cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ibn Abbas
ISSN : -     EISSN : 26207885     DOI : -
Core Subject : Social,
JURNAL IBN ABBAS MERUPAKAN JURNAL PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU ALQURAN DAN TAFSIR (S2) FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM YANG SECARA KOMPREHENSIF MENGKAJI BIDANG ALQURAN DAN ILMU-ILMU ALQURAN BERBASIS TURATS, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER" : 7 Documents clear
Konsep Istisna’ (Insya Allah) dalam Al-Quran Tafsir al-Marāghī Muhammad Roihan Nst, Nuraisah, Robiatul Adawiyah Muhammad Roihan Nasution; Nuraisah Nuraisah; Robiatul Adawiyah
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.11105

Abstract

AbstrakKata Insya Allah begitu sering diucap oleh masyarakat muslim di Indonesia. Tidak hanya dalam percakapan sehari-hari, kalimat ini juga sangat populer di media sosial. Kata ini sering diterima dan dipakai begitu saja tanpa menyesuaikan makna dan penggunaan yang seharusnya. Tulisan ini bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi esensi dan urgensi kalimat Insya Allah dalam al-Qur’an tafsir al-Marāghī, 2) Mengidentifikasi konteks ayat-ayat Insya Allah dalam al-Qur’an tafsir al-Marāghī, 3) Mengidentifikasi pandangan al-Marāghī  dan ulama lain  tentang istitsna dengan kalimat Insya Allah. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu riset kepustakaan (library research), dikaji secara deskriptif dan analitis. Hasil penelitian menunjukan bahwa; Esensi (hakikat) Istitsna’ (Insya Allah) dari kajian al-Qur’an merupakan suatu jaminan akan sebuah kepastian terhadap apa yang akan dikerjakan pada masa yang akan datang, sementara urgensi mengucapakan kalimat Insya Allah dalam kehidupan sosial adalah untuk mengendalikan rasa sombong, angkuh seorang hamba sebab manusia dalam berbuat tidak terlepas dari kehendak Allah SWT.Kata Kunci : Istitsna’, Insya Allah, Al-Qur’an
AYAT RADIKAL ATAU RADIKALISME PENAFSIRAN? Yuzaidi Yuzaidi; Winda Sari; Muhammad Akbar Rosyidi Datmi
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.11109

Abstract

AbstractRadical actions in the name of religion have been rife lately. Islam as a religion that has the most adherents in the world is inseparable from this. Even with so many radical actions taking place in the name of Islamic teachings, the consequence is the term radical Islam, fundamentalist Islam and other Islam which are eventually grouped into hardline Islam. main teachings of Islam or its interpretation. This research uses qualitative explorative research methods by exploring, understanding and interpreting related verses through the approach of the interpretation method of maudhu'i and muqarin. as well as contemporary interpretation books (bi al-ra'y) as secondary data. The results of the data analysis reveal that the verses of jihad and qital do not contain radical elements. Jihad is an effort that aims to achieve benefit. So that every Muslim is always required to always strive throughout his life. While qital (war) is a defensive effort after there is no other way except physical resistance. Even in the war there are also strict conditions. This finding is evidence that the verses of the Qur'an do not contain radical elements. Just a partial interpretation can give birth to an exclusive interpretation and potentially radicalism. Keywords: Paragraph, Interpretation, Radical
PERAN AYAH DALAM PROSES PERTUMBUHAN ANAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Winceh Herlena
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.7939

Abstract

Artikel ini membahas tentang pandangan al-Qur’an terhadap peran ayah dalam proses perkembangan anak. Adapun yang menjadi fokus  kajian dalam penelitian ini adalah mengupas ayat-ayat Al-qur’an yang berkaitan dengan peran ayah dalam keluarga. Selain itu, artikel ini juga akan menggambarkan kisah ayah dalam Al-qur’an. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analisis dengan menggunakan pendekatan paradigma tafsir klasik-kontemporer. Dari analisis yang telah dilakukan, penelitian ini menyimpulkan bahwa: pertama, al-Qur’an menunjukkan peran yang seharusya diaplikasikan oleh seorang ayah dalam proses perkembangan anak-anaknya, salah satunya dengan memantau dan mengontrol keseharian anak, menanamkan nilai-nilai pendidikan, membangun kedekatan dan komunikasi yang baik bersama anak, dan memberi dukungan serta arahan yang baik. Kedua, beberapa ayat dalam al-Qur’an menggambarkan peran ayah yang memiliki cara tersendiri dalam mendidik anaknya, sehingga cara tersebut relevan untuk diaplikasikan dalam konteks kekinian. Sosok ayah yang dimaksud adalah Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, dan Nabi Ya’qub.
ANALISIS PANDANGAN AHMAD HASSAN TERHADAP NASAKH DALAM AL-QUR’AN Ahmad Zuhri; Jidin Mukti
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.11106

Abstract

AbstractThe knowledge of abrogation is a very important aspect in interpreting the verses of the Qur'an. The scholars agree on the application of arbitration in Islamic law. In an effort to accept the concept of intra-Qur'anic abrogation, experts have different opinions, some accept it and some reject it. One who rejects the existence of texts among the verses of the Qur'an which is the interpreter of the archipelago is Ahmad Hassan. Hassan's argument against the existence of nasakh in the Qur'an has similarities in several aspects with Rashid Rida. So that Hassan's argument pattern has a common ground with Abu Muslim Al-Isfahani's argument about texts in the Qur'an.
PENAFSIRAN MARWAN BIN MUSA TERHADAP AYAT-AYAT SIFAT DALAM TAFSIR HIDAYATUL INSAN BI TAFSIR ALQURAN Muzakkir Muzakkir; Imam Fikri
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.11107

Abstract

AbstractMelihat adanya krisis dalam penafsiran ayat-ayat sifat-sifat Allah, seperti kesamaran dan ketidakjelasan tentang sebab terjadinya konflik dan perbedaan tafsir dalam permasalahan tauhid asma' wa sifat menjadi latar belakang peneliti untuk meneliti akan hal ini. Seperti pada penafsiran pada ayat-ayat Mutasyabih yang lumayan fenomenal seperti penafsiran tentang Istiwa', Al-Wajh, Al-Yadd dan selainnya. Penelitian ini bersifat kepustakaan (librart research) yang didasarkan pada Tafsir Hidayatul Insan Bi Tafsir Alquran karya Abu Yahya Marwan bin Musa sebagai data sumber primer, dan kitab-kitab lain yang mendukung dan terkait dengan pembahasan sebagian data sekunder. Berdasarkan hasil penelitian kepustakaan yang penulis lakukan, dapat diketahui terdapat perbedaan yang signifikan antara penafsiran Abu Yahya Marwan bin Musa dengan penafsiran-penafsiran sebagian mufassir lainnya, yaitu bahwa penafsiran Abu Yahya Marwan bin Musa terhadap ayat-ayat sifat Allah adalah dengan menafsirkan ayat-ayat sifat Allah sesuai dengan dzohir (tekstual lafadz) ayat tersebut saja, tanpa melakukan "Takwil" ataupun "Tafwidh". Penafsiran Marwan bin Musa tentang Sifat Al-Kalam, bahwasanya Allah mempunyai Sifat Al-Kalam yaitu Allah berbicara dengan huruf dan suara sesuai dengan kesempurnaan dan keesaanNya, juga tidak sama dengan sifat mahkluk. Juga perbedaan yang sangat mencolok dalam penafsiran Marwan bin Musa dalam Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsir Alquran tentang Sifat Mukhalafatu lil Hawadist, bahwasanya tidak sama seperti mahkluk sama sekali.Kata Kunci: Asma' Wa Sifat, Istiwa', Al-Wajh, Al-Yadd, Takwil, The Qur'an
المباهلة في تفسير الأزهر لهامكا Katimin Katimin; Husnel Anwar; Usman Harahap
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.11103

Abstract

تجريد البحثالقرآن كتاب الحياة ، يحتوي على قواعد مختلفة تتعلق بترتيب حياة الإنسان في العالم ونتائج تلك الحياة في الآخرة. من المشاكل التي يعبر عنها وينظمها القرآن هي المباهلة. تأخذ هذه الكتابة دراسة أفكار هامكا. و تهدف هذه الدراسة إلى تحليل المباهلة في تفسير الأزهر، والتوصل إلى خصوصية تفسير هامكا بالمباهلة. و لتحليل قانون المباهلة مع إخوانهم المسلمين ومعرفة أهمية مناقشة المباهلة وصلتها بالمجتمع الإندونيسي. هذا البحث عبارة عن بحث مكتبة و يؤخذ مصدره من تفسير الأزهر، ثم المصادر الآخر باستخدام نهج موضوعي. وجد المؤلف ثلاثة تفرد في تفسير الأزهر تتعلق بالمباهلة, وهي: المباهلة دليل على أهمية مكانة  المرءة في الإسلام، ذكر المثل و بيان التاريخي.المباهلة هي إحدي القضايا المهمة جدًا للدراسة وذات الصلة التي سيتم مناقشتها في هذا الوقت. و فيما يلي بعض من ظواهر المباهلة في إندونيسيا: قسم بوكونج ، ومباهلة حبيب رزق سيهاب ، و المباهلة جوس نور وغيرها. المباهلة مثل هذا لا يجب أن يحدث لأنه مرتبط بمشاكل دنيوية فقط، وليس مسألة إيمان أو مسألة من مسائل الشريعة الهامة. و لا يصح للمسلم أن يسرع في القيام بالمباهلة أو قبول تحديات المباهلة من إخوانه المسلمين.الكلمات المفتاحية: هامكا, التفسير, المباهلة
NASIONALISME DALAM PANDANGAN IMAM NAWAWI AL-BANTANI Amoreni Amroeni; Hermansyah Hermansyah
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.11108

Abstract

AbstractIstilah Nasional tergambar dalam beberapa kata, misalnya; Al-qaumiyyah berarti kesukuan, secara etimologi kata al-qaum ini berarti kumpulan orang laki-laki dan perempuan sebagaimana tertulis dalam banyak ayat Alquran, misalnya ucapan para nabi ketika mengajak kaumnya yang diawali dengan kata ya qaumi. Dalam lisan al-Arab disebutkan bahwa kata qaum berasal dari huruf qaf, waw dan mim. Maka jika dilihat dari beberapa perubahannya, qaum, qaumah atau qiyam berarti berdiri, menopang, bertekad dan tegak lurus, kata qawwam berarti melindungi, bertanggung jawab dan memimpin, kata istiqomah berarti lurus, disiplin dan terus menerus kata muqim berarti tempat tinggal dan maqam berarti tempat berdiri atau tempat yang menunjukan derajat seseorang. Maka orang arab memakai kata ini untuk menggambarkan nasionalisme. Hal ini karena jika digabungkan dari derivasi kata qaum ini maka akan membentuk suatu pengertian yang sesuai dengan makna nasionalisme. Kemudian istilah al-Ummah, istilah ini dapat dijumpai pada Piagam Madinah yang dideklarasikan oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam Piagam Madinah ini, pengertian ummah beserta cakupan maknanya dipergunakan dalam dua model dengan pasal yang berbeda, yaitu: Pertama, dipakai untuk menyebut komunitas seagama dan Kedua dipakai untuk menyebut komunitas yang pluralistik yang terdiri atas berbagai agama, ras dan suku tetapi tergabung dalam satu kesatuan sosial politik. Maka istilah-istilah tersebut akan menjadi dasar dalam memperkaya cakupan dan bahasan dalam penelitian ini. Manfaat dari penulisan semoga bisa menambah khazanah pengetahun tehadap makna Nasionalisme yang dirangkum dalam perspektif ulama tafsir yang menjadi pelaku dalam sebuah gerakan nasionalisme itu sendiri. Sehingga pemahaman tehadap hal ini, mudah-mudahan akan lebih kompleks. Juga bisa menjadi bahan telaah sejarah dari seorang Ulama yang berpendidikan yang memiliki banyak karya yang layak untuk di telusuri.Kata Kunci: Nasionalisme, Tafsir, Khazanah, Ulama

Page 1 of 1 | Total Record : 7