cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL SELULOSA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Selulosa (JSel) is a journal that provides scientific information resources aimed at researchers and engineers in academia, research institutions, government agencies, and industries. Jurnal Selulosa publishes original research papers, review articles and case studies focused on cellulose, cellulose derivatives, pulp technology, paper technology, environment, biorefinery and other related topics. Formerly known as Berita Selulosa, and the first publication was in 1965. Since 2011, the journal renamed to Jurnal Selulosa.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 01 (2020): JURNAL SELULOSA" : 5 Documents clear
Potensi Karton Bekas Minuman sebagai Komposit PolyAl-Fiber Rizaluddin, Andri Taufick; Rostika, Ike; Wattimena, Reza Bastari Imran
JURNAL SELULOSA Vol 10, No 01 (2020): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25269/jsel.v10i01.293

Abstract

Dalam rangka penanggulangan limbah karton bekas minuman (KBM), telah dikembangkan proses daur ulang untuk mengembalikannya menjadi bahan baku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi pemanfaatan KBM sebagai bahan baku komposit yang lebih tahan air, dan membandingkannya dengan spesifikasi teknis produk sejenis. Pembuatan komposit dilakukan dengan pemanasan menggunakan alat hot press pada suhu 165oC dan tekanan 25-30 kg/cm2 selama 10 menit. Produk komposit yang diperoleh memiliki nilai bending strength 12,78 MPa, bending modulus 11,60 GPa, flammability 3 cm/menit, daya serap air 2,1-14,1%, kadar air 0,9-1,9%, dan rapat massa 0,68-0,94 g/cm3, pada ketebalan 2,5-3,5 mm. Komposit PolyAl-fiber dapat memenuhi persyaratan standar papan serat, papan partikel maupun komposit kayu plastik tanpa penambahan bahan maupun proses lain, yang mengindikasikan komposit PolyAl-fiber memiliki potensi untuk digunakan dalam berbagai keperluan sejenis. Komposit PolyAl-fiber akan dapat menghasilkan papan komposit dengan kualitas lebih baik, karena lebih fleksibel, lebih tahan air, dan lebih tahan api bila dibandingkan dengan produk lain yang terbuat dari bahan baku kayu atau biomassa.Potential of Used Beverages Cartons for PolyAl-Fiber Composite AbstractVarious recycling processes have been developed to overcome the problem of used beverage carton (UBC) waste. Research was conducted to determine the potential utilization of UBC as a material for more waterproof composite and compared it to similar products. The composites were made using hot press machine at temperature of 165oC and pressure of 25-30 kg/cm2 for 10 minutes with 5% - 30% fiber content. The PolyAl-fiber composite obtained had bending strength of 12.78 MPa, bending modulus of 11.60 GPa, flammability of 3 cm/min, water absorption of 2.1-14.1%, moisture content of 0.9-1.9%, and density of 0.68-0.94 g/cm3, at thickness of 2.5-3.5 mm. The PolyAl-fiber composite could meet the requirements for fiberboard, particleboard, or plastic wood composite standards without extra additives or treatment to the raw materials, indicating that it could be used for similar purposes. The PolyAl-fiber composites may able to produce a better quality of composite boards, due to their flexible, waterproof, and fire-resistant characteristics compared to similar products made from wood or                                                                                                                                                          
Sintesis Micro-Fibrillated Cellulose dari Serat Tandan Kosong Sawit dengan Hidrolisis Asam Oksalat Rizka Karima; Evana Yuanita; Bunda Amalia; Agustina Arianita; Tiara Mailisa; Bumiarto Nugroho
JURNAL SELULOSA Vol 10, No 01 (2020): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25269/jsel.v10i01.281

Abstract

Tandan Kosong Sawit (TKS) merupakan limbah padat dari industri pengolahan kelapa sawit yang melimpah di Indonesia dan mengandung banyak selulosa. Microfibrillated cellulose (MFC) dapat diproduksi dari serat TKS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mensintesis MFC dari serat TKS melalui proses alkalisasi,  pemutihan dan hidrolisis. TKS dicacah dan dihaluskan hingga berukuran 60 mesh untuk proses pembuatan pulp TKS. Proses alkalisasi dilakukan dalam reaktor menggunakan 4% NaOH pada suhu 90˚C selama 2 jam dan dilanjutkan dengan proses pemutihan mengunakan 20% H2O2 pada suhu kamar selama 2 jam. Kemudian proses hidrolisis dilakukan menggunakan asam oksalat 5% pada suhu 80°C selama 1 jam. MFC yang dihasilkan dianalisis menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), X-Ray Difraction (XRD), Thermal Gravimetric Analysis (TGA) dan Field Emission Scanning Electron Microscopy (FESEM). Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa adanya penurunan kadar lignoselulosa yang dikonfirmasi juga oleh hasil uji kuantitatif kadar lignin. Hasil uji XRD menunjukkan peningkatan nilai kristalinitas. Hasil uji TGA menunjukkan hidrolisis menggunakan asam oksalat 5% dapat meningkatkan area degradasi termal dan hasil FESEM menunjukkan telah terjadi proses fibrilisasi serat dan penurunan diameter ukuran serat dari 400 µm menjadi 10 µm. Dari hasil penelitian ini, jika dilihat dari hasil kristalinitas, sifat termal dan ukuran diameter serat, proses hidrolisis menggunakan asam oksalat 5% adalah proses yang baik untuk pembuatan MFC dari serat TKS. Synthesis of Micro-Fibrillated Cellulose (MFC) from Oil Palm Empty Fruit Bunches (OPEFB) Fiber with Oxalic Acid HydrolysisAbstractOil Palm Empty Fruit Bunches (OPEFB), which is a solid waste from the palm oil processing industry, has a high availability in Indonesia, and it contains a lot of cellulose. Microfibrillated cellulose (MFC) can be produced from OPEFB fiber. This work’s objective was to synthesize MFC from fibers of OPEFB through the process of alkalization, bleaching process, and the hydrolysis process using an oxalic acid solution. The procedure began chopped fiber until 60 mesh, and alkalization process of pulping OPEFB in the reactor using 4% NaOH at the temperature of 90 ˚C for 2 hours. It continued with the addition of 20% H2O2 at room temperature for 2 hours. The hydrolysis process is carried out using an oxalic acid 5 % at temperature of 80°C for 1 hour. MFC was analyzed using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), X-Ray Diffraction (XRD), Thermal Gravimetric Analysis (TGA), and Field Emission Scanning Electron Microscopy (FESEM). The FTIR analysis showed that the quantitative result also confirmed a decrease in lignocellulose content. XRD result showed an increase in the value of crystallinity. TGA results showed that hydrolysis using oxalic acid can increase the area of thermal degradation, and FESEM results showed there is a decreasing diameter of fiber from 400 µm to 10 µm. From the results of this study, when viewed from the results of crystallinity, thermal properties, and size of the fiber diameter, the hydrolysis process using 5% oxalic acid is a good process for making MFCs from TKS fibers.
Studi Kasus Proyek Co-Benefit Peningkatan Efisiensi Boiler Batubara di Industri Kertas Syamsudin Syamsudin; Katsushige Takami; Shoji Kita; Yusup Setiawan; Reza Bastari Imran Wattimena; Andri Taufick Rizaluddin
JURNAL SELULOSA Vol 10, No 01 (2020): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25269/jsel.v10i01.296

Abstract

Pertumbuhan industri yang pesat menyebabkan masalah emisi gas rumah kaca. Kegiatan co-benefit peningkatan efisiensi boiler batubara telah dilakukan di industri kertas dalam proyek “Co-benefit Indonesia Tahun 2018” dari Kementerian Lingkungan Hidup Jepang dengan tujuan melakukan identifikasi langkah-langkah yang terkait dengan konservasi energi dan penurunan polutan emisi boiler industri berbahan bakar batubara dan cara melakukannya. Identifikasi meliputi analisis efisiensi termal boiler, pengukuran kadar air batubara, pengukuran kualitas air umpan boiler, air blowdown, dan kondensat, pemeriksaan insulasi panas, pengaturan rasio udara pembakaran, dan pengendalian operasi multi boiler. Berbagai kehilangan panas dianalisis dan beberapa rekomendasi diberikan untuk implementasi di pabrik sehingga efisiensi boiler dapat ditingkatkan. Beberapa masalah yang perlu diperbaiki untuk konservasi energi meliputi penggunaan batubara dengan kadar air tinggi, rasio udara pembakaran tinggi, konduktivitas air umpan tinggi menyebabkan rasio blowdown tinggi, tidak dilakukan insulasi pada mesin produksi yang relatif tua, dan pengoperasian beberapa boiler dengan efisiensi rendah. Potensi perbaikan melalui penyesuaian kadar air batubara, perbaikan rasio udara pembakaran, optimalisasi rasio blowdown, pemulihan air kondensat, pemasangan insulasi, dan kontrol multi boiler secara teori menghasilkan reduksi konsumsi batubara 16.445 ton/tahun atau 48,63%, dan reduksi CO2 sebesar 19.589 tCO2/tahun dengan estimasi penghematan biaya Rp 12 milyar/tahun. Kata kunci: co-benefit, industri kertas, boiler, batubara, emisi.Case Study of Co-Benefit Project Improvement of Coal Boiler Efficiency in The Paper IndustryABSTRACT Industrial rapid growth has caused greenhouse gas emissions problems. Co-benefit activities to improve the efficiency of coal boilers have been carried out in paper industry in the project of “Co-benefit Indonesia FY 2018” from the Japan Ministry of Environment aimed at identifying required steps to save energy and reduction of pollutant emission from the coal-fired industrial boilers and how to achieve it. Identification include analysis of boiler thermal efficiency, coal moisture content measurement, boiler feed water, blowdown water and condensate quality measurement, heat insulation examination, combustion air ratio management, and control of multiple boiler operations. Various heat losses have been analyzed and some recommendations have been proposed to be implemented by factory management to improve boiler efficiency. There are several issues that need to be addressed for energy conservation, namely: high water content coal utilization, high combustion air ratio, high conductivity feed water which causes high blowdown ratios, no insulation on relatively old production machines, and operational of several low efficiency boilers. The results of the co-benefit identification indicated that the potential for corrective action by adjusting the coal water content, improving the combustion air ratio, optimizing the blowdown ratio, recovering condensate water, installing insulation, and controlling multiple boilers theoretically can result coal consumption reduction of 16,445 tons/year or 48.63%, and CO2 reduction of 19,589 tCO2/year with an estimated cost savings of Rp 12 billion/year.
Dissolving Pulp dari Kayu dan Nonkayu: Tinjauan Proses Pembuatan dan Karakteristiknya Reynaldo Biantoro; Krisna Septiningrum; Teddy Kardiansyah
JURNAL SELULOSA Vol 10, No 01 (2020): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25269/jsel.v10i01.294

Abstract

Pemanfaatan derivat selulosa menjadi viskosa rayon saat ini berkembang secara signifikan; dalam hal ini pulp khusus yang digunakan adalah dissolving pulp. Dissolving pulp ini memiliki karakteristik tertentu seperti kandungan selulosa tinggi (> 90%), kadar hemiselulosa rendah, lignin dan kandungan ekstraktif (kurang dari 10%), reaktivitas selulosa tinggi dengan tingkat distribusi berat molekul dan kecerahan tinggi, serta memiliki viskositas sekitar 200-300 dm3/kg. Saat ini, pembuatan dissolving pulp diarahkan untuk penggunaan bahan baku kayu dan non-kayu yang melimpah dengan menggunakan metode ramah lingkungan. Secara umum terdapat empat metode utama termasuk teknologi konvensional dan terbaru yang dapat digunakan untuk membuat dissolving pulp seperti: 1. Metode bisulfit menggunakan gas SO2 dengan yield sekitar 55 -75%; 2. Metode sulfit-soda yang mampu menghasilkan kandungan selulosa yang tinggi (hingga 96%); 3. Pra-hidrolisis kraft yang merupakan metode populer dalam pembuatan dissolving pulp dan 4. Konversi pulp kertas menjadi dissolving pulp. Dalam makalah ini dibahas pembuatan dissolving pulp menggunakan enzim seperti xilanase dan mono komponen endoglukanase dan kombinasi antara mekanik, kimia dan metode enzimatik. Kata kunci: dissolving pulp, pra-hidrolisis kraft, enzim, konversi pulp kertas
Pengaruh Alkali Aktif terhadap Karakteristik Pulp Kraft Putih Acacia mangium dan Eucalyptus pellita Teddy Kardiansyah; Susi Sugesty
JURNAL SELULOSA Vol 10, No 01 (2020): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25269/jsel.v10i01.291

Abstract

Industri pulp Indonesia saat ini memiliki masalah dalam penyediaan bahan baku kayu Acacia mangium, karena serangan penyakit tanaman dan hama. Hal ini harus diantisipasi melalui bahan baku alternatif pengganti Acacia mangium, spesies Eucalyptus pellita dipilih karena lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik kualitas pulp kraft putih E. Pellita. Penelitian pembuatan pulp kertas dilakukan dengan proses kraft dengan bahan baku A. mangium dan E. pellita. Pemasakan dilakukan dengan variasi alkali aktif 16-20%, sulfiditas 28,7%, pada suhu 165 °C, rasio larutan pemasak terhadap kayu 3,5:1 dan faktor H 1.022. Pemutihan pulp dilakukan dengan proses ECF (Elemental Chlorine Free) dengan tahapan OD0EoD1. Karakteristik pulp kraft hasil pemasakan A. mangium lebih tinggi pada parameter rendemen tersaring, bilangan kappa dan viskositas dibandingkan dengan E. pellita. Penggunaan alkali aktif 16% pada pemasakan A. mangium lebih rendah dari  E. pellita (18%), namun kualitasnya dapat memenuhi spesifikasi kualitas pulp kraft putih sesuai SNI 6107:2015 (Pulp Kraft Putih Kayu daun) pada parameter derajat giling, derajat putih dan sifat fisik.  Karakteristik pulp kraft putih A. mangium lebih tinggi pada parameter derajat giling, derajat putih dan sifat fisik dibandingkan dengan E. pellita. Namun demikian E. pellita berpotensi untuk dikembangkan di Hutan Tanaman Industri sebagai bahan baku pulp.Effect of Active Alkali on Characteristic of Acacia mangium and Eucalyptus pellita Bleached Kraft PulpAbstractThe Indonesian pulp industry currently has problems in supplying Acacia mangium wood raw materials, due to plant disease and pest attacks. This could be anticipated through alternative raw materials to substitute Acacia mangium, the Eucalyptus pellita species chosen because it is more resistant to pests and diseases. This study was conducted to determine the quality characteristics of E. Pellita bleached kraft pulp. The research on making paper pulp using A. mangium and E. pellita was carried out by means of the kraft process. The cooking was carried out with a variation of 16-20% active alkali, 28.7% sulfidity, at a temperature of 165°C, a liquor to wood ratio of  3.5:1 and an H factor of 1.022. The bleaching of the pulp has been carried out using the ECF (Elemental Chlorine Free) process with the OD0EoD1 stage. Characteristics of kraft pulp from A. mangium cooking were higher in the screening yield, kappa number and viscosity compared to E. Pellita. The use of 16% active alkaline in cooking of  A. mangium is lower than E. pellita (18%), but the quality can meet the quality specifications of white kraft pulp according to SNI 6107: 2015 (White Kraft Leaf Wood Pulp) on the parameters of milled degree, whiteness and properties. The characteristics of A. mangium white kraft pulp were higher in parameters of grind degree, whiteness and physical properties compared to E. pellita. However, E. pellita has the potential to be developed in Industrial Plantation Forests as raw material for pulp. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2020 2020