cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
INTERAKSI TROFIK KOMUNITAS IKAN DI DANAU MATANO, SULAWESI SELATAN PASCA BERKEMBANGNYA IKAN ASING INVASIF Dimas Angga Hedianto; Agus Arifin Sentosa
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.189 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.2.2019.117-133

Abstract

Interaksi trofik pasca masuknya ikan introduksi ataupun ikan asing invasif merupakan dasar untuk mengkaji tekanan ekologis terhadap ikan asli. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi trofik komunitas ikan pasca berkembangnya jenis-jenis ikan asing invasif di Danau Matano, Sulawesi Selatan. Ikan contoh diperoleh dari hasil tangkapan jaring insang percobaan, jala lempar, dan seser pada Mei, Oktober, dan November 2015 serta Februari, Juli, dan September 2016. Analisis ekologi trofik yang dilakukan meliputi indeks bagian terbesar, tingkat trofik, luas relung dan tumpang tindih relung makanan, serta pola strategi makan. Hasil penelitian menunjukkan komunitas ikan yang tertangkap di Danau Matano terdiri atas 9 famili, 11 genera, dan 17 spesies. Ikan louhan mendominasi komunitas ikan di Danau Matano sebesar 53,62%. Makanan alami yang banyak dimanfaatkan oleh sejumlah ikan dalam komunitas adalah insekta (Diptera), Gastropoda (Tylomelania sp.), dan larva insekta (Chironomidae). Kelompok trofik komunitas ikan di Danau Matano terdiri atas detritivora, herbivora, insektivora, zoobentivora, dan piscivora. Masuknya ikan introduksi memunculkan kelompok trofik baru (detritivora dan herbivora). Ikan introduksi cenderung memiliki luas relung makanan yang lebih bervariasi. Kompetisi terhadap makanan alami kategori moderat banyak terjadi antara ikan asli dengan louhan. Strategi pola makan ikan asli di Danau Matano cenderung bersifat spesialis, sedangkan ikan introduksi memiliki strategi pola makan yang lebih bervariasi dan oportunistik. Ikan louhan sebagai ikan introduksi dominan yang bersifat invasif mampu memanfaatkan seluruh sumber daya makanan alami yang tersedia dan menempati tingkat trofik tertinggi di Danau Matano. Tekanan ekologi terhadap ikan asli oleh ikan asing invasif di Danau Matano terjadi karena adanya kompetisi terhadap makanan alami.Trophic interactions post-develpment of non-native fish or invasive alien fish species are the basis knowledge for assessing and preventing the ecological pressure on native fish. This research aims to analyze the trophic interactions of fish community post-development of invasive alien fish species in Lake Matano, South Sulawesi. Fish samples were obtained from the catch of experimental gill nets, cast nets, and push nets in May, October, and November 2015 along with February, July, and September 2016. Trophic ecological analysis carried out included index of preponderance, trophic level, niche breadth and niche overlap of natural food, and feeding strategy. The fish community caught in Lake Matano consists of 9 families, 11 genera, and 17 species. Flowerhorn cichlid dominates the fish community in Lake Matano by 53.62%. Natural foods that are widely used by a number of fish in the community are Insecta (Diptera), Gastropods (Tylomelania sp.), and larvae of Insecta (Chironomidae). The guild trophic of fish community in Lake Matano consists of detritivores, herbivores, insectivores, zoobentivores, and piscivores. The introduction of non-native species bring up to new guilds (detritivores and herbivores). Non-native fishes tends to have a variety niche breadth. Moderate competition for natural food resources between native fish and flowerhorn cichlid is quite high. Feeding strategy of native species in Lake Matano tend to be specialist, while non-natives species have more variety and opportunistic. Flowerhorn cichlid as dominant invasive alien fish species is able to utilize all natural food resources and occupies the highest trophic level in Lake Matano. Ecological pressure on native fish by invasive alien fish species in Lake Matano occurs due to competition in obtaining natural food resources.
PRODUKTIVITAS DAN KERENTANAN IKAN KURISI (Nemipterus spp.) HASIL TANGKAPAN CANTRANG DI LAUT JAWA Setya Triharyuni; Sri Turni Hartati; Regi Fiji Anggawangsa
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.823 KB) | DOI: 10.15578/jppi.19.4.2013.213-220

Abstract

Ikan kurisi (Nemipteridae) termasuk kelompok ikan demersal yang memiliki salah satu sifat melakukan ruaya yang tidak terlalu jauh dan aktivitas gerak yang relatif rendah. Sifat ini mengakibatkan daya tahan ikan kurisi ini menjadi rendah terhadap tekanan penangkapan. Ukuran ikan yang tertangkappun cenderung semakin kecil. Analisis produktivitas dan kerentanan (PSA) merupakan sebuah cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kerentanan stok dengan dasar produktivitas biologi dan kerentanan perikanan yang mengeksploitasinya. Dengan menggunakan analisis PSA ini maka dapat digambarkan tingkat resiko ikan kurisi akibat penangkapannya. Hasil penilaian PSA menghasilkan jenis N. japonicus dan N. gracilis memiliki resiko tinggi terhadap penangkapan dan N. hexodon beresiko sedang dan N. mesoprion memiliki resiko yang rendah terhadap penangkapan. Ini ditunjukkan dengan penilaian terhadap atribut produktivitas yang memberikan nilai yang relatif sama terhadap keempat jenis ikan kurisi (1,71-2,14), sedangkan nilai atribut kerentanan N. Japonicus dan N. gracilis adalah tinggi dan N. hexodon adalah sedang dan nilai atribut kerentanan terhadap dan N. mesoprion adalah rendah. Threadfin Bream (Nemipteridae) is demersal fish. One of characteristic of threadfin bream is make the migrate which is not far and relatively low swim activity. This characters that cause vulnerable to fishing. Size of this fish tends to be smaller. Productivity and susceptibility analysis (PSA) is a method that can be used to evaluate the vulnerability of the stock based on biology productivity and susceptibility of fisheries. PSA can be illustrated of threadfin bream risk of fishing. The PSA assessment results that high risk of N. japonicus and N. gracilis and medium risk of N. hexodon and low risk of N. mesoprion. It was shown by the same relative value of productivity attribute ( 1,71-2,14) and high value of  N. japonicus and N. gracilis susceptibility, medium value of N. hexodon and low value of N. mesoprion susceptibility attribute.
ESTIMASI DAYA TARIK TALI MINI HAULER UNTUK DITERAPKAN PADA PERIKANAN PANCING ULUR TUNA DI SAMUDERA HINDIA SELATAN JAWA Berbudi Wibowo; Fedi Alfian Sondita; Budhi Hascaryo Iskandar; John Haluan; Deni Achmad Soeboer
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.605 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.2.2018.137-148

Abstract

Berat tuna hasil tangkapan nelayan pancing ulur di perairan Selatan Jawa dapat mencapai 100 kg/ekor, dan sampai saat ini tali pancing ulur ditarik secara manual. Kondisi ini beresiko bagi nelayan seperti kecelakaan atau sakit tulang belakang (back pain). Untuk mengurangi resiko tersebut maka digunakan mini hauler untuk menarik tali pancing ulur sehingga memudahkan menaikan hasil tangkapan ke atas kapal. Mini hauler disesuaikan dengan beban yang akan ditarik. Beban mini hauler berasal dari daya dorong tuna yang berenang pada kondisi kecepatan spontan ketika tuna berusaha melepaskan diri dari jerat pancing dan beban yang timbul dari rangkaian pancing ulur. Perhitungan dengan menggunakan persamaan archimedes dan persamaan bernoulli menunjukan bahwa daya dorong yang dikeluarkan tuna berukuran 190cmFL untuk berenang dalam kondisi burst speed sebesar 1.746 newton. Total beban terbesar ketika tuna berenang vertikal membentuk sudut 1800 terhadap rangkaian pancing ulur yaitu sebesar 1.763,90 newton dengan tenaga  sebesar 8,82 Kw setara 11,99 Hp.Tunas caught by hand line fishers can reach 100 kg in weight per individual, however, they still use manual technology to pull out the line from waters. This condition could risk the fisherman’s safety such as accident or back pain. To reduce those risks that could be happened, it required tools such as mini hauler to help fisherman pull out the fish line so fish could be unload much easier. Design of mini hauler were adjusted to the target species. Mini hauler’s load comes from tuna swimming power at burst speed condition and the load arising from the series of fishing line itself. Using Archimedes and Bernoulli equations, the results shown that the force used by tunas at size of 190 cmFL to swim at the burst speed condition was 1,746 Newton. The highest total load when the fish swims vertically down to form the angle of 1800 to fising line is 1763,90 newton, equal to 8.82 kw≈11,99 horse power.
STATUS PEMANFAATAN DAN MUSIM PENANGKAPAN IKAN TENGGIRI (Scomberomorus spp.) DI LAUT JAWA Kamaluddin Kasim; Setiya Triharyuni
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.603 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.4.2014.235-242

Abstract

Ikan tenggiri (Scomberomorus spp.) di Laut Jawa merupakan jenis ikan pelagis ekonomis penting yang banyak dieksploitasi karena permintaan dan harga yang tinggi. Agar pengelolaan dapat dilakukan dengan benar maka   diperlukan informasi mengenai status pemanfaatan dan musim penangkapannya. Data primer untuk  penelitian ini diperoleh dengan metode wawancara sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui pencatatan hasil tangkapan ikan tenggiri periode 1999-2012 oleh enumerator di PPN Pekalongan dan kajian hasil peneitian terdahulu. Metode analisis model surplus produksi dan indeks musim penangkapan digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Maximum Sustainable Yield (MSY) ikan tenggiri di Laut Jawa sebesar 438 ton sedangkan effort maksimum sebesar 1000 trip setara jaring insang (gill net) < 30 GT. Nilai CPUE cenderung menurun selama periode tahun 1999 hingga tahun 2012 yakni sebesar 1,73 ton/trip pada tahun 2005 menjadi hanya sebesar 0,37 ton/trip pada tahun 2011. Indeks musim Penangkapan (IMP) menunjukkan bahwa ikan tenggiri melimpah pada periode Maret sampai dengan Juni dan periode Oktober hingga Desember sepanjang tahun.Narrow-barred spanish mackerel (Scomberomorous commerson) is an economically important pelagic species in Java Sea that continue to be exploited due to the high demand and prices. The research regarding status of utilization and fishing season was conducted in order to obtain the optimal efforts and sustainable management. The research was conducted through interviews method to fishermen while the secondary data collected during the period of 1999-2012 through field enumerators in PPN Pekalongan as well as reviewing previous research studies. The results showed that Maximum Sustainable Yield (MSY) was 243.5 tons, while the maximum effort as much as 1000 trips equivalent to gill nets. Catch Per Unit Effort (CPUE) was declined during the period 1999 through 2012 of 0.251 tons / trip in 2005 became 0.052 tons/ trip in 2011. The Peak of season index ( PMI ) indicated the most abundance period was in March to June and October to December throughout the year.
KARAKTERISASI DEKSRIPTOR AKUSTIK IKAN INTRODUKSI AIR TAWAR Zulkarnaen Fahmi; Wijopriono Wijopriono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.799 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.93-99

Abstract

Identifikasi spesies secara langsung merupakan salah satu tantangan dan keterbatasan teknik akustik sebagai alat dalam pengkajian stok sumberdaya ikan. Untuk itu, tujuan identifikasi spesies langsung dari data akustik merupakan kontribusi penting untuk ketepatan estimasi akustik atas kelimpahan sumberdaya ikan. Penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi spesifik karakteristik spesies yang memudahkan pengklasifikasian, menggunakan deskriptor yang diekstraksi dari data akustik yaitu volume backscattering (Sv), Target strength (TS), area backscattering strength (Sa), skewness, kurtosis, Kedalaman, tinggi dan Ketinggian relatif ikan. Tiga spesies introduksi ikan air tawar yang dianalisis adalah : ikan mas (Cyprinus carpio), nila (Oreochromis niloticus), dan patin (Pangasionodon hypophthalmus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan amplitudo pancar-balik gema antar spesies tersebut, dan intensitas gema bervariasi dalam dan antar spesies. Target strength berbeda antar spesies, tergantung pada ukuran dan orientasi ikan. Variabel skewness dan kedalaman berkontribusi paling tinggi dalam klasifikasi (15- 20%), diikuti Target strength, kurtosis dan ketinggian relatif (10–15%), sedangkan variabel lainnya kurang dari 10% dapat membedakan ketiga jenis ikan tersebut.Direct species identification is one of the main challenges and limitations of hydroacoustic techniques as fish stock assessment tools. Hence, the objective identification of species directly from acoustic data may make an important contribution to the accuracy of acoustic abundance estimates. Study has been made to identify species-specific characteristics that facilitate the classification of species, using descriptors extracted from acoustic data, i.e., volume backscattering (Sv), Target strength (TS), area backscattering strength (Sa), skewness, kurtosis, depth, height and relative altitude. Three species of introduced freshwater fishes were analyzed: carp (Cyprinus carpio), tilapia (Oreochromis niloticus), and catfish (Pangasionodon hypophthalmus). The results showed that backscatter amplitude differences exist among these species and echo intensities were variable within and among species. Target strength differed among species, and were dependent on fish size and body orientation. Variables of skewness and depth gave highest contribution to the classification (15-20%), following by TS, kurtosis and relatif heigh of fish (10–15%), while those of the others were less than 10%.
GENETIKA POPULASI Rastrelliger kanagurta DI PERAIRAN BARAT SUMATERA, SELAT MALAKA DAN LAUT CINA SELATAN Achmad Zamroni; Suwarso Suwarso
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.013 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.1.2016.1-8

Abstract

Eksploitasi yang intensif terhadap ikan Banyar (Rastrelliger kanagurta) di perairan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan dapat mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas dari stok ikan. Untuk itu perlu dilakukan pengkajian struktur populasi yang berbasis pada keragaman genetika. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur genetika populasi ikan Banyar di perairan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Sampel jaringan ikan Banyar dikumpulkan dari 5 lokasi pendaratan yaitu Sibolga, Aceh, Tanjung Balai Asahan, Tanjung Pinang dan Pemangkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetika di masing-masing perairan adalah Sibolga = 0,4423, Aceh = 0,4231, Tanjung Balai = 0,4269, Tanjung Pinang = 0,4 dan Pemangkat = 0,409. Terdapat dua kelompok utama pada struktur genetika populasi ikan Banyar, kelompok pertama berasal dari populasi Sibolga (perairan Samudera Hindia barat Sumatera), dan yang kedua berasal dari populasi Selat Malaka (Aceh dan Tanjung Balai Asahan) dan Laut Cina Selatan (Tanjung Pinang dan Pemangkat).
SELEKTIVITAS JARING LIONGBUN TERHADAP BEBERAPA JENIS IKAN PARI DI LAUT JAWA Agustinus Anung Widodo; Mahiswara Mahiswara; Ralph Thomas Mahulette
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.195 KB) | DOI: 10.15578/jppi.16.4.2010.259-266

Abstract

Jaring liongbun telah berkembang untuk menangkap sumber daya ikan pari di Laut Jawa. Jaring liongbun merupakan jaring insang dasar dengan ukuran mata 50 inci. Walaupun telah lama berkembang, namun data dan informasi keragaan teknisnya belum banyak tersedia. Sementara itu data dan informasi tersebut sangat dibutuhkan dalam rangka mendukung pengelolaan sumber daya ikan pari yang berkelanjutan. Oleh karena itu Balai Riset Perikanan Laut telah melakukan penelitian selektivitas jaring liongbun terhadap beberapa jenis ikan pari di Laut Jawa. Metode penelitian adalah dengan melakukan pengambilan contoh secara acak (random sampling) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan, Cirebon, Jawa Barat pada bulan April, Agustus, dan Desember 2007. Data yang dicatat adalah jenis (spesies) dan ukuran lebar cawan ikan pari yang tertangkap jaring liongbun dan didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan. Data dianalisis secara deskriptif dan hasil analisis disajikan secara naratif, tabel, dan grafik. Ukuran ikan yang pertama kali tertangkap atau width of first captured merupakan 50% dari kumulatif persentase ikan yang tertangkap dari alat tangkap, ditulis sebagai W50%, sehingga Wc=W50%. Ukuran ikan pari yang pertama kali dewasa atau width of first matured merupakan rata-rata ukuran contoh ikan pari yang pertama kali dewasa yang ditemukan di lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jaring liongbung bersifat selektif terhadap ikan pari jika Wc>Wm. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jaring liongbun dengan mata jaring berukuran 20 inci merupakan alat tangkap yang bersifat selektif bagi ikan pari jenis Himantura gerrardi, Himantura bleekeri, Aetoplatea zonura, dan Himantura jenkinsii.  Liongbun net has developed as gear for catching rays fish resource in Java Sea. Liongbun net is bottom gillnet with mesh size 20 inch. Although liongbun net has developed but data and information related to the liongbun net especially its technical performance is very lack. In other hand the data and information is needed on the rays fish resource management measure. In order to obtain data and information of selectiveness of liongbun net for some rays fish resource, Research Institute for Marine Fisheries has carried out a research on year of 2007. Research was conducted through random sampling in Kejawanan Fishing Port, Cirebon. The data covered species and disc width of rays caught by liongbun net in Java Sea. Width of first captured is 50% of cumulative frequency on selectiveness curve of liongbun net.Width of first matured is average of data width of first matured of rays those found in the field. Liongbun net is selective to the rays when Wc>Wm. Result of the research showed that liongbun net mesh size 20 inch was selective to rays in Java Sea.
KONTRIBUSI IKAN PARI (Elasmobranchii) PADA PERIKANAN CANTRANG DI LAUT JAWA Fahmi Fahmi; Mohammad Adrim; Dharmadi Dharmadi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 14, No 3 (2008): (September 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.643 KB) | DOI: 10.15578/jppi.14.3.2008.295-301

