cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Kontaminasi Sumber Air oleh Cacing Usus dan Higiene Sanitasi sebagai Faktor Risiko Infeksi Helminthiasis pada Petani Yunita Armiyanti; Brillian Adexa Yudinda; Heni Fatmawati; Bagus Hermansyah; Wiwien Sugih Utami
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.60-68

Abstract

Latar belakang: Kabupaten Jember khususnya Kecamatan Jenggawah merupakan wilayah agraris dengan pekerjaan utama sebagai petani dan hampir separuh penduduknya tidak mempunyai fasilitas jamban untuk buang air besar. Kebiasaan defekasi yang tidak sehat masih banyak dilakukan oleh masyarakat petani, sehingga bisa mencemari sumber air dengan telur dan larva cacing usus yang berakibat terjadinya penularan helminthiasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kontaminasi sumber air (air sumur dan sungai) oleh cacing usus, faktor risiko higiene sanitasi dan hubungannya dengan prevalensi helminthiasis pada petani di Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember.Metode: Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Jenggawah yang sebagian besar masyarakatnya adalah petani. Jumlah petani yang bersedia terlibat dalam penelitian adalah 56, sehingga jumlah sampel feses dan air sumur yang diperoleh juga sebanyak 56. Sampel air sungai juga diambil untuk diperiksa. Sampel feses dan air diperiksa menggunakan metode sedimentasi dan flotasi untuk identifikasi telur dan larva cacing usus. Faktor-faktor risiko higiene dan sanitasi sebagai variabel bebas didapatkan dari kuesioner dan dianalisis dengan univariat, bivariat dan multivariat.Hasil: Karakteristik responden menunjukkan sebagian besar adalah laki-laki (53,51%), berusia 18-60 tahun (75%), berpendidikan rendah (53,57%), dan berpenghasilan rendah (71,43%). Sampel air sumur yang terkontaminasi telur dan larva cacing usus sebesar 22,2%, sedangkan sampel air sungai semuanya terkontaminasi. Prevalensi helminthiasis pada petani adalah 7,1%. Jenis cacing usus yang banyak ditemukan adalah Hookworm. Hasil uji bivariate (chi-square) menunjukkan kontaminasi sumber air oleh cacing usus berhubungan dengan prevalensi helminthiasis (ρ<0,05). Faktor risiko sanitasi yaitu jenis sumber air (air sungai atau air tanah) dan faktor risiko higiene kebiasaan mandi,cuci dan kakus (MCK) di sungai berhubungan dengan prevalensi helminthiasis (ρ<0,05).Simpulan: Sumber air yang terkontaminasi oleh telur dan larva cacing usus dan penggunaannya untuk kegiatan MCK dapat menjadi sumber transmisi infeksi helminthiasis pada masyarakat petani. ABSTRACTTitle: Contamination of Water Sources by Intestinal Worms and Sanitary Hygiene as Risk Factors for Helminths Infection in Farmers.Background: Jember Regency, especially Jenggawah Subdistrict, is an agricultural area with the main occupation as farmers and almost half of the population does not have latrine facilities for defecation. Unhealthy defecation habits are still widely practiced by farming communities, so that they can contaminate water sources with eggs and larvae of intestinal worms which result in helminthiasis transmission. This study aims to determine the contamination of water sources (well and river water) by intestinal worms, sanitation hygiene risk factors and their association with the prevalence of helminthiasis in farmers in Jenggawah District, Jember Regency.Method: This research was conducted in Jenggawah District where most of the people are farmers. The number of farmers who were willing to be involved in the study was 56, so the number of faecal and well water samples obtained was also 56. River water samples were also taken for examination. Stool and water samples were examined using sedimentation and flotation methods to identify eggs and larvae of intestinal worms. Hygiene and sanitation risk factors as independent variables were obtained from the questionnaire and analyzed using univariate, bivariate and multivariate analysis.Result: The characteristics of the respondents showed that most of them were male (53.51%), aged 18-60 years (75%), low educated (53.57%), and low income (71.43%). Well water samples were contaminated with eggs and larvae of intestinal worms by 22.2%, while river water samples were all contaminated. The prevalence of helminthiasis is 7.1%. The most common type of intestinal worm is Hookworm. The results of the chi-square test showed that contamination of water sources by intestinal worms was associated with the prevalence of helminthiasis (ρ<0.05). Sanitation risk factors, namely the kind of water sources (river water or ground water) and hygiene risk factors, i.e bathing, washing and latrine activities (MCK) habits in rivers are associated with the prevalence of helminthiasis (ρ<0.05).Conclusion: Water sources contaminated by eggs and larvae of intestinal worms and the habit of bathing, washing and latrine activities (MCK) in the river can be a source of transmission of helminthiasis infection in farming communities.
The Use of Kaffir Lime Peel Filtrate (Citrus Hystrix) in Reducing The Number of Cutlery Germs Rusmiati Rusmiati; Deffany Novitasari Putri Suwanta; Putri Arida Ipmawati; Marlik Marlik
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.55-59

Abstract

Judul : Penggunaan Filtrat Kulit Jeruk Purut (Citrus Hystrix) Dalam Menurunkan Jumlah Kuman Alat MakanLatar Belakang: Kulit jeruk purut memiliki kandungan utama yang terdiri dari flavonoid, saponin, alkaloid, naringin, dan hesperidin sebagai antibakteri dan antioksidan sehingga dapat menurunkan jumlah kuman pada peralatan makan.Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan kulit jeruk purut dalam menurunkan angka kuman pada peralatan makan. Jenis penelitian eksperimen ini menggunakan desain post-test-only control group design. Objek penelitian menggunakan sendok stainless dengan populasi 96 buah. Variasi konsentrasi kulit jeruk purut adalah 20%, 50%, dan 80%. Analisis data menggunakan uji Kruskal - Wallis untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang bermakna secara statistik antara dua kelompok atau lebih dan uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbandingan yang bermakna antara dua populasi yang berbeda terhadap variabel bebas.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah kuman kontrol adalah 909,1 koloni/cm2 dan konsentrasi larutan kulit jeruk purut 20% ,50%, dan 80% yaitu 398,1 koloni/cm2, 8,3 koloni/cm2, dan 35,0 koloni. /cm2. Hasil yang paling signifikan dalam menurunkan jumlah kuman pada peralatan makan adalah pada konsentrasi 50% (Pvalue=0,004). PH larutan kulit jeruk antara 4-5, dan suhu larutan kulit jeruk 28⁰C.Simpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa kulit jeruk purut dapat menurunkan jumlah kuman pada peralatan makan. Disarankan untuk menambah variasi waktu perendaman dengan larutan perasan kulit jeruk purut sehingga diharapkan dapat menurunkan jumlah kuman pada peralatan makan sesuai ketentuan Menteri Kesehatan. ABSTRACTBackground: Kaffir lime peel consist primarily of flavonoids, saponins, alkaloids, naringin, and hesperidin as antibacterial and antioxidant so that it can reduce the number of germs on cutleriesMethod: This study aimed to identify the use of kaffir lime peel in reducing the number of germs on cutlery. This type of experimental research uses a post-test-only control group design. The object of the study was a stainless spoon with a population of 96 pieces. Variations in the concentration of kaffir lime peel from 20%, 50%, to 80%. Data analysis used the Kruskal - Wallis test to determine whether there were statistically significant differences between two or more groups and the Mann-Whitney test to determine the significant comparison of two different populations on the independent variables.Result : The results showed that the average number of germs in control was 909.1 colonies/cm2 and the concentrations of kaffir lime peel solution were 20% ,50%, and 80%  with the number of 398.1 colonies/cm2, 8.3 colonies/cm2, and 35.0 colonies/cm2. The most significant result in reducing the number of germs on cutlery was a concentration of 50% (Pvalue=0.004). The pH of the lime peel solution was in the range of 4-5, and the temperature was 28⁰C. Conclusion:  This study concludes that kaffir lime peel has the potential to reduce the number of germs on cutlery. It is recommended  that the immersion time is increased with a solution of kaffir lime peel juice so that it is expected to reduce the number of germs on cutlery by the requirements of the Minister of Health.
Pengaruh Indeks Entomologi dan Sebaran Kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Sukoharjo Maulina Tri Handayani; Mursid Raharjo; Tri Joko
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.46-54

Abstract

Latar belakang: Penyakit DBD di Kabupaten Sukoharjo mengalami peningkatan kasus dan kematian. Tahun 2020 terdapat 185 kasus (IR = 20,38 per 100.000) dan meningkat menjadi 222 kasus (IR = 24.35 per 100.000) pada tahun 2021. Kasus tertinggi terdapat di Kecamatan Grogol dengan jumlah 55 kasus (IR = 43,12 per 100.000) dan nilai ABJ sebesar 94%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh indeks entomologi terhadap kasus DBD dan sebaran kasus DBD.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan desain analytic case-control. Penelitian dilakukan pada bulan Maret – April 2022 dengan pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah sampel 84 responden. Variabel yang digunakan pada penelitian ini yaitu HI, CI, BI dan ABJ dengan metode analisis univariat, bivariat dan analisis spasial.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa house index (p-value = 0,000), container index (p-value=0,000), breteau index (p-value = 0,000) dan angka bebas jentik (p-value=000) berpengaruh terhadap kasus DBD. Keberadaan jentik yang diketahui melalui indeks entomologi merupakan tanda adanya populasi jentik. Kepadatan jentik yang tinggi menandakan risiko tinggi penularan DBD. Pola spasial kasus DBD Kabupaten Sukoharjo yaitu autokorelasi positif dengan pola berkelompok dan kepadatan kasus tertinggi di Kecamatan Grogol.Simpulan: Indeks entomologi yang mempengaruhi kasus DBD di Kabupaten Sukoharjo adalah house index, container index, breteau index dan angka bebas jentik dengan pola spasial sebaran kasus DBD yaitu berkelompok. ABSTRACT Title: Effect Of Entomological Index And Distribution Of Dengue Hemorrhagic Fever Cases In Sukoharjo RegencyBackground: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Sukoharjo Regency has increased in cases and deaths. In 2020 there were 185 cases (IR = 20.38 per 100,000) and increased to 222 cases (IR = 24.35 per 100,000) in 2021. CFR in 2020 was 3.78% and increased to 4.95% in 2021. The highest cases were in Grogol District with 55 cases (IR = 43.12 per 100,000) with the larva-free number being 94%. This study aims to determine the effect of the entomological index on cases of DHF and the distribution of dengue cases.Method: The type of research used is observational with case-control analytic design. The study was conducted in March – April 2022 with the selection of samples carried out by purposive sampling with a total sample of 84 respondents. The variables used in this study are HI, CI, BI and larva-free number with univariate, bivariate and spatial analysis methods.Result: The results showed that the house index (p-value = 0.000), container index (p-value = 0.000), breteau index (p-value = 0.000) and larva-free numbers (p-value = 0.000) had an effect on dengue cases. The presence of larvae known through the entomological index was a sign of the presence of a larva population. High larva density indicated a high risk of dengue transmission. The spatial pattern of DHF cases in Sukoharjo Regency is a positive autocorrelation with a group pattern and the highest case density is in Grogol District.Conclusion: The entomological index that affected DHF cases in Sukoharjo Regency are the house index, container index, breteau index and larva-free numbers with a spatial pattern of distribution of DHF cases clustered. 
Faktor Yang Berhubungan Dengan Musculoskeletal Disorders Pada Tenaga Kerja Bongkar Muat Di Pelabuhan Jayapura Juleha Juleha; Anton Wambrauw; Apriyana Irjayanti
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.84-91

Abstract

Latar belakang: Aktivitas bongkar muat memakai bantuan tenaga manusia dengan melaksanakan pemindahan barang menuju gudang atau kapal penyimpanan menggunakan kendaraan pengangkut barang. Pekerjaan dengan sikap bekerja yang statis sangat memberikan potensi untuk mempercepat munculnya keluhan musculoskeletal disorders. Tujuan dari kegiatan meneliti ini guna melihat serta mencari tahu apa saja faktor yang berkaitan terhadap keluhan musculoskeletal disorders kepada para pekerja bongkar muat pada Pelabuhan Jayapura.Metode: Desain kegiatan meneliti ini ialah deskriptif analitik yang menggunakan pendekatan cross sectional study. Sampel dalam kegiatan meneliti ini sebanyak 49 pekerja bongkar muat (TBKM) dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Kriteria inklusi adalah TKBM dibagian pengangkutan dan pembongkaran peti kemas (container) dan jadwal bekerja setiap hari (senin-minggu), kriteria ekslusi adalah tidak bersedia menjadi responden. Pengukuran keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) menggunakan kuesioner Nordic Body Map, gerak berulang menggunakan stopwatch dan pengumpulan data seperti umur, masa kerja, durasi kerja dan kebiasaan merokok memakai sebuah kuesioner. Analisis data memakai pengujian chi square dengan taraf signifikan 95% (p <0,05).Hasil: Analisis univariat dari 49 pekerja, ada 24 pekerja (49%) merasakan keluhan MSDs tingkat sedang, umur ˂35 tahun sebanyak 26 pekerja (53%), masa kerja ≥5 tahun sebanyak 33 pekerja (67%), durasi kerja ˃8 jam sebanyak 38 pekerja (78%), kebiasaan merokok sebanyak 49 pekerja (100%), dan gerak berulang≥10 gerakan/menit sebanyak 26 pekerja (53%). Hasil analisis bivariat menunjukan ada sebuah keterkaitan antara keluhan MSDs terhadap usia (p-value 0,000) serta masa kerja (p-value 0,000) sedangkan variabel yang tidak berkaitan dengan keluhan MSDs ialah durasi kerja (p-value 0,897) serta gerak berulang (p-value 0,071).  Simpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan masa kerja serta usia berhubungan terhadap keluhan MSDs. ABSTRACTTitle: Factors Related of Musculoskeletal Disorders  in Loading and Unloading Workers at the Port of Jayapura CityBackground:Loading and unloading activities use human assistance by moving goods from ships or storage warehouses to goods transport vehicles. Jobs with a static work attitude have the potential to accelerate musculoskeletal disorders. This study aims to determine the factors associated with complaints of musculoskeletal disorders in loading and unloading workers at the Port of Jayapura.Method:The design of this research is descriptive analytic with cross sectional study approach. The research sample consisted of 49 loading and unloading workers (TBKM) with a total sampling technique. The inclusion criteria were TKBM in the transport and unloading of containers and the work schedule every day (Monday-Sunday), the exclusion criteria were not willing to be a respondent. Measuring complaints of musculoskeletal disorders (MSDs) using the Nordic Body Map questionnaire, repetitive motion using a stopwatch and collecting data such as age, years of service, duration of work and smoking habits using a questionnaire. Data analysis used the chi square test with a significant level of 95% (p <0,05).Result:Univariate analysis of 49 workers, 24 workers (49%) felt moderate MSDs complaints, 26 workers (53%) were aged ˂35 years, 33 workers (67%) had worked ≥5 years, worked ˃8 hours 38 workers (78%), smoking habits of 49 workers (100%), and repetitive motion ≥10 movements/minute of 26 workers (53%). The results of the bivariate analysis showed that there was a relationship between MSDs complaints and age (p-value 0,000) and years of service (p-value 0,000) while the variables not related to MSDs complaints were work duration (p-value 0,897) and repetitive motion (p-value 0,071).Conclusion: The variables associated with MSDs complaints are age and years of service, while the duration of work and repetitive activities are not associated with MSDs complaints. 
Perbedaan Variasi Ketebalan Media Filter Arang Aktif Terhadap Penurunan Kadar Total Dissolved Solids (TDS) Bunga Yunasthania Wowor; Neneng Yety Hanurawaty; Bambang Yulianto
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.76-83

Abstract

Latar belakang: Total Dissolved Solids (TDS) merupakan benda padat terlarut yaitu semua mineral, logam, garam serta anion-kation yang terlarut dalam air. Metode filtrasi dapat menurunkan kadar Total Dissolved Solids (TDS) dan dapat menggunakan media filter arang aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan kadar Total Dissolved Solids (TDS) dengan perbedaan variasi ketebalan media filter arang aktif.Metode: Penelitian ini bersifat eksperimen dengan desain penelitian pretest-postest without control. Penelitian ini dilakukan dengan 3 perlakuan dan masing-masing perlakuan sebanyak 6 kali pengulangan. Populasi dalam penelitian ini adalah air bersih yang berasal dari sumur di PT. X dengan sampel sebanyak 36 sampel.Hasil: Penurunan kadar Total Dissolved Solids (TDS) pada air bersih menggunakan media filter arang aktif dengan ketebalan 100 cm didapatkan rata–rata 909 mg/l, ketebalan 110 cm didapatkan rata–rata 700,5 mg/l, dan ketebalan 120 cm didapatkan rata–rata 608,8 mg/l.Simpulan: Filter dengan media arang aktif pada tiga ukuran ketebalan yang berbeda efektif menurunkan kadar Total Dissolved Solids (TDS) pada air bersih di Industri Susu X. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai timelife media filter arang aktif dalam mengadsorpsi kadar Total Dissolved Solids (TDS). ABSTRACTTitle: Differences of Variations in the Thickness of Activated Charcoal Filter Media as Adsorption Media for Filtration Equipment in Reducing Total Dissolved Solids (TDS) Levels in Clean Water in Dairy Industry X, Cinambo District, Bandung CityBackground: Total Dissolved Solids (TDS) are dissolved solids, namely all minerals, metals, salts and anions dissolved in water. Filtration methods can reduce Total Dissolved Solids (TDS) levels and can use activated charcoal filter media. This study aims to determine the decrease in Total Dissolved Solids (TDS) levels with different variations in the thickness of activated charcoal filter media.Method: This research is an experimental research design with pretest-posttest without control. This research was conducted with 3 treatments and each treatment was repeated 6 times. The population in this study is clean water from wells at PT. X with a sample of 36 samples.Result: Reducing Total Dissolved Solids (TDS) levels in clean water using activated charcoal filter media with a thickness of 100 cm obtained an average of 909 mg/l, a thickness of 110 cm obtained an average of 700.5 mg/l, and a thickness of 120 cm obtained an average of an average of 608.8 mg/l. Conclusion: Filters with activated charcoal media at three different thickness sizes are effective according to the levels of Total Dissolved Solids (TDS) in clean water Dairy Industry X. Future researchers can conduct further research regarding the timelife of activated charcoal filter media in adsorption of Total Dissolved Solids (TDS) levels.
Cadmium Content in Refill Drinking Water in Pariaman City Azyyati Ridha Alfian; Fea Firdani; Aria Gusti
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.92-95

Abstract

Judul : Kandungan Kadmium pada Air Minum Isi Ulang di Kota PariamanLatar belakang: Cadmium bersifat sangat toksik dibandingkan logam berat lainnya, dapat menyebabkan keracunan akut maupun kronis. Badan Pengawas Obat dan Makanan telah menguji mutu produksi dari 95 depot air minum isi ulang di 5 kota. Sebanyak 9 produk mengandung Cadmium yang melebihi ambang batas. Tujuan penelitian ini untuk memberikan informasi mengenai kandungan logam berat Cadmium yang ada di dalam air minum isi ulang di Kota Pariaman.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif untuk menggambarkan kandungan Cadmium yang terdapat dalam air minum isi ulang di Kota Pariaman. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Total DAMIU yang diperiksa selama 3 tahun terakhir sebanyak 91 DAMIU. DAMIU diklasifikasikan menjadi memenuhi atau tidak memenuhi syarat kandungan Cadmium dari hasil uji laboratium. Analisis data dilakukan secara univariat.Hasil: Tingginya kadar Cadmium dalam air minum isi ulang diduga karena kualitas air baku dan catridge filter yang tidak di maintanance. 50% DAMIU menggunakan sumur gali sebagai air baku dimana cadmium lebih mudah mengendap pada sediman dasar sungai/ke dalam air tanah sehingga dalam menimbulkan tingginya kandungan Cadmium dalam air tanah. DAMIU yang tidak memenuhi baku mutu paling banyak ditemukan di wilayah Pariaman Selatan sebanyak 87% pada tahun 2020-2021Simpulan: Tingginya kadar Cadmium dalam air minum isi ulang diduga karena kualitas air baku yang tidak memenuhi standar dan tidak dilakukan maitanance peralatan yang digunakan oleh DAMIU khususnya Catridge filter sesuai dengan jangka waktu seharunya. ABSTRACT Background: Cadmium is highly toxic compared to other heavy metals, it can cause both acute and chronic poisoning. The Food and Drug Administration has tested the production quality of 95 refillable drinking water depots in 5 cities. A total of 9 products contain Cadmium that exceeds the threshold. The purpose of this study is to provide information about the heavy metal content of Cadmium in refillable drinking water in Pariaman City.Method: This study used a descriptive quantitative design to describe the cadmium content contained in refillable drinking water in Pariaman City. This study used secondary data. The total refillable drinking water examined over the past 3 years is 91 refillable drinking water. Refillable drinking water is classified as meeting or not meeting the cadmium content requirements from the laboratory test results. Data analysis is carried out univariat.Result: High levels of Cadmium in refillable drinking water are thought to be due to the quality of raw water and filter cartridges that are not maintanance. 50% of refillable drinking water uses dug wells as raw water where cadmium is easier to settle in the sediman riverbeds / into groundwater so as to cause a high content of Cadmium in groundwater. refillable drinking water that does not meet the most quality standards is found in the South Pariaman region as much as 87% in 2020-2021Conclusion: High levels of Cadmium in refillable drinking water are suspected to be due to raw water quality that does not meet the standards and is not maitanance the equipment used by refillable drinking water, especially catridge filters, is in accordance with the supposed time period. 
Hubungan Antara Kejadian Infeksi Tinea Pedis Dengan Pekerja Jasa Cuci Mobil di Wilayah Jatibening Ago Harlim; Namira Vadya Permana; Mohammad Zen Rahfiludin
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.96-103

Abstract

Latar belakang: Tinea pedis adalah penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi jamur dermatofita ,yang mana penyakit ini terjadi pada daerah kulit seperti daerah punggung kaki, telapak kaki, pergelangan kaki, serta daerah interdigitalis. Pekerjaan sebagai pekerja jasa cuci mobil yang hampir setiap hari kontak langsung  dengan air  dapat menjadi salah satu faktor risiko terinfeksi tinea pedis. Tujuan dari  penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara faktor kebersihan, durasi kerja, lama kerja dan pemakaian sepatu tertutup (sepatu bot) pada pekerja jasa cuci mobil dengan kejadian penyakit tinea pedis di wilayah JatibeningMetode: Penelitian dilakukan menggunakan metode potong lintang. Data diperoleh berdasarkan kuesioner dan dibantu dengan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan KOH 10%. Perhitungan besar sampel dalam penelitian ini menggunakan metode aturan praktis, dengan jumlah sampel sebesar 30 responden. Hasil penelitian diolah menggunakan program statistik komputer SPSS memakai Chi-Square dan Mann-Whitney. Hasil dan diskusi: hasil penelitian menunjukkan bahwa semua  responden berjenis kelamin laki-laki dengan mayoritas responden  berusia 11 dan 22 tahun (20%) dan mayoritas pendidikan terakhir responden adalah SMA/SMK (30%). Dari hasil analisis bivariat tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara durasi kerja (nilai p = 0,321), faktor kebersihan (nilai p = 0,637), lama kerja (nilai p = 0,794), dan pemakaian sepatu tertutup (nilai p = 0,660) terhadap kejadian infeksi tinea pedis.Simpulan: Faktor kebersihan perorangan, durasi kerja, lama kerja dan pemakaian sepatu tertutup selama bekerja tidak berhubungan dengan kejadian infeksi tinea pedis di tempat pencucian mobil di Jatibening, Bekasi. Perlu ditelti faktor resiko lainnya terhadap timbulnya tinea pedis pada pekerja jasa cuci mobil didaerah Bekasi. ABSTRACTTitle : The Correlation between the incidence of Tinea Pedis Infection and Car Wash Workers in the Jatibening RegionBackground : Tinea pedis is a disease caused by a dermatophyte fungal infection, which occurs in areas of the skin such as the back of the feet, soles, ankles, and the interdigital areas. Working as a car wash service worker who has direct contact with water almost every day can be a risk factor for infection with tinea pedis. The purpose of this study was to find out whether there is a relationship between cleanliness, duration of work, length of work and wearing closed shoes (boots) in car wash workers with the incidence of tinea pedis in the Jatibening region.Methods : The research was conducted using a cross sectional method. Data were obtained based on a questionnaire and assisted by a physical examination and 10% KOH examination. Calculation of the sample size in this study using the rule of thumb method, with a sample size of 30 respondents. The results of the research were processed using the statistical computer program SPSS using Chi-Square and Mann-Whitney.Results : the results showed that all respondents were male with the majority of respondents aged 11 and 22 years (20%) and the majority of respondents' last education was SMA/SMK (30%). From the results of bivariate analysis, there was no significant relationship between work duration (p value = 0.321), hygiene factor (p value = 0.637), length of work (p value = 0.794), and wearing of closed shoes (p value = 0.660) to the incidence of infection tinea pedis.Conclusion : Personal hygiene, duration of work, length of labour, and wearing closed shoes have no significant correlation with the incidence of tinea pedis infection at a car wash in Jatibening, Bekasi. It is necessary to find other risk factors for the emergence of tinea pedis in car wash workers in the Bekasi area.  
Analisis Perbandingan Kualitas Air yang Bermuara di Perairan Teluk Kayeli Sebagai Dampak dari Penambang Ilegal Muhamad Sehol; Rosita Mangesa; Kasmawati Kasmawati; Irsan Irsan
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.22.1.104-111

Abstract

Latar Belakang: Para penambang emas di pulau Buru menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri, dimana limbah dari hasil penambangan akan mengalir hingga ke lautan dan menyebabkan biota laut tercemar merkuri sehingga perlu selalu dipantau kualitas airnya, karena sangat berdampak bagi ksehatan dan juga lingkungan. Tujuan penelitian ini sebagai rujukan pemerintah dalam pembuatan peraturan daeraha mengenai lingkungan.Metode: Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian lapangan, yaitu data diambil langsung dari sampel dan dianalisis di laboratorium. Indikator terdiri dari analisis fisik, kimia dan biologi dari sampel air sungai dan laut kemudian dideskripsikan.Hasil: Dari hasil analisis laboraturium menunjukan bahwa parameter fisik TDS yang dihasilkan tidak sesuai dengan baku mutu yaitu: Sungai Waelata, Sungai Anahoni, Sungai Kayeli, Laut Teluk Kayeli. Parameter kimia nilai BOD tidak sesuai dengan baku mutu yaitu: Sungai Waeapo, Sungai Waelata, Sungai Anahoni, Sungai Kayeli. Untuk parameter biologi tergolong seuai baku mutu. Wilayah pengamatan yang memiliki nilai kualitas perairan yang kurang baik dibandingkan dengan wilayah lainnya adalah Sungai Anahoni dengan tujuh parameter tidak sesuai baku mutu (suhu, TSS, TDS, kekeruhan, DO, BOD dan COD), Sungai Kayeli memiliki enam parameter tida sesuai dengan baku mutu diantaranya TDS, pH, phosfat, DO, BOD dan COD), Sungai Waelata dengan lima parameter tidak sesuai dengan baku mutu (suhu, TDS, TSS, kekruhan dan BOD).Simpulan: Dari nilai parameter fisik, biologi, dan kimia terlihat bahwa sebagaian besar telah memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan, sehingga masih dapat digunakan sesuai dengan fungsinya, namun masih terdapat beberapa parameter yang tidak sesuai denganbaku mutu. ABSTRACT Title: Comparative Analysis of Water Quality that empties into the Waters of Kayeli Bay as the Impact of Illegal MinersBackground: Gold miners on Buru Island use hazardous chemicals such as mercury, whereby the waste from mining will flow into the ocean and cause marine creatures to be polluted with mercury so that the water quality needs to be monitored constantly, because it has a huge impact on health and also the environment. The purpose of this research is as a reference for the government in making regional regulations regarding the environment.Methods: This research is included in field research, where the data is taken directly from the sample and analyzed in the laboratory. The indicators consist of physical, chemical and biological analysis of river and sea water samples which are then described.Results: The results of laboratory analysis show that the physical parameters of the TDS produced are not in accordance with the quality standards, namely: Waelata River, Anahoni River, Kayeli River, Kayeli Bay Sea. The chemical parameter BOD values do not comply with the quality standards, namely: Waeapo River, Waelata River, Anahoni River, Kayeli River. For biological parameters classified according to quality standards. The observation area that has poor water quality values compared to other areas is the Anahoni River with seven parameters not in accordance with quality standards (temperature, TSS, TDS, turbidity, DO, BOD and COD), Kayeli River has six parameters not in accordance with quality standards including TDS, pH, phosphate, DO, BOD and COD), the Waelata River with five parameters not in accordance with quality standards (temperature, TDS, TSS, turbidity and BOD).Conclusion: From the values of the physical, biological and chemical parameters it can be seen that most of them have met the quality standards that have been set, so they can still be used according to their function, but there are still some parameters that are not in accordance with the quality standards. 
Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Malaria di Wilayah Distrik Jayapura Selatan Kota Jayapura Sitti Madayanti; Mursid Raharjo; Hary Purwanto
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.3.358-365

Abstract

Latar belakang: Distrik Jayapura Selatan merupakan daerah endemis dengan angka malaria tertinggi ketiga dari 5 Distrik yang ada di Kota Jayapura. Kasus Malaria di Kota Jayapura tahun 2019 sebanyak 28.648 kasus dengan API 92.55/1000 penduduk, tahun 2020 sebanyak 28.075 kasus dengan API 89.35/1000 penduduk, sedangkan tahun 2021 sebanyak 30.235 kasus dengan API 99,49/1000 penduduk. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor lingkungan fisik dan perilaku masyarakat dengan kejadian malaria di wilayah Distrik Jayapura Selatan Kota Jayapura.Metode: Penelitian menggunakan metode observasional dengan pendekatan case control yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2022. Sampel berjumlah 120 responden dengan rincian 60 case dan 60 control mengunakan rumus dari teori Lemeshow. Analisis data dengan uji chi square dan Odds Ratio untuk menentukan besarnya risiko.Hasil: Menunjukkan ada hubungan antara kerapatan dinding rumah (p = 0,018; OR = 3.872), keberadaan Plafon/langit-langit rumah (p = 0,010; OR = 3.250), keberadaan kassa pada ventilasi rumah (p = 0,000; OR = 5.182), keberadaan breeding place (p = 0,037; OR = 2,753), keberadaan resting place (p = 0,001; OR = 3.512), tindakan (p = 0,000; OR = 6.909), variabel yang menunjukkan tidak ada hubungan adalah pengetahuan (p = 0,345; OR = 0.638) dan sikap (p = 0,697; OR = 1.357).Simpulan: Kondisi fisik rumah (kerapatan dinding, plafon/langit-langit, adanya kassa pada ventilasi), keberadaan breeding place dan resting place Anopheles di sekitar rumah serta tindakan melakukan pencegahan malaria berhubungan dengan kejadian malaria di wilayah Distrik Jayapura Selatan Kota Jayapura. Title: Risk Factors Affecting Malaria Incidence in the South Jayapura District, Jayapura CityBackground: South Jayapura District is an endemic area with the third highest malaria rate out of 5 districts in Jayapura City. Malaria cases in Jayapura City in 2019 were 28,648 cases with API 92.55/1000 population, in 2020 there were 28,075 cases with API 89.35/1000 population, while in 2021 there were 30,235 cases with API 99.49/1000 population. This study aims to analyze the relationship between physical environmental factors and community behavior with the incidence of malaria in the South Jayapura District, Jayapura City.Methods: The study used an observational method with a case control approach which was carried out from May to August 2022. The sample consisted of 120 respondents with details of 60 cases and 60 controls using the formula from Lemeshow theory. Data analysis with chi square test and Odds Ratio to determine the magnitude of the risk.Results: Shows that there is a relationship between the density of the walls of the house (p = 0.018; OR = 3.872), the presence of ceilings/ceilings (p = 0.010; OR = 3.250), the presence of gauze on the ventilation of the house (p = 0.000; OR = 5.182) , presence of breeding place (p = 0.037; OR = 2.753), presence of resting place (p = 0.001; OR = 3.512), action (p = 0.000; OR = 6.909), the variable that showed no relationship was knowledge (p = 0.345). ; OR = 0.638) and attitude (p = 0.697; OR = 1.357).Conclusion: The physical condition of the house (density of walls, ceilings/ceilings, the presence of gauze on the ventilation), the existence of breeding places and resting places of Anopheles around the house and actions to prevent malaria are related to the incidence of malaria in the South Jayapura District, Jayapura City.
Hambatan Implementasi Kebijakan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kota Binjai Putranto Manalu; Fahmi Syahpreza Tarigan; Ermi Girsang; Chrismis Novalinda Ginting
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.3.285-292

