cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
danie_saepuloh@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Segara
ISSN : 19070659     EISSN : 24611166     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 191 Documents
Saving Derawan Island from Abration for Marine Tourism Suistainable Dadang Ilham Kurniawan Mujiono; Nurfitriana Pereda Prahara; Kurnianto Rambe Rante; Bella Arisandy
Jurnal Segara Vol 16, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.993 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.7501

Abstract

As an archipelago state, Indonesia globally famous with mega marine biodiversity. This country contributes the most extensive area among six countries under the Coral Triangle area. The area contains almost 600 species of corals and, 76% of total corals worldwide found in the coral triangle. Moreover, 574 of coral species which 72% of total corals globally located in Indonesia, and Raja Ampat hosting the highest biodiversity followed by Derawan Island in East Kalimantan Province. Despite having extraordinary marine biodiversity, Derawan Island experience several environmental issues. One of them is Abrasion. Data collecting are through observation and in-depth interview. The research shows that Derawan Island experienced massive abrasion on the East side of the island due to  housing developments in the South area of the island. As the consequences, the water current which carried the sand from the East and the Westside was stuck in the South area of the island. Therefore, the solutions that can be conducted are: (1) building erosion prevention; (2) coral reef treatment; (3) relocation for people who live on the coastline.
Analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) Dalam Penentuan Jalur Evakuasi, Tempat Evakuasi Sementara (TES) Beserta Kapasitasnya di Kota Pariaman Dini Purbani; Ardiansyah -; Harris M.P; Hadiwijaya Lesmana Salim; Muhammad Ramdhan; Yulius -; Joko Prihantono; Lestari Cendikia Dewi
Jurnal Segara Vol 11, No 1 (2015): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4321.297 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i1.9083

Abstract

Kota Pariaman tahun 2009 mengalami gempabumi dua kali dengan kekuatan gempa (Mw) 7,9 dan 6,2 (USGS, 2009). Dampak yang ditimbulkan terjadi korban jiwa meninggal 46 jiwa, luka berat 64 jiwa dan luka ringan 363  jiwa (BPK - RI 2010).Upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi korban jiwa, pemerintah daerah membuat rute evakuasi menuju TES di lokasi yang aman. Lokasi penelitian berada di Desa Naras Satu, Desa Ampalu, Desa Kampung Baru, Desa Karan Aur, Desa Taluak, Desa Marabau dan Desa Pasir Sunur. Upaya yang dilakukan agar meminimalisasi korban bencana dengan mengevakuasi warga menuju TES  dengan jarak tempuh 270 m yang dapat dicapai dalam waktu 6 menit. Proses analisis SIG menggunakan jaringan jalan (network analysis). Parameter yang digunakan adalah  jaringan jalan dan sebaran rumah penduduk.Dari Hasil analisis SIG dapat diketahui usulan TES berjumlah 39 unit yang berada di Desa Naras Satu sejumlah 8 unit, Desa Ampalu 5 unit, Desa Kampung Baru 11 unit, Desa Karan Aur 7 unit, Desa Taluak 1 unit, Desa Marabau 4 unit dan Desa Pasir Sunur 3 unit. Kelayakan TES yang dapat menampung warga antara lain Kantor lama Walikota Pariaman Karan Aur, Mesjid Pasir Sunur, SDN 5 Marabau, SMPN2 Kampung Baru dan SDN 15 Ampalu.
Reef Geomorphology and Associated Habitats of Karimunjawa Islands, Indonesia: A Spatial Approach to Improve Coastal and Small Islands Management Tubagus Solihuddin; Dwi Amanda Utami; Hadiwijaya Lesmana Salim; Eva Mustikasari
Jurnal Segara Vol 16, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.141 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i2.8385

Abstract

The Karimunjawa Islands are situated in the offshore of Jepara region of Central Java with abundant coastal and marine resources including coral reefs. The reef geomorphology appears typical of fringing reefs worldwide comprising reef flat, reef crest and reef slope. The reef geomorphic profiles are generally gently sloping seaward with slightly raised reef crest along the reef edge. The reefs slope moderately (15-30°) at the upper forereef slope (~5-10 m depth) and tend to drop steeply, sometimes almost vertical, at depths of 10-30 m. The coral communities are found from the intertidal to a depth of about 15 m, with the most vigorous development occurring between 1.5 to 5 m. The reef flats have low coral cover and are extensively covered by a mixture of seagrass beds and carbonate sand. The reef crests, which mark boundaries between reef flat and upper forereef slope, are mainly colonized by mixed Acropora corals, mainly A. Hyacinthus. The forereef slopes have substantial coral growth prevailing mixed branching Acropora, Porites cylindrica and Porites sp. Sediments on the reef flats are mainly bioclastic materials derived from reef-erosion, including coral fragments, mollusks, foraminifera, red algae, Halimeda, Echinodermata, aggregate, quartz, and lithic fragments. Seagrass beds, mainly Enhalus, occur on the inner reef flat and are gradually shifted to macroalgae, predominantly Sargassum. The study provides a basic requirement for fisheries management and environmental monitoring for a mid-Sunda Shelf within a biodiversity “hotspot”.
Struktur Geologi Pulau Nangka, Kabupaten Belitung Timur dan Pemanfaatan Ruang Kepulauan dan Perairan sekitarnya sebagai Sentra Wisata dan Maritim Fajar, YP
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v11i2.9090

Abstract

Pulau Nangka terletak di Selat Karimata  di perairan kawasan timur Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung Indonesia . Pulau ini terbesar di antara 141 pulau di perairan ini dan strategis lokasinya. Menurut hemat kami pulau ini mempunyai potensi untuk mendukung kegiatan kelautan dan perikanan di sekitar perairan Karimata. Kondisi geologi Pulau Nangka amat menarik, karena berbeda litologi dengan umumnya pulau di sekitarnyadan pulau gunung batu tersebut dipenuhi patahan dan rekahan sehingga memberikan keunikan tersendiri. Telaah struktur geologi berdasarkan data lapangan menunjukkan adanya indikasi sesar geser mengiri pada bagian tengah pulau Nangka. Namun, penerusannya kearah laut pada kedua ujung sesar tersebut tidak diketahui. Kondisi alam pulau Nangka dan pulau-pulau di sekitarnya sangat menarik sehingga dapat dimanfaatkan untuk wisata laut dan pantai, untuk tujuan penyelaman, snorkling maupun wisata di hutan mangrove.  Arus laut di sekitar lokasi ini umumnya lemah, namun didapati di beberapa bagian arus kencang, sementara kondisi karangnya bagus. Model pemanfaatan dan pengelolaan ruang Pulau Nangka sebagai kawasan wisata pulau dibahas dalam makalah ini,  kemudian hasilnya diintegrasikan dengan prinsip Penanggulangan Bencana (PB).
Development of A Simple Method for Detecting Mangrove Using Free Open Source Software Anang Dwi Purwanto; Erwin Riyanto Ardli
Jurnal Segara Vol 16, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3940.892 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i2.7512

Abstract

Mangrove forests are becoming attractive natural charms and make everyone to take advantage of the existence of these coastal ecosystems both directly and indirectly. However, the condition of mangrove forests is threatened by their presence due to environmental factors around them. Sustainable mangrove monitoring efforts must always be increased to support the preservation of the mangrove ecosystem. The purpose of this study is to develop a fast and easy mangrove forest identification method based on remote sensing satellite imagery data. The research location chosen was the mangrove area in Segara Anakan, Cilacap. The data image used is Landsat 8 image acquisition on December 3, 2017 with path/row 121/065 obtained from the LAPAN Pustekdata Landsat catalog. The methods used include the Optimum Index Factor (OIF) method for selecting the best channels and the supervised classification method using the Semi-Automatic Classification Plugin (SCP) contained in open source software and provides three algorithm choices for the classification process including Minimum Distance, Maximum Likelihood and Spectral Angle Mapping. The results show the combination of RGB 564 (NIR+SWIR+RED) was the best in the identification of mangrove forests and the Maximum Likelihood classification algorithm was the most optimal in distinguishing mangrove and mangrove classes from both Macro Class and Class levels. The results of the calculation of the area show the mangrove area of 7,037.16 ha. The developed method can produce information on the distribution of mangroves at research sites more quickly, easily, effectively, and efficiently.
Struktur Komunitas Terumbu Karang di Perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur Niken Financia Gusmawati; Candra Dwi Puspita; Herlina Ika Ratnawati
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.947 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.8649

