cover
Contact Name
Eko Sujadi
Contact Email
ekosujadi91@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ekosujadi91@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kerinci,
Jambi
INDONESIA
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 16938712     EISSN : 25027565     DOI : -
Jurnal Islamika: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman (e-ISSN 2502-7565, p-ISSN 1693-8712 is a peer-reviewed (double blind review) journal published by Research and Community Service Office, State Islamic Institute of Kerinci. The goal of this journal is to facilitate scholars, researchers, and teachers for publishing the original research articles or review articles. Journal Islamika is published 14 articles in two editions in one year in July and December.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
PENGARUH FAKTOR-FAKTOR SOSIAL TERHADAP IJTIHAD ABU BAKAR AL-SHIDDIQ Hamzah, Ali
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 14 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abu Bakar, a caliph which is very close to the Messenger and those who believe, first of all among adults. His Ijtihad (struggle) is very influential on the development of religious Muslims at the time. Because of to the strength and solidarity of Muslims at that time, Muslims still exist, as in the time of the Prophet of Islam, even in certain areas there is progress and a significant advantage which was inspired by some of his brilliant effort. Review of various aspects of leadership, can work well, because it was driven by a very admirable character that he had with the Muslim countries. Abu Bakar seorang khalifah yang sangat dekat dengan Rasul dan termasuk orang yang pertama sekali beriman dari kalangan orang dewasa. Ijtihad-ijtihad beliau sangat berpengaruh terhadap perkembangan keagamaan umat Islam pada saat itu. Berkat keteguhan dan kebersamaan umat Islam pada saat itu, umat Islam tetap eksis, sebagaimana Islam di masa Rasul, bahkan pada bidang tertentu terdapat kemajuan dan keunggulan yang sangat berarti  yang diilhami oleh beberapa ijtihad brilian beliau. Kepemimpinannya ditinjau dari berbagai aspek, bisa berjalan dengan baik, karena dimotori oleh karakter yang sangat terpuji yang beliau miliki plus kekompakannya dengan  warga negara  Islam.
Perempuan Muslimah ODHA di Kebumen, Sebuah Kajian Transformasi Awal Chamidi, Agus Salim
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18 No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 Tahun 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.969 KB) | DOI: 10.32939/islamika.v18i1.270

Abstract

Riset ini riset transformatif sosial dalam upaya memberdayakan perempuan muslimah yang tertular HIV AIDS, yang kemudian mereka menjadi Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Dalam riset ini mereka disebut sebagai perempuan muslimah ODHA. Lokasi riset  di Kebumen Jawa Tengah Indonesia. Riset ini bersifat kualitatif, dengan menggunakan model participatory action research (PAR) dan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, yang diramu dalam  model knowledge sharing  dan diskusi hasil temuan secara partisipatoris. Informan kuncinya adalah sejumlah perempuan muslimah ODHA di Kebumen. Riset dilakukan pada Mei-Juni 2018. Meskipun masih pada tahapan perencanaan kegiatan, hasil riset sudah cukup menggembirakan.  Adapun hasilnya adalah bahwa (1)perempuan muslimah ODHA menyadari dan setuju terhadap  upaya  penguatan mereka melalui kegiatan keagamaan Islam dan kegiatan ekonomi produktif, (2)kalangan pegiat HIV AIDS juga mendukung upaya penguatan tersebut, (3)kalangan perempuan muslimah ODHA masih khawatir dan takut akan stigma dan diskriminasi dengan adanya open status sehingga mereka masih memerlukan bantuan dari pegiat HIV AIDS untuk mendampingi mereka, (4)adanya rencana bersama menyelenggarakan kegiatan bagi upaya penguatan para perempuan muslimah ODHA, dan (5)model PAR masih direkomendasikan. Adapun rekomendasi dari riset ini adalah pentingnya manajemen  pemberdayaan perempuan  muslimah  ODHA secara massif dan komprehensif yang menggandeng bersama berbagai kalangan mitra secara partisipatori.
