cover
Contact Name
Kalis Stevanus
Contact Email
kalisstevanus91@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalfidei@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
ISSN : 26218151     EISSN : 26218135     DOI : https://doi.org/10.34081/fidei
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika focusing on submission of field research results, systematic Theology, and practical theology, the study of Evangelical Theology and Community Development is not only internal of STT Tawangmangu but also external intitution with ratio 40:60. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika published twice a year is the month of June (the limits of acceptance of the script in March) and December (the limits of acceptance of the script in September).
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019" : 10 Documents clear
Melawan Etika Lingkungan Antroposentris Melalui Interpretasi Teologi Penciptaan Sebagai Landasan Bagi Pengelolaan-Pelestarian Lingkungan Yusup Rogo Yuono
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.493 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.40

Abstract

Etika lingkungan memfokuskan diri pada bagaimana perilaku manusia yang seharusnya terhadap lingkungan. Dalam etika ini makluk non-manusia mendapatkan perhatian. Etika lingkungan sekaligus merupakan kritik atas etika yang selama ini dianut manusia yang membatasi diri pada komunitas sosial. Dalam dimensi ekoteologi melihat bahwa krisis lingkungan yang sekarang ada tidak lepas dari sikap dan perspektif manusia terhadap alam. Manusia modern memandang alam sebagai obyek yang harus dieksploitasi demi tercukupinya kebutan tanpa memikirkan dampaknya. Penelitian ini hendak menggali pandangan kekristenan terhadap alam. Kekristenan percaya bahwa alam merupakan ciptaan Tuhan. Manusia diberi mandat untuk menguasai dan mengusahakan. Pemahaman yang keliru sering kali menimbulkan perilaku salah dalam pemanfaatan alam. Kekristenan perlu memberikan pandangannya sebagai usaha preventif maupun represif, bagaimana seharusnya perilaku manusia terhadap alam.
Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen Terhadap Perilaku Siswa-Siswi Lilis Ermindyawati
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.533 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.27

Abstract

Pengajaran pendidikan Agama Kristen mempunyai peran penting dalam membantu pertumbuhan kerohanian siswa dalam lingkup pendidikan, pengajaran Pendidikan Agama Kristen pada dasarnya sangat dibutuhkan dan memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku siswa-siswi. Pengajaran pendidikan Agama, sangatlah penting dalam kehidupan umat manusia, terlebih khusus umat Agama Kristen.  Pendidikan Agama, lebih khususnya pendidikan Agama Kristen sangatlah penting untuk diterapkan dalam peningkatan potensi spiritual, sehingga membantu peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan taat kepada Tuhan. Berdasarkan hasil dari koefisien determinasi melalui perhitungan dengan SPSS 23 menghasilkan, 29,8 % artinya Pengaruh Pengajaran Pendidikan Agama Kristen memberi sumbangan yang cukup besar, atau ,29,8 % terhadap Perilaku Siswa-siswi kelas III-VI di Sekolah Dasar Negeri 01 Ujungwatu Jepara.  Sisanya (100 – 29,8 % = 61,2 %) di pengaruhi oleh faktor yang lain. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka guru perlu memperhatikan setiap perilaku siswa-siswinya sehari-hari dan selalu bijak dan bertindak terlebih dalam hal memberi Pengajaran Pendidikan Agama Kristen. 
Ibadah Jemaat Kristen Kontemporer Abad 21 dan Tinjauan Kritis-Liturgis Firman Panjaitan; Marthin Steven Lumingkewas
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.541 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.49

Abstract

Fenomena liturgi dewasa ini begitu dikuasai oleh berbagai macam bentuk ibadah yang bersifat ‘kekinian’, atau yang dikenal dengan istilah ibadah kontemporer. Jenis ibadah ini sudah merebak dengan sangat jauh dan bahkan menjadi ibadah yang begitu disukai oleh setiap anak muda (tidak menutup kemungkinan orang tua juga), sehingga muncul anggapan bahwa jenis ibadah ini adalah jenis ibadah yang perlu untuk terus dipertahankan dan dikembangkan.Tulisan ini hendak mencoba melihat dengan kritis bentuk ibadah kontemporer dan sekaligus membedahnya dengan pisau analitis-teologis yang cukup tajam untuk menemukan apa saja yang harus dikembangkan dan diupayakan dalam menjalankan ibadah kontemporer ini. Jangan sampai ibadah kontemporer menjadi sebuah ibadah yang hanya mengutamakan kepuasan jasmaniah saja tetapi melupakan pertumbuhan dan perkembangan iman. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini disajikan sebuah ulasan kritis yang hendak membenahi bentuk ibadah kontemporer sehingga dapat menjadi bentuk ibadah yang benar-benar sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan dan sekaligus menyenangkan hati Tuhan.
Gereja Yang Berfokus Pada Gerakan Misioner Hery Susanto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.477 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.23

Abstract

Gereja pada masa kini terus berkembang dan berwujud dalam berbagai format. Pada kenyataannya gereja-gereja cenderung membangun kekuasaannya sendiri dan kerajaannya. Dalam artikel ini, akan diuraikan tentang betapa pentingnya sebagai sebuah gereja untuk tetap berpusat kepada Kristus dan menyadari tanggungjawab utamanya adalah mewartakan Injil sebagai sebuah Missio Dei (misi dari Tuhan). Metode penulisan yang digunakan adalah meninjau melalui pendekatan sejarah gereja sebagaimana ditunjukkan dalam Alkitab, khususnya di dalam Kisah Para Rasul. Tantangan yang dihadapi gereja masa kini adalah bagaimana gereja tetap bekerja di tengah masyarakat post modern melalui misi yang kontekstual. Masyarakat memiliki keyakinannya masing-masing dan apa yang bisa diperbuat adalah menjadi bagian dari dunia dengan paradigma seperti Allah melihat yaitu untuk mendirikan Kerajaan-Nya di bumi seperti di surga. Kesimpulannya bahwa gereja seharusnya tidak hanya fokus pada hal-hal di dalam (internal) tapi juga tetap melakukan gerakan missioner ke seluruh dunia seperti yang diamanatkan oleh Tuhan Yesus.
Implikasi Misiologi Dalam Pengembangan Kurikulum Agama Kristen di Gereja Lokal Markus Oci
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.49 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.29

Abstract

Misiologi berasal dari kata Latin Missio adalah bentuk substantive dari kata kerja mittere (mitto, missi, missum) yang punya pengertian dasar yang beragam yaitu membuang, menembak, membenturkan, mengutus, mengirim, membiarkan,membiarkan pergi, melepaskan pergi, membiarkan mengalir.  Dalam bahasa Latin maupun Yunani kata ini lebih cenderung berarti mengutus dan mengirim. Kata misi berasal dari kata Latin missio adalah bentuk substantive dar ikata kerja  Mittere (mitto, missi, missum). Dalam kegiatan  pengajaran dan pembinaan  gereja,  harus mengejawantakan tiga tugas utama pengajaran Agama Kristen yaitu: (1) Marturia (tugas kesaksian untuk memberitakan Injil), (2). Koinonia  (tugas pembinaan persekutuan), (3). Diakonia (tugas pelayanan kepada Tuhan dan sesama manusia). Gereja sebagai tempat persekutuan yang mampu mempraktekan model Eklesiologi yang dapat mempraktekan proses edukasi dengan benar dan baik.  Pengembangan kurikulum gereja di lokal. Didasarkan pada kerinduan dan hasrat untuk mengembangkan kualitas anggota jemaat, oleh karena itu pengajaran kepada jemaat lokal melalui khotbah, ibadah raya, pendalaman Alkitab dan kompok sel.  Pengembangan kurikulum pengajaran agama Kristen dalam gereja di lokal sangat perlu atau dibutuhkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: Pertama,  visi dan misi gereja. Visi dan misi gereja akan mewarnai kurikulum di gereja lokal. Oleh karna itu dalam tata laksana pengajaran di gereja, para pemimpin gereja atau pendeta harus mampu melahirkan berbagai topik pengajaran berdasarkan visi tersebut.  Kedua, nilai-nilai yang dibangun dalam gereja, artinya  merujuk kepada motto pelayanan yang dikembangkan. Dengan demikian daras pengajaran dan pembinaan di gereja lokal, harus diarahkan kepada nilai-nilai tersebut serta peruntukkan kepada pencapaian tersebut.
Keseimbangan Pertumbuhan Spiritual Dan Intelektual: Teladan Yesus Dan Paulus Bagi Hamba Tuhan Masa Kini Haryadi Baskoro; Hendro Hariyanto Siburian
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.003 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.37

Abstract

Pelayanan Pentakosta-Karismatik memiliki kekuatan karena menekankan spiritualitas sehingga banyak diberkati dengan berbagai-bagai pengalaman supranatural. Namun pelayanan ini juga membutuhkan keseimbangan antara spiritualitas dan intelektualitas. Kebutuhan itu menjadi mendesak ketika muncul fakta tentang dampak buruk akibat ketidakseimbangan yang tidak ditangani. Paper ini membahas kasus ketidakseimbangan yang terjadi dalam pelayanan salah seorang tokoh pentakosta-karismatik bernama William Marion Branham. Tiga permasalahan yang diteliti adalah, pertama, bagaimana karakteristik ketidakseimbangan itu? Kedua, mengapa terjadi ketidakseimbangan? Ketiga, bagaimana solusi untuk menciptakan keseimbangan yang baik? Penelitian ini bersifat studi kasus dengan kasus tunggal holistik. Dari penelitian literatur tentang tokoh tersebut disimpulkan bahwa karakteristik ketidakseimbangan itu mencakup fase persiapan, pelaksanaan, produk, dan dampak pelayanan yang dihasilkan. Faktor-faktor penyebab terjadinya ketidakseimbangan itu adalah kurangnya bekal pendidikan, kurangnya partner pelayanan yang konstruktif, kultus kepemimpinan yang dilakukan oleh umat, obsesi pada popultaritas, dan obsesi untuk menjadi tokoh pengajar Alkitab. Solusi untuk membangun keseimbangan antara spiritualitas dan intelektuaitas itu adalah penguatan bekal pendidikan, penguatan partnership pelayanan, dan penguatan sistem kontrol pelayanan.
Keterampilan Guru PAK Untuk Meningkatkan Minat Belajar Murid Dalam Proses Pembelajaran Di Kelas Dwiati Yulianingsih; Stefanus Marbun Lumban Gaol
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.197 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.47

Abstract

Salah satu tantangan  dalam  proses belajar mengajar di kelas adalah murid tidak antusias. Setiap guru mengharapkan selama mengajar di kelas semua murid antusias dan penuh minat. Kenyataannya tidak seperti itu, karena tidak semua guru memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah murid yang kurang antusias. Oleh karena itu kajian tentang keterampilan guru dalam meningkatkan minat murid untuk belajar sangat diperlukan. Tujuan dari kajian ini untuk mendorong guru menambah keterampilan dalam melaksanakan tugasnya sehingga murid belajar dengan penuh perhatian. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu menjelaskan istilah-istilah yang digunakan pada judul tulisan berdasarkan sumber yang berkaitan, dihubungkan dengan pengalaman penulis secara subyektif selama mengajar di kelas. Poin penting hasil kajian ini ialah guru harus memiliki ketrampilan  untuk mengelola kelas dengan baik. Guru harus menguasai keterampilan untuk mulai pembukaan sampai pada penutupan kelas.  Guru harus menguasai keterampilan dalam bertanya, menjelaskan, memberi penguatan, dan juga dalam membuat variasi. Keterampilan dalam pengelolaan kelas ini berpengaruh besar terhadap perhatian  murid untuk belajar.
Konsep Bermegah (Boasting) dalam Surat Roma dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini Shintia Maria Kapojos; Hengki Wijaya
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.015 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.24

Abstract

Tujuan penulisan ini untuk menjelaskan konsep bermegah dalam kitab Roma dan implikasinya bagi gereja masa kini. Dalam konsep ‘bermegah’, Paulus hendak mengaitkannya dengan dasar menaruh tempat kepercayaan yang benar.  Paulus menolak semua dasar bermegah di luar dari Injil.  Hanya Injil yang dapat membuktikan bahwa semua kemegahan yang lainnya tidak dapat diandalkan. Kehidupan orang percaya akan bermegah bukan hanya di dalam hal-hal yang baik saja, namun hingga ke tahap menderita, orang percaya akan tetap bermegah. Kesengsaraan di dalam kehidupan orang percaya bukan lagi menjadi tanda murka Allah melainkan bagaimana mereka telah memperolah keselamtan dari murka itu. Orang percaya dalam komunitas gereja diajarkan untuk bermegah pada hal-hal yang memuliakan Tuhan, dan tidak bermegah atas keberhasilan pelayanan dan hal-hal yang duniawi.
Yesus, Hamba Allah Yang Menderita Arif Wicaksono; Dwi Anggono
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.235 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.44

Abstract

Ebed Yahweh merupakan topik  yang jarang sekali di singgung dalam pembahasan-pembahasan Kristologi dewasa ini. Mungkin hal ini terjadi di karenakan istilah Ebed Yahweh tidak di temukan dalam Kitab Perjanjian Baru. Istilah Ebed Yahweh hanya dapat ditemukan penggunaannya dalam Perjanjian Lama. Para ahli sering menyelidiki arti dari sosok ebed Yahweh sebagai masalah Perjanjian Lama ,  tetapi jarang penerapannya pada Yesus. Namun demikian bukanlah berarti Perjanjian Baru sama sekali tidak membahas mengenai ebed Yahweh. Jika diselidiki dengan seksama, secara implisit penggunaan filosofi ebed Yahweh sangatlah mudah ditemui dalam pembahasan mengenai Yesus. Yesus sering sekali digambarkan sebagai Ebed Yahweh. Yesus adalah ebed Yahweh yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama.
Pengaruh Pembinaan Rohani Keluarga Terhadap Karakter Pemuda Berdasarkan Kolose 2: 6-10 Santy Sahartian
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.665 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.30

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meniliti pengaruh pembinaan rohani dalam keluarga terhadap pembentukan karakter pemuda berdasarkan Kolose 2: 6-10 di GBAP Bunga Bakung Surakarta. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan, yang berbunyi: Pertama, diduga pembinaan rohani dalam keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan karakter pemuda berdasarkan Kolose 2:6-10 di GBAP Surakarta.Jenis penelitian ini adalah penelitian survey, dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif. Populasi sekaligus sampel dalam penelitian ini berjumlah 87 responden yang melibatkan pemuda – pemudi GBAP Surakarta. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket, dokumentasi, pedoman observasi, studi pustaka, dan pedoman wawancara. Analisis data menggunakan aplikasi dan rumus “SPSS 23”.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Pengaruh pembinaan rohani dalam keluarga terhadap pembentukan karakter pemuda, adalah 0,403 atau 40,3% , sedangkan pengaruh antar variabel pembinaan rohani dalam gereja terhadap pembentukan karakter pemuda, menunjukkan pada kategori pengaruh sedang, Berdasarkan temuan tersebut maka perlu dikembangkan progam workshop atau seminar rutin untuk peningkatan pemahaman tentang pembinaan berdasarkan Kolose 2:6-10, mengadakan rereat secara berkala bagi pemuda –pemudi dan warga gereja, mengadakan persekutuan yang rutin antar anggota keluarga, dan membangun mesbah doa di rumah untuk mempererat persekutuan antar anggota keluarga dan hubungan dengan Tuhan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10