cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
danie_saepuloh@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Segara
ISSN : 19070659     EISSN : 24611166     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 191 Documents
The Assessment Of Sediment Contamination Level In The Lampung Bay, Indonesia: Heavy Metal Perspective Fitri Budiyanto; Lestari -
Jurnal Segara Vol 11, No 1 (2015): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.431 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i1.9085

Abstract

The potency and utilization of Lampung Bay has been recognized for their socio-economical and ecological values. However, heavy use of this Bay may alter the abundance of hazardous chemical like heavy metals. The aims of this study were to determine the concentration of Cd, Cu, Pb and Zn in the sediment and to assess Lampung Bay water condition. The observation of heavy metal content in sediment of Lampung Bay was conducted at 13 stations in March 2008. Analysis of heavy metals in sediment was conducted using three kinds of acid: HNO3, HCl and H2O2 while measurement was carried out by Atomic Absorption Spectrophotometer. The result indicated a variation of heavy metal concentration in sediment and that concentrations of Cd, Cu, Pb and Zn in sediment were 0.08 mg/kg dry weight, 22.99 mg/kg dry weight, 24.75 mg/kg dry weight and 118.48 mg/kg dry weight, respectively. Factors influenced heavy metal concentration in sediment in this study including the distance between sampling location and anthropogenic activities and the sediment fraction  SQG-Q index indicated that 7 stations have SQG-Q ≤ 0.1 whereas other 6 stations have 0.1≤ SQG-Q <1, meaning that more than half sampling stations are in uncontaminated state.  
Skenario Tsunami Menggunakan Data Parameter Gempabumi Berdasarkan Kondisi Batimetri (Studi Kasus : Gempabumi Maluku 28 Januari 2004 ) Robby Wallansha; Wiko Setyonegoro
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.947 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i2.9094

Abstract

Maluku merupakan salah satu daerah di timur Indonesia yang memiliki potensi tsunami yang cukup tinggi, ini dibuktikan dengan lebih dari 25 kejadian tsunami yang terekam di daerah Maluku dari tahun 1629 – 2006 (katalog database tsunami online Gusiakov (2005), Puspito (2007) dan Katalog Gempa Merusak dan Tsunami BMKG), tsunami yang terbesar terjadi pada tanggal 17 Pebruari 1674 yang menewaskan lebih dari 2900 orang dengan run-up hingga mencapai 80 meter dan menghancurkan kota Ambon dan juga pada tanggal 12 Oktober 1899 yang menenggelamkan kota Amahai di Pulau Seram dengan korban tewas mencapai 4000 orang. Oleh karena itu perlu dilakukan pembuatan skenario tsunami untuk mendapatkan kemungkinan tinggi run-up yang bersumber di daerah perairan Maluku dengan menggunakan software Tsunami L-2008. Berdasarkan Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak 1821 – 2009 yang dikeluarkan BMKG, bahwa pada tanggal 28 Januari 2004 telah terjadi gempabumi di Maluku mengakibatkan tsunami yang terobservasi di Namlea, dengan epicenter 3,110 LS – 127,300 BT dengan kekuatan Mw = 6,6 SR. Dalam pembuatan skenario tsunami dalam penelitian ini dengan merubah nilai magnituda gempabumi (Mw=7,0 SR, Mw=7,5 SR. Mw=8,0 SR) berdasarkan referensi setelah itu menggunakan hubungan rumusan empiris dari Hanks and Kanamori untuk mendapatkan nilai slip (m) sekaligus membuat beberapa kombinasi skenario tsunamidengan mempertahankan nilai momen seismik dan merubah nilai luas fault dan slip (m), untuk momen seismik didapatkan berdasarkan rumusan empiris dari Wells and Coppersmith (1994) sedangkan untuk luas fault berdasarkan rumusan empiris dari  Papazachos et al (2004) dengan mengasumsikan bahwa luas fault berbentuk persegi panjang. Dari sebelas skenario tsunami yang dibuat dari setiap magnituda gempabumi diperoleh tinggi run-up tertinggi untuk Mw=7,0 SR yaitu dengan tinggi 0,59 m di daerah Huamual sedangkan terendah di daerah Latuhalat dengan tinggi run-up 0,09 m, untuk Mw = 7,5 SR diperoleh tinggi run-up tertinggi mencapai 2,73 m di Huamual dan terendah 0,36 di Latuhalat, dan untuk Mw = 8,0 SR didapatkan tinggi run-up tertinggi hingga 8,19 m di Huamual dan terendah di Latuhalat dengan tinggi run-up 0,94 m.
Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii di Perairan Tarakan dengan Faktor Pembatas Variabilitas ENSO dan Musim Evie Avianti; Nani Hendiarti; Tuty Handayani
Jurnal Segara Vol 11, No 1 (2015): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4121.19 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i1.9080

Abstract

Satelit inderaja oseanografi Aqua MODIS dan altimetri digunakan untuk mempelajari perubahan parameter lingkungan perairan Tarakan (suhu, klorofil-a, arus permukaan) terhadap variabilitas ENSO dan Musim, agar diperoleh pemahaman dinamika oseanografi selama perioda El Nino (Desember 2008, Januari-Februari 2009), La Nina (September-Oktober-November 2010), dan Normal ((Mei-Juni-Juli 2012), Musim Barat (Desember, Januari, Februari selama 2008, 2009, 2010, 2012), dan Timur (Juni, Juli Agustus selama 2009, 2010, 2012). Analisis kesesuaian lahan budidaya Eucheuma cottonii menggunakan pengukuran langsung pada 11 titik sampling tgl. 11 Juli 2013 di perairan pantai Amal dan Mamburungan, dan P. Sadau dengan parameter suhu, salinitas, kecerahan, turbiditas, kimia keasaman, nitrat, fosfat, kalium. Hasil penelitian menunjukkan faktor lingkungan sangat dipengaruhi variabilitas ENSO dan Musim. Perairan timur Tarakan memiliki tingkat kesesuaian lebih tinggi daripada bagian barat. Arus Lintas Indonesia mempengaruhi transfer massa air dari kolam panas Pasifik Barat memasuki perairan Tarakan. Pada perioda El Nino dan Musim Timur perairan Tarakan timur memiliki tingkat kesesuaian tinggi dan selama La Nina dan Musim Barat tingkat kesesuaian tinggi berpindah ke utara perairan Tarakan. Analisis kesesuaian lahan budidaya dengan metoda scoring dan pembobotan menunjukkan perairan sekitar pantai Amal sampai selatan memiliki kesesuaian paling tinggi dan pantai Mamburungan dan P. Sadau dengan kesesuian sedang. Analisis tingkat kesesuaian di perairan Tarakan menggunakan data satelit inderaja memberikan informasi pada perioda El Nino berada di pantai Amal dan Tanjung Simaya, perioda La Nina di Tanjung Simaya dan Juata, perioda Normal di Tanjung Binalatung dan Simaya, Musim Barat di Tanjung Simaya dan Juata, dan Musim Timur di pantai Amal dan Tanjung Selayang. 
Penentuan Daya Dukung Lingkungan dan Faktor Pembatasnya di Tambak Kecamatan Tabalar dan Biatan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur Andi Akhmad Mustafa; hasnawi hasnawi; Erna Ratnawati; A.Indra Jaya Asaad
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.764 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.7983

Abstract

Daya dukung dan faktor pembatasnya memiliki pengaruh penting terhadap keberhasilan kegiatan akuakultur, termasuk tambak di Kabupaten Berau.  Oleh karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan daya dukung lingkungan dan faktor pembatasnya di tambak Kecamatan Tabalar dan Biatan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur agar produktivitas tambak dapat ditingkatkan dan berkelanjutan.  Faktor yang dipertimbangkan dalam analisis daya dukung lingkungan dan faktor pembatasnyaadalah  topografi dan hidrologi, kualitas tanah, kualitas air, dan iklim. Penentuan daya dukung lingkungan dengan sistem pembobotan yang  mengacu pada modifikasi Poernomo (1992) diaplikasikan dalam penelitian ini.   Faktor pembatas daya dukung lingkungan ditentukan dengan mengembangkan pendapat dari Sys et al. (1993). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan di kawasan pertambakan di Kecamatan Tabalar dan Biatan adalah masing-masing 67,36 dan 65,84%, sehingga luas tambak yang dapat didukung berturut-turut: 533,95 dan 38,50 ha.  Di Kecamatan Tabalar dan Biatan didapatkan faktor pembatas sedang  dari daya dukung lingkungan tambak berupa ∆ pH (pHF-pHFOX) tanah, C organik tanah,  N-total tanah, dan bahan organik total air,  sedangkan faktor pembatas berat berupa PO4  air, NH3 air, dan bulan kering. Untuk mengurangi faktor pembatas sehingga meningkatkan daya dukung lingkungan tambak disarankan untuk menerapkan konservasi lahan, meningkatkan kesuburan tanah, dan mengelola air secara tepat.
Pola dan Karakteristik Arus Laut pada Berbagai Kedalaman Di Selat Badung, Bali Tonny Adam Theoyana; Widodo Setiyo Pranowo; Anastasia Rita Tisiana Dwi Kuswardani; Purwanto -
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2333.114 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i2.9086

Abstract

Selat Badung merupakan percabangan outlet dari Selat Lombok yang berada di antara Pulau Bali dan Pulau Nusa Penida. Kecepatan arus di Selat Badung berkisar dari 0,2 cm/s - 204,3 cm/s. Kajian arus di lokasi ini diperlukan untuk mengetahui pola dan karakteristik arus berdasarkan komponen harmonik pasang surut. Pengukuran data di perairan lokasi penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2014 - 5 Juli 2014 dengan interval perekaman 30 menit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan software Matlab dengan toolbox t_tide yang dapat memisahkan data arus perekaman menjadi data arus harmonik dan non-harmonik dengan mengeluarkan komponen pasang surut yang berpengaruh terhadap keberlangsungan arus harmoniknya. Ketiga data arus ini akan dianalisis untuk mengetahui pola dan karakteristiknya. Berdasarkan hasil penelitian, pola arus didominasi oleh arus non harmonik ke arah tenggara. Komponen harmonik yang berpengaruh besar pada lokasi tersebut adalah Msf, M2 dan S2.
Analisis Kesesuaian Perairan untuk Budi daya Rumput Laut Menggunakan Multidimensional Scaling (MDS) Permana Ari Soejarwo; Thonas Indra Maryanto
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1526.983 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.6424

Abstract

Penilaian kesesuaian perairan dalam mendukung kegiatan budidaya rumput laut salah satunya dipengaruhi oleh parameter kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kesesuaian perairan dalam mendukung kegiatan budidaya rumput laut dengan pendekatan Multidimensional Scaling. Hal ini diharapkan akan diperoleh tingkat kesesuaian perairan serta parameter kualitas perairan yang paling dominan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas perairan di Pulau Panjang dalam mendukung kegiatan budidaya rumput laut yaitu cukup sesuai dengan nilai berkisar antara 58-68. Parameter kualitas perairan yang paling dominan yaitu fosfat dengan nilai perubahan RMS 6,376. Penelitian ini menunjukkan bahwa dominannya kandungan fosfat di wilayah perairan Pulau Panjang merupakan indikator terjadinya pencemaran yang bersumber dari limbah domestik yang diduga berasal dari kegiatan pertanian, peternakan serta limbah rumah tangga. Namun demikian tingkat kesesuaian perairan di Pulau Panjang apabila dikelola dengan baik atau mendapatkan perhatian yang lebih dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan budidaya rumput laut, maka dapat berpengaruh terhadap tingkat kesesuaian perairan. Sehingga kualitas perairan di Pulau Panjang dapat mengalami pergeseran kearah sesuai.
The Effectiveness of Artificial Reefs in Improving Ecosystem Health to Increase Coral Reef Resilience Reny Puspasari; Ngurah Nyoman Wiadnyana; Sri Turni Hartati; Rita Rachmawati; Yunaldi Yahya
Jurnal Segara Vol 16, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.982 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i2.9093

Abstract

Some coral bleaching phenomena related to climate variability (ENSO or IOD) lead to coral mortality resulting in ecosystem damage and decreased ecosystem health.  The artificial reef is one of the management efforts adopted by stakeholders to restore coral reef conditions. Thriving artificial reefs could extend coral coverage and provide a new habitat for several marine organisms and divert anthropogenic pressure on natural coral ecosystems. The current research aims to identify the impact of artificial reef installment on ecosystems and fisheries. Three indicators for health coral reef ecosystems were determined: increased coral cover, biofouling organism, and fish abundance and diversity. An index to measure the artificial reef impacts on fisheries is fish production after installment.  Data collection was done in 2017 in around Bali area, including the occurrence of coral bleaching, the number of artificial reefs installed, and the case of positive impacts of artificial reefs.  The data were analyzed to measure any changes that occurred after the artificial reef installment.  The results show that an artificial reef installment has a significant impact on increasing coral cover, fouling organisms, and fish abundance and species richness.  The new community structure development varies among the artificial reef depend on the environmental condition.  However, the impact of artificial reef installment could not be directly quantified on fish production due to unavailability monitoring data.
Abrasi dan Akresi Berdasarkan Longshore Sediment Transport dan Perubahan Garis Pantai: Studi Kasus Pantai Pulau Cemara Besar, Karimunjawa Yulius Yulius; Nur Kholik Kurniana Putra; Muhammad Ramdhan; Baskoro Rochaddi
Jurnal Segara Vol 16, No 3 (2020): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2724.896 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i3.9309

Abstract

Pulau Cemara Besar merupakan pulau yang direncakan menjadi kawasan ekowisata bahari di Kepulauan Karimun Jawa menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan. Oleh karenanya analisis geologi dan oseanigrafi pesisir diperlukan untuk pengambilan keputusan. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji transport sedimen sejajar pantai dan garis pantai yang diakibatkannya. Perubahan garis pantai diperoleh dari analisis DSAS menggunakan citra Sentinel 2A selama tahun 2016 – 2020 dan tracking garis pantai menggunakan GPS geodetic pada Maret 2020. Parameter inputan transport sedimen sejajar pantai diperoleh dari data model reanalysis ERA-5 yang selanjutnya dilakukan peramalan gelombang dengan metode SMB dan analisis gelombang representatif. Ukuran butir sedimen diambil di sepanjang pantai sebanyak 14 titik dan dilakukan analisis granulometri untuk mengetahui besar d50 sedimen. Trasnport sedimen sejajar pantai diprediksi menggunakan persamaan empiris dari CERC, Walton Jr, dan Kamphuis. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa transport sedimen sejajar pantai menyebabkan abrasi di ekor pulau sebelah timur dan pangkal pulau selatan serta akresi di ekor pulau utara dan pangkal pulau sebelah timur yang dicirikan dengan adanya perubahan garis pantai di lokasi tersebut. Analisis regresi linier menunjukan laju LST di sepanjang pantai berpengaruh sebesar 13.83% terhadap perubahan garis pantai.
Effectivity of Normal Concrete and Clamshell as Materials of Artificial Pyramid Reef at Pasir Putih Beach, Situbondo - Indonesia Rudhy Akhwady; Muhammad Akhyar Maududi; Dwi Chandra Dewi; Oktiyas Muzaky Luthfi
Jurnal Segara Vol 17, No 1 (2021): April
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.526 KB) | DOI: 10.15578/segara.v17i1.8247

Abstract

The bivalve anadara grandis is one of the most abundant shells which are easy to find in Indonesian waters. The number of clams consumed is directly proportional to the amount of clamshell waste, which the most part is only disposed into waste. Coral reef has a very important purpose in supporting activities in coastal areas. Artificial reef is a structure that has aim to restore the biological purpose coral reef that have been damaged. This study aims to compare the effectiveness of the use of normal concrete (made from sand, cement dan splits only) than clamshell mixture as materials of artificial reef.  A field research was conducted in Pasir Putih, Situbondo, with visual descriptive method (transect with a quadrant of 25 x 25cm) and underwater camera as an aid to facilitate the observation. During the 4-month observation of the drowning, nine types of biotas were found in attaching, with the dominant biota attached to these artificial reef were bivalves, barnacles, and bryozoan. Results show that the total number and density of calcareous biota attached on clamshell concretes are higher than those of standard concretes. So, it could be concluded that the concrete reefs made of clamshells resulted in attachment of biota slightly higher than it of normal concretes and the benefits of both materials can form the coral reef ecosystem well. In particular, the use of artificial reef with a mixture of clamshells is better than normal concrete because its more effective for algae attachment and cheaper because  low budget due to the material availability of clamshell presently as damage and wastes in coastal area.
Hydrodynamics Sabang Bay and Its Influence on Near Shore Sediment Transport, Weh Island, Indonesia Ulung Jantama Wisha; Ilham Ilham
Jurnal Segara Vol 16, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1099.188 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i2.8980

Abstract

Sabang Bay is one of the significant areas in Weh Island that becomes a center of marine tourism. Recently, massive urban development in coastal areas impacts on the increase of marine pollution and sedimentation issues within the bay. This study aimed to determine tidal current patterns and their influence on evoking sedimentation within the bay. An Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) was installed within the bay for 30 days, which recorded surface elevation, waves, and sea currents. The numerical hydrodynamic model was developed to figure tidal current features out, validated using field observation data. Sediment transport along the coast was determined by comparing the sediment transport and wave energy component in the form of flux equation. Tidal current speed ranging from 0-0.2 m/s moves predominantly southeastward and northwestward during flood and ebb tides, respectively. Significant wave height (Hs) ranges from 0.18-1 m with a period span of 3.5 seconds propagates toward within the bay, resulting in enhanced sedimentation within the gulf caused by the wave-induced scour and turbulence. Sediment budget transported within the bay reaches 1,586.18 m3/year proving that the sediment movement remarkably occurs within the bay wherein the concentration of suspended sediment ranges from 5-35 mg/L and 2-25 mg/L during the high tidal and low tidal conditions, respectively. Scour and turbulence events induced by internal solitary waves generated from the Andaman Sea result in increased coarse-sized sediment deposition when the flood tide occurs. While, during ebb tide, the widespread distribution of suspended sediment will occur over the bay.  

Page 10 of 20 | Total Record : 191