cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
putuayub.simpson@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
ISSN : 25487868     EISSN : 25487558     DOI : https://doi.org/10.46445/ejti
Core Subject : Religion,
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat menitikberatkan pada penyampaian informasi hasil penelitian, analisa konseptual dan kajian dalam bidang Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat oleh para sivitas akademika internal dan eksternal STT Simpson Ungaran dengan rasio 30:70. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari (Batas penerimaan naskah pada bulan Oktober) dan Juli (Batas penerimaan naskah pada bulan Mei). Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat telah terdaftar pada Google Schoolar, BASE (Bielefeld Academic Search Engine), One Search. ISSN 2548-7868 (cetak), 2548-7558 (online)
Arjuna Subject : -
Articles 205 Documents
Implikasi Konteks Perempuan Yahudi dalam Penerapan Gereja Masa Kini Maria Shintia Kapojos; Randy Frank Rouw; Hengki Wijaya
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.959 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.142

Abstract

As people who had chosen by God, Israelites already have a concept about how to treat women in their culture. Laws in Jewish culture had organized the attitude that women must play to preserve life as God's chosen people. This article is wrote using descriptive methods. As a result, in Jewish culture, women’s role was down under men (inferior). However, besides their primary task in their family, as the progress is women join in worship and leadership. This age, women have the same opportunities to involved in it.Sebagai masyarakat yang dipilih Allah, bangsa Israel telah memiliki konsep tentang bagaimana memperlakukan perempuan dalam kebudayaannya. Peraturan-peraturan dalam kebudayaan Yahudi telah mengatur bagaimana sikap yang harus diperankan kaum perempuan dalam memelihara kehidupan sebagai umat pilihan Tuhan. Sebagai kesimpulan, dalam kebudayaan Yahudi, peran perempuan menjadi lebih di bawah dibandingkan pria (inferior). Meskipun demikian, selain tugas utamanya dalam kehidupan keluarga, dalam perkembangannya perempuan terlibat dalam peribadatan dan kepemimpinan. Saat inipun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat di dalamnya.
Budaya Betangkant Anak Dalam Suku Dayak Keninjal Sebagai Upaya Kontektualisasi Kasih Allah H Herwinasastra
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.607 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.147

Abstract

The purpose of this paper is to analyze a culture of Betangkant Children of the Keninjal Dayak tribe as an effort to contextualize the good news. The study of the meaning and cultural aspects of raising children in an effort to apply the gospel or good news in the context of the life of the Dayak Keninjal community. Through the culture of Betangkant Children in the Keninjal tribe, Madyaraya Village gives meaning and an entrance to evangelism for Dayak Keninjal to accept Jesus Christ as Savior in his life and figure of a Father who loves His Son. God created humans with creativity to be cultured, and with the framework of human culture looking at God and accepting God's self-revelation through filters and a framework that was intact in culture. Sustainability of God's covenant relationship with His people in all times and in all contexts. The culmination of this agreement is the Lord Jesus, who brought a new covenant to His people. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis sebuah budaya Betangkant Anak Dayak Keninjal sebagai upaya kontekstualisasi kabar baik. Pengkajian aspek arti dan nilai budaya mengangkat anak dalam upaya penerapan Injil atau kabar baik dalam kontek kehidupan masyarakat Dayak Keninjal. Melalui budaya Betangkant Anak di suku Keninjal, desa Madyaraya memberikan makna dan pintu masuk penginjilan bagi suka Dayak Keninjal untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dalam kehidupanya dan figure seorang Bapa yang mengasihi Anak-Nya. Allah menciptakan manusia dengan kreatifitas untuk berbudaya, dan dengan kerangka budaya manusia memandang Allah dan menerima penyataan diri Allah melalui filter dan kerangka yang utuh budaya. Keberlangsungan hubungan perjanjian Allah dengan umat-Nya di segala waktu dan segala konteks. Puncak dari perjanjian ini adalah Tuhan Yesus, yang membawa perjanjian baru bagi umat-Nya. 
Model Gaya Hidup Nazir Sebagai Refleksi Gaya Hidup Hedon Pengkotbah Pada Zaman Milenial Timotius Haryono; Daniel Fajar Panuntun
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.544 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.146

Abstract

Pada abad ke-21 ini, media baik media cetak maupun media elektronik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sumber ide dan opini secara global dipengaruhi oleh media. Hal ini berimbas kepada masalah gaya hidup (life style). Manfaat emosional dari gaya hidup yang lebih utama daripada manfaat fungsional terjadi pada kalangan konsumen masyarakat Indonesia. Gaya hidup ini juga berdampak pada kehidupan hamba Tuhan. Gaya hidup hamba Tuhan pada masa kini di tengah zaman milenial perlu di kaji ulang sehingga kehidupan hamba Tuhan dapat dijadikan teladan yang baik, benar, dan tepat oleh seluruh orang percaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  mengetahui  gaya hidup hamba Tuhan pada zaman milenal. Melalui  penelitian ini didapatkan model gaya hidup hamba Tuhan pada zaman milenial. Model gaya hidup tersebut dideskripsikan  berdasarkan prinsip, langkah-langkah, dan motivasinya. 
Sola Experientia: Suatu Analisis Terhadap Teologi Schleiermacher Marde Christian Stenly Mawikere
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.878 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.145

Abstract

This article is an overview of the theology of Friedrich Schleiermacher, known as the Father of Modern Theology. By using qualitative research methods on various available literature that review the life and theological thinking of Schleiermacher, the author tries to reveal that the unique thinking of FriedrichSchleiermacher's theology is strongly influenced by his spiritual background, parental influence, church origin and tradition, educational patterns and the thought of his theological education and zeit geist (the spirit of the times) who were carrying the current of modern thought when Schleiermacher lived. On the one hand, Schleiermacher's theology is often considered to be liberal in the theological paradigm of reform and evangelicalism because it departs from feeling, not from the spirit of Sola Scriptura. But on the other hand, Schleiermacher's theology makes a positive contribution because it gives a place to the experience of faith (Sola Experientia) with a living God who can not only be reached with philosophia or wisdom. Artikel ini merupakan Tinjauan terhadap Teologi dari Friedrich Schleiermacher, yang dikenal sebagai Bapak Teologi Moderen.Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif terhadap berbagai literatur yang telah tersedia yang mengulas mengenai kehidupan dan pemikiran teologi dari Schleiermacher, maka penulis mencoba untuk mengungkapkan bahwa keunikan pemikiran Teologi FriedrichSchleiermacher sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan rohaninya, pengaruh orangtua, asal dan tradisi gereja, pola pendidikan dan pemikiran pendidikan teologinya serta zeit geist (semangat zaman) yang sedang membawa arus pemikiran moderen pada waktu Schleiermacher hidup. Pada satu sisi, Teologi Schleiermacher kerap dianggap liberal dalam paradigma teologi reformasi dan evangelical karena ia berangkat darifeeling, bukan dari semangat Sola Scriptura.  Namun pada sisi lain, Teologi Schleiermacher memberikan kontribusi positif sebab memberikan tempat kepada pengalaman iman (Sola Experientia) dengan Allah yang hidup yang tidak hanya dapat dijangkau dengan philosophia atau wisdom.
Kelahiran Baru Di Dalam Kristus Sebagai Titik Awal Pendidikan Karakter Unggul David Eko Setiawan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.672 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.135

Abstract

David Eko Setiawan, Superior character education is a conscious and planned effort that aims to internalize moral values, character which materialized in the implementation of good attitudes and behavior. To achieve these goals, it is necessary to think of an important event that must occur in human life. The event is called new birth. New birth is a spiritual event that can only be done by God through the Holy Spirit to people who believe in the preaching of the gospel. When the event occurs, God will give him a new life. At that time the old nature will be replaced with a new nature so that believers could be able to express a new life. The correlation of the new birth with superior character education is through new birth individuals experience very significant changes. These changes touch aspects such as mind, feeling and will so that one can have superior qualities in him. This is the key to radical change in a person so that eventually he can have a superior characterDavid Eko Setiawan, Pendidikan karakter unggul adalah usaha sadar dan terencana yang bertujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai moral, akhlak sehingga terwujud dalam implementasi sikap dan perilaku yang baik.  Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu dipikirkan sebuah peristiwa terpenting yang harus terjadi dalam kehidupan manusia.  Peristiwa itu disebut kelahiran baru. Kelahiran baru merupakan peristiwa spiritual yang hanya dapat dikerjakan oleh Allah melalui Roh Kudus  kepada manusia yang percaya kepada pemberitaan Injil.  Ketika peristiwa tersebut terjadi, maka Allah akan memberikan kehidupan baru kepadanya.  Saat itu juga kodrat lama digantikan dengan kodrat yang baru sehingga orang percaya dapat dapat mengungkapkan hidup yang baru.  Korelasi kelahiran baru dengan pendidikan karakter unggul adalah melalui kelahiran baru individu mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan tersebut menyentuh aspek pikiran, perasaan dan kehendak sehingga seseorang dapat memiliki sifat-sifat unggul pada dirinya.  Ini  menjadi kunci perubahan yang radikal di dalam diri seseorang sehingga akhirnya dia dapat memiliki karakter unggul.
Karya Allah Pada Masa Intertestamen Yanto Paulus Hermanto
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5678.481 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.148

Abstract

From the word submitted by the prophet Malachi (432 BC) to the angel of God speaking to the priest Zechariah, his father John the Baptist, is estimated to be about 400 years. And over that long period of time, what really happened? Is God indeed dwelling? Or is God preparing for the coming of the Messiah? Or God is angry with His people, who continue to sin? These questions are certainly the mainstays of the theologians to do research. The author tries to collect data from previous studies of historical events, archeological results, and Biblical text. Thus it can be deduced a conclusion, what is actually happening in the grace period of 400 years. Research begins from the years before, during the intertestament and thereafter. The most likely to be studied is the history of Persian media, Greek (Hellenistic), Jews regain Jerusalem (Maccabees struggle) and the formation of the Roman empire. After doing research it turns out in history and events it is found that God plays an active role. The fulfillment of Daniel, Hosea and Malachi's prophecies occurred during the intertestament. Even supernatural things, which would not have been possible if God had not intervened, had occurred. This research will certainly convince all readers, that God is still working and in control in every age. Dari perkataan nubuat nabi Maleakhi (432 SM) hingga malaikat Tuhan berbicara kepada Imam Zakaria, bapaknya Yohanes pembaptis diperkirakan 400 tahun.Dan sepanjang periode waktu yang panjang tersebut, apakah yang terjadi?Apakah Allah berdiam diri? Atau apakah Ia sedang mempersiapkan kedatangan Mesias? Atau Allah marah terhadap umat-Nya yang terus hidup dalam dosa?Pertanyaan-pertanyaan ini yang seringkali menjadi perdebatan para teolog.Penulis mencoba mengumpulkan dari peristiwa-peristiwa sejarah yang telah diteliti sebelumnya, hasil-hasil arkelogi, dan teks Alkitab yang berkaitan. Kemudian dapat diambil suatu kesimpulan, apa yang sebenarnya trjadi dalam periode 400 tahun tersebut. Penelitian dimulai dari tahun-tahun sebelum, selama dan setelah masa intertesmen.Hal-hal yang dipelajari meliputi sejarah Media Persia, Yunani (Helenisasi), kembalinya orang Yahudi ke Yerusalem (pemberontakan Makabe) dan terbentuknya kerajaan Romawi.Setelah melakukan penelitian, maka diperoleh realitas bahwa Allah berperan secara aktif dalam masa tersebut.Penggenapan Nubuat dalam Daniel, Hosea dan Maleaki terjadi pada masa intertestemen.Bahkan hal-hal yang supranatural, yang tidak mungkin terjadi, jika bukan Allah yang mengintervensi hal-hal yang terjadi tersebut.Hasil penelitianini tentu menyakinkan para pembaca bahwa Allah masih dan sedang bekerja dan mengontrol dalam segala zaman.
Dewan Redaksi dan Daftar Isi Volume 3, Nomor 2, Juli 2019 K Katarina
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.416 KB)

Abstract

Jadikanlah Murid: Tugas Pemuridan Gereja Menurut Matius 28:18-20 I Putu Ayub Darmawan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.62 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.138

Abstract

Merajut Kembali Komunitas Damai: Studi Landasan Biblis Dan Teologis Resolusi Konflik Agus Supratikno
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.017 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v3i2.161

Abstract

 "REINFORCING PEACEFUL COMMUNITIES": The Study of Biblical and Theological Foundations for Conflict Resolution. Studi  Landasan Biblis dan Teologis Untuk Membangun Komunitas Damai. Plurality which is considered as a nation's wealth, it also turns out to be the cause of the emergence of conflicts with nuances of ethnicity, race and religion. Unfortunately political elites often politicize issues based on ethnic and religious sentiments to gain power. They did not consider the serious effects that were caused as a result of the politicization of ethnic and religious issues. Horizontal conflicts with nuances of religion and ethnicity that have occurred in various regions in Indonesia, such as in Ambon, Poso, Kalimatan, are more often triggered by the politicization of religious and ethnic issues or initially the conflict is not caused by ethnic or religious problems, but often the conflict brought to the realm of religion so as to make the conflict increasingly enlarged and inevitable. This writing is an effort to explore the biblical and theological foundation for an effort to build a peaceful community post the conflict. This study uses hermeneutic studies and the library research methods by utilizing library resources both books and journals related to conflict resolution.  MERAJUT KEMBALI KOMUNITAS DAMAI”: Studi  Landasan Biblis dan Teologis untuk Resolusi Konflik. Pluralitas yang dianggap sebagai suatu kekayaan bangsa, ternyata juga bisa menjadi penyebab munculnya konflik bernuansa suku, ras dan agama. Sayangnya para elite politik justru sering mempolitisasi isu-isu berdasarkan sentimen suku dan agama untuk meraih kekuasaan. Mereka  tidak mempertimbangkan dampak serius yang ditimbulkan sebagai akibat politisasi isu suku dan agama. Konflik-konflik horizontal bernuansa agama dan suku yang pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Ambon, Poso, Kalimatan, lebih sering dipicu oleh adanya politisasi terhadap isu agama dan suku. Pada awalnya konflik tersebut bukanlah disebabkan oleh masalah agama, tetapi seringkali konflik tersebut dibawa ke ranah agama sehingga menjadikan konflik semakin membesar dan tak terelakkan.Tulisan ini adalah sebuah upaya menggali landasan biblis dan teologis bagi suatu upaya merajut kembali komunitas damai pasca konflik.  Penelitian ini menggunakan metode perpaduan antara studi hermeneutik dan literatur dengan memanfaatkan sumber-sumber pustaka baik buku maupun jurnal yang berkaitan dengan topik yang dibahas.  
Penciptaan Ruang Keempat Sebagai Basis Pembinaan Warga Gereja Pribumi Dalam Menggereja Di Jawa Akris Mujiyono; Fibry Jati Nugroho
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 1 (2020): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/ejti.v4i1.173

Abstract

The true Church must run of vocation as peacemakers. Peacemaker could do if the Church has become part of the context. If the Church were exiled by the context, it means that there are issues that must be resolved within the Church. Northen Central Java Christian Church (GKJTU), and the same with other churches on the Javanese, experienced alienation from the context. That alienation because there is the question of the identity of a Hybrid Church. To cope with it all the citizens of the Church must be built to move nearing the Javanese culture with the formation of the fourth space as its base. This fourth space is a space to interact back with the Christianity of Javanese culture that's been left behind. The fourth space is the place for contextualize. The formation of this fourth space should be seen from the poskolonial theory is Homi k. Bhabha about third space.  Gereja yang hidup dan benar harus menjalankan panggilannya sebagai pembawa damai. Pembawa damai bisa dilakukan jika Gereja telah menjadi bagian dari konteks. Jika gereja diasingkan oleh konteks itu artinya ada persoalan yang harus diselesaikan di dalam gereja itu. Gereja Kristen Jawa tengah utara (GKJTU), dan sama dengan Gereja lain di Jawa, mengalami keterasingan dari konteks. Keterasingan itu karena ada persoalan identitas Hybrid gereja. Untuk mengatasi hal itu semua warga gereja harus dibina untuk bergerak mendekati budaya Jawa dengan pembentukan ruang keempat sebagai basisnya. Ruang keempat ini adalah ruang untuk berinteraksi kembali kekristenan dengan budaya Jawa yang sudah ditinggalkannya. Pembentukan ruang keempat ini harus dilihat dari teori poskolonial Homi K. Bhabha.

Page 6 of 21 | Total Record : 205