Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007"
:
9 Documents
clear
AL-QUR'AN: A CONTEMPORARY TRANSLATION
Sholahuddin Al Ayubi
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (907.091 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1667
Ahmed Ali adalah salah seorang penerjemah al-Qur'an ke dalam bahasa Inggris. Beliau merupakan salah seorang sastrawan terkemuka Asia Selatan yang produktif menulis. Salah satu karyanya yang cukup dikenal adalah penerjemahan al-Qur'an dalam bahasa Inggris, yaitu Al-Qur'an: A Contemporary Translation.Karya terjemahan dan tafsir al-Qur'an yang ditulisnya ini dimaksukan untuk mendekatkan umat Islam dan memperkenal al-Qur'an kepada non-Muslim di Barat. Tafsir ini berisi tentang penjelasan Islam secara filosofis yang diperuntukan bagi para pembaca yang ingin berdialog dengan al-Quran, sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapinya. Karya terjemahan ini tergolong salah satu yang istimewa dari karya-karyanya yang lain. Karena itu, karya ini, selain memiliki bahasa yang mudah dan indah, corak tafsirnya juga lebih banyak menggunakan tafsir bil ma'tsur dan tafsir ilmy. Kata Kunci : Metode Penerjemahan al-Qur'an, tafsir al-Qur'an, Ahmed Ali
PEMIKIRAN USHUL FIQH AL-SYAUKANI
Syarjaya, H.E Syibli
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (813.413 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1663
Dalam pemikiran ushuI fiqh klasik, para ulama umumnya membagi dua kelompok besar, yakni kelompok mutakallim dan ushuliyyin. Kelompok pertama adalah mereka yang menggunakan metode yang biasa dipakai oleh para teolog (mutakalim) dalam mendeduksi hukum. Mereka berpikir secara deduktif, yakni menggunakan al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber untuk menciptakan kaidahÂkaidah ushuliyyah tanpa memperhatikan problema di tingkat realitas. Pendiri kelompok ini adalah Imam Syafi'i. Sedangkan kelompok yang kedua menggunakan metode berpikir secara parsial,yakni melakukan analisis masalah di tingkat realitas bukan berdasarkan teori-teori (kaidah-kaidah) yang ada. Pendiri kelompok ini adalah Abu Hanifah.Namun pada umumnya, banyak ulama ushul fiqh yang datang kemudian, menggabungkan kedua teori tersebut. Salah satu ulama yang berusaha untuk menggabungkan atau mengkompromikan keduanya adalah al-Syaukani, seorang ulama dari mazhab Syi'ah Zaidiyah. Menggabungkan dua pola pemikiran tersebut ternyata tidak mudah untuk mencari jalan keluarnya. Tulisan ini menggambarkan tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh al-Syaukani untuk mengkompromikan dua corak pemikiran ushul fiqh.
KESENJANGAN ANTARA KONDISI PENDIDIK, PENGELOLAAN SERTA SARANA DAN PRASARANA DI PROVINSI BANTEN DENGAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Supani Supandi
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1117.018 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1668
Tujuan penelitian ini untuk melakukan identifikasi kesenjangan antara kondisi pendidik, pengelolaan, dan sarana serta prasarana Sekolab Dasar di Provinsi Banten dengan Standar Nasional Pendidikan. ldentifikasi pertama mengkaji nilai kontribusi variabel pendidik, pengelolaan, dan sarana serta prasarana sekolah terbadap hasil belajar dan menganalisa dampak peningkatan ketiga variabel tersebut terbadap mutu pendidikan. Selain itu, dengan menggunakan nilai kontribusi ketiga variabel tersebut, dapat ditetapkan penentuan prioritas peningkatan berdasarkan urutan besaran nilai kontribusinya.ldentifikasi kedua tentang ketersediaan data yang mutakhir dan akurat yang dapat memberikan gambaran kondisi pendidik, pengelolaan, dan sarana serta prasarana Sekolab Dasar di Provinsi Banten. Data tersebut meliputi berbagai parameter yang digunakan dalam penentuan standar nasional pendidikan. Oleh karena itu, data tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan dengan Standar Nasional Pendidikan untuk bidang pendidik, pengelolaan, dan sarana serta prasarana sekolah.ldentifikasi ketiga berkenaan dengan kontribusi variabel pendidik, pengelolaan, dan sarana serta prasarana Sekolab Dasar terbadap hasil belajar di Provinsi Banten. Berdasarkan besaran kontribusi tersebut dapat ditetapkan prioritas peningkatan dalam komponen pendidik, pengelolaan, dan sarana serta prasarana sekolah untuk meningkatkan hasil belajar siswa di Provinsi Banten.
ISLAM DAN HAK ASASI MANUSIA
Mohamad Hudaeri
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1235.321 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1664
Negara-negara Barat yang dominan secara politik dan ekonomi berusaha mendesakan kebudayaannya terhadap negara-negara berkembang, tak terkecuali terhadap negara-negara muslim. Salah satu produk kebudayaan Barat yang kini menjdi perdebatan sengit di kalangan intelektual muslim adalah mengenai Hakhak Asasi Manusia (HAM). Persoalan pentingnya adalah "bagaimana orang muslim memandang HAM?''. Hal ini penting, karena sebagian dari isi Deklarasi HAM itu berbeda (bertentangan) dengan Syari'ah. Tulisan ini merupakan deskripsi tentang respon intelektual muslim terhadap Hak-hak Asasi Manusia.Mengenai HAM, respon masyarakat muslim terbelah menjadi tiga kelompok, yakni: konservatif, liberal dan pragmatis. Kelompok konservatif memandang bahwa sebagian dari ide-ide itu bertentang dengan Syari'ah, karena itu tidak selayaknya orang muslim mengikuti konsep HAM. HAM merupakan produk partikular kebudayaan Barat.Kelompok liberal memandang positif terhadap HAM. Perbedaan atau pertentangan antara HAM dengan beberapa ajaran dalam Syari'ah, dipandangnya sebagai tantangan bagi kaum muslimin untuk mengevaluasi konsep Syari'ah yang sudah "ketinggalan zaman ''. HAM merupakan produk kebudayaan modern sedangkan Syari'ah merupakan sisa dari kebudayaan tradisional supaya masyarakat muslim bisa bergaul dalam kebudayaan modern, maka mesti memperbaharui konsep Syari'ah agar lebih sesuai dengan tuntutan modernitas.Sedangkan kelompok ketiga berpandangan pragmatis. Kelompok ini merupakan jalan tengah untuk menjembatani antara dua pandangan yang berbeda secara diametral. Mereka bersikap eklektik dalam merumuskan peraturanperaturan yang dipakai di negara-negaranya. Mereka mengambil beberapa prinsip Syari'ah sambil menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutan modernitas.
ARISTOTELIANISME DALAM KACAMATA PARA TOKOH ABAD TENGAH PENENTANG LOGIKA
Mufti Ali
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1380.651 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1661
Dalam teks-teks yang menentang logika Anstoteles (al-mantik), kita menemukan berbagai argumen yang menentang logika Aristoteles, Aristoteles itu sendiri para sarjana muslim yang memakai logika tersebut dalam karya-karyanya, para khalifah yang mengeluarkan kebijakan untuk menterjemahkan karya-karya Yunani klasik ke dalam bahasa Arab serta orang-orang yang memberi komentar terhadap karya-karya Aristoteles.Persoalan yang akan dijelaskan dalam tulisan ini adalah obyek apa yang mereka tentang? Logika Aristoteles, Aristoteles itu sendiri, atau Aristotelianismeyakni sebuah tradisi yang berpijak pada karya-karya Aristoteles dan yang terinspirasi olehnya. Studi ini mengungkap bahwa meskipun ketidaksetujuan mereka diarahkan kepada logika Aristoteles, Aristoteles itu sendiri dan orang-orang yang memakai Logika Aristoteles dalam karya-karyanya serta para komentator karya-karya Aristoteles, pada umumnya ketidaksetujuan mereka adalah pada Aristotelianisme, yakni tradisi intelektual yang berpijak pada karya-karya Aristoteles dan terinspirasi olehnya. Ketidaksetujuan ini dalam tingkatan tertentu, berkaitan secara erat dengan perlawanan budaya terhadap hal-hal yang berbau “Yunani Klasik”.
PERANAN HUKUM ISLAM DALAM PENYELESAIAN PROBLEMA HUKUM PEMBIAYAAN LEASING DI INDONESIA
Sumirat, Iin Ratna
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1238.753 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1665
Leasing adalah suatu perjanjian yang berlitik tolak dari hubungan antara jangka waktu kontrak dengan masa kegunaan barang-barang secara ekonomis. Pihak yang terlibat (lessor dan lesse) bersepakat bahwa pihak lessor tanpa menggunakan hak miliknya secara hak dan kewajiban menyerahkan hak milik atas barang tersebut kepada pihak lesse yang berkewajiban membayar imbalan yang kemudian memperoleh hak milik atas barang tersebut. Leasing merupakan suatu lembaga hukum pembiayaan yang berasal dari Amerika Serikat. Keberadaannya diakui di Indonesia berdasarkan ketentuan Pasal 1338 (1) KUH Perdata. Akan tetapi aspek keperdataan secara khusus mengenai leasing belum ada. Sifat keperdataan ini penting diketahui dalam kaitan untuk menentukan kepastian hukum dan dijadikan pedoman manakala timbul sengketa antara pihak pembuat leasing.Para sarjana berbeda pendapat tentang kedudukan leasing, sebagian berpendapat bahwa leasing itu identik dengan perjanian sewa menyewa karena adanya persamaan dengan ciri-ciri dalam perjanian sewa menyewa. Sementara yang lainnya berpendapat bahwa perjanjian leasing itu memiliki banyak persamaan dengan beli sewa. Persamaan tersebut terlihat pada tujuannya. Kedua macam perjanjian itu bertujuan untuk mengalihkan hak milik atas objek perjanjian dari pihak yang satu kepada pihak yang lain pada akhir perjanjian tersebut.Dalam hukum Islam, leasing merupakan pranata hukum yang samar karena mengandung beberapa unsur perjanjian. Namun beberapa jenis dalam transaksi ekonomi Islam, memberikan kekayaan dalam pemahaman hukum pembiayaan leasing, sehingga leasing lebih mudah dipahami dan dipraktekkan.
DINAMIKA PERKEMBANGAN LEMBAGA JAMINAN FIDUCIA DI INDONESIA
Ahmad Zaini
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (768.6 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1669
Tulisan ini akan membahas tentang fiducia sebagai lembaga jaminan yang didasarkan pada kepercayaan (fiduciaire eigendoms overdracht). Lembaga ini sering muncul dalam praktek perdagangan dan perbankan terkait dengan perjanjian hutang-piutang, permodalan, maupun jaminan kredit. Jaminan fiducia berlaku karena masyarakat menginginkan adanya semacam jaminan, di mana benda yang dijaminkan tetap dipegang oleh pemiliknya untuk menjalankan usahanya. Dengan demikian terlihat bahwa sesungguhnya fiducia merupakan perjanjian yang bersifat accesoir, yakni merupakan tambahan saja dari perjanian pokok yang berupa perjanjian hutang piutang yang diikuti dengan jaminan berupa benda bergerak maupun tidak bergerak milik debitur.Undang-undang No. 42 Tahun 1999 menyatakan bahwa fiducia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan, dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap berada dalam penguasaan pemilik benda. Pada umumnya benda yang menjadi obyek jaminan fiducia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan, benda dagangan, piutang, peralatan mesin, dan kendaraan bermotor. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang dalam hal memperoleh modal usahanya, maka pasal 1 angka 2 UU Nomor 42 Tahun 1999 memberikan pengertian yang luas terhadap obyek jaminan fiducia, yaitu benda bergerak yang berwujud maupun tidak berwujud dan benda tidak bergerak yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan.Fiducia dinilai sebagai solusi terbaik bagi dunia usaha dalam hal ketersediaan dana, terutama dalam rangka pemberian kredit bagi golongan ekonomi lemah karena benda yang menjadi jaminan tetap dapat dikuasai dan dimanfaatkan debitur untuk kepentingan usaha. Tentu ini berbeda dengan gadai di mana benda yang dijaminkan ada dalam kekuasaan kreditur, yang baru dapat dikembalikan ketika proses pelunasan hutang piutang telah selesai.
PROSES PENERJEMAHAN
Ilzamudin Ma'mur
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1176.998 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1666
Karya suatu terjemahan, sebelum sampai di tangan khalayak pembacanya, sejatinya telah mengalami proses panjang yang bersifat sirkuler. Para teoretisi penerjemahan, berdasarkan pengalaman empiris dan praktis mereka, telah merumuskan tahapan-tahapan yang pada umumnya dilalui penerjemah professional dan pemula dalam melakukan tugasnya. Dalam tulisan ini dibincangkan paling tidak tujuh model tahapan proses penerjemahan sebagaimana dikemukakan oleh Harvey, et.al.; Nida dan Taber; Larson; Wils; Bell; Roberts; dan Batgate. Di antara tujuh model proses penerjemahan tersebut yang paling sering dirujuk orang adalah model Nida dan Taber. Bahkan dapat dikatakan model proses yang lainnya merupakan simplifikasi dan mungkin elaborasi dari mode mereka. Nida dan Taber berpendapat bahwa ada tiga tahapan yang dapat dilalui penerjemah: analisis, transfer dan restrukturisasi.
MAKNA BASMALAH DALAM PERSPEKTIF ILMU HIKMAT
Athoullah Ahmad
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (893.652 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1662
Al-Qur'an bagi orang muslim tidak hanya dipahami makna harfiyah tetapi juga diyakini bahwa di balik huruf dan kalimatnya ada ''kekuatan magis" yang bisa dieksplorasi untuk kepentingan hidup manusia. Kekuatan magis hanya bisa dieksplorasi dari al-Qur'an apabila dilakukan secara jalan spiritual melalui perjuangan (mujahadah) dan latihan (riyadhah) yang tekun.Usaha pengembangan ilmu hikmat di kalangan sufi dilakukan dengan mengekplorasi tabir rahasia yang terdapat di balik huruf dan kalimat al-Qur'an. Berbeda dengan ilmu pengetahuan empiris yang mengandalkan rasio atau akal untuk memahami atau mendapat suatu pengertian, ilmu hikmat mengandalkan pada hati. Karena itu, yang terpenting dalam ilmu hikmat adalah keyakinan akan keabsolutan Tuhan, melakukan mujahadah dan riyadhah dengan membaca sejumlah ayat al-Qur'an yang diyakini memiliki kekuatan magis tersebut.Tulisan ini mengelaborasi tentang makna dan praktek pembacaan basmalah dalam perspektif ilmu hikmat. Sebab basmalah yang djjumpai di setiap awal surat al-Qur'an diyakini memiliki kekuatan spiritual dan magis bagi orang yang mengamalkannya.