “After more than half a century has passed=, cases of DHF in Indonesia have not completely disappeared. A number of influential factors in it such as climate, mosquito vectors, mosquito populations, to communal immunity (society). This research aims to determine the distribution” of the characteristics of water reservoirs, the distribution of the presence of mosquito nests and the distribution of mosquito nest control interventions by families.*Methods: The design of this research is descriptive analytic0 type through larval observation and survey. Results:The results of research on characteristics water reservoirs that +have the potential to become mosquito breeding+are the types of Non Shelter (Non TPA) in Surau Gadang dan Kurao Pagang Villages by 60%. The presence of potential mosquito breeding in the two TPA sub districts was the highest in Kurao Pagang by 57,14% in Non TPA. The implementation of the mosquito breeding control intervention is Non Shelter by closing the TPA as large as 64,00% in Kurao Pagang village. Balanced control efforts for water reservoirs (TPA/ Non TPA and potential natural landfills to encourage the community and health managers to +actively monitor the presence of larvae in the TPA and periodic lartic Monitoring (PJB) independently and with quality to maintain the condition of te home environmet and to avoid it as a breeding place. Conclusion: Control of Aedes aegypti mosquitoes by families can be used as early vigilance in reducing the risk of potential mosquito nests.
Kondisi Sampah Plastik di Pantai Desa Pattongko Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan Ridha Alamsyah; Sri Ainun Fadli
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.2.208-213

Abstract

Latar belakang: Sampah plastik merupakan salah satu masalah dunia saat ini yang belum tertangani dengan baik. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia, yaitu 9,13 juta ton. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk mengurangi dampak sampah plastik. Salah satunya dengan mendata kondisi sampah, termasuk di wilayah pesisir.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan tingkat kepadatan sampah plastik di Desa Pattongko. Data ini akan menjadi referensi dalam pengelolaan pesisir terutama yang berkaitan dengan solusi pengurangan dampak sampah plastik.Metode: Pengambilan sampel menggunakan teknik survei, yang dilakukan dengan pengamatan di kawasan shoreline. Menggunakan tiga stasiun dengan karakteristik yang berbeda yang ada di Pantai Desa Pattongko Kabupaten Sinjai.  Menarik transek sepanjang 100 meter tegak lurus garis pantai pada batas pasang tertinggi dan surut terendah, kemudian dibagi menjadi empat bagian. Sampah plastik yang diamati berdiameter lebih dari 2,5 cm. Data disajikan dengan grafik jumlah sampah perstasiun. Selanjutnya menghitung tingkat kepadatan sampah menggunakan indeks kebersihan pantai.Hasil: Hasil yang diperoleh rata-rata jumlah sampah tertinggi di stasiun I 33,25±21,55 dengan tingkat kepadatan 0,24 butir/m2. Kemudian di stasiun 3 dengan rata-rata sampah 38,5±22,17 dengan tingkat kepadatan 0,24 butir/m2. Rata-rata jumlah sampah terendah terdapat di stasiun 2 20,00±11,97 dengan tingkat kepadatan 0,11 butir/m2.Simpulan: Sampah plastik merupakan jenis yang mendominasi area pengamatan. Pengamatan berkala dilakukan untuk mengendalikan penggunaan plastik, dan diperlukan kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan dan pencemaran plastik ABSTRACTTitle:  Condition of Plastic Waste on the Beach of Pattongko Village Sinjai Regency, South SulawesiBackground: Plastic waste is one of the world's problems today that has not been handled properly. Indonesia is one of the largest plastic waste producing countries in the world, namely 9.13 million tons. Various efforts need to be made to reduce the impact of plastic waste. One of them is by recording the condition of waste, including in coastal areas. This study aims to determine the amount and density of plastic waste in Pattongko Village. This data will be a reference in coastal management, especially with regard to solutions to reduce the impact of plastic waste. Method:  Sampling used a survey technique, which was carried out by observing the shoreline area. Using three stations with different characteristics in Pattongko Village Beach, Sinjai Regency. Draw a 100 meter long transect perpendicular to the shoreline at the highest tide and lowest low tide, then divide it into four parts. Observed plastic waste with a diameter of more than 2.5 cm. The data is presented with a graph of the amount of waste per station. Next, calculate the level of density of garbage using the coastal cleanliness index.Result:  The results obtained are the highest average amount of waste at station I 33.25±21.55 with a density level of 0.24 items/m2. Then at station 3 with an average waste of 38.5±22.17 with a density level of 0.24 items/m2. The lowest average amount of waste was found at station 2 20.00±11.97 with a density level of 0.11 items/m2.Conclusion:  Plastic debris is the type that dominates the observation area. Periodic observations are made to control the use of plastic, and public awareness is needed to reduce the use and pollution of plastics
Faktor Predisposisi Masyarakat Berhubungan Dengan Tingkat Risiko Pencemaran Air Sumur Gali Musfirah Musfirah; Ahmad Faizal Rangkuti; Fitri Aulia
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.3.245-251

