cover
Contact Name
sekretariat_jppdas
Contact Email
sekred.jppdas@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bpt.kpdas@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
ISSN : 25795511     EISSN : 25796097     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (JPPDAS) ) is an official publication that publishes scientific papers of research results in the field of watershed management. This Journal was published primarily by Watershe Management Technology Center on April 2017. Journal scopes include are land and vegetation management, soil and water conservation, land rehabilitation, hydrology, social, economic, institutional, remote sensing and Geographic Information Systems (GIS) that support watershed management technologies.
Arjuna Subject : -
Articles 67 Documents
STUDI KARAKTERISTIK HIDROLOGI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) JIRAK MENGGUNAKAN TIME SERIES ANALYSIS (Hydrological Characteristics Study of Jirak Sub Watershed Using Time Series Analysis) Bayu Argadyanto Prabawa
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2020.4.1.37-52

Abstract

ABSTRACTJirak Sub Watershed is one of the resurgence river in Gunungkidul. This river flow into Kalisuci Cave, and becomes an underground river. This underground river is used for tourism activities known as CaveTubing. The main problem of this tourism activities is frequent flood events. This flood comes from input discharge originating from Jirak River as the upstream of Kalisuci Cave. This research aim is to determine the hydrological characteristics of Jirak Sub Watershed in Kalisuci Cave Tourism area with the hope in increasing the understanding of the tourism operators regarding regulation of the flood early warning and evacuation systems. Hydrological characteristics were determined from the discharge rating curve, time lag (Tlag) and effective rainfall (Pe) calculation. The result of this research shows that the time lag between the rain occurrence and early flood occurrence at Jirak Sub Watershed ranged from 2,5 to 3 hours. Fast response of peak discharge indicates that Jirak Sub Watershed has a fast response drainage system to rainfall in rainy season. The effective rainfall percentage was determined from the 17 selected flood hydrograph which the value increased from the early phase until the end of rainy season. This hydrological characteristic of Jirak Sub Watershed can be used by Kalisuci Cave tourism management team as flood early warning and evacuation system.Keywords: flood; hydrological characteristic; time lag; effective rainfall ABSTRAKSub Daerah ALiran Sungai (DAS) Jirak adalah salah satu aliran sungai yang muncul kembali di Gunungkidul. Aliran sungai mengalir ke dalam. Gua Kalisuci, dan menjadi sungai bawah tanah. Sungai bawah tanah ini digunakan untuk kegiatan pariwisata yang dikenal sebagai Cave Tubing. Masalah utama dari kegiatan pariwisata ini adalah terjadinya banjir. Banjir ini berasal dari debit yang berasal dari Sungai Jirak sebagai hulu dari Gua Kalisuci. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik hidrologis Sub DAS Jirak di lokasi Wisata Gua Kalisuci dengan harapan akan menambah pemahaman pengelola wisata Gua Kalisuci terkait pengaturan sistem peringatan dini dan sistem evakuasi ketika terjadi banjir. Karakteristik hidrologi ditentukan dari rating curve, jeda waktu (Tlag) dan perhitungan curah hujan efektif (Pe). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jeda waktu antara kejadian hujan dan kejadian banjir awal di Sub DAS Jirak berkisar antara 2,5 hingga 3 jam. Respon debit puncak yang cepat mengindikasikan bahwa Sub DAS Jirak memiliki sistem drainase yang cepat merespon hujan di musim hujan. Persentase curah hujan efektif ditentukan dari 17 hidrograf banjir terpilih yang nilainya meningkat dari fase awal hingga akhir musim hujan. Karakteristik hidrologi Sub DAS Jirak ini dapat digunakan oleh tim manajemen pariwisata Gua Kalisuci sebagai peringatan dini dan untuk evakuasi ketika banjir terjadi.Kata kunci: banjir; karakteristik hidrologi; jeda waktu; hujan efektif
KETERKAITAN PERILAKU MASYARAKAT DENGAN PENGGUNAAN LAHAN DAN EROSIVITAS LIMPASAN PERMUKAAN DI SUB DAS LESTI, KAB. MALANG (Relationship between community behavior with land use and surface runoff erosivity in Lesti Subwatershed, Malang District) Andi Setyo Pambudi; Setyo Sarwanto Moersidik; Mahawan Karuniasa
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2020.4.2.155-172

