cover
Contact Name
Trias Mahmudiono, SKM., MPH (Nutr), GCAS., PhD
Contact Email
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Amerta Nutrition
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 25801163     EISSN : 25809776     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Amerta Nutrition (p-ISSN:2580-1163; e-ISSN: 2580-9776) is a peer reviewed open access scientific journal published by Universitas Airlangga. The scope for Amerta Nutrition include: public health nutrition, community nutrition, clinical nutrition, dietetics, food science and food service management. Each volume of Amerta Nutrition is counted in each calendar year that consist of 4 issues. Amerta Nutrition is published four times per year every March, June, September, and December.
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Hubungan Bentuk, Rasa Makanan, dan Cara Penyajian dengan Sisa Makanan Selingan Pada Pasien Anak di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan Surabaya Rizka Fikriana Kartini; Suzanna Primadona
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.724 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i3.2018.212-218

Abstract

Background: Several hospital in Indonesia are found to have more than 20% food leftover. It influences patient’s treatment duration as well as increases the costs. Food leftover or plate waste might be caused by food presentations and taste.Objectives: To analyze the relationship between the form, serving method, taste, and the plate waste of snacks among pediatric patients in Dr. Ramelan Naval Hospital Surabaya.Method: This was a cross sectional research. The samples were 34 respondents aged 2-12 years old, having inpatient treatments in class II and III. The primary data collection were taken by interview and observation using questionnaires about plate waste of snacks in which Comstock method. The statistical test used was chi square test to determine the relationship between the form, serving method, taste, and the plate waste of snacks. Result: The average of respondents plate waste based on the form were 26.38%, serving method were 32.95%, and taste as very appropriate were 6.25%. The form (p=0.046), serving method (p=0.026) and taste (p=0.003) was significantly related to the plate waste of snacks.Conclusion: The form, serving method and taste of snacks were correlated to the plate waste among pediatric patients at The Dr. Ramelan Naval Hospital Surabaya.ABSTRAKLatar Belakang: Sisa makanan dalam kategori banyak (>20%) masih ditemukan dalam beberapa rumah sakit di Indonesia. Hal tersebut dapat berdampak pada lamanya masa perawatan di rumah sakit dan peningkatan biaya perawatan yang dikeluarkan oleh pasien. Faktor penampilan dan rasa makanan dapat mempengaruhi terjadinya sisa makanan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara bentuk, metode penyajian, pengecapan, dan sisa makanan camilan di antara pasien pediatrik di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan Surabaya.Metode: Peneltian ini menggunakan desain studi observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Besar sampel penelitian adalah 34 responden. Pasien anak usia 2-12 tahu yang sedang dirawat di ruang rawat inap kelas II dan III menjadi sampel penelitian ini. Wawancara dan observasi menggunakan kuesioner yang meliputi karakteristik responden, sisa makanan selingan dengan metode Comstock digunakan untuk mengumpulkan data primer. Uji statistik menggunakan uji Chi square untuk mengetahui apakah ada hubungan antara bentuk makanan, cara penyajian, dan rasa makanan dengan sisa makanan selingan. Hasil: Rata-rata sisa makanan selingan pada responden yang menyatakan bentuk makanan sangat sesuai sebesar 26,38%, cara penyajian sangat sesuai sebesar 32,95%, dan rasa makanan sangat sesuai sebesar 6,25%. Bentuk makanan (p=0,046), cara penyajian (p=0,026), dan rasa makanan (p=0,003) memiliki hubungan yang signifikan dengan sisa makanan selingan. Kesimpulan: Bentuk makanan, cara penyajian, dan rasa makanan berhubungan dengan sisa makanan selingan pada pasien anak.
Back Matter Vol 1 No 3 Back Matter Vol 1 No 3
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.259 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.%p

Abstract

Hubungan Teknik, Frekuensi, Durasi Menyusui dan Asupan Energi dengan Berat Badan Bayi Usia 1-6 Bulan di Puskesmas Tasikmadu Kabupaten Karanganyar Dewi Kartika Sari; Didik Gunawan Tamtomo; Sapja Anantayu
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 1 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.412 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i1.2017.1-13

Abstract

Background: Weight is the first indicator for baby’s growth value. Eforts to increasing the baby’s weight is maximise the nutrients and mother’s milk as the primmary food for baby on 1-6 months. Objective: This research was conducedt to analyze relation factors with giving mother’s milk and the view of weight accomplishment. This factors such as technique, frequency, sucking duration and the intake of energy with baby’s weight on 1-6 months.Methods: Design in this reserach is cohort prostective to follwoing  the baby’s weight as long as 4 months. Sample in this research are baby’s mother on 1-6 months which was taken by purpossive sampling in the beginning of this research are 60 respondent and fall 14 respondent, 46 respondent were been analyze. Data analyze was obtained with chi square and multivariate with multiple logistic of regression test.Results: This research showed that  has relation betweeen breasfeeding technique with baby’s weight by p-value=0.003, there is relation between breasfeeding frequency with baby’s weight by p-value=0.018, there is relation between breasfeeding duration with baby’s weight by p-value=0,001, there is relation between the intake of energy with baby’s weight by p-value<0.001. The intake of energy has impact of the multivariate analyze from independent variable by exp (B) 38.822 it has means risk to 38.822 times will increasing weight if mothers’s intake energy is good.Conclusion: There are relation between technique, frequency, sucked  duration and the intake of the energy with baby’s weight on 1-6 months.ABSTRAKLatar Belakang: Berat badan merupakan indicator pertama dalam menilai pertumbuhan bayi. Upaya untuk meningkatkan berat badan bayi diperlukan gizi yang maksimal dan ASI merupakan makanan utama bagi bayi terutama pada usia 1-6 bulan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengnalisis faktor yang berkaitan dengan pemberian ASI dan dilihat pencapaian berat badan. Faktor yang dimaksud meliputi teknik, frekuensi, durasi menyusui dan asupan enegi dengan berat badan bayi usia 1-6 bulan.Metode: Desain dalam penelitian ini adalah kohort prostektif karena mengikuti berat badan bayi selama 4 bulan.  Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 1-6 bulan yang diambil secara purposive sampling pada titik awal penelitian berjumlah 60 responden dan dropout sebayak 14 responden sehingga yang dapat dianalisis sebesar 46 responden.  Analisis data secara bivariat dilakukan dengan chi square dan multivariate dengan uji regresi logistic ganda.Hasil: Dari hasil penelitian menunjukan hasil adanya hubungan antara teknik menyusui dan berat badan bayi dengan p value 0,003, ada hubungan antara frekuensi menyusui dengan berat badan bayi dengan p value 0,018 ada hubungan durasi menyusui dengan berat badan bayi dengan p value 0,001dan ada hubungan antara asupan energi dengan berat badan bayi dengan p value 0,000. Dari analisis multivariate dari keempat variabel bebas, asupan energi merupakan yang paling berpengaruh diantara variabel lainya dengan exp (B) sebesar 38,822 yang berarti jikaasupan energi ibu menyusui baik maka beresiko 38,822  kali mengalami kenaikan berat badan.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara teknik, frekuensi, durasi menyusui dan asupan energi ibu dengan berat badan bayi usia 1-6 bulan.
Hubungan ASI Eksklusif dengan Kejadian Underweight di Jawa Timur Tahun 2016 Mahmudah Wati Sugito; Agus Sri Wardoyo; Trias Mahmudiono
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.586 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.180-188

Abstract

Background: Underweight is a public health problem caused by many factors. The prevalence of underweight in East Java in 2016 was 17.3%, wich was higher than the program’s targetted (12.9%). Breast milk is the best food to support the growth and development of the baby. Coverage of Exclusive Breast Milk in East Java in 2015 decreased (68.8%), compared to 2014 (72.89%). Early supplementary feeding in infants under 6 months may affect nutritional status. Objectives: The purpose of this study was to analyze the relationship of Exclusive Breast milk with the incidence of underweight in infants aged 0-23 months in East Java Province in 2016. Method: This study is a secondary data analysis of Nutrition Status Monitoring in East Java Province. The study population was all babies in East Java. Total sample is 4738. The data were analyzed using Chi-square test and Logistic Regression, with 95% CI (α = 0.05). Results: The results showed there was a significant relationship between exclusive breastfeeding only from birth until before the last 24 hours in infants aged 0-23 months with the incidence of underweight, with (p=0.000010;OR=1.654;95%CI=1.319–2.052), there was a significant  relationship of first to provide a food other than breast milk in infants aged 0-23 months  with the occurrence of underweight, (p = 0.000;OR=0.272; 95%CI=0.217–0.341).Conclusion: In conclusion, breastfeeding only in infants from birth until before the last 24 hours and first provide food other than breast milk in infants aged 0-23 months associated with underweight. Because breast milk is sufficient nutritional needs of infants aged 0-6 months.ABSTRAK Latar Belakang: Masalah gizi kurang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh banyak faktor. Prevalensi underweight di Jawa Timur tahun 2016 sebesar 17,3%, lebih tinggi dari target program Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sebesar 12,9%. ASI merupakan makanan terbaik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Cakupan ASI Eksklusif di Jawa Timur tahun 2015 menurun (68,8%), dibandingkan tahun 2014 (72,89%). Pemberian makanan pendamping ASI dini pada bayi di bawah 6 bulan dapat mempengaruhi status gizi. Tajuan: Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan ASI Ekslusif dengan kejadian underweight pada bayi usia 0-23 bulan di Provinsi Jawa Timur tahun 2016.Metode: Penelitian ini merupakan analisis data sekunder survei Pemantauan Status Gizi Provinsi Jawa Timur. Populasi penelitian adalah semua bayi berusia 0-59 bulan yang ada di Jawa Timur. Total sampel sebanyak 4738 bayi.  Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square dan Regresi Logistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pemberian ASI saja sejak lahir sampai sebelum 24 jam terakhir pada bayi usia 0-23 bulan dengan kejadian underweight (p=0,000010;OR=1,654;95%CI=1,319–2,052), ada hubungan pertama kali memberikan makanan selain ASI pada bayi usia 0-23 bulan dengan kejadian underweight,  (p = 0,000;OR=0,272; 95%CI=0,217–0,341).Kesimpulan: Simpulan yaitu pemberian ASI saja pada bayi sejak lahir sampai sebelum 24 jam terakhir dan pertama kali memberikan makanan selain ASI pada bayi usia 0-23 bulan berhubungan dengan kejadian underweight. Pemberian ASI saja sudah mencukupi kebutuhan nutrisi bayi usia 0-6 bulan.
Pengaruh Substitusi Bekatul (Rice Bran) dan Bengkuang (Pachyrhizus erosus) Terhadap Kadar Energi, Kadar Serat dan Daya Terima Pada Mini Pao Claudia Ni Luh Merry Marzeline; Annis Catur Adi
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.152 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.282-290

Abstract

Background: People with diabetes mellitus need low calorie dan high fiber snack to support their nutritional requirement and to control blood glucose levels. The examples of low calorie and high fiber foods are yam bean and rice bran.  Fiber slow down the glucose absorption process that will inderictly increase the viscosity of intestinal and decrease the speed of diffusion of the small intestines, so it can lead to a decrease in blood glucose levels slowly.Objectives: The addition of rice bran, yam bean essence and yam bean flour are expected to improve the fibers and low calories. The purpose of this research was to determine the acceptability and fiber and calories contents on mini steam bun.Methods: This research was experimental research with complete random design (CRD) and there are 4 treatments, one control formula (F0) and 3 modification formulas (F1, F2, F3) that are tested to 30 panelists. Calories and fiber content was calculated using Indonesian Food Composition Database and also analyzed in laboratory. The difference of acceptability was analyze using Friedman test and continued with Wilcoxon Sign Rank Test if it shows a significant difference.Results: The result showed that F2, yam bean flour substitution had the highest acceptability with the average score was 3.93 while the formula with the lowest score is F3 with a score of 3.33 . Calories content on F2 was 60.48 cal, and fiber content 3.64 grams per 25 grams mini steam bun. Conclusion: Mini steam bun with substitution 50 g of yam bean flour and 5 g of yam bean essence has a good acceptability with low calories and high fibers content than commercial mini steam bun and has a potential to be an alternative snacks for prediabetes and diabetes patientsABSTRAKLatar Belakang: Penderita diabetes mellitus membutuhkan makanan selingan yang rendah kalori dan tinggi serat untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi dan mengontrol kadar gula darah. Contoh bahan makanan rendah kalori dan tinggi serat adalah bengkuang dan bekatul. Serat dapat memperlambat proses penyerapan glukosa yang secara tidak langsung akan meningkatkan kekentalan isi usus serta dapat menurunkan kecepatan difusi permukosa usus halus sehingga dapat mengakibatkan penurunan kadar glukosa darah secara perlahan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima dan kandungan serat serta energi mini pao dengan substitusi tepung bengkuang, sari bengkuang dan bekatul.Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan rancangan acak lengkap dan terdapat 4 formula, 1 formula kontrol (F0) dan 3 formula modifikasi (F1,F2,F3) yang diujikan kepada 30 panelis. Perbedaan daya terima diketahui dengan uji Friedman dan dilanjutkan uji Wilcoxon Signed Rank Test jika diperoleh perbedaan yang signifikan. Kadar energi dan serat diperoleh melalui perhitungan DKBM dan uji laboratorium.Hasil: Berdasarkan hasil uji organoleptik, formula mini pao F2 substitusi tepung bengkuang memiliki daya terima tertinggi dengan nilai rata-rata 3,93 sedangkan formula yang memiliki nilai terendah adalah F3 dengan nilai 3,33. Kadar energi mini pao F2 sebesar 60,48 kalori dan kandungan serat sebesar 3,64 gram per 25 gram mini pao.Kesimpulan: Mini pao dengan substitusi tepung bengkuang 50 g dan sari bengkuang 5 g memiliki daya terima yang baik dengan kandungan energi yang rendah dan serat lebih tinggi dibandingkan mini pao komersial dan layak dijadikan alternatif makanan selingan bagi penderita pre diabetes maupun penderita diabetes mellitus. 
Hubungan Ketahanan Pangan dan Karakteristik Keluarga dengan Status Gizi Balita Usia 2 – 5 Tahun (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Wonokusumo Kota Surabaya) Devi Eka Jayarni; Sri Sumarmi
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.573 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i1.2018.44-51

Abstract

Background: Households experiencing food insecurity in Indonesia is 30%, while vulnerable to food is 11%. Food insecurity is related to nutrional status. Based on Riskesdas Indonesia data in 2007 the prevalence of underfive children less than 19.6%, decreased to 18.4% in 2010, but increased to 19.6% in 2013.Objective: The purpose of this study was to analyze relationship between food security, family characteristics with nutritional status of children aged 2-5 years old at area Puskesmas Wonokusumo Kota Surabaya.Methods: This study was an observasional analytic using cross sectional design. Sample size of 97 from 4101 of underfive children used Lemeshow with simple random sampling method. Collecting data used US-HFSSM questionnary for examine household food security, weight- age index for measuring nutritional status of children. Statistical analysis test used Spearman correlate test and chi square test.Results:Most of mother graduated from primary school by 38.1%, mostly mothers doesn’t work by 85.6%, most of parents income are below average amount IDR 2,363,092 by 53.6%, as well as spending on food consumption expenditure amount IDR 1,724,943 by 7.3%, while mostly household have food insecurity by 54.9%. However, there is relationship between parents incomes (p=0.006) and household food security (p=0.045) with nutritional status of children under five years old.Conclusion: The higher household income the higher food expenditure. Household’s food insecurity is mostly below average expenditure.ABSTRAKLatar Belakang : Rumah tangga yang mengalami rawan pangan di Indonesia sebesar 30%, sedangkan sangat rawan sebesar 11%.Ketahanan pangan erat kaitannya dengan masalah gizi. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007 prevalensi balita mengalami gizi kurang di Indonesia sebesar 19,6%, menurun menjadi 18,4% tahun 2010, namun meningkat menjadi 19,6% tahun 2013.Tujuan : Tujuan pada penelitian ini untuk menganalisis hubungan ketahanan pangan dan karakteristik keluarga dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Wonokusumo Kota Surabaya.Metode : Jenis penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan studi desain cross sectional. Besar sampel 97 dari 4101 balita menggunakan rumus Lemeshow dengan metode simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuisioner US – HFSSM untuk mengukur status ketahanan pangan rumah tangga, indeks BB/U digunakan untuk menilai status gizi balita. Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi spearman dan uji chi-square.Hasil : sebagian besar ibu balita pendidikan terakhir tamat SD/ sederajat sebesar 38,1%, sebagian besar ibu balita tidak bekerja sebesar 85,6%, pendapatan keluarga sebagian besar kurang dari rata –rata Rp 2.363.092 sebesar 53,6%, sebagian besar pengeluaran rumah tangga kurang dari rata – rata Rp 1.724.943 sebesar 75,3%, sebagian besar rumah tangga rawan pangan derajat kelaparan sedang sebesar 54,9%, Terdapat hubungan antara pendapatan keluarga (p=0,006) dan ketahanan pangan rumah tangga (p=0,045) dengan status gizi balita.Kesimpulan : tingginya pendapatan rumah tangga maka mempengaruhi pengeluaran untuk pangan. Rumah tangga rawan pangan sebagian besar penegeluaran untuk pangan dibawah rata – rata. 
Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Pola Pemberian Makan dengan Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Gapura Kabupaten Sumenep Milda Riski Nirmala Sari; Leersia Yusi Ratnawati
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 2 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.607 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i2.2018.182-188

Abstract

Background: Childhood is often declared as a critical time for brain to grow and develop optimally which are influenced by parenting methods, one of them is feeding method as a portal of entry to fulfil all nutrient needs. However, a poor feeding method can affect toddlers’ nutritional status sometimes. Objectives: The purpose of this research is to analyze the relation between mothers’ konowledge about feeding method towards toddlers’ nutritional status.Methode: This is an observational study using a cross sectional design, conducted in the working area of Puskesmas Gapura Kabupaten Sumenep. The amount of the samples are 30 toddlers with age range between 24 to 60 months along with their family, chosen randomly among 2.124 recorded toddlers under Puskesmas Gapura’s working area. Mothers’ knowledge about feeding method as the primary data source is obtained through interview with the toddlers’ parents or family. Data are analyzed using Chi-square statistical test.Results: The result states that there is a relation between mothers’ knowledge of feeding method and nutritional status of the toddlers (p < 0,05).Conclusion: Advice given is to improve mothers’ knowledge of feeding method for their toddlers through counseling held by the health providers.ABSTRAKLatar Belakang: Masa balita sering dinyatakan sebagai masa kritis untuk optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan otak yang sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, salah satunya dalam pola pemberian makan sebagai pintu masuk pemenuhan berbagai kebutuhan unsur zat gizi. Akan tetapi, ada kalanya pola pemberian makan yang kurang baik dapat mempengaruhi status gizi balita tersebut.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu mengenai pola pemberian makan terhadap status gizi balita.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Gapura Kabupaten Sumenep. Besar sampel sebanyak 30 balita dengan rentang umur 24-60 bulan beserta keluarganya, yang dipilih secara acak dari jumlah keseluruhan 2.124 balita tercatat di posyandu wilayah kerja Puskesmas Gapura. Pengetahuan ibu mengenai pola pemberian makan sebagai sumber data primer diperoleh melalui wawancara dengan orang tua atau keluarga balita. Data dianalisis menggunakan uji statistik Chi-square.Hasil: Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan pola pemberian makan dengan status gizi balita (p < 0,05).Kesimpulan: Saran yang diberikan yaitu dengan meningkatkan pengetahuan ibu tentang pola pemberian makan pada balita melalui penyuluhan yang dilakukan oleh petugas kesehatan pada saat posyandu.
Hubungan antara Pengetahuan dan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif di Desa Kedungrejo Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo Diah Ayu Pitaloka; Rumaidhil Abrory; Ayu Deni Pramita
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.075 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i3.2018.265-270

Abstract

Background:Exclusive breastfeeding is a breastfeeding exclusively without any food or other additional beverages starting from newborns to 6 months old baby. Data from Indonesia Health Profile of 2014 states that infants receiving Exclusive Breast Milk in Indonesia only reach 41.67%. Objectives: To analyze the relationship between maternal knowledge, education, and exclusive breastfeeding among mothers in the village of Kedung Rejo, Waru Sub-district, Sidoarjo District.Methods: This research was descriptive analytic study using cross sectional design. The population of this study was mothers who has infants aged 6-12 months in Kedungrejo Village Waru Sub-district Sidoarjo District. Sample was selected using simple random sampling technique involving 31 people. Data analysis was tested using Fisher's exact test.Results:The results showed that the prevalence of exclusive breastfeeding in Kedungrejo Village, Waru Sub-district was 29%. The results of tests using Fisher's Exact showed that mother's knowledge and education were not related to exclusive breastfeeding in infants aged 6-12 months.Conclusion: There was no significant association between maternal knowledge, education and exclusive breastfeeding practices among mothers.ABSTRAKLatar Belakang:ASI Eksklusif adalah memberi Air Susu Ibu secara Ekslusif tanpa ada makanan atau minuman tambahan lainnya yang mulai dilakukan saat bayi baru lahir sampai bayi berumur 6 bulan. Data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014 menyatakan bahwa bayi yang menerima ASI Eksklusif di Indonesia hanya sebesar 41,67%.Tujuan: Mengetahui pengetahuan ibu dan pendidikan ibu hubungannya dengan pemberian ASI Eksklusif di desa Kedung rejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian ini merupakan ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan di Desa Kedungrejo Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo  yang dipilih secara simple random sampling  sebanyak  31 orang. Data kemudian dikumpulkan dan diuji dengan menggunakan uji Fisher’s Excact.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa prevalensi pemberian ASI Ekslusif di Desa Kedungrejo Kecamatan Waru Kabupaten  yaitu hanya 29%. Hasil uji dengan menggunakan Fisher’s Exact menunjukkan bahwa pengetahuan dan pendidikan ibu tidak berhubungan terhadap pemberian ASI Ekslusif pada bayi usia 6-12 bulan.Kesimpulan:Tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu, pendidikan dan praktik pemberian ASI eksklusif di kalangan ibu. 
Perbedaan Kadar Zinc Rambut pada Anak Stunting dan Non Stunting Usia 12-24 Bulan di Kelurahan Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya Brigita Rainy Oktiva; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.879 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.133-142

Abstract

  Background: Stunted is still a health problem in Indonesia. The prevalence of stunted in Surabaya has continued to increase for 3 years, while the prevalence of stunted in Tambak Wedi Kenjeran in 2017 shows high percentage (43.8%). Stunted are associated with zinc levels of the body due to zinc as a role in synthesis of growth hormone. Measurement of zinc levels can be done through the hair in describing chronic stunted incident. Measurement of zinc levels through the hair is easier to implement than other measurements of zinc levels, such as blood serum.Objectives: The purpose of this study was to analyze the difference of hair zinc level in children of stunted and non stunted age 12-24 months in Tambak Wedi village, Kenjeran district, Surabaya. Methods: This research was an observational analytic with cross sectional design. The population of this study were all children aged 12-24 months in Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya in the amount of 267 children. The samples of this study were 36 children that divided into 18 children stunted and 18 children non-stunted, taken by simple random sampling. Data were collected by measuring height, questionnaire interview, food recall 2x24 hour, and hair zinc level measurement using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Data were analyzed using Mann-Whitney Test to find the difference in two variables with data not distributed normally. Results: The results of this study showed no differences of hair zinc levels in stunted and non stunted children (p = 0.517). Conclusion: Hair zinc levels in stunted and non stunted children aged 12-24 months in Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya showed no differences. Required continue research by measuring the body's zinc levels simultaneously through blood serum and hair to get more accurate results. ABSTRAK Latar Belakang: Permasalahan stunting masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia. Prevalensi stunting di Surabaya terus mengalami peningkatan selama 3 tahun, sedangkan di Kelurahan Tambak Wedi Kenjeran prevalensi stunting pada tahun 2017 masih sangat tinggi (43,8%). Kejadian stunting berkaitan dengan kadar zinc tubuh dikarenakan zinc berperan dalam sintesis hormon pertumbuhan. Pengukuran kadar zinc dapat dilakukan melalui rambut dalam menggambarkan kejadian stunting secara kronis. Pengukuran kadar zinc melalui rambut lebih mudah dilaksanakan dibandingkan pengukuran kadar zinc lainnya karena pengukuran kadar zinc rambut lebih sensitif dan stabil.Tujuan: Mengetahui perbedaan kadar zinc rambut pada balita stunting dan non stunting usia 12-24 bulan di Kelurahan Tambak Wedi Kecamatan Kenjeran Surabaya.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh balita berusia 12-24 bulan di Kelurahan Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya dengan jumlah 267 balita. Sampel penelitian ini sebesar 36 orang dengan 18 orang mengalami stunting dan 18 orang tidak stunting, diambil secara acak menggunakan teknik simple random sampling. Penentuan sampel menggunakan uji hipotesis dua proporsi. Pengumpulan data meliputi pengukuran tinggi badan, wawancara kuesioner, food recall 2x24 jam, dan pengambilan sampel rambut untuk pengukuran kadar zinc rambut dengan alat Spektofotometer Serapan Atom (SSA). Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan pada dua variabel dengan data tidak berdistribusi normal.Hasil: Tidak terdapat perbedaan kadar zinc rambut pada balita stunting dan non stunting (p=0,517).Kesimpulan: Kadar zinc rambut pada anak stunting dan non stunting dengan usia 12-24 bulan di Kelurahan Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya tidak berbeda. Diperlukan penelitian lanjutan dengan mengukur kadar zinc tubuh secara bersamaan melalui serum darah dan rambut untuk mendapatkan hasil lebih akurat.
Perbedaan Status Gizi dan Penyakit Infeksi pada Anak Baduta yang Diberi ASI Eksklusif dan Non ASI Eksklusif Lury Novita Yustianingrum; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.316 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.415-423

Abstract

Background: The coverage of exclusive breastfeed in East Java has not reached the target has decreased in 2015. Working mother and the failed breast crawl implementation is factor that can inhibit exclusive breastfeed. Non exclusive breastfeed in infant will increase the risk of malnutrition and infectious disease.Objectives: The purpose of this study is to analyze the difference of nutritional status and infectious disease in exclusive breastfeed dan non exclusive breastfeed toodler age 12-24 months in Randegan village, Tanggulangin, Sidoarjo. Methods: The research was an observational analytic with cross sectional design. The sampel of this study was 44 toddlers in Randegan Village, Tanggulangin, Sidoarjo. Consists of 22 each exclusive breastfeed dan non breastfeed toddlers. The data were collected by questionnaires and weight measurement. Data were analyzed using chi square.Result: Normal nutritional status of exclusive breastfeed toddlers was 95.5% and of non exclusive breastfeed was 59.1%. The incidence of infection disease of exclusive breastfeed was 27.3% and of non exclusive breastfeed was 81.8%. The result of this study in both group showed of exclusive breastfeed and non exclusive breastfeed toodlers were significant (p<0.05) in nutritional status and incidence of infectious disease. Conclusion: Exclusive breastfeed toodlers has a better nutritional status and lower incedence of infectious disease than non exclusive breastfeed toddlers. Mother of toddlers should pay more attention to monitoring of growth and development in children, hygiene and sanitation, and giving nutritious and balanced food intake.ABSTRAK Latar belakang: Cakupan ASI eksklusif di Jawa Timur belum mencapai target dan mengalami penurunan pada tahun 2015. Ibu yang bekerja dan kegagalan pelaksanaan IMD merupakan faktor yang dapat menghambat pemberian ASI eksklusif. Pemberian non ASI eksklusif pada bayi akan meningkatkan risiko malnutrisi dan kejadian penyakit infeksi.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa perbedaan status gizi dan kejadin penyakit infeksi pada anak baduta ASI esklusif dan non ASI eksklusif usia 12-24 bulan di Desa Randegan, Tanggulangin, Sidoarjo. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 44 anak baduta di Desa Randegan Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. Dimana terdiri dari anak baduta ASI eksklusif dan non ASI eksklusif masing-masing berjumlah 22 anak baduta. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan penimbangan berat badan. Data dianalisis menggunakan chi square.Hasil: Status gizi baik anak baduta ASI eksklusif yaitu 95,5% dan non ASI eksklusif yaitu 59,1%. Kejadian penyakit infeksi pada anak baduta ASI eksklusif yaitu 27,3% dan non ASI eksklusif yaitu 81,8%. Hasil dari penelitian pada kedua kelompok menunjukkan ada perbedaan signifikan (p<0,05) pada status gizi dan kejadian penyakit infeksi.Kesimpulan: Anak baduta ASI eksklusif memiliki status gizi baik yang lebih tinggi dan kejadian penyakit infeksi yang lebih rendah dari pada anak baduta non ASI eksklusif. Ibu anak baduta harus lebih memperhatikan higieni sanitasi lingkungan dan memberikan asupan makanan yang bergizi serta berimbang.

Page 6 of 81 | Total Record : 810


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 4 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 3 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 2 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 9 No. 1 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 4th Amerta Nutrition Conferenc Vol. 8 No. 4 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 3 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 2SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 8 No. 2 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 8 No. 1SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 8 No. 1 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 2SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 3rd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 7 No. 4 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 3 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 3SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 7 No. 2 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 1 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition) Vol. 7 No. 1SP (2023): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Big Data Seminar Vol. 6 No. 1SP (2022): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 2nd Amerta Nutrition Conferenc Vol. 6 No. 4 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 3 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 2 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 6 No. 1 (2022): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 4 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 3 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 2 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 5 No. 2SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 5 No. 1SP (2021): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 5 No. 1 (2021): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 4 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 3 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 2 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 4 No. 1SP (2020): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Vol. 4 No. 1 (2020): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 4 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 2 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 3 No. 1 (2019): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 4 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 3 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 2 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION Vol. 1 No. 1 (2017): AMERTA NUTRITION More Issue