cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
danie_saepuloh@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Segara
ISSN : 19070659     EISSN : 24611166     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 191 Documents
Pemetaan Morfologi Dasar Perairan dan Pola Arus Pasang Surut di Teluk Bungus, Kota Padang Guntur adhi rahmawan; Ulung Jantama Wisha
Jurnal Segara Vol 16, No 3 (2020): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.026 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i3.9052

Abstract

Teluk bungus merupakan kawasan teluk yang ada di kawasan pesisir kota Sumatra Barat. Banyak aktifitas kepelabuhanan dan perikanan pada kawasan tersebut seperti pelabuhan penyeberangan, bongkar muat ikan tuna, kapal batubara untuk PLTU, serta beberapa kegiatan pariwisata. Kegiatan tersebut menyebabkan degradasi lingkungan perairan kawasan pesisir, meningkatkan pemanfaatan lahan, menimbulkan berbagai kerusakan ekosistem dan sedimentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola arus dan morfologi  dasar perairan Teluk Bungus. Survei lapangan dilakukan dengan menggunakan alat echosunder single beam dual frequency untuk merekan data batimetri dan pemodelan arus. Kedalaman perairan teluk bungus berkisar antara 0- 28 meter dan termasuk dalam kategori perairan dangkal. Perbedaan morfologi antara channel 1 maupun channel 2 berkisar antara 0,3 sd 1,5 meter tersebar di beberapa titik lokasi. Saat pasang purnama kecepatan arus berkisar antara 0 – 2,15 m/s dengan arah dominan menuju daratan, pada kondisi surut purnama kecepatan arus berkisar antara 0-2,11 m/s. Kecepatan arus saat pasang perbani berkisar antara 0-2 m/s. Pada saat surut perbani kecepatan arus menjadi sangat rendah berkisar 0-0,56 m/s dengan arah dominan menuju barat daya. Karakteristik arus yang lemah saat kondisi perbani cenderung memicu sedimentasi di dalam teluk. Gerakan bolak-balik dari arus pasang surut semidiurnal memiliki peran dalam peningkatan sedimentasi pada beberapa area di dalam teluk.
Marine-Sediment Characteristics and Thickness Over The Eroded Sayung Coast, Demak, Indonesia Wisnu Arya Gemilang; Ulung Jantama Wisha; Guntur Adhi Rahmawan; Koko Ondara
Jurnal Segara Vol 17, No 1 (2021): April
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.458 KB) | DOI: 10.15578/segara.v17i1.9075

Abstract

An over whelming erosion occurred in Sayung waters is related to sedimentary processes. That is why the deeper determination of sediment characteristics through direct survey and acoustic data retrieval is crucial. Several previous related studies had been conducted revealing the rate and model of sedimentation. This study aimed to describe the sedimentary processes according to its features and deposition. In this study, we conducted a grab-sampling, bathymetry surveys and also hydrodynamical model. Grain size analysis was employed to observe the characteristics of sediment and its deposition environment. At the same time, we applied dual-frequency bathymetry data for estimating sediment thickness which reflects the accumulation sediment over Sayung waters. We found that sediment texture varies from sand to clay, while coarse sediment fraction is dominant in the western part. Near the coastline area of Sayung waters reflecting the more potent transport mechanism in the deposition environment, proven by the less-accumulated sediment from 0-2.5 km from the coastline. In sea-ward regions, we observed the finer sediment fraction, showing that the low-transport mechanism takes place. The topographical alteration has intensively occurred at 2.5-3.2 km from the coastline. Tidal current has an essential role in inducing local transport whereby the speed varies ranging from 0-0.14 m/s, other than that, the more substantial current features have observed in Surodadi and Bedono coast moving perpendicularly toward the beach. In contrast, in the southern Sayung waters, the current profiles tend to be weak inducing higher sedimentation. Besides, the emergence of the sandbar has a role in reflecting sediment texture predomination in Sayung waters.
Potensi Simpanan Karbon pada Biomassa Tegakan dan Akar Mangrove di Kawasan Lindung Pantai Pulau Payung, Kabupaten Banyuasin Septi Hermialingga; Rujito Agus Suwignyo; Tengku Zia Ulqodry
Jurnal Segara Vol 16, No 3 (2020): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.131 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i3.9335

Abstract

Mangrove sangat efektif mengurangi karbon di atmosfer yang kemudian disimpan dalam bentuk biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan estimasi simpanan karbon pada tegakan dan akar mangrove. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Februari 2020 di Pulau Payung, Kecamatan Banyuasin menggunakan metode purposive sampling. Perhitungan biomassa mangrove menggunakan metode persamaan allometrik. Hasil estimasi simpanan karbon dari biomassa tegakan dan akar mangrove yang terbesar yaitu jenis mangrove A. alba sedangkan yang terkecil yaitu jenis mangrove X. granatum. Biomassa dan stok karbon tegakan mangrove tiap stasiun yang tertinggi terdapat pada stasiun 2 dan terendah terdapat pada stasiun 6. Tegakan mangrove memiliki nilai rata-rata biomassa dan simpanan karbon yaitu 124,4 ton/ha dan 58,47 tonC/ha. Akar mangrove memiliki nilai rata-rata biomassa dan simpanan karbon yaitu 71,44 ton/ha dan 33,58 tonC/ha.
Geomorfologi Terumbu Karang dan Habitat Bentik Gugusan Pulau Biawak, Indramayu: Integrasi Studi Citra Satelit dan Sedimen Permukaan Tubagus Solihuddin; Dwi Amanda Utami; August Daulat; Agustin Rustam
Jurnal Segara Vol 16, No 3 (2020): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1308.498 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i3.8523

Abstract

Terletak di kawasan perairan Laut Jawa, Gugusan Pulau Biawak saat ini diprioritaskan untuk wilayah konservasi keanekaragaman hayati laut. Deskripsi tentang zona geomorfologi dan habitat bentik terumbu karang serta distribusi sedimen permukaan adalah salah satu informasi penting untuk mendukung kebijakan konservasi, walaupun hal tersebut sering luput dari perhatian para peneliti dan pengambil kebijakan. Studi ini memberikan gambaran geomorfologi terumbu karang dan habitat bentik terkait serta karakteristik sedimen permukaan dari tiga pulau di gugusan Pulau Biawak, Indramayu beserta faktor pengendali dan sifat khususnya melalui studi integrasi citra satelit dan analisis sedimen permukaan. Zona rataan terumbu menunjukkan dominasi endapan pasir dan fragmen koral serta kalkareus alga kecuali di Pulau Biawak banyak ditumbuhi Halimeda. Koloni terumbu karang tumbuh sumbur di zona lereng terumbu pada sisi bagian barat pulau pada kedalaman hingga 5 m. Tekstur sedimen menunjukkan dominasi pasir kasar tanpa pola gradasi seiring dengan perubahan geomorfologi dan habitat bentik. Komposisi sedimen didominasi oleh komponen bioklastik, yang terdiri atas koral dan moluska sebagai dua komponen tertinggi.
Estimasi Kedalaman Perairan Dangkal Menggunakan Citra Satelit Multispektral Sentinel-2A Arip Rahman; Vincentius P. Siregar; James P. Panjaitan
Jurnal Segara Vol 16, No 3 (2020): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.761 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i3.8562

Abstract

Estimasi kedalaman perairan dangkal menggunakan data penginderaan jauh menjadi salah satu alternatif pengukuran kedalaman yang terkendala masalah teknis dan logistik. Ekstraksi kedalaman menggunakan citra Sentinel-2A dilakukan di sekitar perairan Pulau Kemujan Taman Nasional Perairan Karimunjawa Jawa Tengah. Sebanyak 2134 data (1280 data training dan 854 data test) hasil pemeruman digunakan pada saat analisis. Dark Object Substraction (DOS) digunakan pada proses awal pengolahan citra Sentinel 2A untuk menghasilkan citra yang terkoreksi atmosferik. Metode algoritma yang digunakan untuk mengestimasi kedalaman antara lain: linear transform, ratio transform dan support vector machine (SVM). Hasil korelasi antara data prediksi kedalaman dan hasil pemeruman tertinggi dihasilkan dari metode algoritma SVM dengan koefisien determinasi (R2)  0,71 (data training) dan 0,56 (data test). Hasil penilaian akurasi menggunakan nilai Root Mean Square Error (RMSE) dan Mean Absolute Error (MAE), metode algoritma SVM memiliki nilai penyimpangan terkecil (< 1 m). Hal tersebut mengindikasikan bahwa metode algoritma SVM memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua metode lainnya.
Shoreline Change Dynamics using Digital Shoreline Analysis System in Cemara Besar Island Muhammad Ramdhan; Yulius Yulius; Nur Kholik
Jurnal Segara Vol 16, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1883.563 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i2.8360

Abstract

This paper will describe a study to find out the shoreline changes that occurred on Cemara Besar Island along with the accretion and abrasion. Data taken from the images were obtained through google earth as a result of radiometry and geometry correction from Landsat satellites in the last of 5 years. Wind data were obtained from ECMWF (European Centre for Medium-range Weather Forecasts) interm every season for 5 years. Analysis of shoreline changes was carried out using the DSAS (Digital Shoreline Analysis SYSTEM) method and analyzed by wind and sea wave factors involved in each season. The results of the analysis obtained LRR (Linear Regration Rate) and EPR (End Point Rate) values for 5 years, the extent of changes in island land mass, the value of Hs and Ts from the results of wave forecasting using wind data. To simplify the analysis, Cemara Besar Island is divided into 9 segments based on variations in LRR values. The results show that in general Cemara Besar Island have very high accretion rate in segments A, B and E with an average of 3.61 m/year or 5 years and very high abrasion occurred in segment F with an average of -1.01 m. Abrasion occurs with the greatest speed of change in segment A with an average of 4.64 m/year and the largest accretion rate in segment F with an average of -1.21791 m/year. Analysis of oceanographic factors through Wave forecasting data shows that in the west and transition I season, the significant waves height occur with Hs 1.21 m, greater than the eastern season and transition II season with Hs 0.91 m. Dominant wind direction from north (377.50 in west season and transition I, and from east direction (67,25 degre) in east season and transition I season.  Wind-wave propagate according to wind direction and it will be deformed when entering shallow coastal waters. Then affects sediment transport which produces accretion and abrasion on the Cemara Besar Island.
Model Numerik Lintasan Sebaran Larva Karang di Kandidat Lokasi Penempatan Bekas Struktur Anjungan Migas Lepas Pantai (Rig To Reef) R. Bambang Adhitya Nugraha; Heron Surbakti; Agustin Rustam
Jurnal Segara Vol 16, No 3 (2020): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1139.516 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i3.7423

Abstract

Anjungan migas lepas pantai yang sudah dibongkar ketika telah memasuki masa akhir produksinya dapat dimanfaatkan sebagai terumbu karang buatan (artificial reef).  Program ini di beberapa negara dikenal dengan sebutan Rigs-to-Reef (R2R).  Salah satu faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam penempatan struktur rigs untuk terumbu buatan ini adalah konektivitas antara habitat asli sebagai sumber larva karang dan kandidat lokasi agar larva karang dapat menyebar, tumbuh dan berkembang dengan baik. Faktor penting yang mempengaruhi planulasi (pelepasan dan penyebaran larva karang ke laut sekitar) adalah sirkulasi arus laut di lapisan permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat simulasi sebaran larva karang dan memetakan pola konektivitas antara kawasan konservasi Perairan Daerah (KKPD) Bontang (source) dan lokasi baru untuk penempatan struktur rigs (sink).  Sebaran larva karang diperoleh dengan menggunakan pemodelan biofisik untuk mendapatkan skenario rekruitmen dan jejak penyebaran larva.  Pemodelan biofisik digunakan sebagai alat prediksi penyebaran larva untuk menilai konektivitas antar kawasan konservasi dan untuk evaluasi umum dari berbagai faktor yang berperan dalam pergerakan larva.  Simulasi sebaran larva dibuat dengan menggunakan modul Agent Based Modelling (Passive Drifter) menggunakan MIKE 21 FM untuk memprediksi sebaran larva karang di kandidat lokasi.  Simulasi sebaran larva dilakukan di beberapa bulan yang mewakili puncak 4 musim yang berbeda, yakni musim barat (bulan Januari), musim Peralihan I (bulan Mei), musim Timur (bulan Agustus) dan musim Peralihan II (bulan Oktober).  Hasil dari model sebaran larva mengindikasikan bahwa proses penyebaran larva karang di kawasan konservasi Bontang dipengaruhi oleh arus permukaan yang dibangkitkan oleh pasang surut serta variasi angin musiman dan menyebar dengan baik ke kandidat lokasi R2R.
Assessment of Underground Water Quality in Karimunjawa Island, Central Java – Indonesia Joko Prihantono; Yulius Yulius; Semeidi Husrin; Muhammad Ramdhan; Wisnu A. Gemilang
Jurnal Segara Vol 17, No 1 (2021): April
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.261 KB) | DOI: 10.15578/segara.v17i1.9696

Abstract

As a small island and tourist destination, Karimunjawa municipal is need fresh water to support the tourist activity, mainly to supply drinking water. Unfortunately, freshwater on a small island is obtained from groundwater which is very limited and vulnerable to climate change and anthropogenic activities. A groundwater assessment is necessary to receive up-to-date information on groundwater quality, to assess the groundwater feasibility for drinking water, and determine the pollutant source. The assessment was conducted by collected groundwater sampling from dug wells and swamp area in Karimunjawa municipal and then analyzed the samples in the laboratory to obtain the value of Nutrient (NO3-, NO2-, NH3-N); Heavy Metals (Cu, Fe, and Pb); and Salt (TDS, Cl-, Na+). These obtained parameters were compared with the quality standard of the minister of health regulation of the Republic of Indonesia about water quality standards for drinking water. In this study, 14 samples were collected and analyzed. The result shows that nutrient contaminant is low, but some groundwater sample was contaminated by ammonia. Heavy metal is undetectable, but almost all samples are contaminated by salt. Therefore, the groundwater in Karimunjawa municipal experienced seawater intrusion and not feasible to be consumed as drinking water.
Evolution of Subsurface Temperatures in West Sumatra - Southern Java Waters During 2010–2014 Indian Ocean Dipole Events A.R. Khairun Nisa; Ivonne M. Radjawane
Jurnal Segara Vol 17, No 1 (2021): April
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1337.827 KB) | DOI: 10.15578/segara.v17i1.10202

Abstract

The temperature anomaly formation in the West Sumatra and South Java Waters plays an important role in the formation of the Indian Ocean Dipole (IOD). There have not been many detailed studies on the evolution of temperature anomalies in the subsurface layers in the area during the IOD events. In this study, temperature data from the HYCOM were used to examine the evolution of temperature anomalies on the surface and subsurface in the event of negative IOD (nIOD) 2010 and positive IOD (pIOD) 2012). The analysis was done using a cross-section plot and a Hovmöller diagram. It has shown that in the negative IOD 2010, a positive temperature anomaly in the subsurface layer was started four months earlier than the surface layer and ended six months after the IOD event. In contrast to positive IOD 2012, a negative temperature anomaly formed in the surface layer seven months earlier, and then move to the deeper layer coincide with the onset of the positive IOD event. The negative anomaly in both layers was simultaneously over two months after the positive IOD event over. The La-Niña phase that coincides with the positive or negative IOD event, influences the process of forming temperature anomalies in the subsurface layer, which in this case supports (inhibits) the formation of positive (negative) temperature anomalies in negative (positive) IOD event. The temperature anomaly in the subsurface layer can be an alternative indicator in identifying and predicting IOD events.
Identification of Reclamation Area in Ancol of North Jakarta Using Resistivity Method Dino Gunawan Pryambodo; Joko Prihantono; Syaiful Imam; Abdurrahman Wafi; Panganggit Sasmito
Jurnal Segara Vol 17, No 1 (2021): April
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1767.705 KB) | DOI: 10.15578/segara.v17i1.9583

Abstract

The coastal reclamation area is an expansion of coastal areas through technical engineering to develop new land areas. Identification of the reclamation area can be performed by detecting subsurface imaging using the resistivity method. This study used a multi-electrode (multichannel) resistivity imaging method. The resistivity imaging results show a good response of subsurface resistivity and successfully identified reclamation area with low resistivity <27.8 Ωm in almost the study area. Its depth varies from 4 meters to 30 meters. The reclamation results are composed of loose rock that has not been fully compacted, so it has not been well consolidated. As a result, it will experience land subsidence if overload.

Page 11 of 20 | Total Record : 191