cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 98 Documents
Search results for , issue "2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016" : 98 Documents clear
PMRI DAN INKUIRI SEBAGAI ALTERNATIF PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN PEMECAHAN MASALAH Ni Putu Dian Primasari
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya, prestasi matematika siswa di Indonesia kurang menggembirakan. Kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah sebagai tujuan utama pembelajaran matematika, teridentifikasi sangat lemah. Oleh karena itulah diperlukan alternatif pembelajaran yang tepat. Dalam tulisan ini akan dipaparkan dua tipe pembelajaran yaitu pembelajaran dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dan Pembelajaran Inkuiri. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan pembelajaran yang bertitik tolak pada hal nyata dan pernah dialami serta dibayangkan oleh siswa sedangkan pembelajaran Inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya.Melalui PMRI siswa belajar membuat hubungan antara pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan yang akan dipelajarinya, oleh karena itu penting bahwa konteks yang digunakan adalah konteks yang telah dipahami atau dapat dibayangkan oleh siswa sehingga mampu menghasilkan modelnya sendiri dan menggunakan model yang dibuatnya tersebut untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Melalui pembelajaran Inkuiri yang mengembangkan cara berpikir ilmiah tentunya akan melatih siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah matematika. Berdasarkan pemaparan ini maka upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa melalui penerapan pembelajaran yang tepat yaitu PMRI dan pembelajaran Inkuiri. Kata Kunci : PMRI, Inkuiri, Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah Matematika. AbstractThe achievement of students in Indonesia for math subject generally was not satisfy enough. Their ability to think critically and think for problem solving as the main purpose of learning math was so low. Thus, the alternative teaching method was required. In this study, there will be two types of teaching method presented namely Teaching method with Mathematical Realistic Education of Indonesia (pembelajaran dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia/ PMRI) and Inquiry based learning (Pembelajaran Inkuiri). PMRI is the method which is connecting learning material with students’ experiences meanwhile Inquiry based learning is a teaching activity which is done by putting and developing critical thinking in students. In Inquiry method, students were synthetizing concept like observing, classifying, explaining, measuring and make a conclusion.                Through PMRI, students learned how to create connection between their prior knowledge with the upcoming knowledge, thus, the context used was very important to be able to be pictured or understood by students so they can make their own model to solve the given problem. Through Inquiry based learning, students were developing critical thinking in solving problem in Math subject.                Based on the explanation above, the solutions that was taken by teacher to solve the problem about students’ critical thinking and their solving problem ability were PMRI and Inquiry based learning. Keyword: PMRI, Inquiry, Critical thinking, Problem Solving in Math
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DENGAN PENDEKATAN INDUKTIF-DEDUKTIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA PERKULIAHAN STRUKTUR ALJABAR II I Made Suarsana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar untuk perkuliahan Struktur Aljabar II dengan pendekatan induktif-deduktif. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan merujuk pada model 4-D versinya Dick & Carry (Santyasa, 2009) yang meliputi beberapa fase seperti: 1) fase define; 2) fase design; 3) fase development; dan 4) fase disseminate. Pada tahun pertama ini penelitian telah dilakukan sampai pada tahap development yaitu hingga dilakukan validasi draft diktat hingga dihasilkan prototipe diktat. Data dikumpulkan dengan lembar validasi/penilaian kelayakan isi dan penyajian diktat. Data dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil validasi diktat struktur aljabar menunjukkan bahwa 1) dari segi kelayakan isi diktat berkategori baik, dan 2) dari segi penyajian juga berkategori baik sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa diktat telah valid. Berdasarkan masukan deskriptif dan koreksi validator selanjutnya dilakukan penyempurnaan sehingga melalui penelitian ini telah dihasilkan sebuah prototipe. Tahap penelitian pengembangan lanjutan berupa uji coba terbatas dan tahap diseminasi belum dilakukan mengingat keterbatasan waktu. Kata-kata Kunci: pendekatan induktif-deduktif, struktur aljabar, hasil belajar AbstractThis study aims to developt a valid diktat in Algebra Abstract II. Research and development, wich consist of four stages: define, design, development and disseminate (Dick $ Carry Model), was implemented in this study. Data were collected by content validation sheet and presentation validation sheet. The Data were analized by descriptive statistics. The results of the analysis are 1) in term of the feasbility of content, the diktat prototyfe is in good category, 2) in term of the feasibility of presentation, the diktat prototyfe is in good category. At all, it can be concluded that diktat prototyfe is valid. The next step is prototype trial and dissemination. Keywords : inductive-deduktive approach, algebra abstract, learning outcomes
MEMINIMALISIR KECEMASAN BERKOMUNIKASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN MODEL B2LS I Made Ardana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah kecemasan berkomunikasi. Kecemasan berkomunikasi mempunyai pengaruh langsung yang negatif terhadap hasil belajar matematika siswa. Disamping itu, Efeknya penting dipertimbangkan melalui variabel motivasi berprestasi untuk hasil belajar matematika siswa. Sementara itu model B2LS merupakan salah satu model yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Sehubungan dengan itu, dipandang perlu melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana model B2LS dapat meminimalisirkecemasan berkomunikasi siswa dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini melibatkan 71 orang siswa sekolah dasar di Singaraja. Data penelitian terdiri dari: data kecemasan berkomunikasi, data keterlaksanaan model B2LS, dan data hasil belajar matematika siswa yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Temuan penelitian menunjukkan bahwamodel B2LS merupakan model pembelajaran yang dapat meminimalisir secara efektif kecemasan berkomunikasi siswa dalam pembelajaran matematika melalui: (1) pemanfaatan ZPD siswa, (2) scaffolding, dan (3) budaya lokal (konsepsi jengah). Kata-kata Kunci: kecemasan, ZPD, scaffolding,jengah AbstractOne factor that affect the students’ learning out comes is their anxiety to communicate. It has negatif direct effect which to the students’ mathematics learning outcome. Besides, the effect is important to be considered through variabel of motivation achievement for the students’ mathematics learning outcome. Meanwhile, B2LS model is one of models that can improve the students’ learning motivation. In line with that, it is considered important to do a research with a purpose to know how B2LS can minimize the students’ anxiety to communicate in mathematics class. This research involves 71 elementary students in Singaraja. The data consists of the data of students’ anxiety to communicate, the implementation of B2LS model data, and the students’ mathematics learning outcome which are analyzed descriptively. The finding of the research shows that B2LS model is a learning model which can minimize effectively the students’ anxiety to communicate in matematis learning process through: (1) the utilization of students’ ZPD, (2) Scaffolding, and (3) local culture (jengah conception) Key words: anxiety, zpd, scaffolding, jengah
PERANAN PENDIDIKAN KARAKTER BERORIENTASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENGEMBANGAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH Ni Nyoman Parwati
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peranan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dalam pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematika. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VIII A2 SMPN 6 Singaraja tahun ajaran 2014/1015. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Data yang dikumpulkan berupa data kemampuan pemecahan masalah matematika, proses peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika melalui pembelajaran dengan penerapan pendidikan karakter berorientasi kearifan lokal Bali, dan sikap siswa terhadap matematika. Instrumen pengumpulan data menggunakan tes kemampuan pemecahan masalah matematika, lembar observasi kemampuan pemecahan masalah matematika berorientasi karakter, dan angket sikap terhadap matematika. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian adalah pada siklus III sebanyak 86% siswa mencapai kemampuan pemecahan masalah dengan kriteria minimal baik. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa semakin baik dari siklus ke siklus. Sikap siswa terhadap matematika dengan kategori positif sebanyak 89%. Kata-kata Kunci: pendidikan karakter, kearifan lokal, kemampuan pemecahan masalah. AbstractThe purpose of this study was to describe the role of character education oriented of local wisdom in the development of mathematical problem solving ability. This classroom action research conducted in the class VIII A2 SMPN 6 Singaraja in the academic year 2014/1015. This research carried out in three cycles. Each cycle consists of four stages: planning, action, observation and evaluation, and reflection. The data collected, namely: mathematical problem solving ability, the data upgrade process of mathematical problem solving through learning by application- character education oriented of Balinese local wisdom, and attitudes toward mathematics. The instrument to data collection was a test of mathematical problem solving ability, observation sheets of mathematical problem solving ability-character oriented and questionnaire of attitude towards mathematics. The data were analyzed descriptively. The Results of this study is the third cycle as much as 86% of students achieved the problem solving ability with criteria minimum “good”. Students’mathematical problem solving abilities are getting better from cycle to cycle. Students'attitudes toward mathematics with “positive” category as much as 89%. Key words: character education, local wisdom, problem solving ability
PENGARUH PEMBELAJARAN BLENDED LEARNING BERBASIS VIDEO PEMBELAJARAN TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF Pande Kadek Rai Agustiari; I Gusti Putu Sudiarta; I Nengah Suparta
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, paradigma pendidikan kemudian bergeser dari hanya menggunakan paper semata menjadi paperless, dari face to face traditional classroom menjadi face to face blended learning. Secara khusus, penerapan blended learning mempunyai beberapa manfaat yang salah satunya adalah memungkinkan siswa dan guru untuk membangun komunikasi dalam belajar melalui dunia global. Ketersediaan teknologi digital canggih telah mengubah cara berpikir tentang matematika, aneka software pembuat video pembelajaran yang tersedia gratis di internet dapat digunakan untuk menyajikan dan memvisualisasikan masalah matematika yang tujuannya untuk meningkatkan pemahaman konsep, penalaran, kemampuan pemecahan masalah, bahkan meningkatkan rasa ingin tahu dan kreativitas siswa, namun dalam artikel ini hanya dibahas mengenai kemampuan pemahaman konsep. Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Perbedaan gaya kognitif berkaitan dengan cara siswa tersebut merasakan, mengingat, memikirkan, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang mencerminkan kebiasaan bagaimana informasi diproses. Pembelajaran blended learning berbasis video pembelajaran dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kemampuan konsep siswa. Dalam artikel ini akan di bahas mengenai pembelajaran blended learning berbasis video pembelajaran terhadap kemampuan pemahaman konsep ditinjau dari gaya kognitif. Kata-kata Kunci: blended learning, video pembelajaran, kemampuan pemahaman konsep, gaya kognitif. AbstractIn line with the development of science and technology, education paradigm then shifted from simply using paper simply become paperless, from face to face traditional classroom into a face to face blended learning. In particular, the application of blended learning has several benefits, one of which is to enable students and teachers to build learning through communication in a globalized world. Availability of advanced digital technology has changed the way of thinking about mathematics, a variety of software maker instructional videos are available for free on the internet can be used to present and visualize mathematical problems which aim to improve understanding of concepts, reasoning, problem-solving ability, and even raise the curiosity and creativity of students , but in this article only discussed about the ability of understanding of the concept. A person's ability to understand and absorb the lessons it is definitely a different level. Differences in cognitive style relates to how the students feel, to remember, to think, solve problems, and make decisions that reflect the habits of how information is processed. Blended learning instructional video based learning can make a positive contribution to improving the ability of students' concept. In this article will be discussed concerning the learning blended learning instructional video based on the ability of understanding the concept in terms of cognitive style. Keywords: blended learning, learning videos, the ability of understanding the concept, cognitive styles
PROGRAM DERIVE BAGI GURU MATEMATIKA SMA DAN SMK KOTA MALANG Kristina Widjajanti; Mohammad Hartono; Utami Retno Pudjowati
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak siswa kesulitan dalam penyelesaian matematika. Guru harus memberikan pelbagai metode mengajar yang menarik dan tidak membosankan. Salah satu alternatif metode adalah pembelajaran matematika berbasis komputer. Permasalahannya adalah semua sekolah menengah di Malang tidak mempunyai software untuk penyelesaian matematika. Oleh karena itu guru membutuhkan pelatihan pembelajaran berbasis komputer. Program Derive adalah salah software yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan matematika. Inti kegiatan Iptek bagi Masyarakat (IbM) ini adalah 2 guru matematika SMAN 9 dan 2 guru SMKN 2 mengikuti ToT, serta 16 guru matematika dari pelbagai SMA dan SMK Kota Malang mengikuti pelatihan Program Derive. Hasil kegiatan diperoleh semua peserta sependapat Program Derive sangat menarik dan bermanfaat. Peserta akan mengiinformasikan pada kelompok guru matematika (MGMP) dan mengenalkan Derive pada siswanya. Kata-kata Kunci: metode, pembelajaran, program derive Abstract Many students have difficulty in Mathematics problem. The teachers must give them various teaching methods. One alternative method is Math learning with the computer-based. The problem was all Senior High School in Malang didn’t have the software of Math. The teachers need training of computer-based learning of Math. The derive program is one software to solve the Math problems. Main activity of community service (IbM) are Training of Trainer (ToT) and workshop for the teacher. There are two partners of IbM, such as SMAN 9 and SMKN 2. The sum of ToT is four teachers and sixteen teachers for workshop. The results of activity are all participants like derive program, very interested, easy, and very useful, especially for key-answer. The participants want to tell about derive program to group of math teachers (MGMPs) and introduce derive for the students. Keywords : methods , learning , derive program
IBM LABMAT BAGI SEKOLAH DASAR Mutia Lina Dewi; Arif Rahman Hakim; Fauziah Shanti CSM
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak siswa mempunyai anggapan bahwa matematika adalah mata pelajaran yang paling sulit. Hal ini dikarenakan matematika adalah ilmu yang abstrak. Oleh karena itu diperlukan metode mengajar matematika yang menyenangkan, sehingga siswa menyukai matematika dan mudah memahami konsep matematika.Penggunaan alat peraga edukatif merupakan salah satu metode yang membuat siswa senang, bisa belajar sambil bermain.Sayangnya, tidak semua sekolah mampu menyediakan sarana belajar yang memadai. Guru mengajarkan matematika yang abstrak tanpa bantuan benda kongkret, sehingga sulit bagi siswa memahami konsep matematika. SD Negeri 1 dan 2 yang lokasinya di Desa BuntaranTulungagung adalah sekolah pemerintah (gratis) yang rata-rata kemampuan siswanya rendah, sarana pembelajarannya sangat minim dan kurang diminati. Orang tua lebih memilih sekolah swasta (Madrasah Ibtidaiyah) yang sarananya lengkap, SPP nya mahal, serta sumbangan gedungnya besar. Oleh karena itu diperlukan inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dan menambah wawasan guru. Hasil kegiatan kedua sekolah sangat senang mendapat wawasan dan bantuan alat peraga matematika dan berharap kegiatan pengabdian masyarakat ini berkelanjutan. Kata-kata Kunci: kesulitan, alat peraga, pelatihan,  Abstract Many students have difficulty in Mathematics. The problems are mathematics is an abstract science. Therefore we need a method of teaching mathematics is fun, so students enjoy math and easily understand the concept of Math. .Educational props is one method that makes students happy, can learn while playing. But, not all schools are able to provide adequate learning facilities. Teachers teach abstract mathematics without the help of concrete objects, making it difficult for students to understand mathematical concepts. SD Negeri 1 and 2, which are located in the village of BuntaranTulungagung are government schools (free) average low ability students and minim facilities. Parents prefer private schools (Islamic elementary schools) whose facilities are complete and expensive. The results of the activities are the schools are very pleased with math teaching aids and training in the use it. Theyhope, there are community service activities next time. Keywords: difficulty, teaching aid, training
EFEKTIVITAS MODEL PRO-BHL DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH FISIKA SISWA SMA Rai Sujanem; Budi Jatmiko; Sri Poedjiastoeti
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan model Pro-BHL untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah Fisika siswa SMA Negeri 4 Singaraja dalam pembelajaran fisika. Model Pro-BHL adalah model Problem based-hybrid learning atau pembelajaran hybrid berbasis masalah. Pembelajaran hybrid adalah pembelajaran kombinasi tatap muka dan online. Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah model Pro-BHL yang diujicobakan kepada siswa kelas X SMAN 4 Singaraja. Efektivitas model Pro-BHL digambarkan berdasarkan data peningkatan kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran fisika. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental pre-test dan post-test. Untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa dilakukan dengan uji-t berpasangan dan gain ternormalisasi (N-gain). Penggunaan uji-t berpasangan dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi peningkatan tersebut, sedangkan penggunaan N-gain dimaksudkan untuk mengetahui kategori peningkatan kemampuan pemecahan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui uji-t berpasangan, model Pro-BHL secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil analisis N-gain menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa termasuk kategori sedang dengan N-gain = 0,50. Berdasarkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa, dapat disimpulkan bahwa model Pro-BHL efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa Negeri 4 Singaraja dalam pembelajaran fisika. Kata kunci: model Pro-BHL, kemampuan pemecahan masalah
EKSPLORASI NILAI-NILAI KARAKTER, SIKAP SOSIAL, DAN SIKAP SPIRITUAL PADA KONSEP DAN PRINSIP FISIKA I Wayan Santyasa
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurikulum fisika SMA umumnya kurang diminati siswa, disebabkan karena lebih berfokus pada aspek matematika, sedikit penekanan konsep dan prinsip, dan tidak ada penanaman nilai-nilai karakter, sikap sosial, dan sikap spiritual. Oleh sebab itu, eksplorasi nilai-nilai karakter, sikap sosial, dan sikap spiritual bermuatan kearifan lokal bangsa pada konsep dan prinsip fisika menjadi masalah penting untuk dikaji. Metode yang digunakan adalah R & D model AM3PU3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter, sikap sosial, dan sikap spiritual yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional dieksplorasi pada konsep dan prinsip satuan, vektor, kelembaman, gerak, gesekan, kemagnetan, elastisitas, kelistrikan, dan atom. Nilai-nilai karakter mencakup religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab. Sikap sosial mencakup sadar akan badan material, menghargai perbedaan, kebersamaan. Sikap spiritual mencakup upaya melawan kemalasan, kesadaran badan immaterial, memahami kecukupan, pandai bersyukur, mengagumi kebesaran Tuhan. Kata-kata Kunci: konsep dan prinsip fisika, nilai-nilai karakter, sikap sosial, sikap spiritual, kearifan lokal AbstractHigh school physics curriculum is generally less desirable by students, due to focus more on aspects of mathematics but pay little emphasis on the concepts and principles, and there is no cultivation of character values, social attitudes, and spiritual attitudes. Therefore, the exploration of character values, social attitudes, and spiritual attitudes charged indigenous peoples on the concepts and principles of physics becomes an important issue to bestudied. The method used is the R & D of the AM3PU3 model. The results showed that the values of character education, social attitudes, and spiritual attitudes derived from religion, Pancasila, culture, and national education goals explored the concepts and principles of the unit, vector, inertia, motion, friction, magnetism, elasticity, electrical, and atoms. Character values include religious, honesty, tolerance, discipline, hardwork, creative, independent, democratic, curiosity, the spirit of nationalism, patriotism, recognize excellence, friendship, love peace, love reading, environmental care, social care, responsible. Social attitudes include conscious of the material body, diversity, togetherness. Spiritual attitudes include the fight against laziness, immaterial body consciousness, understanding the adequacy, clever grateful, admiring the greatness of God. Keywords: conceptsandprinciples of physics, charactervalues, socialattitudes, spiritual attitude, localknowledge
MEMBELAJARKAN KETERAMPILAN HIDUP DALAM BIDANG KESEHATAN REPRODUKSI UNTUK MENURUNKAN RISIKO REMAJA MENGALAMI TRIAD KRR Desak Made Citrawathi
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja dekade tahun 2000an ini sangat berbeda dengan remaja generasi sebelumnya. Arus informasi telah merubah (meliberalisasi) cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak para remaja berkaitan dengan seksualitas. Remaja saat ini menghadapi masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas yang disebut dengan risiko Tiga Ancaman Dasar Kesehatan Reproduksi Remaja (Triad KRR) yang meliputi seksulitas, HIV/AIDS, dan Napza. Risiko Triad KRR yang dihadapi remaja adalah (1) meningkatnya jumlah remaja dengan HIV/AIDS, (2) kehamilan yang tidak diinginkan, dan (3) penyalahgunaan Napza. Agar remaja mampu menghadapi risiko TRIAD KRR, maka remaja perlu dibantu dan difasilitasi dengan berbagai keterampilan, di antaranya keterampilan hidup dalam bidang kesehatan reproduksi remaja. Keterampilan hidup dalam bidang KRR, antara lain adalah: (1) keterampilan memecahkan masalah dan mengambil keputusan, (2) keterampilan berpikir (berpikir positip), (3) keterampilan komunikasi interpersonal, (4) keterampilan menjaga kesehatan fisik, (5) keterampilan bersikap tegas, (6) keterampilan mempercayai dan menghargai diri sendiri, dan (7) keterampilan menghadapi stres. Keterampilan hidup tersebut dapat dilatih dan ditingkatkan melalui proses pembelajaran. Untuk itu, remaja (siswa) perlu diberikan pendidikan kesehatan reproduksi sedini mungkin dengan menggunakan strategi yang tepat dan sesuaikan dengan tahap perkembangannya serta situasi yang dihadapi remaja. Kata-kata Kunci: Keterampilan hidup, Triad Kesehatan Reproduksi Remaja AbstractTeens decade of the 2000s was very different from the previous generation. The flow of information has changed how to think, how to behave and how to act with regard to youth sexuality. Teens today are facing the problem of reproductive health and sexuality called risk three basic threats Adolescent Reproductive Health (ARH) that includes Sexuality, HIV / AIDS, and narcotics, psychotropic and addictives substances. Three basic threats ARH risk faced teen are (1) increasing the number of adolescents with HIV / AIDS, (2) an unwanted pregnancy, and (3) abuse of narcotics, psychotropic and addictive substances. To be able to face the risk of three basic threats ARH, adolescent needed to be assisted and facilitated with a variety of skills, such as life skills related adolescent reproductive health. Life skills in adolescent reproductive health is: (1) the skills to solve problems and make decisions, (2) order thinking skills (positive thinking), (3) interpersonal communication skills, (4) the skills to maintain physical health, (5) the skills to be firm, (6) the skills to trust and respect ourselves, and (7) the skills to deal with stress. The life skills can be trained and improved through the learning process. Therefore, adolescents (students) should be given to reproductive health education as early as possible by using the right strategies and adjust to the stage of development and the situation faced teen. Keywords : life skill, three basic threats ARH

Page 7 of 10 | Total Record : 98