cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
putuayub.simpson@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
ISSN : 25487868     EISSN : 25487558     DOI : https://doi.org/10.46445/ejti
Core Subject : Religion,
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat menitikberatkan pada penyampaian informasi hasil penelitian, analisa konseptual dan kajian dalam bidang Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat oleh para sivitas akademika internal dan eksternal STT Simpson Ungaran dengan rasio 30:70. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari (Batas penerimaan naskah pada bulan Oktober) dan Juli (Batas penerimaan naskah pada bulan Mei). Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat telah terdaftar pada Google Schoolar, BASE (Bielefeld Academic Search Engine), One Search. ISSN 2548-7868 (cetak), 2548-7558 (online)
Arjuna Subject : -
Articles 205 Documents
Dewan Redaksi dan Daftar Isi Volume 3, Nomor 1, Januari 2019 I Putu Ayub Darmawan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 1 (2019): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.311 KB)

Abstract

Kepemimpinan Kristen Di Era Disrupsi Teknologi Daniel Ronda
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 1 (2019): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.527 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i1.125

Abstract

Daniel Ronda, Christian Leadership in the Era of Technology Disruption. The fast development of the technology cannot be avoided, but now these fast developments are facing disruption. However, These developments have both positive and negative impact. Related to Christianity, the disruption of technology needs to be addressed properly. Therefore, this article try to gives some direction to empower the Christian leaders in this era of technological disruption. The study of this article is using literatures to analyze the nature of technology disruption, then presents some conceptual framework for  the Christian leaders on how to deal with technological disruption. The author proposes several roles of Christian leaders that need to be carried out in the surprisingly fast changing era, such as a spiritual approach where The Word of God is a must to be a guidance to this era, an educational approach because in the era of technological disruption there is a big gap between innovation of technology and readiness of people to deal with, an integrity approach in using all kind of new technology that brought moral issues, a benefit approach in facing the diversity of technology benefits, and a humanistic approach is to relate personally with other people which is more important than any kind of relatonship in using technology. Daniel Ronda, Kepemimpinan Kristen Di Era Disrupsi Teknologi. Teknologi yang terus berkembang merupakan sebuah perkembangan yang tidak dapat dihindari, tetapi saat ini perkembangan tersebut menyebabkan terjadinya disrupsi. Perkembangan tersebut dapat berdampak secara positif maupun negatif. Dalam kaitannya dengan kekristenan, disrupsi teknologi perlu disikapi. Oleh sebab itu, artikel ini memberi arah untuk memberdayakan peran pemimpin Kristen di era disrupsi teknologi ini. Kajian yang digunakan dalam artikel ini adalah literatur yang menganalisis tentang disrupsi teknologi, kemudian mengemukakan sebuah kerangka konsep peran pemimpin Kristen di era disrupsi teknologi. Penulis mengusulkan beberapa peran pemimpin Kristen yang perlu dilakukan mengahadapi era yang berubah secara mengejutkan, antara lain: melakukan pendekatan spiritual di mana firman Tuhan adalah sebuah keharusan sebagai pedoman dan penuntun menghadapi era ini, melakukan pendekatan edukatif karena di era disrupsi teknologi ada kesenjangan antara inovasi dan kesiapan manusia untuk bersaing, melakukan pendekatan integritas dalam memanfaatkan teknologi, menggunakan pendekatan azas manfaat dalam meng-hadapi disrupsi teknologi, dan melakukan pendekatan yang humanistik.
Landasan Filsafat Antropologi-Teologis Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kristen Karnawati Karnawati; Priyantoro Widodo
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 1 (2019): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.853 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i1.127

Abstract

Karnawati & Priyantoro Widodo, Anthropological-Theological Philosophy in the Development of the Christian Education Curriculum. The basis for developing a Christian education curriculum is guided by God as the "center" of all knowledge. However, a philosophical foundation that looks at the human element according to the perspective of the Word of God is needed to analyze its usefulness. This paper aims to examine the foundation of anthropological philosophy based on the Word of God. This paper uses the literature study method by looking for sources from the Bible, books and journals. The results of this paper are, the anthropological philosophy of the development of a Christian education curriculum based on the Word of God contains concepts such as: humans as religious beings are God's creations and must have respect and obey God; humans as individual beings are unique and valuable in the sight of God; humans as moral beings do right and do good; and humans as social beings have solidarity and social responsibility. Thus this paper can add insight to the developers of the Christian education curriculum to be able to use the foundation of anthropological philosophy in accordance with the values of the Word of God. Karnawati & Priyantoro Widodo, Landasan Filsafat Antropologi-Teologis Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kristen. Dasar dalam pengembangan kurikulum pendidikan Kristen adalah berpedoman kepada Allah sebagai “pusat” dari segala pengetahuan. Namun demikian sebuah landasan filosofis yang melihat kepada unsur manusia menurut cara pandang Firman Tuhan diperlukan untuk dianalisa kemanfaatannya. Tulisan ini bertujuan mengkaji landasan filsafat antropologi yang berdasarkan Firman Tuhan. Tulisan ini menggunakan metode studi pustaka dengan mencari sumber dari Alkitab, buku-buku dan jurnal. Adapun hasil dari tulisan ini adalah, landasan filsafat antropologi pengembangan kurikulum pendidikan Kristen yang berdasarkan Firman Tuhan memuat konsep antara lain: manusia sebagai makhluk religi merupakan ciptaan Allah dan harus memiliki rasa hormat dan taat kepada Allah; manusia sebagai makhluk individu adalah unik dan bernilai dalam pandangan Allah; manusia sebagai makhluk susila melakukan hal benar dan berbuat baik; dan manusia sebagai  makhluk sosial memiliki solidaritas dan tanggungjawab bermasyarakat. Dengan demikian tulisan ini dapat menambah wawasan para pengembang kurikulum pendidikan Kristen untuk dapat menggunakan landasan filsafat antropologi yang sesuai dengan nilai-nilai Firman Tuhan.
Pola Hermenetik Sastra Hikmat Orang Ibrani Sonny Eli Zaluchu
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 1 (2019): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.923 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i1.123

Abstract

Sonny Eli Zaluchu, The Hermenetic Pattern of Hebrew Wisdom Literature. Hebrew Wisdom Literature is one of the most distinctive kinds of literature that can found in the Old Testament. Particular hermeneutic patterns are needed to interpret literary books. The writings of the wisdom literature of the Hebrew people are rich in various types of literary styles from being oral traditions to written forms and being part of the Old Testament canon. This paper aims to form a hermeneutic pattern in the form of defining literary categories, capturing the main ideas of the writer, seeing the text in context, and paying attention to the style of language. Studying these four patterns will help the interpreter elevate the meaning of the contents of the literature of Wisdom. Writing presented in a descriptive, analytical form. Sonny Eli Zaluchu, Pola Hermenetik Sastra Hikmat Orang Ibrani. Sastra Hikmat Orang Ibrani adalah salah satu sastra yang sangat khas yang dapat dijumpai di dalam Perjanjian Lama. Diperlukan pola hermenetik khusus untuk melakukan penafsiran terhadap kitab-kitab sastra tersebut. Hal tersebut diper-lukan karena tulisan sastra hikmat orang ibrani kaya dengan berbagai jenis gaya kesusasteraan sejak men-jadi tradisi oral hingga dalam bentuk tertulis dan menjadi bagian dari kanon Perjanjian Lama. Tulisan ini bertujuan merumuskan pola hermenetik berupa menentukan kategori sastra, menangkap gagasan utama penulis, melihat teks di dalam konteks, dan memperhatikan gaya bahasa. Mempelajari keempat pola ter-sebut akan menolong penafsir mengangkat makna dari isi kitab-kitab sastra Hikmat. Tulisan disajikan di dalam bentuk deskriptif analitis.
Konsep Teologi Injili Tentang Roh Orang Mati Decky Krisnando; Enggar Objantoro; I Putu Ayub Darmawan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 1 (2019): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.696 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i1.136

Abstract

Decky Krisnando, Enggar Objantoro, & I Putu Ayub Darmawan, The Consept of Evangelical Theology About the Spirit of Death People. This article is a library research which describe the evangelical theology about the spirit of death people.  To describe the theology, researcher make a research from the relevan books resources concerning the topic, in which it is analyzed in order that found the relation among them.  After that, the researcher make a conclusion systematically.  From the research, Evangelical theology about the spirit of death people is in the different dimension when he is life.  For the death, there are just two possibilities to go in the heaven or in the hell.  For the people who believe in God, he will go to the heaven, but the people who does not believe in God, he will go to the hell.  The existence in the heaven and the hell is everlasting.  The spirit which is in the heaven, will live together with God in eternity.  For the unbeliever, they will be punished in the hell forever.   Decky Krisnando, Enggar Objantoro, & I Putu Ayub Darmawan, Konsep Teologi Injili Tentang Roh Orang Mati. Artikel ini merupakan sebuah penelitian pustaka yang memaparkan tentang konsep teologi Injili tentang roh orang mati. Untuk memaparkan konsep tersebut, penulis mencari berbagai informasi dari sumber pustaka relevan terkait topik penelitian yang kemudian dianalisis sehingga dapat ditemukan keterkaitan dan peta konsepnya dan akhirnya merumuskan konsep penulis secara sistematis dan dipaparkan secara deskriptif.  Dari penelitian yang dilaksanakan, konsep teologi Injili tentang roh orang mati ada dalam dimensi yang berbeda dengan ketika ia ada di dunia ini.  Hanya ada dua kemungkinan bagi jiwa/roh orang mati yaitu masuk dalam sorga atau neraka.  Bagi orang yang percaya Kristus maka jiwa/rohnya akan masuk dalam sorga yang mulia.  Sebaliknya bagi orang yang tidak percaya Kristus, jiwa/rohnya akan masuk neraka.  Keberadaan di sorga dan neraka sifatnya kekal.  Jiwa/roh yang masuk sorga akan mengalami kemuliaan bersama dengan Allah kekal, selama-lamanya.  Begitu juga, jiwa/roh yang masuk neraka, akan mengalami penghukuman, yang tidak berkesudahan, selama-lamanya.
Penguatan Guru PAK Untuk Pendidikan Karakter: Melihat Kontribusi Seri Selamat Binsen Samuel Sidjabat
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 1 (2019): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.468 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i1.121

Abstract

Binsen S. Sidjabat, Penguatan Guru PAK Untuk Pendidikan Karakter: Melihat Kontribusi Seri Selamat. Artikel ini membahas kontribusi Seri Selamat karya Andar Ismail untuk meluaskan pemahaman guru PAK di sekolah terkait pendidikan karakter. Delapan belas tema karakter bangsa yang diajarkan perlu guru kepada siswa di sekolah dapat diterangi oleh beragam topik atau judul dalam Seri Selamat. Dengan mempelajari topik atau judul yang diangkat oleh tulisan ini dari studi Seri Selamat, diharapkan guru PAK yang mempelajari, akan memperoleh pemikiran yang menguatkan dan memperkaya pelak-sanaan tugasnya dalam pendidikan iman terintegrasi dengan pembentukan karakter siswa. Pembina warga jemaat di gereja pun dapat beroleh manfaat dari hasil studi ini. Binsen S. Sidjabat, Strengthening Teacher Christian Education for Character Education: Seeing Contributions Selamat Series. This article describes significance of Andar Ismail’s Selamat Series for teachers of Christian religious education in school context of Indonesia to develop character formation. There are eighteen aspects of national values that can be used by teachers as framework in helping students to learn Christian values and character. Selected chapters and writings from the Selamat Series can contribute the understanding of Christian teachers on the eighteen national values. Christian nurture in the church can also be benefitted by this research.
Gereja Dan Kemiskinan: Diskursus Peran Gereja Di Tengah Kemiskinan Fibry Jati Nugroho
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 1 (2019): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.788 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i1.128

Abstract

Fibry Jati Nugroho, Church and Poverty: Discourse on the Role of the Church in the Midst of Poverty. The problem of poverty is not only a local problem, but a problem that the world is struggling with. The Church as the Lord's mandate in the middle of the world, is required to play a role in helping the problem of poverty. How naturally does the church play a role in the midst of community poverty? By using descriptive analysis methods, and in conjunction with the thinking of Karl Marx, examine the role of the church in helping to overcome the problem of poverty. The church's calling should be to voice injustice and oppression of poor people's rights. The Church is present to side with the weak, the powerless, the poor, and the marginalized. If the church does not have partiality to the weak, then the presence of the church has no meaning. The church needs to continually offer its prophetic criticism indiscriminately against various abuses of power, the occurrence of injustice, the deprivation of public rights, and the oppressive and impoverishing system of humans. The spirituality and religiosity of the congregation must also come to a social piety, in which the spiritual energy possessed by the congregation is able to encourage concern for various problems in people's lives. Spirituality like this must be a concern of the church in building the life of the church. The cross must be understood as a reflection of the suffering and death of Christ, but at the same time must be able to open the eyes and ears of suffering, misery, and human hope for their dignity and human dignity. That's where the church plays a role. Fibry Jati Nugroho, Gereja dan Kemiskinan: Diskursus Peran Gereja di Tengah Kemiskinan. Permasalahan kemiskinan bukan hanya menjadi masalah lokal, namun menjadi masalah yang digumulkan oleh dunia. Gereja sebagai mandataris Tuhan di tengah dunia, dituntut untuk dapat berperan dalam membantu masalah kemiskinan. Bagaimanakah sewajarnya gereja berperan di tengah kemiskinan masyarakat? Dengan menggunakan metode deskriptif analisis, serta meminjam pemikiran Karl Marx, untuk menelisik peran gereja dalam membantu mengatasi permasalahan kemiskinan. Panggilan gereja yang seharusnya adalah untuk menyuarakan ketidakadilan dan penindasan hak-hak orang mis­kin.  Gereja hadir untuk berpihak kepada yang lemah, tidak ber­daya, miskin, dan yang terpinggirkan. Jika gereja tidak memiliki keperpihakan kepada yang lemah, maka kehadiran gereja tidak memiliki makna. Gereja perlu terus menerus menyu­ara­kan kritik profetisnya tanpa pandang bulu terhadap berbagai penyalah­gunaan kekuasaan, terjadinya ketidakadilan, terampasnya hak-hak masya­rakat, dan terhadap sistim yang menindas serta memiskinkan manusia. Spiritualitas dan religiusitas jemaat juga harus sampai kepada sebuah kesalehan sosial, di mana energi spiritual yang dimiliki jemaat mampu untuk mendorong kepeduliannya akan berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Spiritualitas seperti inilah yang harus menjadi perhatian gereja dalam membangun kehidupan jemaat. Salib harus dipahami sebagai refleksi atas penderitaan dan kematian Kristus, namun di saat yang sama pula harus mampu membuka mata dan telinga akan penderitaan, kesengsaraan, dan pengharapan manusia akan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Disitulah gereja berperan.
Indeks Subjek, Penulis, Mitra Bestari K Katarina
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.834 KB)

Abstract

Tema-Tema Theologis Khotbah Yesus Di Bukit Dalam Injil Matius 5:1-7:29 Yohanes Enci Patandean; Bambang Wiku Hermanto
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.728 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.140

Abstract

The Kingdom of God is the main teaching Jesus teached trough the Sermon on the mountain.  Jesus’ sermon on the mountain may called a basic teaching of Jesus.  All teachings, advices and answers from someone or people group afterward consist to His teachings in the sermon on the mountain.  The Christians are well known to the text of the sermon on the muntain but did not hold the teaching as a foundation in thinking dan deeds in daily life.  Jesus’ main teaching is transformation.  The listener in the ancient time or the reader today, who confess as a citizen of the Kingdom of God couraged ti live not only obey the law literally, but must have deepest acknowledgment about the law and live according to the new deepest sight about the law.  The transformation that become Jesus’ most important teaching are about transformation in personal life, social life, personal spirituality life and communal spirituality life. Kerajaan Allah adalah inti dari khotbah Tuhan Yesus yang disampaikan di atas bukit, atau yang lebih dikenal dengan Khotbah di Bukit.  Khotbah di Bukit dapat juga disebut sebagai inti atau dasar pengajaran Tuhan Yesus.  Semua pengajaran, nasihat dan jawaban yang diberikan atas pertanyaan orang-orang secara pribadi maupun kelompok orang, bersesuaian dengan pengajaran-Nya melalui Khotbah di Bukit.  Orang Kristen tidak asing dengan pengajaran dalam Khotbah di Bukit, tetapi belum semua orang Kristen menjadikan ajaran dalam Khotbah di Bukit sebagai dasar pijakan dalam hidup dan tindakan sehari-hari.  Inti dari jaran Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit adalah pembaruan.  Para pendengar dan pembaca masa kini, yang mengaku sebagai “warga Kerajaan Allah” didorong untuk hidup bukan saja berpatokan pada hukum yang tertulis; dalam hal ini Hukum Taurat, tetapi pada pemahaman yang lebih dalam dan mendasar atau hakiki dari hukum Tuhan tersebut.  Pembaruan yang menjadi tekanan Tuhan Yesus meliputi kehidupan pribadi, dalam kehidupan bersosial, kerohanian pribadi dan kerohanian komunal atau hidup keagamaan. 
Kepemimpinan Hamba Tuhan Menurut Matius 20:25-28 Hannas Hannas; Rinawaty Rinawaty
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.306 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.156

Abstract

Abstract: The leadership of God's servant raises a polemic because there are still those who think about God's servant being only servant and not being leader, however, in that opinion it is true. The researcher found a superior idea from Matthew 20:25-28 that placed God's servant not only as servant but also as leader. The method used in this research is the research developed by Walter C. Kaiser, Jr. in the book Towards Exegetical Theology: Biblical Exegesis for Teaching and Teaching, which addresses: contextual analysis, syntactic analysis, verbal analysis, theological analysis and homiletical analysis. The researchers, after observing the principle of exegesis presented by Kaiser, Jr., found that the text of Matthew 20: 25-28 could be discussed the themes of the leadership of God's servant who studied contextual and syntactical analysis providing support for the theme. Researchers also pay attention to verbal analysis, theological analysis and homiletical analysis, the results of which support the characteristics of God's servant leadership in Matthew 20:25-28, namely: communicative, assertive, gentle, humble, serving, willing to sacrifice.

Page 5 of 21 | Total Record : 205