Abstract

Tinggi tingkat eksploitasi ikan hiu (Shark) dan pari (Elasmobranchii) di Indonesia telah memberikan predikat pada negara ini sebagai negara dengan total produksi ikan-ikan Elasmobranchii yang terbesar di dunia. Akan tetapi, upaya pengelolaan dan konservasi terhadap sumber daya tersebut di Indonesia belum terlaksana disebabkan minim informasi dan data yang mendukung baik biologi maupun perikanan. Penelitian hiu (Shark) dan pari (Elasmobranchii) di Indonesia yang secara intensif telah dilaksanakan sejak tahun 2001, telah berhasil menginventalisir keanekaragaman jenis ikan-ikan Elasmobranchii dari sebagian besar wilayah perairan Indonesia, dan informasi biologi untuk beberapa jenis hiu (Shark) dan pari (Elasmobranchii) yang umum dijumpai telah berhasil pula diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan pari (Elasmobranchii) merupakan kelompok ikan bertulang rawan yang umum dijumpai di perairan Laut Jawa dibandingkan kelompok ikan hiu. Ikan pari bintang (Shark), Himantura gerrardi merupakan salah satu jenis pari (Elasmobranchii) yang paling umum ditemui di seluruh wilayah perairan Indonesia dan memiliki kontribusi yang sangat besar pada total hasil tangkapan yang menggunakan jaring cantrang (danish seine net) di Laut Jawa. Berdasarkan pada hasil tersebut, jenis pari (Elasmobranchii) ini dapat dijadikan sebagai salah satu spesies indikator terhadap keberlangsungan perikanan Elasmobranchii di Indonesia bagian barat, atau Laut Jawa pada khususnya. Indonesia has been regarded as a country which has the highest production of Elasmobranchs in the world. In contrast, there are still no management and conservation actions for this group of fishes yet due to the lack of knowledge and information on Elasmobranchs in Indonesia. Study on sharks and rays have been conducted intensively since 2001 and recorded some preliminary informations about Elasmobranch diversity in this country. One of the results summarized that rays were more common group of Elasmobranchs occurred in the Java Sea. Also, Himantura gerrardi was indicated as one of the commonest rays and it gave the highest contribution of Elasmobranchs caught by the danish seine fishery operating in the Java Sea. This species can also be used as an indicator species for the sustainability of Elasmobranch fisheries in Indonesia or in the Java Sea.
KARAKTERISASI,ANALISIS GEN 16S-rRNA BAKTERT BL542 DAN EVALUASI EFEK BAKTERISIDANYA TERHADAP Vibrio harveyi PENYEBAB PENYAKIT PADA UDANG WINDU (penaeus monodon) Muliani Muliani; Nurhidayah Nurhidayah; Muharijadi Atmomarsono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4719.84 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.1.2005.59-71

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik, mengevaluasi efek bakterisida, dan menentukan posisi relatif isolat BL542 melalui analisis sekuen 16S-rRNA. Penelitian ini terdiri atas beberapa tahapan kerja yaitu: (1) karakterisasi fisiologi dan biokimia, (2) uji sensitivitas terhadap antibiotik, (3) uji daya hambat isolat BL542 terhadap V. Harveyi, (4) uji patogenisitas isolat BL542 terhadap larva udang, (5) uji tantang secara in vitro maupun secara in vivo isolat BL542 dengan V. Haeveyi, (6) analisis gen 16S-rRNA isolat BLS42.
PERLAKUAN PERENDAMAN DALAM LARUTAN ASAM UNTUK MENGHAMBAT PERKEMBANGAN HISTAMIN PADA PINDANG IKAN LISONG (Scomber australasicus GV) Dwiyitno Dwiyitno; Farida Ariyani; Teti Kusmiyati; Harmita Harmita
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4512.675 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.8.2005.1-8

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh perlakuan perendaman dalam larutan asam (sitrat dan laktat) pada ikan sebelum dilakukan pemindangan terhadap kandungan histaminpindang ikan lisong (Scomber australasicus CV). Pada penelitian ini ikan direndam dalam larutan asam sitrat dan asam laktat pada pH 4 dengan variasi lama perendaman 15,30 dan 45 menit. Selanjutnya ikan dipindang dalam larutan garam 15% selama 30 menit. Parameteryang diamati metiputi kadar air, histamin, jumlah bakteri pembentuk histamin, total volatile base (TVB) dan organoleptik.

Page 52 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue