cover
Contact Name
Dina Angela
Contact Email
dina_angela@ithb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltelematika@ithb.ac.id
Editorial Address
Jl. Dipati Ukur no. 80-84, Kel. Coblong, Kec. Lebak Gede, Bandung, 40132
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Telematika
ISSN : 18582516     EISSN : 25793772     DOI : https://doi.org/10.61769/telematika
Jurnal Telematika is a scientific periodical written in Indonesian language published by Institut Teknologi Harapan Bangsa twice per year. Jurnal Telematika publishes scientific papers from researchers, academics, activist, and practicioners, which are results from scientific study and research in the field of telematics and information technology.
Arjuna Subject : -
Articles 241 Documents
Model Inferensi Konteks Internet of Things pada Sistem Pertanian Cerdas Engel, Ventje Jeremias Lewi; Suakanto, Sinung
Jurnal Telematika Vol. 11 No. 2 (2016)
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v11i2.140

Abstract

Sebagian pertanian di dunia sudah mulai memanfaatkan teknologi informasi dan jaringan sensor untuk membantu pengelolaan lahan pertanian. Sistem ini biasa disebut sistem pertanian cerdas. Implementasi sistem pertanian cerdas yang sedikit melibatkan para pemangku kepentingan bidang pertanian membuat implementasi sensor kurang bisa mendukung dalam pembuatan keputusan. Teknik inferensi konteks dapat membantu mengatasi celah permasalahan tersebut. Penelitian ini menyajikan pemodelan inferensi konteks untuk sistem pertanian cerdas yang memperhatikan: (1) jumlah data yang akan diproses, dan (2) pengiriman data dari lahan ke gateway yang tidak selalu aktif. Model inferensi konteks yang diperlukan adalah yang mudah dibuat, mudah dikonfigurasi, dan cepat diproses serta mendukung lintas lingkungan operasi. Penelitian ini menghasilkan model inferensi konteks dan strategi implementasinya untuk penelitian lanjutan.Most farms have started to use information technology and sensor networks to manage farming field. This system is called smart farming. Smart farming implementation which less involving stakeholders in agriculture field makes the technology not really able to support decision making. Context inference techniques can help with that gap problems. This research presents context inference modeling which considers: (1) the amount of data transfer, and (2) periodic data transmisions. The model designed has to be easy to configure, fast to process, and interoperability. This research had resulted context inference model and its implementation strategy.
Penjadwalan Job Shop pada Empat Mesin Identik dengan Menggunakan Metode Shortest Processing Time dan Genetic Algorithm Setiawan, Ari; ., Susan; Asih, Eka Kurnia
Jurnal Telematika Vol. 9 No. 1 (2014)
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v9i1.84

Abstract

PT. DI merupakan suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pembuatan komponen pesawat terbang belum dapat mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya karena penjadwalan mesin yang dilakukan belum efisien. Penjadwalan mesin tidak sesuai dengan penjadwalan produksi yang telah ditetapkan dan selalu memprioritaskan pengerjaan part yang memiliki waktu proses yang lebih panjang. Metode penjadwalan mesin yang tepat sangat diperlukan maka pada penelitian ini berfokus pada perbandingan metode penjadwalan yang dapat meminimasi waktu penyelesaian dari sejumlah pekerjaan yaitu metode Shortest Processing Time (SPT) dan Genetic Algorithm (GA). Rata-rata flow time dari metode SPT adalah 251 menit, sementara rata-rata flow time pada generasi terbaik yang dihasilkan dengan menggunakan metode GA yaitu sebesar 264 menit. Hal ini terjadi karena jumlah iterasi dan parameter percobaan pada metode GA yang belum memadai, dimana kemungkinan GA akan memberikan hasil yang lebih baik. PT.DI, as an aircraft industry, has not optimize the resources since they has not implement optimization in production scheduling. It is proposed in this paper, that the Shortest Processing Time (SPT) and Generic Algorithm (GA) are the methods to minimize the mean flow time. The mean flowtime from the SPT methode is 251 minutes, meanwhile GA gives 264 minutes. GA has longer mean flow time, because of the parameter and interation is not suffecient.
Analisis Big Data Berbasis Stream Processing Menggunakan Apache Spark Tumbel, Claudia Zefanya; Sitepu, Herry; Hutagalung, Maclaurin
Jurnal Telematika Vol. 11 No. 1 (2016)
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v11i1.145

Abstract

Teknologi big data memiliki 3 ciri utama yaitu volume, kecepatan tinggi dan kompleks. Pengolahan big data bukanlah hal yang mudah karena harus diolah secara real-time. Banyak perusahaan mengalami kendala dalam mengolah big data. Kendala tersebut berupa penyimpanan data yang tidak terstruktur, tidak lengkap, dan sulit diakses. Oleh karena itu, ada beberapa metode untuk mengolah big data, yaitu Tupel, Micro Batching, dan Widowed Real-Time Stream Processing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah windowed real-time stream processing. Penerapan stream processing membutuhkan perangkat lunak tertentu, yaitu Apache Spark. Apache Spark merupakan salah satu open-source software yang digunakan untuk menganalisis dan mengolah streaming data. Penerapan Apache Spark untuk big data dimulai dengan tahap pengintegrasian yang bertujuan agar Apache Spark dapat memperoleh data-data yang akan dianalisis. Hasil akhir dari penerapan metode ini berupa suatu sistem yang dapat membantu perusahaan untuk mengolah big data.
Perbandingan Penyelesaian Persamaan Diferensial Biasa Menggunakan Metode Backpropagation, Euler, Heun, dan Runge-Kutta Orde 4 Wijaya, Jayme Yeremia; Liong, The Houw; Wardani, Ken Ratri Retno
Jurnal Telematika Vol. 11 No. 1 (2016)
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v11i1.135

Abstract

Persamaan diferensial banyak digunakan sebagai model matematika atau dalam bidang sains lainnya. Dalam persamaan tersebut dibutuhkan tingkat akurasi yang sangat tinggi sehingga diciptakan beberapa metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial itu. Salah satu metode yang digunakan adalah Metode Numerik dan Metode Artificial Neural Network (ANN). Ada 4 metode yang terlibat dalam penelitian ini, yaitu Metode Euler, Heun, Runge-Kutta Orde 4 yang termasuk pada metode Numerik, dan Backpropagation Neural Network (BPNN) yang termasuk dalam Metode ANN. Penelitian ini untuk membuktikan bahwa dalam menyelesaikan persamaan diferensial penggunaan Metode BPNN lebih baik daripada Metode Numerik. Hal ini dibuktikan dengan hasil Euclidean Distance dari BPNN lebih baik dibandingkan metode yang lain. Hasil penyelesaian akan terlihat lebih jelas ketika persamaan diferensial tersebut mengandung unsur chaos. Jika dilihat dari grafik penyelesaiannya, BPNN memiliki grafik yang mirip dengan grafik dari solusi sejatinya. Berbeda dengan penyelesaian yang menggunakan Metode Numerik, hasil grafik garis yang diperoleh tidak memiliki kemiripan dengan solusi sejatinya. Differential equation are widely used as a model in the mathematics model or other science. In this equation takes a very high level of accuracy that was created several methods to solve the differential equations. One of the method used is Numerical Method and Artificial Neural Network (ANN). There are four methods involved in this study, Euler Method, Heun, and Runge-Kutta Order 4 are included in Numerical Methods, and Backpropagation Neural Network (BPNN) which included in ANN Method. This research is to prove that in solving differential equations using BPNN Method is better than Numerical Method. This is evidenced by the result of Euclidean Distance from BPNN is better than other methods. The result of the solving will be seen more clearly when the differential equation contains elements of chaos. If seen from the graph, BPNN have a graph similar to the graph of the Analitic Solution. Contrast to the solving using Numerical Methods, the line graph has no resemblance to the Analitic Solution.
Metode Star Skeletonization untuk Menghitung Jumlah Pejalan Kaki pada Citra Natanael, Natanael; Wardani, Ken Ratri
Jurnal Telematika Vol. 11 No. 1 (2016)
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v11i1.138

Abstract

Menghitung pejalan kaki secara otomatis, dilakukan dengan mendeteksi dan menganalisis objek-objek yang terlihat bergerak. Masalah yang ada jika dua orang atau lebih berjalan berdekatan dan menempel,  orang dalam keadaan diam ditempat atau duduk, dan ketika objek yang bergerak bukan saja pejalan kaki tetapi orang naik sepeda, mobil, atau objek bukan pejalan kaki lainnya. Metode Star Skeletonization diterapkan untuk mengenali objek pejalan kaki berdasarkan 3 dan 5 garis yang ditentukan. Pra pemrosesan yang dilakukan background subtraction untuk mendapatkan objek bergerak, opening untuk menghilangkan noise, closing untuk menghilangkan celah pada objek, dan ekstraksi border untuk mendapatkan segmentasi objek. Hasil pengujian nilai threshold 5, structuring elemen berbentuk rect 3x3 untuk proses opening, structuring elemen berbentuk rect 5x5 untuk proses closing, dan Star Skeletonization tiga garis memberikan hasil terbaik untuk pengenalan pejalan kaki. Hasil pengujian untuk rentetan citra diam dengan pejalan kaki tunggal dan tidak berdempetan tingkat akurasi  90%, artinya objek pejalan kaki dapat dikenali dengan baik.  Ketika ramai pejalan kaki tingkat akurasi 32.5%, hal ini disebabkan banyaknya pejalan kaki yang berdekatan sehingga nampak saling bergabung menjadi satu objek. Hal itu menyebabkan kesalahan perhitungan. Pra pemrosesan awal tidak dapat memisahkan objek yang tumpang tindih. Count up of pedestrians are automatically, performed by detecting and analyzing objects appear to move. The problem occurs when two or more runs adjacent and attached, people who do not move or sit, and when a moving object is not only pedestrians but people ride bicycles, cars, or other objects rather pedestrian. Star Skeletonization methods applied to recognize objects pedestrians by 3 and 5 lines are determined. Initial processing done that background subtraction to get moving objects, opening to remove noise, closing to eliminate the gap on the object, and the border extraction to get the object segmentation. Results of testing the threshold value 5, 3x3 rect-shaped structuring element for the process of opening, 5x5 rect-shaped structuring element for the process of closing, and Star Skeletonization three lines provide the best results for the introduction of a pedestrian. The test results for a series of still image with a single pedestrian and not huddled get a 90% accuracy rate, meaning that the object of pedestrians can be recognized well. When crowded pedestrian accuracy rate of 32.5%, this is due to the many pedestrians adjacent to each other seem to merge into one object. That caused a calculation error. Initial processing can not separate the objects that overlap.
PEREDUKSIAN ADDITIVE WHITE GAUSSIAN NOISE (AWGN) PADA SINYAL DATA MENGGUNAKAN DENOISING KOEFISIEN DARI TRANSFORMASI WAVELET Saragih, Riko Arlando; Oktafiandi, Aulia
Jurnal Telematika Vol. 5 No. 1 (2009)
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v5i1.34

Abstract

Noise presence in real world data signal is inevitable.Under ideal conditions, this noise may decrease to such negligiblelevels so data obtained might be considered not corrupted by noise.In denoising, wavelet attempts to remove the noise present in thesignal while preserving the signal characteristics. It involves threesteps, namely forward wavelet transform, thresholding step, andinverse wavelet transform.Based on simulations by using Hard Thresholding and SureShrinkwith Empirical Wiener Filter, it was shown that Empirical WienerFilter using Hard Thresholded outperforms the other simulatedmethods.
Perancangan dan Implementasi Service Monitoring System (Studi Kasus: PT Z) Maharani, Herastia; Yonata, Yosi; Manarisip, Indra Henrie
Jurnal Telematika 2018: Industrial Engineering Seminar and Call for Paper (IESC) 2018
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v0i0.240

Abstract

PT Z is a manufacturer company and the sole agent for Y-brand diesel-engine vehicles and its components. PT Z main business consists of vehicle and spare parts sales, and repair services. For the repair services, PT Z provides normal repair service and body repair service. In providing repair services for the customer’s vehicle, the company encounters difficulties in providing the information regarding the status of the customer vehicle that is being repaired at the repair shop. This problem occurred because the service advisor whom responsible to serve customer is not stationed at the repair shop. Thus, when providing the information to the customer, the service advisor needs to check the physical condition of the vehicle in the workshop. In addition, there are difficulties for the repair shop in monitoring the status of each workstation in the workshop which is a place for repairing customer vehicle. Monitoring is required so that if there is any issue on a workstation, the company can immediately take action to solve these issues so it will not hinder the repair process. The system designed to assist the integration between the service advisor, the workshop, and the head of the workshop as the party responsible for all activities in the workshop. The head of the workshop is responsible for monitoring every customer service vehicle status and workstation status in the workshop. The system designed can also help the customer to be able to monitor directly the status of the vehicle being in-service at the workshop without having to contact the service advisor. Besides that, the system designed can also provide reports related to the number of repairs performed in the company in a month, either the normal service or the body repair service. Based on User Acceptance Test that has been done, repair monitoring system for service advisor has Performance Expectancy value of 85%, workshop head has 90% Performance Expectancy, and for the customer has Performance Expectancy value of 88%. PT Z adalah produsen dan agen tunggal dari kendaraan bermesin diesel bermerk Y beserta komponennya. PT Z bergerak di bidang penjualan mobil dan suku cadang, serta service kendaraan. Untuk layanan service kendaraan, PT Z menyediakan jasa service normal dan body repair. Dalam melakukan pelayanan service kendaraan customer, perusahaan mengalami kesulitan ketika harus memberikan informasi terkait status kendaraan customer yang sedang diperbaiki di bengkel perusahaan. Hal ini dikarenakan bagian service advisory yang bertugas untuk melayani customer tidak berada di bengkel, sehingga ketika akan memberikan informasi kepada customer maka bagian service advisor harus melakukan pengecekan kondisi fisik kendaraan customer. Selain itu terdapat kesulitan bagi perusahaan dalam melakukan pemantauan terhadap status dari setiap workstation yang ada di bengkel yang menjadi tempat perbaikan kendaraan customer. Pemantauan diperlukan agar ketika terjadi kendala pada workstation maka pihak perusahaan dapat langsung mengambil tindakan untuk mengatasi kendala tersebut sehingga tidak akan menghambat proses service kendaraan customer. Sistem yang dirancang membantu adanya integrasi diantara service advisor, bagian bengkel, dan juga kepala bengkel sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan yang ada di bengkel. Kepala bengkel bertanggung jawab dalam melakukan pemantauan terhadap setiap status service kendaraan customer dan status workstation yang ada di bengkel. Sistem yang dirancang juga dapat membantu pihak customer untuk dapat melakukan pemantauan secara langsung terhadap status kendaraannya yang sedang di-service dibengkel tanpa harus menghubungi bagian service advisory. Selain itu sistem yang dirancang juga dapat memberikan laporan terkait jumlah service yang ada di perusahaan dalam sebulan baik service normal atau service body repair. Berdasarkan User Acceptance Test yang dilakukan, sistem monitoring service untuk bagian service advisory memiliki nilai performance expectancy sebesar 85%, bagian kepala bengkel memiliki nilai performance expectancy sebesar 90%, dan bagi customer memiliki nilai performance expectancy sebesar 88%.
Penerapan Algoritma Genetika pada Optimalisasi Tim Pengerja Musik Gereja Rengku, Alwin; Martina, Inge
Jurnal Telematika Vol. 11 No. 2 (2016)
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v11i2.148

Abstract

Gereja memiliki sejumlah pengerja musik yang dijadwalkan setiap pekan secara bergilir pada lokasi yang berbeda-beda. Pengerja terpisah kedalam beberapa kelompok, selain itu pengerja juga memiliki tingkat kemampuan yang berbeda-beda, sehingga solusi optimasi harus bisa menghasilkan susunan tim yang memenuhi ketentuan. Tidak hanya pengerja, setiap lokasi juga memiliki tingkatan karakteristik yang berbeda sehingga sebagian lokasi membutuhkan konfigurasi tim yang khusus. Algoritma genetika digunakan dengan menjadikan pengerja sebagai alel, waktu ibadah dalam setiap lokasi sebagai gen, dan alokasi pengerja pada setiap waktu ibadah dalam setiap lokasi sebagai kromosom. Setiap kromosom mewakili sebuah solusi. Kromosom akan melewati sejumlah tahapan seleksi, persilangan, dan mutasi, sehingga pada akhirnya dihasilkan sejumlah alternatif solusi terbaik. Solusi terbaik dipilih berdasarkan nilai fitness kromosom yang lebih mendekati 0, yang dalam hal ini berarti sangat optimal. Populasi akan mengalami regenerasi sejumlah ukuran generasi yang ditetapkan. Proses regenerasi akan berakhir jika fitness kromosom terbaik tidak mengalami perubahan selama jumlah generasi yang ditetapkan juga. Rata-rata generasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan solusi dari 200 pengerja pada 9 lokasi adalah 12, dengan probabilitas persilangan 0,167 dan probabilitas mutasi 0,125.  A church generally employs some music servants whom scheduled every week sequentially to some distributed locations. Each of them is divided into several different groups. They also have different level of expertise, so then the optimization solution should propose a desired team configuration. Every location has their own characteristic level, so it may require special team configuration. Genetic algorithm define servant as allele, service time slot in each location as gene, and servant allocation to each location as chromosome. Each chromosome proposed an alternative solution. Chromosome will be processed through some selection, crossover, and motation steps, so then the best solution will be acquired. Best solution will be chosen from a chromosome that has fitness value near to 0, which means it is the most optimum solution. Population will be regenerated as long as the provided generation size. The regeneration process will be terminated if the best chromosome fitness does not change in a provided generation count. The average required generation to acquire solution from 200 servants in 9 locations is 12, with the crossover probability of 0.167 and mutation probability of 0.125. 
Penerapan Metode Mel Frequency Ceptral Coefficient dan Learning Vector Quantization untuk Text-Dependent Speaker Identification Widodo, Sukoreno Mukti; Siswanto, Elisafina; Sudjana, Oetomo
Jurnal Telematika Vol. 11 No. 1 (2016)
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v11i1.147

Abstract

Layanan keamanan pada umumnya menggunakan kata sandi untuk membatasi dan mengontrol akses layanan tersebut.Kata sandi yang biasa digunakan sering kali berbentuk teks.Penggunaan kata sandi dengan bentuk teks dianggap masih kurang aman karena sering kali terjadi kebocoran. Maka dari itu dibutuhkanlah bentuk lain dari kata sandi, untuk meningkatkan keamanan dalam mengakses layanan atau data tertentu. Salah satunya adalah dalam bentuk suara. Sistem ini berbasis pada input berupa file audio dengan data ucapan yang bergantung pada teks atau text-dependent dengan output adalah identitas pembicara yang teridentifikasi. Pada penelitian ini, sistem pengenalan pembicara dibuat untuk dapat mengenali suara pembicara dengan menggunakan Mel-Frequency Cepstral Coefficients yang digunakan untuk melakukan ekstraksi fitur dari data suara sehingga dihasilkan fitur-fitur yang mewakili pembicara tersebut dan metode Learning Vector Quantization yang digunakan untuk melatih data-data hasil ekstraksi dan mencocokan data latih dengan data baru sehingga didapatkan identitas dari pembicara berdasarkan suara tersebut. Dari hasil pengujian pada sistem ini, didapatkan identification rate tertinggi adalah 88.9% dengan menggunakan data dengan durasi sekitar 8 detik. Security services generally use a password to restrict and control access to its services. Many password used is often in the text form. This type of password is considered less secure because it can be obtained by unauthorized people. Other forms of password are required to increase the security in accessing services or specific data such as voices. This system is based on the input of an audio file such as utterance that depends on text or text-dependent. In this study, the speaker recognition system is made to recognize the speaker of an audio file using Mel-Frequency Ceptral Coefficients for extracting voice data to produce features that represent the speaker and Learning Vector Quantization (LVQ) to train the data extraction and matching training data with new data to obtain the identity of the speaker based on the sound. From the experiment result, obtained the highest identification rate is 88.9% using data with a duration about 8 seconds.
Penentuan Jadwal Pemeliharaan Pencegahan dan Perhitungan Kebutuhan Komponen Kritis pada Mesin Tuber 645M dan Bottomer 713B-2 untuk Menunjang Availability Mesin (Studi Kasus: PT IKSG) Asih, Eka Kurnia; Ade, Kornelius; Gary, Joshua; Setiawan, Ari
Jurnal Telematika Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : Yayasan Petra Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61769/telematika.v10i2.132

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jadwal pemeliharaan pencegahan dan penentuan jumlah komponen yang diperlukan untuk kegiatan pemeliharaan pencegahan bagi mesin Tuber 645M dan Bottomer 713B-2. Kedua mesin ini merupakan mesin kritis bagi sistem produksi di PT Industri Kemasan Semen Gresik (IKSG). Sebelumnya, pemeliharaan terhadap kedua mesin ini dilakukan secara korektif saja. Akibatnya proses produksi sering terhenti secara mendadak dan mendatangkan berbagai kerugian. Lamanya penghentian produksi dapat bertambah jika komponen yang dibutuhkan untuk pemeliharaan tidak tersedia. Penentuan jadwal pemeliharaan dan penentuan jumlah komponen dilakukan dengan pendekatan statistik, yaitu identifikasi pola distribusi kerusakan dan perhitungan rataan waktu antar kerusakan dari berbagai jenis kerusakan pada kedua mesin. Jadwal ditentukan sedemikian rupa sehingga ketersediaan mesin meningkat.This research aims to create preventive maintenance (PM) schedule for two critical machines (Tuber 645M and Bottomer 713B-2) at PT Industri Kemasan Semen Gresik (IKSG), along with the calculation of critical component stock needed to conduct the PM activities. Current maintenance practices are based only on corrective attempt; this practice caused production loss due to random stoppage of production process. To conduct PM, critical components are needed. The absence of these components can lengthen the production stoppage therefore increase production loss. We used statistical approach to identify the machine failure pattern and the corresponding mean time to failure. Maintenance schedule is designed to increase machine availability.

Page 7 of 25 | Total Record : 241