cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
KEPADATAN STOK IKAN DEMERSAL DAN BEBERAPA PARAMETER KUALITAS PERAIRAN DI PERAIRAN TEGAL DAN SEKITARNYA Bambang Sumiono; Tri Ernawati; Suprapto Suprapto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.998 KB) | DOI: 10.15578/jppi.17.2.2011.95-103

Abstract

Penelitian sumber daya ikan demersal dan parameter kualitas perairan dilakukan dengan menggunakan Kapal Riset Sardinela (68 GT) pada bulan April, Juli, dan Nopember 2009 di perairan Tegal dan sekitarnya. Penghitungan kepadatan stok menggunakan metode swept area dengan panjang tali ris atas dari jaring trawl 21 m, kecepatan kapal waktu menarik jaring berkisar 1,5-2,0 knot dan lama penarikkan jaring di setiap stasiun penangkapan maksimal 1 jam. Posisi stasiun penangkapan dan oseanografi relatif sama pada kedalaman berkisar 10-50 m. Laju tangkap pada 41 stasiun penangkapan rata-rata 10,86 kg/jam dengan kepadatan stok 0,498 ton/km2 dan biomassa 23.082 ton. Sepuluh famili dominan tertangkap, yaitu Leiognathidae, Apogonidae, Sciaenidae, Nemipteridae, Pomadasydae, Synodontidae, Tetraodontidae, Carangidae, Teraponidae, dan Priacanthidae. Dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu (tahun 1976-2005), terdapat kecenderungan laju tangkap yang meningkat bagi famili Sciaenidae, Nemipteridae, dan Pomadasydae. Kelompok ikan yang cenderung menurun terdapat pada famili Synodontidae. Sementara famili Leiognathidae selalu mendominansi hasil tangkapan trawl. Kepadatan stok tertinggi (1,0 ton/km2) terdapat pada strata kedalaman 40-<50 m dan terendah (0,2 ton/km2) terdapat pada strata kedalaman antara 10-<20 m. Biomassa tertinggi (15.059 ton) terdapat pada strata kedalaman 30-<40 m dan terendah (1.410 ton) pada strata kedalaman 10-<20 m. Korelasi positif yang nyata terjadi antara kepadatan stok ikan demersal dengan kepadatan makrozoobentos, kedalaman perairan, suhu, dan oksigen terlarut pada dasar perairan. Penyebaran kepadatan stok tidak dipengaruhi oleh salinitas dan pH dasar perairan. Research on the demeral fish resources and some parameters of water quality using Sardinela Research Vessel (68 GT) were carried out during April, July, and November 2009 in Tegal and its adjacent waters. Stock density was estimated by swept area method. The trawl used has 21 m head rope, trawling speed of 1.5-2.0 knot, and the maximum towing time was 1 hour. The main fishing ground was 10-50 m water depth. Sampling position of trawling and oceanography parameters were set up relativelly the same position. Based on the result of 41 successful haul’s station, the average of catch rate of demersal fish was estimated to be 10.86 kg/hour with stock density of 0.5 ton/km2 and biomass of 23,082 ton. The ten dominant families were Leiognathidae, Apogonidae, Sciaenidae, Nemipteridae, Pomadasydae, Synodontidae, Tetraodontidae, Carangidae, Teraponidae, and Priacanthidae. Compared with research in the previous years (1976-2005), the catch rates familiy of Sciaenidae, Nemipteridae, and Pomadasydae tend to increase. Meanwhile, catch rate family of Synodontiade tend to decrease. The family of Leiognathidae in the overall years were always dominant. According to the depth stratum, the highest stock density of 1.8 ton/km2 was found in the depth between 41-50 m, while the lowest density of 0.2 ton/km2 was found in the depth between 10-20 m. Meanwhile, the highest biomass of 15,059 ton was found in the depth between 30-40 m, and the lowest of 1,410 ton in the depth between 10-20 m. A high correlation occured significantly between stock density of demersal fish and the water’s depth, temperature, and dissolved oxygen on the bottom. Meanwhile, correlation between stock density of demersal fish with pH and salinity on the bottom did not significantly different.
KONDISI KESEHATAN TERUMBU KARANG TELUK SALEH, SUMBAWA: Tinjauan Aspek Substrat Dasar Terumbu dan Keanekaragaman Ikan karang Isa Nagib Edrus; Syahrul Arief; Erik Setyawan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1856.307 KB) | DOI: 10.15578/jppi.16.2.2010.147-161

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2009 di perairan Teluk Saleh dan sekitarnya, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi kesehatan karang dan keragaman jenis karang serta untuk mengidentifikasi struktur komunitas ikan karang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah line intercept transect dan sensus visual. Hasil penelitian di 13 lokasi pencuplikan data menunjukan bahwa kesehatan terumbu tergolong buruk 8%, sedang 69%, dan baik 23%. Di antara lokasi tersebut terdapat 58 genus karang dari 17 suku, di mana jumlah genus bervariasi antar lokasi. Labuhan Haji memiliki jumlah marga karang keras terbesar (34 genus) dan Pulau Dangar Besar memiliki jumlah marga terkecil (18 genus). Persen tutupan karang keras bervariasi antara 16,97% (kategori kritis) sampai 57,39% (kategori baik). Dari 13 lokasi transek, tujuh diantaranya memiliki indeks keanekaragaman ikan karang yang tinggi (H = 3,5-4) dan enam lokasi lainnya memiliki indeks keanekaragaman sedang (H = 3,5). Sedikitnya terdapat 405 jenis ikan karang dengan 143 marga dari 47 suku. Keanekaragaman komunitas tergolong sedang sampai tinggi. Kepadatan individu per meter persegi tergolong rendah pada sebagian besar lokasi transek. This study was caried out in April 2009 at the adjacent waters of Saleh Bay, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. The study objectives are to identify the coral health, coral diversity, and the reef fish community structure.Methods used for those are a line intercept transect and a census visual technique. For the 13 data gathering sites, the results show that 8% of the areas had a poor reef health category, 69% of the others had a moderate reef health category, and 23% of the rest areas had a good reef health category.Among the areas, there were 58 genus derived from17 families, where genus numbers varied one another of the areas. Labuhan Haji had a highest number of genus (34) and Dangar Besar Island has a lowest number of genus (18). Percent cover of hard corals varied from 16.97% (kritical state) to 57.39% (good health). Among the 13 transect sites, seven of those had a high rank of reef fish diversity indeces (from 3.5-4) and the others had a moderate reef fish diversity index (3.5). At least there were 405 spesies, 143 genus, and 47 families identified for reef fish. Diversity indices of the community ranged from fair to high. Its density per square meter was rare for majority of the transect areas.
STATUS PEMANFAATAN LABI-LABI (FAMILI: TRIONYCHIDAE) DI SUMATERA SELATAN Dian Oktaviani; Samedi Samedi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.933 KB) | DOI: 10.15578/jppi.14.2.2008.159-171

Abstract

Sumatera Selatan merupakan salah satu pemasok labi-labi (Testudines; Trionychidae) bagi pasar internasional, sedangkan informasi mengenai pemanfaatan sedikit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status pemanfaatan labi-labi (Testudines; Trionychidae) di Sumatera Selatan. Penelitian didasarkan pada data perdagangan sebagai bentuk pemanfatan yang dihubungkan dengan keberlanjutan spesies tersebut di alam. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melalui wawancara dengan penangkap dan penampung labi-labi (Testudines; Trionychidae) di Palembang dan sekitar. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Februari 2006 – Februari 2007. Hasil menunjukkan bahwa ada tiga spesies labi-labi yang dimanfaatkan sebagai komoditas perdagangan, yaitu Amyda cartilaginea Boddaert 1770, Dogania subplana Geoffroy 1809, dan Pelochelys cantorii Gray 1864. Spesies dominan dimanfaatkan adalah A. cartilaginea (84,28%) yang masuk dalam daftar Appendiks II CITES. Penilaian Non Detrimental Findings (NDF) terhadap pemanfaatan A. cartilaginea mengindikasikan bahwa populasi spesies tersebut di alam terancam kerusakan. Pemecahan yang perlu dilakukan adalah penegakan hukum dan implementasi peraturan yang efektif. South Sumatra is one of the major sources of softshell turtle (Testudines; Trionychidae) in international trade, but the little information was available of local utilization. The study was conducted to fill such a gap, especially on the nature of the trade in relation to the sustainability of the population and trade of the species. The research was aimed to identify the level of local and international utilization in several species of soft shell fresh water turtles (Testudines; Trionychidae). The method applied in the research are interview with collectors and local traders located in Palembang and surrounding area. Data collection included field surveys and visits to collectors/traders undertaken fromFebruary 2006 to February 2007. The results showed that there were three species of Trionychidae in significant trade. These were Amyda cartilaginea Boddaert 1770, Dogania subplana Geoffroy 1809, and Pelochelys cantorii Gray 1864. It was also found that A. cartilaginea was dominant species compared with the other species, accounted for (84.28%). Following the inclusion of A. cartilaginea in CITES Appendix II determination of Non Detrimental Findings (NDF) was considered essential. It was indicated from the analysis that harvest and subsequent trade in A. cartilaginea population in South Sumatera showed a detrimental trend. One of the solutions is the implementation of effective law enforcement and regulation.
HUBUNGAN PANJANG BOBOT, PERBANDINGAN JEN]S KELAMIN, DAN TfNGKAT KEMATANGAN GONAD TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus) DI PERAIRAN LAUT BANDA Budi Nugraha; Siti Mardlijah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2664.833 KB) | DOI: 10.15578/jppi.12.3.2006.195-202

Abstract

Penelitian dilakukan tefiadap tuna mala besar hasil tangkapan kapal tuna long line yang beroperasi di perairan Laut Banda. Aspek biologi yang diteliti meliputi hubungan panjang bobot, perbandingan jenis kelamin, ukuran pertama kali matang gonad, dan tingkat kematangan gonad pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2OO2. Dan hasil analisis hubungan panjang bobot diketahui bahwa pola pertumbuhan tuna mata besar di perairan Laut Banda bersifat allometrik negatif. Perbandingan jenis kelamin jantan dan betina adalah 1,96:1, berdasarkan pada hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa rasio ikan jantan dan betina pada periode penelitian ini tidak seimbang di mana jumlah jantan 2 kali betina. lkan betina matang gonad pada ukuran lebih kecil dibandingkan dengan ikan jantan. Pemijahan tuna mata besar di perairan Laut Banda terjadi pada bulan Desember.
STUDI PENGARUH SUHU AIR TERHADAP AKTIVITAS BAKTERI BIOREMEDIASI (N TTROSOMONAS DAN N TTROBACTER) PADA PEMELIHARAAN BENIH IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus) Imam Taufik; Sutrisno Sutrisno; Parwatining Yuliati; Hambali Supriyadi; Siti Subandiyah; lrvan Muthalib
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6069.39 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.7.2005.59-66

Abstract

Studi pengaruh suhu dalam aktivitas bakteri bioremediasi telah diamati dalam rangka menanggulangi penurunan kualitas air pada budi daya ikan patin siam, sehingga mampu meningkatkan sintasan dan memacu pertumbuhan. Wadah yang digunakan berupa 15 akuarium kaca (70 x 40 x 45 cm3) dilengkapi dengan aerasi. Benih ikan patin ukuran 0,2 g/ekor yang digunakan sebagai hewan uji diberi pakan buatan dengan kandungan protein 40% sekenyangnya, dan frekuensi pemberian 3 kali.
KERAGAMAN MORFOLOGI DAN FLUKTUASI ASIMETRI IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DARI DANAU TEMPE (SULAWESI SELATAN) DAN BEBERAPA SENTRA PRODUKSI DI JAWA BARAT Ani Widiyati; Subandriyo Subandriyo; Komar Sumantadinata; Wartono Hadie; Estu Nugroho
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3932.835 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.5.2004.47-53

Abstract

Keragaman genetik (fenotipe dan genotipe) merupakan informasi dasar yang diperlukan untuk pelaksanaan program pemuliaan ikan nila. Informasi keragaman genetik ikan nila di Indonesia masih sedikit diperoleh. Oleh sebab itu, metode truss morphometrics dan fluktuasi asimetri yang digunakan pada penelitian ini bertujuan untuk mengukur keragaman morfologi dan fluktuasi asimetri ikan nila dari Danau Tempe (Sulawesi Selatan) dan beberapa sentraproduksi di Jawa Barat.
KEMAMPUAN TANGKAP JARING TRAWL TERHADAP IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN TARAKAN DAN SEKITARNYA Asep Priatna; Ari Purbayanto; Domu Simbolon; Totok Hestirianoto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.951 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.1.2014.19-30

Abstract

Estimasi potensi sumber daya ikan merupakan informasi penting untuk pengembangan usaha perikanan tangkap. Pada saat ini estimasi potensi sumber daya ikan demersal umumnya dihitung dengan mererapkan metode swept area dengan alat jaring trawl dasar. Permasalahan yang muncul adalah akurasi berapa banyak ikan demersal yang benar-benar tertangkap oleh jaring trawl tersebut. Upaya untuk mengurangi bias dalam estimasi densitas ikan demersal adalah dengan melakukan pengamatan melalui metode akustik yang dilakukan secara bersamaan dengan pengoperasian jaring trawl. Penelitian dilakukan pada periode Mei, Agustus dan November 2012 di perairan Tarakan, Kalimantan Utara dan sekitarnya. Echosounder Simrad EY60-120 kHz dan jaring trawl dasar dengan panjang ris atas 26 meter digunakan untuk mengestimasi densitas ikan demersal. Perbedaan nilai densitas yang dihasilkan oleh kedua metode pendekatan tersebut, menghasilkan koefisien kemampuan tangkap (catchability) jaring trawl sebesar 0,3 sehingga diperkirakan jaring trawl hanya mampu menangkap 30% ikan demersal yang berada di jalur sapuan jaring trawl tersebut. Fish stock estimation is very important information as basis for developing fisheries. Until now, estimation of demersal fish stock is usually used swept area method by using trawl net fishing. However, there was the problem related to accuracy of fish abundant estimation that is how much the demersal fish could be accurately caught by the trawl net. To solve this problem, an approach estimation of dmersal fish stock using acoustic survey conducted simultaneously with demersal trawl fishing. Research activities were conducted on May, August and November 2012 in Tarakan waters, North Kalimantan using echosounder Simrad EY60-120 kHz and bottom trawl net with 26 m headrope. The result show that the catchability coefficient of trawl net estimated  0,3, it means that the trawl net could be able to catch 30% of demersal fish during swept area trawl fishing.
PRODUKTIVITAS ARMADA PENANGKAPAN DAN POTENSI PRODUKSI PERIKANAN UDANG DI LAUT ARAFURA Purwanto Purwanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.296 KB) | DOI: 10.15578/jppi.19.3.2013.147-155

Abstract

Tulisan ini menyajikan hasil kajian potensi produksi dan upaya penangkapan optimal serta menjelaskan perkembangan perikanan udang di Laut Arafura, termasuk pula estimasi dampak dari peningkatan upaya penangkapan terhadap produktivitas kapal dan hasil tangkapan udang. Berdasarkan hasil analisis, potensi produksi udang penaeid yang dapat dihasilkan secara lestari dari pemanfaatan stok udang di Laut Arafura adalah 49,5 ribu ton/tahun dengan upaya penangkapan sekitar 635 unit kapal pukat udang 130 GT. Walaupun upaya penangkapan dari kapal yang memiliki surat izin penangkapan ikan di Laut Arafura tahun 2011 lebih rendah dibandingkan upaya penangkapan optimal untuk menghasilkan MSY, stok udang penaeid tersebut telah dimanfaatkan melebihi tingkat optimum akibat tingginya intensitas operasi kapal perikanan tanpa izin. Estimasi kerugian hasil tangkapan akibat kegiatan penangkapan ikan ilegal juga disajikan disini. This paper presents result of the assessment of potential production and optimal fishing effort, and briefly describes the past development of the shrimp fishery in the Arafura Sea, including estimated impact of increasing fishing pressure on the vessel productivity and the quantity of catch. Based on the result of analysis, the maximum sustainable yield from the utilisation of the penaeid shrimp stock in the Arafura Sea was about 49,500 tonnes/year resulting from the operation of 635 units of shrimp trawlers. Although fishing effort from vessels granted license in 2011 was lower than the optimum level to produce MSY, the penaeid shrimp stock was overexploited as the intensity of illegal fishing practices by unlicensed vessels was high.The estimate of catch losses caused by illegal fishing is also presented here.
ESTIMASI STANDING STOCK SUMBER DAYA IKAN BERDASARKAN KANDUNGAN KLOROFIL-A Julius Anthon Nicolas Masrikat; Indra Jaya; Budhi Hascaryo Iskandar; Dede Soedharma
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 3 (2009): (September 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3951.456 KB) | DOI: 10.15578/jppi.15.3.2009.257-266

Abstract

Data dan informas1 standing stocK sumber daya ikan sangat diperlukan dalam upaya eksploitasi perikanan tangkap. Dalam tulisan ini, nilai standing  stock  sumber daya ikan di Laut Gina Selatan diestimas1  berdasarkan  pada  produktivitas primer bersih (net primary   product1vity!NPP)  yang merupakan  fungsi dan konsentrasi klorofil-a  permukaan (sea  surface  chlorophyll-a). Data yang digunakan c.dalah data klorofil-a insitu dan hasil survei tanggal 18-30 Jum 2005 dan 10-23 Juli 2006 dengan KR  SEAF·DEC 2  serta data klorofil-a dan net pnmary  productivity dari c1tra satelit sensor MODIS  AQUA. Rata-rata konsentrasi sea surface chlorophyll-a insitu bulan Jun1 2005 yaitu 0,23 mg m-3 dan sse citra 0 56 mg m 3 sedangkan bulan Juli 2006 sse insitu yaitu 0 09 mg m·3 dan sse citra 0,18  mg m 3•   Berdasarkan  pada  analisis  i<lorofil-a  citra satelit dengan  menggunakan  vertically generalized  production modd (VGPM)  diperoleh rata-rata produktivitas primer bulan Jun1 2005 yaitu 659,13 mgC m-2 hr' dan bulan Juli 2006 yaitu 319,27 mgC m 2 hr·• Berdasarkan pada nilai produktivitas primer, maka d1peroleh standmg stock sumber daya ikan pelagis pada daerah survei bulan Juni 2005 yaitu 2. 211,67  ton atau 1 941 202 60 ton thn 1 dan bulan Juli 2006 ya1tu 506,17 ton atau 524 314,86 ton thn-•. Accurate  informatiOn of standing stock of fish resources is prerequisite for optimal  fishing. In this paper, standing  stock of fish resources  assessment  in Indonesia  southern  part of South China Sea was determined  by net pnmary  productivity  (NPP), wh1ch was function  of sea surface  chlorophyll-a concentration (SSC).  Data of sea surface chlorophyll-a insitu were gathered through research using vessel MV SEAFDEC 2 on 18-30 June 2005 and 10-23 July 2006 and also that sea surface chlorophyll­ a concentration and net pnmary product1v1ty 1mages from ocean color remote sensmg images (MODIS AQUA). Average  of sea sudace  chlorophyll-a concentration on June 2005 were 0 23 mg m 3 (insitu) and 0.56  mg m-3   (images), whJ/e on July 2006 were 0.09 mg m·3  (insitu),  and 0.18 mg m·3 (images), respectively  The 1mages chlorophyll-a analys1s using vertically generalized production  model (VGPM). it was found average of net pnmary productivity value of 659.13 mgC m2 day' (June 2005) and 319.27 mgC m-2   day-1  (July  2006).  Based on the net primary  productivity  value  on the survey  area,  it was calculated  that standmg stock offish resources were 2,211.67 ton in June 2005 or 1,941,202.60 ton yr and 506 17 ton in July 2006 or 524,314.86 ton yr'.
DISTRIBUSI KEPADATAN IKAN PELAGIS DI PERAIRAN PANTAI UTARA JAWA BAGIAN TIMUR, PULAU-PULAU SUNDA, DAN LAUT FLORES Asep Priatna; Mohammad Natsir
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.911 KB) | DOI: 10.15578/jppi.13.3.2007.223-232

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari distribusi spasial kepadatan ikan pelagis serta hubungan dengan kondisi perairan pada musim peralihan di perairan pantai utara Jawa bagian timur dan Laut Flores, berdasarkan pada pengambilan contoh akustik dan 34 stasiun oseanografi pada bulan Oktober 2005. Data target strength menunjukkan bahwa rata-rata ukuran ikan pelagis yang terdeteksi di perairan pantai utara Jawa bagian timur adalah 10 sampai dengan 56 cm. Ukuran ikan di daerah lepas pantai lebih kecil dibanding daerah dekat pantai. Pada musim peralihan, kondisi suhu dan salinitas perairan relatif homogen. Sehingga faktor tersebut kurang signifikan terhadap distribusi keberadaan ikan. Diduga faktor lingkungan lain seperti faktor biologi dan kimia, berperan dalam pola penyebaran ikan pelagis kecil di perairan ini. Di Laut Flores dan sekitar Pulau-Pulau Sunda, densitas ikan tertinggi pada stratum 10 sampai dengan 50 m dengan ukuran 10 sampai dengan 20 cm terutama di beberapa lahan marginal seperti sekitar selat dan kepulauan. Selain merupakan lapisan tercampur di mana kondisi suhu dan salinitas relatif stabil pada kedalaman 10 sampai dengan 50 m, lahan marginal merupakan daerah subur tempat pertemuan 2 massa air yang berbeda yang membentuk front diharapkan merupakan tempat berkumpul ikan. Lapisan termoklin yang bersifat lemah berada di bawah 50 m, hal ini mempengaruhi densitas ikan yang semakin rendah pada kedalaman lebih dari 50 m. Ikan pelagis yang berada pada lapisan termoklin mempunyai ukuran yang lebih besar yaitu 14 sampai dengan 40 cm. Pada musim yang sama, rata-rata kepadatan dan ukuran ikan pelagis kecil di wilayah timur lebih rendah daripada sebelah barat. The aim of this research is to study the distribution of spasial density of pelagic fish with waters condition at intermonsoon in north of Java coast waters part of east and Flores Sea, based on acoustic sampling and 34 oceanography stations in October 2005. The target strength of fish indicated that pelagic fish measure in north of Java coast waters part of east is about 10 to 56 cm. Fish sizes in offshore is smaller than near shore. At intermonsoon, the waters condition of temperature and salinity was homogeneous relatively. Therefore, that are less to distribution of fish density. Anticipated, the others environmental factor like chemical and biological, was influenced to distribution of small pelagic fish in this area. In Flores Sea and Sunda Islands, the highest of fish density at 10 to 50 m and fish sizes about 10 to 20 cm especially in some marginal areas near archipelago and strait. At 10 to 50 m is mixed layer, where temperature and salinity was relative stabilize, the maginal areas is fertility waters which is passage of the shifting by two different water masses and front were formed . The weak termocline was formed below 50 m, maked fish density are progressively lower below 50 m. The pelagic fish residing in termocline layers have larger ones measure than stratum 10 to 50 m is about 14 to 40 cm. On same season, the fish measure and density of small pelagic fishes in east region is lower than at westside.

Page 50 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue