cover
Contact Name
JURNAL PETERNAKAN NUSANTARA
Contact Email
jurnal.peternakan@unida.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.peternakan@unida.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Peternakan Nusantara
ISSN : 24422541     EISSN : 25500740     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Peternakan Nusantaraa adalah jurnal diterbitkan oleh Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda Bogor. Jurnal ilmiah yang membahas tentang hasil-hasil penelitian bidang ilmu dan teknologi peternakan yang belum pernah dipublikasikan pada media lain.Cakupan artikel meliputi hasil penelitian tentang genetika dan pemuliaan ternak, nutrisi dan teknologi pakan ternak, produksi dan reproduksi ternak, teknologi pasca panen ternak. Jurnal ini diterbitkan dua kali dalam satu tahun: April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 207 Documents
KONDISI FISIOLOGIS DOMBA EKOR TIPIS JANTAN YANG DIBERI BERBAGAI LEVEL RANSUM FERMENTASI ISI RUMEN SAPI Septiadi, Asep; Nur, Hanafi; handarini, ristika
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 1 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (932.876 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v1i2.228

Abstract

Kondisi fisiologis merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produktifitas ternak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pemberian berbagai level ransum fermentasi isi rumen sapi terhadap kondisi fisiologis domba ekor tipis jantan. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9 September sampai 4 Desember 2014. Penelitian ini berlokasi di Desa Tambilung RT 03/RW 04, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Ternak yang digunakan pada penelitian ini adalah 12 ekor domba ekor tipis jantan, dengan rataan bobot badan 11,15 ± 0,33 kg. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu R0 = 100% rumput lapangan, R1 = 50% rumput lapangan + 50% fermentasi isi rumen sapi, R2 = 25% rumput lapangan + 75% fermentasi isi rumen sapi, R3 = 15% rumput lapangan + 85% fermentasi isi rumen sapi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan uji lanjut Duncan. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah suhu badan, laju respirasi dan detak jantung domba ekor tipis jantan. Hasil analisis laju respirasi, detak jantung dan suhu badan domba ekor tipis jantan selama penelitian menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata (P > 0,05).
THE EFFECT OF INDIGOFERA SP FLOUR FEED ON PHYSIOLOGICAL RESPONSE OF FAT TAIL SHEEP Rosmayanti, Pratiwi; Sudrajat, Deden; Malik, Burhanudin
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.412 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v5i2.1603

Abstract

Sheep is a small ruminant llivestock that area mostly raised by farmers in Indonesia fat tailed sheep (DEG) is one of the genetic resources of livestock that has  economics, scientifics and socio-cultural values and has the potential; to be used to meet the needs of animal protein for humans. This study aimed to examine the effect of indigofera sp flour feeding on the physiological response of fat tail rams. The design used was a completely randomized design with the following treatments: control feed without administration of indigofera sp flour (P0), commercial feed + 10% Indigofera sp flour (P1), Commercial feed +20% Indigofera sp flour (P2). The treatments was given to male fat-tailed sheep with body weight (30 kg) and uniform age (1,5 years), healthy and not disabled. The variables observed were body temperature, respiration rate, heart rate, and feed consumption. The treatments of giving Indigofera sp flour to the ration was estimated to have a significant effect (respiration rate, heart rate and body temperature) from the normal limit compared to thr treatments of fat tail rams without administration of Indigofera sp flour.Key words: fat tailed sheep, Indigofera sp flour, physiological response 
THE EFFICACY OF PAPAYA LEAF EXTRACT INCLUSION IN DRINKING WATER AS AN IMPROVING OF LAYER QUAIL PRODUCTION Kusbiyantari, Asri; Kardaya, Dede; Sudrajat, Deden
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 3 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.034 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v3i1.855

Abstract

Bacterial resistance to antibiotic has made the reduction in the use of antibiotic a concern in animal production.  The restriction of antibiotic application in animal production can be achieved if the antimicrobial strategy is available.  Papaya leaf extract has some antibacterial properties that make it is potential to be used as a substitute for commercial antibiotic.  This study was aimed at assessing the efficacy and potential of papaya leaf extract inclusion in drinking water in controlling pathogenic bacteria and improving the production efficiency and feed conversion ratio (FCR) of layer quails.  The study was conducted from 24 August to 20 September 2016 at the poultry farm of Department of Animal Husbandry, Djuanda University, Bogor.  One-hundred layer quails were allocated into 4 treatments and 3 replicates in a completely randomized design.  The treatments consisted of five levels of papaya leaf extract inclusions in drinking water , namely drinking water + commercial antibiotic of 0.5 g/liter water (R1), drinking water + papaya leaf extract of 10 ml/liter water (R2), drinking water + papaya leaf extract of 20 ml/liter water (R3), and drinking water + papaya leaf extract of 30 ml/liter water (R4).  Data were subjected to an analysis of variance and a Duncan test.  Results showed that the inclusion of papaya leaf extract in drinking water gave significant effects on egg mass, egg production efficiency, FCR, egg quality index, and egg shell thickness but not on feed intake, egg weight, and mortality rate.  It was concluded that papaya leaf extract produced by a boiling method could be used as a substitute for synthetic antibiotic.  Key words: Papaya leaf extract, production efficiency, feed conversion, layer quail.  
PERTUMBUHAN KELINCI PERANAKAN NEW ZEALAND WHITE LEPAS SAPIH YANG DIPELIHARA DENGAN KEPADATAN KANDANG BERBEDA permana, rio ganjar; Hendrawati, Afrida; malik, burhanudin
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 2 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jpnu.v2i2.621

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Dusun Cicelot, RT4 RW 7, Cimalaka, Sumedang dari 16 Maret - 27 April 2011. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja pertumbuhan kelinci New Zealand white dengan kepadatan kandang yang berbeda. Enam puluh kelinci umur 6 bulan dialokasikan ke dalam kandang berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm masing-masing. Sebuah rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan 4 ulangan digunakan. Perlakuan terdiri dari tiga tingkat kepadatan kandang, yaitu 4 kelinci / kandang (16 kelinci / m2) (A), 5 kelinci / kandang (20 kelinci / m2) (B), dan 6 kelinci / kandang (24 kelinci / m2) (C ). Empat ulangan dialokasikan ke masing-masing perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh yang signifikan (P> 0,05) pada tubuh berat badan, asupan pakan, konversi pakan, asupan air, dan tingkat kematian. Rata-rata pertambahan berat badan di setiap pengobatan adalah 19,92 g / ekor / hari (A), 20.06 g / ekor / hari (B), dan 19,87 g / ekor / hari (C). Asupan pakan tertinggi (56,66 g / ekor / hari) ditemukan pada perlakuan B diikuti oleh 56,44 g / ekor / hari (C) dan 55,78 g / ekor / hari (A). Konversi pakan tertinggi (2,84) ditemukan pada perlakuan C diikuti oleh 2,82 (B) dan 2,80 (A). intake air yang 120,8 (A), 120,2 (B), dan 121,0 (C) ml / ekor / hari. Tidak ada kematian yang ditemukan selama masa uji coba
PENGARUH PENAMBAHAN LARUTAN EKSTRAK KUNYIT (Curcuma domestica) DALAM AIR MINUM TERHADAP KUALITAS TELUR BURUNG PUYUH saeful amin, nandang; anggraeni, anggraeni; dihansih, elis
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 1 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.286 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v1i2.244

Abstract

Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian larutan ekstrak kuniyit (Curcuma domestica) dalam air minum terhadap kualitas telur burung puyuh (Coturnix coturnix japonica). Rancangan yang digunakan berupa rancangan acak kelompok dengan 5 perlakuna dan 4 ulangan. Perlakuan RO (kontrol) tanpa penambahan larutan ekstrak larutan kunyit, R1= 1 ml ekstrak larutan kunyit, R2= 2 ml ekstrak larutan kunyit, R3= 3 ml ekstrak larutan kunyit dan R4= 4 ml ekstrak larutan kunyit. Peubah yang diamati adalah Tebal Kerabang (mm), Indeks Telur (%), Warna Kuning Telur dan Nilai Haugh Unit. Hasil uji statistik menunjukkan perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) tebal kerabang, indeks telur, haugh unit kecuali pada warna kuning telur. Hasil statistik menunjukkan pemberian 4 ml (R4) ekstrak kunyit menghasilkan rataan paling tinggi dibandingkan dengan 1 ml (R1). Indeks telur berkisar antara 74,41-79,06 %. Sedangkan haugh unit pada penelitian ini menghasilkan nilai rataan berkisar antara 78,95-86,60 %.
THE PERFORMANCE OF QUAIL STARTER-GROWER WHO WERE RATIONS ADDITIONAL CONTAINING GARLIC (Allium sativum) AND CARAWAY (Cuminum cyminum) Florana, Bella; Dihansih, Elis; Handarini, Ristika
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 3 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.888 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v3i2.927

Abstract

Plants herbs widely used as a supplement in fodder to improve endurance and its productivity, including garlic and caraway. This study attempts to test the influence of the combination level of flour garlic and caraway performance against quail period of a starter up to the period grower. Study was conducted on  11 February  – 16 March 2017 in Assalam Slamet Quail Farm, Sukabumi.  This research was used 180  DOQ’s layer. Feed used were:  commercial feed BR-1 for stater and SP-2 for grower – layer, garlic flour and caraway flour. A complete randomized  design with four  treatments and three  replicates was used. Treatments consisted of  P0 = feed commercial (FC), P1 = PK + 2 % garlic flour (GF), P2 = PK + 2 % caraway flour (CF), P3 = PK + 1 % GF + 1 % CF. Research conducted in quail from 2 – 35 day. The variables were consumption, body weight gain, feed convertion ratio and mortality. Data were analyzed by a Duncan test. The results showed that  non-significant differences  on average body weight gain of stater  in the first week. The grower period showed that that non-significant differences on consumption and significant differences increased on average body weight gain in P2 treatment and decreased on feed convertion ratio in P1, P2 and P3. The conclusion showed the best research on supplement 2 % caraway flour to  grower quails. This conclusion was recommended to add 2 % caraway flour in quails feed.Keywords: performance of quails, feed additive, garlic, cumin.
PENGARUH LARUTAN DAUN SIRIH DALAM AIR MINUM SEBAGAI PENGGANTI ANTIBIOTIK TERHADAP RETENSI NITROGEN DAN ENERGI METABOLIS RANSUM Sudrajat, Deden; Kardaya, Dede; malik, burhanudin; abas, abas
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 1 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.7 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v1i1.158

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sirih terhadap Retensi Nitrogen dan Energi Metabolis ransum pada ayam Broiler. Penelitian ini menggunakan 25 ayam Broiler jantan strain Cobb umur 30 hari, Penelitian ini terdiri atas 5 perlakuan dengan (KO) sebagai kontrol atau perlakuan tanpa daun sirih, (K1) pakan +anti biotik Zn-Bacitracin 50 ppm, (S1) 10 ml larutan perlakuan daun sirih per liter air minum, (S2) 20 ml larutan perlakuan daun sirih per liter air minum, dan (S3) 30 ml larutan perlakuan daun sirih per liter air minum. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian daun sirih dalam air minum berpengaruh nyata (P<0,05) meningkatkan energi metabolis dan retensi nitrogen. Konsentrasi larutan 10 ml/L (perlakuan S1) menunjukan nilai tertinggi untuk energi metabolis dan retensi nitrogen dibandingkan dan K1 perlakuan. Dengan
PERFORMANCE AND PROFILE OF REJECTED DUCK BLOOD FATS THAT FED FERMENTED NON CONVENTIONAL RATION CONTAINING FLOUR LEAVES OF GELUGUR ACID Dihansih, Elis; Kardaya, Dede; Wahyuni, Dewi
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.781 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v5i2.2190

Abstract

ABSTRACT
THE SENSORIC QUALITY OF MEAT OF MALE LOCAL DUCKS (Anas plathyrhinchos) GIVEN BETEL (Piper betle linn) LEAVE EXTRACT SOLUTION INCLUDED IN COMMERCIAL RATION Dihansih, Elis; Handarini, Ristika; Haerina, Nina
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 3 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.508 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v3i1.844

Abstract

The meat of local ducks generally has lower quality than chicken meat. Typical aroma, dark red color, and hard texture of duck meat affect consumers’ preference for it. This study was aimed at assessing the sensoric quality of meat of male local ducks(Anas plathyrhinchos) given betle (Piper betle Linn) leaf extract solution included in commercial ration. The study was conducted at the Poultry Farm of Department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture, Djuanda University, Bogor from June to August 2016. Twenty-four male local ducks aged 2 weeks with average body weight of 449.16±75.27 g were used. BR-21E commercial feed of PT Sinta Feedmill and betel leaf extract solution were used. A completely randomized design with 4 treatments and 3 replicates was used. Treatments consisted of 100% commercial feed (R0), commercial feed + 2.5% piper betel solution (R1), commercial feed + 5.0% piper betel solution (R2), and commercial feed + 7.5% piper betel solution (R3). Data were subjected to a Kruskal Wallis test. Measurements were taken on aroma, tenderness, color, taste, and juiceness. Results showed that there were significant differences (P<0.05) in color and taste. The inclusion of 2.5% piper betle extract solution in commercial rations improved the preference of panelists for the color and taste of meat of local ducks. However, treatments did not affect panelists judgement on the hedonic quality (aroma, tenderness, color, taste, and juiceness) of meat of local ducks. Key words:meat sensoric quality, male local duck, betel leaf extract solution
PERBEDAAN WAKTU PENYUNTIKAN HORMON FSH TERHADAP RESPON SUPEROVULASI SAPI ANGUS Subchan, Fariz Azka; Handarini, Ristika
Jurnal Peternakan Nusantara Vol. 2 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.723 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v2i1.359

Abstract

Upaya peningkatan populasi sapi dapat dilakukan dengan menerapkan bioteknologi transfer embrio. Superovulasi merupakan kunci keberhasilan transfer embrio. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan waktu penyuntikan hormon FSH terhadap respon superovulasi sapi angus. Penelitian ini menggunakan sapi donor angus sebanyak 12 ekor sapi yang telah di palpasi rektal untuk mengetahui kondisi ovarium kemudian disinkronisasi dengan preparat progesteron. Rancanngan penelitian yang digunakan yaitu RAL, dengan 3 perlakuan yaitu penyuntikan FSH secara intramuscular pada P1: hari ke-7, P2: hari ke-8, P3: hari ke-9. Penyuntikan FSH dilakukan dengan dosis menurun  pada pagi dan sore hari masing-masing 4ml, 3ml, 2ml, 1ml. Hari ke-3 setelah penyuntikan FSH, pagi hari disuntik dengan PGF2α dan sore harinya dilakukan pencabutan preparat progesteron. Dua hari kemudian dilakukan IB dan tujuh hari setelah IB dilakukan koleksi embrio. Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan waktu penyuntikan hormon FSH tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05), namun secara parameter penyuntikan hormon FSH pada hari ke-9 cenderung memberikan hasil respon superovulasi yang lebih baik terhadap jumlah CL, jumlah embrio, dan proporsi embrio layak transfer.

Page 11 of 21 | Total Record : 207