cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2016): Suplemen" : 30 Documents clear
Penelitian Vaksin Dengue Tantangan dan Peluang UMROHTIN .; Rina Fajri Nuwarda
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.767 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10814

Abstract

Demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia khususnya di wilayah tropis dan subtropis. Penyebaran penyakit ini disebabkan oleh virus dengue melalui perantara nyamuk. Angka kejadian penyakit ini terus meningkat selama beberapa dekade terakhir. Upaya dalam pemberantasan penyakit ini telah dilakukan, akan tetapi tidak ada vaksin yang berlisensi yang aman dan efektif untuk mengobati infeksi dengue ini. proses Review ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan vaksin dengue saat ini yang dilakukan dengan mencari bahan dari berbagai sumber dengan menggunakan mesin pencari Google di internet. Hasilnya menunjukan bahwa terdapat beberapa kandidat vaksin yang tengah diuji baik secara klinik maupun preklinik. Akan tetapi terdapat kendala dalam tahap pengembangan vaksin ini diantaranya, patogenesis virus yang belum diketahui secara pasti dan juga kurang adanya model hewan yang cocok untuk digunakan dalam pengujian keamanan dan keefektifan vaksin.
Review: Pengaruh Polimorfisme CYP2C9*2 dan CYP2C9*3 terhadap Resiko Pendarahan Saluran Gastrointestinal Terapi NSAID FEBBY VALENTINE PURWADI; Tina Rostinawati
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.313 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10849

Abstract

Nonsteroidal Anti-inflammatory Drug (NSAID) adalah golongan obat pereda nyeri yang paling banyak diresepkan dan digunakan di dunia. Meskipun banyak digunakan tetapi NSAID tidak lepas dari efek samping. Efek samping serius yang paling sering terjadi adalah pendarahan pada saluran gastrointestinal. Berbagai faktor resiko telah diketahui dapat meningkatkan resiko pendarahan, seperti umur, penggunaan NSAID dosis tinggi, penggunaan bersamaan beberapa obat golongan NSAID dan juga polimorfisme gen. Polimorfisme pada gen pengkode enzim CYP2C9, enzim yang memetabolisme NSAID, diketahui memiliki peran yang cukup penting terhadap peningkatan resiko pendarahan. Variasi *2 dan *3 dari CYP2C9 akan menurunkan aktivitas CYP2C9 sehingga metabolisme NSAID berjalan lebih lama. Hal ini dapat berujung pada tingginya konsentrasi NSAID dalam plasma darah sehingga berakibat meningkatnya kemungkinan efek samping pendarahan. Penentuan polmorfisme CYP2C9, digunakan untuk penyesusaian dosis sehingga diharapkan dapat mengurangi resiko pendarahan saluran gastrointestinal.
Metode SPE (Solid Phase Extraction) sebagai Alternatif Terbaru dalam Analisis dan Pemurnian Senyawa Obat TRI ULFA RAHMATIA
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.633 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10822

Abstract

SPE (Solid Phase Extraction) merupakan metode ekstraksi fase padat yang dapat digunakan untuk analisis, pemisahan, purifikasi sampel dalam bidang industri farmasi, maupun analisis toksikologi seperti darah, serum, cairan dan makanan. SPE memiliki keunggulan yaitu proses ekstraksi menjadi lebih sempurna, pemisahan analit dari matriks menjadi lebih efisien, mengurangi pelarut organik yang digunakan. Untuk meningkatkan sensitivitas dan selektivitas dalam analisis sampel, metode SPE dapat digabungkan dengan metode lain seperti Kromatografi (GC-MS) Spektrofotometer UV-Vis, dan HPLC. Menjadi solusi untuk menggantikan teknik lain sebagai teknik terbaru yang bekerja lebih efisien.Kata kunci : SPE, Kromatografi (GC-MS) Spektrofotometer UV-Vis, HPLC
BEBERAPA TUMBUHAN YANG MENGANDUNG SENYAWA AKTIF ANTIINFLAMASI SITI NURUL KHOTIMAH; Ahmad Muhtadi
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.112 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10806

Abstract

ABSTRAKInflamasi merupakan indikator penting dari beberapa insiden penyakit. Di Indonesia, terapi obat untuk inflamasi seperti golongan AINS(Anti Inflamasi Non Steroid) serta AIS(Anti Inflamasi Steroid) telah diterapkan sejak dahulu hingga sekarang. Namun memiliki efek samping yang tidak diinginkan yang dapat menurunkan fungsi bologis tubuh seperti, hati, saluran pencernaan, dan organ vital lainnya. Oleh sebab itu, sediaan herbal merupakan pilihan alternatif dalam proses penanganan inflamasi karena efek samping yang relatif lebih kecil serta ketersediaan tumbuhan obat yang melimpah seperti sediaan herbal antiinflamasi yang telah distandardisasi oleh BPOM diantaranya daun seledri, daun daruju, dan mengkudu. Tumbuhan lain yang mengandung senyawa aktif antiinflamasi dan dibahas pada artikel ini yaitu kunyit, biji kesumba, daun buas-buas, kencur, tapak liman, daun ubi jalar ungu, daun suji, kulit batang jambu mete, daun mahkota dewa, kerehau, sambang getih, jintan hitam, daun piladang, daun saliara, dan kunir.Kata kunci: Inflamasi, Antiinflamasi, Senyawa aktif, Tumbuhan obatABSTRACTInflammation is an important indicator of some incidents of disease. In Indonesia, drugs therapies to treat inflammatory such as NSAID(Nonsteroidal Antiinflammatory Drugs) group and Anti-inflammatory Steroid have been applied since a long time until now. However, these drugs have undesirable side effects that can reduce the biological function of the body such, liver, gastrointestinal tract, and other vital organs. Therefore, herbal dosage is an alternative option in treatment of inflammatory processes due to the side effects are relatively small and the availability of abundant medicinal plants such as, herbal dosage that have been standardized by BPOM e.g. celery leaf, daruju leaf and the morinda. Other plants that contain antiinflammatory compounds and discussed in this article are turmeric, crimson seed, buas-buas leaf, curcuma, liman, Ipomoea batata, suji leaf, bark cashew, Phaleria macrocarpa, kerehau, sambang getih, cumin, piladang leaf, saliara leaf, and turmeric.Keywords: Inflammatory, Anti-inflammatory, Active compounds, Medicinal plant
Dithizon: Agen pengkompleks untuk analisis logammenggunakan Spektrofotometri UV-Vis UGI RAHMAN KUSTIAWAN; Rimadani Pratiwi
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.578 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10899

Abstract

Dithizone merupakan suatu senyawa yang dapat digunakan untuk analisis logam menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Logam dengan dithizon akan bereaksi membentuk suatu kompleks yang dapat dideteksi dengan spektrofotometri UV-Vis. Pembentukan kompleks tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya pH, suhu, dan kosentrasi dithizon yang digunakan. Dalam artikel review ini akan diulas metode analisis berbagai jenis logam dengan menggunakan dithizon yang dideteksi dengan spektrofotometri UV-Vis dan beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan kompleks.Didapatkan beberapa data kondisi optimum beberapa senyawa logam dalam membentuk kompleks dengan dithizon.
Kausalitas dalam Farmakoepidemiologi NUJAIMAH RAHMAWATI SHOLEH; Sofa D. Alfian
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.218 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10836

Abstract

Studi epidemiologi memiliki tujuan untuk mencari penyebab dari suatu penyakit yang didasarkan pada asosiasi dengan berbagai macam faktor risiko. Untuk membuat kesimpulan mengenai penyebab penyakit, pertama-tama perlu mengklasifikasi arti kausalitas. Dalam hubungan kausal terdapat kriteria yang dapat menunjukkan hubungan antara paparan dengan hasil dalam suatu penelitian. Selain itu, dalam penelitian terdapat pula faktor-faktor yang dapat mengurangi  validitas yang berasal dari bias dan kerancuan. Digunakan beberapa metode untuk mengatasi bias dan kerancuan dalam penelitian serta untuk mengontrol kerancuan tersebut.Metode pencarian pada artikel review ini melalui situs NCBI (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/) dengan berdasarkan kata kunci,identify causation andassociation in pharmacoepidemiology, criteria for determination of causation, biasin  pharmacoepidemiology, dan methodology used to address potential bias.Berdasarkan hasil review, kriteria kausal dalam farmakoepidemiologi meliputi kekuatan, konsistensi, spesifisitas, temporalitas, gradien biologi, theoritical plausability, coherence, bukti eksperimental dan analogi. Selain itu terdapat tiga sumber bias, yaitu bias informasi, bias seleksi dan faktor perancu. Untuk mengendalikan kerancuan terdapat beberapa metode yang meliputi randomisasi (pengocokan), restriksi (pembatasan), matching (pencocokan), stratifikasi, dan multivariate models.Kata kunci: Kriteria kausal, bias, metode pengendalian bias, perancu
Kultur Sel IKA KHUMAIROH; Irma M. Puspitasari
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.622 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10810

Abstract

Penelitian menggunakan kultur sel saat ini banyak dilakukan. Kultur sel merupakan proses penghilangan atau perpindahan sel dari manusia, hewan, atau tanaman ke dalam medium terkontrol yang sesuai untuk menumbuhkan sel tersebut. Kultur sel biasanya digunakan untuk pengujian yang tidak mudah dilakukan secara in vivo. Oleh karena itu, pada artikel ini akan dijelaskan mengenai definisi kultur sel, keuntungan kultur sel, keterbatasan kultur sel, perbedaan finite cell line dan continous cell line, kondisi pada saat kultur sel, morfologi sel pada kultur sel, serta aplikasi kultur sel. Metode yang digunakan adalah penelusuran pustaka dari mesin pencari Google dan PubMed Electronic Database. Dari hasil penelusuran pustaka ini, diperoleh hasil mengenai definisi kultur sel, keuntungan kultur sel, kerugian kultur sel, perbedaan finite cell line dan continous cell line, kondisi pada saat kultur sel, morfologi sel pada kultur sel meliputi sel fibroblast, sel epitel, dan sel limfoblast, serta aplikasi atau penerapan kultur sel dalam penelitian.Kata Kunci : kultur sel, cell line, in vitro.
Review: Teknik Isolasi dan Identifikasi Kurkuminoid dalam Curcuma longa DHITA DWI PRICILIA; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.158 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10872

Abstract

ABSTRAKIsolasi dan identifikasi senyawa kurkuminoid telah dilakukan pada tanaman yang termasuk genus Curcuma, termasuk Curcuma longa L (kunyit). Senyawa kurkuminoid memiliki banyak aktivitas terapeutik, seperti antioksidan, anti-inflamasi, dan antikarsinogenik. Proses isolasi dan identifikasi menggunakan variasi metode yang berbeda. Review ini bertujuan untuk membandingkan metode isolasi dan identifikasi yang paling efisien, mudah, sederhana, dan murah. Metode yang digunakan adalah studi pustaka primer penelusuran jurnal yang membahas isolasi kurkuminoid dalam rimpang kunyit, kemudian membandingkan metode yang dipakai. Metode yang paling efisien adalah metode ekstraksi menggunakan alat soxhlet dengan  pelarut aseton, fraksinasi dengan kromatografi kolom, isolasi dan identifikasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis didapat kurkuminoid dengan kadar 84% pada fraksi no 1-31. Kata Kunci : Curcuma longa, kurkuminoid, isolasi, identifikasi
REVIEW : NANOPARTIKEL KURKUMIN SOLUSI MASALAH KANKER DAN ANTIBAKTERI FARIANTI EKO NUR KHASANAH; Patihul Husni
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.872 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10825

Abstract

Kurkumin atau diferuloylmethane merupakan senyawa utama fitopolifenol berwarna kuning yang berasal dari keluarga Zingirberaceae yaitu rimpang kunyit (Curcuma longa). Menurut hasil beberapa penelitian, kurkumin mempunyai aktivitas farmakologi sebagai antikanker, anti-inflamasi, antioksi dan antibakteri. Kanker merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi, khusunya pada Negara berkembang seperti Indonesia , sedangkan pada saat ini hampir 75 % kematian akibat infeksi luka bakar disebabkan oleh methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Pseudomonas aeruginosa. Adanya resistensi bakteri serta besarnya efek samping darikemoterapipada kanker  mendorong para peneliti dalam pengembangan obat baru yang berasal dari tanaman salah satunya kunyit. Bioavailabilitas oral yang rendah, kelarutan yang rendah serta mudahnya terdegradasi sehingga mempersulit dalam aplikasi klinisnya. Untuk meningkatkan kerja dari kurkumin dalam bentuk sediaan maka saat ini telah banyak dikembangkan kurkumin dalam bentuk nanopartikel. Nanopartikel kurkumin sebagai antibakteri dapat terbuat dalam bentuk film atau memberan maupaun hydrogel, sedangkan untuk terapi kanker nanopartikel biasanya terbentuk dalam bentk polimer sebagai penghantar obat. Efek antibakteri pada nanopartikel kurkumin mempunyai aktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan yang dalam bentuk biasa. Selain itu, kurkumin dalam bentuk nanopartikel bila dikombinasikan dengan obat standar hasil penghambatan pertumbuhan sel lebih maksimal.
Terapi untuk Bell’s Palsy Berdasarkan Tingkat Keparahan Chintami Nurkholbiah; Eli Halimah
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.905 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10807

Abstract

Bell’s palsy adalah kelumpuhan akut yang terjadi pada bagian saraf wajah yang tidak diketahui penyebabnya.  Tujuan dari penulisan review ini yaitu untuk mengetahui terapi pada kasus Bell’s  palsy berdasarkan Guideline dan tingkat keparahan. Metode yang digunakan yaitu dengan  mencari beberapa jurnal ilmiah dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan  topik yang akan dibahas dalam  tulisan ini. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi untuk Bell’s palsy dengan tingkat keparahan ringan, sedang, dan berati lebih efektif ketika diberi terapi kombinasi yaitu obat kortikosteroid dengan obat antiviral dibandingkan dengan terapi tunggal yaitu pemberian obat kortikosteroid atau obat antiviral. Dan untuk terapi tunggal, pemberian obat kortikosteroid lebih baik dibandingkan dengan terapi obat antiviral saja.Kata kunci: Bell’s palsy, kortikosteroid, antiviral

Page 2 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue