cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 2: Agustus 2023" : 25 Documents clear
Mengaktualisasikan strategi pelayanan misi kontekstual kiai Sadrach pada era posmodern Nggebu, Sostenis
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.727

Abstract

This research aims to show the holistic mission of the Pentecostal perspective, which departs from the Christian concept of holistic mission, namely Missio Dei, where God initiates mission. The trinitarian framework of sending becomes a biblical philosophical foundation for understanding the Christian mission centered on God rather than the church, a shift from an ecclesiocentric mission to a theocentric mission. The church's place is important as the administrator of God's work in the world. The method used is descriptive qualitative with a library research approach, which brings the concept of holistic Christian mission, in general, closer to the potential of Pentecostal pneumatic spirituality. Suppose the Pentecostal movement can continue to realize the potential of a friendly pneumatic spirituality (hospitality) and embrace all of creation. In that case, that solid mission drive will enable Pentecostals to present the church as an administrator of social justice. AbstrakTujuan dari penelitian ini untuk menunjukkan misi holistik perspektif Pentakostal yang bertolak dari konsep misi holistik Kristen, yakni Missio Dei, di mana Allah sebagai inisiator misi. Kerangka pengutu-san trinitarian menjadi fondasi filosofis alkitabiah untuk memahami misi Kristen yang berpusat pada Allah ketimbang gereja, sebuah pergeseran dari ecclesiocentric mission ke theocentric mission. Tempat gereja menjadi pen-ting sebagai administrator dari pekerjaan Allah di dunia. Metode yang di-pergunakan adalah kualitif deskriptif dengan pendekatan library research yang mendekatkan konsep misi holistik Kristen pada umumnya dengan pontensi spritualitas pneumatik Pentakostal. Jika gerakan Pentakostal da-pat terus menyadari akan potensi spiritualitas pneumatik yang ramah (hospitalitas) dan merangkul semua ciptaan, maka dorongan misi yang kuat itu memungkinkan orang-orang Pentakostal mampu menghadirkan gereja sebagai administrator keadilan sosial.
Teologi Kerahiman Allah: Sebuah respons teologis terhadap teknologi ektogenesis Abraham, Rubin Adi; Purnama, Jellia Puspa
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.486

Abstract

Ectogenesis technology, where the process of pregnancy can occur outside the human body through the use of an artificial womb, raises the question of whether the use of artificial wombs is in line with the concept of God's Womb Theology, as humans are created to reflect God's presence over this world. This study explores the theological construction of God's mercy to gain a Biblical perspective on the existence of Ectogenesis technology currently being developed. The study employs a qualitative method by conducting a literature review to find answers. Based on the conducted study, it is found that the existence of artificial wombs is not in harmony with the concept of God’s Womb Theology. The planned use of artificial intelligence in these artificial wombs does not reflect the character and power of God, which are manifested through the natural process of pregnancy within the human womb. This research aims to enable Christians to hold a firm and unified stance in responding to the existence of Ectogenesis technology while also contributing thoughtful insights to other academic disciplines. This is because the reproduction process is intertwined with God's presence as the Creator.AbstrakTeknologi Ektogenesis di mana proses kehamilan dapat terjadi di luar tubuh manusia melalui penggunaan rahim buatan menimbulkan pemikiran apakah penggunaan rahim buatan ini selaras dengan teologi kerahiman Allah, karena manusia diciptakan untuk merefleksikan keberadaan Allah atas dunia ini. Penelitian ini melakukan kajian konstruksi teologis kerahiman Allah untuk mendapatkan tinjauan Alkitab terhadap keberadaan teknologi Ektogenesis yang saat ini tengah dikembangkan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan melakukan kajian literatur untuk dapat menemukan jawaban. Berdasarkan kajian yang dilakukan ditemukan bahwa keberadaan rahim buatan tidak selaras dengan teologi kerahiman Allah, di mana rahim buatan yang juga direncanakan akan menggunakan kecerdasan buatan dalam pelaksanaannya tidak merefleksikan karakter dan kuasa Allah yang terwujud melalui proses kehamilan di dalam kandungan manusia. Melalui penelitian ini diharapkan agar umat Kristen bisa memiliki sikap yang tegas dan solid dalam menanggapi keberadaan teknologi Ektogenesis ini serta memberikan sumbangan pemikiran bagi bidang disiplin ilmu lainnya sebab proses reproduksi merupakan proses yang terintegrasi dengan keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta.
Penguatan karakter moderasi beragama melalui literasi keagamaan dalam pendidikan kristiani Sawan, Fransiskus; Payong, Marselus Ruben
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.707

Abstract

Religious moderation is one of the themes that has been frequently researched in recent years. This topic is examined from various perspectives, including a Christian perspective. In the context of Christian education, studies on this topic generally focus on efforts to build a biblical foundation for moderate religious perspectives, attitudes, and practices. These studies are essential as a form of religious literacy. But so far, there has yet to be research on strengthening the character of religious moderation through the religious literacy movement in Christian education so that the values of religious moderation are internalized into the nature of students. This research aims to fill this gap. The method used is a descriptive qualitative method with a literature study approach. The results show that strengthening the character of religious moderation will be effective if religious literacy is carried out as a participatory movement through learning activities, developing school culture, extracurricular activities, and activities at home/church/community. The results of this study enrich the literature on moderation and religious literacy. They are helpful as an essential input for educators committed to forming the character of religious moderation in students. AbstrakModerasi beragama merupakan salah satu tema yang sering diteliti selama beberapa tahun terakhir ini. Topik ini dikaji dari berbagai cara pandang termasuk cara pandang kristiani. Dalam konteks pendidikan kristiani, studi tentang topik ini umumnya berfokus pada upaya membangun landasan biblis cara pandang, sikap dan praktik hidup beragama yang moderat. Berbagai kajian ini penting sebagai bentuk literasi agama. Namun sejauh ini, belum ada penelitian tentang model penguatan karakter moderasi beragama melalui gerakan literasi agama dalam pendidikan kristiani agar nilai-nilai moderasi beragama terinternalisasi menjadi karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan mengisi gap ini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasilnya menunjukkan bahwa penguatan karakter moderasi beragama akan efektif jika literasi keagamaan dilakukan sebagai gerakan partisipatif melalui kegiatan pembelajaran, pengembangan budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan di rumah/gereja/masyarakat. Hasil penelitian ini memperkaya literatur moderasi dan literasi keagamaan serta berguna sebagai input yang penting bagi para pendidik yang berkomitmen untuk membentuk karakter moderasi beragama dalam diri peserta didik.
Ritual midodareni sebagai medium spiritualitas Kristen: Perspektif triad-theological Steven Jack Land Setyobekti, Andreas Budi
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.798

Abstract

Midodareni, carried out in preparation for marriage, still needs to be understood in Christian theology. Midodareni is a Javanese tradition that must be eliminated after someone believes in Jesus. This tension between Christian faith and culture continues into the modern era. If it continues to be preserved, culture will be eliminated and replaced with religious 'culture'. Therefore, an analysis of symbols, activities, and philosophy is needed to be used as a medium for Christian spirituality. This research examines Midodareni's wedding preparations from the perspective of Steven Jack Land's theological triad. The research method used for analysis describes the midodareni tradition with Steven Jack Land's theological triad approach. The research results show that not all midodareni preparations can be applied to Christian wedding preparations. Some processes can be carried out by transforming meaning, but others cannot. Midodareni has implications for society to encourage harmony and holistic education for bridal couples. AbstrakMidodareni dilakukan untuk persiapan pernikahan masih kerap disalahpahami dalam teologi Kristen. Midodareni dianggap sebagai tradisi Kejawen yang harus dihilangkan setelah seseorang percaya kepada Yesus. Ketegangan antara iman Kristen dan budaya ini terus bergulir hingga era modern ini; jika terus dipertahankan, maka budaya menjadi tersingkirkan dan digantikan dengan ‘budaya’ agama. Oleh karena itu, diperlukan analisis terhadap simbol-simbol, aktivitas-aktivitas, dan filosofi untuk dijadikan sebagai medium spiritualitas Kristen. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji  persiapan pernikahan Midodareni dari perspektif triad theological Steven Jack Land. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif tentang tradisi midodareni dengan pendekatan triad theological Steven Jack Land. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan midodareni tidak semuanya dapat diterapkan dalam persiapan pernikahan iman Kristen. Ada prosesi yang dapat dilakukan dengan mentransformasi maknanya, ada juga yang sama sekali tidak perlu dilakukan. Midodareni berimplikasi kepada peran komunitas untuk mendorong keharmonisan dan pendidikan holistik bagi pasangan mempelai.
Imaji dan interpretasi bencana dalam Perjanjian Lama Tarigan, Jonmedi; Viktorahadi, R.F. Bhanu
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.367

Abstract

Disasters are an inseparable part of the dynamics of human history. The texts of the Old Testament Scriptures contain various kinds of disaster narratives. In turn, these texts provide images and interpretations of disasters. There are three images and interpretations of Old Testament Scriptures for disasters. First, as God’s judgment and punishment. Second, as a result of human persecution of nature, and as a presence, power. Third, God’s sovereignty over nature. This study has two objectives: to describe images and interpretations and to find their relevance to the current meaning of disasters. First, it describes the imagery and interpretation of disasters in the Old Testament Scriptures. Second, find the significance of these images and interpretations in interpreting disasters in human life today. This research uses text analysis methods to achieve these two objectives as a qualitative literature study. This research finds the conclusion and the relevance of images and interpretations of disasters in the Old Testament Scriptures as an invitation to carry out ‘ecological repentance’. AbstrakBencana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika sejarah kehidupan manusia. Teks-teks Kitab Suci Perjanjian Lama memuat aneka macam narasi kebencanaan. Pada gilirannya, teks-teks ini memberikan imaji dan interpretasi atas bencana. Ada tiga imaji dan interpretasi teks-teks Kitab Suci Perjanjian Lama atas bencana. Pertama, sebagai penghakiman dan hukuman Tuhan. Kedua, sebagai akibat penganiayaan manusia terhadap alam, dan sebagai kehadiran, kuasa. Ketiga, kedaulatan Tuhan atas alam. Guna mendeskripsikan imaji dan interpretasi sekaligus menemukan relevansinya untuk pemaknaan bencana yang terjadi saat ini penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, mendeskripsikan imaji dan interpretasi bencana dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Kedua, mencari dan menemukan relevansi imaji dan interpretasi tersebut dalam memaknai bencana dalam kehidupan manusia dewasa ini. Untuk mencapai kedua tujuan itu, sebagai penelitian kualitatif literatur, penelitian ini memakai metode analisis teks. Penelitian ini menemukan simpulan sekaligus relevansi imaji dan interpretasi bencana dalam Kitab Suci Perjanjian lama itu dalam wujud ajakan untuk melaksanakan ‘pertobatan ekologis’.
Pembelajaran berbasis semiotika bagi kecerdasan spiritual anak dalam konteks keluarga Kristen Toraja Rantesalu, Syani Bombongan; Herman, Joffri
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.766

Abstract

The struggle to educate children spiritually cannot be separated from the question, is learning carried out effectively in various ways, or is it burdensome? There are many ways to achieve educational goals, from changing the curriculum. However, something that is sometimes forgotten is the study of semiotics, which is related to signs, where these signs have meaning and can be understood. In the Toraja context, many signs are generally understood, whether in symbols or poetry, which are generally understood in terms of their meaning and purpose. If it is related to spirituality, then this sign, which is generally understood, is related to beliefs in life, values, and rules adhered to by the Torajan people. This research aims to develop children's spirituality by analyzing the symbols in Tana Toraja based on learning Deuteronomy 6:4-9. Semiotics-based learning is very effective and interesting because it does not require children to memorize or force them to understand learning with new concepts but with symbols that are ingrained, both verbal and non-verbal. The results of this research can also be a reference for learning in developing spiritual intelligence globally because symbols are so close to everyone in various regions and countries. AbstrakPergumulan dalam mencerdaskan anak secara spiritual tidak terlepas dari pertanyaan, apakah pembelajaran itu terlaksanakan secara efektif dengan berbagai cara, ataukah justru membebani? Banyak cara yang ditempuh untuk sampain pada tujuan pendidikan yang dimulai dari perubahan kurikulum. Namun, hal yang terkadang dilupakan adalah pembelajaran semiotika, yang berkaitan dengan tanda, di mana tanda tersebut memiliki makna dan dapat dimengerti. Dalam konteks Toraja, banyak tanda yang dipahami secara umum baik itu berupa simbol, mau-pun syair, yang kemudian dipahami secara umum baik makna maupun tujuannya. Jika dikaitkan dengan spiritualitas, maka tanda yang secara umum dipahami ini berkaitan dengan kepercayaan atas nilai-nilai kehidu-pan maupun aturan yang dianut oleh orang Toraja. Penelitian ini bertu-juan untuk mengembangkan spiritualitas anak dengan menganalisis sim-bol-simbol yang ada di Tana Toraja berdasar pada pembelajaran Ulangan 6:4-9. Pembelajaran berbasis semiotika sangatlah efektif dan menarik karena tidak menuntut anak untuk menghafal ataupun memaksa mema-hami pembelajaran dengan konsep yang baru, melainkan dengan simbol-simbol yang telah mendarah daging, baik secara verbal maupun non-verbal. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi acuan pembelajaran dalam mencerdaskan spiritual secara global oleh karena simbol begitu dekat dengan setiap orang di berbagai daerah maupun negara.
Membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan kristiani: Studi kasus pada mahasiswa IAKN Manado Poluan, Agnes Relly
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.387

Abstract

Various natural disasters recently have shown how important it is to build awareness of ecology within the framework of a life of faith. The importance of this awareness has also given rise to ecotheological studies within Christian religious universities. This research aims to analyze the ecological awareness of IAKN Manado students by applying qualitative research methods through a case study approach. The research results reveal that ecological awareness in the IAKN Manado environment is still limited to particular groups, namely some lecturers and staff, where this awareness is stimulated by appeals, warnings, and supervision from leaders regarding the campus environment. In contrast, among students, this awareness is still low. This is due to the understanding that ecological issues are social problems unrelated to Christian faith and spirituality. AbstrakBeragam peristiwa bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini telah memperlihatkan betapa kesadaran akan ekologi sangat penting dibangun dalam kerangka hidup beriman. Pentingnya kesadaran tersebut juga telah memunculkan kajian-kajian ekoteologis di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesadaran ekologi mahasiswa IAKN Manado, dengan menerapkan metode penelitian kualitif melalui pendekatan studi kasus. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kesadaran ekologis di lingkungan IAKN Manado masih terbatas pada kelompok tertentu, yakni pada sebagian dosen dan pegawai, yang mana kesadaran tersebut distimilasi oleh himbauan, teguran, dan pengawasan dari pimpinan terkait kebersihan lingkungan kampus. Sementara itu, di kalangan mahasiswa, kesadaran tersebut masih rendah. Hal ini disebabkan pemahaman terhadap persoalan ekologi merupakan masalah sosial dan tidak terkait dengan iman dan spiritualitas kristiani.
Theology of Christian education on leading toward spiritual transformation in the frame of religious moderation in digital society context Marpaung, Agus Marulitua; Hwang, Byung June
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.746

Abstract

Christian education is being challenged by the transformation of culture in a digital society and some problems that still occur due to religious diversity in Indonesia, such as intolerance, discrimination, and radicalism. Religious moderation is one of the priority programs of The Ministry of Religion Republic of Indonesia to achieve harmony and peace in society. Therefore, this research aims to explore the Theological study of Christian education in leading toward spiritual transformation based on religious moderation in a digital society. Using a qualitative research methodology with a Library-research approach, this study explored studies and literature reviews on the Theology of Christian education, spiritual transformation, and religious moderation. Based on the results of the data analysis in the literature review, This research formulates spiritual transformation in the frame of Religious moderation, such as transforming into a righteous life, loving life, and good citizenship.
Paralelisme Yanus dalam Habakuk 3: Pendekatan analisis semantik dan struktur Santoso, Agus; Sindoro, Pujiastuti Liza; Putrawan, Bobby Kurnia
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.640

Abstract

Ancient Near Eastern poetry has a different style from poetry known in Indonesia. One distinctive style of Semitic poetry is the style known as Parallelismus Membrorum. Among this type of parallelism, there is a very distinctive style of Parallelism, which in the mid-20th century was known as Janus parallelism. This paper reviews some of the Janus Parallelism in one of the Hebrew books, the book of the prophet Habakkuk, chapter 3. This paper uses a method of structure and semantics analysis of poetry. By knowing this type of Janus Parallelism, it is expected that translators of Hebrew poetry, in particular, and Semitic poetry, in general, should be careful because it turns out that in Semitic poetry, there is a literary style of this Semitic poem. AbstrakPuisi Timur Tengah Kuna memiliki gaya yang berbeda dengan puisi yang dikenal di Indonesia. Salah satu gaya khas puisi Semit adalah gaya yang dikenal dengan Parallelismus Membrorum. Di antara jenis paralelisme ini, ada satu gaya paralelisme yang sangat khas, yang pada pertengahan abad ke-20 ini ditemukan yang dikenal dengan istilah teknis paralelisme Yanus. Makalah ini mengulas beberapa paralelisme Yanus pada salah satu kitab Ibrani, yaitu kitab nabi Habakuk pasal 3. Makalah ini memakai metode analisa struktur puisi dan semantis. Dengan mengetahui jenis paralelisme Yanus ini, maka diharapkan para penerjemah puisi Ibrani pada khususnya dan puisi rumpun Semit pada umumnya harus berhati-hati, karena ternyata dalam puisi Semit terdapat gaya sastra puisi.
Hospitalitas kepemimpinan kristiani dalam falsafah elek marboru: Formasi spiritualitas pemimpin yang menghargai bawahan Butar-butar, Grecetinovitria Merliana; Purba, Melsa Yohana; Manik, Lismawati; Manalu, Sri Agustina
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.243

Abstract

Christian leadership ideally reflects the leadership of Christ, which prioritizes the values of humility and respect for others, including subordinates. Respecting subordinates with a spirit of equality is challenging because there is a negative tendency in authority hegemony. However, we argue that Christian hospitality can be a spiritual formation that can accept diversity up to hierarchical differences and treat them as equals. This article offers a culture-based construction of Christian hospitality based on the Elek Marboru philosophy as a means for Christian leaders to respect their subordinates or the people they lead. Using descriptive analysis methods on literature data from studies on similar topics, the elek Barbour philosophy in the dalihan natolu culture shows an attitude of acceptance and equal treatment of groups considered subordinate, namely the Boru. This research concludes that in the context of overseas Batak culture or communities, the values of the elek marboru philosophy can be applied by leaders to respect subordinates or treat them as equals. AbstrakKepemimpinan Kristen idealnya mencerminkan kepemimpinan Kristus yang mengedepankan nilai-nilai kerendahan hati dan menghor-mati orang lain, termasuk bawahannya. Menghargai bawahan dengan spirit kesetaraan bukanlah hal yang mudah untuk dipraktikkan, karena ada kecenderungan negatif dalam hegemoni kekuasaan. Namun demikian, kami berargumentasi bahwa hospitalitas kristiani dapat menjadi formasi spiritual yang dapat menerima keberagaman hingga perbedaan hierarkis dan memperlakukannya setara.  Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konstruksi hospitalitas kristiani berbasis budaya pada falsafah elek marboru sebagai cara pemimpin kristiani dapat menghargai bawahan atau orang yang dipimpinnya. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif pada data literatur hasil kajian dengan topik serupa, maka falsafah elek marboru dalam budaya dalihan natolu memperlihatkan sikap penerimaan dan perlakukan setara pada kelompok yang dianggap subordinasi, yakni boru. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa dalam konteks budaya atau komunitas Batak di perantauan, nilai falsafah elek marboru dapat diterapkan oleh pemimpin dalam rangka menghargai bawahan atau memperlakukannya setara. 

Page 2 of 3 | Total Record : 25