KESULITAN BELAJAR YANG DIHADAPI OLEH MAHASISWA DAN SOLUSINYA Irrubai, Mohammad Liwa
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 14 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the problems in the world of education in Indonesia highlighted that many people are of quality problems or quality. Quality of education is of course related to learning. However, reality shows that  a lot of the students did not achieve expected maximum learning because there are several factors that influence them, which are; the influence of close friends, economic status, encouragement of parents, facilities and infrastructure. On the other hand the dynamics of what happens to the students showed clearly the tendency of students to disinterest in science studies. This paper presented: a. Difficulty in learning influenced by; 1) internal factors; intelligence factors and interest, 2) external factors; family and community factors. While solutions to reduce the difficulty of learning are as follows; 1) provides tutoring, 2) generate interest in students to learn the lessons that follow, 3) information service, 4) placement services, and 5) counseling services.
HELAH DAN HYBRID CONTRACTS (al-’UKUD al-MURAKKABAH)PADA PRODUK KEUANGAN SYARI’AH PERSPEKTIF FIQH MUAMALAH mursal, mursal
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17 No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring pesatnya kemajuan zaman, lembaga keuangan syariah harus bisa memenuhi kebutuhan bisnis modern dengan menyajikan produk-produk inovatif dan lebih variatif serta sesuai syariah. Tantangan ini menuntut para praktisi, regulator, konsultan, dewan syari‟ah dan akademisi bidang Ekonomi Islam untuk kreatif merespon perkembangan tersebut. Solusi yang diberikan ialah dengan penggabungan beberapa akad (multi akad/hybrid contracts). Akad dalam lembaga keuangan syariah tidak lagi sesederhana seperti yang ada dalam kitab fiqh klasik tapi bertransformasi menjadi akad-akad hybrid dan bertingkat-tingkat. Oleh karena akad-akad muamalah sederhana/klasik tersebut pada dasarnya bukan akad yang dapat diterapkan dalam sistem keuangan modern maka diperlukan upaya-upaya untuk mentransformasikan akad-akad tersebut sehingga aplikatif dalam sistem keuangan Islam. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah apa saja produk lembaga keuangan syariah yang menggunakan helah dan hybrid conracts (al-‟ukud al-murakkabah) dan Bagaimanakah perspektif fiqh mauamalah mengenai helah dan hybrid conracts (al‟ukud al-murakkabah). Inovasi pengembangan produ ksyariah melalui FATWA DSN MUI hybrid contract smerupakan keniscayaan untuk memenuhi kebutuhan akan produk transaksi di bidang keuangan syari‟ah, hybrid contracts yang ada pada produ kkeuangan syariah mendapat legitimasi dari FATWA DSN MUI. Namun ada beberapa dalil yang secara khusus menerangkan tentang penggabungan beberapa akad dalam beberapa konteks saja seperti menggabungkan jualbeli dengan jualbeli (bay al-‟inah), bay dengan qarddan lain sebagainya.  Dari beberapa produk keuangan syariah ada sebagian hybrid contracts yang bertentangan dengan nash dan lebih identik kepada helah ziyadahribawi, sepertiga dari ema smenggunakan akad rahndanijarah, talangan haji menggunkan akad qarddanijarah, dan di pasar komudita ssyariah lebih menyerupai bay al-„inahataupuntawaruqmunazom yang menjadi helahribawi.
UTANG PIUTANG DALAM PERSPEKTIF FIQIH Sonafist, Y.
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 15 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The economic crisis is often the case that have an impact on the global financial crisis and resulting financial conditions of individuals and families experiencing instability. Many have suddenly become poor or otherwise many who suddenly become rich. The next result is empirically many people who sell loans or receivables to others with cash because of being pressured by the needs that must be met. Buying and selling in this form in terms fiqhiyyah is called Baiuddain; for example, person A owes the B. Agreement is corroborated by accounts payable certificate. Due to the urgent need, certificate of accounts payable were sold B to person C, and based on the certificate, the C collect the debt on the A. Or the A book or asked for an item (say furnishings) on the B and has been partially paid the price (perskot), then after that if A is in need of money and need cash, so he sold the debt on the C with a slight advantage. So, how is the law of sale and purchase of loans or receivables (Bai al-dain) is in the perspective of Islamic perspective? seems the scholars have different opinions about this. More can be read in the following text. Krisis perekonomian yang sering terjadi kadang-kadang membawa dampak pada krisis keuangan global dan mengakibatkan kondisi keuangan perorangan dan keluarga mengalami ketidak-stabilan. Banyak yang mendadak menjadi miskin atau sebaliknya banyak yang mendadak menjadi kaya. Akibat selanjutnya secara empirik banyak, orang yang menjual hutang atau piutangnya kepada orang lain dengan uang cash karena terdesak oleh kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Jual beli dalam bentuk ini dalam istilah fiqhiyyah disebut Bai’uddain; misalnya si A berutang pada si B. Perjanjian hutang piutang dikuatkan dalam akte perjanjian hutang piutang. Karena kebutuhan yang mendesak, akte perjanjian hutang piutang tersebut dijual B kepada si C, dan berdasarkan akte tersebut, si C menagih hutang pada si A.Atau si Amemesan atau minta dibuatkan suatu barang (katakanlah perabot) pada si B dan telah dibayar sebagian harga (perskot), lalu setelah itu si A mengalami kesulitan ekonomi dan butuh uang cash, maka ia menjual utangnya itu pada si C dengan sedikit keuntungan. Lantas, bagaimanakah hukum jual beli hutang atau piutang (Bai’ al-dain) ini dalam perspektif Fiqh Islam? nampaknya para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Selengkapnya dapat dibaca dalam tulisan berikut.
UANG ADAT PERKAWINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM (Studi Kasus Dilembaga Adat Depati Atur Bumi) Arzam, Arzam
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17 No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan uang adat dalam perkawinan di wilayah Lembaga Adat Depati Atur Bumi, mengetahui sanksi pelanggaran terhadap uang adat dalam Perkawinan di wilayah lembaga adat depati atur bumi, mengetahui tinjauan hukum Islam terhadap uang adat dalam perkawinan di wilayah lembaga adat depati atur bumi. Adapun jenis Penelitian ini adalah penelitian Kualitatif  (penelitian lapangan) yakni menggambarkan dan mengumpulkan secara umum masalah yang diteliti atau yang objektif dengan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan data penelitian dan berakhir dengan penarikan kesimpulan secara khusus. Hasil dari penelititan ini dapat peneliti peroleh bahwa  Kedudukan uang adat adalah sebagai uang penerang atau uang yang dihanguskan (dalam uang adat) atau uang yang akan dibagi-bagikan kepada para orang-orang adat dan untuk kebutuhan lainnya seperti masjid, Maka diwajibkan untuk membayarnya sebagai salah satu syarat untuk dilaksanakan pernikahan adat. Akibat pelanggaran terhadap uang adat dalam perkawinan di Lembaga Adat Atur Bumi ialah segala resiko yang akan terjadi di kemudian hari akan ditanggung sendiri, ia tidak diakui sebagai anak buah di desa tersebut, dan ia tidak boleh mendirikan rumah di desa tersebut. Menurut pandangan hukum Islam tentang kedudukan uang adat di dalam pelaksanaan pernikahan secara adat di Lembaga Adat Atur Bumi yang tidak ada larangan di dalam ajaran agama karena antara adat dan agama terjadi pembauran yang harmonis dan tidak dapat dipisahkan. Pepatah adat mengatakan “Adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah. Syara’ mengato, adat memakai”. Dan sesuai dengan kaidah ushul fiqh.
PEMBERDAYAAN MAHASISWA JURUSAN SYARIAH SEIRING DENGAN PERKEMBANGAN IPTEK DALAM MENYONGSONG ERA REFORMASI Wahyudi, Wahyudi
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 14 No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muslim students are expected to have ideals, commitment, and high integrity of religion and humanity. Therefore, to realize the Muslim’s personality as mentioned above, State Islamic College (STAIN) Kerinci has tried hard to make improvements and changes ranging from the very basic thing like formulate the vision and mission to the things that are physical development such as constructing of buildings, infrastructure facilities, and other facilities. There are many factors that can inhibit and disrupt the progress of learning, and often also the case of failure. These factors include endogen and exogenous factors. To resolve the learning problems, students’ empowerment is done to support the development of their learning Department of Syariah of State Islamic College (STAIN) Kerinci is empowering the students by doing the development of teaching materials, teaching, students affairs, and institutional. Mahasiswa muslim diharapkan mempunyai idealisme, komitmen dan integritas yang tinggi terhadap agama dan kemanusiaan. Karena itulah untuk mewujudkan pribadi muslim seperti yang disebutkan di atas, STAIN Kerinci telah berusaha keras dan melakukan upaya perbaikan dan perubahan mulai dari hal-hal yang sangat mendasar seperti merumuskan visi dan misi sampai pada hal-hal yang bersifat pembangunan fisik seperti pembangunan gedung, sarana prasarana dan fasilitas lainnya. Ada banyak faktor yang dapat menghambat dan mengganggu kemajuan belajar, bahkan sering juga terjadi suatu kegagalan. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor indogen dan faktor eksogen. Dalam mengatasi masalah belajar dilakukan pemberdayaan terhdap mahasiswa untuk menunjang perkembangan belajar mahasiswa. Di Jurusan Syariah STAIN Kerinci dilakukan pengembangan bahan ajar, pembelajaran, kemahasiswaan dan kelembagaan untuk memberdayakan mahasiswa
NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI SILATURAHIM MENJELANG RAMADHAN DI HAMPARAN RAWANG Efyanti, Yasni
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 16 No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perkembangannya, budaya atau tradisi lahir seiring dengan kebutuhan masyarakat dalam sebuah lingkungan. Dengan demikian tradisi itulah yang akan menjadi ciri yang membedakannya dengan daerah lain. selanjutnya tradisi yang berkembang ini bertujuan untuk menyatukan masyarakat dan memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran yang begitu arif bagi masyarakat. Dan inilah yang kemudian disebut dengan kearifan lokal.Salah satu tradisi yang masih terjaga yakni silaturahim menjelang ramadhan di Hamparan Rawang.Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yang menggambarkan fenomena yang terjadi di lapangan. Dari hasil penelitian maka dapatlah diketauhi bahwa bagaimana sebenarnya dalam tradisi ini mengandung makna yang sangat mendalam tentang jalinan kekerabatan antara “anak batino” dan “anak bajantan” akan selalu terjaga. Melalui tradisi silaturahim ini, meskipun harta pusaka keluarga dikelola oleh “anak batino” secara bergiliran melalui tradisi silaturahim ini “anak bajantan” dapat juga menikmatinya dari “ngatau bhauh” “anak batino” ke rumah “anak bajantan” sebelum Ramadhan.
BAIUL WAFA` (Review Penggunaan Dalil Mashlahah di Kalangan Hanafiyah) Asaari, Asaari
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 13 No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bai al-Wafa` first appeared in Central Asia, especially Bukhara and Balkh around the 5th century AH in order to avoid usury in borrowing. Many of the rich when it is not willing to lend money without any remuneration they receive. While many of the borrowers are not able to pay off debts due in return they have to pay along with money borrowed. On the other hand benefits granted on the basis of borrowing money, according to scholars of fiqh including usury. So to avoid usury, the community of Bukhara and Balkh formatting a form of trading known as alWafa` Baiu. For todays economic context BaiulWafa` should be considered to be applied in the activities muamalatMuslim community, especially in Indonesia as a substitute for Pawn institutions that practice during this conflict with Rahan outlined by the texts, especially in terms of taking advantage of pledges by the lien holder Baiu al-Wafa` muncul pertama kali di Asia Tengah khususnya Bukhara dan Balkh sekitar abad ke 5 Hijriyah dalam rangka menghindari terjadinya riba dalam pinjammeminjam. Banyak di antara orang kaya ketika itu tidak mau meminjamkan uangnya tanpa ada imbalan yang mereka terima. Sementara banyak pula para peminjam uang tidak mampu melunasi hutangnya akibat imbalan yang harus mereka bayarkan bersamaan dengan uang yang dipinjam. Di sisi lain imbalan yang diberikan atas dasar pinjam-meminjam uang itu menurut ulama fikih termasuk riba. Maka untuk menghindarkan diri dari riba, masyarakat Bukhara dan Balkh memformat suatu bentuk jual beli yang dikenal dengan Baiu al-Wafa`. Untuk konteks ekonomi dewasa ini, Baiul Wafa` patut dipertimbangkan untuk diterapkan dalam aktivitas muamalat masyarakat Muslim khususnya di Indonesia sebagai pengganti institusi Gadai yang praktiknya selama ini bertentangan dengan Rahan yang digariskan oleh nash terutama dalam hal mengambil manfaat dari barang gadaian oleh pemegang gadai.
HUKUM ISLAM SEBAGAI REVOLUSIONER DAN EGALITER DALAM KEHIDUPAN SOSIAL Arzam, Arzam
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 14 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pegabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The law of pre-Islamic pagan racist, feudal and patriarchal, Islamic appear to bring changes to the character of law as opposed to pagan law. Islam teaches equality is reflected in the principles and laws as well as the behavior of the Prophet Muhammad and his followers who want the egalitarian life. Quraish against Islam conflict is closely linked to the religious aspect and the social aspect is a counter to the egalitarian system of Islamic law. And by implication, the understanding of Islamic law must be followed by the realization that Islamic law has egalitarian character and it is a social change of the law that are not egalitarian Jahiliyyah be egalitarian Islamic law Hukum Jahiliyyah pra-Islam yang rasialis, feodal dan patriarkhis, Islam lahir dan muncul dengan membawa perubahan hukum dengan karakter yang bertolak belakang dengan hukum Jahiliyyah. Islam mengajarkan kesetaraan yang tergambar dari prinsip-prinsip dan hukum-hukumnya serta perilaku Nabi Muhamad Saw beserta para pengikutnya yang menghendaki adanya kehidupan egaliter. Pertentangan Quraisy terhadap Islam yang berkaitan erat dengan aspek keagamaan dan aspek sosial merupakan suatu kontra terhadap sistem hukum Islam yang egaliter. Dan sebagai implikasinya, pemahaman terhadap hukum Islam harus diikuti dengan kesadaran bahwa hukum Islam itu memiliki karakter egaliter dan hal tersebut merupakan sebuah perubahan social dari hukum Jahiliyyahyang tidak egaliter menjadi hukum Islam yang egaliter.

Page 2 of 30 | Total Record : 299


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 2 (2025): Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman (In Press) Vol. 25 No. 1 (2025): Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 24 No. 2 (2024): Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 24 No. 1 (2024): Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 23 No. 2 (2023): Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 23 No. 1 (2023): Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 22 No. 01 (2022): Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 22 No. 2 (2022): Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 21 No. 02 (2021): Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 21 No. 01 (2021): Islamika: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 20 No. 02 (2020): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 20 No. 01 (2020): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 19 No 02 (2019): Jurnal Islamika Volume 19 No 02 Vol 19 No 01 (2019): Jurnal Islamika Volume 19 No 01 Vol. 19 No. 02 (2019): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 19 No. 01 (2019): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 18 No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 Tahun 2018 Vol 18 No 02 (2018): Jurnal Islamika Volume 18 No 02 Vol. 18 No. 02 (2018): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 18 No. 01 (2018): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 17 No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Vol 17 No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 Vol. 17 No. 2 (2017): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 17 No. 1 (2017): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 16 No 2 (2016) Vol. 16 No. 2 (2016): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 16 No. 1 (2016): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 16 No 1 (2016) Vol 15 No 2 (2015) Vol. 15 No. 2 (2015): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 15 No 1 (2015) Vol. 15 No. 1 (2015): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 14 No. 2 (2014): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 14 No 2 (2014) Vol 14 No 1 (2014) Vol. 14 No. 1 (2014): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 13 No. 2 (2013): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 13 No 2 (2013) Vol 13 No 1 (2013) Vol. 13 No. 1 (2013): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman More Issue