Abstract

Coral reefs are ecosystems with high productivity while being very vulnerable to environmental changes. The oil spill incident in Balikpapan Bay in 2018 still caused damage to the coral reef ecosystem in Tanjung Jumlai, Penajam Paser Utara Regency, East Kalimantan due to the use of dispersants in handling oil spills. Research on the condition of coral reefs is carried out to ensure the sustainability of the benefits of ecosystem products and services provided by coral reef ecosystems to communities around Balikpapan Bay. Coral reef research has been carried out at three transect station locations in the Tanjung Jumlai reef area. This research is aimed to determine the distribution, abundance, and structure of coral reef ecosystems in these waters. The study was conducted in October 2019. Data collection was carried out using the Point Intercept Transect (PIT) method. The results showed that the average percentage of coral cover was 55.7% with a good coral cover category. Substrate covering the bottom of the coral reef ecosystem is dominated by Acropora Tubulate and Acropora Branching from the biotic component, and Dead Coral with Algae and Rubble from the abiotic component. Diversity index value (H') in the waters is categorized as low species richness. This research has been identified only 10 genera in the study area where 9 genera are hard coral species. Similarity Index value (E) included in the medium category and dominance index value (D) belong to the medium category which means that there are no species that are very dominant in the observation area. Water quality at station 1 representing all observation stations shows results that the study area are still appropriate for marine biota according to Minister of Environment Decree 51/2004, except for nitrate content. Sediments also show no trace of hydrocarbons.Coral reefs are ecosystems with high productivity while being very vulnerable to environmental changes. The oil spill incident in Balikpapan Bay in 2018 still caused damage to the coral reef ecosystem in Tanjung Jumlai, Penajam Paser Utara Regency, East Kalimantan due to the use of dispersants in handling oil spills. Research on the condition of coral reefs is carried out to ensure the sustainability of the benefits of ecosystem products and services provided by coral reef ecosystems to communities around Balikpapan Bay. Coral reef research has been carried out at three transect station locations in the Tanjung Jumlai reef area. This research is aimed to determine the distribution, abundance, and structure of coral reef ecosystems in these waters. The study was conducted in October 2019. Data collection was carried out using the Point Intercept Transect (PIT) method. The results showed that the average percentage of coral cover was 55.7% with a good coral cover category. Substrate covering the bottom of the coral reef ecosystem is dominated by Acropora Tubulate and Acropora Branching from the biotic component, and Dead Coral with Algae and Rubble from the abiotic component. Diversity index value (H') in the waters is categorized as low species richness. This research has been identified only 10 genera in the study area where 9 genera are hard coral species. Similarity Index value (E) included in the medium category and dominance index value (D) belong to the medium category which means that there are no species that are very dominant in the observation area. Water quality at station 1 representing all observation stations shows results that the study area are still appropriate for marine biota according to Minister of Environment Decree 51/2004, except for nitrate content. Sediments also show no trace of hydrocarbons.
Fluks Co2 di Perairan Pesisir Timur Pulau Bintan, Propinsi Kepulauan Riau Faridz R. Fachri; Afdal -; A. Sartimbul; N. Hidayati
Jurnal Segara Vol 11, No 1 (2015): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1604.124 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i1.9084

Abstract

Proses pertukaran CO2  yang terjadi antara permukaan air laut dengan atmosfer merupakan aspek yang penting terhadap siklus karbon di samudera. Wilayah pesisir memiliki kontribusi besar dalam proses ini, karena kompleksnya interaksi yang terjadi antara atmosfer, daratan dan lautan. Proses penting dalam dinamika gas CO2 antara atmosfer dan air laut diawali dengan fungsi daya larut CO2 dan kecepatan transfer gas CO2 di permukaan laut atau disebut fluks CO2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena fluks CO2  antara permukaan air laut dengan atmosfer di pesisir timur Pulau Bintan beserta komponen sink dan source-nya, serta mengetahui parameter yang paling dominan terhadap proses tersebut, meliputi parameter fisika-kimia oseanografi, serta parameter sistem CO2 pada kurun waktu 16-18 Maret 2013. Permodelan OCMIP digunakan untuk mengidentifikasi nilai pCO2 air laut dalam penentuan nilai fluks CO2. Hasil analisis menunjukkan secara kesuluruhan perairan pesisir timur Pulau Bintan berperan sebagai penyerap CO2 (sink) dengan  rata-rata  emisi  CO2   dari  atmosfer  yang  masuk  ke  wilayah  permukaan  laut  sebesar  -0,43mmolC/m2/hari.  Analisis  statistik  Principal  Component  Analysis  (PCA)  menunjukkan  parameter  yangdominan terhadap perubahan nilai fluks CO2 adalah salinitas, konsentrasi Dissolved Inorganic Carbon (DIC), pCO2 air laut, serta nilai selisih tekanan parsial CO2 antara air laut dengan atmosfer (ΔpCO2). Kondisi fluks CO2  di pesisir timur Pulau Bintan lebih dipengaruhi oleh variasi musim dan dinamika oseanografi perairan Natuna serta Laut Cina Selatan dibandingkan dengan pengaruh dari daratan.
Struktur dan Kepadatan Vegetasi Mangrove di Teluk Kupang Rusydi -; Ihwan -; Suaedin -
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1546.015 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i2.9091

Abstract

Vegetasi mangrove merupakan komunitas tumbuhan yang hidup di zona pasang surut di sepanjang garis pantai dan dipengaruhi  oleh  kualitas  lingkungan.  Meningkatnya  kebutuhan  manusia  menyebabkan  banyaknya  hutan  mangrove  yang ditebang, diubah untuk berbagai kepentingan seperti pertambakan, pemukiman dan fasilitas–fasilitas pelabuhan.Teluk Kupang memiliki wilayah pesisir yang cukup kaya sumber daya, salah satunya adalah hutan mangrove.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  jenis  dan nilai  kerapatan, frekwensi, dominansi  dan INP mangrove  di Teluk Kupang.  Pengambilan  data menggunakan metode Petak Contoh (Transect Line Plot) dengan menghitung jumlah spesies (pohon, anakan dan semai), jumlah  individu  masing-masing  spesies,    persentase  tutupan,  lingkar  batang  dan  menganalisis  untuk  mendapatkan  nilai kerapatan, frekwensi, dominansi dan INP(Indeks Nilai Penting). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 4 (empat) lokasi pengamatan, ditemukan sebanyak 11 jenis mangrove. Adapun 11 jenis mangrove yang ditemukan adalah; Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Rhizopora stylosa, Burguiera gymnorrhiza, Osbornia octodanta, Avicennia officinalis, Avicennia marina, Scyphiphora  hydrophyllaceae,  Lumnitzera  racemosa,  Sonneratia  alba  dan  Aegiceras  corniculatum.  Jenis  mangrove  yang memiliki indeks nilai penting tertinggi untuk tingkatan pohon yaitu Rhizopora mucronata (INP :299,6) dan terendah adalah Rhizopora stylosa (INP : 18,5), untuk tingkatan pancang/anakan jenis mangrove yang memiliki indeks nilai penting tertinggi sekaligus terendah adalah Rhizopora apiculata (INP : 202 dan 39,62). Sedangkan untuk tingkatan semai, jenis yang memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu Soneratia alba (INP : 174) dan terendah adalah Burguiera gymnorrhiza dan Scyphiphora hydrophyllaceae (INP : 11,80).
Struktur dan Komposisi Tambak Teknologi Ulir Filter untuk Peningkatan Produksi Garam Rakyat Rikha Bramawanto; Sophia L Sagala; Ifan R Suhelmi; Hari Prihatno
Jurnal Segara Vol 11, No 1 (2015): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2105.103 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i1.9079

Abstract

Prinsip utama dalam pembuatan garam teknologi ulir filter adalah evaporasi air laut dengan bantuan sinar matahari melalui pengaliran air pada petakan-petakan berseri dalam proses penuaannya dan penambahan material alam yang berperan sebagai filter. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kondisi struktur dan komposisi lahan tambak garam TUF sebagai teknologi alternatif yang dapat meningkatkan produksi garam rakyat. Survei, pengukuran secara langsung, pengamatan fisik dan wawancara telah dilakukan di tambak garam rakyat di Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Data dan hasil pengamatan yang diperoleh kemudian diolah menggunakan sistem informasi geografis dan dianalisis serta dibandingkan dengan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tambak garam TUF dilakukan modifikasi lahan yaitu membuat petakan-petakan memanjang berseri dalam satu kolam kondenser (ulir) dan memperdalam kolam reservoir. Modifikasi pada kolam kondenser mempermudah petambak dalam mengendalikan aliran brine dan memantau kenaikan densitasnya. Diketahui juga bahwa percepatan evaporasi brine pada sistem ini diperoleh dengan menambah pematang tanah. Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa pematang yang bersifat konduktor panas ini terdedah radiasi matahari sebesar 112 % untuk ulir besar dan 135 % untuk ulir kecil. Sedangkan modifikasi pada kolam reservoir menghasilkan efisiensi pemanfaatan lahan, dari proporsi 28% terhadap total luas tambak menjadi 75% terhadap total volume tambak. Perubahan struktur dan komposisi tersebut meningkatkan produksi garam hingga mencapai ± 200 ton/ha per musim panen.
Perubahan Spasial dan Temporal Luas Wilayah untuk Pengembangan Wisata Bahari di Bagaian Barat Pulau Gili Ketapang Probolinggo Jawa Timur Dino Gunawan Pryambodo; Muhamad Hasanudun; Edi kusmanto; Nasir Sudirman
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2632.137 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.8648

Abstract

Pulau Gili Ketapang yang berpenduduk padat, dengan kepadatan mencapai 12.356 jiwa/ km2 dan mempunyai luasan sebesar 68 hektar atau 0,68 km2 termasuk katagori pulau kecil. Dengan adanya Perda Kab. Probolinggo no15 th.2001 menjadika Pulau Gili Ketapang menjadi salah satu destinasi wisata bahari di Kab.Probolinggo, pesona pasir putih di barat wilayah dari Pulau Gili Ketapang yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Perubahan luasan wilayah hamparan pasir putih tersebut akan mengurangi wilayah hamparan pasir putih tersebut karena kehilangan hamparan pasir tersebut akan mengurangi keragaman destinasi wisata. Metoda penelitian menggunakan google earth image digunakan sebagai sumber masukan utama untuk membuat peta perubahan wilayah selain penelitian lapangan yang berupa pengukuran garis pantai, batimetri dan pola arus di wilayah perairan Gili Ketapang. Dari data citra Satelit dari tahun 2004 sampai tahun 2018 terjadi penyusutan luas wilayah untuk pasir putih di Barat Pulau Gili Ketapang sebesar 0.288 Ha. Batimetri Perairan Gili Ketapang secara umum memiliki kedalaman terukur antara 0-34 meter, Daerah terdalam terdapat disebelah utara Pulau Gili Ketapang dengan jarak sekitar 1.700 m. Sebelah Barat dari Pulau Gili Ketapang memiliki dasar laut yang agak dangkal kurang dari 20 m sehingga sangat cocok untuk dikembangkan menjadi daerah wisata bahari.

Page 9 of 20 | Total Record : 191