Abstract

ABSTRACTThe impact of activities in the watershed, either naturally or due to the role of humans, one of which is erosion. Erosion in watershed scale is related to natural resource management which involves social, economic, and environmental aspects. Lesti Sub Watershed as one of the upstream subwatersheds of the Brantas Watershed plays an important role in erosion contribution to the Sengguruh Reservoir in the downstream. Research related to erosion in the Lesti Sub Watershed so far has only been influenced by physical factors of the watershed such as slope, vegetation, and soil erodibility. The relationship between social aspects of community behavior towards land use choices and the magnitude of runoff erosivity is rarely done. This research attempts to examine this linkage with statistical, hydrological and spatial approaches in the framework of environmental science. The method used is a mixed method with behavioral analysis using cross tabulation, runoff discharge is calculated by the rational formula of modification and runoff erosivity is analyzed using the formula of Williams (1975) and GIS tools. Spatial analysis results show the more negative the community behavior in a district, the higher the runoff erosivity value and is on erosion prone land.Keywords: watershed management; behavior; land use; erosivity ABSTRAK Dampak aktivitas di dalam Daerah Aliran Sungai (DAS), baik alami maupun karena peran manusia salah satunya adalah erosi. Erosi berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam yang melibatkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Perubahan iklim global, meningkatnya jumlah penduduk, dan intensitas kegiatan ekonomi mempercepat perubahan kondisi DAS, termasuk di bagian hulu. Sub DAS Lesti sebagai salah satu Sub DAS di Hulu DAS Brantas berperanan penting dalam menyumbang sedimen sebagai dampak erosi yang tidak terkendali, sehingga berpengaruh terhadap umur guna Waduk Sengguruh di hilirnya. Penelitian terkait erosi di Sub DAS Lesti selama ini hanya dikaitkan dengan faktor-faktor biofisik DAS seperti kemiringan lereng, faktor vegetasi, dan erodibilitas tanah. Keterkaitan aspek sosial, yaitu perilaku masyarakat terhadap pilihan penggunaan lahan dan besarnya erosivitas limpasan adalah hal yang jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan ini dengan pendekatan statistik, hidrologi dan spasial dalam kerangka ilmu lingkungan. Metode yang digunakan adalah mixed method dengan analisis perilaku menggunakan cross tabulation, debit limpasan dihitung dengan persamaan rasional modifikasi dan erosivitas limpasan dianalisis menggunakan rumus Williams (1975) serta tools SIG. Hasil overlay peta erosivitas limpasan permukaan dengan peta perilaku dan tata guna lahan menunjukkan semakin negatif perilaku masyarakat pada suatu kecamatan, maka semakin tinggi nilai erosivitas limpasan dan berada pada lahan yang rentan erosi.Kata kunci: pengelolaan DAS; perilaku; tata guna lahan; erosivitas   
PREDIKSI DEBIT SUNGAI BENGAWAN SOLO MENGGUNAKAN NUMERICAL WEATHER MODEL GLOBAL FORECAST SYSTEM DAN INTEGRATED FLOOD ANALYSIS SYSTEM (Prediction of discharge in Bengawan Solo River using Numerical Weather Model Global Forecast System and Integrated Flood Analysis System) Deffi Munadiyat Putri; Aries Kristianto
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2021.5.1.41-50

Abstract

ABSTRACT Flood is one of the most common hydro-meteorological disasters. Bengawan Solo is one of thewatersheds in Indonesia that also hit by this disaster. This study discusses the flood disaster inthe Bengawan Solo area in early March 2019. The purpose of this study is to conduct adischarge simulation using numerical weather model Global Forecast System (GFS) datathrough Integrated Flood Analysis System (IFAS) so it is possible to predict discharge in thefuture. There are three types of numerical weather model GFS data that have been downscaleusing weather research and forecasting model which differentiated based on spin-up time. Thenumerical weather model product is then used as rainfall data input for IFAS simulation. Basedon the analysis, the flood discharge simulation using an 84-hour spin-up time has a satisfactoryperformance in describing the change in discharge with respect to time. This happens because numerical weather models will be better at quantifying processes that occur on a meso scalewith spatial scale of 10 to 1000 km. The result of this research shows that it is possible to predict river discharge up to 84 hours before the disaster so this is can support the mitigationprocess for hydrometeorological disasters. Keyword: Global Forecast System; Flood Analysis System; spin-up ABSTRAKBanjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang sering terjadi. Bengawan Soloadalah salah satu DAS di Indonesia yang juga dilanda bencana ini. Kajian ini mendiskusikanbencana banjir di kawasan Sungai Bengawan Solo pada awal Maret 2019. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk melakukan simulasi debit dengan menggunakan model cuacanumerik Global Forecast System (GFS) melalui Integrated Flood Analysis System (IFAS)sehingga dimungkinkan untuk adanya kegiatan prediksi debit yang lebih akurat, cepat dantepat pada periode waktu tertentu. Terdapat tiga jenis model cuaca numerik GFS yang telah didownscale menggunakan model Weather Research and Forecasting (WRF) yang dibedakan berdasarkan waktu spin-up. Produk model cuaca numerik tersebut kemudian dijadikan data masukan hujan untuk simulasi IFAS. Berdasarkan analisis diketahui bahwa simulasi debit banjir menggunakan waktu spin-up 84 jam memiliki performa memuaskan dalam menggambarkan perubahan debit terhadap waktu. Hal ini terjadi karena model cuaca numerik akan semakin baik dalam mengkuantifikasi proses yang terjadi dalam skala meso dengan resolusi spasial 10 hingga 1000 km. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa memungkinkan untuk melakukan prediksi debit sungai hingga 84 jam sebelum bencana sehingga hal ini sangat mendukung dalam proses mitigasi becana hidrometorologi.Kata kunci: Global Forecast System; Flood Analysis System; spin-up
IDENTIFIKASI PERILAKU DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENCEMARAN AIR SUNGAI BEDADUNG DI JEMBER, JAWA TIMUR (Identification of communities behavior and perception on water pollution at Bedadung River in Jember, East Java) Amelia Ika Puspitasari; Elida Novita; Hendra Andiananta Pradana; Bambang Herry Purnomo; Titien Setiyo Rini
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2021.5.1.89-104

Abstract

ABSTRACT Bedadung River is used as sources of raw water by The Drinking Water Company (PERUMDAM) and also for agricultural irrigation. The urban segment of Bedadung River flows through Patrang, Sumbersari and Kaliwates Districts.  The burden of pollution in the Bedadung River is increasing along with community activities. Apart from anthropogenic activities originating from domestic waste, sources of pollution in the Bedadung River are also come from agricultural activities (fertilizer and pesticides), industrial activities, population growth, organic and inorganic waste, urban development and weak management systems. The research objectives were to identify the behavior and perception of the urban segment communities on water pollution at Bedadung River. This study used primary data from survey using 400 respondents and secondary data from some institutions. Survey showed that majority of the respondents through away garbage to channel and river, however for feces disposal, 75% of the communities already had toilets. Based on community perceptions the current status of the Bedadung River is 58% polluted, 7% unknown, and 36% is good. This perception is based on Bedadung River water conditions such as the presence of garbage, water clarity and water odor. In order to maintain the environmental quality of the Bedadung River, the community and related stakeholders have carried out river cleaning activities on a sustainable basis. This preliminary study is expected to provide preliminary information on managing community-based river water quality in a sustainable manner.Keyword: Bedadung Watershed; society; environmental quality ABSTRAKSungai Bedadung segmen perkotaan digunakan sebagai air baku Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PERUMDAM) dan juga berfungsi untuk irigasi pertanian. Sungai Bedadung di bagian segmen perkotaan melalui Kecamatan Patrang, Sumbersari dan Kaliwates. Beban pencemaran di Sungai Bedadung semakin meningkat seiring dengan banyaknya kegiatan masyarakat. Selain dari limbah domestik, sumber pencemaran di Sungai Bedadung juga berasal dari kegiatan pertanian (pupuk dan pestisida), kegiatan industri, pertumbuhan penduduk, limbah organik, dan anorganik. Tujuan dari penelitian yaitu melakukan identifikasi perilaku dan persepsi masyarakat wilayah perkotaan terhadap pencemaran air Sungai Bedadung. Studi ini didasarkan kepada data primer yang dilakukan melalui survey dan wawancara terhadap 400 responden dan data sekunder dari beberapa institusi. Survei menunjukkan bahwa sebagian besar responden membuang sampah ke saluran-saluran air dan langsung ke sungai. 75% responden sudah mempunyai WC dengan peresapan untuk pembuangan tinja. Berdasarkan persepsi masyarakat, 58% menilai keadaan Sungai Bedadung saat ini adalah tercemar, hanya 36% yang menyatakan kondisi baik, sedangkan 7% tidak tahu. Persepsi tersebut berdasarkan kondisi air Sungai Bedadung seperti keberadaan sampah, kejernihan air serta bau air. Selain pengelolaan sampah dan sanitasi yang kurang baik, keberadaan industri kecil di sekitar Sungai Bedadung juga memberikan kontribusi terhadap kondisi lingkungan sungai. Guna menjaga kualitas lingkungan Sungai Bedadung, masyarakat dan stakeholder terkait telah melakukan kegiatan pembersihan sungai dari sampah secara kontinyu. Kajian awal ini diharapkan dapat menjadi informasi awal dalam pengelolaan kualitas air sungai berbasis masyarakat secara berkelanjutan.Kata kunci: DAS Bedadung; masyarakat; kualitas lingkungan
PENILAIAN INDEKS KERENTANAN SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN RISIKO LONGSOR DI KECAMATAN BANJARMANGU KABUPATEN BANJARNEGARA JAWA TENGAH (Vulnerability index assessment as landslide risk reduction in Banjarmangu District Banjarnegara Central Java) Baharinawati Wilhan Hastanti,; Arina Miardini
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2021.5.2.155-170

Abstract

ABSTRACT Landslide vulnerability index assessment is needed to reduce the disaster risk. The vulnerability of landslides in Banjarmangu District is calculated based on the results of the indexes of social, economic, physical, and environmental vulnerabilities. This study aims to determine the value of landslide vulnerability index in Banjarmangu Subdistrict, Banjarnegara Regency, referring to the Regulation of the Head of BNPB No.2 of 2012 concerning General Guidelines for Disaster Assessment which assesses landslide vulnerability using variables of social, economic, physical, and environmental vulnerabilities. The value of the vulnerability index is expressed on a numerical scale from 0 to 1 depending on the intensity of the landslide that occurred. The landslide vulnerability index assessment ranges from 0.37 to 0.91. 12.78% out of the total area is classified as very high (Kesenet and Kalilunjar Villages), 57.86% as high (Jenggawur, Beji, Sijenggung, Sipedang, Banjarmangu, Rejasari, Sigeblog, Paseh and Kendaga), 15.32% as moderate (Pekandangan, Banjarkulon and Sijeruk), and 14.02% as low (Majatengah, Gipit, and Prendengan). The implications of this study are used as a basis for policy considerations for landslide disaster mitigation to minimize the risks and losses incurred. One of the functions of the disaster vulnerability index is to serve as a warning and consideration in policy making and disaster management actions. Each region has different vulnerability index. Communities with high-risk disaster vulnerability are expected to be treated differently in handling disaster compared to the lowrisk vulnerability communities. Therefore, people who live in areas with high vulnerability values should increase the preparedness against landslides.Keywords: vulnerability; landslides; risk management; Banjarmangu ABSTRAKPenilaian indeks kerentanan longsor sangat diperlukan dalam upaya pengurangan risiko bencana. Kerentanan bencana tanah longsor di Kecamatan Banjarmangu dihitung berdasarkan hasil perhitungan indeks kerentanan sosial, kerentanan ekonomi, kerentanan fisik, dan kerentanan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai indeks kerentanan tanah longsor di Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, mengacu pada Peraturan Kepala BNPB Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Bencana. Penilaian kerentanan bencana tanah longsor menggunakan variabel kerentanan sosial, kerentanan ekonomi, kerentanan fisik, dan kerentanan lingkungan. Nilai indeks kerentanan dinyatakan dalam skala numerik dari 0 sampai 1 bergantung pada intensitas longsor yang terjadi. Hasil penilaian indeks kerentanan longsor berkisar antara 0,37-0,91 dengan rincian 12,78% dari total luas wilayah tergolong sangat tinggi (Desa Kesenet dan Kalilunjar), 57,86% tinggi (Jenggawur, Beji, Sijenggung, Sipedang, Banjarmangu, Rejasari, Sigeblog, Paseh dan Kendaga), 15,32% Sedang (Pekandangan, Banjarkulon dan Sijeruk), 14,02% Rendah (Majatengah, Gipit, dan Prendengan). Implikasi hasil penelitian ini adalah sebagai dasar pertimbangan kebijakan untuk mitigasi bencana longsor untuk meminimalkan risiko dan kerugian yang ditimbulkan. Salah satu fungsi indeks kerentanan bencana adalah menjadi peringatan (warning) dan bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dan tindakan penanganan bencana. Setiap daerah mempunyai indeks kerentanan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Masyarakat dengan kerentanan bencana yang tinggi dengan masyarakat kerentanan yang rendah diharapkan diperlakukan secara berbeda dalam penanganan tergantung pada tingkatan resikonya terhadap bencana tersebut. Oleh sebab itu masyarakat yang tinggal pada daerah dengan nilai kerentanan yang tinggi maka perlu meningkatkan kesiapsiagaan yang lebih tinggi terhadap terjadinya bencana longsor. Kata kunci: kerentanan; longsor; manajemen risiko; Banjarmangu
PREDIKSI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DENGAN MODEL MARKOV CHAIN DAN ANN-MARKOV DI DAS KRUENG ACEH (Land cover change prediction using Markov Chain and ANN-Markov Model in Krueng Aceh Watershed) Yudi Armanda Syahputra; Muhammad Buce Saleh; Nining Puspaningsih
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2021.5.2.185-206

Abstract

ABSTRACT Prediction of land cover change will be a consideration in determining the development strategy in the future. There are many methods for predicting  land cover change. It depends on data availability, model algorithms and output needed. The objective of this reasearch was to predict land cover change from 2007 to 2020 in the Krueng Aceh watershed. The method used remote sensing and GIS.  The Markov Chain (MC) and Artificial Neural Network-Markov (ANN-M) models were used to understand the spatio-temporal dynamics of land cover. The accuracy of the classified imagery was obtained from on-screen digitation using  medium resolution landsat-8 OLI image in 2020 with Kappa Accuracy around 84%. Both prediction algorithms used year 2007 (T1) and year 2017 (T2) land cover data to calculated the probability of land cover change prediction in year 2020 (T3). The Kappa Accuracy of both models shows a strong correlation between the simulated land cover maps and the results of visual interpretation (ANN=87.81% and MC=88.69%), this proves high accuracy of both models. Key words: model; ANN-Markov; landcover change prediction; Markov Chain ABSTRAKPrediksi perubahan tutupan lahan yang baik akan menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi pembangunan di masa depan. Terdapat banyak metode dalam melakukan prediksi perubahan tutupan lahan yang tergantung pada kebutuhan data, algoritma pemodelan yang dilakukan dan output apa saja yang diperlukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji model prediksi perubahan tutupan lahan dari tahun 2007 hingga 2020 di DAS Krueng Aceh. Pendekatan yang dilakukan menggunakan penginderaan jauh dan SIG. Model Markov Chain (MC) dan Artificial Neural Network-Markov (ANN-MC) digunakan untuk memahami dinamika spatio-temporal tutupan lahan. Akurasi dari citra penginderaan jauh yang diklasifikasikan diperoleh dari hasil interpretasi visual pada citra resolusi sedang Landsat OLI tahun 2020 dengan nilai Kappa Accuracy sebesar 84%. Kedua model prediksi menggunakan data tutupan lahan tahun 2007 (T1) dan 2017 (T2) untuk membuat probabilitas perubahan yang digunakan dalam memprediksi tutupan lahan pada tahun 2020 (T3). Validasi kedua algoritma menunjukkan korelasi yang kuat dengan peta tutupan lahan 2020, hal tersebut membuktikan kehandalan model kedua simulasi (ANN=87,81% dan MC=88,69%).Kata kunci: model; ANN-Markov; prediksi tutupan lahan; Rantai Markov
PENDUGAAN ALIRAN DASAR (BASEFLOW) DI DAERAH TANGKAPAN AIR WADUK GAJAH MUNGKUR DI HULU DAS BENGAWAN SOLO, JAWA TENGAH. (Estimating baseflow for a catchment area of Gajah Mungkur Reservoir in the upstream of Bengawan Solo watershed, Central Java) Prasetyo Nugroho; Hatma Suryatmojo; Giska Parwa Manikasari; Hafsa Nur Afisena
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2021.5.2.141-154

Abstract

ABSTRACT The upstream area of watersheds has a strategic role in controlling the water cycle, including controlling direct runoff to increase base flow and guide the fluctuation of river discharge. The objective of this study is to determine the base flow of Gajah Mungkur catchment area, which is located in the upper stream of the Bengawan Solo watershed, after 18 years of rehabilitation. To understand the base flow, river discharge measurements for 4 months were carried out at the River Discharge Observation Station (SPAS) which are equipped with automatic rainfall and water level recorders. Data analysis includes vegetation analysis, river discharge analysis, hydrograph analysis, and baseflow index (BFI) analysis. The total rain during the study was 45.8 mm and the average air temperture was 22.45˚ C. The pine forest density varied from low to high, with tree densities ranging from 569 - 919 trees/hectare. Results show that the BFI value in April-August 2017 is 44.63%. The increase of trees age in the Gajah Mungkur catchment area followed by changes in stand structure is considered to increase the ability of buffering capacity and regulating the area's water cycle.Keywords: base flow, pine forest, upstream, forest rehabilitation. ABSTRAKKawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) memiliki peran strategis dalam pengendalian daur air, diantaranya adalah perannya dalam mengendalikan aliran permukaan untuk meningkatkan aliran dasar (baseflow) dan menjaga fluktuasi aliran sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya aliran dasar setelah 18 tahun direhabilitasi dengan studi kasus di DTA Gajah Mungkur yang terletak di hulu DAS Bengawan Solo. Pengukuran debit aliran selama 4 bulan dilakukan di Stasiun Pengamatan Aliran Sungai (SPAS) yang dilengkapi dengan alat perekam hujan dan debit aliran otomatis. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis vegetasi, analisis debit aliran sungai, analisis hidrograf aliran dan analisis Baseflow Index. Total hujan selama penelitian yaitu 45,8 mm dengan suhu udara rata-rata 22,45˚C. Kondisi kerapatan tegakan bervariasi dari kerapatan rendah sampai dengan tinggi, dengan kerapatan pohon berkisar antara 569 -  919 pohon/ ha. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai BFI pada bulan April-Agustus 2017 yaitu 44,63%. Pertambahan umur tegakan di DTA Gajah Mungkur sampai pada umur 18 tahun diikuti dengan perubahan struktur tegakan sehingga diduga berdampak pada meningkatnya kemampuan penyangga dan pengaturan daur air kawasan. Kata kunci: aliran dasar; hutan pinus; hulu daerah aliran sungai; rehabilitasi hutan
THE EFFECT OF ADSORBENT AGENTS: SILICA, ANDISOL, LECA, ANTHRACITE, AND ACTIVATED CARBON ON POLLUTANT UPTAKE IN THE CITARUM RIVER (Pengaruh agen penjerap silika, andisol, LECA, antrasit, dan karbon aktif terhadap penjerapan polutan di Sungai Citarum) Fahriya Puspita Sari; Nissa Nurfajrin Solihat; Muhammad Sholeh; Lucky Risanto; Fitria Fitria; Faizatul Falah; Widya Fatriasari
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2021.5.2.105-120

Abstract

ABSTRACT  Citarum is the longest and largest river in West Java-Indonesia which plays a critical role in the water supply. Water treatment is needed to process the Citarum water due to its  pollutants have been over standard for human consumption. Nowadays, the adsorption process is still popular in water treatment process because of its effectiveness. In this study, the effectivity of five adsorbents on Citarum water treatment: silica, andisol, LECA (Light Expanded Clay Aggregate), anthracite, and activated carbon has been evaluated with variable contact time and solid loading. After treatment, turbidity and heavy metal of filtrate were analyzed. Surface characteristics, functional group, and surface area of five adsorbents were done by FE-SEM (Field Emission - Scanning Electron Microscopes), FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy), and BET (Brunauer-Emmett-Teller) surface area analysis, respectively. The result showed that andisol and LECA decreased turbidity of Citarum water from 21.30 NTU (Nephelometric Turbidity Unit) to 1.23 and 2.52 NTU after 10 min contact time. Activated carbon was taking another 10 min longer to decrease turbidity to 2.26 NTU yet it has the highest surface area, 548.31 (m2/g). Surface area was in correlation with FE-SEM result where activated carbon has a more regular and larger pore size compared to others adsorbent. In general, andisol, LECA, activated carbon were successful to decrease turbidity of Citarum water which correlated to their paricles’ surface area. Keywords: adsorption; Citarum water river; adsorbents; pore size ABSTRAKSungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat, Indonesia yang mempunyai fungsi vital sebagai sumber air. Pengolahan air sungai Citarum sebelum disalurkan ke masyarakat diperlukan untuk menghilangkan pengotor karena kandunganpengotor pada air sungai Citarum melebihi batas ambang yang dipersyaratkan untuk air konsumsi. Saat ini proses penjerapan atau adsorpsi merupakan proses yang umum digunakan pada perusahaan pegolahan air karena efektifitasnya. Pada penelitian ini, efektifitas lima agen penjerap yaitu  silika, andisol, hidroton, antrasit, karbon aktif teladievaluasi dengan perbedaan rasio padatan dan larutan, dan waktu kontak. Setelapengolahan, kekeruhan dan logam berat dalam air dianalisa. Karakteristik permukaan, gugus fungsi, dan luas permukaan dari kelima agen penjerap dianalisa masing-masing menggunakan FE-SEM (Field Emission - Scanning Electron Microscopes), FTIR (FourieTransform Infrared Spectroscopy), dan analisa luas permukaan BET (Brunauer-EmmettTeller). Hasil analisa menunjukan bahwa masing-masing andisol dan LECA menurunkankekeruhan dari air Citarum dari 21.30 NTU (Nephelometric Turbidity Unit) menjadi 1.23 da2.52 NTU setelah waktu kontak 10 menit. Karbon aktif membutuhkan waktu 10 menit lebih lama untuk menurunkan kekeruhan menjadi 2.26 NTU akan tetapi karbon aktif memiliki luas permukaan yang paling tinggi yaitu 548.31 (m2/g). Luas permukaan berkaitan dengan hasil FE-SEM dimana karbon aktif memiliki pori yang teratur dan berukuran besar. Padaumumnya, andisol, LECA, dan karbon aktif telah berhasil menurunkan kekeruhan air Sungai Citarum yang berkaitan dengan luas permukaan partikelnya.Kata kunci: agen penjerap; air sungai Citarum; penjerapan; luas permukaan.
BEBERAPA SKENARIO PENGGUNAAN LAHAN UNTUK PERBAIKAN KONDISI HIDROLOGI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI CIDURIAN (Land use scenarios for hydrological conditions improvement in Cidurian Watershed) kartika triasary; Muhammad Yanuar Jarwadi Purwanto; Suria Darma Tarigan
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2021.5.2.121-140

Abstract

ABSTRACT Cidurian Watershed is one of the watersheds in Java Island that is classified as a watershed to be restored. The performance of Cidurian Watershed, from upstream to downstream, is classified as poor. This research aims to 1) assess the hydrological characteristics of Cidurian Watershed using the SWAT (Soil and Water Assessment Tool) hydrological model; 2) assess the hydrological performance based on the prepared simulation scenarios; and 3) formulate successful strategies of Land and Forest Rehabilitation for Cidurian Watershed based on the best scenario. Various land use and management scenarios were simulated using SWAT to estimate their impact on the hydrological characteristics of the Cidurian Watershed. The applied scenarios are as follows: 1) Implementation of Spatial Planning of Banten and West Java Province; 2) Implementation of Forest and Land Rehabilitation with vegetative planting and; 3) Implementation of Forest and Land Rehabilitation for vegetative planting and combined with Soil and Water Conservation measures. The calibration and validation of the model showed a satisfactory category with NSE values of 0.53 and 0.50, respectively. All scenarios result in a better improvement on hydrological responses compared to the existing conditions in 2020. The surface runoff and sediment yield decreased and the lateral flow and base flow increased. The scenarios reduced the value of the Annual Flow Coefficient and Flow Regime Coefficient. Implementation of Forest and Land Rehabilitation and Soil and Water Conservation is the best scenario with Annual Flow Coefficient and Flow Regime Coefficient values 0,27 and 22.40.Keywords: Cidurian Watershed; land and forest rehabilitation; SWAT model; water and soil conservation ABSTRAK Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidurian merupakan salah satu DAS di Pulau Jawa dengan kategori sebagai DAS yang dipulihkan. Kinerja DAS Cidurian secara umum dari hulu sampai dengan hilir termasuk dalam klasifikasi kategori buruk. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengkaji karakteristik hidrologi DAS Cidurian menggunakan model hidrologi SWAT; 2) mengkaji kinerja hidrologi berdasarkan skenario simulasi yang disusun; dan 3) menyusun strategi keberhasilan Rehabilitasi Hutan dan Lahan pada DAS Cidurian berdasarkan scenario terbaik. Berbagai skenario penggunaan lahan dan pengelolaannya diujicobakan menggunakan model SWAT (Soil and Water Assessment Tool) untuk menduga dampak penerapannya terhadap karakteristik hidrologi pada DAS Cidurian. Skenario yang diaplikasikan adalah sebagai berikut: 1) Implementasi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Provinsi Banten dan Jawa Barat; 2) Implementasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan dengan penanaman vegetatif dan; 3) Implementasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan penanaman vegetatif dan Konservasi Tanah dan Air secara vegetatif dan sipil teknis. Kalibrasi dan validasi dari model menunjukkan kategori memuaskan dengan nilai NSE (Nash-Sutcliffe Efficiency) 0,53 dan 0,50. Semua skenario menunjukkan peningkatan respon hidrologi dibandingkan dengan kondisi eksisting tahun 2020. Ketiganya memberikan respon limpasan permukaaan dan hasil sedimen yang menurun serta aliran lateral dan aliran dasar yang meningkat. Semua skenario ini menurunkan nilai Koefisien Aliran Tahunan (KAT) dan Koefisien Regim Aliran (KRA). Skenario penerapan kombinasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan penanaman vegetative dan Konservasi Tanah dan Air menjadi skenario terbaik dengan nilai KAT 0,27 (kategori rendah) dan KRA 22,40 (kategori rendah).Kata kunci: DAS Cidurian; konservasi tanah dan air; model SWAT; rehabilitasi hutan dan lahan
KARAKTERISTIK HIDROLOGI DAN DAMPAKNYA TERHADAP BANJIR DAERAH ALIRAN SUNGAI JAMBO AYE DI ACEH INDONESIA (Hydrological Characteristics And Its Impact On Flood Jambo Aye Basin In Aceh Indonesia) Cut Azizah; Hidayat Pawitan; Nuraida Nuraida; Halus Satriawan; Rahmat Abbas; Sarif Robo; Misnawati Misnawati
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Managem
Publisher : Center for Implementation of Standards for Environmental and Forestry Instruments Solo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2021.5.2.171-184

Abstract

ABSTRACT The increase in damage are experienced by many watershed due to human interactions and interventions which impacted in the hydrological balance that may lead to disasters. Flooding is a routine hydrological disaster that occurs in the Jambo Aye Basin. This study aims to analyze the relationship of the hydrological characteristics of the Jambo Aye Basin to the potential and occurrence of floods. Characteristics of slope, soil movement, hydrological soil group (HSG) analysis, antecedent precipitation index (API) and runoff curves are used as hydrological indicators to identify potential flooding in the watershed. The analysis show that the Jambo Aye Basin is proned to flooding. The potential for inundation floods is found in the downstream area which has the characteristics of gentle slopes (12%), very low infiltration capacity (37,95%), high runoff curve values (17%) and high levels of wetness (26%). Flash floods have the potential to occur in the upstream area which has the characteristics of steep slopes, soil movement and high rainfall. Integrated watershed management needs to be carried out in the Jambo Aye Basin considering the frequent occurrence of floods. Keywords: antecedent precipitation index; flash floods; flood; curve numbers; land use ABSTRAKDaerah Aliran Sungai (DAS) mengalami peningkatan kerusakan akibat hubungan dan interferensi manusia yang berdampak pada kesetimbangan hidrologi sehingga terjadi bencana. Bencana banjir yang merupakan bencana hidrologi rutin terjadi di DAS Jambo Aye. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan karakteristik hidrologi DAS Jambo Aye terhadap potensi dan kejadian banjir di wilayah DAS Jambo Aye. Karakeristik kemiringan lereng, pergerakan tanah, analisis kelompok hidrologi tanah (HSG), Antecedent Precipitation Index (API) dan kurva limpasan digunakan sebagai indikator hidrologi untuk mengidentifikasi potensi banjir yang terjadi di DAS Jambo Aye. Analisis menunjukkan DAS Jambo Aye termasuk wilayah yang berpotensi mengalami banjir. Potensi banjir genangan terdapat di wilayah hilir yang mempunyai karakteristik lereng landai (12%), kapasitas infiltrasi sangat lambat (37,95%), nilai kurva limpasan tinggi (17%) dan tingkat kebasahan yang tinggi (26%). Banjir bandang berpotensi terjadi di wilayah hulu yang mempunyai karakteristik lereng curam, adanya pergerakan tanah dan curah hujan yang tinggi. Pengelolaan DAS perlu dilakukan di DAS Jambo Aye mengingat kejadian banjir yang sering terjadi. Kata kunci: antecedent precipitation index; banjir bandang; banjir; curve number; penggunaan lahan