cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)" : 7 Documents clear
MODEL PRODUKSI DAN LAJU TANGKAP KAPAL BOUKE AMI YANG BERBASIS DI PPN KEJAWANAN, CIREBON JAWA BARAT Setya Triharyuni; Wijopriono Wijopriono; Andhika Prima Prasetyo; Reny Puspasari
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.287 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.3.2012.135-143

Abstract

Jaring bouke ami merupakan alat tangkap yang diklasifikasikan sebagai jaring angkat (lift Net) dengan target tangkapan cumi-cumi. Cirebon merupakan salah satu tempat pendaratan ikan yang didominasi kapal bouke ami. Penelitian model produksi dan laju tangkap kapal bouke ami yang berbasis di PPN Kejawanan Cirebon dilakukan pada bulan Juni dan Agustus 2011. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hasil tangkapan, model dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan serta laju tangkap kapal bouke ami. Analisis model produksi yang digunakan adalah model Cobb Douglas. Data yang dikumpulkan meliputi data spesifikasi kapal, produksi per jenis ikan, jumlah kapal dan total tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan utama dari jaring bouke ami adalah cumi-cumi, dengan komposisi hasil tangkapan rata-rata sebesar 60,51% dari total hasil tangkapan. Analisis model produksi menunjukkan bahwa variable ukuran kapal (GT) berpengaruh secara signifikan (P<0,1) terhadap hasil tangkapan dengan persamaan  (Fhitung = 2,111> F tabel=2,073) dan nilai  koefisien determinasi  (R2)  sebesar  0,53. Rata-rata laju tangkap jaring bouke ami tahun 2006-2010 adalah sebesar 6,72 ton/trip dengan laju tangkap cumi-cumi sebesar 3.907,5 kg/trip  atau sebesar 58,5% dari total laju tangkap. Stick held dip net, classified as lift net is one of fishing gears used to catch squid as target species. Cirebon is one of fishing port for stick held dip net. The number of stick held dip net landed at Kejawanan Fishing Port is dominant. A study aimed to reveal information about catch, production factors that affecting the catch and  catch  rate  of  stick held dip net has been conducted in June and August 2011. Vessel specification, production by species and the number of vessel data were collected. Production model of the stick held dip net was analysed using Cobb Douglas model. The results showed that catch composition was dominated by squids with an average catch of squid reached up to 60,51% of the total catch. The model production showed that the variable size of the vessel (GT) was significantly affected the catch (P <0,1) following the equation   (F value=2,111> F table =2,073, R2=0,53. An average catch rate of stick held dip net in the period 2006-2010 was 6,72 ton/trip with an average catch rate of squid was 3.907,5 kg/trip or 58,5% from the total catch rate. 
MODEL PENDUGAAN PRODUKTIVITAS PERIKANAN PUKAT CINCIN DI LAUT JAWA Andhika Prima Prasetyo; Hanggar Prasetio Kadarisman; Setya Triharyuni; Puput Fitri Rachmawati; Suwarso Suwarso; Andria Ansari Utama
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.361 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.3.2012.187-195

Abstract

Produktivitas perikanan dipengaruhi banyak faktor, salah satu faktor adalah upaya dan lingkungan yang meliputi suhu permukaan laut (SPL), ketinggian permukaan laut (KPL), klorofil-a, angin, arus, SOI, DMI dan curah hujan. Faktor-faktor tersebut terlebih dahulu diuji multikolinearitas kemudian dianalisis komponen utama untuk mereduksi faktor. Selanjutnya faktor terpilih menjadi masukan bagi jaringan syaraf tiruan (JST) dengan bantuan Forecaster XL. Data yang digunakan merupakan data runtun waktu bulanan selama 16 tahun (1996 - 2011) untuk menyusun model pendugaan dan memvalidasi produktivitas pukat cincin pada tahun 2011. Hasil analisis menunjukkan 9 faktor yang diduga berpengaruh bersifat saling bebas, dan kemudian disederhanakan menjadi 4 faktor dengan PCA. Hasil training data dengan JST diperoleh koefisien pendugaan produktivitas terbaik, dengan nilai korelasi (r) dan Root Mean Square Error (RMSE) berturut-turut sebesar 78.03% dan 48.93%. Fisheries productivity are effected by many factor, such as effort and environment factors; including SST, SSH, chlorophyll-a, wind, current, SOI, DMI and rainfall. That factors are tested by multicolinearity analysis and principle component analysis (PCA) first, to reduce factors. Furthermore, simplified factors will entered to Forcaster XL for artificial neural network (ANN) analysis. This analysis was used monthly time series for 16 years (1996-2011), as a prediction target is purse seine productivity in 2011 and will validated by actual values. Results show that 9 factors were independently (no multicolinearity), furthermore that factors was simplified to 4 factors using PCA. ANN training resulted the best fit coefficient to predict productivity which have correlation value (r) and Root Mean Square Error (RMSE) 78.03% and 48.93% respectively.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN PASCA PENEBARAN IKAN PATIN (PANGASIANODON HYPOPHTHALMUS) DI SITU PANJALU, KABUPATEN CIAMIS – JAWA BARAT Andri Warsa; Kunto Purnomo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.606 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.3.2012.145-156

Abstract

Situ Panjalu merupakan perairan yang subur dengan luas 45 ha dan kedalaman 2–4 m terletak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Perairan ini mempunyai keanekaragaman jenis ikan yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas ikan pasca penebaran ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus)) di Situ Panjalu. Penelitian dilakukan dengan pemasangan jaring insang percobaan di stasiun  Cukang Padung, Wisata, Kampung Dukuh dan Banjar Waru pada Bulan Agustus dan Oktober 2009 dan Juni, Agustus dan Oktober 2010. Hasil tangkapan ikan juga diperoleh dari hasil tangkapan nelayan yang dicatat oleh enumerator. Hasil tangkapan jaring insang percobaan diperoleh 14 jenis dan yang dominan adalah oscar (Amphilophus citrinellus) (26%) dan nila (Oreochromis niloticus) (44%). Kedua jenis ikan tersebut masuk kedalam kategori sering tertangkap (60 – 80%) dan mempunyai nilai indeks relatif penting (66,81 dan 19,81%). Secara umum ikan di Situ Panjalu paling banyak tertangkap pada jaring insang dengan ukuran mata jaring 1,5 – 1,75 inci. Produksi ikan menurun dari 27,7 ton pada 2007 menjadi 14,9 ton pada tahun 2011. Hasil tangkapan persatuan upaya sebesar 2,4 kg/hari/nelayan dengan jenis ikan yang dominan tertangkap adalah oscar dan nila. Kurva rasio kelimpahan dan biomassa ikan dengan nilai W statistik sebesar -0,09 menunjukkan bahwa struktur komunitas ikan di Situ Panjalu berada dalam keadaan terganggu (disturbed condition). Nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 0,701 – 2,309 yang menandakan adanya dominasi oleh oscar dan nila.Lake Panjalu is a eutrophic water body with a surface water area about 45 ha and 2 – 4 m depth, located at Ciamis Regency -West Java. The lake have high fish diversity. The aim of the research was to investigate community structure of fish after introduction of striped catfish (Pangasianodon hypophthalmus) in the lake. The experimental gillnet sampling was done at Cukang Padung, Wisata, Kampung Dukuh and Banjar Waru in August and October 2009 and June, August and October 2010. Fish yield data was also collected dailly by enumerator from the fishers catches. The result showed that there are 14 fish species caught by the experimental gillnet with oscar (Amphilophus citrinellus) and nile tilapia (Oreochromis niloticus) dominated the catches for about 26 and 44% of the total catches, respectively. The two species are categorized into frequently caught (60 – 80%) with an importance relative index of 66,81 and 19,81%, respectively. Generally, the fish species were frequently caught by gillnet with mesh size 1,5  - 1,75 inches. Fish yield of the lake were decreased from 27,7 tonnes in 2007 to 14,9 tonnes in 2011 with an average catch per unit of effort is 2,4 kg/day/fisher. Based on  comparison of abundance – biomass curve with W statistic value – 0.09, fish community structure of the lake was classified in disturbed condition. The value of diversity index were between 0.701 – 2.309 which is indicated by dominances of oscar and nile tilapia. 
KOMPETISI DAN INTERAKSI PERIKANAN: STUDI KASUS PADA PERIKANAN LAYANG (Decapterus spp.) DI LAUT JAWA Suherman Banon Atmaja; Bambang Sadhotomo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.782 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.3.2012.197-204

Abstract

Ko-eksistensi dua jenis perikanan komersial yang hidup berdampingan, perikanan pukat cincin semi industri (perikanan berskala besar) dan perikanan berskala kecil, bersaing dalam pemanfaatan sumber daya ikan pelagis kecil. Stok ikan yang dapat dieksploitasi adalah kuantitas yang berubah, tergantung pada intensitas penangkapan. Interaksi biomassa dengan upaya penangkapan menunjukkan bahwa kenaikan mortalitas penangkapan (atau upaya penangkapan) akan diikuti dengan penurunan biomassa.  Kompetisi diperlihatkan oleh interaksi teknologi, dimana peningkatan aktivitas perikanan pukat cincin semi industri akan meningkatkan mortalitas penangkapan dan hasil tangkapannya, sebaliknya hasil tangkapan pukat cincin mini dan skala kecil terus menurun.  Hal ini dapat diartikan bahwa perikanan skala kecil (pukat cincin mini dan tradisional) harus lebih memperhatikan peningkatan aktivitas perikanan pukat cincin semi industri. Co-existence of two types of commercial fisheries, semi-industrial and small-scale purse seiners, to compete in the utilization of small pelagic fish resources.  Stock of fish exploited can change in quantity, depend on fishing intensity.   Interaction between biomass and  fishing effort showed that together with increasing fishing mortality (or fishing effort) will be followed by decreasing of the biomass.  The competition was showed by technological interaction, where increasing activity of semi industrial purse seine will increase fishing mortality and increase it’s yields.  On the contrary, yield of mini purse seine and small scale always declines.  It’s mean that  small scale fisheries  (mini purse seine and tradisional) have to more notice the increasing activities of purse seine semi industry. This can be interpreted that small scale fishery (mini purse seine and traditional) have to be more pay attention on the  increasing of  semi industrial purse seine. 
PERIKANAN PANCING ULUR DI SAMUDERA HINDIA: HASIL TANGKAPAN IKAN BERPARUH YANG DIDARATKAN DI SENDANGBIRU, MALANG, JAWA TIMUR Agustinus Anung Widodo; Budi Iskandar Prisantoso; Suprapto Suprapto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.14 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.3.2012.167-173

Abstract

Kelompok Kerja Komisi Tuna Samudera Hindia untuk Ikan Berparuh ke IX merekomendasikan pentingnya informasi hasil tangkapan dari perikanan tradisional dalam rangka melakukan pengkajian stok di Samudera Hindia. Salah satu perikanan tradisional yang menghasilkan tangkapan ikan berparuh adalah pancing ulur. Sejak 1997 telah berkembang teknologi pancing ulur dengan target tangkapan utama ikan tuna. Armada pancing ulur yang beroperasi di Samudera Hindia dan berbasis di Sendangbiru menggunakan alat bantu penangkapan rumpon. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui teknologi alat tangkap, jumlah hasil tangkapan, musim penangkapan, komposisi jenis, dan distribusi ukuran ikan berparuh yang tertangkap pancing ulur dilakukan di Sendangbiru, Malang, Jawa Timur pada Februari-November 2009. Data primer yang meliputi jenis dan ukuran ikan dikumpulkan dari kegiatan pengambilan contoh, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari laporan di pelelangan ikan. Data sekunder meliputi informasi teknologi pancing ulur, trip penangkapan, jenis dan jumlah ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hasil tangkapan ikan berparuh sebanyak 5,97% dari total hasil tangkapan. Ikan berparuh tertangkap sepanjang tahun dengan puncaknya pada Mei. Komposisi jenis ikan berparuh meliputi 61,41% setuhuk hitam, 20,50% ikan pedang, 14,36% ikan layaran, 2,29% setuhuk loreng dan 1,43% setuhuk biru. Ukuran ikan berparuh menurut panjang cagak paruh bagian bawah berkisar antara 83 - 151 cm, 112 - 121 cm, 71 - 201, dan 101 - 161 cm masing-masing untuk setuhuk loreng, ikan tumbuk,  ikan pedang dan ikan layaran. The 9th Working Group on Billfish in 2011 recommended that the information on billfish exploitation of traditional fisheries around Indian Ocean especially an assessmet of the fish stock is very important. Hand line is one of the fishing gears used in traditional fisheries of billfish.  This fishing technique targeting on tuna has been developed since 1997. The hand line fleets based at Sendangbiru, Malang that operated in the Indian Ocean were using FADs. This research was conducted in this area to reveal the hand line fishing gear technology, fishing season, number of catch, catch composition and fish size distribution of billfish. The primary data composting of fish species and the size as well as fishing contruction was collected by sampling at the fish landing. Whilst the secondary data consisting of number of trip, species and number of fish was collected from fish auction records. Results show that the percentage of the billfish was 5.97% from total catch. Generally, billfish was caught all the year, with the peak season was in May. The billfih composition consisted of 61.41% black marlin, 20.50% swordfish, 14.36% sailfish, 2.29% striped marlin, and 1.43% blue marlin. The size of billfish measured by lower jaw fork length ranges between 83 - 151 cm, 112 - 121 cm, 71 - 201 and 101 - 161 for striped marlin, shortbill spearfish, swordfish and sailfish, respectively.
PRODUKTIVITAS KAPAL PUKAT CINCIN PADA PERIKANAN LEMURU YANG BEROPERASI PADA KONDISI IKLIM YANG BERUBAH DI SELAT BALI Purwanto Purwanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.183 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.3.2012.175-186

Abstract

Salah satu permasalahan yang dihadapi nelayan di Selat Bali terkait dengan dampak variabilitas iklim adalah penurunan drastis hasil tangkapan pukat cincin pada saat La Niña yang menyebabkan kerugian ekonomi. Untuk memprediksi dampak tersebut, telah dilakukan analisis mengenai hubungan antara variabilitas iklim dengan produktivitas kapal pukat cincin di Selat Bali. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa produktivitas kapal dipengaruhi oleh variabilitas iklim dan upaya penangkapan. Pengaruh variabilitas iklim terhadap produktivitas kapal ditunjukkan secara sangat nyata oleh southern oscillation index (SOI). Produktivitas kapal dengan variabilitas musim tahun sebelumnya maupun Dipole Mode Index tidak menunjukkan hubungan yang nyata. Hubungan yang sangat nyata terjadi antara produktivitas kapal dengan rata-rata SOI enam-bulan pertama pada tahun yang sama. Oleh karena itu, nilai rata-rata SOI enam-bulan pertama dapat digunakan untuk memprediksi produktivitas tahunan kapal. One problem faced by fishers in Bali strait relating to the impact of climate variability was the drastic decline in purse siners’ catch during La Niña episode that caused economic losses. To predict the impacts, this study analysed the relationship between the climate variability and the productivity of purse seine vessels operated in the Bali strait. The result of statistical analysis shows that the vessel productivity was affected by climatic variability and fishing effort. The impact of climate variability on the vessel productivity was high-significantly indicated by the Southern Oscillation Index (SOI). Meanwhile, the relationship between the vessel productivity and climatic variability of the previous year nor the Dipole Mode Index was not significant. Furthermore, there was a highly significant relationship between the vessel productivity and the average SOI in the first six-month of the same year. Therefore, the average SOI in the first six-month of the year could be used to predict the annual vessel productivity.
DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL JUVENIL UDANG DALAM KAITANNYA DENGAN LINGKUNGAN PERAIRAN DI TELUK JAKARTA Adriani Sri Nastiti; Bambang Sumiono; Achmad Fitriyanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1249.754 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.3.2012.157-166

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji distribusi spasial dan temporal juvenil udang dalam kaitannya dengan kondisi lingkungan perairan di Teluk Jakarta. Penelitian dilaksanakan di wilayah timur Teluk Jakarta dengan metode survei, pada bulan April, Juni, Agustus dan Oktober 2010 di 7 lokasi, yaitu: Muara Gembong, Tanjung Gembong, Muara Karawang, Tanjung Karawang, Muara Grobak, Muara Beuting dan Muara Bungin. Hasil penelitian menunjukkan secara temporal kelimpahan juvenil udang mencapai puncak pada bulan Agustus 2010, di Muara Beuting. Secara spasial kelimpahan juvenil udang semakin meningkat ke lokasi luar teluk, yaitu Muara Gerobak, Muara Beuting, Muara Bungin. Juvenil yang ditemukan sebanyak 12 genus dan tertinggi dari genus Acetes  dengan komposisi 59-99%. Kondisi lingkungan yang meliputi kedalaman air, kecerahan, salinitas, suhu air, pH dan oksigen terlarut mendukung pertumbuhan juvenil udang. This study aims to assess the spatial and temporal distribution of juvenile shrimp in relation to environment condition at the Bay of Jakarta. A survey method was conducted in the eastern Bay of Jakarta at 7 locations i.e., Muara Gembong, Tanjung Gembong, Muara Karawang, Tanjung Karawang, Muara Grobak, Muara Beuting and Muara Bungin in April, June, August and October 2010. The results showed that abundance of the juvenile reached it’s peak in August 2010, at Muara Beuting. The abundance of shrimp juvenile increased towards out the bay, located at Muara Gerobak, Muara Beuting, and Muara Bungin. The juvenile found were 12 genus which was dominated by genus of Acetes with composition of 59-99%. Environmental conditions including water depth, transparency, salinity, water temperature, pH and dissolved oxygen are feasible for the growth of shrimp juvenile

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue