cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 140 Documents
Search results for , issue "2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015" : 140 Documents clear
PROFIL PENGUASAAN MATERI BOLA LANGIT DAN TATA KOORDINAT PADA GURU-GURU SMA DI KABUPATEN BULELENG Ni Made Pujani
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil analisis situasi di Kabupaten Buleleng menemukan bahwa guru Astronomi yang mengajar di sekolah menengah yang ada di wilayah Kabupaten Buleleng masih banyak yang belum sesuai kualifikasinya dengan bidang tugasnya. Oleh karena itu perlu diadakan kegiatan re-freshing program dalam upaya peningkatan kualitas penguasaan materi Astronomi. Mengingat cakupan materi Astronomi relatif luas, dalam kegiatan P2M ini, refreshing program dibatasi pada materi bola langit dan tata koordinat bagi guru-guru SMA di Kabupaten Buleleng untuk mengantisipasi rendahnya prestasi belajar siswa dalam bidang astronomi serta sebagai persiapan menuju olimpiade Astronom. Realisasi kegiatan dilakukan dengan memberikan penyegaran materi dan pelatihan penyelesaian soal-soal olimpiade Astronomi, bertempat di FMIPA Universitas Pendidikan Ganesha. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa secara umum pelaksanaan pelatihan berjalan baik. Tingkat penguasaan guru dalam bidang bola langit dan tatakoordinat meningkat sebesar 3,2 poin setelah pelatihan (rata-rata pretest = 4,1 kategori kurang dan rata-rata posttest = 7,3 kategori baik). Respon peserta terhadap pelatihan yang dilaksanakan adalah positif dan guru-guru sangat antusias mengikuti pelatihan hingga selesai. Kendala yang ditemui dalam pelaksanaan pelatihan adalah tinggkat kesukaran soal olimpiade relatif sulit sehingga diperlukan waktu lebih banyak dalam pembahasan soal.Kata Kunci: astronomi, bola langit, tata koordinati, guru SMAAbstract Results of the analysis of the situation in Buleleng found that the Astronomy teacher who taught high school in the district of Buleleng are still many who have not appropriate qualifications in their respective sectors. Therefore it is necessary to re-freshing program activities in order to improve the quality of mastery of Astronomy. Given the relatively wide range of material Astronomy, in the activities of this P2M, refreshing program is limited to the material and the celestial sphere coordinate system for high school teachers in Buleleng to anticipate low student achievement in the field of astronomy as well as preparation for the Olympiad Astronomers. The realization of the activities carried out by giving refresher training materials and settlement issues Astronomy Olympiad, held at the State University of Ganesha Education. Activity results showed that the general implementation of the training went well. Teacher mastery level in the field of celestial globes and coordinate system increased by 3.2 points after training (average pretest = 4.1 category are less and the average posttest good category = 7.3). The response of participants towards training that carried out is positive and the teachers are very enthusiastic attend training through to completion. Obstacles encountered in the implementation of the training is the difficulty level of olympics question relatively difficult, so it takes a lot more in discussions question.Keywords: astronomy, celestial globes, koordinati system, a high school teacher
MODEL MENTAL IKATAN KIMIA SISWA KELAS X SETELAH PEMBELAJARAN DENGAN STRATEGI SiMaYang Sunyono Sunyono; Tasviri Efkar
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model mental siswa pada penelitian ini dibangun melalui pembelajaran dengan model berbasis multipel representasi atau disebut sebagai model pembelajaran SiMaYang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan melalui Cluster random sampling dengan subyek penelitian diambil dari siswa SMA di Provinsi Lampung Indonesia. Jumlah sampel yang dipilih sebanyak dua kelas dari siswa kelas 10 dan secara keseluruhan jumlah siswa yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 76 orang. Model mental siswa diukur melalui tes materi Ikatan Kimia dalam bentuk essay. Tes ini adalah tes pemecahan masalah secara kreatif untuk melihat kemampuan imajinasi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sebelum pembelajaran, kemampuan imajinasi kreatif siswa sangat rendah, sehingga kemampuan siswa untuk memahami gambar visual (tingkat sub-mikroskopis) menjadi lebih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh kemampuan model mental dalam menyelesaikan masalah ikatan kimia masih berada pada level intermediet-1; (2) setelah belajar dengan menggunakan strategi SiMaYang, kemampuan model mental siswa dalam memecahkan masalah ikatan kimia menjadi lebih tinggi, dan berada pada level intermediet- 3. Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran SiMaYang dapat menjadi strategi alternatif dalam pengajaran kimia untuk memecahkan masalah secara kreatif, khususnya konsep-konsep abstrak yang berkaitan dengan fenomena sub-mikroskopik, makroskopik dan simbolik.Kata Kunci: Multipel Representasi, Model Mental, Strategi SiMaYangABSTRACTMental models of the students in this study was built through model-based learning with multiple representations or referred to as a learning strategy of SiMaYang. The samples in this study was conducted through random cluster sampling with the study subjects were taken from a high school student in Lampung Province. The selected number of samples as many as two classes of students grade 10 and students involved in this study as 76 people. Mental models of the students is measured through tests in the form of an essay. This test is a test of creative problem solving to look at the ability of the student's imagination. The results showed that (1) before the learning, the ability of the creative imagination of students is very low, so that the student's ability to comprehend visual images (sub-micro level) becomes lower. This is demonstrated by the ability of mental models in problems solving of chemical bonding is still at the level of intermediate-1; (2) After learning by using SiMaYang strategies, mental models abilities of students becomes higher, which is located at the level of intermediate-3. These findings indicate that learning of SiMaYang could been alternative strategies in the teaching of chemistry to solve problems creatively, particularly concepts related to the phenomenon of sub-microscopic, macroscopic and symbolic.Keywords: Multipel Representation, Mental Model, SiMaYang Strategy
PROFILE KIT PRAKTIKUM KIMIA BERWAWASAN LINGKUNGAN UNTUK MENUNJANGLABORATORIUM KIMIA RAMAH LINGKUNGAN (GREEN CHEMISTRY LABORATORY) I Ketut Lasia; I Ketut Budiada
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui profile kit praktikum kimia berwawasan lingkungan, dan menganalisis penerapannya. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan model penelitian dan pengembangan pendidikan, meliputi need assessment, perancangan produk, uji validitas pakar, dan uji coba skala terbatas. Uji validitas pakar dilakukan melalui angket dan dianalisis dengan teknik Gregori. Sedangkan uji skala terbatas dilakukan terhadap 30 mahasiswa semester V Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Undiksha. Pendapat responden terhadap produk diperoleh melalui angket dan dianalisis dengan memprosentasekan setiap pernyataan pada angket. Hasil penelitian menunjukkan profil kit praktikum kimia berwawasan lingkungan adalah wadah terbuat dari plastic dengan dimensi 25 cm x 20 cm x 5 cm. Bagian tengah kit adalah alas diisi gabus tempat bahan yang telah terikat, diatasnya diisi alat yang diperlukan dalam setiap judul. Antara alat dan bahan dibatasi gabus dan diatas alat diisi gabus. Kit memiliki massa ± 0.5kg. Sedangkan uji validitas pakar menunjukkan 90% untuk prosedur praktikum kimia berwawasan lingkungan dan 80% kit kimia berwawasan lingkungan. Uji skala terbatas prosedur praktikum kimia berwawasan lingkungan, responden menyatakan 96,8% telah sesuai dan 3,2% tidak sesuai. Sedangkan uji kit praktikum kimia berwawasan lingkungan menunjukkkan respon responden 95,6% menyatakan kit praktikum kimia berwawasan lingkungan baik dan 4,4% menyatakan tidak baik.Kata-kata kunci: kit praktikum kimia, laboratorium, ramah lingkunganAbstractThis research aims to identify of profile kit chemistry lab environmentally and analyze their application. To achieve these objectives used models of education research and development, including needs assessment, product design, test the validity of experts, and limited scale trial. Test the validity of experts conducted through a questionnaire and analyzed by Gregori. While the limited scale test conducted on 30 students of the fifth semester of Education Department of Chemistry Undiksha. Opinions of respondents on the tested products obtained through a questionnaire and analyzed by percentage of opinion in each statement. The results showed profile of environmental chemistry lab kit is a container made of plastic with dimensions of 25 cm x 20 cm x 5 cm. Overview of mid kit is filled cork pad where the material has been bound, above filled the necessary tools in each title. Among the tools and materials are restricted cork and cork filled above tools. Kit has a mass ± 0.5kg. While the validity of the test showed 90% of experts for environmental chemistry lab procedures and 80% of chemical kits environmentally Limited scale test procedure environmental chemistry lab, respondents said 96.8% compliance and 3.2% did not fit. While the test kit environmental chemistry lab, indicating 95.6% of respondents stated response kit chemistry lab environmentally good and 4.4% said it was not good.Key words: chemistry lab kits, laboratory, environmentally
PENERAPAN TEKNIK MIND MAPPING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA I Wayan Sarya
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah apakah penerapan Mind Mapping dapat meningkatkan Hasil belajar IPA siswa kelas VIIIE Semester 1tahun pelajaran 2015/2016? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan subyek penelitian siswa kelas VIIIE pada semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 29 orang.Data awal Hasil belajar IPA pada pra siklus diperoleh dengan rata-rata 57,93 menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPA masih sangat rendah mengingat kriteria ketuntasan belajar siswa untuk mata pelajaran ini adalah 65. Hasil ini mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 62,41 dan pada siklus II 71,90. Dengan telah tercapainya rata-rata Hasil belajar IPA 71,90 berarti sudah diatas taraf keberhasilan yang ditetapkan yaitu 65, sehingga tindakan dianggap berhasil. Dari segi ketuntasan, diperoleh peningkatan yaitu pra siklus 17%, siklus I 55%, dan siklus II 90%. Dengan tercapainya prosentase ketuntasan pada siklus II 90%, telah melampaui taraf keberhasilan yang ditetapkan yaitu 85%, sehingga tindakan dianggap berhasil. Hal ini disebabkan karena model pembelajaran Mind mapping merupakan cara yang paling mudah untuk memasukan informasi ke dalam otak dan untuk kembali mengambil informasi dari dalam otak melalui proses berfikir otak secara teratur karena menggunakan teknik grafis yang berasal dari pemikiran manusia yang bermanfaat untuk menyediakan kunci-kunci universal sehingga membuka potensi otak sehingga Hasil belajarnya meningkat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Penerapan teknik Mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VIIIE semester 1 SMP N 1 Manggis tahun pelajaran 2015/2016.Kata Kunci : Hasil Belajar, teknik Mind mapping
PENGEMBANGAN STARTEGI PELIBATAN SISWA MEMBUAT RANCANGAN INVESTIGASI DALAM PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK I B N Sudria
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangkan strategi pelibatan siswa dalam membuat rancangan investigasi merupakan bagian dari penelitian dan pengembangan perangkat pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Strategi itu bertujuan untuk mengatasi hambatan keterbatasan alokasi waktu 90 menit tatap muka di kelas dan teknis terutama dalam melibatkan siswa sendiri membuat rancangan investigasi yang semestinya dihasilkan pada tiga langkah awal dari lima tahapan utama kegiatan belajar dengan pendekatan saintifik. Strategi melibatkan (1) penggunaan LKS yang menghadirkan paragraf fenomena pengantar objek belajar dan tugas-tugas yang jelas pada siswa dan relevan dengan sitiap tahapan dari kelima tahapan belajar investigatif; (2) penugasan siswa membuat draf rancangan investigasi di rumah (yang diberitahukan pada penutupan pemblajaran pertemuan sebelumnya) dengan menulis jawaban dari tugas-tugas untuk tiga tahapan utama awal kegiatan belajar investigatif yaitu menuliskan informasi penting dalam paragraf pengantar objek belajar yang mengarahkan pada rumusan masalah investigatif, rumusan masalah yang sesuai dengan hasil observasi, dan rancangan pengumpulan data yang meliputi hipotesis, desain validasi hipotesis, variabel-variabel investigasi, alat dan bahan untuk pembuktian hipotesis, cara kerja, dan tabel pencatatan data; (3) memberikan bimbingan terutama kepada pebelajar pemula dalam berinvestigasi dalam bentuk pengumpulan/monitoring dan pemberian masukan-masukan perbaikan terhadap draf rancangan investigasi sebelum pembelajaran utama tatap muka di kelas, dan (4) melakukan kembali (revieu) fase observasi, menanya, dan merancang pengumpulan data melaui diskusi klas penyamaan persepsi antar kelompok untuk menyempurnakan dan menyepakati rancangan investigasi sesuai dengan sasaran pengetauan/konsepsi ilmiah yang dibangun dan akan ditindaklanjuti dengan fase pengumpulan data, asosiasi, dan komunikasi hasil.Kata kunci: perangkat pembelajaran, pendekatan saintifik, fenomena pengantar, rancangan investigasiABSTRACTDeveloping a strategy to actively engage students in preparing investigative plan was a part of research and development of learning toolkits following scientific approach. The strategy proposed to overcome 90-minute classroom meeting time limitation and technical constraints in student self completion of the investigative plan which should be a result of three beginning steps of the five learning steps. The strategy involves (1) applies worksheet presenting learning object/context introduction paragraph/s and clear tasks to the students and relevant to every step of the five main scientific learning steps; (2) assigns homework to prepare investigative plan draft at closing previous lesson by asking to write answers of the tasks of the three beginning main scientific learning steps namely write investigative problem resulting information that are mentioned in the learning object introduction paragraph/s and/or existing around (observing), investigative problem/s formulated from the observed information (questioning), and data collecting plan which involves hypothesis statement/s, investigative variables, validating design, materials and equipments required to prove hypothesis, work procedure, and data recording table; (3) provides guidance especially for investigative learning beginners in preparation of investigative plan draft via homework collecting of the student prepared investigative drafts and giving improving comments on the collected drafts before classroom meeting; and (4) reviews observing, questioning, and investigative planning phases via conducts classroom discussion on the commented student prepared investigative plan drafts to refine and appoint the investigative plan appropriate to intended knowledge/concept construction to be followed in the next remain scientific learning steps (data collecting, associating and communicating).Kay words: learning toolkits, scientific approach, learning object introduction, investigative plan
ANALISIS PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEN LOKAL PADA MATA PELAJARAN KIMIA DI SMA NEGERI 3 SINGARAJA Ni Ketut Sepmiarni; I Made Kirna; I Wayan Subagia
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan konten lokal yang telah diintegrasikan dalam pembelajaran kimia di SMA Negeri 3 Singaraja; (2) menjelaskan relevansi konten lokal yang telah diintegrasikan pada pokok bahasan kimia dalam pembelajaran; (3) menjelaskan posisi konten lokal dalam pembelajaran kimia; serta (4) menjelaskan cara pengintegrasian konten lokal dalam pembelajaran kimia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru kimia. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen dan observasi. Analisis data dideskripsikan dan diinterpretasikan baik secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) sebanyak 10 konten lokal telah diintegrasikan dalam pembelajaran kimia di SMA Negeri 3 Singaraja; (2) konten lokal yang telah diintegrasikan dalam pembelajaran kimia semuanya kurang relevan sebagai konten lokal, enam konten lokal relevan diintegrasikan dalam pokok bahasan kimia sebagai konteks, dilihat dari esensi budaya lokal dan esensi konten kimia; (3) posisi konten lokal dalam pembelajaran terdapat pada bagian pendahuluan sebagai motivasi dan kegiatan inti sebagai materi pembelajaran; (4) pengintegrasian konten lokal dilakukan melalui dua cara, yaitu (a) guru bercerita atau memberikan pernyataan yang menimbulkan pertanyaan; dan (b) guru melakukan aktivitas bersama siswa seperti berdiskusi atau praktikum yang berhubungan dengan konten lokal dan materi yang dipelajari.Kata kunci: pembelajaran kimia, budaya, konten lokalAbstractThis research aimed to: (1) describe the local content that has been integrated in chemistry learning at SMAN 3 Singaraja; (2) explain the relevance of local content has been integrated with chemistry topics in chemistry learning; (3) explain the position of local content in chemistry learning; and (4) explain the way to integrate local content in chemistry learning at SMAN 3 Singaraja. This research was qualitative research. Subject involved in this research was chemistry teacher at SMAN 3 Singaraja. Data collection techniques used were document study and observation. The data were described both quantitatively and qualitatively then analyzed interpretatively. The results of this research revealed that: (1) as many as 10 local content have been integrated in the chemistry learning at SMAN 3 Singaraja; (2) six local content relevant integrated in chemistry learning as context, seen from the essence of local culture and the essence of chemistry content; (3) the position of local content in the opening of teaching as motivation while in the main activity as learning materials; (4) the integration of local content was delivered through two ways, namely: informing and conducting activities. First, the teacher was informing local content as statement to raise questions. Second, the teacher was conducting activities with students, such as discussion or experiment related to local content and the topic being studied.Keywords: chemistry learning, culture, local content
Aktualisasi Pemikiran Jean Piaget dalam Implementasi Kurikulum 2013 (Suatu Kajian Teoritis) Desak Gede Wirayanti Estini
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan dikatakan sebagai pilar utama dalam mewujudkan manusia yang tangguh dan berkualitas dalam kehidupannya. Salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan adalah diberlakukannya kurikulum sebagai dasar pemikiran atau landasan formalitas agar pendidikan tersebut dapat berjalan sesuai dengan standarisasi yang diharapkan. Penyesuaian-penyesuaian terhadap kurikulum sebagai upaya sinergis agar dapat memenuhi tuntutan kehidupan masyarakat perlu untuk dilakukan secara berkelanjutan. Saat ini kurikulum satuan pendidikan 2013 atau yang lebih dikenal dengan K13 telah diterapkan pada hampir semua jenjang pendidikan, tidak terkecuali pada tingkat sekolah dasar (SD). Terlepas dari diberlakukannya K13 perlu mendapat perhatian apakah kurikulum tersebut dalam proses implementasinya dilapangan telah mengupayakan atau memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik menurut Jean Piaget ataukah belum. Memperhatikan tingkatan usia sebagai dasar dalam memberikan pembelajaran sangat perlu untuk dilakukan, sebab memperhatikan kebutuhan peserta didik pada usianya juga menjadi penentu keberhasilan pembelajaran sehingga pembelajaran dapat memberdayakan peserta didik dengan baik untuk menciptakan manusia-manusia yang berkarakter sebagaimana diharapkan dan disampaikan dalam tujuan pendidikan nasional melalui diberlakukannya kurikulum 2013.Kata kunci : Implementasi kurikulum 2013 dan tingkatan usia peserta didik
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN LARUTAN PENYANGGA DENGAN POLA INDUKTIF I Kadek Irvan Adistha Putra; I B N Sudria; I Nyoman Suardana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mendeskripsikan karakteristik perangkat pembelajaran pola induktif pada topik larutan penyangga. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (R&D) mengikuti prosedur Borg dan Gall sampai tahap validasi ahli dan praktisi dan uji keterbacaan. Data hasil penelitian meliputi analisis kebutuhan, deskripsi proses perencanaan dan pembuatan, deskripsi karakteristik perangkat pembelajaran larutan penyangga dengan pola induktif, data hasil validasi ahli dan praktisi, serta data hasil uji keterbacaan. Hasil penelitian dianalisis secara kualitatif. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan diperlukannya perangkat pembelajaran pendekatan saintifik pola induktif. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa prototif perangkat pembelajaran larutan penyangga dengan pola induktif yang meliputi RPP, LKS dan teks materi pelajaran dan instrumen penilaian. Karakteristik perangkat pembelajaran larutan penyangga dengan pola induktif adalah sinergis dan konsisten menerapkan pendekatan saintifik pola induktif. Sebagian besar aspek pembelajaran dalam setiap perangkat pembelajaran yang dikembangkan mendapat penilaian dengan kategori baik dari ahli dan praktisi sebagai validator. Hasil uji keterbacaan juga menunjukkan tingkat pemahaman siswa terhadap perangkat belajar (LKS, teks materi dan tes hasil belajar) berada dalam kategori baik. Dengan demikian perangkat pembelajaran larutan penyangga dengan pola induktif yang telah dikembangkan memiliki validitas yang memadai.Kata kunci: perangkat pembelajaran, pendekatan saintifik, pola induktif, larutan penyanggaAbstractThe research was aimed to develop and describe the characteristics of inductive learning tools on the topic of buffer solution. This research was research and development (R&D) following the research and development procedure developed by Borg and Gall until validation and readability testing. The data included need assessment, planning and making process description, validation data, readability test data and the description of the characteristics of inductive learning tools. The data were analyzed qualitatively. The need assessment showed the needs of scientific inductive learning tools (lesson plan, student worksheet, student reading text and assessment instrument). The product produced by this research and development were scientific inductive learning tools which included lesson plan, student worksheet, student reading text and assessment instrument. The characteristics of the inductive learning tools were synergistically and consistently applying scientific approach and inductive pattern. Most of the aspects of learning tools were gotten satisfied judgments by the validator on the validation. The result of readability testing showed that the level of students understanding on the inductive learning tools was on satisfied level. Therefore, the inductive learning tools on the topic of buffer solution that had been developed have good validity.Keywords : learning tools, scientific approach, inductive pattern, buffer solution
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MENGONTROL MOTIVASI BERPRESTASI PADA SISWA KELAS V SD DI KOTA SINGARAJA I Gede Margunayasa
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan keterampilan proses sains dan hasil belajar IPA antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang belajar dengan model konvensional, antara siswa yang memiliki gaya kognitif impulsive dan reflektif, setelah mengontrol mengontrol motivasi berprestasi pada siswa kelas V SD di kota Singaraja. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi exsperiment). Rancangan penelitian yang digunakan adalah Post-test Only Control Group Design. Penelitian ini melibatkan variabel bebas, variabel moderator, variabel kontrol dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran (A) yang terdiri dari dua, yaitu: (1) model pembelajatan inkuiri terbimbing (A1), dan model pembelajaran konvensioinal (A2). Variabel moderatator dalam penelitian ini adalah gaya kognitif (B) yang terdiri dari dua, yaitu : (1) gaya kognitif reflektif (B1), dan gaya kognitif impulsif (B2). Kovariabel dalam penelitian ini adalah motivasi berprestasi siswa (X). Dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterampilan proses sains (Y1) dan hasil belajar ipa (Y2). Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SD di kota Singaraja. Penarikan Sampel dengan cara random sampling. Tetapi yang diundi adalah kelas (intake group). Sampel yang diambil sebanyak 12 kelas (40% dari populasi), rincian 6 kelas memperoleh model pembelajaran inkuiri terbimbing dan 6 kelas memperoleh model pembelajaran konvensional. Data yang dikumpulkan melalui penelitian ini adalah data gaya kognitif siswa, data motivasi berprestasi, data keterampilan proses sains dan data hasil belajar IPA kelas V SD. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes dan metode kuisioner. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah tes MFFT, tes hasil belajar, tes keterampilan proses sains, dan tes hasil belajar IPA kelas V SD. Untuk menganalisis data diperoleh maka digunakan Mancova AB, GLM univariat, product moment, dan kanonik
Karakterisasi Batu Mulia Badar Pulaki I Wayan Karyasa; I Wayan Muderawan; I Wayan Rai
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batu mulia Pulaki telah lama dikenal dengan berbagai keunikan dan didukung oleh cerita-cerita mistis di baliknya, namun belum didukung oleh kajian ilmiah yang memadai. Beberapa nama batu mulia dari Kawasan Suci Pulaki yang banyak dikenal orang adalah Kresnadana, Rambut Sedana, Pancawarna dan Badar Pulaki. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi secara kimia batu mulia Badar Pulaki dengan varian Badar Pulaki Melanting, Badar Musi dan Badar Pangkung Kangin yang difokuskan pada aspek kandungan unsur-unsur dan identifikasi senyawa kimia yang menyusun batu permata Pulaki. Untuk mencapai tujuan itu, analisis cuplikan dengan metode X-Ray Fluoresence (XRF) dan X-Ray Difraction (XRD). Hasil karakterisasi XRF menunjukkan bahwa Badar Pulaki Melanting mengandung unsur silikon dan besi yang besar, Badar Pangkung Kangin mengandung unsur silikon, aluminium dan besi yang besar dan Badar Musi mengandung unsur kalsium dan besi yang besar serta adanya variasi jenis dan prosentase unsur-unsur penyerta lainnya. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan bahwa Badar Pulaki Melanting tersusun dari quarsa sebagai fase utamanya, Badar Pangkung Kangin tersusun dari aluminosilikat dan Badar Musi tersusun dari kalsit sebagai fase utamanya. Hasil ini memberikan sebagaian penjelasan ilmiah terhadap keunikan dan mitos batu permata Pulaki.Kata-kata kunci: Badar Pulaki, X-Ray Fluoresence, X-Ray Diffraction

Page 9 of 14 | Total Record : 140