Abstract

Latar belakang: Pencemaran air sumur gali sangat berpotensi terjadi akibat adanya sumber pencemar sekitar dan perilaku masyarakat dalam pemanfaatan sumber air bersih tersebut. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan faktor predisposisi masyarakat dalam mencegah pencemaran air sumur gali dengan tingkat risiko pencemaran air sumur gali di wilayah kerja puskesmas Gondokusuman II Kota Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif dan desain penelitian menggunakan Cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Gondokusuman II yaitu di Kelurahan Terban dan kelurahan Kotabaru pada tahun 2022 dengan jumlah populasi 4.137 jiwa dan sampel sebanyak 102 responden. Teknik sampling dalam penelitian ini yaitu Simple random sampling. Instrumen penelitian dalam bentuk ceklist dan kuisioner, serta analisis data bivariat menggunakan uji Chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan tingkat risiko pencemaran air sumur gali (p value = 0,769). Namun,  ada hubungan signifikan sikap (p value = 0,000; RP =3,164; CI 95% = 1,776-5,639) dan perilaku (p value = 0,000; RP =1,648; CI 95% = 1,299-2,091) masyarakat dalam mencegah pencemaran air sumur gali dengan tingkat risiko pencemaran air sumur gali.Simpulan: Faktor predisposisi masyarakat yang berhubungan dengan tingkat risiko pencemaran air sumur gali yaitu sikap dan perilaku dari masyarakat dalam mencegah pencemaran air sumur gali di wilayah puskesmas Gondokusuman II. ABSTRACT Title: Relationship Between Predisposing Factors Among Community and Risk Level of Well Water Pollution.Background: Water Pollution of dug well has the potential to happen as a consequence of the surrounding pollutant sources and the community's behavior in utilizing these clean water sources. The aimed of study is determined the relationship between predisposing factors and the risk level of water pollution from dug wells in the worksite of the Gondokusuman II Public Health Center in Yogyakarta City.Method: This is a quantitative study with a cross-sectional study design. This study was conducted in 2022 in the worksite of the Gondokusuman II Public Health Center, specifically in Terban Village and Kotabaru Village, with a population of 4,137 people and a sample of 102 respondents. Simple random sampling was used as the sampling technique. A checklist and questionnaire were used as research instruments, and the data was analyzed using a statistical test called the Chi-square test.Result: The findings indicate that there was no statistically significant relationship between knowledge and the risk of water pollution from dug wells (p value = 0,769). However, attitudes (p value = 0,000; RP = 3,164; 95% CI = 1,776-5,639) and behavior (p value = 0,000; RP = 1,648; 95% CI = 1,299-2,091) have a significant relationship in preventing well water pollution and the risk level of water pollution .Conclusion: The attitudes and behavior of the community in trying to prevent wells water pollution in the Gondokusuman II Health Center are community predisposing factors which related to risk  level of  wells water pollution. 
Kadar Debu Lingkungan Kerja dan Kapasitas Kerja sebagai Determinan Penurunan Kapasitas Fungsi Paru Yuliani Setyaningsih; Ida Wahyuni; Bina Kurniawan; Ekawati Ekawati
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.2.214-220

Abstract

Latar belakang: Selain meningkatkan produktivitas kerja karyawan, lingkungan kerja yang aman dan sehat  akan membuat tenaga kerja nyaman dalam bekerja. Salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan kerja adalah paparan debu di tempat kerja. Paparan debu dapat menyebabkan berkurangnya kenyamanan kerja, maslah penglihatan dan gangguan fungsi paru. Penelitian ini bertujuan menganalisis  hubungan antara kapasitas kerja  dan penurunan fungsi paru  pada pekerja di lingkungan berdebu.Metode: Penelitian adalah penelitian eksplanatory research dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 32 orang penenun yang diambil secara purposif di desa Troso, Jepara. Variabel penelitian  meliputi kapasitas kerja (umur, masa kerja, status gizi, kebiasaan merokok) dan kapasitas vital paru. Data dianalisis dengan uji chi-square.  Hasil: Kadar debu tertinggi sebesar 0,64 m3/menit sedangkan kadar terendah sebesar 0,05 m3/menit; sebanyak 34.4% pekerja mengalami gangguan restriktif ringan, 56.2% mengalami restriktif sedang dan mengalami gangguan mixed sebesar 3.1%. Terdapat hubungan antara umur dan masa kerja dengan kapasitas vital paru (p< 0.05). Tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dan status gizi dengan kapasitas vital paru (p> 0.05)Simpulan: Kadar debu lingkungan kerja belum melampaui nilai ambang batas yang ditentukan namun terdapat pekerja yang mengalami gangguan fungsi paru berupa restriktif ringan, restriktif sedang dan mixed. Sangat disarankan bagi pekerja untuk melakukan upaya menjaga kesehatan parunya selama bekerja. ABSTRACT Title: Work Environment Dust Level and Work Capacity as A Determinant of Decreased Lung Function CapacityBackground: A safe and healthy work environment will make the worker feel comfortable and safe at work,  these conditions will increase the level of  productivity. One of the environmental factors that affect occupational health is dust exposure in the workplace. It can reduce comfortness and safety at work, impaired vision and impaired lung function. This study aimed to analyze the relationship between work capacity and workers’ decreased lung function in dusty environments. Method: This research is an explanatory research with a cross sectional approach. The research subjects were 32 weavers who were taken purposively in the village of Troso, Jepara. Research variables include work capacity (age, length of work, nutritional status, smoking habits) and lung vital capacity. Data were analyzed by chi-square test.Result: The highest dust level was 0.64 m3/minute while the lowest level was 0.05 m3/minute; 34.4% of workers experienced mild restrictive disorder, 56.2% experienced moderate restrictive disorder and 3.1% experienced mixed disorder. There was a relationship between age and length of work with vital lung capacity (p < 0.05). There was no relationship between smoking habit and nutritional status with lung vital capacity (p> 0.05).Conclusion: The dust level in the work environment has not exceeded the specified threshold value, but there were workers who experience impaired lung function in the form of mild restrictive, moderate restrictive and mixed. It is highly recommended for workers to maintain lung health while working. 
Analisis Sistem Pengelolaan Sampah Di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Di Kabupaten Lumajang Rizka Rahmannita Islami; Anita Dewi Moelyaningrum; Khoiron Khoiron
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.2.179-188

Abstract

Latar Belakang: Sampah menjadi permasalahan lingkungan hidup yang masih dihadapi. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yaitu lokasi pemrosesan sampah pada tahap akhir. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan adanya rehabilitasi TPA dengan sistem open dumping menjadi sanitary landfill. TPA Lempeni Kabupaten Lumajang merupakan salah satu TPA yang sudah menerapkan sistem sanitary landfill. Namun metode sanitary landfill yang diterapkan belum optimal. Sampah hanya dipadatkan dan tidak ditimbun dengan tanah karena keterbatasan tanah untuk menimbun sedangkan jumlah sampah semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sistem pengelolaan sampah di TPA Lempeni Kabupaten Lumajang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional, dilakukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Lempeni Kabupaten Lumajang dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi. Objek dari penelitian ini yaitu sistem pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Lempeni Kabupaten Lumajang. Waktu penelitian dilakukan pada Bulan Februari – Mei 2022. Variabel dalam penelitian ini yakni berat sampah, sarana dan prasarana, sistem pengelolaan sampah, tingkat kesesuian kualitas air lindi dan tingkat kesesuaian kualitas air tanah. Pada penelitian ini diterapkan analisis deskriptif yaitu menganalisis data dengan cara menggambarkan data yang telah terkumpul tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang menggeneralisasi.Hasil: Jumlah sampah yang masuk ke TPA Lempeni selama 8 hari sampling yaitu sebesar 1.418.076 kg dengan rerata sampah sebesar 177.259,5 kg/hari. TPA Lempeni terdiri dari dua zona, yaitu: zona 1 memiliki luas 1,95 Ha mampu menampung 85.500 m3 sampah dan zona 2 memiliki luas 2 Ha dapat menampung 90.000 m3sampah. Saat ini TPA Lempeni beralih menjadi controlled landfill yakni perpaduan dari sanitary landfill dan open dumping. Hasil pengujian air sumur pantau Bulan Mei 2022 yang dilakukan pada parameter fisik menunjukkan hasil yang tidak melebihi baku mutu lingkungan. Hasil pengujian air lindi pada inlet IPAL pada Bulan Mei 2022 menunjukkan nilai COD dan TSS pada inlet IPAL melebihi baku mutu lingkungan yaitu 890 mg/L dan 123 mg/L. Sedangkan pada outlet IPAL menunjukkan nilai COD melebihi baku mutu lingkungan yaitu 618 mg/L.Simpulan: Pengelolaan sampah di TPA Lempeni pada awal beroperasi pada tahun 2016 menerapkan sistem pengelolaan sampah sanitary landfill namun sejak tahun 2021 TPA Lempeni beralih menjadi controlled landfill yakni perpaduan dari sanitary landfill dan open dumping sehingga diperlukan monitoring dan evaluasi dalam penerapan sistem pengelolaan sampah agar tidak menimbulkan permasalahan sampah yang baru. ABSTRACTTitle:  Analysis of the Waste Management System at the Sanitary Landfill Final Processing Site (TPA) in Lumajang RegencyBackground: One of the environmental problems that are often faced is the problem of waste. The Final Processing Site (TPA) is a place where waste has reached the final stage of waste processing. The enactment of Law of the Republic of Indonesia Number 18 of 2008 concerning Waste Management directs the rehabilitation of landfills with an open dumping system into sanitary landfills. One of the landfills that has implemented a sanitary landfill system is the Lempeni landfill in Lumajang Regency. However, the sanitary landfill method applied is not optimal. The waste is only compacted and not landfilled with soil due to the limited soil to stock up while the amount of waste is increasing. This research aims to find out the picture of the waste management system at the Lempeni landfill, Lumajang Regency.Method: This research is an observational descriptive study, conducted at the Lempeni Final Processing Site (TPA) Lumajang Regency by conducting observations, interviews, and documentation. The object of this study is the waste management system at the Lempeni Landfill (TPA) in Lumajang Regency. The study was conducted in February – May 2022. The variables in this study are the weight of the waste, facilities and infrastructure, waste management systems, the level of leachate water quality and the level of suitability of groundwater quality. In this study, descriptive analysis was applied, namely analyzing data by describing the data that had been collected without intending to make generalizing conclusions.Result: The amount of waste that entered the Lempeni landfill for 8 days of sampling was 1,418,076 kg with an average waste of 177,259.5 kg/day. The Lempeni landfill consists of two zones, namely: zone 1 has an area of 1.95 Ha with a capacity of 85,500 m3 and zone 2 has an area of 2 Ha with a capacity of 90,000 m3. Currently, the Lempeni landfill has switched to controlled landfill, which is a combination of sanitary landfill and open dumping. The results of the May 2022 monitoring well water testing conducted on physical parameters showed results that did not exceed environmental threshold value. The results of leachate water testing on the WWTP inlet in May 2022 showed that the COD and TSS values on the WWTP inlet exceeded the environmental quality standards of 890 mg/L and 123 mg/L. While at the WWTP outlet, the COD value exceeded the environmental quality standard of 618 mg/L.Conclusion: Waste management at the Lempeni landfill at the beginning of its operation in 2016 implemented a sanitary landfill waste management system but since 2021 the Lempeni landfill has switched to a controlled landfill, which is a combination of sanitary landfill and open dumping so that monitoring and evaluation are needed in the implementation of a waste management system so as not to cause new waste problems.
Keluhan Kesehatan Subjektif Akibat Pajanan Pestisida pada Petani Palawijaya di Kecamatan Dempo Utara Pagar Alam Imelda Gernauli Purba; Inoy Trisnaini; Rahmatillah Razak
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.3.282-293

Abstract

Latar belakang: Pagar Alam merupakan daerah yang penduduknya mengandalkan pertanian sebagai mata  pencaharian utama.  Hal ini menyebabkan tingginya penggunaan pestisida pertanian. Berdasarkan survei awal diketahui bahwa 60 % petani mengalami keluhan pusing setelah beberapa jam melakukan penyemprotan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan faktor-faktor risiko pajanan dengan keluhan kesehatan subjektif pada petani penyemprot pestisida.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain Cross-sectional. Variabel independen terdiri dari lama penyemprotan, frekuensi penyemprotan, masa kerja, jumlah jenis pestisida sekali mencampur. Variabel dependen adalah keluhan kesehatan subjektif yang terdiri dari mudah lelah, gelisah, sakit kepala, penglihatan kabur, produksi air ludah meningkat, sering mual, otot terasa lemah, gatal pada kulit, sesak nafas dan batuk-batuk. Sampel sebanyak 120 petani penyemprot pestisida di Kecamatan Dempo Utara diambil secara cluster sampling. Pengumpulan data dilakukan  melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner dan observasi menggunakan checklist. Pengolahan dan analisis data menggunakan bantuan software SPSS, dan  analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan keluhan kesehatan subjektif yang dialami responden akibat faktor resiko pajanan pestisida adalah mudah lelah, gelisah, sakit kepala, penglihatan kabur, produksi air ludah meningkat, sering mual, otot terasa lemah, gatal pada kulit, sesak nafas dan batuk-batuk. Hasil analisis statistik menunjukkan kemaknaan hubungan antara lama penyemprotan dengan keluhan mudah lelah (0,026), masa kerja dengan keluhan sakit kepala (0,009), jumlah jenis pestisida dengan keluhan sakit kepala (0,047), lama penyemprotan dengan keluhan penglihatan kabur (0,003)Simpulan: Faktor risiko pajanan berhubungan dengan keluhan kesehatan subjektif diataranya lama penyemprotan dengan keluhan mudah lelah, masa kerja dengan keluhan sakit kepala, jumlah jenis pestisida dengan keluhan sakit kepala, lama penyemprotan dengan keluhan penglihatan kabur. ABSTRACT Title:  Subjective Health Complaints due to Pesticide Exposure to Secondary Crops  Farmers in Dempo Utara District, Pagar AlamBackground: Pagar Alam is an area whose residents rely on agriculture as their main livelihood. This causes the high use of agricultural pesticides. Based on the preliminary survey, it was found that 60% of farmers experienced complaints of dizziness after several hours of spraying. The purpose of this study was to analyze the relationship between exposure risk factors and subjective health complaints among farmers spraying pesticides. Method: This type of research was analytic observational with a cross-sectional design. The independent variables consist of duration of spraying, frequency of spraying, working period, number of types of pesticides mixed at once. The dependent variable was subjective health complaints consisting of fatigue, anxiety, headaches, blurred vision, increased saliva production, frequent nausea, muscle weakness , itching of the skin, shortness of breath and coughing. A sample of 120 farmers spraying pesticides in Dempo Utara District was taken by cluster sampling. Data collection was carried out through interviews using a questionnaire and observation using a checklist. Data processing and analysis using SPSS software assistance, and  analysis using the Chi-Square statistical. Result: The results showed that the subjective health complaints experienced by respondents were fatigue, anxiety, headaches, blurred vision, increased saliva production, frequent nausea, muscle weakness, skin itching, shortness of breath and coughing. The results of the statistical analysis showed a significant relationship between the duration of spraying and complaints of fatigue (0.026), length of work and complaints of headaches (0.009), the number of types of pesticides and complaints of headaches (0.047), duration of spraying and complaints of blurred vision (0.003).Conclusion: Exposure risk factors are related to subjective health complaints including duration of spraying with complaints of fatigue, length of work with complaints of headaches, number of types of pesticides with complaints of headaches, duration of spraying with complaints of blurred vision.
Indek Kualitas Air dan Dampak terhadap Kesehatan Masyarakat Sekitar Sungai Karang Mumus, Samarinda Vita Pramaningsih; Ratna Yuliawati; Sukisman Sukisman; Hansen Hansen; Reni Suhelmi; Andy Daramusseng
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.3.313-319

