cover
Contact Name
M. Yaser Arafat
Contact Email
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Phone
+6281370980853
Journal Mail Official
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Editorial Address
1st Floor, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamJalan Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281Telpon/Fax: +62274 512156/+62274512156 E-mail: jurnalsosiologiagama@gmail.com; jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama
ISSN : 19784457     EISSN : 2548477X     DOI : https://doi.org/10.14421/jsa.
Jurnal Sosiologi Agama mengundang para ilmuwan, peneliti, dan siswa untuk berkontribusi dalam penelitian dan penelitian mereka yang terkait dengan bidang sosiologi agama, masyarakat beragama, masyarakat multikultural, perubahan sosial masyarakat beragama, dan relasi sosial antar agama yang mencakup penyelidikan tekstual dan lapangan dengan perspektif sosiologi dan sosiologi agama.
Articles 195 Documents
MENENGOK KEMBALI PERAN AGAMA DI RUANG PUBLIK M. Amin Abdullah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.552 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-02

Abstract

In recent years, especially over the past decade, there has been increasing intolerance of certain religions and ethnic minorities in various parts of Indonesia, whether in the form of physical assault by a particular group or omission by the authorities. Such situation is increasing when entering the campaign period before the elections simultaneously and Presidential Election. In this condition the role of FKUB as one of the tolerant agents in the national political arena becomes important. Some things to be considered include the basic question of the State (four pillars), religious views, religious literacy and education in public spaces and media.Keywords: toleransi, pandangan keagamaan, media, ruang publik
Menata Kehidupan Lansia: Suatu Langkah Responsif untuk Kesejahteraan Keluarga (Studi pada Lansia Desa Mojolegi Imogiri Bantul Yogyakarta) Nurus Sa’adah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.745 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2015.092-03

Abstract

Usia harapan hidup manusia di dunia semakin panjangsehingga jumlah lansia semakin banyak melebihi pertumbuhanangka kelahiran. Karena itu, di berbagai negara termasukIndonesia mulai fokus memperhatikan kehidupan lansia.Berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan lansiatelah diupayakan oleh pemerintah tetapi kasus-kasus seputarlansia masih banyak, sehingga berbagai pihak perlu membantupemerintah mengembangkan berbagai upaya inovatif untukmeningkatkan kesejahteraan lansia. Mensejahterakan lansiaberarti pula mensejahterakan keluarga sebab lansia turutberperan penting dalam keluarga termasuk dalam pengasuhancucu. Karena itulah, penelitian ini akan mengupas bagaimanalangkah responsif untuk mensejahterakan keluarga melaluipemberdayaan lansia.Langkah responsif untuk menata lansia tidak lepas dariberbagai faktor baik internal diri lansia maupun faktoreksternal lansia seperti sosial demografik maupun budayatempat lansia berasal dan bertempat tinggal. Melalui metodekualitatif, pengambilan data melibatkan aparat dan lansia diDesa Mojolegi Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta untukmenggali problem dan kebutuhan lansia kemudian dijadikanbahan untuk membuat model pemberdayaan lansia yangberbasis potensi lokal.Hasil penelitian menemukan model pemberdayaan lansiayang difokuskan pada dua hal yaitu potensi alam dan potensiSDM yang diawali dengan langkah look, think, act, monitoringand evaluation sehingga menghasilkan kesejahteraan lansiasecara lahir dan batin.Keyword:Lansia, kesejahteraan keluarga, model pemberdayaan
STRATEGI KOMUNIKASI FKUB DALAM MEMELIHARA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI PROVINSI BALI I Wayan Kontiarta; Redi Panuju
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1433.534 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2018.121-06

Abstract

        The consequences of several Bomb incidents that allegedly carried out by terrorists who hide behind certain religions have led to the emergence of mutual prejudices among the people. Especially in the province of Bali who had experienced the tragedy of the explosion Bomb twice from two thousand two to two thousand five. The notion that the atmosphere among religious life is threatened by religious prejudices. Moreover, media coverage tends to frame the events of terror is always done by hard-line Islamic groups, it is possible that people at the lower level generalize all Muslims tend to be radical. One institution that seeks communication between religious communities is the Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), whose existence in the province of Bali is very strategic. This article reviews the communication strategies undertaken by FKUB. The research method used is field research by interviewing FKUB figures as key informants. As a result FKUB's strategy contributes to maintaining community harmony, so that at the grassroots level Balinese people remain harmonious.Keywords: Harmony, Communication Strategy, Audience, Local Media, Indigenous Leaders Akibat dari beberapa peristiwa ledakan Bom yang diduga dilakukan oleh teroris yang berlindung di balik agama tertentu telah menyebabkan munculnya saling prasangka di antara umat. Apalagi di Provinsi Bali yang pernah mengalami tragedi ledakan Bom dua kali dari tahun dua ribu dua hingga dua ribu lima. Dugaan bahwa suasana di antara kehidupan umat beragama terancam oleh prasangka agama. Apalagi pemberitaan media cenderung membingkai peristiwa terror selalu dilakukan oleh kelompok Islam berhaluan keras, sangat mungkin masyarakat di tingkat bawah menggeneralisir semua umat Islam cenderung radikal. Salah lembaga yang mengupayakan komunikasi antar umat beragama adalah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), yang keberadaannya di Provinsi Bali sangat strategis. Artikel ini meninjau strategi komunikasi yang dilakukan oleh FKUB. Metode penelitian yang digunakan adalah riset lapangan dengan mewawancarai tokoh FKUB sebagai informan kuncu. Hasilnya strategi FKUB memberikan kontribusi dalam memelihara kerukunan umat, sehingga di level akar rumput masyarakat Bali tetap harmonis.Kata Kunci : Kerukunan, Strategi Komunikasi, Khalayak, Media lokal, Tokoh Adat
KEGIATAN DISKUSI “JUMAT MALAM” DI UIN SUNAN KALIJAGA: PERSPEKTIF MUTU PERGURUAN TINGGI Mohammad Damami
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.536 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.101-04

Abstract

Artikel ini membahas tentang pelaksanaan diskusi ‘jum’at malam’di UIN Sunan Kalijaga. Berangkat dari keprihatinan atas potensi akademik dosen IAIN Sunan Kalijaga penyelenggaraan diskusi diharapkan memberikan kebiasaan tulis-menulis makalah multidisiplin, multijurusan dan multifakultas. keprihatinan tersebut dipecahkan melalui diskusi ‘jum’at malam’. Artikel ini berusaha menjawab apa yang menjadi pendorong tetap diselenggarakannya diskusi ‘jum’at  malam’dalam konteks kemanfaatannya, serta masalah apa yang seharusnya dilakukan dalam penyelenggaraannya dalam membantu memecahan problem-problem bangsa.Artikel ini merupakan hasil penelitian lapangan yang didukung dengan data kepustakaan. penelitian lapangan dilakukan di tengah para peserta diskusi yang aktif. Dengan asumsi bahwa para peserta diskusi lah yang mendapatkan kemanfaatan akan jalannya diskusi. Hal-hal yang mendorong diselenggarakannya diskusi jum’at malam terkait dengan adanya kemanfaatanakademis. dalam rangka mendukung ‘integrasi-interoneksi’keilmuan di UIN Sunan Kalijaga.Key words: Diskusi jumat malam, intedisiplin
SKEMA KEKERASAN TERHADAP ANAK DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Siti Kurnia Widiastuti
Jurnal Sosiologi Agama Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.943 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2019.131-04

Abstract

Kekerasan terhadap anak merupakan hal yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Keprihatinan terhadap fenomena sosial yang terjadi dewasa ini, mendorong penulis untuk mengeksplorasi lebih dalam kasus-kasus kekerasan anak yang terjadi di Indonesia, khususnya di D.I. Yogyakarta. Pokok masalah dari studi ini adalah ingin menemukan bagaimana skema kecenderungan kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak di D.I. Yogyakarta pada periode tahun 2012-2014, faktor-faktor pemicu terjadinya kekerasan terhadap anak pada skema yang ditemukan, dan dampak kekerasan terhadap anak pada skema yang ditemukan. Studi ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Adapun metode pengumpulan datanya adalah melalui wawancara dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis induktif. Studi ini bersumber pada dokumen-dokumen dan kasus-kasus yang ditangani oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Daerah Istimewa Yogyakarta, serta informasi dari staf LPA DIY.Hasil studi ini menemukan bahwa kasus yang selalu ada di setiap rentang tahun antara 2012 sampai dengan 2014 adalah kasus kekerasan seksual. Kasus ini menempati posisi tiga besar di setiap tahunnya dan jumlahnya selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Faktor pemicu terjadinya kekerasan seksual pada klien LPA DIY pada umumnya adalah budaya patriarkhi, tidak ada pemahaman terhadap Undang-undang perlindungan anak dan hak anak, posisi tawar anak rendah dalam keluarga, anak tidak mengetahui tentang kekerasan seksual, dan pengaruh kemajuan informasi dan teknologi. Adapun dampak secara umum pada korban dapat dilihat: anak mudah curiga atau takut bila bertemu dengan orang asing yang belum dikenalnya, anak menjadi tertutup, berbicara sangat pelan, apatis, anak mengalami gangguan fisik dengan gejala keputihan atau keluar cairan berbau, anak menjadi pemalu atau minder, anak mudah marah, dan anak mengalami stockholm syndrom (menunjukkan kekacauan emosi dengan menjadi suka terhadap pelaku kekerasan).Kata Kunci: Skema, Kekerasan Anak, D.I. Yogyakarta
100% KATOLIK 100% INDONESIA: Suatu Tinjauan Historis Perkembangan Nasionalisme Umat Katolik di Indonesia Samudra Eka Cipta
Jurnal Sosiologi Agama Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.426 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2020.141-07

Abstract

Since the arrival of the Portuguese to Indonesia, many missionaries have spread Catholicism in Indonesia. The Maluku region became the beginning of the Catholicsm process in Indonesia, when a Portuguese missionary Francis Xavier came to the largest spice producing region in the world at that time. Previously, the arrival of the Portuguese in Indonesia in addition to their trade also brought religious interests in it. In 1546-1547 when he arrived in Maluku, he had succeeded in baptizing thousands of people also building schools for the indigenous population. When the VOC, which incidentally was a follower of Protestantism, tried to protest the population in the archipelago. They also sought to monopolize religion by mastering Catholic churches from Portuguese Spanish heritage, bearing in mind that in Europe there had been a strong push by Protestants against Catholics so that the impact of the Protestant-Catholic feud reached the Archipelago. Apparently, the era of Colonial Government began to be implemented after the fall of the VOC has had a tremendous impact on the development of Catholicism in Indonesia with the emergence of a spirit ‘'Catholic Awakening Indonesia'’ in line with the period of the emergence of Indonesian movement organizations in achieving Free Indonesia. This is inseparable from the role and emergence of several Indonesian Catholic figures in the political field including Ignasius Kasimo, and M.G.R Soegijapranata, even military fields such as Adi Sucipto and Slamet Riyadi who are among the leaders among Indonesian Catholics who defend for the sake of the nation and state of Indonesia.
SOLIDARITAS KELOMPOK MINORITAS DALAM MASYARAKAT (Studi Kasus Kelompok Waria Di Pondok Pesantren Waria Al Fatah Yogyakarta) Siti Munifah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.535 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.111-07

Abstract

In a society, based on the size of the members there are two social groups namely the majority and minority groups. Majority groups are the largest part of a society. In contrast, minority groups are the smallest part of a society. In everyday life, minority groups do not often get their rights like majority groups in general. To obtain these rights, minority social groups often form a group or community to achieve desired goals. With strong Solidarity within a group, together they (minority groups) can fight for their rights and face an external threat (conflict). Through this article, the author will give an idea how solidarity of a minority group (waria) in facing conflict especially transvestites that exist in the boarding school of Islamic transvestites Fatah Yogyakarta.Keywords: solidarity, minority, transgender, transvestite pesantren.
Trend Pernikahan Dini di Kalangan Remaja (Studi Kasus Di Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta Tahun 2009-2012) Fitriana Tsany
Jurnal Sosiologi Agama Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.484 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2015.091-05

Abstract

Dalam Al-Quran dan Sunnah Rosul menegaskan bahwapernikahan merupakan hubungan antara laki-laki denganperempuan dalam ikatan yang kuat dan terhormat. Dalamkehidupan manusia pernikahan pernikahan selalu diatursedemikian rupa melalui agama, adat istiadat, maupun normayang berlaku dalam masyarakat. Mengacu pada undangundang perkawinan pasal 7 UU no. 1 tahun 1974 yangmenetapkan bahwa umur untuk menikah bagi laki-lakisekurang-kurangya 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Danberbagai macam undang-undang tentang pernikahan ituberbeda-beda. Sehingga menimbulkan persepsi seseorangdalam menikahkan seorang anak. Pernikan merupakan sesuatuhal yang fitrah bagi setiap manusia dan merupakan suatu halyang dianjurkan oleh seluruh agama termasuk Islam untukmeneruskan dan menjaga keturunannya. Pernikahan adalahsuatu ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki denganperempuan sebagai seorang suami isteri dengan tujuan untukmembentuk rumah tangga yang bahagia. Akan tetapipernikahan tersebut akan menjadi isu yang menarik ketikayang menjalaninya adalah seorang remaja atau anak yangmasih dibawah umur seperti kasus yang terjadi di kabupatenGunungkidul Yogyakarta.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui trenpernikahan dini yang ada di Kabupaten Gunungkidul.Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan teknikanalisis data sekunder yang penulis dapat dari Badan PusatStatistik Propinsi DIY yakni dalam Gunungkidul dalam angkaTrend Pernikahan Dini di Kalangan Remaja (Studi Kasus Di Kabupaten Gunung Kidul tahun 2009-2014 dan juga indikator kesejahteraan rakyat Kabupaten Gunungkidul tahun 2009-2012.Keyword: Gender, Remaja, Tren Pernikahan Dini, Gunungkidul
Fenomena Perda Syariah: Institutional Identitas pada Tingkat Local State Munawar Ahmad
Jurnal Sosiologi Agama Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1801.963 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2007.011-07

Abstract

AbstrakKonseptualisasi demokrasi, pada umumnya hanya menonjolkan dua karakteristik, yakni, pertama, pendefinisan yang menekankan pada dimensi prosedural. Kedua, berkaitan dengan perbedaan "agen" sebagai determinan pokok dalam eksplorasi terhadap keberhasilan demokrasi. Agen di sini lebih ditujukan kepada para aktor politik di tingkat lokal, baik lembaga maupun perorangan. Lahirnya Perda Syariah, dipandang Porter (2002), sebagai wujud agresifitas Islam politik tatkala pemerintah Orde Baru gagal menerapkan corporatism. Jadi, fenomena perda syariah di beberapa kabupaten, ada kecenderungan kuat bahwa institusional identitas merupakan reaksi yang rasional. Setidaknya, bagi para elit local-state, karena mereka mendapatkan capital di balik munculnya perda-perda tersebut.Kata kunci: Perda Syariah, Institusional identitas.
TRANSFORMASI KONFLIK PASCA PERUSAKAN RUMAH IBADAT (STUDI KASUS GEREJA BAPTIS INDONESIA (GBI) SAMAN BANTUL TAHUN 2015) Ajiyastuti, Retno
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.098 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2018.122-08

Abstract

The issue of the construction of houses of worship in Indonesia often occurs because of rejection. This rejection often occurs because of the rejection of a group of majority religious in a region. Such rejection tends to lead to the emergence of conflicts that have also created various acts of violence experienced in both the escalation phase of the conflict and the de-escalation of the conflict. Conflicts that originate from outgroup, sometimes capable of causing divisions within the group. But over time, the phase de escalation of conflict can lead to an initiative to create sustainable peace. In this article, the author will present a description of the form of violence that occurred in the conflict of destruction of the Baptist Church of Indonesia (GBI) Saman by a group of Islamic organizations and explain how a conflict transformation in managing a post-conflict situation in the Dusun Saman Bantul. The transformation applied through some communicative actions based on the initiative of the member from in group Dusun Saman so as to create a positive peace in post-conflict situation. Keywords: conflict transformation, violence, GBI Saman, conflict Isu pendirian rumah ibadat di Indonesia kerap kali terjadi karena mengalami penolakan. Penolakan ini sering terjadi karena adanya penolakan dari sekelompok umat beragama mayoritas di suatu wilayah. Penolakan tersebut cenderung mengarah pada timbulnya konflik yang menciptakan pula berbagai tindak kekerasan yang dialami dalam fase eskalasi konflik maupun de eskalasi konflik. Dalam artikel ini, penulis akan memaparkan sebuah gambaran mengenai bentuk kekerasan yang terjadi di dalam konflik perusakan Gereja Baptis Indonesia (GBI) Saman oleh sekelompok ormas Islam serta menjelaskan bagaimana sebuah transformasi konflik dalam mengelola sebuah situasi pasca konflik di lingkungan Dusun Saman Bantul.

Page 2 of 20 | Total Record : 195