Abstract

Latar belakang: Pengelolaan sampah merupakan permasalahan penting yang harus diprioritaskan oleh pemerintah mengingat pertumbuhan penduduk yang cukup masif yang berimplikasi pada meningkatnya volume sampah yang dihasilkan. Implementasi kebijakan pengelolaan sampah di Kota Binjai masih belum optimal yang diindikasikan peningkatan volume sampah tiap tahunnya. Studi ini bertujuan mengevaluasi implementasi kebijakan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga di Kota Binjai.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Subjek penelitian terdiri dari kepala UPTD Pengolahan Sampah dan TPA Dinas Lingkungan Hidup Kota Binjai, kepala sub bagian umum dan kepegawaian Dinas Lingkungan Hidup Kota Binjai, dan 2 orang fasilitator lapangan UPTD Pengolahan Sampah dan TPA Dinas Lingkungan Hidup Kota Binjai sebagai informan triangulasi. Adapun variabel yang diteliti adalah komunikasi, sumberdaya, disposisi dan struktur birokrasi. Dalam menggumpulkan data, peneliti melakukan wawancara mendalam, pengamatan langsung dan studi dokumen. Data dianalisis dengan model interaktif berupa analisis kualitatif yang disajikan dalam bentuk deskriptitif dan narasi yang menyertainya.Hasil: Pada studi ini ditemukan hambatan implementasi kebijakan pengelolaan sampah rumah tangga di Kota Binjai antara lain tidak adanya peraturan daerah yang spesifik mengenai pengelolaan sampah rumah tangga dan berakibat pada ketersediaan anggaran. Dukungan pimpinan yang kurang untuk menjadikan program ini sebagai program prioritas menjadi kendala lainnya. Sumber daya manusia yang tersedia secara kuantitatif cukup namun secara kualitatif sangat kurang, serta masih banyak sumber daya yang kurang produktif dalam menjalankan tugasnya.Simpulan: Implementasi pengolahan sampah rumah tangga menghadapi hambatan dari sisi regulasi pendukung, anggaran dan SDM yang kurang memadai, dan minimnya dukungan pimpinan. Dengan berbagai hambatan tersebut, penting bagi stakeholder untuk memprioritaskan penyusunan peraturan daerah pendukung kebijakan strategi nasional pengolahan sampah rumah tangga (Jakstranas) agar pelaksanaan kegiatan memiliki payung hukum yang jelas. Selain itu, penempatan SDM yang kompeten dan sesuai keahliannya dapat membantu mengatasi hambatan teknis pelaksanan kegiatan di lapangan. ABSTRACT Title: Barriers to the Implementation of Household Waste Management Policies in Binjai CityBackground: Waste management is one of the paramount issue that must be prioritized by the government, given the relatively rapid population growth that impacts the increase of waste volume being generated. The waste management policy implementation at Binjai City is not yet optimal indicated by the increase of waste volume annually. This study serves to evaluate the household waste management policy implementation and household-like waste at Binjai City.Method: This research is qualitative research with case study approach.  Subjects consisted of the head of Waste Treatment and Final Processing Site of the Regional Environmental Office of Binjai City,  the head of the general and staffing sub-section of the Regional Environmental Office of Binjai City, and 2 field facilitators of the Waste Treatment and Final Processing Site of the Regional Environmental Office of Binjai City as triangulation informants. The variables studied were communication, resources, disposition, and bureaucratic structure. The determination of research subjects was conducted through the purposive sampling technique.  For data collection the researchers conducted in-depth interview, direct observation and literature study. The data were analyzed using an interactive model in the form of the qualitative analysis presented in the descriptive form and accompanying narration.Result: For this research, several barriers were found for the household waste management policy implementation at Binjai City, such as the lack of specific regional regulations concerning household waste management and in which it was affected by the budget availability. The lack of leadership support to make this program as a priority program was also found to be another obstacle. The human resources available in a sufficient quantitative manner does not translate well in quality sense, and there were still many less productive human resources performing their duties.Conclusion: The implementation of household waste management faces barriers in terms of supporting regulations, inadequate budgets and human resources, and lack of leadership support. Through such barriers, it is crucial for the stakeholders to prioritize the preparation of supporting regional regulations for national strategy for managing household waste policy (Jakstranas) in order for such implementation to have clear legal basis. Additionally, the placement of competent human resource and in accordance with their expertise could facilitate to overcome the technical obstacles in implementing such activities on the field. 

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue