cover
Contact Name
Ismail
Contact Email
ismailmarzuki@uinsu.ac.id
Phone
+6285296443326
Journal Mail Official
jisa@uinsu.ac.id
Editorial Address
Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan Jl. Williem Iskandar Pasar V Pancing Medan Estate 20371
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA)
ISSN : -     EISSN : 26208059     DOI : https://dx.doi.org/10.30829/jisa
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) adalah Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ilmu Sosial, UIN Sumatera Utara Medan sejak tahun 2017. Subjek mencakup studi testual dan field research berdasarkan perspektif sosiologi agama seperti kajian agama dan masyarakat, kajian konflik sosial keagamaan. kajian agama dan media, serta hasil penelitian yang berkaitan dengan tema-tema ilmu sosial.
Articles 114 Documents
PENGEMBANGAN PROGRAM ADAPTIF DAN SPIRITUAL DALAM MEREVITALISASI POLA INTERAKSI MAHASISWA DI TAPANULI UTARA Elvri Teresia Simbolon; Tiurma Berasa; Roida Lumbantobing; Jupalman Welly Simbolon; Harisan Boni Firmando
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v4i1.8836

Abstract

Keberagaman suatu komunitas jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai masalah yang dapat menyebabkan ketidakharmonisan pola interaksi dalam komunitas tersebut. Keberagaman mahasiswa di Tapanuli Utara menimbulkan kecenderungan terjadinya pengelompokan bahkan persaingan yang sangat mempengaruhi pola interaksi diantara mahasiswa. Tujuan Penelitian ini untuk mengembangkan program Adaptif dan Spiritual dalam merevitalisasi Pola Interaksi Sosial mahasiswa di Tapanuli Utara. Metode penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif untuk mendeskripsikan atau menjelaskan  peristiwa  atau  suatu  kejadian  yang  terjadi  sekarang  dalam  bentuk angka-angka yang bermakna.  Tiga indikator pada Program Adaptif menunjukkan bahwa 31.13 % responden sangat setuju untuk diadakan program yang bersifat adaptif, 61,13 % responden setuju, 6.78 % kurang setuju dan 0.88 responden menjawan tidak setuju. Dari tujuh indikator untuk program Spiritual menunjukkan bahwa 38.14% responden menjawab sangat setuju untuk diadakan kegiatan yang bersifat spiritual, 56.71% menjawab setuju, 5.14 % menjawab kurang setuju dan tidak ada yang menjawab tidak setuju. Dari keseluruhan indikator pada program Adaptif dan Spiritual yang sudah diterapkan dapat disimpulkan bahwa  program Adaptif dan Spiritual dapat dijadikan sebagai suatu solusi dalam merevitalisasi pola interaksi di kalangan mahasiswa dan dapat menjadi acuan dalam bagi orang lain dan pembaca dalam mengatasi persoalan ketidakharmonisan dalam suatu komunitas
SOLIDARITAS ANTARUMAT BERAGAMA DALAM TRADISI BARIKAN DI DESA MOJONGAPIT JOMBANG Dinda Mirtanty; Agus Machfud Fauzi; Farid Pribadi
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v4i2.10113

Abstract

This research is motivated by the exsistence of inter-religious solidarity in Mojongapit Village trought the Barikan Tradition. The barikan  tradition is a tradition carried out before independence day with the core activity of  tahlil, but interfaith communities participate in this activity, which is different from other village communities. Thus, the purpose of this research is to find out the form of community solidarity in the barikan tradition, the driving factor and the inhibiting factors for inter-religious solidarity in the barikan tradition. This research is classified using purposive sampling. This research will analyzed theoretically using the perspective of Emile Durkheim’s theory of social solidarity. The results showed that : first, the form of solidarity carried out was paying dues, donating basic necessities, donatig snack and drinks, donating boxed rice, donating energy to make rice cone and preparing for events, donating equipment and supplies, compiling event rundowns, and providing entertainment. Second, the driving factors for solidarity are internal encouragement, the influence of religion, village principles, and the ability of the village head to instill tolerance, while there are no inhibiting factors.  
Implementasi Moderasi Beragama Hindu Bali Berbasis Kearifan Lokal di Kampung Bali Kabupaten Langkat Ahmed Fernanda Desky
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v5i1.11063

Abstract

Moderasi beragama Hindu direalisasikan sebagai bentuk kerukunan antar umat beragama. Ajaran agama Hindu berbasis kearifan lokal “menyama braya” dimanfaatkan sebagai modal dasar pembentuk kohesi sosial ditengah masyarakat beragama. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat proses interaksi sosial sebagai pembentuk kohesi sosial dan mendeskripsikan cara mengimplementasikan moderasi beragama Hindu Bali berbasis kearifan lokal di Kampung Bali Kabupaten Langkat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan deskriptif dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara mendalam kepada 5 informan terkait dengan implementasi moderasi beragama Hindu berbasis kearifan lokal dengan menggunakan analisis kajian teori sosiologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi moderasi beragama masyarakat Hindu Bali menggunakan konsep ajaran “menyama braya” sebagai pembentuk kohesi sosial ternyata mampu beradaptasi, mempertahankan ajaran agama, menjaga tradisi simbolis kebudayaan serta mampu menunjukkan sikap toleransi yang tinggi antar umat beragama diperantauan meskipun terjadi pergeseran nilai kebudayaan yang disebabkan oleh pembauran di arena sosialnya.
Membangun Societas Dialogal-Negosiatif dalam Menangkal Radikalisme Agama Berdasarkan Perspektif Filsafat Relasionalitas Armada Riyanto Hyronimus Ario Dominggus; Pius Pandor
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Prodi Sosiologi Agama FIS Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v5i1.10316

Abstract

Artikel ini mendiskripsikan gagasan societas dialogal-negosiatif Armada Riyanto dan relevansinya terhadap penangkalan radikalisme agama di Indonesia.  Radikalisme agama adalah salah satu pergerakan yang memungkinkan terganggunya konstelasi politik di Indonesia. Saya mengamini bahwa fenomena ini sangat mengganggu tatanan hidup bersama. Perbedaan paham bisa menjadi kedok meruntuhkan persatuan bangsa. Untuk itu sangat penting adanya dialog yang berciri negositaif satu sama lain dalam kehidupan bersama. Dengan adanya dialog, masyarakat diajak saling menerima dan terbuka satu sama lain. Itulah makna dari societas dialogal-negosiatif. Riset ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yakni studi pustaka dengan pendekatan fenomenologis dan ditinjau dari perspektif Filsafat Relasionalitas Armada Riyanto. Dari riset ini, saya menemukan aktualitas gagasan societas dialogal-negosiatif dalam menangkal radikalisme agama di Indonesia. Dengan menjadi manusia yang berdialog, masyarakat Indonesia akan sehati dan sejiwa menjaga keutuhan Bangsa Indonesia.
Moderasi Beragama Di Kota Medan: Telaah Terhadap Peranan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Medan Toguan Rambe; Seva Maya Sari
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v5i2.12630

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melihat beberapa indikator moderasi beragama yakni komitmen kebangsaan, toleransi dan sikap anti kekerasan. Penelitian kualitatif dilaksanakan dengan wawancara langsung dan focus group discussion terkait moderasi beragama di kota Medan. Obyek penelitian ini secara spesifik melihat peranan FKUB sebagai institusi keagamaan yang sudah eksis di Kota Medan posisinya diharapkan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait aktualitas pemahaman beragama yang moderat. Moderasi beragama dapat dipahami sebuah sikap keagamaan yang tepat ditengah-tengah masyarakat yang plural. Hasil dari penelitian ini antara lain FKUB sebagai institusi keagamaan di Kota Medan menerima secara utuh konsep moderasi beragama dan merasakan urgensinya diterapkan ditengah-tengah masyarakat, dalam operasionalnya berbagai macam dilakukan antara lain mensosialisasikan konsep kerukunan antar umat beragama baik melalui media digital maupun cetak, selain itu melaksanakan kegiatan dialog dengan menghadirkan berbagai elemen masyarakat, unsur pemerintahan, dialog antar pemuka agama, guru dan penyuluh agama, para jurnalis serta kelompok pelajar di Kota Medan.Kata Kunci: Institusi Kegamaan, Moderasi Beragama
Bunuh Diri Sosiopathik Sebuah Fenomena Sosial Keagamaan Hingga Sosial Ekonomi (Studi Kasus Di Desa Wonorejo, Srengat, Blitar) Fitrianatsany Fitrianatsany
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v5i2.11828

Abstract

Hal yang menarik dalam penelitian ini adalah adanya tindak bunuh diri karena masalah keturunan disamping masalah ekonomi. Bunuh diri yang biasa erat dikabarkan dengan isu ekonomi, sosial dan juga fenomena-fenomena mistis didalamnya seperti pulung gantung/pulung tambang ataupun banas pati beralih menjadi isu psikologis bila dikaitkan dengan masalah keturunan atau dalam ilmu psikologi disebut sebagai fenomena sosiopathik. Bunuh diri yang disebabkan oleh masalah keturunan ini merupakan sebuah bentuk penyimpangan yang dilakukan individu sebagai jalan keluar dari penyelesaian masalah yang sedang dihadapi dan menjadi contoh serta ditiru oleh individu lain ketika sedang mendapat masalah yang terekam oleh peristiwa dan waktu.Dari penelitian ini diketahui bahwa adanya fenomena bunuh diri ini dikarenakan faktor keturunan. Penyebab dari adanya bunuh diri tersebut dikArenakan adanya penyimpangan individu yang disebut sosiopathik yakni hasil proses dari individuasi dan differensiasi.  Kurangnya ketaatan kepada sang pencipta dan kurangnya interaksi sosial dengan masyarakat membuat fenomena bunuh diri karena keturunan ini terus menerus terjadi. Kurangnya interaksi, kepekaan, perhatian dan juga kepedualian sesama individu  dan juga keluarga maupun masyarakat kepada individu yang sedang depresi menjadi penyebab utama terjadinya bunuh diri.Penelitian ini dilakukan di Desa Wonorejo, Srengat, Blitar, Jawa Timur dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Selanjutnya, teori yang digunakan yaitu teori sosiologi agama dari Durkheim tentang bunuh diri dan Weber tentang motif sosial tindakan individu. Dalam hal ini, agama memiliki hubungan yang baik dengan tindak sosial individu di masyarakat. Selain itu, agama juga berfungsi sebagai motif sosial seseorang dalam melakukan sebuah interaksi. Adanya bekal agama pada individu dapat membuat individu tersebut membedakan tindakan yang baik dan juga dosa yang menyebabkan penyimpangan seperti bunuh diri.Kata Kunci: Bunuh Diri, Sosiopathik, Keturunan
Kontribusi Pengakuan Publik dalam Toleransi menurut Anna Elisabetta Galeotti Bagi Persoalan Penolakan Pembangunan Rumah Ibadah di Indonesia Pius Pandor; Patrisius Epin Du; Frederikus Amaraja Boleng Keni; Benyamin Tarmin
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v5i2.11595

Abstract

Tulisan ini bertujuan membahas tentang konsep pengakuan publik dalam toleransi menurut Anna Galeotti dan relevansinya bagi persoalan penolakan pembangunan rumah ibadah di Indonesia. Proses perijinan pembangunan rumah ibadah di Indonesia masih mengalami persoalan. Sikap penolakan ini menunjukan adanya tindakan diskriminasi terhadap warga minoritas oleh kaum mayoritas dan kurangnya sikap toleransi. Toleransi publik yang ditawarkan oleh Galeotti bertujuan agar hak kaum minoritas diakui di ruang publik. Tulisan ini menggunakan metode historis-faktual mengenai pemikiran Anna Galeotti tentang pengakuan publik dalam toleransi. Studi ini dibagi ke dalam dua bagian: Pertama, membahas tentang hidup dan karya serta gagasan toleransi sebagai pengakuan publik. Kedua relevansi pemikirannya dalam konteks membangun sikap toleransi di Indonesia terutama berkaitan dengan pembangunan rumah ibadah. Adapun beberapa temuan dari tulisan ini antara lain: meningkatkan penerapan prinsip keadilan dalam kehidupan masyarakat; tidak cukup dengan peraturan undang-undang tentang pembangunan rumah ibadah, tetapi perlu adanya penerimaan publik secara resmi tentang cara hidup kaum minoritas dan pengakuan tegas dari pemerintah; adanya penerimaan dan stabilitas sebagai cara untuk menjaga relasi antara mayoritas dan minoritas.
Christian Saluan: The Existence Of The Saluan “Monika” Life Cycle Ritual In The Gklb Betania Sinampangnyo Congregation Yohanes Bandong
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v5i2.12637

Abstract

The Saluan tribe is one of the tribes who inhabit the Banggai Regency, Central Sulawesi. The majority of this tribal community is Muslim and has a distinctive tribal language that is used in even daily rituals, namely the Saluan language. This article aims to see the existence of life cycle rituals carried out by the Saluan tribal community who are Christian. The life cycle ritual carried out by the Saluan Christian tribal community is realized through the traditional Saluan "Monika" marriage, which is held in the GKLB Betania Sinampangnyo congregation. The life cycle ritual is able to become a symbolic interaction space by making the traditional marriage of the Saluan "Monika" tribe as part of the GKLB Betania Sinampangnyo congregation. This study uses qualitative research with a descriptive approach. The results of this study indicate that, first, the existence of life cycle rituals opens up space for symbolic interactions between Christianity and Saluan culture in individuals, married couples, families and the GKLB Betania Sinampangnyo congregation. Second, the existence of life cycle rituals makes it clear that in the traditional marriage of the Saluan “Monika” tribe in the GKLB Betania Sinampangnyo congregation, Malinowski's theory of cultural functions occurs. This article will be part of a study of observations, interviews and literature in collecting data and presenting data in a qualitative-descriptive manner using a phenomenological approach as a research method supported by theoretical concept of "rites de passage" theory from van Gennep which will be used as a surgical medium to observe and explain life cycle rituals in the traditional marriage of the Saluan "Monika" in the GKLB Betania Sinampangnyo congregation.
Pemahaman Konsep Komunikasi Ijbar Pada Masyarakat Nabundong Dalam Pendekatan Wahdatul Ulum Muhammad Husni Ritonga
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v5i2.12993

Abstract

Penelitian ini berfokus proses  ijbar  yang terjadi pada masyarakat Nabundong Desa Gunung Tua Julu sangat berpariasikarena dalam pandangan adat tidak ada paksaan dalam perkawinan, pandangan dan keinginan wali mujbir untuk menentukan pasangan putrinya selalu mempertimbangkan banyak faktor diantaranya faktor ekonomi, pendidikan, status sosial, adat istiadat sehingga terkadang terkesan menjadi sebuah pemaksaan, tetapi pandangan itu sangat keliru karena dalam adat  sangat mempertimbangkan keutuhan dalam rumahtangga sehingga tidak ada paksaan dalam melaksanakan adat. Implikasi peraktik ijbar tanpa konsep komunikasi yang efektif bagi kehidupan perempuan sebagai objek ijbar dikalangan masyarakat Nabundong Desa Gunung Tua Julu berdampak  Pertama terjadinya disharmonisasi hubungan perempuan dengan ayah selaku wali mujbir dan membuat perempuan harus keluar dari rumahnya. Kedua perempuan menderita johir dan bathin karena ia tidak sejalan dengan suami dan berakhir kepada perceraian. Ketiga perempuan tidak menikah dengan jangka waktu yang cukup lama karena menunggu pilihan wali mujbir. Keempat perempuan memiliki rumah tangga yang harmonis bila perjodohan yang dilakukan oleh wali mujbir terdapat keserasian dan kufu antara putrinya dengan calon suaminya
GELAR HAJI SEBAGAI STRATIFIKASI SOSIAL PADA MASYARAKAT Bela Fitri
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v6i1.12962

Abstract

The people of Keboansikep village, Sidoarjo city, which are predominantly Muslim, have mostly gone to hajj and have hajj degrees. The Hajj title for the people in Kebaonsikep is considered to have a role in the social status of the Hajj it has. The purpose of this study was to determine the community's point of view on social stratification in the Hajj title. Data collection techniques used are interviews, observation and documentation. The source of the data for this research is people who see the phenomenon of social stratification in the Hajj title in the village of Keboansikep. This research uses descriptive qualitative data method. The results of this study are that the community is not taboo about this phenomenon, because from generation to generation people who have gone to hajj will get the title of hajj and generally will be in the spotlight in the village, but there are also people's perspectives that are against this phenomenon with their own reasons, so that it raises pros and cons in the community's perspective on Hajj in Keboansikep Village. The status of the pilgrimage has an influence on the social life of the people of Keboansikep Village.

Page 5 of 12 | Total Record : 114