cover
Contact Name
Triyanto
Contact Email
triyanto@utu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jcommunityutu@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh barat,
Aceh
INDONESIA
community: Pengawas Dinamika Sosial
Published by Universitas Teuku Umar
ISSN : 24775746     EISSN : 25020544     DOI : 10.35308/jcpds
Core Subject : Social,
JURNAL COMMUNITY PENGAWAS DINAMIKA SOSIAL (JCPDS) merupakan jurnal elektronik online yang diterbitkan oleh lembaga penerbitan Jurusan SOSIOLOGI, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Teuku Umar. JCPDS memuat kajian seperti MASALAH-MASALAH SOSIAL, Pemberdayaan Masyarakat, Pembangunan Sosial, dan Perubahan Sosial & Budaya. Kesemuanya difokuskan pada masyarakat pedesaan dan pesisir sebagaimana visi misi prodi dan Universitas yang mengarah pada agro and marine industry. Tujuan penerbitan jurnal ini adalah salah satu sarana untuk mewadahi kebutuhan peningkatkan kuantitas dan kualitas karya ilmiah. JCPDS terbit dua kali dalam setahun, yakni pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2021)" : 9 Documents clear
Asabiyah and Religious Solidarity (A Socio-Historical Analysis of Asabiyah’s Ibn Khaldun in relation to the Concept of Muslim Unity) Khairulyadi Khairulyadi; Bukhari Bukhari; Masrizal Masrizal; Triyanto Triyanto; Akmal Saputra
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3604

Abstract

Asabiyah merupakan kecenderungan solidaritas dalam kelompok, acap digunakan untuk menilai stabilitas dan kohesivitas kelompok sosial tertentu. Peran asabiyah sangat menentukan lahir dan runtuhnya sebuah bangsa, negara dan peradaban. Tulisan ini mengunakan pendekatan sosio-historis, bertujuan untuk menganalisa konsep asabiyah Ibnu Khaldun dan bagaimana konsep ini terkait dengan solidaritas berdasarkan agama. Solidaritas agama, misalnya, telah mendorong usaha menyatukan negara Islam seperti gerakan Pan-Islamisme, Persatuan Arab dan Persatuan Muslim. Data untuk tulisan ini dikumpulan melalui pendekatan analisa dokumen (document analysis). Tulisan ini mendapati bahwa antara asabiyah dan solidaritas agama memiliki hubungan yang mutually-inclusive. Bahwa, asabiyah memiliki peran penting dalam kemunculan awal sebuah negara dan peradaban. Sedangkan solidaritas agama diperlukan sebagai identitas dan kesadaran yang menyatukan perbedaan identitas budaya dan etnis (asabiyah) dalam sebuah negara dan aliansi. Pada tahapan awal lahirnya sebuah negara asabiyah sangat diperlukan sebagai pemantik semangat juang dan keberanian. Sementara solidaritas agama bisa menekan etnosentrisme dan menghilangkan persaingan, kecurigaan dan kecemburan di antara entitas etnis yang berbeda. Ringkasnya, identitas budaya dan etnis (asabiyah) dan solidaritas agama saling membutuhkan dan menguatkan terutama  untuk mencapai pembangunan dan kemajuan. Jika ikatan asabiyah menguat tanpa ikatan solidaritas agama akan memicu kemunduran dan keruntuhan bagi sebuah negara dan peradaban.
Tradisi, Budaya Dan Potret Keberdayaan Masyarakat Pesisir Sebuah Kajian Etnografi di Pulau Sabang Onal Syafrizal
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3674

Abstract

This article attempts to explain to readers how to describe the traditions, culture and empowerment of coastal communities on the island of Sabang. As is well known, Sabang is the main mouthpiece of Aceh's tourist destinations which are often introduced to all countries around the world. Sabang Island is no less attractive than the island of the gods Bali, but somehow Sabang is not as popular as Bali. In fact, Indonesia's initial barometer starts from Sabang, marked by the Zero Kilometer Monument of Indonesia which is located at the end of the island of Sabang. If you claim to be an explorer throughout Indonesia, then it is not worth mentioning that you have traveled throughout Indonesia if you have not set foot in Sabang, especially if you have not arrived at the Zero Kilometer Monument. A portrait of the welfare of the Sabang coastal community is also described in this article. People on Sabang Island have various traditions and cultures that are not necessarily shared by other coastal communities, such as the short market tradition and the culture of napping, subjects who have the authority to trade in the Sabang market have a tradition of opening shops or starting buying and selling activities starting from after dawn (dark morning) until noon (12:00) continue after Asr (16:00) until evening (22:00), meaning from 12:00 to 16:00 all trading activities in the market Sabang is not active. The final conclusion in this article explains that it is time and should the coastal communities be empowered both from the economic, educational, social and cultural sides. When there is a prosperous society, the leader in the area is also categorized as a leader who has the potential to prosper the people. All people in Indonesia certainly want the “welfare” cake, but to make it happen it is very much influenced at the local level, this is what is often forgotten by each individual in general, without realizing small things can actually have a big impact on the social welfare of our society. nowadays. The achievement of the basic needs of the people is a portrait of prosperity and prosperity, because no matter how high the positions of government officials are, they are still serving the people, in fact the people are the real bosses.
The Development of the Constituent Social Class as Political Participation in Banda Aceh and Meulaboh Rena Juliana; Reni Juliani; Nurkhalis Nurkhalis
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3625

Abstract

Indonesia adheres to a democratic system of government. Each citizen, on the basis of the choice of ordinary people, chooses free political participation and then changes their direction as a sympathizer. Today, the excitement of political participation in Indonesian society to spread on Aceh has been somewhat hurt because some people have changed the political climate to be bad. This is reflected in the previous political participation side by side to deliver rhetoric to reap the voice of the people, but it has become a competition for each other. The purpose of this study is to find out what types of political participation occurred in constituents in Banda Aceh and West Aceh and who are the actors or groups that weaken or strengthen political participation in the constituents. The research method used is a qualitative approach with informants consisting of key informants, subject informants and non-subject informants. The results showed that the types of political participation in the constituents of Banda Aceh and West Aceh were very different and that sympathizers and political actors continued to strengthen and weaken the constituents. It is expected that this research will be a comparative study of the dynamics of policy in the Aceh region.
YAYASAN SEBAGAI PENANGGULANGAN ANAK TERLANTAR (Sebuah Studi di Pondok Misbahul Fatayat Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya) T. Syarifuddin T. Syarifuddin; Safwandi Safwandi
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3776

Abstract

Terjadinya konflik dan tsunami Aceh, selain menimbulkan keterpurukan dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat, juga menimbulkan masalah sosial lain yaitu anak terlantar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penanggulangan anak terlantar, serta apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam penanggulangan anak terlantar di Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakanTeknik Siklus Kesamaan Data. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa, bentuk penanggulangan anak terlantar dalam meningkatkan kesejahteraan sosial di Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya, dilakukan dengan memfasilitasi berbagai keperluan yang berkaitan dengan pendidikan anak terlantar, baik yang dilakukan oleh pemerintah setempat, maupun oleh Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat. Adapun faktor pendukung dalam penanggulangan anak terlantar di Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya adalah, adanya Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat yang menampung anak-anak terlantar untuk dibina secara formal dan informal. Sedangkan faktor penghambat kurang berkembangnya Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat dalam menanggulangi anak terlantar di Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya, dikarenakan minimnya bantuan yang didapatkan Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat untuk operasional dan biaya asuh. Saran-saran hasil penelitian ini, kepada dinas terkait diharapkan dapat memberikan modal usaha kepada anak terlantar sebagai tindak lanjut pasca pendidikan di yayasan. Dan bagi Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat, diharapkan dapat menjalin hubungan baik dengan pihak lain, guna mendapatkan pendanaan yang bisa digunakan untuk meningkatkan pengembangan yayasan dan pengadaan fasilitas yang lebih memadai bagi anak-anak terlantar yang ada di Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Fatayat.
Upaya Penyelesaian Konflik Pembangkit Listrik Tenaga Uap Di Teluk Sepang Andina Pratama; Sulistya Wardaya; Ika Pasca Himawati
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3263

Abstract

Kendati dinilai memberikan pasokan listrik namun keberadan Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang menggunakan sumber energi Batubara di Teluk Sepang memiliki dampak yang justru menghasilkan konflik. Adapun konflik terjadi antara PT Tenaga Listrik sebagai perusahaan yang mengelola PLTU dengan masyarakat setempat yang bergabung dalam Koalisi Langit Biru. Selain dampak keberadaan PLTU, kajian dalam penelitian ini ialah mengkaji mengenai upaya penyelesaian atas konflik yang terjadi antara kedua belah pihak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi non partisipan dan dokumentasi tertulis yang relevan dengan penelitian. Informan ditentukan  melalui teknik purposive sampling, yakni penentuan informan yang bertujuan untuk menggali data langsung dari informan kunci. Setelah dilakukan analisis data yang melalui tahapan reduksi data, penyajian data maka diperoleh kesimpulan bahwa selain adanya dampak pencemaran lingkungan, keberadaan PLTU Batu bara disisi lain menambah solidaritas in-group pada kelompok Koalisasi Langit Biru guna memperjuangkan penutupan PLTU batu bara di Teluk Sepang. Meskipun dalam prosesnya ada pertentangan yang menyebabkan goyahnya persatuan di dalam masyarakat pada saat memperjuangkan penutupan PLTU batu bara. Adapun resolusi konflik yang dilakukan meliputi tahapan negosiasi, konsiliasi serta arbitrasi yang bertujuan menyelesaikan konflik antara kedua belah pihak.
Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Pasca Transmigrasi Daerah di Kampung Teluk Ambun Kabupaten Aceh Singkil Wardah Muharriyanti Siregar; Rani Putri; Mursyidin Mursyidin
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3817

Abstract

On December 26, 2004 and March 28, 2005, Aceh experienced an earthquake phenomenon. These two earthquake phenomena caused damage to the Aceh region, including the Aceh Singkil area in Kampung Teluk Ambun. As a result, Teluk Ambun Village, which is in daerah aliran sungai (DAS), had to be moved. Currently Teluk Ambun Village is located in transmigrasi daerah aliran sungai (Trandas) which is in the plantation area. As for the problem in this research is how the socio-economic changes in fishing communities after the occurrence of regional transmigration. The method used is a qualitative research method with a descriptive type. To obtain the data used the method of observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that there are socio-economic changes in fishing communities after regional transmigration, namely changes in fishermen's income, then some fishermen make a shift in their main livelihood, namely as oil palm farmers. In addition, there is a change in the mindset of the fishing community about the importance of education and knowledge, fishermen are paying attention to the education of their children so they can get a good job.
Adaptasi Sosial Komunitas Musik Etnik di Era Modern Abdul Malik Iskandar
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.2908

Abstract

Musik etnik merupakan salah satu entitas sosial yang kemunculannya masih tergolong baru. Ia merupakan bagian dari respon terhadap kejenuhan kemodernan yang bersifat global. Sebagai sesuatu yang baru, musik etnik masih membutuhkan ruang sosial sebagai wadahnya untuk beradaptasi untuk dikenal dan diterima oleh masyarakat luas. Oleh karena itulah, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bentuk-bentuk adaptasi sosial musik etnik yang berlokasi di Kota Labuan Bajo Kecamatan Komodo Nusa Tenggara Timur. Unit analisis penelitian ini adalah komunitas musik etnik ‘Rumah Kreasi’ sebagai salah satu kelompok yang dalam kurun enam tahun terakhir sering tampil di berbagai event di Kota Labuan Bajo. Dalam kurun waktu tersebut komunitas pun mengalami perkembangan hingga menjadi terkenal. Atas dasar itulah komunitas ‘Rumah Kreasi’ dipilih sebagai subyek penelitian. Dengan demikian, pendekatan penelitian ini adalah Studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, teknik observasi, dan kajian literatur. Teknik analisis data mempergunakan model Miles dan Huberman yaitu Teknik Tiga Alur berupa reduksi data, kategorisasi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian diperoleh bentuk adaptasi sosial kelompok musik etnik ‘Rumah Kreasi’ dilakukan dengan cara (a) mengikuti berbagai event, (b) kolaborasi dan adaptasi musik etnik, (c) menyanyikan lagu tradisional Manggarai, (d) belajar musik etnik dari komunitas lain, dan (e) menampilkan musik etnik di sekitar Labuan Bajo. Kesimpulan penelitian ini adalah kelompok musik etnik melakukan adaptasi bukan hanya fokus pada musik etnik melainkan juga pada aspek pengembangan kelompok dalam membangun jaringan sosial agar dikenal di masyarakat sekitar. 
BUDAYA KEMISKINAN NELAYAN KECIL DAN BURUH NELAYAN Arfriani Maifizar; Sopar Sopar; Riki Yulianda
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3768

Abstract

Abstrak* Budaya kemiskinan merupakan suatu permasalahan kemiskinan yang disebabkan oleh faktor kebiasaan hidup sehari-hari dalam masyarakat. Budaya kemiskinan pada masyarakat nelayan, khususnya nelayan kecil dan buruh nelayan, karena kebiasaan hidup sehari-hari terus terjadi  secara turun temurun dalam masyarakat, sehingga masyarakat nelayan terjebak di dalam situasi tersebut. Kemiskinan merupakan tidak berdayanya  individu dalam  mewujudkan  kesejahteraan hidup, banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kemiskinan pada masyarakat, yaitu faktor alamiah, struktural, sumber daya manusia, dan budaya. Penelitian  ini hanya fokus pada salah satu faktor kemiskinan saja yaitu faktor budaya. Penelitian ini membahas tentang budaya kemiskinan pada nelayan kecil dan buruh nelayan. Tujuannya adalah untuk mengetahui potret kemiskinan yang disebabkan oleh faktor budaya. Metodologi yang digunakan yaitu metodologi kualitatif dengan menggunakan paradigma kontruktivistik dan penentuan informan dengan teknik memilih nelayan kecil dan buruh nelayan yang aktif  melaut. Hasil penelitian ini menjelaskan potret dan reproduksi kemiskinan yang disebabkan oleh faktor budaya, analisa data dilakukan melalui analisis naratif berdasarkan kronologi yang dialami oleh individu atau masyarakat dari nelayan kecil dan buruh nelayan.      
Rasionalitas Pengetahuan dan Kemampuan Penanganan Covid-19 (Studi Pemahaman Mahasiswa di Aceh Barat) Triyanto Triyanto; Rahma Husna Yana; Nurkhalis Nurkhalis; Irma Juraida
Jurnal Community Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v7i1.3824

Abstract

The existence of COVID-19 has attracted the attention of the public, even at the beginning of its appearance, this disease was frightening. However, when there are calls to work at home, worship at home, and various policies that are considered detrimental to the community, and exacerbated by hoax news, slowly there is rejection and even distrust of the existence of COVID-19. So this research was carried out to see how students' knowledge about covid-19 and their belief in the ability of the state through the government both at the center and the regions. Students were chosen as research objects, apart from the fact that some students did not carry out health protocols on campus, also because students were seen as agents of change so that good knowledge of students would bring good knowledge to the community. The results showed that students had good knowledge and were in tune with the information provided by the government. Regarding some students not wearing masks, it was more because they were not in a crowd. Students believe that the state through the government can handle this covid-19 well, although students also see that there are some unsatisfactory things such as the ban on going home, Chinese foreign workers are instead allowed to come. Even though these foreign workers continue to carry out strict screening, they are ensured that they are in safe conditions for the community. The non-applicability of the lockdown is also considered a weakness in handling, even though the government has explained the economic growth that must be fought for.

Page 1 of 1 | Total Record : 9