cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
JPSCR : Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research
ISSN : -     EISSN : 2503331x     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Pharmaceutical Science And Clinical Research (e-ISSN 2503-331x) offers a forum for publishing the original research articles, review articles from contributors, and the novel technology news related to pharmaceutical science and clinical research. Scientific articles dealing with natural products, pharmaceutical science-industry and clinical research, etc. are particularly welcome. The journal encompasses research articles, original research report, reviews, short communications and scientific commentaries pharmaceutical science and clinical research including: bioactive products, chemotaxonomy, chemistry, ecological biochemistry, metabolism, pharmacy management, pharmacoeconomics, pharmacoepidemiology, clinical pharmacy, community pharmacy, pharmaceutical social and pharmaceutical industry.
Arjuna Subject : -
Articles 184 Documents
Analisis Potensi Interaksi Obat Antipsikotik Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara Sunandar Ihsan; Sabarudin Sabarudin; Wa Ode Asriani; Andi Nurwati
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v8i2.71423

Abstract

Terapi kombinasi antispikotik digunakan pada pasien skizofrenia untuk meningkatkan efikasi namun berpotensi untuk terjadinya masalah terkait terapi obat akibat dari interaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi terjadinya interaksi obat antipsikotik dan hubungannya dengan karakteristik pasien skizofrenia Penelitian potong lintang dan deskriptif analitik ini menggunakan data sekunder dari rekam medik pasien rawat inap tahun 2021 di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian menunjukan potensi interaksi terjadi pada 92% pasien dengan tingkat interaksi mayor 54%, moderate 30% dan minor 16%. Potensi interaksi secara farmakodinamik mendominasi dengan 84% dibanding interaksi secara farmakokinetik hanya 16 %. Sebagian besar antipsikotik yang digunakan adalah risperidon 33,5%, lalu klorpromazin 23,7% dan haloperidol 20,4%. Kombinasi antispikotik yang terbesar adalah dua kombinasi yaitu risperidon dan klozapin (34,09%) lalu tiga kombinasi yaitu haloperidol, klorpromazin dan risperidon (20,45%). Analisis fisher menunjukan hubungan signifikan antara jumlah obat dengan potensi interaksi dengan nilai p 0,039 namun tidak berhubungan dengan umur, jenis kelamin dan penyakit penyerta (p >0,05). Potensi interaksi berhubungan dengan jumlah obat yang diterima dan perlu diperhatikan karena berpotensi menyebabkan efek samping serius seperti sindrom ekstrapiramidal, sindrom neuroleptic malignan dan peningkatan interval QTC yang dapat mempengaruhi outcome pasien.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia Linn) terhadap Respon Inflamasi Tikus yang diinduksi Kolitis Tri Fitri Yana Utami; Muhammad Novrizal Abdi Sahid; Ediati Ediati; Ika Puspita Sari
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 8, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v8i3.71388

Abstract

Kolitis Ulseratif (KU) merupakan penyakit peradangan usus yang dapat berkembang menjadi kanker usus dan akan meningkatkan kematian jika tidak tertangani dengan baik. Pengobatan KU dilakukan dengan pemberian kortikosteroid, imunosupresan dan agen biologis, namun hal itu dapat menyebabkan munculnya penyakit lainnya. Mengkudu (Morinda citrifolia Linn) mengandung senyawa flavonoid yang mampu memberikan efek preventif dan terapeutik dengan menurunkan sitokin proinflamasi sehingga diperkirakan dapat memperbaiki kondisi KU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian Ekstrak Buah Mengkudu (EBM) terhadap KU pada tikus yang diinduksi asam asetat. EBM diperoleh dari ekstraksi metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Induksi KU dilakukan pada tikus Sprague Dawley menggunakan 2% asam asetat. Tikus dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu:  K1 (kontrol normal); K2 (kontrol negatif); K3 (Kontrol positif); K4, K5 dan K6 yaitu perlakuan berturut-turut diberi EBM dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB. Kemudian dilakukan pengamatan respon inflamasi dengan paramater skoring penilaian indeks aktivitas penyakit (IAP) kolitis (berat badan, konsistensi feses, dan keberadaan darah pada feses), makrokopi lesi kolon serta rasio berat kolon/panjang kolon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa EBM berpengaruh pada penurunan skor IAP KU, makroskopi lesi kolon dan rasio berat kolon/ panjang kolon pada dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400 mg/kgBB dimana dosis 400 mg/kgBB menunjukkan aktivitas yang lebih baik dan menunjukkan perbedaan siginifikan (p<0,05) dibandingkan kontrol negatif. EBM memberikan respon yang baik pada kondisi KU jika dinilai dengan parameter tersebut. Perbaikan respon inflamasi pada KU oleh EBM, menjadikan EBM sebagai kandidat pengobatan KU yang potensial.
Potensi Daun Keji beling (Strobilanthus crispus) sebagai Antibakteri dan Antibiofilm terhadap Bakteri Cutibacterium acnes Sumi Wijaya; Inggar Dwi Kuncahyani; Lisa Soegianto
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i1.74341

Abstract

Cutibacterium acnes, merupakan salah satu mikroorganisme permanen pada permukaan stratum korneum, dimana populasinya mewakili 20-70% dari mikroorganisme yang banyak ditemukan pada kondisi muka berjerawat. Pembentukan biofilm dari mikroorganisme ini merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan obat anti jerawat tidak efektif dalam bekerja. Strobilanthus crispus (keji beling) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi cukup tinggi dalam pengobatan tradisional, khususnya sebagai antibakteri. Penelitian ini akan menguji kemampuan ekstrak etanol daun keji beling sebagai antibakteri dan antibiofilm terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Ekstrak etanol daun keji beling di dapatkan dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Metode Difusi Sumuran dengan Diameter Hambat Pertumbuhan (DHP) sebagai parameter pengukuran digunakan sebagai metode pengujian untuk aktivitas antibakteri. Ekstrak etanol daun keji beling pada konsentrasi 50% memberikan DHP 7,21 ± 0,103 mm. Aktivitas antibiofilm diuji dengan menggunakan metode mikrodilusi pada rentang konsentrasi ekstrak 0,06 % - 30%. Hasil menunjukkan 1,88% ekstrak etanol daun keji beling telah mampu memberikan persentase penghambatan pembentukan biofilm sebesar 98,23 ± 0,230%, dimana hasil ini menunjukkan hasil yang tidak berbeda dengan klindamisin 10µg/100µL. Skrinning fitokimia yang dilakukan pada ekstrak etanol daun keji beling menunjukkan adanya flavonoid, alkaloid dan tanin, yang di duga menunjukkan potensi sebagai antibiofilm.
Sintesa Nanopartikel Senyawa Bioaktif Daun Pegagan (Centella asiatica) dan Uji Pengaruh Pemanasan dan Tekanan Terhadap Diameter dan Indeks Polidispersitasnya Horasdia Saragih
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i1.74982

Abstract

Senyawa bioaktif daun pegagan memiliki banyak manfaat. Senyawa ini memiliki sifat antioksidan, antimikroba dan antiinflamasi. Senyawa ini telah banyak digunakan untuk menyembuhkan beragam jenis penyakit. Oleh karena itu sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan obat-obatan. Namun sifatnya sangat hidrofobik dan mudah terdegradasi. Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan baru yaitu memperkecil ukuran partikelnya berorde nanometer, dapat dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mensintesa partikel senyawa bioaktif daun pegagan berukuran nanometer dan menguji pengaruh pemanasan dan tekanan terhadap diameter dan indeks polidispersitasnya. Senyawa bioaktif daun pegagan diekstrak menggunakan pelarut etanol. Nanopartikelnya disintesa menggunakan surfaktan tween 80. Pengaruh pemberian pemanasan dan tekanan terhadap diameter rata-rata dan indeks polidispersitasnya, diuji. Dari hasil yang diperoleh dengan menggunakan 6 ragam massa konsentrat hasil ekstrak: 4 mg, 5 mg, 6 mg, 7 mg, 8 mg, dan 9 mg yang masing-masing dilarutkan ke dalam 100 mL etanol, diameter rata-rata nanopartikelnya (dan indeks polidispersitas) masing-masing adalah 10,7 nm (0,266); 11,1 nm (0,240); 11,8 nm (0,395); 12,7 nm (0,086); 12,8 nm (0,299); dan 13,2 nm (0,464). Ketika nanopartikel ini dipanaskan pada temperatur 121oC dan tekanan 2 bar selama 15 menit, diameter rata-ratanya menjadi lebih besar: 11,0 nm; 11,3 nm; 12,4 nm; 12,9 nm; 13,5 nm; 14,1 nm; dan indeks polidispersitasnya menjadi lebih kecil: 0,196; 0,202; 0,242; 0,058; 0,274; dan 0,303. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin besar massa konsentrat yang digunakan, semakin besar diameter rata-rata nanopartikel yang dihasilkan. Pemberian pemanasan dan tekanan, memperbesar diameter rata-rata nanopartikel dan memperkecil indeks polidispersitasnya.
Nanoemulgel Formulation of Marjoram (Origanum majorana L.) Essential Oil with Potential as Anti-Inflammatory and Anti-Hyperuricemia Ungsari Rizki Eka Purwanto; Mighfar Syukur; Tris Harni Pebriani; Anissa Nursofiatun
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i2.78668

Abstract

The prevalence of hyperuricemia has increased in several countries, including Indonesia. Uric acid will continuously be deposited in the form of crystals in the joint cavity, which can cause inflammation. One natural ingredient potentially treating this problem is marjoram essential oil (Origanum majorana L.). Marjoram essential oil (MEO) contains various terpene compounds that have the potential to reduce pro-inflammatory mediators and uric acid levels. Terpene compounds are known to be able to be delivered through the skin, but their penetration levels are still very limited. The development of pharmaceutical preparations such as nanoemulgel is needed to enhance the penetration of the active components in marjoram essential oil. This research aimed to optimize the components that make up nanoemulgel, namely polysorbate 80 surfactants and PEG 400 co-surfactant, to produce a nanoemulgel preparation of marjoram essential oil with optimum physical characteristics and potential as an anti-inflammatory and anti-hyperuricemia in the rat. The optimum composition of Polysorbate 80 surfactant and PEG 400 co-surfactant is 9.958: 6.042. It resulted in the optimal formula for MEO 1% nanoemulsion, which had an average globule size of 22.94 nm with a polydispersity index of 0.65 and MEO 2% nanoemulsion: 142.4 nm with a polydispersity index of 0.91. MEO nanoemulsion could be dispersed into a gel base and become an MEO nanoemulgel, which has inhibitory power against xanthine oxidase, whereas 2% MEO nanoemulgel has an IC 50 of 25.30+2.57 ppm and has greater anti-inflammatory power than 1% MEO nanoemulgel. 
Formulasi Tea Tree Oil sebagai Pengawet dalam Masker Gel Peel-Off Ekstrak Etanol Beras Merah (Oryza rufipogon Griff.) Eka Wulansari; Agus Siswanto; Diniatik Diniatik
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i1.78349

Abstract

Bahan pengawet merupakan eksipien yang sangat dibutuhkan dalam sediaan cair seperti masker gel peel-off ekstrak etanol beras merah. Penggunaan paraben diyakini memiliki efek samping jangka panjang pada sistem endokrin dan reproduksi sehingga perlu dikembangkan pengawet alami seperti tea tree oil. Selain faktor kualitas sediaan, faktor harga produk juga seringkali menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli produk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi optimum bahan pengawet metil paraben, propil paraben, dan tea tree oil dalam sediaan masker gel peel-off ekstrak etanol beras merah. Metode optimasi simplex lattice design (SLD) digunakan untuk optimasi kombinasi pengawet metilparaben, propilparaben, dan tea tree oil dalam 8 run formula. Formula optimum ditentukan dengan parameter pH, daya sebar, waktu mengering, Angka Lempeng Total (ALT), Angka Kapang Khamir (AKK), dan biaya produksi. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi tea tree oil, metilparaben, dan propilparaben dapat menjaga stabilitas masker gel peel-off ekstrak etanol beras merah. Berdasarkan optimasi metode numerik diperoleh komposisi optimum pengawet dalam sediaan terdiri dari metilparaben 0,119%, propilparaben 0,151%, dan tea tree oil 0,13%.
Antibiofilm Activities of Bioactive Compounds of Local Edible Flowers in Indonesia: A Review Anwar Rovik; Laelatul Afifah; Nur Rokhmalia; Vania Uly Andyra; Richad Richad
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i2.84411

Abstract

Antimicrobial resistance is a growing global health problem. Biofilm formation is a notable risk factor for patient mortality. Various efforts are needed to prevent biofilm formation. Plants have been utilized in traditional medicine practices for centuries. In this review, we present an ethnobotanical study of the use of edible flowers in Indonesia and their potential development as antibiofilm agents. Local communities in Indonesia have long used various flowering plants for traditional ceremonial purposes, aesthetics, cooking ingredients, and medicine. Only a few types of flowers are utilized as food ingredients or edible flowers. There are 25 types of edible flowers from 19 families in Indonesia. Not all edible flowers in Indonesia have been studied for their antibiofilm activities. The presence of bioactive compounds, e.g., alkaloids, saponins, steroids, terpenoids, flavonoids, and phenolics in edible flowers, suggests that they may have the potential to inhibit biofilm formation. Local communities also use edible flowers in traditional medicine practices, including Hibiscus sabdariffa, Jasminum sambac, Caesalpinia pulcherrima, Punica granatum, Blumea balsamifera, and Lantana camara. The bioactive compounds showed antimicrobial activity against Gram-positive and Gram-negative bacteria, including Acinetobacter baumannii, Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Listeria spp., Streptococcus spp., Enterococcus faecalis, Salmonella typhi, Shigella dysenteriae, Escherichia coli, Klebsiella spp., Proteus spp., Porphyromonas gingivalis, and Treponema denticola. We also highlight the need for further research to explore more edible flowers and their specific effects of the compounds on biofilm formation.
Antimicrobial and Phytochemistry study of Liparis resupinata Ridl. from Mount Gumitir, East Java, Indonesia Fuad Bahrul Ulum; Dwi Setyati; Moh. Ikmal Alfi Rizqoni; Mukhamad Su&#039;udi
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 8, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v8i3.70856

Abstract

Liparis resupinata Ridl. is one of the abundant epiphytic orchids in the Mount Gumitir, Jember Regency with potency for phytopharmacy study. Our study focused on the observation of the species for their antimicrobial and metabolite profiles. This study used Gram-positive and Gram-negative bacteria, i.e., S. aureus, S. typhi, and E. coli with an agar diffusion method for antibacterial activity test. The metabolite profile was generated through GC-MS. The methanolic extract of the leaves of L. resupinata showed positive antibacterial activity. The GC-MS data analysis suggested the presence of antimicrobial substances e.g., (-)-loliolide, nonanoic acid, 1,2-ethanediamine, and hydroxy dimethyl furanone.
Overview of Indonesian Community Pharmacy: Understanding Practice Changes Vinci Mizranita; Thellie Ponto; Beulah Sipana
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i1.80498

Abstract

Community pharmacy practice in Indonesia has shifted to a patient-centered model, offering a range of services that include treatment advice, chronic disease management, and public health promotion. This shift benefits consumers who visit community pharmacies as their initial healthcare point. The Indonesian healthcare system, a mix of public and private providers, is governed by a decentralized structure, fostering significant investment in private healthcare despite access limitations due to financial capacity. Medicines distribution, managed by the District Health Office, ensures supply to primary healthcare facilities, with community pharmacies regulated by the Ministry of Health and the Indonesian National Food and Drug Agency. Despite stringent regulations mandating comprehensive services, most pharmacists are not remunerated for their services. Pharmacy staff, including formally qualified pharmacists and pharmacy technicians, are registered professionals, with recent trends indicating a shift towards employing pharmacy technicians to enable pharmacists to focus on clinical roles. Economic factors and innovative service delivery modes, such as telepharmacy and online purchasing, are expected to influence future practices, enhancing the pharmacist's role in chronic disease management and other health conditions. The evolving community pharmacy practice in Indonesia reflects broader changes in the healthcare system and professional roles, with continued progression anticipated.
Identifikasi Senyawa Aktif Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) sebagai Inhibitor Tirosinase Willy Tirza Eden; Clarissa Salshabila; Senda Kartika Rakainsa; Sri Mursiti
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i2.73653

Abstract

Produksi melanin yang berlebih dapat menimbulkan bercak-bercak gelap pada kulit yang disebut hiperpigmentasi. Salah satu penanganan hiperpigmentasi melalui penghambatan sintesis melanin dengan mekanisme penghambatan enzim tirosinase. Beberapa senyawa alami yang dapat bertindak sebagai inhibitor tirosinase diantaranya polifenol, turunan benzaldehyde, benzoate, dan steroid. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa eceng gondok memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, terpenoid dan steroid. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas inhibitor tirosinase dari bagian tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) melalui metode bioassay-guided isolation dan mengidentifikasi senyawa yang berperan sebagai inhibitor tirosinase melalui proses kromatografi. Hasil penelitian diperoleh aktivitas inhibitor tertinggi pada bagian daun eceng gondok dengan nilai persen inhibisi sebesar 23,75 ± 3,43% dan persen inhibisi tertinggi pada bagian fraksi etil asetat dari ekstrak daun eceng gondok dengan nilai sebesar 12,29 ± 4,16%. Ekstrak daun eceng gondok memiliki aktivitas inhibitor tirosinase tertinggi jika dibandingkan dengan ekstrak akar dan batang eceng gondok. Fraksi etil asetat dari ekstrak daun memiliki aktivitas lebih tinggi jika dibandingkan fraksi n-heksan dari ekstrak daun. Senyawa steroid dengan gugus fungsi –OH, C-O, –CH dan ikatan C=C yang terkandung dalam subfraksi etil asetat dari daun eceng gondok diduga merupakan senyawa yang berpotensi sebagai inhibitor tirosinase yang didukung dengan hasil positif terhadap penampak bercak Liebermann-Burchard dengan nilai Rf sebesar 0,54.