cover
Contact Name
Mohammad Fauziddin
Contact Email
mfauziddin@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
astutimasnur@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI
ISSN : 26146754     EISSN : 26143097     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Pendidikan Tambusai is Jurnal Electronic which contains the results of research and literature studies related to the field of education, including; regulation of education, learning activities, learning strategies, teacher professionalism, students, education and education personnel, issues of educational institutions, educational environment and parenting.
Arjuna Subject : -
Articles 2,685 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2024)" : 2,685 Documents clear
Komunikator Politik dan Kepemimpinan Politik Sampurna, Ahmad; Hakim, Fikril; Syahputra, Adrian; Handayani, Rini; Simbolon, Masitoh Br.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran komunikator politik dalam membentuk kepemimpinan politik melalui pendekatan kualitatif dan riset pustaka. Kepemimpinan politik dipahami sebagai kemampuan untuk memengaruhi opini publik, membentuk kebijakan, dan menggerakkan aksi politik. Di tengah kompleksitas dinamika politik kontemporer, komunikator politik memainkan peran krusial dalam membentuk persepsi dan citra pemimpin politik. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis literatur terkait dengan komunikasi politik dan kepemimpinan politik. Melalui pendekatan ini, akan dieksplorasi bagaimana strategi komunikasi politik memengaruhi persepsi publik terhadap pemimpin politik, serta dampaknya terhadap stabilitas politik dan kebijakan publik. Hasil penelitian diharapkan akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara komunikator politik dan kepemimpinan politik, serta implikasinya dalam konteks politik saat ini. Penelitian ini juga dapat memberikan wawasan bagi praktisi komunikasi politik dan pengambil kebijakan untuk meningkatkan efektivitas strategi komunikasi dalam mendukung kepemimpinan politik yang responsif dan berkelanjutan.
Upacara Mangongkal Holi pada Masyarakat Batak Toba : Kajian Wacana Struktural Sinulingga, Jekmen; Sigiro, Dony; Pandiangan, Johannes
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adapun permasalahan yang di bahas adalah tentang upacara mangokal holi dalam tradisi batak toba. mangongkal holi adalah proses menggali kembali tulang belulang dari kubur yang sifatnya sementara dan selanjutnya akan ditempatkan kedalam ketempat yang baru ,biasanya terbuat dari semen yang dikenal dengan istilah batu napir atau tugu marga . Mangongkal holi berlangsung dalam rangkaian upacara adat, baik sebelum, saat, dan setelah makam digali dan tulang belulang dikumpulkan. Upacara Holi Mangokal ini selain berfungsi sebagai ritual penghormatan kepada leluhur, juga berfungsi sebagai integrasi sosial antar keluarga yang mengadakan upacara. Penggunaan kerbau dalam ritual ini karena memberikan kesan religius yang magis kerbau telah dikenal sebagai hewan pembawa berkah kesuburan dan kemakmuran masyarakat serta sebagai simbol status Indonesia. Orang Kerbau yang sedang melakukan upacara Mangokal Holi. Hasil dari penelitian ini untuk mengetahui nilai nilai yang terkandung dalam tradisi mangokal holi suku Batak Toba , mengetahui prosesi dari tradisi mangongkal holi suku Batak Toba.
Suntiang Gadang Etnik Minangkabau Kajian Semiotika Sinulingga, Jekmen; H, Nazwa Rivasha; Khairani, Riva
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini berjudul suntiang gadang etnik minangkabau kajian semiotika. Suntiang gadang minangkabau adalah salah satu mahkota Tradisional minangkabau, suntiang sering kali digunakan dalam acara adat seperti pernikahan, pengangkatan adat, hingga upacara keagamaan, suntiang minangkabau memliki berat 3 hingga 5 kilogram. Berat suntiang melambangkan peralihan status perempuan dari remaja ke dewasa. Suntiang asli terbuat dari bahan emas, perak dan tembaga.Ungkapan Minangkabau "sunitang gadang" menggambarkan hidangan besar atau rumit yang disediakan selama pertemuan atau perayaan. Istilah ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan hidangan tertentu yang disajikan selama acara tersebut sering kali, ini mencakup berbagai makanan termasuk nasi, rendang, ayam goreng, sayuran, dan makanan lainnya. Dalam tradisi Minangkabau, Suntiang Gadang merupakan simbol penting dari kebahagiaan dan keramahan saat memberikan sambutan hangat kepada tamu atau memperingati acara penting.
Makna Mangulosi dalam Pernikahan Batak Toba: Kajian Wacana Kritis Sinulingga, Jekmen; Simarmata, Tioara Monika; Tampubolon, Juwita Paramita
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis terhadap tradisi mangulosi dalam pernikahan Batak Toba menyoroti ketaatan beragama dan sikap masyarakat Batak Toba terhadap tradisi tersebut. Bagi mereka, mangulosi bukan sekedar wali upacara, tapi juga bagian penting dari identitas keagamaan mereka. Tradisi ini disajikan secara ringan dan dipahami sebagai ungkapan cinta dan pengabdian. Selain itu, mangulosi juga menghilangkan nilai-nilai seperti kesetiaan, kerjasama tim, dan kepentingan diri sendiri dalam hubungan interpersonal dan komunitas. Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini antara lain pentingnya pemahaman tradisi mangulosi, dampak pelaksanaan ritual terhadap hubungan keluarga, dan nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam ritual yang dimaksud. Dalam analisis ini, kami juga menggunakan teknik berpikir kritis untuk menyelidiki aspek signifikansi keagamaan, perspektif partisipasi, dinamika keluarga, dan perubahan sosial terkait kepercayaan tradisional dalam pernikahan Batak Toba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangulosi merupakan tradisi yang dilestarikan dengan baik dari nenek moyang. Ini merupakan bagian penting dalam persiapan pernikahan Batak Toba di Desa Hatoguan, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir. Tradisi ini dilakukan setelah upacara pemakaman orang yang meninggal. Sebelum memasuki tahap mangulosi, acara diawali dengan penandatanganan kedua utusan dari masing-masing kedua pihak atau dengan menggunakan hukum kuno yang dikenal dengan Raja Parhata. Penyambutan ini dilakukan dengan menggunakan bahasa Batak Toba yang berisi ucapan salam dari keluarga pria dan ucapan terima kasih dari kelompok wanita kepada keluarga pria karena dianggap mempunyai rasa kesetiaan dan persahabatan yang kuat. Setelah itu, ada “jambar” (upacara inisiasi daging dimana anggota keluarga pria diperkenalkan kepada wanita. Setelah itu, ritual ini dilakukan dengan mangulosi, yaitu yang lebih tua memberikan yang lebih muda sebagai tanda hormat dan tetua memberikan sisanya kepada kedua tetua.
Makna Ulos Saput dalam Upacara Kematian Adat Batak Toba di Kecamatan Palipi : Kajian Semiotika Sinulingga, Jekmen; Simarmata, Tioara Monika; Tampubolon, Juwita Paramita
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan identitas suku Batak Ulos Toba, yang menggunakan ulos dalam semua upacara adat mereka. Studi ini berfokus pada Ulos Saput, yang digunakan dalam upacara kematian di wilayah Palipi, dan meminta generasi milenial untuk memperhatikan budaya mereka. Penelitian semiotika menggunakan data langsung dari lapangan. Penulis menggunakan pendekatan Charles Sanders Pierce untuk menganalisis makna semiotika Ulos Saput. Seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian, jalan-jalan tidak lepas dari kehidupan suku Batak Toba di Kecamatan Palipi. Dalam upacara kematian Batak Toba, ulos saput digunakan untuk menutupi jenazah hingga liang kubur. Di wilayah Palipi, Ulos Saput mengandung nilai-nilai keberkahan, kasih sayang, rasa hormat, iman, dan harapan. Ulos Saput juga merupakan nilai-nilai luhur dan tradisi yang dihormati dan dihormati oleh masyarakat Batak Toba dan merupakan penanda identitas budaya yang membedakan mereka dari suku lain di Indonesia.
Analisis Wacana Konteks dalam Upacara Mambosuri pada Etnik Batak Toba Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua; Sitinjak, Willy Panahatan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada etnis batak toba ada banyak sekali upacara adat yang dapat kita temukan, salah satunya yaitu upacara mambosuri. tradisi Mambosuri adalah upacara adat saat hamil yang masih sering dilakukan dalam tradisi Batak Toba. Istilah Mambosuri 'membuat kenyang' adalah ritual pemberian makanan kepada orang tua istri kepada calon ibu yang kandungannya telah memasuki usia tujuh bulan. Secara simbolis, tradisi ini memberi makna untuk menjaga kesehatan dan keselamatan calon ibu dan bayi yang dikandungnya, serta anggota keluarga lainnya yang ditampilkan dalam berbagai upacara adat. Penelitian ini bermaksud untuk memaparkan unsur unsur konteks wacana yang terdapat pada upacara mambosuri dalam adat batak toba. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode ini adalah metode yang berfokus pada pengamatan yang lebih mendalam. Sehingga penggunaan metode kualitatif pada penelitian ini dapat memperoleh kajian dari suatu fenomena yang lebih komprehensif. Penelitian kualitatif yang megamati humanisme atau individu manusia dan kebiasaan perilaku manusia adalah hasil kesadran bahwa semua akibat Tindakan manusia berpengaruh pada aspek aspek internal individu. Adapun aspeknya yaitu seperti kepercayaan, pandangan politik dan latar belakang sosial dari individu yang terlibat. Pada penelitian ini mengunakan teori yang dikemukakan oleh Dell Hymes. Dell Hymes merupakan seorang ahli Bahasa dan antropologi yang terkenal karena kontribusinya terhadap teori Bahasa dan teori konteks sosial yang terkait dengan Bahasa. Dell mengemukakan salah satu teori yang banyak digunakan sampai saat ini yaitu teori konteks yang dikenal dengan SPEAKING, (Sudarsono, 2023) SPEAKING berfungsi sebagai kajian untuk memperluas konsep Bahasa menjadi konsep yang lebih menyeluruh dan lebih luas. Hasil dari penelitian ini yaitu adanya delapan unsur unsur konteks wacana yang terdapat dalam upacara mambosuri dalam adat batak toba . Adapun unsur unsur konteks wacana tersebut yaitu latar (setting), peserta (participants), hasil (end), rangkaian tindakan (Act), cara (key), alat (Instrumentalities), norma (norms), jenis (genre).
Konteks Upacara Maholi dalam Etnik Batak Toba Sinulingga, Jekmen; Hutajulu, Bella Angelica Br; Nurbi, Nurbi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis konteks Upacara Maholi dalam Etnik Batak Toba. Selain itu, penelitian ini bertujuan membahas lebih dalam proses dan makna tersirat dalam Upacara Maholi dalam Etnik Batak Toba. Upacara Maholi merupakan salah satu ritual adat dalam pernikahan Batak Toba dan memiliki sakral dan penting dalam kehidupan masyarakat etnik Batak Toba. Penelitian ini menyoroti tujuan, proses, dan makna budaya dari upacara Maholi sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan Teori Dell Hymes serta melibatkan wawancara mendalam dengan tokoh adat dan anggota masyarakat Batak Toba yang terlibat dalam pelaksanaan upacara Maholi. Penelitian ini akan mengungkapkan makna budaya yang terkandung dalam setiap tahapan upacara Maholi, termasuk simbol-simbol, makna, dan aturan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Batak Toba. Dengan memahami makna budaya dari upacara Maholi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat serta turut menjaga keberlangsungan warisan budaya suku Batak Toba. Dalam era kemajuan zaman dan globalisasi saat ini, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang upacara Maholi dalam konteks budaya suku Batak Toba, sekaligus memperkaya literatur mengenai keragaman budaya di Indonesia.
Konteks Upacara Erdemu Bayu dalam Etnik Batak Karo Sinulingga, Jekmen; Sinulingga, Theresia Margaretta; Hutauruk, Yesika
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upacara adat Erdemu Bayu merupakan bagian penting dari tradisi etnik Batak Karo di Indonesia. Erdemu Bayu merupakan upacara perkawinan dalam suku batak karo. Upacara ini memiliki nilai yang mendalam dan menjadi landasan bagi sistem sosial di kehidupan masyarakat Batak Karo dan mencerminkan kekayaan budaya mereka. Studi analisis wacana Batak terhadap upacara ini memberikan pemahaman yang dalam tentang makna simbolik, nilai budaya, dan peran sosial dari upacara adat ini. Melalui analisis wacana, dapat dipelajari bagaimana simbol-simbol dalam upacara ini menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan roh leluhur. Simbol-simbol seperti tarian, pakaian adat, dan persembahan memiliki makna mendalam yang menghubungkan masyarakat Batak Karo dengan warisan leluhur dan alam sekitar. Analisis wacana Batak juga mengungkapkan nilai budaya yang terkandung dalam upacara Erdemu Bayu. Nilai-nilai seperti kebersamaan, kejujuran, dan keterhubungan dengan alam menjadi bagian integral dari upacara ini. Seperti pengendesen luah yang melibatkan sistem kekerabatan yang terdiri dari 3 kelompok yaitu senina,kalimbubu, dan anak beru . Selain itu, dimensi spiritualitas dalam upacara ini juga tercermin melalui doa, mantra, dan praktik keagamaan yang dilakukan selama acara.
Kajian Masakan Khas Batak Toba Naniura dari Sudut Pandang Semiotik Sosial Sinulingga, Jekmen; Sitinjak, Ornelia; Sinaga, Angelica
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul kajian masakan khas batak toba naniura dari sudut pandang semiotik sosial. Naniura, yang popular sebegai hidangan ikan mentah yang dimarinasi dengan asam dan bumbu-bumbu tradisional tanpa proses memasak dengan panas, mempunyai makna dan simbolisme yang mendalam dalam budaya batak toba. Penelitian ini merumuskan apa saja bahan yang digunakan dalam memasak naniura, apa saja fungsi bahan tersebut, apa saja makan ikan naniura dalam acara adat batak toba, dan apa saja fungsi ikan naniura. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan semiotik sosial, yaitu Ferdinand Se Sausure. Teori f.d sausure membahas tentang tanda- tanda. Metodologi penelitian ini juga melibatkan analisis deskriptif kualitatif terhadap berbagai sumber, termasuk literatur, observasi, wawancara dengan para ahli kuliner tradisi batak, dan pengamatan langsung dalam acara-acara adat dan ritual di mana naniura disajikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naniura tidak hanya merupakan bagian integral dari budaya kuliner budaya batak toba, tetapi juga berperan dalam memperkuat ikatan sosial dan tradisi komunitas. Simbolis untuk penggunaaan bahan-bahan seperti andaliman, asam, dan rempah-rempah tradisional serta metode persiapan yang melibatkan ritus tertentu, menjelaskan hubungan yang mendalam antara masakan dan nilai dari budya. Dalam penelitian ini menjelaskan pemahaman tentang bagaimana makanan tradisional dapat digunakan sebagai wadah untuk mempertahankan warisan budaya dan bagaimana simbolisme yang ada di dalam masakan dapat merefleksikan struktur sosial dan dinamika komunitas. Hasil dari penelitian ini semoga dapat meningkatkan wawasan bagi orang-orang, terlebih bagi studi lintas budaya.
Status Sosial dalam Rumah Adat Siwaluh Jabu Batak Karo Sinulingga, Jekmen; Sitepu, Natanael; Siregar, Slamet Halomoan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah adat siwaluh jabu merupakan salah satu rumah adat yang ada dalam etnis atau suku batak karo, rumah adat tersebut biasanya dihuni oleh 8 keluarga, seperti namanya rumah siwaluh jabu yang berarti delapan ruangan, rumah adat ini terdiri dari 8 ruangan atau jabu yang dihuni berdasarkan aturan yang sudah ditetapkan, rumah adat ini sangat erat dengan hubungan atau interaksi sosialnya yang sangat tertata rapi sehingga dapat menciptakan hubungan sosial yang sulit untuk diterapkan, rumah adat ini biasanya tidak memiliki kamar dan semua anggota keluarga tidur di bagian jabu atau ruangan tanpa penyekat atau dinding, tetapi khusus untuk tempat tidur ayah dan ibu diberi penyekat berupa kain panjang yang biasanya bisa dilepas. Karena ruangan di dalam rumah adat ini tidak memiliki kamar, maka dari itu setiap keluarga memiliki satu ruangan untuk menyimpan harta benda mereka, ruangan tersebut mirip seperti gudang untuk menyimpan barang berharga. di dalam kasus ini peneliti menganalisis bagaimana status sosial didalam rumah siwaluh jabu dan bagaimana jika terjadi permasalahan di dalam rumah adat siwaluh jabu ini.

Page 56 of 269 | Total Record : 2685