cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,077 Documents
PENILAIAN JASA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE KOTA SORONG: KETIDAKSEIMBANGAN PASOKAN-PERMINTAAN DAN IMPLIKASI PENGELOLAAN Korneles Edison Huwae; Gatot Mujianto; Ario Damar; Ismail Ismail
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.32.1.2026.1-15

Abstract

Ekosistem mangrove menyediakan jasa ekosistem penting bagi masyarakat pesisir, namun menghadapi tekanan degradasi yang meningkat. Penelitian ini mengkaji kapasitas pasokan dan permintaan jasa ekosistem hutan mangrove di Kota Sorong, Papua Barat Daya, menggunakan kerangka Common International Classification of Ecosystem Services (CICES) v5.1. Pendekatan triangulasi diterapkan melalui studi literatur sistematis, wawancara mendalam terhadap 78 responden dari enam kelompok pemangku kepentingan, dan observasi lapangan pada 12 stasiun dengan 36 plot vegetasi. Matriks pasokan-permintaan dikembangkan menggunakan penilaian berbasis pakar (skala 0-5) yang divalidasi dengan data biofisik untuk 20 jasa ekosistem. Hasil menunjukkan total kapasitas pasokan 295 titik (49,2% dari maksimum), didominasi jasa budaya (43,7%), diikuti jasa pengaturan (36,3%) dan penyediaan (20,0%). Permintaan agregat hanya 79 poin (13,2%), tertinggi pada layanan pengaturan (41,8%). Keseluruhan kritis teridentifikasi: jasa budaya berkapasitas tinggi sangat kurang dimanfaatkan (utilisasi 6-10%), sementara jasa penyediaan kayu mengalami eksploitasi berlebih (3-4× kapasitas regenerasi), menyebabkan degradasi 15-20 ha/tahun dan penurunan kerapatan kanopi dari 93,95% (2015) menjadi 50,51% (2025). Kemiskinan energi dan ketiadaan mata pencaharian alternatif merupakan pendorong utama. Strategi pengelolaan yang direkomendasikan meliputi: pengembangan ekowisata berbasis masyarakat (potensi Rp 320-912 juta/tahun), transisi energi, skema pembayaran jasa karbon biru (potensi Rp 1,09-3,85 miliar/tahun), dan penguatan tata kelola kolaboratif. Tanpa intervensi, degradasi parah diproyeksikan terjadi dalam 15-20 tahun..
STRENGTHENING COLD CHAIN MANAGEMENT IN THE TUNA LOIN INDUSTRY IN BALI: EFFORTS TO IMPROVE PRODUCT QUALITY AND COMPETITIVENESS Nugraha, I Made Aditya; Khairunnisa, Anis; Cesrany, Mahaldika
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.32.1.2026.%p

Abstract

This study discusses the importance of implementing a cold chain system and optimizing cold storage to support the tuna loin processing process at PT. XYZ. The quality of fishery products, especially tuna, is greatly influenced by temperature stability during the post-harvest process to distribution. Uncontrolled temperature fluctuations can cause quality degradation, accelerate damage, and reduce the selling value of the product. The purpose of this study was to evaluate the effect of implementing a cold chain on the quality of tuna loin and its implications for competitiveness in the local and export markets. The methods used include temperature monitoring at each stage of the supply chain, organoleptic and microbiological quality testing, and comparative analysis of product competitiveness with and without a cold chain system. The results showed that consistent temperature control was able to maintain the freshness, texture, and safety of the product, as well as extend its shelf life. The implementation of an optimal cold chain system also contributes to increasing the economic value of the product and the company's ability to meet international export standards. Although technical challenges such as temperature fluctuations during distribution are still found, PT. XYZ shows a commitment to improving temperature monitoring infrastructure and technology. In conclusion, optimizing the cold chain and cold storage system is a key strategy in maintaining product quality, strengthening competitiveness, and improving the sustainability of the fish processing industry, especially in facing the demands of an increasingly competitive global market.
ANALISIS EKOLOGIS DISTRIBUSI SPASIAL DAN ASOSIASI SPESIES NUDIBRANCH DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN SELAT DAMPIER, RAJA AMPAT: IMPLIKASI BAGI ZONASI KONSERVASI DAN EKOWISATA LAUT BERKELANJUTAN ECOLOGICAL ANALYSIS OF SPATIAL DISTRIBUTION AND SPECIES ASSOCIATIONS OF NUDIBRANCHS IN THE DAMPIER STRAIT MPA, RAJA AMPAT: IMPLICATIONS FOR CONSERVATION ZONING AND SUSTAINABLE MARINE ECOTOURISM Roni Bawole; Yuanike Kaber; Gandi Y.S. Purba; Jafry Ferdinan Manuhutu; Mudjirahayu Mudjirahau; Suhaemi Manaf; Hendrik Victor Ayhuan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.32.1.2026.37-46

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola distribusi dan asosiasi antar spesies nudibranch di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Selat Dampier, Raja Ampat, sebagai dasar bagi pengelolaan zonasi dan pengembangan ekowisata laut berkelanjutan. Survei dilakukan di tujuh stasiun pengamatan dengan pendekatan kuantitatif melalui pencatatan kelimpahan spesies, pengukuran parameter lingkungan, serta analisis asosiasi antar spesies menggunakan indeks Jaccard, Ochiai, dan Morisita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi nudibranch sangat dipengaruhi oleh struktur mikrohabitat dan parameter lingkungan seperti tutupan substrat, kejernihan air, dan kompleksitas bentik. Sebagian besar asosiasi antar spesies tergolong lemah, mengindikasikan spesialisasi habitat yang tinggi dan sensitivitas terhadap perubahan lingkungan. Namun, terdapat asosiasi kuat antara Nembrotha kubaryana dan Phyllidiella pustulosa, yang dapat diinterpretasikan sebagai indikator stabilitas ekosistem lokal. Visualisasi heatmap mendukung hasil ini dengan pola keterkaitan spesifik antar beberapa pasangan spesies. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan mikrohabitat dalam perencanaan zonasi konservasi dan pemanfaatan nudibranch sebagai bioindikator dalam sistem monitoring ekosistem terumbu karang. Selain itu, keragaman nudibranch yang menarik secara visual membuka potensi besar untuk pengembangan ekowisata makrofauna laut berbasis konservasi. ABSTRACTThis study aims to examine the distribution patterns and interspecific associations of nudibranch species within the Dampier Strait Marine Protected Area (MPA) in Raja Ampat, as a basis for zonation planning and the development of sustainable marine ecotourism. Surveys were conducted across seven observation stations using a quantitative approach involving species abundance recording, environmental parameter measurement, and interspecific association analysis using the Jaccard, Ochiai, and Morisita indices. The results show that nudibranch distribution is strongly influenced by microhabitat structure and environmental factors such as substrate cover, water clarity, and benthic complexity. Most species associations were weak, indicating high habitat specialization and sensitivity to environmental changes. However, a strong association was observed between Nembrotha kubaryana and Phyllidiella pustulosa, which may serve as an indicator of stable and healthy ecosystems. Heatmap visualizations support these findings by showing specific interspecies linkage patterns. These results highlight the importance of microhabitat-based approaches in conservation zonation planning and the use of nudibranchs as bioindicators within coral reef ecosystem monitoring systems. Additionally, the visually striking diversity of nudibranchs offers significant potential for developing conservation-based marine macrofauna ecotourism.
HUBUNGAN BERAT LEBAR RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN TELUK BANTEN BANTEN Agung Setyo Sasongko
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.32.1.2026.47-53

Abstract

Teluk Banten merupakan salah satu lokasi penangkapan rajungan. Rajungan ini sangat diminati oleh konsumen. Hal ini dapat menyebabkan overfishing, hasil tangkapan yang tidak melihat kelayakan dan kondisi habitat rajungan. Metode penelitian yang digunakan adalah descriptive purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah jantan mencapai 354 ekor dan betina 193 ekor. Pertumbuhan rajungan jantan dan betina bersifat alometrik positif dengan nilai slope (b) W = 4.547L-4.06E2. Hal ini menunjukkan bahwa berat rajungan lebih cepat daripada pertumbuhan lebar karapas karena rajungan merupakan salah satu spesies yang tidak bermigrasi sehingga berat rajungan tidak berkurang akibat migrasi. Ukuran lebar karapas Jantan dan betina yang terbesar adalah 142 mm dan yang terkecil adalah 89 mm. Berat rajungan yang terbesar adalah 340 gr dan terendah adalah 35 gr. Parameter kualitas perairan habitat rajungan dengan suhu mencapai 29°C - 30°C, salinitasnya mencapai 25 ‰ - 28 ‰, dan pH 8,0 - 8.9. Kualitas air pada keadaan yang optimum dan masih layak untuk hidup dan berkembang biak.
SUSTAINABLE FISH RESOURCES POTENTIAL IN MANGROVE FOREST AREAS AFFECTED BY TIN MINING IN THE BANGKA BELITUNG ISLANDS PROVINCE endang bidayani
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 32, No 2 (2026): (Juni 2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.32.2.2026.54-62

Abstract

Several areas on Bangka and Belitung Islands are located in tin mining conflict zones. Therefore, it is feared that this will threaten the existence of fish resources in mangrove forest areas. The objectives of this study are: 1) To analyze the perceptions of local communities for mangrove resources on Bangka and Belitung Islands, and 2) To assess the sustainable potential of fish resources in mangrove forest areas on Bangka and Belitung Islands. This research method is a survey method. The determination of the research location was purposive, namely six coastal villages that have mangrove forests and are tin mining conflict areas, namely three villages on Bangka Island, including Kota Waringin Village, Kota Kapur Village and Sungaiselan Village, and three villages on Belitung Island, including Gantung Village, Lassar Village and Buding Village. The population in this study were traditional fishermen, community leaders, and village government as informants totaling 60 people. Data collection methods in this study include primary data and secondary data. Primary data collection used questionnaires, in-depth interviews, observation and documentation. Secondary data collection through literature studies. The data analysis method used is exploratory descriptive method. The results of the study, the perception of traditional fishermen towards fish resources in the mangrove forest area on Bangka and Belitung Islands in the Good category, and 2) The sustainable potential of fish resources in the mangrove forest area on Bangka and Belitung Islands using the Schafer model with the CYP technique (Clarck, Yoshimoto, Pooley) shows that the optimal catch results based on Maximum Sustainable Yield (MSY) of 271,95 tons.
JENIS IKAN SARDINELLA DI LEMBATA: KELIMPAHAN DAN DISTRIBUSI SPASIAL-TEMPORALNYA Gerardus Diri Tukan; Maria Novalina Naben; Joanivita Paulo Gulo Soru; Paulus Risan Funan Lalong; Yustina Ina Kewa Manuk; Ignatia Stefania Nino; Aludin Al-Ayubi; Arijanti Susana Ulnang; Agustina Emiliana Sawo; Virjy Emanuela Lema Tukan; Petrus Salestinus Atawuwur; Adam Malik
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 32, No 2 (2026): (Juni 2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.32.2.2026.63-81

Abstract

Perairan laut Lembata terdapat beberapa jenis ikan sardinella namun  belum ada data ilmiah jenis serta distribusi spasial-temporalnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis-jenis dan distribusi spasial-temporalnya.  Metode penelitian yaitu survei selama empat bulan pada nelayan lokal dan penjual ikan. Hasil penelitian: ikan Sardinella terdapat tiga kelompok yaitu: (1) Tembang kowi; terdapat empat jenis: (a) Kowi punggung biru,  menyerupai  Sardinella lemuru. Selalu ditangkap setiap hari,  melimpah pada musim hujan (Desember-Maret), terdistribusi di Teluk Waienga dan melimpah di Teluk Lewoleba. (b). Kowi garis hijau menyerupai Sardinella gibbosa, selalu bersama ikan kowi punggung biru. (c) Kowi punggung bintik-bintik, mirip Sardinella electra. Habitatnya di area rumpon, diperoleh sepanjang tahun. (d) Kowi kali, mirip Etrumeus jacksoniensis,  jarang ditangkap,  hidup di area  hutan mangrove dalam Teluk Lewoleba. (2) Kelompok ikan matakenak, terdapat tiga jenis: (a) Matakenak halus (sarden putih; Escualosa thoracata), hidup di tepi pantai, tersebar di Teluk Lewoleba, Waienga dan Teluk Lewolein, ditangkap sepanjang tahun, melimpah pada musim hujan (Desember-Maret). (b) Matakenak asli, menyerupai Harengula clupeola, hidup di area pelabuhan,  ditangkap setiap tahun. (c) Matakenak panjang; menyerupai Sardinella fimbriata, ditangkap setiap tahun, puncak kelimpahan pada musim hujan, terdistribusi di Teluk Waienga,  Lewolein, Balauring dan melimpah di Teluk Lewoleba. (d) Matakenak ktê’ê belum ditemukan kemiripan dengan Sardinella yang lain. (3) Ikan temi, menyerupai Sardinella longiceps,  terdapat setiap tahun di Teluk Lewoleba dan Waienga,  melimpah pada musim hujan (Desember-Maret) di Teluk Lewoleba. Volume tangkapan rata-rata 15.240 ton/hari pada masa-masa puncak kelimpahan. Disimpulkan bahwa terdapat sembilan jenis sardinella di perairan Lembata, melimpah di Teluk Lewoleba terutama pada musim hujan. 
Destructive Fishing Sebagai Ancaman Terhadap Keamanan Maritim: Analisis Push–Pull Factors Dan Model Mitigasi Di Perairan Kabupaten Nias Selatan Yunias Dao; Yusnaldi - -; Kusuma - -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 32, No 2 (2026): (Juni 2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.32.2.2026.82-91

Abstract

Praktik destructive fishing merupakan ancaman non-tradisional yang kompleks terhadap keamanan maritim Indonesia karena berdampak langsung pada keberlanjutan sumber daya laut, stabilitas sosial-ekonomi pesisir, dan ketahanan nasional. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk praktik destructive fishing serta menganalisis faktor-faktor penyebabnya di perairan sekitar Kabupaten Nias Selatan menggunakan pendekatan analisis push–pull factors. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap pemangku kepentingan, observasi lapangan, serta analisis tematik terhadap data empiris. Hasil penelitian menunjukkan bentuk utama praktik destruktif, meliputi blast fishing, cyanide fishing, trawl, dan chemical fishing, yang masing-masing memiliki karakteristik pelaku dan modus berbeda. Faktor pendorong (push factors) mencakup kemiskinan, keterbatasan teknologi, rendahnya kesadaran, dan lemahnya penegakan hukum, sedangkan faktor penarik (pull factors) meliputi tingginya permintaan pasar, keuntungan jangka pendek, serta lemahnya pengawasan. Kombinasi kedua faktor tersebut menciptakan sistem ketergantungan destruktif yang memperkuat praktik ilegal di wilayah pesisir khususnya Kabupaten Nias Selatan. Penelitian ini merekomendasikan push–pull reduction model sebagai kerangka mitigasi integratif untuk menekan praktik destruktif melalui penguatan tata kelola, partisipasi masyarakat, dan pemanfaatan teknologi pengawasan maritim. Temuan ini menegaskan bahwa keamanan maritim harus dipahami sebagai instrumen kesejahteraan dan keberlanjutan, bukan semata isu pertahanan wilayah.

Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 2 (2026): (Juni 2026) Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue