Articles
338 Documents
Nilai Nasionalisme dalam Hikayat Perang Sabil Teungku Chik Pantee Kulu
Syamsul Rizal
At-Tafkir Vol 14 No 1 (2021): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32505/at.v14i1.2911
This article discusses nationalism in the sabil war saga written by Teungku Chik Pantee Kulu. The sabil war saga written by Tengku Chik Pantee Kulu is a saga found in Acehnese society and can give the spirit of defending the country after listening to it. This saga was written in 1873 after he returned from Mecca and at that time Aceh fought against the Dutch. This research method uses literature study with a hermeneutic approach. The primary data source is Ali Hasjmy's book, Aceh Literary Contributions in the Development of Indonesian Literature, Jakarta: Bulan Bintang, 1977. The results of the analysis show that there are five values of nationalism in the sabil war saga by Teungku Chik Pante Kulu, namely love for the homeland, self-sacrifice, interest country above personal interests, has a heroic spirit, and does not give up easily.
MENJADI BERAGAMA: KONVERSI AGAMA DAN RELASI KUASA PADA INDIGENOUS COMMUNITY
Laila Sari Masyhur
At-Tafkir Vol 7 No 1 (2014): Vol VII No 1 Juni 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Using a theory of power relation of Michel Foucault, the followingresearch analyze the behavior of religious conversion in the indigenouspeople of Anak Rawa in Penyengat, Siak District, hereinafter referred toas the native People. The research will show that in the middle of thedomination of the state and theologians, the community of indigenouspeople actualizes power to maintain its identity in the the midst of theinvasion of new values and culture. To support the argument, theresearcher traced the religiousity of the Indigenous People focusing onseveral events of everyday life such as traditions of marriage, death, andcelebration of religious holidays. In addition to adapting to fies the ritualtraditions of each religion so that thes traditions become a means ofpreserving their communal identity as a native tribe. The researchultimately shows the interplay between the state and theologians as thedominant group, on the one hand, and the indigenous community as asubjugated group, on the other, in the use of power.
LEGITIMASI POLITIK DI MAKAM TUAN GURU: PERILAKU ZIARAH POLITISI LOKAL KE
Ziaulhaq* Ziaulhaq*
At-Tafkir Vol 7 No 1 (2014): Vol VII No 1 Juni 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This article is related to politicians’ ziarah act to TarekatNaqsyabandiyah Babussalam (TNB). TNB is a phenomena that isalways related to political moment such as regional election and legislativeelection. The phenomena is important to be showed about how localpoliticians’ ziarah act in TNB. This articles’ objective is to answer thequestions have been proposed. As long the research has been done, can befound that local politicians’ ziarah act in TNB is to get the master’spraying and members’ praying. In ziarah activity there are reciting Yasin41 and praying in front of the founder’s funeral. As a legitimation forpolitician can be seen as follow: publication of ziarah activity on printedmedia and electronic media; putting the master’s photograph on bannersin public sphere; coming to haul of TNB; and using TNB’s activity.
RELASI GENDER DALAM RITUAL KENDURI BLANG PADA MASYARAKAT PETANI DI GAMPONG SUKAREJO LANGSA
Muhammad Ansor;
Nurbaiti .
At-Tafkir Vol 7 No 1 (2014): Vol VII No 1 Juni 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini membahas relasi gender dalam ritual kenduri blang denganstudi kasus pada masyarakat petani muslim di Gampong SukorejoLangsa, Aceh. Data etnografis yang digunakan untuk penulisan inidikumpulkan melalui observasi dan wawancara semi terstruktur yangdilakukan pada Maret – Juni 2014. Observasi dilakukan terhadapprosesi pelaksanaan kenduri balang di Sukorejo, dan wawancaradilakukan terhadap enam orang laki-laki dan perempuan yang terlibatdalam prosesi tersebut. Tulisan berargumen bahwa tradisi kenduri blang(kenduri sawah) yang dilakukan masyarakat petani muslim diSukorejo tidak selalu menggambarkan subordinasi perempuan dalamtradisi ritual keagamaan. Tulisan ini akan menantang pandangan yangmengatakan perempuan dalam ritual keagamaan Islam berada padaposisi yang subordinat, dengan menunjukkan bahwa dalam masyarakatmuslim di Sukorejo, pembagian peran antara laki-laki dan perempuandalam prosesi ritual kenduri blang sama setara signifikansinya terhadapkesuskesan kegiatan. Temuan ini menegaskan bahwa laki-laki danperempuan dalam masyarakat petani muslim di Sukorejo tidak padaposisi saling mensubordinasi antara satu sama lain.
METODE BARU MEMAHAMI ALQURAN DALAM PERSPEKTIF SHAHRUR
Yaser Amri
At-Tafkir Vol 7 No 1 (2014): Vol VII No 1 Juni 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Raised in Syria and educated in Moscow, Shahrur's intellectual profileinfluenced by the Syrian political situation of his era as well as Marxism.Having been studied linguistic and philosophical positivism that can betraced from Bertrand Russell and Alfred Whitehead to Kant, Fichte andHegel, Shahrur believes that Islamic teachings can be reconciled withmodern rational experiences of reality. Proposing the theory of limit hetried to reinterprate Islamic concept of hudud and a better understandingof the sacred book through Hermeneutics.
EPISTEMOLOGI FILSAFAT ISLAM DALAM KERANGKA PEMIKIRAN ABID AL-JABIRI
Syamsul Rizal
At-Tafkir Vol 7 No 1 (2014): Vol VII No 1 Juni 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Fazlur Rahman, (1982: 157) secara tegas mengatakan, filsafatmerupakan alat intelektual yang terus menerus diperlukan. Untuk itu,ia harus berkembang secara alamiah, baik untuk perkembangan filsafatitu sendiri maupun untuk pengembangan disiplin-disiplin keilmuan yanglain. Karena itu, orang yang menjauhi filsafat dapat dipastikan akanmengalami kekurangan energi dan kelesuan darah – dalam artikekurangan ide-ide segar – dan lebih dari itu, ia berarti telahmelakukan bunuh diri intelektual. Di antra tokoh Islam yangmengembangkan filsafat adalah Abid al-Jabiri, ia memformulasikanbahwa epistemology filsafat Islam terdiri dari tiga bagian yaitu; bayaniburhani dan irfani. Dengan ketiga epistemology tersebut dapatmemetakan keilmuan yang terdapat dalam Islam. Dalam artikel iniakan dibahas ketiga epistemology tersebut.
PENDEKATAN TASAWUF DALAM STUDI ISLAM DAN APLIKASINYA DI ERA MODERN
Sugeng Wanto
At-Tafkir Vol 7 No 1 (2014): Vol VII No 1 Juni 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tasawuf merupakan bidang studi Islam yang memusatkan perhatianpada perkembangan pembersihan aspek rohani manusia yang dapatmenimbulkan akhlak manusia. Mempelajari dan mengamalkantasawuf seperti yang ditawarkan oleh para sufi sepertinya merupakansalah satu jalan untuk membangkitkan Islam global seperti padazaman keemasan Islam. Menginternalisasikan atau membumikan nilai-nilai spritual dalam bentuk tasawuf menjadi kebutuhan secara imperatifsepanjang hidup manusia dalam semua bentuk perkembanganmasyarakat. Untuk masyarakat yang masih terbelakang, spritualismeharus berfungsi sebagai paradigma dakwah untuk mendorongpeningkatan etos kerja dan bukan sebagai pelarian dan ketidakberdayaan masyarakat untuk mengatasi tantangan hidupnya.Sedangkan bagi masyarakat maju-industrial, spritualisme berfungsisebagai paradigma dakwah dalam bentuk tali penghubung denganTuhan.
SISTEM PENGELOLAAN ZAKAT (KAJIAN TERHADAP QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 7 TAHUN 2004)
Fuadi .
At-Tafkir Vol 7 No 1 (2014): Vol VII No 1 Juni 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Zakat merupakan suatu kewajiban agama yang diwajibkan oleh orang-orang muslim yang digolongkan sebagai muzakki menurut ketentuansyari’at Islam. Zakat harus berperan secara maksimum dalammemberdayakan ekonomi umat, maka zakat haruslah dilaksakan olehsetiap negara Islam sesuai dengan perintah al-Qur’an dan al-Hadits. DiIndonesia, meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, kegiatanperzakatan belum berjalan secara optimal, sehingga manfaat atauhikmah yang terdapat pada program zakat itu sendiri belum maksimal.Pembentukan lembaga Baitul Mal tersebut merujuk pada QanunNomor 7 Tahun 2004. Dalam qanun tersebut telah diatur berbagaiteknis pelaksanaan pengelolaan zakat, sehingga bila terjadipenyelewengan dalam pengelolaannya, petugas akan dikenakan sanksihukum.
PERKEMBANGAN INTELEKTUAL PADA MASA DINASTI BUWAIHI
Mohd. Nasir
At-Tafkir Vol 7 No 1 (2014): Vol VII No 1 Juni 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perkembangan ilmu pada masa dinasti Buwaihi adalah konsekwensilogis dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan yang telah berjalanlama. Mulai dari usaha penerjemahan, keterbukaan terhadap budayalain dan pergesekan antara berbagai aliran pemikiran yang terjadidalam umat Islam sendiri. Selain itu, terdapat juga faktor lain yanglangsung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ilmupengetahuan pada masa dinasti bani Buwaihi. Pertama, tumbuhnyakota-kota ilmu dan budaya. Selain Bagdād sebagai kota besar, munculpula kota-kota lain seperti, Cordova, Kairo dan Bukhara. Di daerahbani Buwaihi juga muncul kota ilmu pengetahuan selain Baṣrah danKufah, yaitu Rayy, Iṣfahān dan Syirāz. Kedua, maraknya majelis-majelis ilmu yang didirikan oleh berbagai amir dan wazir. Majelis ilmuini dapat dikelompokkan kepada 3 bentuk: majlis al-umara’, majelisal-wuzara’ dan majelis al-‘ulama. Ketiga, perpustakaan dan Dar al-‘ilm. Para ulama dan wuzara’ serta banyak orang kaya berlomba-lomba mendirikan perpustakaan dan Dar al-ilm.
AL-ILLAH DAN AL-HIKMAH
Muhammad Syahrial
At-Tafkir Vol 9 No 1 (2016): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Al-illah merupakan sifat yang jelas (wasf zahir), terukur (mundhabit), memiliki hubungan dengan hukum yang ditetapkan (munashabah li al-hukm), kemudian al-hikmah sebaliknya. al-illah merupakan aspek pola pikir yang cenderung menerapkan pola pikir deduktif/bayaniy kemudian metodenya dominan metode dialektika sementara itu teorinya mengadopsi teori ruju’ ila ashliyin mu’ayyin. Jika merujuk kepada konsep kausalitas dari Plato ia tergolong kepada causa legis. Sementara itu al-hikmah pada aspek pola pikir menerapkan pola pikir induktif/burhaniy kemudian metodenya dominan metode demonstartif/istiqra’i. Teori yang diterapkan dengan konsep al-hikmah adalah teori ruju’ ila ashliyah al-kulliyah. Dan jika merujuk kepada konsep kausalitas dari Plato ia tergolong kepada causa finalis. Selanjutnya al-illah berfungi dominan untuk menerapkan metode qiyas dalam penetapan hukum Islam sementara itu konsep al-hikmah cenderung berfungsi untuk mempermudah menerapkan maqashid syar’iyah dalam penetapan hukum Islam.