cover
Contact Name
M. Yaser Arafat
Contact Email
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Phone
+6281370980853
Journal Mail Official
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Editorial Address
1st Floor, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamJalan Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281Telpon/Fax: +62274 512156/+62274512156 E-mail: jurnalsosiologiagama@gmail.com; jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama
ISSN : 19784457     EISSN : 2548477X     DOI : https://doi.org/10.14421/jsa.
Jurnal Sosiologi Agama mengundang para ilmuwan, peneliti, dan siswa untuk berkontribusi dalam penelitian dan penelitian mereka yang terkait dengan bidang sosiologi agama, masyarakat beragama, masyarakat multikultural, perubahan sosial masyarakat beragama, dan relasi sosial antar agama yang mencakup penyelidikan tekstual dan lapangan dengan perspektif sosiologi dan sosiologi agama.
Articles 195 Documents
Kontruksi Media Dalam Gerakan Islam Populis 212 M. Mujibuddin SM
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.911 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2018.122-05

Abstract

This paper studied the movement of Aksi Bela Islam (ABI) which was propagated by the GNPF MUI group to bring down Basuki Tjahaja Purnama from the governor position. This demonstration not only in Jakarta but also the various cities in Indonesia. The involvement of Muslims are influenced by social media. Social media has succeeded in becoming a public sphere for society. Today, society can take a truth from social media. Therefore,  social construction is not only formed from individuals or society but also social media. This research uses literature study with analytical descriptive writing method. This paper uses framing analysis approach and Islam populist. The results of this paper show that social media has an important role in the construction of public awareness. This social construction can be seen with the birth of Islam populist movement 212 which has a goal to reform the bureaucracy in government.Keyword: Social Contruction, Islam Populist, Aksi Bela Islam, Social Media, Post-Truth.
KONFLIK DAN DEPRIVASI RELATIF (Telaah Konflik Perumahan Taman Indah dan MTs Darussalam di Yogyakarta) Ahmad Kholil
Jurnal Sosiologi Agama Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.639 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2019.132-07

Abstract

Siswa MTs Darussalam yang notabene terdiri dari masyarakat Kampung Kebonagung. Salah satua persoalan yang tengah dihadapi adalah sulitnya pemenuhan kebutuhan dasar untuk mengenyam pendidikan karena tidak ada akses untuk memasuki gedung sekolah unit II. Di lain sisi warga perumahan berkeberatan memberikan izin kepada pihak MTs untuk menggunakan jalan perumahan sebagai akses siswa-siswi. Nuansa agama tidak dapat dilepaskan pada kasus ini, selain karena antar kelompok sebagai aktor utama konflik terdiri dari mayoritas penganut agama Islam, lebih unik lagi berada di bawah komando organisasi masyarakat berbasis agama yang saman.Hasil penelitian ini menunjukkan tentang fenomena deprivasi relatif di kampung Kebonagung yang bermuara pada konflik. Setidaknya terdapat tiga kondisi yang melatarbelakangi lahirnya deprivasi relatif pada kasus konflik warga perumahan dengan pihak MTs, yaitu interaksi sosial yang pasif, fenomena “dual-society” dalam ekonomi dan disfungsi agama. Deprivasi sosial tersebut muncul karena adanya kesenjangan atau perbedaan negatif antara nilai ekspektasi dan nilai kapabilitas sehingga membuat pihak MTs dan warga perumahan frustrasi.Kata Kunci: Kampung Kebonagung, MTs Darussalam, Perumahan Taman Indah, Deprivasi Relatif, KonflikThe Majority of students of Madrasah Tsanawiyah Darussalam is consisted of Kebonagung village . One of the problems being faced is the difficulty to get the basic needs for education activities because there is no access to enter the second unit of school building. Beside of that the resident of Taman Indah do not allow the housing road is used as an access for student to go to school. The nuances of religion can not be released in this case, because both of the groups as the main actors of the conflict that is consisted of the majority of adherents of Islam. Also the more uniquely both of groups are under the command of the same organization that based of the same religion.The results of this study is to indicate the relative deprivation phenomenon in Kebonagung village which leads to conflict. There are three conditions that cause relative deprivation in the case of the conflict between Taman Indah Housing Residenence and Madrasah Tsanawiyah Darussalam, first passive social interaction, second, the phenomenon of “dual-society” in the economy and third, religious dysfunction. The social deprivation arises because of a gap or negative difference between the expectation value and the capability value, making the Madrasah Tsanawiyah side and housing residents are frustrated.Key Words: Kebonagung village, M Ts Darussalam, Taman Indah Housing, Relative Deprivation, Conflict.
SOSIALISASI NILAI-NILAI AGAMA DI KALANGAN MAHASISWA PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA UIN SUNAN KALIJAGA Muhammad Amin
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.692 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-05

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas problematika sosialisasi nilai-nilai agama di kalangan mahasiswa, terutama di kalangan mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Tulisan yang merupakan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam merancang format sosialisasi nilai-nilai agama yang tepat di kalangan generasi muda untuk mewujudkan nilai-nilai yang lebih baik di kalangan generasi muda Indonesia, mengingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang ditemukan kesenjangan yang cukup tajam antara nilai-nilai agama dengan perilaku umat sehari-hari.Sosialisasi nilai-nilai agama di kalangan mahasiswa masih perlu peningkatan. Untuk sosialisasi nilai-nilai agama itu dibutuhkan keteladanan yang baik. Di samping itu, sosialisasi nilai-nilai di kalangan mahasiswa selayaknya melalui kegiatan yang menarik dan interaktif, Untuk menghindari pendidikan nilai yang bersifat indoktrinatif, para mahasiswa  perlu didorong untuk dapat menemukan alasan-alasan yang mendasari keputusan moral yang diambilnya. Kata kunci: sosialisasi, nilai-nilai, mahasiswa
Menemukan Kekhasan Kajian Sosial Keagamaan pada Program Studi Sosiologi Agama di UIN Sunan Kalijaga Moh Soehadha
Jurnal Sosiologi Agama Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.595 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2007.011-02

Abstract

Sosiologi Agama, merupakan disiplin baru di dalam disiplin religious studies, yang menitikberatkan pada perubahan-perubahan masyarakat agama. Sampai saat ini, diakui bahwa sosiologi agama, masih mencari bentuk yang khas di dalam metodologi. Agama itu tidak hanya sebatas agama sebagai dogma dan sisi normatifitasnya belaka (model for), namun juga memahami bagaimana interpretasi suatu masyarakat tertentu terhadap agama itu, terkait dengan realitas sosialnya (model of). Karakter demikian memerlukan metodologi yang khas.Kata Kunci: model of, model for
GAGASAN NASIONALISME INDONESIA SEBAGAI NEGARA DAN BANGSA DAN RELEVANSI DENGAN KONSTITUSI INDONESIA masroer masroer
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.542 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-05

Abstract

AbstrakNasionalisme sebagai paham “negara bangsa” tumbuh seiring dengan berakhirnya zaman kolonialisme dan imperialisme bangsa-bangsa Barat di Dunia Ketiga. Gagasan tentang nasionalisme yang mengilhami munculnya negara-negara baru di seluruh dunia pada abad ke-20 M. Namun di Indoensia, nasionalisme sebagai gagagasan negara bangasa mampu berdialog dengan agama, sebgaimana yang ditegaskan oleh Bung Karno yang mampu membangkitkan kesadaran nasionalisme masyarakat Indoensia mnjelang kemerdekaan. Kesadaran nasionalisme ini tidak lahir serta merta, melainkan bersaman dengan gagasan ideologis yang masuk di tengah perubahan sosial awal abad ke-20 M, seperti Islam yang pernah menjadi alat ideologi yang direpresentasikan dengan lahirnya NU dan Muhammadiyah bersamaan dengan masuknya gelombang pembaharuan agama dari Timur Tengah. Gerakan-gerakan keagamaan ini hendak menumbuhkan Islam sebagai kekuatan nasional yang dapat melawan kolonialisme dan imperialisme. Nasionalisme yang lahir dari agama ini ditangkap ide dan gerakannya oleh Bung Karno sebagai “isme” baru dengan menyebutnya “Islamisme”. Islamisme adalah istilah yang dipakai Bung Karno sendiri untuk menyebut gerakan keagamaan yang melawan kolonialisme di awal pergerakan kebangsaan Indonesia. Namun gagasan-gagasan ideologis kaum muslimin yang bersifat khusus ini tidak berdiri sendiri, di sisi lain lahir gagasan ideologi sosialis sebagai alat yang mengobarkan semangat masyarakat kecil dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Dan terakhir adalah nasionalisme kaum priyayi yang melandasi bangkitnya sentimen etnik. Bung Karno berhasil mengawinkan ketiga ideologi perlawanan yang semula berjalan sendiri-sendiri ini untuk bersatu menjadi spirit kebangsaan. Spirit kebangsaan itu melahirkan konsep negara nasionalistik yang berciri pada ideologi Pancasila, konstitusi UUD 1945, integralisme negara (NKRI), dan sistem demokrasi dalam kepemimpinan, hingga sekarang.Kata kunci; nasionalisme, agama, Bung Karno, Pancasila
Masjid dan Perubahan Masyarakat Pascaindustri di Indonesia: Amalan NU dalam Bingkai Muhammadiyah Muhammad Saifullah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.448 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2018.122-03

Abstract

Muhammadiyah was frequently being similarized with who denied tradition and NU was not. Though one tries to coerce, it will be merely culture movement without tradition. This article desires to look further the soft contestation which is occurred between Muhammadiyah and NU’s movement within Masjid Jendral Sudirman (MJS). MJS is one of mosque in Yogyakarta whose Muhammadiyah affiliation, yet almost all activities therein use NU’s peculiarities. Boards (takmir) enliven the mosque were coming from NU since 2008 and so that it is decently plausible. I’m interesting to investigate what actually happened beyond the board’s movement in instilling NU’s particularities upon Muhammadiyah’s mosque: is it insurgency, coup d’etat, or a new mode of hybrid, and why it can be occurred. The article thus argues that the pattern of NU’s board movement in MJS is merely mass movement which emerges unconsciously as an effect of unawareness shift, borrowing Selo Soemardjan’s phrase. The shift which is entangled society change in postindustrial, internet milieu.  Keywords: Masjid Jendral Sudirman (MJS), Muhammadiyah and NU, Mass movement, unconscious shift, postindustrial society.
POKOK-POKOK PIKIRAN DALAM MANIFESTO HUMANISME RELIGIUS (KAJIAN DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA) Muzairi Muzairi
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.04 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.101-07

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemikiran manifestohumanisme, dan humanisme religius dalam perspeektifsosiologi agama. Salah satu bentuk keragaman humanismeapa yang disebut religius humanisme. religius humanismetelah mengeluarkan manifesto humanisme religius I danII. Tulisan ini mencoba memberikan analisis tentangreligius humanisme dalam perspektif sosiologi agama danmanifesto I dan II. Semoga tulisan ini ada manfaatnya.Pikiran-pikiran yang terkandung dalam manifestoHumanisme tidak hanya terdapat di bidang teoritis, akantetapi juga di bidang praktis terutama dalam perspektifsosiologi agama yang berkaitan dengan pseudo-agama(agama semu). Pseudo-agama memperlihatkan segi-segiagama murni, tetapi didalamnya manusia menghubungkandiri tidak dengan sesuatu yang bersifat mutlak melainkankepada realitas yang terbatas. Disinilah kita perlu lebihsadar, bahwa salah satu gejala sosial yang menonjol dewasaini muncullah pluralisme. Pluralisme sebagai “situasidimana tersedia lebih dari satu pandangan hidup yangmasing-masing menawarkan visinya termasuk didalamnyapseudo-agama. Dari lima pseudo-agama, Marxime,biologisme, rasisme, sekularisme dan humanisme masingmasing mempunyai value yang mereka tawarkan danmemperlihatkan reaksi terhadap agama resmi.Kata kunci: Humanisme religius, humanisme
RELASI SOSIAL ELIT POLITIK DAN SESEPUH DESA MELALUI LANGGAR DI KABUPATEN MALANG Mahatva Yoga Adi Pradana
Jurnal Sosiologi Agama Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.941 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2019.131-07

Abstract

Menjadi elit yang terjun ke dalam kontestasi politik membutuhkan sebuah strategi. Semua ini dilakukan dalam rangka mencari tahu pemetaan suara elit. Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya melalui survey pemetaan. Dengan menentukan indikator sampel, elit akan tahu bagaimana peluang untuk elit bisa menjadi anggota dewan di daerah pilihannya. Pemetaan suara bagi calon merupakan hal yang wajib dilakukan sebelum mereka turun langsung menyapa masyarakat dengan penyampaian bermacam-macam visi misi dan strategi kampanye. Kabupaten Malang merupakan Kabupaten dengan luas wilayah terbesar kedua di Jawa Timur setelah Banyuwangi. Kondisi masyarakat yang di dominasi kultur budaya pedesaan menunjukkan pola pergerakan politik arus bawah yang menarik. Popularitas dan juga kemampuan finansial tidak menjadi indikator utama dalam mendapatkan keterpercayaan masyarakat disana. Dalam tradisi budaya lokal yang dibangun, nilai-nilai lokal masih dipegang teguh sebagai suatu kepercayaan bagi masyarakat. Nilai itu di adopsi sebagai dasar seseorang untuk memberikan suaranya terhadap calon yang ingin maju dalam kontestasi politik salah satunya menggunakan pemetaan langgar. Langgar mempunyai nilai spiritual etik, selain sebuah simbol status sosial di pedesaan. Dimana peran pemilik langgar dalam strategi pemenangan calon tidak bisa dilepaskan begitu saja.. Penelitian ini menunjukkan betapa penting relasi sosial dalam aspek budaya lokal antara elit dan pemilik langgar. Ketika langgar yang merupakan institusi kultural dijadikan sebagai alat pemetaan politik.Kata kunci: Langgar, Pemetaan Politik, Relasi SosialBecoming an elite who engages in political contestation requires a strategy. All this was done in order to find out elite voice mapping. Many ways can be done, one of them through mapping surveys. By determining sample indicators, the elite will know how opportunities for the elite can become council members in their chosen area. Voice mapping for candidates is something that must be done before they go down directly to the public by delivering various vision and mission and campaign strategies. Malang Regency is the regency with the second largest area in East Java after Banyuwangi. The condition of the people who are dominated by rural culture shows an interesting pattern of undercurrent political movements. Popularity and financial capability are not the main indicators in gaining public trust there. In the local cultural traditions that are built, local values are still held firmly as a trust for the community. The value was adopted as the basis for someone to vote for candidates who want to advance in political contestation, one of which uses mapping violations. Langgar has ethical spiritual values, in addition to a symbol of social status in the countryside. Where the role of the owner of the langgar in the candidate winning strategy cannot be released just like that. This research shows how important social relations are in the aspect of local culture between the elite and the owner of the langgar. When langgar which is a cultural institution is used as a political mapping tool.Keywords: Langgar, Political Mapping, Social Relation
MASYARAKAT MUSLIM DI KOREA SELATAN: Studi Tentang Korea Muslim Federation (KMF) Tahun 1967-2015 M Siti Umayyatun
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.124 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-01

Abstract

Artikel ini menjelaskan dinamika masyarakat Muslim di Korea Selatan yang pertumbuhannya dimobilisasi oleh organisasi Korea Muslim Federation (KMF). Statusnya KMF diakui oleh pemerintah Korea bahkan diberi surat izin mendirikan bangunan. Masyarakat Muslim yang diorganisir KMF awalnya benar-benar bagian integral dari bangsa Korea yang menjadi Muallaf bukan karena kedatangan imigran Muslim dari negara-negara Islam. Sejak tahun 1970-an pemerintah Korea membantu KMF dalam perkembangan Islam, memperlakukan masyarakat Muslim atas dasar sama dengan kelompok agama lainnya, tidak mendiskriminasi bahkan membuka pintu lebar-lebar dakwah KMF dengan memberikan sebidang tanah untuk pembangunan masjid dan universitas Islam. Meski Islam agama baru dan minoritas di Korea namun memiliki posisi terhormat dan stategis.Dalam berdakwah organisasi KMF punya misi “berusaha mengubah citra Islam dari kekerasan untuk damai”. Mereka memiliki struktur kepengurusan, diantara Advisory Committee, Korea Muslim Association, Korea Institute of Islamic Culture, Princes Sultan Islamic School, Halal Committe, Haji Committe dan Syariah Committe. Dakwahnya dilakukan dengan cara modern, intens dan damai lewat pendidikan, media massa, internet, budaya, penerjemahan dan publikasi buku-buku Islam ke dalam bahasa Korea. Hasilnya dapat membenai kesalahpahaman informasi Islam, membuat warga non-Muslim Korea akrab dengan budaya Islam, menghilangkan stereotip bahkan membuat populasi Muslim Korea meningkat. Kehadiran minoritas Muslim bisa diterima karena bermanfaat bagi ekonomi perminyakan, perdagangan bahkan bisnis halal dan ekonomi syariah warga non-Muslim Korea. Para diplomat Muslim anggota KMF memiliki hubungan baik dengan pemerintah Korea karena dapat membantu proses diplomasi dengan negara-negara Muslim penghasil minyak dan gas. Kata Kunci : Masyarakat Muslim, Korea Selatan, Korea Muslim Federation (KMF).
Islam di Indonesia atau Islam Indonesia (Studi Pergulatan Definisi dan Jatidiri ) M. Amin Abdullah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.778 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2015.092-01

Abstract

This article seeks to discuss the problem of cultural acculturation, assimilation and adaptation in human life, particularly in its socio-cultural aspect of definition and identity. One of the issues denoted hybrid culture and its relation to the perspective of multiculturalism related to Islam and Indonesia. Queries include how to differentiate either the concept of Islam in Indonesia or Indonesian Islam, the construction of Indonesian Islam and lesson learned from the concept of Indonesian Islam. The study shows that the social and cultural modality served as the ultimate strength of Indonesian Islam. This includes religion and its connection with socio-cultural adaptation. The socio-cultural process bears some significant cultural aspects of literature, local songs, i.e., tembang, and architecture, i.e. joglo. Those cultural instances signified the adaptation agencies among Muslims in Indonesian context. In general, the notion between religion and its adaptation also occurred for some Muslims in the global context and experience.Key words: Identity, Indonesia, Islam, Cultural, Adaptation

Page 7 of 20 | Total Record : 195