Abstract

Latar belakang: Indeks Kualitas Air (IKA) menunjukan kondisi kualitas air di suatu wilayah berdasarkan status mutu air hasil dari pengukuran parameter fisika, kimia dan bakteriologis suatu perairan baik sungai maupun danau. Aktivitas masyarakat di sekitar Sungai Karang Mumus dari hulu hingga hilir berupa industri tahu tempe, pertanian, peternakan, pemukiman bantaran yang padat, pasar, sebagian terdapat hotel, mall dan Rumah Sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung IKA dan dampak kesehatan masyarakat. Metode: Metode dalam kajian ini menggunakan deskriptif melalui pendekatan kuantitatif yang menghitung IKA dari hasil status mutu air. Parameter kualitas air yang diperiksa antara lain pH, oksigen terlarut (DO), Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD), Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD), Padatan Tersuspensi Total (TSS), Nitrat (NO3-N), Total Fosfat (T-Phosphat) dan Fecal Coliform (Fecal Coli). Titik pengambilan sampel dari hulu hingga hilir Sungai Karang Mumus sebanyak 8 titik yaitu Tanah Datar, Waduk Benanga, Gunung Lingai, Jembatan Gelatik, Jembatan S. Parman, Jembatan Perniagaan, Jembatan I dan Jembatan Arif Rahman Hakim. Pada penelitian ini, digunakan metode purposive sampling untuk mengambil sampel responden guna melihat dampak Kesehatan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Pertimbangan utama dalam metode ini adalah memilih responden yang secara khusus mewakili populasi yang diinginkan. Jumlah responden yang diambil sebanyak 64 orang.Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa IKA Sungai Karang Mumus masuk kategori kurang dengan 1 lokasi memenuhi, 2 cemar ringan, 4 cemar sedang dan 1 cemar berat. Dampak kesehatan masyarakat yang banyak ditemukan adalah 23,44% (15 orang) menderita diare, 6,25% (4 orang) disentri dan 70,31% (45 orang) iritasi kulit.Simpulan:  IKA  sungai hendaknya dipertahankan untuk menjaga kualitas air agar memenuhi standar kesehatan dan ekosistem seimbang. Pemerintah, industri dan masyarakat memiliki peran penting dalam melakukan pengendalian pencemaran air. Kondisi sanitasi lingkungan tempat tinggal dan perilaku hidup bersih, sehat di masyarakat sangat mendukung meningkatnya kesehatan masyarakat. ABSTRACT Title:  Water Quality Index and Public Health Impacts around Karang Mumus River,  SamarindaBackground: The Water Quality Index (WQI) shows the condition of water quality in an area based on the status of water quality as a result of measuring the physical, chemical, and bacteriological parameters of water, both rivers and lakes. Community activities around the Karang Mumus River from upstream to downstream include tofu and tempeh industries, agriculture, livestock, dense suburban settlements, markets, some hotels, malls, and hospitals. The purpose of this study was to calculate the WQI and its public health impact.Method: Method  that used  in this research is descriptive with a quantitative approach by calculating WQI from the results of water quality status. The water quality parameters examined include pH, dissolved oxygen (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solids (TSS), Nitrate (NO3-N), Total Phosphate (T-Phosphate) and Fecal Coliform (Fecal Coli). The sampling points from upstream to downstream of the Karang Mumus River were 8 points are Tanah Datar, Waduk Benanga, Gunung Lingai, Gelatik Bridge, S. Parman Bridge, Perniagaan Bridge, Jembatan I and Arif Rahman Hakim Bridge. The main consideration in this method is to select respondents who specifically represent the desired population. The number of respondents taken as many as 64 people .Result: The results showed that the Karang Mumus River WQI was in the poor category with 1 location satisfied, 2 lightly polluted, 4 moderately polluted, and 1 heavily polluted. The public health impacts that were found were  23,44% (15 people) suffering from diarrhea, 6,25%  (4 people) suffering from dysentery, and  70,31% (45 people) skin irritations.Conclusion:  River Water Quality Index must be kept to maintain water quality in order to meet Health standards and a balanced ecosystem. Government, industry and society have an important role in controlling water pollution. Sanitation conditions in the living environment, clean and healthy living behavior in the community strongly supports the improvement of public health. 
Prevalensi Leptospira Sp. pada Tikus dan Ayam dari Permukiman Padat di Denpasar Selatan, Indonesia I Putu Wily Anggara Wijaya; Teguh Permana; Ni Made Utami Dwipayanti; Putu Hary Chandrakrisna; Ni Luh Putu Suariyani; I Nengah Sujaya; I Made Subrata
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.3.304-312

Abstract

Latar belakang: Tikus dikenal sebagai reservoir utama Leptospira, sedangkan ayam yang banyak dikembangbiakkan oleh rumah tangga Indonesia juga dilaporkan sebagai pembawa Leptospira di tempat lain. Kajian tentang leptospirosis masih kurang di Bali, khususnya daerah padat di kota Denpasar dengan faktor risiko potensial dari segi kondisi sanitasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan Leptospira sp. pada tikus dan ayam  yang hidup di permukiman padat perkotaan di Denpasar Selatan, Indonesia.Metode: Pada April 2021, 20 ekor tikus (8 R. tanezumi, 10 Rattus norvegicus dan 2 R. tiomanicus )  dan 30 ekor ayam (Gallus gallus domesticus)  ditangkap dari rumah dan sekitarnya di empat pemukiman berbeda. Serum darah sampel diuji antibodi Leptospira dengan Microscopic Agglutination Test (MAT) yang dilakukan di B2P2VRP Salatiga, Indonesia, menggunakan 15 serovar Leptospira yaitu Bangkinang, Grippotyphosa, Icterohaemorrhagiae, Canicola, Pyrogenes, Hardjo, Hebdomadis, Pomona, Djasiman, Robinsoni , Bataviae, Mini, Sarmin, Manhao, dan Rama.Hasil: Serum dengan aglutinasi diperoleh dari dua (10%) dari 20 ekor tikus (R. norvegicus) dan dua (6,7%) dari 30 ekor ayam. Serogrup yang ditemukan pada tikus adalah Bataviae, Djasiman, dan Icterohaemorrhagiae dengan titer 1:80, 1:80 dan 1:160. Serogrup yang ditemukan pada ayam adalah Icterohaemorrhagiae (titer 1:40) dan Robinsoni (titer 1:20).Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa R. norvegicus merupakan reservoir hewan pengerat di lokasi penelitian, sedangkan ayam berpotensi terkena Leptospira sp. dari lingkungan tempat tinggal mereka di permukiman perkotaan. Dengan demikian, terdapat risiko Leptospirosis di lokasi penelitian sehingga perlu dilakukan tindakan preventif dan surveilans secara terus menerus. ABSTRACT Title: Prevalence of Leptospira sp. in Rats and Chickens from Dense Settlements in South Denpasar, IndonesiaBackground: Rats are known as the main reservoir of Leptospira, while chickens, which are commonly bred by Indonesian households, has also been reported as carrier of Leptospira elsewhere. Studies on leptospirosis are lacking in Bali, particularly dense area in Denpasar city with potential risk factors in terms of the environmental sanitation condition. This study aims to identify the occurrence of Leptospira sp. in rats and chicken living in urban dense settlements in South Denpasar, Indonesia.     Method: In April 2021, 20 rats (8 R. tanezumi, 10 Rattus norvegicus and 2 R. tiomanicus) and 30 chickens (Gallus gallus domesticus) were captured from houses and the surroundings in four different settlements. The blood serum from samples were tested for Leptospira antibodies by Microscopic Agglutination Test (MAT) which conducted at B2P2VRP Salatiga, Indonesia, using 15 serovars of Leptospira namely Bangkinang, Grippotyphosa, Icterohaemorrhagiae, Canicola, Pyrogenes, Hardjo, Hebdomadis, Pomona, Djasiman, Robinsoni, Bataviae, Mini, Sarmin, Manhao, and Rama.  Result: The serum with agglutination were obtained from two R. norvegicus (10%) of 20 rats and two (6.7%) of 30 chickens. The serogroups found in rats were Bataviae, Djasiman, and Icterohaemorrhagiae with titers 1:80, 1:80 and 1:160 respectively.  The serogroups found in chicken were Icterohaemorrhagiae (titer 1:40) and Robinsoni (titer 1:20).  Conclusion: The study findings show that R. norvegicus is a rodent reservoir in the study site, while chicken potentially exposed to Leptospira sp. from their living environment in urban settlements. This indicate that there is a risk of Leptospirosis in the study site and thus preventive measure and surveillance need to be continuously taken.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue