cover
Contact Name
Ismail
Contact Email
ismailmarzuki@uinsu.ac.id
Phone
+6285296443326
Journal Mail Official
jisa@uinsu.ac.id
Editorial Address
Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan Jl. Williem Iskandar Pasar V Pancing Medan Estate 20371
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA)
ISSN : -     EISSN : 26208059     DOI : https://dx.doi.org/10.30829/jisa
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) adalah Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ilmu Sosial, UIN Sumatera Utara Medan sejak tahun 2017. Subjek mencakup studi testual dan field research berdasarkan perspektif sosiologi agama seperti kajian agama dan masyarakat, kajian konflik sosial keagamaan. kajian agama dan media, serta hasil penelitian yang berkaitan dengan tema-tema ilmu sosial.
Articles 114 Documents
RADIKALISME DALAM PERSFEKTIF ISLAM DAYAH DI ACEH Rizki Rizki Yunanda
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.728 KB) | DOI: 10.30829/jisa.v2i2.6383

Abstract

Radikalisme merupakan sebuah gerakan aliran menyimpang (sesat) yang menginterpretasi teks Al-quran secara tertutup. Konflik Aswaja (Ahlussunnah Waljama’aah) atau pemikiran Islam dayah dengan salafi wahabi merupakan pertentangan melawan paham radikalisme dari Islam dayah. Dalam persfektif Islam dayah Tidak ada relevansi antara jihad dengan radikal, idiologi radikalisme diciptakan oleh golongan wahabi Aceh dan tidak berkembang di kalangan Islam dayah di Aceh. Tulisan ini mengkaji mengenai perfektif Islam dayah terhadap radikalisme. Data yang ditemukan menunjukkan Islam dayah menegaskan Istilah radikalisme dan terorisme adalah samatan oleh golongan anti Islam. Islam agama yang mengajarkan cinta damai dan rukun terhadap umat beragama. Karena itu tindakan radikalisme tidak dilakukan oleh yang beragama Islam, namun dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan Islam, selain itu radikalisme juga merupakan ciptaan atau peranakkan oleh sekelompok kepentingan yang ingin mengkotak-kotakkan Islam, bunuh diri tidak ada dalam Islam, bunuh diri adalah paham sesat yang memamfaatkan kebodohan masyarakat awam terhadap pengetahuan tentang Agama. Kebanyakan terikontamidasi dengan pemahaman sesat dalam pergerakan mengatasnamakan jihad. buktinya pergerakan Jama’ah Islamiyah Indonesia yang berkembang di Aceh tahun 2010. Tidak ada ulama Aceh terlibat ketika itu, sebaliknya para ulama mengeluarkan fatwa dan sepakat untuk menolak kehadiran kelompok yang dianggap sesat dan menyimpang di Aceh.
POLA KOMUNIKASI ANTAR BATAK MUSLIM DAN BATAK KRISTIANI DALAM MENINGKATKAN HARMONISASI BERAGAMADI KABUPATEN ASAHAN Ismail nasution
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.294 KB) | DOI: 10.30829/jisa.v2i2.6407

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola komunikasi antar etnis batak Muslim dan Kristiani dalam meningkatkan harmonisasi beragama di Kabupaten Asahan , hambatan hambatan yang ditemukan oleh etnis batak Muslim dan Kristiani dalam meningkatkan harmonisasi beragama di Kabupaten Asahan, langkah langkah yang dilakukan oleh etnis batak Muslim dan batak Kritiani dalam meningkatkan harmonisasi beragama di Kabupaten Asaha, implikasi komunikasi etnis Batak Muslin dan Kristiani dalam meningkatkan harmonisasi beragama di Kabupaten Asahan. Penelitian ini dilaksanakan Kabupaten Asahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu Wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi antar batak Muslim dengan batak Kristiani di Kabupaten Asahan untuk meningkatkan harmonisasi beragama dengan baik adalah dengan pola komunikasi interpersonal, pola komunikasi dialogis, pola komunikasi publik, pola komunikasi organisasi, Hambatan hambatan yang terjadi antar suku batak Muslim dan batak Kristiani di Kabupaten Asahan yaitu meningkatnya konsertvatisme keagamaan panatisme yang berlebihan pada pemeluk agama yang menimbulkan tidak ada ruang untuk menerima agama lain untuk hidup berdampingan, langkah langkah yang dilakukan oleh suku batak Muslim dan batak Kristiani yaitu saling menghormati dan menghargai sesame pemeluk agama, menumbuhkan komunikasi dan kesadaran rukun dan toleran antar batak Muslim dan batak Kristiani melalui pendidikan, sikap saling menghargai hak antar batak Muslim dan batak Kristiani dalam menjalani kehidupan beragama sehari hari, berfikir positif, sering melakukan dialog antar batak Muslim dan batak Kristiani, Implikasi komunikasi antar batak Muslim dan Batak Kristiani dalam meningkatkan harmonisasi beragama adalah saling menjalin keakraban, saling bekerja sama antar satu dengan yang lain, dan tidak adalagi upaya Kristenisasi dan Islamisasi
Ekonomi Berjamaah: Relasi Pondok Pesantren dengan Masyarakat dalam Peningkatan Perekonomian (Studi pada Komplek 3 Sunan Pandanaran Nor Kholis; Irfa Rezkia
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.997 KB) | DOI: 10.30829/jisa.v3i1.7405

Abstract

AbstrakPondok Pesantren memiliki peran penting dalam upaya mendorong terwujudnya perkonomian bagi warga masyarakat di sekitarnya. Pondok Pesantren Sunan Pandaranan sudah sejak lama menjalin kerjasama ekonomi dengan warga masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana peran Pondok Pesantren dalam upaya peningkatan taraf perekonomian masyarakat, beserta faktor yang melatarbelakangi hubungan perekonomian antara pihak Pondok Pesantren dengan masyarakat tetap berjalan. Penelitian ini mengunakan metode deskripif – kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, wawancara dan observasi di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, khusunya pada komplek 3. Melalui pembacaan teori pertukaran, dapat dipahami bahwa hubungan antara pihak Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dengan masyarakat sekitar dalam hal ekonomi sampai dengan saat ini masih berjalan secara harmonis, dikarenakan kedua belah pihak merasa saling diuntungkan baik dari aspek intrinsik maupun ekstrinsik.Kata Kunci: Ekonomi, Pertukaran, Pondok PesantrenOne of an islamic institution call islamic boarding school has an important role economically to encourage a better life to the residents around it. Sunan Pandaranan Boarding School had been already in economical partnership with the residents in the vicinity. This research will look at the extent to which the role of boarding schools in an effort to increase the economical levels of its community, as well as factor of the economical relationship between the boarding schools with the community keep running well so far. This research method is qualitative-descriptive. The technique of data collection was done through documentation, interviews and observations in Sunan Pandanaran Boarding Schools especially in complex 3. Through the Exchange Theory could be understood that the relationship between the Sunan Pandanaran Boarding Schools with communities around it in terms of the economy is runing harmoniously because due to both are  mutually beneficial from both intrinsic and extrinsic aspects.Key word: economy, exchange, islamic boarding school.
Tanda Religiusitas Waria Dalam Media (Kajian Semiotika Roland Barthes terhadap Tayangan Pahlawan Waria dari Yogyakarta CNN Indonesia) Sugeng Sugeng
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.078 KB) | DOI: 10.30829/jisa.v3i1.7037

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tayangan Pahlawan Waria dari Yogyakarta yang diproduksi oleh media CNN Indonesia. Tayangan ini berisi tentang kehidupan waria khususnya yang bermukim di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta. Rutinitas waria di pondok pesantren tersebut mulai dari kegiatan keagamaan, pengembangan potensi diri waria, dan pendapat dari tokoh masyarakat dapat ditemukan pada tayangan tersebut. Tayangan ini dianalisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes dengan memilah beberapa adegan yang relevan dengan penelitian. Beberapa adegan tersebut kemudian diidentifikasi dengan memilahnya menjadi denotasi dan konotasi serta diupayakan untuk menemukan mitosnya. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif-deskriptif dengan sumber data primer dari tayangan Pahlawan Waria dari Yogyakarta, sedangkan data sekunder diambil dari literatur yang relevan dengan topik penelitian. Adapun hasil penelitian ini ditemukan bahwa waria di tayangan tersebut melakukan kegiatan keagamaan seperti belajar mengaji, melaksanakan ibadah salat, berpakaian sopan dan rapi serta berkegiatan positif berupa menari. Di satu sisi, tayangan ini berorientasi agar waria menjadi setara dan mendapatkan hak-hak yang seharusnya. Namun di sisi lain, dalam konteks yang lebih luas masih banyak waria yang jauh dari agama dan kurang mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya sendiri
Dinamika Umat Kristen Masehi Advent Hari Ketujuh: Studi Kasus di Kudus Jawa Tengah Moh Rosyid
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.244 KB) | DOI: 10.30829/jisa.v3i1.7302

Abstract

The purpose of writing this text is presenting to give readers an understanding that Kudus is a plural city. There are Muslims, Catholics, Hindus, Buddhists, Confucians, Christians with various denominations, Adventist Christian congregations and also people of indigenous religions. This manuscript data was obtained through interview, discussion, and observation with a qualitative descriptive approach. The initial embryo of the Adventist congregation in Kudus due to the removal of workers in Kudus, they joined their worship in Pati, a neighboring city. In the course of time, there were other Adventists in Kudus so the congregation was held at a house in Kudus and served by Adventist pastors. There is strong family ties supporting the church even though the number does not increase significantly. During the New Order era, they were rejected by Islamic organizations when they were about to establish a church. With the patience of the congregation, the congregation and other Adventist religious activities are now centralized in a housing complex in Kudus in the house of the priest and his families.
POTRET PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM KEHIDUPAN KELUARGA BATAK TOBA DI TAPANULI UTARA Harisan Boni Firmando
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.197 KB) | DOI: 10.30829/jisa.v3i1.7394

Abstract

The fact is that the patrilineal kinship system and the customs of the Toba Batak people are often misunderstood, interpreted and used as the basis that the Toba Batak ethnicity is anti-gender. Though all of that is baseless especially if it refers to a true understanding of the information about the kinship system and how the Batak Toba tribal customs treat women. Ideally the Toba Batak tribe elevates the degree of women which can be seen in the noble values of local wisdom and the daily life of the Toba Batak people.The method used in this study is a qualitative method, to understand phenomena about what is experienced by research subjects holistically, by describing words and language, in a special natural context and by utilizing various natural methods. This study was conducted in two districts namely Sipoholon and Tarutung Districts.This article emphasizes the portrait of gender mainstreaming in the life of the Toba Batak family. There are strong indications of the Toba Batak tribe in the local wisdom values strategy that strives to uphold women's degrees and uphold gender equality. In dialoguing the case, gender is used as the knife of analysis and sociology as the approach
PATUH KEPADA TUHAN ATAU PEMERINTAH? CULTURE SHOCK MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA DI TENGAH PANDEMI COVID-19 Tri, Eri, Dimas Teguh Ameliyaningsih, Kartika, Prasetyo
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v3i2.8019

Abstract

AbstrakPandemi Covid-19 memaksa orang-orang untuk menjaga jarak sosial dan fisik. Adanya peraturan jaga jarak tersebut dikukuhkan dalam kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah kota Indonesia. Penerapan PSBB turut berimplikasi pada kegiatan masyarakat muslim di ruang publik. Masyarakat muslim yang biasanya beribadah di masjid secara berjemaah, dituntut untuk dapat beribadah dari rumah. Namun, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya dipatuhi karena adanya keyakinan individu dalam mematuhi aturan agama. Fenomena ketidakpatuhan masyarakat muslim terhadap PSBB karena keyakinan ajaran agama diduga sebagai sebuah bentuk culture shock. Studi ini menggunakan tinjauan literatur untuk mencoba menjelaskan konsep culture shock yang terjadi pada masyarakat muslim selama penerapan PSBB di beberapa wilayah di Indonesia. Analisis dilakukan dengan berdasarkan fakta yang diperoleh dari artikel jurnal ilmiah, media massa dan buku yang relevan. Penulis fokus pada respons masyarakat terkait kegiatan keagamaan yang digambarkan dengan konsep culture shock yakni keresahan ketika dihadapkan pada kondisi, lingkungan dan budaya yang beda dari biasanya dan mengharuskan mereka melakukan adaptasi kegiatan keagamaan dari ruang publik ke rumah masing-masing. Pada akhir penulisan, masyarakat muslim masih bisa menjalankan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan dengan mematuhi peraturan PSBB, pemerintahan Indonesia.Kata kunci: Covid-19; Culture Shock; Muslim; PSBB; Ritual Keagamaan AbstractPandemic of coronavirus disease 2019 (Covid-19) force people to maintain social and physical distance. The presence of such mileage regulations is firmly established in large-scale social restrictions (PSBB) policies in a number of Indonesian cities. The application of PSBB can impair the activities of muslim people in public spaces. Muslim communities that normally worship in mosques are required to worship from home. However, such policies are not fully enforced because of individual confidence in obeying rules in religion. The phenomenon of muslim civil disobedience in PSBB because of faith in religious teachings is suspected to be a form of culture shock. The study uses a review of literature to try to explain the concept of culture shock that occurred to muslim communities during the implementation of PSBB in parts of Indonesia. Analysis is based on facts obtained from scientific journal articles, mass media and books. The authors focus on the response of the people to the religious activity depicted by the concept of culture shock of anxiety when exposed to different conditions, environments and cultures and require them to adapt to religious activities from public to home. At the end of the writing, muslim societies should still be able to observe worship as a form of obedience to god by abiding by the rule of the Indonesian government's PSBB.Keywords: Covid-19; Culture Shock; Muslim; Policy; Religious Rituals 
PENGOBATAN ALTERNATIF RUQYAH RUMAH SEHAT THIBUN NABAWI AL IMAN, MEDAN Neila Susanti
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v3i2.8180

Abstract

Pengobatan alternatif merupakan pengobatan yang dianggap irrasional dalam masyarakat. Dan biasanya dikaitkan dengan keyakinan atau kepercayaan religi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor pasien memilih pengobatan ruqyah dan proses pengobatan ruqyah di rumah sehat Thibun Nabawi Al Iman, Medan. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan antropologi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mendorong pasien memilih pengobatan alternative ruqyah penyakit yang diiderita tidak bisa disembuhkan dengan pengobatan ilmiah, penyakit diperkirakan akibat gangguan mahluk gaib, obatnya berasal dari herbal, teknik pengobatannya alami, sehingga efek sampingnya keci, biaya pengobatan lebih murah dari pada pengobatan modern. Dan proses ruqyah seperti interogasi yang dilakukan polisi untuk memaksa seorang penjahat mengakui kesalahannya. Maka seorang peruqyahpun seperti itu, terus menerus membacakan ayat-ayat al Quran sebagai pukulan dan siksaan terhadap jin yang mengganggu  atau merasuki tubuh manusia sehingga jin tersebut merasa tidak nyaman dan tersiksa.
GERAKAN SOSIAL DAN MODEL AGENSI DALAM AKSI PEMBERANTASAN NARKOBA (Studi Kolaboratif Elite Aparatur Gampoeng dan Teungku Dayah Dalam Pemberantasan Narkoba di Ujoeng Pacu Kota Lhokseumawe) Rizki - Yunanda
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v3i1.7404

Abstract

Artikel ini menunjukkan arti penting Gerakan Sosial dan model agensi dalam aksi Pemberantasan Narkoba di Ujoeng Pacu Kota Lhokseumawe. Isu ini strategis dan menarik diteliti karena Satu dekade terakhir, mafia narkoba telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat pasar peredarannya. Realitas penyebarannya meluas baik secara geografis maupun dari segi penggunanya. Satu dekade lalu, secara geografis penyebarannya berpusat di Kota dan tempat-tempat hiburan malam, saat ini melebar hingga ke pelosok Desa. Pengguna narkoba sepuluh tahun lalu terbatas pada kalangan tertentu, kini tidak lagi terbatas. Anak-anak, remaja dan bahkan terdapat pula disebagian daerah di Indonesia kaum agamawan pun menjadi pencandunya. Argumen utama tulisan ini menggunakan kerangka konsep agensi Giddens sebagai gerakan kolektif. Argumen tulisan akan diakhiri dengan uraian mengenai strategi Agensi gerakan yang bersifat suci karena didorong melalui justifikasi norma Islam melahirkan keberanian luar biasa masyarakat Ujoeng Pacu dalam menghadapi mafia narkoba. Artikel ini berangkat dari hasil penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus sebagai strategy of inquiry. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, pengamatan, memilih informan sebagai sumber data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas semuanya yang diperkaya dengan studi literatur yang ekstensif.
PERUBAHAN DAKWAH DI ERA NEW NORMAL DAN TANTANGANNYA (TINJAUAN PERSPEKTIF SOSIOLOGI DAKWAH) Al Asy'ari
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v3i2.8265

Abstract

The development and advancement of information technology demands a change in activities that originally interacted physically directly turned into virtual meetings. Moreover, since the pandemic, all activities, including preaching that usually gather a large congregation in one place, have started to switch to cyberspace.This research was aimed to design new concept of dakwa’ as respon of new normal era in the sociology perscpective. This research is a library research. Collecting data was conducted by learn some research that has been founded and report of the field from the news. The result of this research conclude some alternation as effect of covid-19 especially in the religion. Three variabel form sociology effect must be respon by the dakwah to sustain the essence of dakwah. And there are two challenge that will be faced of dakwah as the result of new normal era, namely the sociological categorization of the congregation and changes in the socio-economic structure of society which result in changes in habits.

Page 3 of 12 | Total Record : 114